NamjoonHoseokAU!CollegeYouth's rated | slight!Minyoon | I don't take any profit with this chara

.

Do not plagiarize.

.

Enjoy!

.

.

.

.

Hoseok melangkah keluar bilik apartemen yang ditinggalinya sendirian dan tak lupa untuk menguncinya lebih dulu sebelum ia beranjak pergi. Hoseok menghela napas malas begitu ia ingin melangkah pergi menuju tempatnya mengambil ilmu strata. Terlebih ketika ia mulai menapaki susunan anak tangga dari unit apartemennya sampai ke bawah. For your information, apartemen sederhana yang ditempatinya itu berada di lantai empat. Dan Hoseok musti menaiki atau menuruninya melalui anak tangga untuk sampai ke tempatnya.

Padahal pagi ini Hoseok sedang menuruni tangga menuju lantai bawah untuk segera pergi kuliah, tetapi ia sudah menggerutu duluan tentang pulangnya sore nanti bahwa ia harus menaiki anak tangganya kembali.

Yah mau bagaimana lagi. Hoseok tak bisa terus-menerus mengeluh pada kondisi apartemen yang hanya lima lantai dan selama ini ditinggalinya. Ia juga harus bisa mengerti kondisi keuangan sebagai anak rantauan dari Gwangju.

.

Hoseok baru menuruni satu lantai ketika ia berpapasan dengan seseorang yang cukup nyentrik karena rambut pirang keabuan miliknya sedang menaiki tangga membawa sebuah kardus dipapahannya membuat Hoseok hanya bisa melihat rambutnya tanpa melihat wajahnya dengan jelas. Hoseok pikir pemuda itu adalah penghuni baru, karena yang Hoseok tahu ada satu unit yang kosong dari gedung ini. Dan astaga, Hoseok menyadari sesuatu. Unit kosong itu tepat berada di sebelah apartemennya. Itu berarti pemuda ini adalah tetangga barunya!

Dengan niat untuk menyapa, Hoseok tersenyum manis dan menghentikan langkahnya untuk sekedar memberi salam ketika pemuda nyentrik yang menaiki tangga itu bersejajaran dengannya.

"Halo, apa kau penghuni baru?" Tanya Hoseok ramah. Memiringkan kepalanya mencoba untuk menatap wajah pemuda yang sedang membawa kardus besar sampai menutupi wajahnya. Orang itu hanya fokus menatap tangga agar ia tak terpleset.

"Hm, iya." Jawab pemuda itu singkat tanpa menoleh kearah Hoseok dan tetap melanjutkan langkahnya.

Hoseok yang mendengar jawaban singkat dari suara beratnya kemudian menghapus senyumnya tiba-tiba.

'Percuma saja kalau senyumku tak dilihat.' Hoseok mengangkat bahunya malas dan melanjutkan langkahnya kembali menuruni tangga.

.

Di kampus...

Hoseok berteman baik hampir dengan semua orang disana, ia selalu ramah pada siapapun. Tetapi ia punya satu orang sahabat yang paling disayanginya di kampus, sebut saja sahabat seperjuangannya, namanya Park Jimin. Saking dekatnya keakraban mereka orang-orang sampai mengira mereka itu dua orang kembar tak lazim.

Saat masih taman kanak-kanak mereka baru saling mengenal. Ketika mereka bertemu kembali di perguruan tinggi, mereka langsung akrab begitu saja seperti bersahabat bertahun-tahun.

Padahal keduanya memiliki jarak usia sampai setahun lebih. Tetapi untuk jenjang pendidikan Hoseok setara dengan Jimin yang lebih muda daripadanya.

.

"Hosiki!"

Hoseok menghentikan langkahnya memasuki sebuah kelas begitu mendengar suara familiar yang selalu memanggil nama panggilannya itu.

"Jimin?" Hoseok menoleh lalu kemudian menatap sahabatnya datar ketika ia menatap pemuda itu memasang wajah cemberut menyedihkan kearahnya. "Jangan bilang kalau kau habis—"

"—HUWAAA CINTAKU DITOLAK LAGI, HOSIKI HELP—UGH."

Tuh 'kan.

Itulah yang dipikirkan Hoseok. Sahabat setianya yang satu ini memang sedang dalam fase sangat tidak mulus dalam percintaan. Ia sedang mengejar seorang sunbae manis untuk menjadi gebetannya. Tetapi sudah hampir satu semester ini Jimin masih berusaha mengejarnya tanpa hasil yang seberapa.

Begitu, Hoseok sih senang mengumbar derita sahabatnya. Padahal dia sendiri lebih ngenes tak punya seorang pun yang bisa ia jadikan seorang gebetan.

Hoseok segera membekap mulut cempreng sahabatnya itu sebelum kehebohan terjadi. Hoseok segera menyeret pemuda itu menjauh dari kelas dan mencari tempat duduk yang sepi di tepian koridor.

"Oke, biar kutebak, Yoongi-sunbae melemparmu dengan benda lagi 'kan?" Pertanyaan Hoseok malah membuat Jimin semakin cemberut dibuatnya.

"Geez, mungkin ia sudah melempariku dengan apapun yang berada ditangannya." Jimin semakin menurunkan sudut bibirnya dengan sedih sekaligus alay.

"Lantas?" Hoseok mengangkat sebelah alisnya.

"Aku disiram ;_;"

Hoseok memutarkan kedua matanya malas mendengar nasib sahabatnya itu. Ia baru saja akan menasehati Jimin ketika dari kejauhan terlihat dosen mereka datang dan Hoseok juga Jimin segera memasuki kelas mata kuliah statistika saat itu.

.

Jimin merangkul Hoseok dengan riang begitu hari menjelang sore dan kelas mereka selesai hari ini. Hoseok mengajak Jimin makan malam lebih awal seperjalanan mereka pulang dan hal itu membuat sahabatnya kembali ceria dari wajah suramnya dengan gebetan sunbaenya itu.

"Hosiki, apa kau sedang tertarik dengan seseorang saat ini?" Tanya Jimin, mulutnya sibuk mengunyah pasta yang dipesannya di kedai makan malam itu.

Hoseok menyeruput jus jambunya sebelum menjawab pertanyaan Jimin. "Memangnya aku ini dirimu, hal seperti itu tidak terlalu aku pikirkan. Membuat pusing saja."

Jimin tertawa kecil mendengar sahutan sahabatnya itu. "Awas ya nanti kalau tiba-tiba sedang berbunga-bunga~"

Hoseok memukul lengan Jimin pelan karenanya. "Emangnya aku ini taman atau kebun bisa berbunga-bunga."

Jimin memutar malas kedua matanya mendengar hal cheesy dari Hoseok. "Ngeles aja nih bisanya."

.

Hoseok sampai kembali ke gedung apartemennya dengan diantar Jimin yang selalu membawa motor ninjanya. Biasanya Hoseok ke kampus dengan berjalan kaki saja tidak sampai tigapuluh menit. Tetapi kalau naik kendaraan kan tidak sampai sepuluh menit sudah sampai. Lumayan irit ongkos, tenaga dan juga waktu. Lagipula arah pulang Jimin juga searah dengan apartemennya.

"Bye, Jim!" Hoseok menepuk punggung temannya itu ketika turun dari kursi penumpang motornya.

Jimin hanya mengangguk lalu kembali melajukan motornya. Sedangkan Hoseok segera melangkah menaiki puluhan anak tangga yang didakinya setiap hari untuk sampai ke unit apartemennya.

'Haft. Kira-kira ini berpengaruh pada kesehatan tulangku tidak ya?' Hoseok berpikir malas selagi ia menanjak anak tangga satu persatu.

Sesampainya di koridor lantai empat Hoseok menghela napas lega, ia baru saja hampir menemui pintu unitnya namun langkahnya terpaku ketika kedua matanya bertemu dengan kedua manik kelam yang asing dan terasa begitu menakjubkan.

Ada seseorang yang baru saja keluar tepat di sebelah pintu unit yang Hoseok tempati. Astaga, seseorang itu adalah tetangga barunya.

Yang tadi pagi berpapasan dengan Hoseok namun tidak dapat terlihat dengan jelas. Tetapi kini Hoseok dapat melihatnya dengan jelas...

Astaga.

Ternyata begini rupanya.

Hoseok sampai terdiam menatapnya. Pemuda yang pagi tadi Hoseok lihat hanya rambut pirangnya itu kini terlihat separuh basah dan ia menggantungkan sebuah handuk dilehernya tanda bahwa ia baru selesai mandi. Pemuda itu juga memakai kaus santai dan celana hitam pendek.

Tetapi yang membuat Hoseok terpesona adalah, kulitnya yang agak tan menjurus ke putih, kedua mata sipit yang menawan, lalu yang paling utama adalah...

Pemuda itu tersenyum kearah Hoseok dan senyumannya membentuk sepasang lesung pipi yang begitu menggoda untuk disentuh. Sungguh menawan.

"Umm halo?"

Teguran pemuda itu membuat Hoseok tersadar dari keterpakuannya. Ia dengan kikuk meremas ujung bajunya dan balas menyapa dengan senyuman manisnya.

"Halo. Penghuni baru ya?" Hoseok tersenyum. Pemuda itu membalas senyumnya kembali yang membuat Hoseok semakin gemas untuk menahan dirinya untuk tidak menyentuh lesung pipi tetangga barunya itu.

Lelaki berlesung pipi itu menatap Hoseok dan memindainya dari atas ke bawah, Hoseok dibuat hampir kikuk ditatap intens seperti itu.

"Iya. Kau siapa? Kurus banget sih." Pemuda berlesung pipi itu berbicara santai lalu mengusap sebelah rambutnya dengan handuk yang menyelimuti lehernya.

TWITCH.

Hoseok langsung mengeraskan ekspresinya begitu mendengar kalimat dari suara berat pemuda di hadapannya. Apa katanya? Kurus?!

Fyi, Hoseok sangat sensitif dengan kata ini. Apalagi tetangga barunya ini mengatakannya seolah-olah Hoseok itu benar-benar kurus.

"Aku tetangga barumu dan aku tidak kurus! Ingat itu, huh!" Hoseok mendadak meninggikan nada suaranya dan melangkah menghentak melewati pemuda pirang dihadapannya dan segera membuka kunci pintu apartemennya lalu membanting pintunya dengan cukup keras.

Pemuda pirang yang masih berdiri diambang pintu itu menatap bingung pemuda lucu yang baru saja ditemuinya sebagai tetangga baru tepat disebelah apartemennya.

Pemuda berlesung pipi itu mengangkat bahunya tak mengerti.

"Pantas dia kurus, mungkin hobinya memang marah-marah sih."

.

.

Keesokan harinya...

"Huwaaa aku telat!" Hoseok berlari kesana kemari di dalam mencari buku-buku diktatnya yang ia lupa taruh dimana.

Hingga waktu menunjukkan pukul 08:50, Hoseok baru berlari menuruni tangga gedung apartemennya dengan terburu-buru. Ia juga sedang mengapit selembar roti di mulutnya dan berusaha menghubungi Jimin.

Tetapi memang hari ini sepertinya keberuntungan memang tidak sedang berpihak pada Hoseok. Jimin bilang ia sudah sampai di kampus dan tak mungkin untuk menjemput Hoseok pagi ini karena pasti akan lebih telat lagi. Hoseok mau tak mau harus naik taksi kalau begini kejadiannya.

Ketika Hoseok keluar dari gedung, ia dikagetkan oleh sosok tetangga barunya yang menawan (oke, Hoseok masih tetap menganggapnya menawan hanya karena lesung pipinya saja. Bukan karena menyebalkannya ia bersikap pada Hoseok sore kemarin) itu berada diatas motornya dan bersiap untuk memakai helmnya. Tetapi ketika ia menatap Hoseok, pemuda itu menghentikan gerakannya untuk memakai helm.

"Tetangga kurus? Mau kemana?" Tanyanya ingin tahu.

Hoseok yang mendengar itu memutar malas kedua bola matanya. "Aku harus berangkat ke kampus dan aku harus mencari—TAKSIII."

Pemuda pirang yang masih berada diatas motornya itu segera menarik lengan Hoseok didekatnya ketika pemuda itu berniat akan mengejar taksi yang baru diberhentikannya.

"EEH, aku mau taksi—" Hoseok membulatkan kedua mata kucingnya begitu taksi yang diberhentikannya ternyata dinaiki oleh seorang nenek yang kebetulan berada di sebrang jalan dan juga ingin menaiki taksi.

"Sudah, ayo naik. Aku akan mengantarmu." Pemuda pirang itu menawarkan, lalu memakai helmnya yang sempat tertunda. Ia melepas pegangannya pada lengan Hoseok dan memberikannya sebuah helm cadangan yang selalu dibawanya.

Hoseok memicingkan matanya menatap sebuah helm yang disodorkan padanya. Hoseok memang benar-benar sedang butuh tumpangan. Ia sudah telat sekali sekarang. Tetapi ia masih ragu akan tawaran seorang pemuda sebagai tetangga barunya itu yang bahkan untuk namanya saja Hoseok tidak tahu.

"Ayo naik! Kau sedang terburu-buru kan?" Pemuda itu berucap dengan nada agak memaksa.

Dan tanpa pikir panjang lagi pula Hoseok benar-benar butuh tumpangan untuk sampai ke kampusnya, jadi ia segera menaiki motor milik tetangga barunya.

"Baiklah! Antarkan aku ke kampusku lebih dulu baru setelah itu kau boleh pergi!" Hoseok memakai helm yang diterimanya dengan cepat dan duduk nyaman di jok belakang motor tetangganya itu.

Tanpa disadari Hoseok, pemuda pirang itu tersenyum kecil dengan tingkahnya.

"Baiklah, pegangan dong." Si pirang memerintah dan mulai menyalakan mesin sepeda motornya.

"A—apanya yang dipegang?" Hoseok bertanya kikuk dan mengangkat kedua tangannya di sisi.

"Terserah mau pegang bahuku, pinggangku atau memelukku dari belakang juga boleh. Aku akan ngebut." Ucapnya santai.

Hoseok kembali membulatkan kedua matanya. Ia baru saja akan protes namun tetangganya itu telah lebih dahulu menjalankan motornya dengan cepat dan tiba-tiba, membuat Hoseok refleks memegang kedua bahunya erat dari belakang.

"YAAK!"

"Ke kampusku dulu ya, setelah itu aku baru akan mengantarmu!" Teriak si pemuda pirang dan menoleh sebentar kearah Hoseok lalu kembali fokus ke jalan raya kembali.

Hoseok segera saja balas memprotesinya.

"Kok gitu?! Harusnya antarkan aku lebih dulu, tetangga menyebalkan!"

Dan sepanjang perjalanan itu diramaikan oleh protesan Hoseok yang sama sekali tak ada gunanya karena tetangga barunya itu tak mengindahkan satu katapun yang terlontar dari bibir Hoseok. Dan tetap menjalankan sepeda motornya semau dirinya.

Hoseok jadi semakin emosi juga dibuatnya. Sudah terlambat, sarapan hanya selembar roti, sudah begitu ia dikerjai oleh tetangga barunya yang bahkan ia belum tahu namanya itu?!

Yeah, sesekali Hoseok yang selalu ceria itu memang butuh penyegaran untuk memancing emosinya.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

Nb : hai xD I love namseok hihi emesh.

Dan untuk perhatian ini bukan semacam series idola sebelah pintu ya :v wkwk and im sorry for short update :"D

Juga jangan lupa baca ff collab yoonmin sama cute voodoo berjudul Lovers High hehehe.

Okeh, terimakasih buat yang kemarin:

Siska Yairawati Putri | jeymint | kimm bii | MoronKiddo | Alfa ChenbabyLuvKaitem | cute voodoo | naranari part II | chimin95 | Bubble | shortie kid | kaiko94 | anthi lee | namseokbae | GitARMY | LKCTJ94 | Hopieeee | crazyarmy |Gypsophila | VampireDPS | riani98 | yoongisama | miparkland | adeyeojaarmyexoL | Deushiikyungie | she3nn0

Dan terimakasih juga sudah membaca sampai sini, apalagi yang sempet komentar :3 hihi.

.