chapter 2 is coming. hasil cuci,kucek,peres ama jemur otak seharian
Beelzebub:"lupa tuh ga di kasih pelicin,pelembut ama pewangi"
==",napa ga ingetin?
Beelzebub:"agan ga tanya"
ya uda,mo gimana lagi,nasi uda menjadi bubur
DISCLAIMER:RO? PUNYA SAYA? ANDA PASTI BERCANDA?
GOOD NIGHT (?) part I
Ah, bintang-bintang, itulah yang kembali Necro lihat saat berbaring lemas. Setelah berguling-guling kesana-kemari, nyeri "teman kecil"nya yang teraniaya tanpa perasaan oleh gadis yang ia selamatkan nyawanya berkali-kali dalam satu hari ini, akhirnya reda. Penampilannya benar-benar kacau, hampir seperti korban tabrak lari pengendara Peco-Peco.
Wajahnya bisa dibilang telah dipermak habis. Tubuh penuh lecet dibalik pakaian kusut. Dada kembang-kempis dengan nafas terengah-engah. Jantung berdegup kencang memompa berliter-liter darah hingga urat nadi dikepala terasa berdenyut-denyut. Kedua kaki juga mati rasa karena terus berlari hampir tanpa beristirahat.
"Jika tubuhku ini jarang kulatih mungkin sekarang aku sudah pingsan", ia bergumam memandang langit sebelum kembali memperhatikan sosok tertidur pulas membelakangi, berada beberapa jarak disampingnya. Hawa dingin lembah gersang ini seolah tidak mengusik gadis itu lagi. Mungkin karena efek dari air perasan Drosera atau mungkin karena tensi yang naik karena emosi dengan "kecelakaan" barusan? Entahlah, tapi setidaknya ia sembuh dan tidak kedinginan. "Sepertinya kita sudah tidak membutuhkan kayu bakar lagi", Necro berbisik lirih sembari tersenyum.
Menit berganti menit,kantuk mulai hadir menggelitik kesadaran Necro. Perlahan ia memejamkan mata. Kembali menghadapkan wajah sayunya kelangit. Sebelum membiarkan Dewi Mimpi merengkuh kesadarannya, ia menyempatkan diri menikmati hembusan angin lembah melintas lembut disetiap inci tubuh penuh peluhnya beserta bisikan lirih gemerisik tarian semak-semak yang ia terpa. 'Dibalik setiap bahaya, lembah ini ternyata memiliki suasana yang menentramkan', batin Star Gladiator itu.
"Mmm... Necro... jangan macam-macam...",Ayumi mengigau menyebut namanya. Sepertinya Soul Linker itu sedang memimpikan kejadian barusan. Pria yang ia sebut hanya tersenyum geli mendengarnya. Mana mungkin ia melakukan hal seperti itu pada gadis yang menjadi saudaranya?
"Kau hanya salah paham, Ayumi", Necro mendesah dibalik desis angin. Perlahan, mulai menggeserkan badan mendekati gadis itu. Disusul sebilah tangan menjulur hendak membelai rambut hitam panjang yang menghiasi kepalanya. Namun apa yang terjadi selanjutnya?
"Buagh!"
Sebuah bogem mentah tiba-tiba melayang tepat kewajah Necro. Mendarat dengan mulus indah dihidungnya. Dalam gerak lambat sebelum saraf-saraf hidung mengirim sinyal rasa sakit ke otak, terlihat pria itu sedang berdoa kepada para Dewa. Berharap hidungnya masih bisa bertahan menerima "kecupan selamat tidur" dari gadis itu. Sungguh beruntung, Doa itu segera dikabulkan oleh Dewa, hidungnya selamat. Tapi sebagai ganti ia harus menerima rasa sakit dua kali lipat. Ia pun pingsan seketika begitu sinyal-sinyal rasa sakit yang ia terima membuat hidungnya serasa dihantam gerobak yang ditarik menggunakan Cart Boost.
Itulah salah satu hal yang belum pernah Necro ketahui tentang Ayumi. Yaitu, jika kau mendengarnya sedang menggigau tentang hal yang buruk, sebaiknya menjaga jarak darinya atau kau akan mendapatkan beberapa cindera mata diwajahmu.
Yah, sepertinya itulah jawaban dari sebuah misteri dimasa kecil mereka. Tentang Necro yang sering sekali bangun dengan hidung berdarah-darah di keesokan hari setelah mereka tidur seranjang. Tapi Necro termasuk orang yang cukup beruntung. Hidung itu masih utuh dan berfungsi dengan normal hingga sekarang. Mungkin semua karena doa yang selalu dipanjatkannya sebelum tidur.
Akhirnya,suasana diantara mereka kembali hening, entah untuk yang keberapa kali. Malam masih bergelayut. Selimut hitam bertabur bintang diatas sana,terhampar luas menaungi keduanya. Tebing yang menjulang melindungi mereka dari beberapa makhluk-makhluk berbahaya dibawah. Saat ini mereka aman namun entah berapa lama. Lembah ini masih memiliki beberapa kejutan. Salah satu yang terburuk masih tersembunyi disalah satu sudut lembah luas ini.
-=xXx=-
Satu jam berlalu, sampai detik ini tidak ada yang aneh, keduanya masih tertidur pulas. Yang terlihat hanyalah Ayumi yang sesekali menonjok wajah Necro sedangkan Necro sendiri tidak terusik sama sekali menerima semua tonjokan itu. Berselang kemudian, dua jam pun terlewati. Semua hampir sama seperti sebelumnya. Perbedaannya hanya terletak pada wajah si Star Gladiator. Darah segar telah mengucur dari hidungnya.
Satu jam kemudian,sesuatu mulai menyadari keberadaan mereka. Dari jarak yang cukup jauh, indra penciuman tajam seekor makhluk tergoda oleh bau menggugah selera berada diteritorialnya. Khususnya bau amis darah segar yang perlahan mengucur dari hidung Necro. Menggunakan ketajaman penglihatan malam, dengan sekejab makhluk ini menemukan keberadaan mereka dari jarak yang menakjubkan.
Diawali dengan lolongan panjang dan senyum menyeringai, makhluk ini memulai perburuan malamnya. Menggunakan kaki dan tangan yang kuat serta dipenuhi kuku tajam, ia melompat dari satu batu kebatu lainnya dengan lincah. Tubuh yang besar dan dipenuhi rambut dengan warna hitam legam membuatnya tersamar didalam gelap sehingga sukar dilihat diwaktu malam. Yang tampak darinya hanyalah sebuah pedang besar seperti pisau daging bertengger dipunggungnya dan sesekali mengkilat karena cahaya bulan memantul disana.
Hati-hati namun pasti, makhluk berwujud seperti Desert Wolf namun berdiri menggunakan kaki belakangnya itu melompat mengendap-endap kearah mereka berdua. Dan begitu mangsa telah didepan mata. Ia mulai melangkah mendekat, semakin dekat dan dekat hingga bayangan tubuhnya menutupi mereka berdua. Liur membasahi mulut berhias taring diwajah makhluk itu ketika ia mendapatkan dua manusia tertidur lelap didepannya.
Yang Pria atau wanita? Ia mulai memilih-milih siapa yang akan ia santap terlebih dahulu. Matanya melirik-lirik antara Necro dan Ayumi. Necro terlihat lebih berdaging, tapi dari teksturnya, jelas ia berdaging keras dan alot. Sedangkan Ayumi,dagingnya mungkin lebih sedikit tapi pasti terasa lembut dan manis dimulut. Hmm,sulit? Tidak juga, ia lebih memutuskan membunuh mereka sekaligus sehingga ia tidak perlu lagi memikirkan siapa yang lebih dulu.
Makhluk itu lalu meraih pedangnya. Mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan dengan sekuat tenaga mengayunkannya kearah Necro. Tetapi begitu pedang hampir menyentuhnya, tiba-tiba Necro berbaring kesamping dan otomatis tebasannya meleset.
'Sial! Meleset', umpat makhluk itu dalam hati, segera ia mencoba melakukannya lagi. Mungkin hanya keberuntungan pikirnya. Namun cukup mengejutkan, ia gagal lagi. Necro kembali berbaring kearah lain. Ia coba lagi, dan hasilnya sama. Masih belum menyerah, ia pun mencoba lagi,lagi dan lagi. Tetap saja tak ada satupun serangannya menggores pria itu, semua meleset karena Necro terus menggeliat kesana-kemari.
'Mencoba bermain-main denganku! Hah?", makhluk itu frustasi. Nafasnya memburu dan isi kepalanya terasa mendidih. Matanya segera beralih ke Ayumi dan segera mengayunkan pedangnya kearah gadis malang itu. Begitu mata pedang berada beberapa inci dari tubuh Ayumi, tiba-tiba sesuatu menahan pedangnya. Membuat senjata itu bergetar dengan hebat ditangannya. Ternyata Necro menendang bagian samping pedang itu dengan sangat kuat.
"HOOOAAA~~~AAAM! ! ! Kurasa waktu tidurku sudah cukup", pria itu menguap. Salah satu kakinya masih bersandar pada pedang besar makhluk itu. Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, ia layangkan pandangan pada sosok yang mengganggu tidur mereka. Dua bola mata berwarna merah darah menatap tajam Star Gladiator itu. Tampak ia sangat geram sekali.
"Grrr, Sejak kapan kau tahu kedatanganku!", makhluk itu menggeram dengan suara menggelegar, tapi lucunya, Ayumi tidak terganggu sama sekali.
"Aksesori yang kau gunakan itu cukup berisik ditelingaku, bagaimana aku tidak tahu dengan kedatanganmu", jawabnya santai sambil menunjuk sebuah kalung besi yang melingkar dileher makhluk itu.
Makhluk itu sedikit terperanjat. Tidak menyangka suara gemerincing halus dari kalung rantai yang ia kenakan akan mengacaukan acara makan malamnya. Masih menggeram dan terpaku ditempat, ia kembali memperhatikan tingkah Star Gladiator yang perlahan berdiri dan meregangkan otot-ototnya, "Hei, tinggalkan dia, aku akan mengajakmu jalan-jalan...", ucap Necro sembari melangkah beberapa kaki mendekatinya.
"Grrr,Manusia kurang ajar! Sombong sekali kau!'', ia menyalak.
"Ayo... Puppy", Star Gladiator itu mengejeknya. Sabetan pedang pun mengarah kepadanya, tapi ia menghindar dengan kemampuan Tumbling-nya. Lalu berguling kebelakang dan melompat menggunakan Leap kebatu yang lain. "Lamban! Kejar aku kalau kau bisa... weee", Necro menjulurkan lidah dan menjulingkan mata. Mengejek makhluk itu lagi.
"Grrr,Kau akan menyesal karena menghina kami para Atroce!", makhluk itu mengaum lalu melompat dan mengangkat pedang ke atas kepalanya. Mengarahkan senjata ditangannya kepada Star Gladiator itu.
"Kita lihat siapa yang akan menyesal", gumam Necro sambil menjatuhkan diri kecelah batu dibelakangnya, membuat serangan Atroce itu meleset, "Ha ha ha! Kau payah!", teriaknya ditengah udara, lalu dengan gerakan memutar ia mengarahkan kakinya ketebing dan melakukan trik Leap, "Ikuti aku kalau bisa! Puppy!"
"Groooaaa~~~aaarrr! ! ! Akan kupotong lidahmu!",makhluk itu mengikutinya, sesuai dengan keinginan Necro. 'Bagus anjing pintar, aku akan mengajakmu jalan-jalan... ketempat yang menyenangkan'
-=xXx=-
Jauh dari tempat Ayumi, Necro bertarung sendirian melawan Atroce, tubuhnya yang lebih kecil dari Atroce serta refleknya yang sangat bagus, membuatnya mampu dengan mudah menghindar dengan masuk kecelah-celah batuan yang sedikit lebih kecil atau sekedar menghindar kesamping.
"Weee... aku disini,kejar aku, lalala", Necro terus berlari sambil sesekali menoleh dan meledek makhluk itu.
"Grrroooaaa~~~aaarrr! ! ! Aku akan memberimu pelajaran! POWER UUUP! ! !", Aumnya.
"Power up?", Atroce benar-benar serius sekarang. Kecepatannya tiba-tiba bertambah. Dalam hitungan detik saja, ia telah berhasil menyusul Necro yang berada didepannya, dan tanpa basa-basi mengayunkan pedang besarnya secara vertikal pada lawan. Necro pun menghindar kesamping. Ia berhasil namun sedikit terkejut karena pedang itu tertancap ditanah hanya beberapa mili dari tubuhnya, 'Nyaris saja', batinnya.
Amukan makhluk itu tidak sampai disitu saja. Pedang masih belum tercabut, ia kembali menggunakan kemampuannya. "TWO-HAND QUICKEN! ! !",Atroce itu menyeru.
'Apa? Two-hand quicken?', Necro mulai merasa keadaan menjadi semakin buruk, jika Power Up saja sudah hampir membuat makhluk itu menyentuhnya, bagaimana jika ditambah dengan Two-hand Quicken? Ia pasti akan tercincang-cincang.
Tidak membiarkan hal itu terjadi, segera ia berbalik dan melayangkan Flying Kick ke lambung Atroce, seketika menggagalkan semua efek kemampuan yang digunakan makhluk itu, "Grrroooaaarrr! ! !", Atroce meraung kesakitan dan mundur beberapa langkah sambil memegangi perut sementara Necro melompat kebelakang dan menjaga jarak darinya. "Grrr,Kurang ajar!", umpatnya pada Star Gladiator yang berkacak pinggang didepannya.
"Hei? Ada apa denganmu? Jangan bilang jika kau ingin 'pup'. Tak ada toilet disini"
"Grrr,berhenti meledekku! PULSE STRIKE!",makhluk itu kali ini menggunakan gelombang udara dari sabetan pedangnya. Meremukkan dinding batu disekitarnya serta melayangkan beberapa batu berukuran besar yang terhantam oleh serangan tersebut kearah lawan. Serangan seperti itu bukanlah apa-apa bagi Necro. Cukup menggeser badan atau menendangnya hingga berbenturan dengan yang lain diudara, ia dengan mudah menghindari batu-batu tersebut.
Setelah semua itu berakhir, Star Gladiator itu kembali menoleh kearah lawannya. Tapi sosok makhluk setengah Desert Wolf itu tak lagi disana. Hanya ada dirinya ditempat itu, sendirian berdiri diam ditempatnya. "Huh? Kabur? Ayolah, jangan bercanda, pesta baru saja menggila", kelakarnya. Makhluk itu kabur? Sejenak ia memang berpikir demikian. Tapi ia tidak dengan begitu saja membiarkan dirinya lengah.
"Grrr... mencariku?", suara besar dan berat terdengar berasal dari belakangnya, bersamaan dengan itu, Atroce melayangkan pedang secara horizontal ketubuh Necro. Tapi betapa kecewanya dia, serangannya gagal untuk kesekian kali ketika ujung pedang hampir mendapatkan tubuh lawannya, bahkan lawannya menghilang tepat didepannya.
"Ha ha ha, kau kembali !", suara ceria Star Gladiator itu terdengar lagi, ia menoleh dan mendapatinya sedang berjongkok dipedang besarnya sambil memandanginya. "Hai Puppy... merindukanku?", ledeknya.
Necro tahu bahwa Atroce sedang menggunakan teleport dan akan menyabetkan pedang secara horizontal saat ia muncul karena selalu gagal setiap kali mengayunkannya secara vertikal. Menggunakan semua itu, ia pun membuat trik dengan melompat keatas pedangnya ketika melintas. Sehingga terkesan ia menghilang dari pandangan makhluk itu.
"Grrr, Bagaimana bisa kau membaca gerakanku?", Atroce itu terkejut.
Necro menatapnya dengan tampang bosan, "Aku tidak membacanya, tapi umum sekali setiap monster yang melakukan teleport pasti akan melakukan serangan tiba-tiba, yang perlu kulakukan hanya menunggu sampai ia muncul..."
"Grrr,setelah itu... apa yang akan kau lakukan", ucapnya terengah-engah karena sejak tadi melancarkan serangan hampir bertubi-tubi.
Star Gladiator itu meringis sambil menggosok-gosok kepalanya, "he he he, aku tidak tahu"
"Grrr, Bedebah... kau mempermainkanku!", tiba-tiba pedang yang diduduki Necro menyala merah dan meledak seketika. "BLAAA~~~AAARRR! ! !"
"MAGNUM BREAK ! ! ! HA HA HA HA... rasakan itu, manusia!", tawanya lepas. Makhluk itu merasa lelah, membuatnya mengira berhasil mengenai Necro. Dan itu berarti fatal. Star Gladiator itu sama sekali tidak tergores oleh semua serangannya. Ia berhasil melompat keudara tepat sebelum pedang meledak.
"Hei... apa yang kau tertawakan, aku disini", ucap Necro yang melayang diudara sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi horizontal. Ia pun segera mengeluarkan teknik rahasia yang ia ciptakan dari kombinasi skill-skill yang ia kuasai. Ia menyebut teknik itu Corona Blaze Kick.
Sang Star Gladiator berambut perak mulai memancarkan Heat dari tubuhnya. Menggunakan kaki kirinya, ia ayunkan tumit secara berlawanan arah jarum jam untuk memperoleh momentum, lalu dibantu daya dorong Heat, melesat turun dengan gerakan memutar vertical dalam kecepatan tinggi, sehingga tampak bagai roda gergaji api,dan mengarahkan tumit berselimut Heat tersebut tepat kearah Atroce dibawahnya.
"CORONA BLAZE KICK!"
"A-Apa? Tidak mungkin!", makhluk itu mendongak dan terbelalak begitu mendapati tumit kaki lawan yang menyala-nyala telah berada satu inci dari wajahnya. Ia pun tak berkutik lagi, sudah terlambat baginya untuk menghindar atau melakukan teleport.
"Bye-bye Puppy", dalam sepersekian detik, Necro meledeknya untuk yang terakhir kali. Kemudian kepala makhluk itupun meledak dan hancur berserakan begitu tumit itu menghantamnya. Darah bercipratan kesegala arah,diikuti suara dentuman dari pedang besar lepas dari genggaman dan tubuh makhluk itu yang limbung ketanah. Necro lalu salto kebelakang dan berdiri didepan lawannya yang tak lagi bernyawa.
"Akhirnya selesai juga", ujarnya sambil menghela nafas panjang dan mengusap keringat yang tak terasa membanjiri keningnya kemudian mulai beranjak dari tempat itu. Tapi sayang sekali, seperti apa yang ia ucapkan sebelumnya. Bahwa pesta... baru saja manggila.
"Grrr,Manusia! Beraninya kau membunuh saudara kami!", suara lantang itu menghentikan langkahnya. Ia pun mendongak, empat ekor Atroce sedang menatapnya dengan raut wajah penuh amarah dari atas tebing. Tapi Necro tidak memperdulikannya kecuali hanya satu. Seekor Atroce yang melipatkan tangan didada dengan sebuah pedang lebar berujung runcing dan berwarna hitam legam bertengger dipunggung. Penampilannya sangat mencolok karena hanya ia yang menggunakan tutup kepala dan satu-satunya dari mereka yang menatap Necro dengan mata yang tenang namun penuh dengan kebencian.
"Kurasa ini akan menjadi pesta paling meriah malam ini", gumam Necro dengan senyum sinis.
