HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIVE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
WARNING!
Chapter ini akan sangat menguras emosi kalian,
terutama bagi HunHan shipper yang menentang KrisLu dan HunBaek.
Jadi, please… baca aja Chapter ini sampai habis, dan jangan banting gadget kalian.
Apapun yang terjadi Aruna tidak akan mungkin memisahkan Sehun dari pemiliknya (red: Luhan)
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
From: 01098329407
Lu, ini aku Sehun!
Semalam aku kehilangan ponselku,
dan pagi ini aku baru membeli yang baru
Terimakasih Lu, kau sudah mau menerima kehadiranku lagi
Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi kemarin
Oh ya, pagi ini aku akan pindah rumah,
Mulai lusa aku akan tinggal di rumah keluarga Jeon.
Dan sampai beberapa hari ke depan aku mungkin tidak bisa
datang ke rumah sakit, aku akan sibuk pindahan,
bagaimana kalau kita bertemu di rumah?
Dan… ada seseorang yang ingin aku kenalkan
pada kalian nanti.
Sampai jumpa di rumah!
.
.
.
Option
Delete Message
'This thread will be deleted'
Yes
.
"Apa kau menghapus pesan itu?"
"…."
"Kau benar – benar melakukannya?"
"…"
"Kau keterlaluan, Wu Yifan."
"Ini bukanlah hal yang bisa dibilang keterlaluan, Dokter Huang. Aku melakukannya karena aku harus!"
Yifan meletakkan ponsel Luhan ke posisi semula, di meja nakas di samping tempat tidur Jaehun. Jaehun tertidur siang itu, sedangkan Jaehan masih berada di sekolah, sementara Luhan sedang turun ke loby untuk mengurus administrasi tambahan yang dibutuhkan Jaehun.
"Harus? Apakah menghancurkan rumah tangga orang lain adalah suatu keharusan, Dokter Wu?"
Seorang dokter yang berpostur tubuh sempurna bak model memprotes apa yang dilakukan Yifan sambil mengecek tekanan darah Jaehun. Dokter itu jelas terlihat kesal pada apa yang Dokter muda tampan itu lakukan tadi.
"Rumah tangga? Mereka bahkan sudah bercerai, tidak ada rumah tangga lagi. Itulah kenapa aku harus melakukannya,"
Yifan menggantung kalimatnya seraya mencatat keadaan Jaehun siang ini,
"Lagi pula, Luhan adalah kekasihku saat ini… jadi aku berhak melakukannya" tegas Yifan kemudian.
"Ya benar, kali ini memang kau berhak melakukannya Dokter Wu. Tapi apa yang terjadi pada mereka 5 tahun yang lalu… hingga mereka memutuskan untuk bercerai, semuanya karena campur tanganmu!"
Dokter sexy itu nampak tak mau kalah atas perdebatannya. Meskipun tangan mereka berdua dengan cekatan memeriksa tubuh Jaehun, namun percakapan yang mereka lakukan saat itu, jelas sangat diluar konteks.
Yifan hanya diam, bukannya dia tidak mau membela diri. Hanya saja apa yang dikatakan Dokter bermarga Huang itu benar. Apa yang terjadi pada Sehun dan Luhan 5 tahun yang lalu, itu semua memang karena Yifan.
"Aku mencintai Luhan, dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya" Yifan berkata tegas seakan tidak mau dibantah
"Sehun juga mencintai Luhan, dan aku yakin Sehun akan melakukan apapun untuk mendapatkan Luhan kembali" tegas Dokter sexy itu tak mau kalah
"Kau boleh membela orang itu, tapi akan ku pastikan.. Luhan dan si kembar akan jadi milikku"
"Apa yang sejak awal bukan milikmu, tidak akan pernah menjadi milikmu. Apalagi jika kau merampasnya dari orang lain… Luhan mencintai Sehun, bukan kau! Permisi Dokter Wu."
Dokter sexy bermarga Huang itu menatap Yifan dengan tajam dan sinis lalu pergi begitu saja karena tugasnya di ruang rawat Jaehun juga sudah selesai.
"Oh… kau sudah datang?"
Yifan menyapa Luhan yang baru saja datang, tepat saat Dokter Huang keluar ruangan.
"Kau kenapa sayang?" Yifan bertanya pada Luhan setelah mengecek keadaan Jaehun
"Aku baik. Dan jangan panggil aku sayang di depan anak – anak. Ku mohon" ketus Luhan
"Oh… Okay… maafkan aku, apa kau mau…"
"Yifan… aku titip Jaehun padamu ya, aku perlu pulang sebentar untuk mengambil beberapa berkas kantor, nanti sore Minseok eonni akan datang dan mengambilnya sambil mengantar Jaehan"
Dan belum sempat Yifan menjawab permintaan Luhan, Luhan sudah lebih dulu pergi. Yifan hanya bisa tersenyum manis melihat tingkah Luhan yang imut dimatanya itu.
"Aku mencintaimu Lu…." Ujar Yifan masih dengan senyum manisnya.
.
.
.
E.N.D
(Ex-Husband Next Door)
.
.
.
Chapter 2: Not just a Friend
"Apa yang sejak awal memang bukan milikmu, tidak akan pernah menjadi milikmu. Apalagi jika kau mendapatkannya dengan cara merampas dari orang lain"
.
.
.
"Mereka datang!"
Sehun melompat dari sofa tempatnya duduk mengintip rumah mantan istrinya. Senyum merekah begitu bahagia ketika mobil sang mantan istri terparkir rapi di halaman rumah mungil itu.
"Kau mau kemana, Hun-ah?"
Seorang wanita berwajah imut tanpa make up datang dari arah dapur membawa sekotak susu strawberry ditangannya.
"Luhan dan anak – anak sudah datang" jawab Sehun masih dengan senyum sumringah
"Mmm… jadi mantan istrimu itu benar – benar tinggal di sebelah ya?" tanya wanita cantik itu sambil mengerucutkan bibirnya
"Rumah sebelah adalah rumah kami saat kami baru menikah dulu," Sehun mengusap kepalanya canggung, namun sang wanita cantik bermata sipit itu malah maju mendekat ke jendela di sebelah Sehun untuk melihat pemandangan di rumah sebelah.
"Beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan Luhan, dan berkenalan dengannya… aku rasa dia wanita yang manis" wanita itu mengintip rumah sebelah lalu meminum susu strawberrynya.
"Ya… Luhan memang wanita yang manis dan menggemaskan" jawab Sehun seraya tersenyum penuh cinta ketika melihat Luhan mencium satu persatu putranya yang baru saja turun dari mobil
Wanita itu juga ikut tersenyum melihat senyum Sehun, mata sipitnya yang melengkung menatap Sehun secara seksama masih tetap bersinar, memancarkan aura lembut dan manis secara bersamaan.
"Oh, siapa pria yang bersamanya itu?" tanya wanita imut itu lagi
"Dia…. Dokter Wu,"
"Aaaah… dia kekasih mantan istrimu itu?"
"Ku mohon jangan rusak moodku, Byun Baek!"
Sehun merengek lucu dan wanita imut itu hanya tertawa geli melihat ekspresi Sehun saat ini.
"Ya sudah, sana cepat kau sambut kedatangan keluarga kecilmu!"
"Okay… jangan tidur terlalu malam, besok kau mulai kerja di tempat yang baru kan?" ujar Sehun sambil mengusap lembut poni Baekhyun
"I know! GO!"
Baekhyun menepuk bahu Sehun lalu pria tampan itu berlari kencang ke rumah sebelah.
.
"Lu…. Tutup bagasinya…"
Yifan berujar pada Luhan yang sedari tadi tidak berkonsentari sama sekali. Saat itu Jaehun baru pulang dari rumah sakit dan Yifan mengantar keluarga kecil tanpa ayah itu pulang ke rumah.
"LUHAN!"
Sehun tiba – tiba muncul dari balik pagar rumah Luhan, dengan senyum ceria dan manis manjanya. Bukannya balas tersenyum Luhan malah mengerutkan keningnya,
.
Baekhyun baru akan masuk ke dalam kamarnya, jika saja dia tidak menemukan sebuah kotak cokelat yang Sehun beli tadi sore.
"Ng? Ini kan cokelat yang Sehun beli… Dia bilang ini untuk si kembar… kenapa masih disini?"
Baekhyun mengambil kotak itu segera dan berencana menyusul Sehun ke rumah sebelah, namun begitu wanita imut itu keluar rumah, dia mendengar sebuah teriakan.
.
"PERGI DARI SINI SEKARANG!"
Luhan membentak Sehun dengan nada tinggi, dan itu membuat Sehun terkejut.
"Lu… tenanglah… anak – anak bisa mendengarmu.." Yifan mengingatkan.
"Sehun-ah… kau datang, ayo masuk… anak – anak pasti senang bertemu denganmu" Yifan menyambut kedatangan Sehun
"tentu saja mereka akan senang bertemu dengan 'Appa'nya" jawab Sehun berani dengan penekanan pada kata Appa.
"Kau masih berani menyebut dirimu sebagi seorang Appa?" Luhan berkata dengan nada ketus dan itu membuat Sehun bingung
"Lu… ada apa denganmu?"
"Ada apa denganku? Kau pikirkan saja sendiri."
.
"What the… kenapa dia malah marah – marah? Apa sebelumnya mereka ada masalah?"
Baekhyun menggerutu sendiri sambil memicingkan matanya, memilih diam di beranda rumah dariapada meneruskan langkahnya untuk mengantar kotak cokelat itu.
.
"Jika kau marah karena aku tidak datang ke rumah sakit, itu karena aku baru saja pindah dari Incehon kemari. Bukankah aku sudah mengirim pesan padamu?"
Sehun meyakinkan Luhan tetapi Luhan sama sekali tidak berubah.
"Kau sama sekali tidak mengirimiku pesan dan nomormu bahkan tidak aktif" gertak Luhan
"Ponselku hilang, terjatuh entah dimana saat perjalanan dari rumah sakit ke Incheon hari itu… bukankah aku sudah menghubungimu dengan nomorku yang baru? Kau yang selalu menolak panggilanku!"
Sehun membela dirinya dan mencoba mengambil ponselnya untuk membuktikan apa yang dia katakan adalah benar.
"Ah… bagaiman kalau kita bicarakan ini di tempat lain, tetangga bisa melihat kalian bertengkar disini" ucap Yifan mencoba menengahi pertengkaran Sehun dan Luhan.
"Aku benar – benar minta maaf Lu, jika apa yang aku lakukan salah, aku benar – benar minta maaf. Aku sibuk memindahkan barangku dari apartemenku di Incheon kemari." Sehun kembali menjelaskan
"Kau… pindah rumah? Kemari?" Yifan membelalakkan matanya.
"Tidak… secara spesifik bukan ke rumah ini. Tapi mulai hari ini aku tinggal di sebelah, di rumah yang dulunya adalah rumah Keluarga Jeon"
Sehun menunjuk rumah minimalis yang sudah direnovasi dan didekorasi ulang itu dengan mantap.
.
SRET
Baekhyun bersembunyi di balik pilar ketika Sehun menunjuk kearah rumah mereka. Baekhyun berusaha menahan napas, entah apa gunanya, tapi wanita imut itu hanya tidak ingin ketahuan jika sedang menguping. Apa saat ini Baekhyun tengah menjadi tetangga yang usil? Ya… usil mengintip perdebatan tetangganya.
"Dokter itu kelihatan menyebalkan sekali sih… memangnya kenapa kalau Sehun pindah kemari? Aku yang diajak tinggal dengannya saja tidak bermasalah, kenapa dia harus berekspresi seperti itu?"
Baekhyun menggerutu sendiri dan ketika dia merasa situasi sudah aman, dia menolehkan kembali wajah imutnya, kembali mengintip apa yang terjadi di rumah tetangga sebelah.
.
Disisi lain, Luhan membelalakkan mata mendengar apa yang Sehun katakan barusan.
"Kau… pindah ke rumah sebelah?"
"Ya…"
PLAK!
"PERGI! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!"
Luhan menampar Sehun lalu mengusir mantan suaminya itu dengan sangat tidak hormat. Terlebih lagi Luhan melakukan penghinaan itu didepan Yifan. Sehun yang punya harga diri tinggi tak menunggu detik berikutnya dan dia langsung pergi. Meninggalkan rumah itu dan melangkah ke rumah barunya.
.
Mata sipit Baekhyun terbelalak melihat apa yang barusan terjadi di rumah tetangganya. Luhan menampar Sehun dan apa itu tadi, Baekhyun dapat dengan jelas melihat smirk tipis pria tampan yang berprofesi sebagai dokter itu. Entah bagaimana, emosi langsung menguasai diri Baekhyun. Memang benar, yang ditampar adalah Sehun, yang dipermalukan adalah Sehun, yang dibenci juga Sehun. Tapi demi semua koleksi cat kukunya, Baekhyun merasa perlakuan yang Sehun dapatkan amat sangat tidak adil.
"Baek… kau disini?"
Sehun baru sadar jika Baekhyun sedari tadi berdiri di depan rumah, Sehun nampak cukup kaget melihat Baekhyun berdiri di luar pintu rumah, namun Sehun lebih khawatir jika Baekhyun tau apa yang terjadi di rumah sebelah barusan.
Melihat keterkejutan Sehun, Baekhyun kemudian mengangkat tangan kanannya lalu mengusap pipi memar Sehun.
"Kau masih tetap tampan dengan pipi memar seperti ini" ujar Baekhyun dan diikuti oleh sedikit senyum canggung dari Sehun.
"Masuklah, akan aku kompres memarmu agar tidak semakin parah." Baekhyun menepuk bahu Sehun sambil tersenyum manis kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah.
.
"Jaehun-ah…"
Luhan dan Yifan baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati Jaehun berdiri di belakang pintu dengan tatapan mata mengerikan. Jaehun memang mewarisi lebih banyak wajah Luhan, tapi jika dia sedang marah seperti itu, Jaehun benar – benar mirip dengan ayahnya. Atau pada kenyataannya wajah Sehun dan Luhan memang mirip sejak awal.
"Kenapa Jaehun ada disini?"
Yifan berjongkok di hadapan Jaehun, menatap calon anak tirinya itu dengan tatapan teduh.
"Hyung… ayo ke kamar, kau belum selesai mengerjakan PRmu!" Jaehan menengok dari dalam kamar namun Jaehun sama sekali tak bergeming. Dia masih tetap melihat Luhan dengan tatapan marahnya.
"Jaehun-ah… apa kau butuh sesuatu? Biar eom…"
"Jaehun-ah!"
"Oh Jaehun!"
"Hyung!"
Jaehun berlari menerobos tubuh Yifan dan ibunya menuju ke halaman depan rumah, dengan segera membuka pintu gerbang dan berlari. Secara refleks Yifan ikut berdiri dan mengejar Jaehun.
"Jaehan-ah… ada apa dengan kakakmu?" tanya Luhan beralih pada putra bungsunya
"Ng… tadi hyung bilang dia mendengar suara Appa. Lalu dia keluar dan tidak kembali ke kamar lagi" jawab Jaehan dengan wajah polosnya
Seperti ada petir di kepala Luhan yang menyadarkan wanita cantik itu akan apa yang baru saja terjadi. Apakah Jaehun melihat apa yang telah Luhan lakukan pada Ayahnya? Jawabannya, Ya. Jaehun melihat langsung apa yang Luhan lakukan pada Sehun, Jaehun melihat sendiri bagaimana Luhan membentak dan bahkan menampar sosok kesayangannya itu.
Dada Luhan langsung terasa sesak, kepalanya kalut dan rasa ketakutan mulai menyeruak ke seluruh tubuhnya. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan pada Jaehun nanti? Penjelasan seperti apa yang harus Luhan berikan pada putranya itu? Bagaimana jika Jaehun menceritakan apa yang dia lihat pada Jaehan? Apakah kedua putranya akan membencinya?
"Eomma…"
Jaehan menyadarkan Luhan dari segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Melihat wajah polos penuh tanda tanya Jaehan, membuat Luhan semakin ketakutan. Takut jika dia harus dibenci oleh malaikat kecilnya karena apa yang telah dia lakukan. Dan kali ini, seperti biasa, rasa bersalah memang datang belakangan. Luhan merasa bersalah atas apa yang dia lakukan pada Sehun. Kenapa dia harus menampar mantan suaminya sendiri? Memang apa salah Sehun hingga Luhan berhak menamparnya? Bahkan saat Sehun melayangkan gugatan cerainya dulu, Luhan sama sekali tidak bereaksi apa – apa. Tapi kenapa tadi Luhan melakukan hal konyol itu?
Ya, wanita cantik itu sendiri bingung. Apa yang membuatnya marah pada Sehun? Apa karena Sehun tidak menghubunginya? Apa karena Sehun tidak menemuinya? Atau…. Karena apa yang dia pikirkan? Bayangan tentang sesosok gadis cantik berpenampilan imut dengan senyum manis yang memperkenalkan dirinya sebagai Byun Baekhyun, seorang calon istri dari pemilik rumah disebelahnya.
'Jadi wanita itu… calon suami wanita itu adalah… Sehun?'
Luhan kembali dalam pemikirannya sendiri, tapi… jika benar Baekhyun adalah calon istri Sehun, apa masalahnya? Apa hak Luhan untuk marah? Apa hak Luhan untuk tidak menerima itu semua? Bukankah Sehun adalah seorang pria yang bebas, ya, Sehun adalah seorang duda yang bebas. Luhan tak lagi punya hak atas Sehun, sebagaimana Sehun tidak punya hak atas Luhan. Bukankah Luhan yang lebih dahulu menjalin hubungan khusus dengan Yifan? Bahkan hubungan Luhan dan Yifan sudah berjalan selama 2 tahun.
Sampai saat ini, pikiran Luhan tentang posisi Baekhyun atas Sehun terus menghantui pikirannya. Membuat Jaehan semakin bingung, apa yang terjadi pada ibunya, kenapa wajah ibunya memerah dan… apa ibunya menangis? Lalu kemana kembarannya pergi? Kemana Jaehun? Kenapa Jaehun pergi?
Demi semua koleksi action figurenya, saat ini kepala Jaehan ikut pusing. Dia sama sekali tidak mengerti apapun, dan memang seharusnya hal seperti ini tidak menimpa dirinya, begitu juga Jaehun.
"Eomma… hyung pergi kemana?" Jaehan memberanikan dirinya untuk bertanya
Luhan menghapus jejak cairan bening di sudut matanya kemudian tersenyum menatap putra bungsunya.
"Jaehunie sedang keluar bersama paman dokter, Jaehan tidur duluan yuk… besok kan Jaehan sekolah" bujuk Luhan lembut
"Tidak… Jaehan mau ikut hyung… hyung kemana, eomma?"
Anak itu mulai merengek dan mencoba membebaskan diri dari cengkraman ibunya.
"Baiklah… kita tunggu sampai…"
Luhan melihat jam di dinding lalu memutuskan sampai mana dia dan Jaehan akan menunggu Jaehun.
"jam 10! Jika sampai jam 10 malam Jaehun belum kembali, kita susul dia, okay? Sekarang masuk ke kamarmu"
Luhan menarik lengan mungil putra bungsunya tanpa menerima protes dan rengekan kecil Jaehan padanya.
.
"Jaehun-ah… kau mau kemana…"
Yifan masih mengikuti langkah kecil Jaehun menuju ke rumah yang berdiri tepat di sebelah rumahnya. Tangan mungil Jaehun memencet tombol interkom, berharap sang ayah akan membukakan pintu untuknya.
"Ya… siapa?"
Suara manis seorang wanita menyapa dari dalam interkom membuat Jaehun mengerutkan keningnya, kepala kecilnya berpikir tentang siapa pemilik suara itu.
"Apa ada orang di luar?"
Tanya Baekhyun untuk memastikan, tinggi badan Jaehun belum cukup untuk terlihat di interkom. Dan baru saja Yifan ingin menyela, Jaehun akhirnya bicara
"Aku mau mencari Appa" ujar anak itu dengan polosnya
"Appa? Ini siapa?" tanya Baekhyun lagi
"Aku Oh Jaehun, anda siapa?" Jaehun balik bertanya
"Jaehun-ah?"
"APPA!"
Jaehun memekik ketika suara familiar sang ayah menerobos masuk di interkom, anak itu bahkan melambaikan tangannya berharap sang ayah percaya bahwa dia benar – benar ada disana.
Ceklek
Pintu pagar terbuka, Jaehun buru – buru masuk dan Yifan segera mengikutinya. Sementara itu dari dalam rumah, Sehun membuang kompres es batu yang Baekhyun tempelkan di pipinya dan berlari secepat kilat menuju ke pintu gerbang untuk mencari Jaehun.
"APPA!"
"JAEHUN-ah!"
GREB
Sehun menyaup tubuh mungil Jaehun kedalam pelukannya. Begitu pula Jaehun yang langsung memeluk erat sang ayah dengan kedua tangan mungilnya. Sehun tau, ada Yifan disana. Tapi Sehun benar – benar memilih untuk tidak peduli pada dokter muda tampan itu. Jaehun adalah yang paling penting.
"Jaehun-ah… kenapa bisa kesini?"
Sehun menepuk punggung Jaehun selembut mungkin, mencoba menenangkan sang buah hati yang Sehun yakin sedang terisak saat ini.
"Mungkin tadi Jaehun melihatmu di halaman rumah, makanya dia…"
"Kau pulanglah Hyung, biar Jaehun bersamaku"
"Tapi Jaehun.."
"Dia anakku hyung! aku tau apa yang harus aku lakukan"
Sehun memotong kalimat Yifan dan meninggalkan dokter muda itu sendirian di halaman rumahnya. Sehun masuk tanpa sekalipun menawarkan Yifan untuk mampir. Sehun tak punya kepedulian untuk itu. Terlebih lagi, Sehun sendiri muak dengan wajah 'sok' peduli Yifan terhadap keluarganya. Memang benar, dia adalah kekasih Luhan saat ini. Tapi meskipun itu kenyataanya, menurut Sehun, Yifan tetap saja tidak berhak mencampuri urusan dia dengan Luhan, apalagi urusannya dengan si kembar.
"Oh… kenapa dia bisa kesini? Dia menangis?"
Baekhyun ikut menyambut kedatangan Sehun dan Jaehun dengan sedikit kepanikan, namun melihat seberapa tenang Sehun saat ini, Baekhyun yakin, duda dua anak itu tau apa yang harus dia lakukan
"Baekhyun-ah… Tolong siapkan air hangat untuk kompres. Biasanya dia akan demam jika dia kelelahan menangis"
"Baiklah… cepat bawa dia kekamar, nanti aku menyusul"
Baekhyun langsung berlari menuju dapur sementara Sehun segera masuk ke sebuah kamar yang letaknya di sudut kanan rumah minimalis itu, segera Sehun duduk di tepian ranjang sementara Jaehun masih dengan posisi koala dalam gendongan Sehun.
"Ssst… Jaehun kenapa menangis… ng… jangan menangis sayang… Appa disini"
Sehun masih mencoba menenangkan Jaehun yang terisak dalam pelukannya. Tanpa diberitahu, sinyal di tubuh Sehun sudah menangkap kenaikan suhu tubuh putranya itu. Cemas, itu yang Sehun rasakan. Dia tentu tidak mau Jaehun masuk rumah sakit lagi, padahal hari ini dia baru saja pulang dari sana.
Jaehun perlahan mengendurkan pelukannya pada Sehun, mata rusanya yang basah menatap dua manik mata sipit dan tegas ayahnya. Jika begini, Sehun merasa seperti melihat Luhan lah yang sedang menangis.
Kedua telapak tangan kecil Jaehun menakup pipi ayahnya, mengelus pelan tepat di tempat Luhan menamparnya tadi.
"Appa pasti kesakitan"
Gumam Jaehun masih setia mengelus pipi ayahnya. Sehun terkejut mendengar apa yang barusan Jaehun katakan, darimana anak itu tau jika… pipinya nyeri, apa memarnya begitu jelas?
"Tidak sayang… Appa tidak sakit" Sehun mencoba tersenyum dan meraih satu tangan Jaehun, mengusap punggung tangan mungil itu dengan lembut
"Darimana Jaehun tau Appa ada disini?" tanya Sehun lagi ketika Jaehun tak kunjung bergeming
"Appa… Maafkan eomma ya…"
Butuh 3 detik bagi Sehun untuk menyadari apa yang baru saja Jaehun katakan, 'maafkan eomma'?, Sehun baru sadar jika ternyata Jaehun melihat apa yang dilakukan Luhan terhadapnya. Dan apa ini, kenapa Jaehun meminta maaf untuk Luhan? Dan masalahnya tidak hanya ada disana. Menurut Sehun, saat ini masalah terbesarnya bukanlah memaafkan Luhan atau tidak, tapi bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya kepada Jaehun. Sehun, jujur saja duda tampan itu tidak mengerti sama sekali bagaimana cara menjelaskan sesuatu yang serumit itu kepada putra – putranya. Sehun akui, itu adalah salah satu kekurangannya sebagai seorang ayah.
"Appa…"
Sehun baru tersadar dari lamunannya, dia kembali menatap Jaehun yang sedari tadi menatapnya penuh kekhawatiran.
"Kenapa Appa harus memaafkan eomma? Kan Appa tidak sedang marah pada eomma…" Sehun berkata lembut sambil menakupkan kedua tangannya di pipi tirus Jaehun.
"Tapi kan tadi…"
Jaehun menggantung kalimatnya bersamaan dengan kepalanya yang menunduk, menghindari kontak mata sang ayah.
"Eomma memukul Appa.." lirih bocah lugu itu
Sehun menghela napas panjang sementara kepalanya mencoba merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan keadaannya sekarang. Jujur, Sehun tidak marah pada Luhan. Hanya saja… dia merasa sedikit kecewa, karena wanita yang paling dia cintai baru saja mempermalukannya di depan seseorang yang paling tidak dia suka. Wu Yifan.
"Eomma pasti punya alasan kenapa eomma melakukannya" ujar Sehun singkat dengan nada mengambang
"Oh Jaehun…"
Sehun memangil nama putra sulungnya setelah beberapa saat hening. Jaehun yang merasa namanya di panggil langsung mengangkat wajahnya dan menatap lagi kedua mata sang ayah.
"Terimakasih sudah menghawatirkan Appa…" gumam Sehun lalu mengecup kening Jaehun cukup lama dan lembut
"Appa benar – benar tidak marah pada Eomma?"
Mendengar pertanyaan itu Sehun segera melepas kecupannya, pria tampan berwajah tegas itu memberikan senyum paling lembut yang bisa dia berikan pada satu dari dua malaikat kecilnya.
"Tidak… Appa tidak marah pada Eomma… Eomma tidak mungkin melakukannya jika Appa tidak punya salah"
"Kalau Appa yang salah, Appa harus minta maaf…" ucap Jaehun kemudian mengedipkan dua mata rusa polosnya
Itu berhasil membuat Sehun merasa gemas, sangking gemasnya Sehun pun akhirnya memeluk Jaehun dengan erat. Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Jaehun tertidur diatas ranjang king zise di kamar itu. Napas tenang dan teratur Jaehun membuat Sehun setidaknya lebih tenang, itu artinya Jaehun dalam keadaan yang baik meskipun suhu tubuhnya sedikit meningkat.
"Apa aku boleh masuk?"
Suara lembut Baekhyun memecah keheningan kamar bercahaya redup itu.
"Masuklah…"
"Aku membawa air hangat dan handuk untuk mengompres, dan ini… termometer untuk mengecek suhu tubuhnya"
Baekhyun meletakkan baskom berukuran sedang lenngkap dengan handuk di meja nakas, kemudian menyerahkan sebuah termometer pada Sehun.
"Thanks, Baek" ujar Sehun dengan senyum lembut kemudian memasukkan ujung termometer ke dalam telinga Jaehun.
"Apa dia demam?" tanya Baekhyun dengan wajah cemas
Sehun hanya mengangguk untuk jawabannya, tanpa ada kata – kata Sehun langsung memeras rendaman handuk dalam baskom sedang itu lalu menempelkannya pada tubuh Jaehun.
"Ng…. ini Jaehun atau Jaehan?"
Baekhyun kembali bertanya kemudian duduk tepat di sebelah kaki Jaehun, mengambil kaki mungil itu lalu melumurinya dengan minyak hangat lalu memijatnya.
"Ini Jaehun…" ucap Sehun tanpa menatap Baekhyun
"Ng… kenapa dia bisa kemari?"
Sehun tidak menjawab, dia hanya diam dan perhatiannya hanya terfokus pada Jaehun.
"Baekhyun-ah…"
"Ya?"
"Apa kau tidak keberatan dengan ini?"
"Dengan ini… apa?"
"Jaehun dan Jaehan… aku sudah memiliki mereka, apa kau tidak keberatan?"
Sehun menatap kedua mata sayu Baekhyun kali ini, sebuah pertanyaan tulus dan serius diajukan oleh duda tampan itu.
"Kenapa aku harus keberatan? Justru aku yang sedang berpikir… apa mereka bisa menerimaku dengan baik atau malah… mereka tidak menyukaiku"
Baekhyun menundukkan kepalanya, poni di keningnya kini mampu menutupi wajah cantik wanita berkulit putih susu itu.
"Mereka pasti akan menyukaimu, mereka kan anak – anak yang baik… tapi… yang aku khawatirkan adalah… bagaimana jika nanti kau malah jadi ibu tiri yang jahat seperti ibu tirinya Cinderella, hahaha" ucap Sehun lalu terkekeh di akhir kalimatnya
"Yak Oh Seh! Mana mungkin aku seperti itu… apa kau tidak cukup mengenalku selama ini?" Baekhyun balik membentak Baekhyun kemudian mempoutkan bibirnya. Dan itu malah membuat Sehun semakin terbahak mentertawakannya
"Apa aku selucu itu?" tanya Baekhyun dengan tatapan tidak terima
"Ng… kau memang selucu itu Byun Baek,Hahahahaha" Sehun masih saja tertawa namun tangannya yang cekatan tetap melakukan pekerjaan mengompres putranya dengan baik
"Kau sendiri… apa kau tidak keberatan menikah denganku?"
Pertanyaan itu telak membuat tawa Sehun berhenti, lalu sejenak suasana jadi canggung.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku sudah berjanji pada kakekmu kan?" jawab Sehun tanpa memperhatikan kedua mata sipit Baekhyun yang menatapnya
"Apa kau… tak punya niat sedikitpun untuk kembali bersama Luhan?"
Baekhyun memberanikan dirinya untuk bertanya dan sesungguhnya pertanyaan itu membuat dada Sehun berdenyut
"Luhan tidak akan kembali padaku Baek… dia sudah punya Yifan sekarang…" ucap Sehun dengan nada malas
"Terimakasih Oh Sehun…"
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang telah kau lakukan untukku…"
"Tidak… kau tidak perlu berterimakasih, kita berdua adalah teman baik bukan?"
"Ya… kita berdua adalah teman baik"
"Dan… seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu, Byun Baek"
"Kau? Berterimakasih untuk apa?"
"Untuk ketulusanmu mau menerima keadaanku dan… anak – anak…"
Baekhyun hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih yang tulus dari seorang Oh Sehun. Wanita imut itu terus menatap Sehun yang dengan cekatan dan telitinya merawat Jaehun. Memang benar penilaian Baekhyun selama ini. Oh Sehun adalah sosok pria yang membuat siapapun wanita merasa beruntung memilikinya. Mungking…. kecuali Luhan.
"Oh.. Kau mau kemana?"
Baekhyun terkejut begitu Sehun menyaup tubuh Jaehun lalu berdiri dan menggendongnya.
"Aku harus membawa dia pada Luhan" ujar Sehun dengan nada lembut dan tenang, tentu saja, dia tentu tidak mau membangunkan Jaehun
"Kenapa sekarang? Besok pagi saja…" kilah Baekhyun mencoba menghentikan Sehun
"Tidak Baek… bagaimanapun juga, hak asuh si kembar adalah milik Luhan. Aku sama sekali tidak membuat kesepakatan apapun untuk membawa Jaehun hari ini. Jadi dari segi hukum, aku akan melanggar keputusan hak asuh anak itu jika membiarkan Jaehun disini sampai besok pagi"
"Tapi kan kau Ayahnya… kau berhak membawa Jaehun bahkan sampai besok, sampai lusa, minggu depan atau selamanya"
"Perjanjian tentang hak asuh anak tidak semudah itu Byun Baek… apalagi aku yang menceraikan Luhan tanpa sedikitpun meminta Jaehun dan Jaehan darinya, yah… itu adalah salah satu kesalahan terbesarku"
Sejenak hening hingga akhirnya Sehun tersenyum, senyum yang Baekhyun yakin adalah senyum terpaksa. Baekhyun bukanlah orang sembarangan yang tidak mengenal bagaimana seorang Oh Sehun. Justru Byun Baekhyun adalah salah satu orang yang benar – benar tau bagaimana Oh Sehun. Dia sangat mengenal seorang Oh Sehun.
.
.
.
"Eomma… ini sudah jam 10… ayo kita cari Jaehun….-ie hyung"
Rengek Jaehan yang masih sempat lupa menambahkan embel – embel 'hyung' saat menyebut saudara kembarnya itu.
"Apa sebaiknya aku kesana untuk mencari Jaehun?"
Yifan yang saat itu masih ada di rumah Luhan mencoba menawarkan solusi. Luhan sendiri tak begitu menggubris solusi yang diberikan Yifan. Janda dua anak itu sedari tadi hanya diam, hingga wajah cantik yang biasanya bercahaya kini nampak muram dan kusam. Tentu saja, mantan istri Oh Sehun itu sedang memikirkan banyak hal di kepalanya hingga dia merasa kalau kapan saja kepalanya bisa meledak akibat terlalu berat berpikir.
"Lu…"
Yifan mengguncang lembut tubuh Luhan untuk menyadarkan wanita cantik itu dari lamunannya
"Ah…. Tidak… kau tidak perlu melakukan itu, Yifan… sebaiknya kau… pulang saja"
"Tapi Lu…"
"Tinggalkan aku sendiri!"
Luhan menaikkan nada bicaranya dan menatap tajam pada Yifan, Yifan yang mendapatkan perlakuan dingin dari Luhan hanya bisa memandang wanita yang dia cintai itu dengan tatapan menahan kesabaran. Dan tanpa banyak basa – basi lagi, Yifan langsung pamit pulang. Sebelum keluar rumah dia menyempatkan diri untuk mengecup puncak kepala Jaehan.
Ceklek
"Oh!"
"Ng?"
Baru saja Sehun akan menekan tombol interkom, tapi pintu pagar sudah lebih dulu terbuka. Yifan kaget melihat Sehun yang menggendong tubuh Jaehun di depan pintu rumah, sementara Sehun kaget melihat Yifan yang masih ada di rumah itu, jujur, Sehun mengira Yifan sudah pergi.
"Kau… akan mengembalikan Jaehun?" tanya Yifan yang agak canggung ditatap tajam oleh Sehun
"Mengembalikan?"
Sehun mencoba memperjelas maksud ucapan Yifan tentang 'mengembalikan Jaehun'.
"Aku hanya mengantar 'anakku' ke kamarnya" tegas Sehun dengan penekanan pada kata 'anakku' kemudian menerobos masuk ke dalam halaman rumah. Lagi – lagi tanpa peduli bagaimana air muka Yifan saat ini.
Yifan melihat punggung Sehun yang semakin masuk ke dalam rumah sambil menggendong Jaehun di tangannya. Entah apa yang dipikirkan dokter muda tampan itu sampai – sampai wajahnya harus berubah merah dan tangannya mengepal erat.
.
"Eomma… ayo kita cari Jaehunie hyung sekarang eomma… ini sudah jam 10"
"Jaehan-ah… eomma mohon, masuklah ke kamar dan jangan membuat eomma tambah bingung"
"Tapi tadi paman dokter bilang hyung bersama appa… Jaehan juga mau ketemu appa.."
Luhan menatap tajam pada seorang bocah kecil dengan wajah mirip Oh Sehun itu merengek minta dipertemukan dengan kakak dan Ayahnya. Luhan marah, saat ini emosi wanita cantik itu sedang benar – benar tidak stabil. Belum lagi Luhan merasa tidak habis pikir kenapa dua putranya ini selalu saja meminta sang ayah, setiap mendengar nama ayah atau kata ayah disebutkan, mereka berdua pasti langsung girang dan menggebu ingin segera bertemu, bahkan hanya mendengar suara Oh Sehun dari seberang telpon saja terkadang bisa membuat mereka yang susah tidur jadi langsung tertidur paling lambat setelah 10 menit panggilan diputus.
"Eommaaaaa…. Jaehan mau ketemu appa! Jaehan mau ketemu hyung dan appa!"
"OH JAEHAN! DIAM DAN BERHENTI MERENGEK!"
Luhan berteriak kencang pada Jaehan yang kini menatap ibunya itu seperti melihat sosok menakutkan. Ini memang bukan kali pertama Luhan marah padanya, tapi… untuk diteriaki seperti itu sendirian, ini pertama kalinya bagi Jaehan. Biasanya selalu ada Jaehun yang dimarah bersamanya dan detik itu juga, air mata Jaehun langsung mengalir tanpa suara. Isak ketakutannya dia telan kuat – kuat agar tidak lolos jadi sebuah tangisan. Jaehan takut, itu akan semakin membuat sang ibu marah padanya. Namun dilain sisi, kepala kecil Jaehan masih memikirkan sebuah pertanyaan kenapa. Ya… Kenapa hari ini sang ibu begitu kacau dan sangat pemarah?
"Kenapa kau berteriak pada Jaehan?"
Suara berat memecahkan keheningan antara Luhan dan Jaehan. Baru saja Sehun masuk ke dalam rumah yang pintunya tak terkunci itu lalu suara Luhan yang membentak putra bungsu mereka sudah menggema di seisi ruang tamu.
"Appaaaaa….."
Jaehan yang melihat sosok sang ayah berdiri di lorong langsung berteriak dan berlari menuju ayahnya. Jaehan tak bisa meminta dipeluk atau digendong oleh sang ayah karena kedua mata sipitnya melihat jelas sang kakak ada di gendongan ayahnya. Jaehan, anak itu langsung memeluk kaki jenjang Sehun yang terbalut celana kain warna putih dan menenggelamkan wajahnya ke paha sang ayah.
Luhan tercekat. Mata Sehun menatap Luhan lurus dengan tatapan marah dan kecewa sekaligus. Rahang tegas Sehun menguat, kedua alis tebalnya tertaut dan napasnya naik turun cukup berat karena menahan amarahnya. Jari – jari Luhan mulai dingin dan tubuhnya gemetar. Ibu dua anak itu berusaha menyembunyikan ketakutannya dibalik wajah dan tatapan mata egoisnya pada sang mantan suami.
Cukup lama mereka terdiam, Luhan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sehun. Mereka berdua hanya saling tatap dalam diam dan tarikan napas menahan amarah. Yang terdengar diantara perang dingin itu adalah isakan tubuh mungil seorang bocah kecil yang kini masih bersembunyi di paha ayahnya.
Sehun segera berjongkok, mengusap wajah basah berkeringat Jaehan dengan kedua tangan lebarnya yang bebas. "Jangan menangis sayang…" ucap Sehun dengan suara tenangnya. Wajah kakunya berubah luluh begitu dua mata basah Jaehan menatapnya penuh pengaduan. Sehun mengerti, bungsunya itu pasti ketakutan dimarahi oleh ibu mereka. Dan keputusan Sehun sudah bulat, si kembar perlu tidur, biar urusannya dengan Luhan dia urus belakangan.
.
1 jam sudah berlalu dari insiden perang dingin itu. Jaehun dan Jaehan telah lelap tertidur sementara Luhan, masih dengan tampang kusutnya duduk di salah satu kursi meja makan dengan sebuah kantung kompres berisi es di tangannya.
Ceklek
Suara pintu kamar si kembar yang baru saja tertutup membuat Luhan terbangun dari lamunannya.
"HunHan sudah tidur…" ujar Sehun sambil tersenyum manis dan tenang. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.
Luhan menatap senyum Sehun dengan tatapan datar, entah apa yang dipikirkan wanita cantik itu, yang pasti wajah yang sangat Sehun rindukan itu masih tampak kusut. Tak lama kemudian Luhan berdiri dari duduknya, kaki kecilnya melangkah tanpa suara dan mendekat ke tempat Sehun berdiri saat ini.
GREB
Dan wanita itu akhirnya memeluk erat tubuh sang mantan suami, menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Sehun yang Luhan akui kini jadi lebih kekar dan padat daripada saat terakhir Luhan memeluk mantan suaminya itu.
Nyaman. Sangat nyaman, tenang dan hangat.
Itulah yang Luhan rasakan saat ini, saat kedua tangannya melingkar di pinggang Sehun dan pipinya menempel tepat di dada Sehun, telinganya pun kini bisa mendengar degupan jantung Sehun. Degupan jantung itu terdengar sedikit berbeda. Jika dulu, ketika Luhan memeluk Sehun, detak jantung pria tampan bermarga Oh itu terasa lebih tenang dan teratur. Namun sekarang, irama degupan jantung Sehun terasa berbeda, rasanya lebih cepat dan tak beraturan.
Terang saja. Karena saat ini, pria yang setahun lebih muda daripada Luhan itu sedang gugup. Kegugupan yang sama seperti saat pertama dia mencoba bicara pada Luhan untuk pertama kalinya, dua belas tahun yang lalu.
Tak sempat terlalu lama terlena dalam kegugupannya, Sehun mendengar sebuah isakan kecil, bahu sempit Luhan pun bergetar diikuti pelukan tangan Luhan yang semakin erat dan dadanya terasa basah.
Luhan menangis. Sambil memeluknya.
Dan entah kenapa, daripada rasa bersalah atau melanjutkan amarahnya barusan. Sehun malah merasa, bahagia. Bahagia karena Luhan kini sedang menangis dalam pelukannya. Katakanlah Sehun gila atau bodoh, tapi entahalah, rasa bahagia itu muncul dengan sendirinya dalam hati Sehun.
Sehun segera mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Luhan lalu ikut membenamkan kepalanya di pucuk kepala Luhan. Bukannya mereda, tangis Luhan malah semakin pecah dan itu membuat Sehun tersenyum lalu,
CHUP
Sehun mengecup pucuk kepala Luhan dengan begitu lembut dan tenang, kedua tangannya pun mulai menepuk pelan bahu sempit Luhan.
Tebakan Sehun benar. Jika model menangis Luhan sudah begini, itu artinya dia merasa bersalah. Terlebih kepadanya.
"Kenapa menangis?"
Tanya Sehun setelah puas menikmati pelukan sang mantan istri. Posisi mereka masih saling memeluk, namun kini tangan Sehun sudah mengusap belakang kepala Luhan dengan usapan penuh kasih sayang. Yang tentunya tulus dari dalam hatinya.
Luhan mengelengkan kepalanya di dada Sehun, itu membuat Sehun merasa sedikit geli ketika hidung mungil Luhan menggesek dadanya. Namun daripada memikirkan 'hal lain', menurut Sehun ada masalah yang masih lebih penting untuk diselesaikan bersama Luhan, sang mantan istri yang masih sangat dia cintai itu.
"Jangan menangis… aku tau kau tidak akan melakukan ini semua jika tidak ada sebabnya" ucap Sehun masih dengan nada menenangkan yang candu bagi telinga Luhan. Berat, dalam dan penuh dengan aura kelaki – lakian, itulah suara Sehun di telinga Luhan saat ini.
"Maafkan aku, Oh Sehun"
Luhan meminta maaf. Sehun tersenyum tipis lalu mengeratkan pelukannya sendiri di tubuh sang mantan istri.
"Kenapa kau marah?" tanya Sehun tanpa melepaskan pelukannya dari Luhan, begitu pula Luhan yang tampaknya masih sangat nyaman berada dalam posisi saling memeluk itu.
"Aku tidak marah…"
"Lalu kenapa kau begini?"
Sehun sedikit menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri, bermaksud untuk membuat suasana jadi lebih santai dan rileks, berharap dengan suasana seperti itu Luhan mau lebih terbuka dan berbicara padanya. Seandainya … seandainya saja 5 tahun yang lalu, seorang Oh Sehun punya sikap setenang dan selembut ini, mungkin saat ini mereka masih saling memeluk dalam status suami dan istri.
"Aku… tidak tau…" ucap Luhan di lewat bibir tipisnya, namun itu sangat berbeda dengan apa yang hatinya ucapkan. Dalam hati, wanita bermata rusa itu berkata, "aku cemburu…"
"Jangan begini, Lu… jika kau ada masalah denganku, bicarakan dengan baik… jangan kau bilang tidak tau padahal sebenarnya kau tau apa masalahnya"
Sehun masih terus mencoba membuka hati Luhan untuk bicara, entah kenapa, wanita memang seperti itu atau hanya Luhan yang begitu. Tapi tak apa, selama itu Luhan, Sehun tak akan keberatan untuk membujuk. Ya… Sehun di usia ke 25 ini memang bisa berpikir lebih dewasa dan rasional, terlebih lagi pria itu kini bisa mengalahkan egonya untuk membujuk Luhan. Itu adalah hal yang tak pernah Sehun lakukan dimasa lalu.
"Ya… aku marah…" ujar Luhan akhirnya.
Sehun tersenyum tipis kemudian melepaskan pelukan mereka, kedua tangan kekarnya beralih dari bahu ke pipi Luhan. Menakupnya dengan lembut bersamaan dengan mata tajamnya yang menatap Luhan dengan penuh ketenangan. Luhan sendiri merasa Sehun yang ada dihadapannya ini bukanlah Sehun yang biasa dia kenal. Biasanya, jika Luhan sudah bersikap diluar kewajaran seperti tadi, Sehun pasti akan ikut marah dan mereka berakhir dengan perang mulut yang tak ada hentinya hingga besok, lusa bahkan berhari – hari.
"Kenapa kau marah?... Katakan padaku" Sehun masih setia dengan metode kelembutannya dalam membujuk Luhan
"Aku marah karena… kau… pindah rumah tapi tak memberi tahuku…" / "SIAPA BYUN BAEKHYUN?!"
Lagi, bibir Luhan dan hatinya berucap hal yang berbeda. Namun tak apa, daripada tidak sama sekali, lebih baik sesuatu dikatakan bukan?
"Aku memberitahumu, Lu…" Sehun menegaskan suaranya masih dengan cara lembut, bahkan beberapa kali membuat Luhan berkedip lucu karena terpesona dengan kelembutan Sehun saat ini. Pantas jika si kembar merasa candu dengan dengan ayah mereka. Jika seorang Oh Sehun seperti ini, jangankan si kembar, Luhan pun bisa – bisa kembali merasa ingin memiliki dan dimiliki oleh Sehun.
"Aku mengirimm pesan ke nomormu sehari setelah aku membayar lunas rumah sebelah dan membeli ponsel baru… ponsel lamaku hilang"
"Aku tidak mendapatkan pesan apapun darimu!"
Luhan meninggikan nadanya karena merasa tidak bersalah, bukannya ikut berteriak seperti dulu, Sehun malah tetap tenang lalu menurunkan kedua tangannya dari pipi Luhan dan mengambil sebuah benda persegi dengan ukuran 7 inch dari dalam saku belakang celananya. Beberapa saat Sehun mencari sesuatu dalam ponsel itu, dan setelah mendapatkannya, Sehun langsung memperlihatkannya pada Luhan. Sebuah pesan yang Sehun kirim untuk sang mantan istri tercinta, 3 hari yang lalu.
"Tapi… aku sama sekali tidak mendapatkan pesan apapun darimu" ujar Luhan kemudian menuju kembali ke meja makan dan mengambil ponsel yang dia letakkan disamping kantong kompres diatas meja makan.
"Lihat… tak ada satupun pesan darimu" Luhan juga menyodorkan ponselnya, memberi bukti bahwa dirinya memang tidak bersalah
"Tapi status pengirimannya sampai dan… kau membacanya" Sehun menekankan lagi, benar saja, tanda 'read' jelas terbaca disana.
"Aneh…" gumam Luhan menatap ponselnya
"Mmm… memang aneh…" jawab Sehun kembali dengan senyum manisnya namun…
"akh!"
"Kenapa?"
"Ouh… pipiku rasanya kebas…. Ah…"
Sehun baru ingat ketika Luhan mengubah air mukanya dari kaget menjadi khawatir, tentu saja, Luhan tentu masih ingat darimana memar di pipi si tampan Oh Sehun itu berasal. Dari tangannya, tentu saja.
"Duduklah, biar aku kompres pipimu"
Tanpa basa – basi dan membantah, Sehun langsung duduk di kursi sebelah Luhan dan menerima kompresan dingin dari tangan lembut mantan istrinya itu.
"Maaf" ucap Luhan lagi.
"Lupakanlah… aku tau kau tidak mau membahasnya lagi kan?"
Sehun benar, Luhan memang tidak mau membahasnya lagi tapi pertanyaan – pertanyaan di kepala Luhan sendiri masih terus terngiang. Terutama satu pertanyaan tentang "siapa Byun Baekhyun".
"Aku lapar"
Itu yang Sehun katakan setelah cukup lama situasi jadi hening dan canggung.
"Ng… mau kubuatkan sesuatu?"
"Kau punya apa di dalam kulkas?"
Pertanyaan Sehun berhasil membuat pipi Luhan memerah dan senyum di wajah pria tampan itu kian melebar, lupakan pipinya yang terasa nyeri, hal seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan bagi Sehun.
"Soal itu…."
"Kenapa kau keterlaluan sekali Lu…? Kau ini ibu tunggal dari anak – anak berusia 7 tahun. Mereka sedang kuat – kuatnya makan dan butuh gizi yang sangat banyak untuk pertumbuhan mereka, belum lagi Jaehun yang perlu perhatian khusus dari segi makanannya, seharusnya kau bisa lebih awas dan penuh persiapan… apa yang aku temukan di rumah ini beberapa hari yang lalu benar – benar…"
CHUP
Luhan mencium pipi kiri Sehun yang terbebas dari kompresan es, dan itu sukses membungkam bibir tipis yang terus mengoceh dan kedua mata tajamnya membulat.
"Terimakasih karena sudah memperhatikan kami, appa…"
Apa kata Luhan tadi? 'terimakasih Appa?'. Nada manis Luhan barusan bahkan membuat Sehun ingin sekali berlari keliling kompleks perumahan dan berteriak "MANSEEEE" agar seluruh penghuni kompleks perumahan itu tau betapa bahagianya dia saat ini. Tapi… itu tidak mungkin kan? Ini sudah tengah malam. Sehun masih terlalu waras untuk dicap sebagai orang gila.
"Seharusnya jika kau mau membuatku berhenti mengoceh kau mencium bibirku, bukan pipiku… aku mengoceh dengan bibirku kan bukan dengan pi…"
CHUP
Lagi, ciuman singkat didaratkan bibir dengan rasa ceri itu tepat di bibir Sehun yang baru saja akan mengoceh lagi. Kali ini tidak hanya pipi Luhan yang memerah, namun pipi Sehun juga ikut merah, bahkan yang sedang dia kompres saat ini.
"Sekali lagi terimakasih… oh ya, kau mau makan apa?"
"Aku rindu… nasi goreng Beijing buatanmu" ujar Sehun polos
"Okay, akan aku buatkan."
Luhan dengan cekatan mengambil bahan – bahan dari dalam kulkasnya, tangan lentiknya yang lembut terlihat professional dalam hal meracik bahan – bahan makanan menjadi sesuatu yang lezat dan tidak bisa dilewatkan.
"Aku masih penasaran…"
Sehun membuka percakapan ketika Luhan mulai memotong sosis menjadi beberapa bagian berbentuk dadu
"Tentang…?"
"Kenapa dapurmu bisa seberantakan itu? Apa kau tidak takut anak – anak jadi sakit karena itu?"
"Aku sibuk Sehun-ah… aku tidak mampu mengurus anak – anak sendirian sementara tugasku di Butik sangat banyak"
"Tapi tetap saja, sesibuk apapun kau tidak boleh lalai bahkan untuk hal sekecil itu. Mereka hanya tinggal denganmu disini… belum lagi aku menemukan kotak susu basi, bagaimana jika HunHan tidak sengaja menemukanya lalu meminum itu dan sakit perut?"
"Mereka tidak pernah repot mau masuk ke dalam dapur, anakmu tidak suka dapur Oh Sehun…"
"Itu karena dapur eomma mereka berantakan!"
Luhan terdiam, Sehun memang memprotes apa yang terjadi dengan nada imut, tapi jujur itu mengganggu Luhan. Mengganggu dengan mengulik rasa bersalah dalam diri Luhan.
"Sudahlah… jangan bahas ini lagi…" ujar Luhan yang tak mau memperpanjang masalah
"Tidak! Aku tidak mau diam saja kali ini. Untuk urusan lain, jika kau salah dan tak punya alasan untuk sebuah pembenaran dan kau bilang untuk jangan lagi membahasnya… aku masih bisa menoleransi itu. Tapi ini, ini tentang HunHan, ini adalah urusan kesehatan dan masa depan mereka. Aku tidak mau hanya diam lalu melupakannya. Kita harus membahas ini."
Nada imut Sehun berubah serius ketika pembahasan tentang anak – anak mulai terucap. Luhan sendiri sudah mulai emosi tapi entah kenapa, cara Sehun bicara padanya kali ini terasa berbeda. Sehun memang secerewet itu jika sedang marah. Berbeda dengan Luhan yang diam tapi mendendam. Namun kali ini, meskipun Sehun masih sama cerewetnya, nada tenang dan kadang imut itu membuat Luhan merasa nyaman melanjutkan pembicaraan.
"Baiklah… kau mau bahas darimana?"
"Makanan. Apa yang selama ini anak – anakku makan saat di rumah?" tanya Sehun dengan tegas.
Luhan yang mulai memasukkan bumbu ke dalam penggorengan terlihat berpikir sejenak kemudian menjawab dengan santai, "Pagi… mereka sarapan susu dan sereal, siang mereka makan siang di sekolah dan malam… kami makan di rumah tapi kadang juga kami makan di luar. Menu makanan sehat dengan bahan organik."
Sehun menganggukkan kepalanya sebentar lalu berkata, "pantas saja anank – anakku kurus begitu… Lu… maaf jika kau mengkoreksimu,"
Sehun menjeda kalimatnya lalu melepas kompres di pipinya dan menegakkan tubuhnya karena serius dan berkata, "Aku tidak setuju jika HunHan memakan makanan yang kurang gizi seperti itu. Okay… sereal memang bergizi apalagi jika ditambah susu… tapi! HunHan bukan keturunan orang barat dengan budaya gandum Lu! Kau orang Cina dan aku orang Korea asli! Kita makan nasi. Sarapan adalah hal terpenting untuk memulai hari. Apalagi mereka masih butuh gizi seimbang dalam masa pertumbuhan mereka. Sarapan mereka seharusnya sarapan segar. Aku tidak keberatan jika kau menyiapkan roti atau pancake atau wafel dan semacamnya untuk sarapan, tapi aku harap mereka bisa sarapan makanan yang fresh! Bukan makanan awetan atau sereal instan begitu."
Sehun yang cerewetnya kembali kumat menjeda kalimatnya lalu berdeham untuk melanjutkan lagi kata – katanya.
"Makan siang, itu memang sudah diatur oleh pihak sekolah. Kita bayar mahal untuk itu dan semuanya baik. Tapi untuk makan malam, Lu… bagaimana bisa kau mengajak mereka makan di luar? Makanan di luar walaupun bahannya organik tapi apa yang dimasukkan koki – koki itu kedalam makanan, kita semua tidak tau kan. Aku bukannya curiga, tapi ada baiknya kita lebih hati – hati. HunHan kita butuh perhatian yang lebih dari itu Lu…"
Sementara Sehun sibuk dengan celotehannya tentang apa yang si kembar makan selama ini, disisi lain Luhan malah tersenyum sendiri. Ini menyenangkan baginya. Entah kenapa mendengar semua kalimat Sehun tentang betapa khawatirnya pria tampan itu pada anak – anak mereka membuat Luhan merasa sangat bahagia dan diperhatikan. Jujur saja, Luhan merindukan Sehun. Merindukan pria itu bahkan sampai ke hal buruk yang tak dia sukai dulu, cerewet adalah salah satunya. Namun jika dikaji ulang, sebenarnya selama ini Sehun cerewet bukanlah tanpa alasan. Sehun begitu karena dia menginginkan hal yang baik.
"aaaa…."
Luhan mengarahkan sesedok nasi goreng ke depan bibir Sehun setelah beberapa kali meniupnya. Refleks Sehun langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan itu.
"Ada yang kurang?" tanya Luhan kemudian
"tidak… ini pas!" ujar Sehun seraya mengacungkan jempolnya.
Dua nasi goreng Beijing terhidang di hadapan Sehun, lengkap dengan Kimchi dan dua gelas sari buah jeruk. Itu adalah paket hidangan favorit Sehun selama ini. Dan belum berubah. Tapi kenapa semua ada dua?
"Kau mau ikut makan?" Sehun bertanya dengan polosnya
"Ya," jawab Luhan singkat lalu memberikan sendok dan sumpit pada Sehun
"Sejak kapan kau mau makan berat malam – malam, Lu?" Sehun kembali bertanya dan kini menatap Luhan dengan tatapan horor, bagaimana tidak, selain nasi goreng, Luhan juga mengambil setoples keripik kentang dan saus mayo.
"Entahlah… akhir – akhir ini nafsu makanku berantakan, setiap menit aku pasti merasa lapar dan bisa makan segalanya"
Sehun langsung mengecek ponselnya setelah mendengar jawaban Luhan, dan tanpa Luhan ketahui, mantan suaminya itu kini tengah tersenyum geli dan mengangguk lucu.
"Jadi… kenapa kau pindah ke sebelah rumah?"
Luhan membuka pertanyaan ketika setengah makanan di piring mereka mulai hilang.
"Karena aku tau kau membutuhkanku"
Uhuk… uhuk…
Luhan tersedak seketika setelah mendengar jawaban singkat Sehun.
"Ya… pelan – pelan makannya. Aku tau kau lapar, tapi pelan – pelan Lu…"
Sehun dengan sigap mengisi penuh gelas Luhan dengan air putih. Menurut Sehun itu lebih baik dari pada sari buah jeruk yang ada bulirnya. Setelah situasi kembali tenang, dan Sehun lihat Luhan sudah membaik, dia kemudian melanjutkan,
"Melihat rumahmu yang berantakan, tampangmu yang kusut tak beraturan dan HunHan yang selalu merindukan ayahnya… aku merasa perlu melakukan sesuatu. Kebetulan aku bertemu nyonya Jeon dan dia menawarkan rumahnya ke perusahaanku. Jadi… aku pikir akan lebih baik jika aku lebih dekat dengan mereka. Jadi aku bisa ada untuk HunHan lebih sering dan kita bisa berbagi tugas dalam menjaga mereka."
Luhan memang egois, begitulah dia, dia tidak peduli tentang alasan Sehun yang satu itu. Karena ada hal lain yang ingin sekali dia tanyakan namun… dia terlalu gengsi untuk bertanya terlebih dahulu. Entah memang semua perempuan tidak mau mendahului atau Luhan lah yang begitu.
"Kau… sudah bertemu dengan Baekhyun kan?"
Jantung Luhan rasanya copot ketika Sehun menyebut nama 'Baekhyun' dihadapannya. Lagi jari – jari Luhan terasa dingin dan badannya terasa lemas, nama Baekhyun seperti membawa pengaruh luar biasa bagi wanita cantik itu.
"Baek…hyun…?"
Luhan mengeja nama cantik itu seakan bertanya atau memastikan, padahal sebenarnya dia tidak sanggup menyebut nama seseorang yang sebenarnya dia tau itu.
"Ya… Baekhyun… Byun Baekhyun. Dia bilang dia sudah bertemu denganmu saat pindahan" ujar Sehun masih dengan raut wajah polos dan tak bersalahnya. Piring di hadapan Sehun sudah kosong, begitu juga dengan piring di hadapan Luhan. Namun daripada perut yang terasa penuh, hati Luhan malah terasa jauh lebih sesak.
"aaah… Baekhyun… Byun Baekhyun… ya, aku ingat… siapa dia?" tanya Luhan akhirnya
"Byun Baekhyun… Dia adalah calon istriku,"
BOOM!
Ada bom meledak di hati Luhan dan itu benar – benar berhasil meluluh lantakkan perasaannya. Sakit, itu yang Luhan rasakan saat ini. Luhan sama sekali tak pernah membayangkan dirinya akan mendengar Sehun menyebut nama lain sebagai calon istrinya. Terbayang lagi sosok wanita imut berambut panjang dengan poni menyamping yang dia temui beberapa hari lalu sebagai tetangga barunya. Wanita pemilik wajah ramah, senyum manis, eye smile yang lucu dan suara riang yang merdu itu adalah calon istri bagi sang mantan suami. Ya… perempuan memang suka membandingkan dirinya dengan orang lain, terlebih lagi jika itu menyangkut tentang sang mantan. Luhan merasa jatuh, karena dirinya saja pernah mengakui bahwa sosok Baekhyun adalah sosok yang menyenangkan.
Sehun terus memperhatikan perubahan ekspresi wajah Luhan dengan seksama. Luhan yang tadinya baik – baik saja dengan mood yang juga cukup baik kini berubah jadi murung dan kusut lagi. Sehun tau, ada efek yang besar dari kalimatnya itu bagi Luhan. Dan jujur saja, Sehun sebenarnya tidak ingin membicarakan ini sama sekali. Tapi, kenyataan tidak mungkin dielakkan. Kenyataannya memang Sehun dan Baekhyun akan segera menikah, 6 bulan lagi paling lambat. Dan… bukankah wajar jika seorang yang telah menduda selama 5 tahun memutuskan untuk menikah lagi? Bukankah Luhan dan Yifan juga merencanakan hal yang sama? Tapi kenapa Sehun malah merasa bersalah ketika dia melihat betapa terpukulnya Luhan saat ini?
"Ouh… Selamat…"
Ucap Luhan setelah cukup lama hening. Mata rusanya mulai berkaca – kaca dan nada suaranya bergetar. Sehun tau itu, semakin Luhan menyembunyikan kecemburuannya, semakin Sehun tau itu.
"Mmm… thanks"
"Ahahahaha… wuah… aku tidak menyangka kita berdua akan sampai di titik ini… hahahaha"
Tawa renyah Luhan bukannya membuat suasana kembali nyaman, tapi malah menggores luka di hati Sehun. Tawa renyah dari seorang wanita cemburu yang menahan tangis. Kenapa tidak menangis saja? Kenapa harus pura – pura tertawa? Sehun ingin sekali bertanya seperti itu, tapi… mungkin memang semua wanita seperti itu. Ketika mereka merasa sakit, mereka akan berpura – pura baik – baik saja, agar tampak kuat dan hebat.
"Oh ya… bagaimana kau bisa bertemu dengan Baekhyun? Apa dia adalah teman kerjamu di kantor?"
Luhan kembali mencoba menjalin percakapan, sebenarnya Sehun sudah muak dengan senyum kepura – puraan Luhan. Lebih baik Sehun melihat Luhan menangis dan bilang 'jangan menikah dengan Baekhyun!' , daripada seperti ini. Jika saja Luhan mengatakan itu, bukannya tidak mungkin Sehun akan membatalkan pernikahannya dengan Baekhyun.
"Bukan… dia bukan teman sekantorku, dia adalah sahabatku… kami berdua mengenal sejak kami masih bayi. Kami tumbuh bersama, rumah kami saling berhadapan dan kami juga pergi ke sekolah yang sama. Kami bersahabat begitu baik sampai kami berusia 11 tahun, waktu itu Baekhyun harus ikut pindah dengan kakeknya ke Jepang karena masalah keluarga. Dan… dua tahun yang lalu kami bertemu lagi saat aku ada proyek di salah satu rumah sakit di Osaka. Waktu itu kakek Baekhyun sudah sakit parah dan dirawat cukup lama."
Sehun menggantung kalimatnya, kedua mata tajamnya menatap Luhan yang kini menatap lurus piring kosong dihadapannya dengan tatapan mengambang. Sehun tau, Luhan sedang terguncang. Tapi biar saja, bukankah tau lebih baik dariapada tidak tau?
"Kakek Baekhyun sudah tidak bisa diselamatkan, beliau hanya bergantung pada alat – alat medis. Tak ada harapan untuk kakek Baekhyun bertahan lebih lama. Jika kakek Baekhyun meninggal, maka Baekhyun akan hidup sebatang kara. Dia tidak punya siapapun untuk menemaninya. Kakek Baekhyun tau jika kami berdua bersahabat sangat baik ketika kami masih anak – anak dulu, beliau akhirnya mempercayakan Baekhyun kepadaku, beliau percaya bahwa aku bisa menjaga cucunya dengan baik, menggantikannya yang sudah harus pergi."
Telinga Luhan masih menyimak setiap kata yang Sehun ucapkan dengan baik, tapi sesuatu di dalam dadanya yang terasa amat sangat tak nyaman itu terus memberontak. Jujur saja, baru kali ini Luhan merasakan takut. Takut Sehun akhirnya benar – benar berpaling darinya.
"Setelah berdiskusi cukup lama, aku dan Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menikah. Aku mengajak Baekhyun dan kakeknya untuk kembali ke Korea. Sekarang kakek Baekhyun di rawat di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat calon suamimu bekerja…"
"Apa kau mencintai Baekhyun?"
Luhan memotong pembicaraan Sehun dengan pertanyaan yang benar – benar straight to the point. Tapi kedua mata rusanya masih tetap tak memandang lawan bicaranya.
"Tidak"
Luhan langsung mengangkat kepalanya dan kedua mata mereka bertemu. Tidak. Sehun menjawab tidak untuk pertanyaan Luhan barusan. Kening Luhan mengerut, wanita itu tidak mengerti dengan jawaban Sehun, dia butuh penjelasan.
"Aku tidak mencintai Baekhyun." tegas Sehun sekali lagi
"Lalu kenapa kau menikah dengannya jika kau sendiri tidak mencintainya? Untuk apa menikah tanpa cinta?" protes Luhan yang ajaibnya tanpa menaikan nada bicaranya
"Dulu aku menikah denganmu karena aku mencintaimu dan janin yang ada di perutmu. Tapi akhirnya kita berpisah kan?..."
Luhan tertohok dengan jawaban Sehun, bibirnya mengatup rapat sementara hatinya tersayat. Wanita cantik itu sama sekali tak berpikiran jika Sehun akan menjawab seperti itu. Sehun yang merasa situasi masih kondusif kembali melanjutkan kalimatnya,
"Sebuah pernikahan tidak membutuhkan cinta, yang pernikahan butuhkan adalah sebuah komitmen yang kuat. Itu yang aku sadari setelah sekian lama. Dulu aku memang sangat mencintaimu Lu.., tapi sayangnya waktu itu aku masih terlalu bodoh dan naif untuk tau apa artinya komitmen"
"Lupakanlah yang sudah terjadi, tapi bagaimana pun… aku masih tidak setuju jika pernikahan tidak butuh cinta. Baekhyun adalah seorang perempuan, bagi perempuan, cinta sangatlah penting, bagaimana bisa kau menikahi orang yang tidak kau cintai?"
"Itu karena aku tidak bisa menikahi lagi orang yang aku cintai. Atau lebih tepatnya orang yang aku cintai sudah mencintai orang lain dan mereka juga akan segera menikah"
Lagi – lagi Luhan tertusuk dengan jawaban Sehun. Semakin Sehun bicara, itu malah membuat Luhan semakin sakit dan menyesal, dan bahkan… wanita cantik itu sekarang merasa tak mau kehilangan mantan suaminya.
"Jujur saja… aku masih mencintaimu Lu, aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku tidak punya hak untuk memaksakan perasaanku itu padamu. Apalagi sudah ada Yifan sekarang, sudah ada yang lebih baik dari aku yang datang untuk mencintaimu dan dicintai olehmu. Aku… aku juga tidak mungkin terus menunggumu dan berharap padamu… bahkan sebentar lagi kau juga akan menjadi istri dari orang lain. Aku tidak bisa terus menerus jadi orang ketiga dalam hubungan kalian kan? Untuk itulah lebih baik aku mundur teratur dan membuka lembaran baru dengan Baekhyun. Dan Baekhyun… dia sendiri tau jika aku masih sangat mencintaimu, tapi gadis baik hati itu sama sekali tidak masalah. Kau juga tak perlu khawatir, Baekhyun adalah gadis yang sangat baik. Aku yakin dia bisa menerima HunHan sama baiknya seperti Yifan menerima mereka, begitu juga HunHan, HunHan pasti menyukai Baekhyun."
Luhan sama sekali tak bergeming. Wanita cantik itu masih setia menatap gelas kosong dihadapannya. Sehun pun sama, suasana canggung ini begitu tidak menyenangkan. Entah kenapa memberi tahu Luhan tentang rencana pernikahannya dengan Baekhyun rasanya seperti menusuk dadanya sendiri dengan ribuan jarum tajam.
Sehun masih sangat mencintai Luhan, itu faktanya. Sehun ingin kembali pada Luhan, itu faktanya. Sehun berharap bisa kembali menjadi keluarga yang utuh bersama Luhan dan Hunhan, itu faktanya. Namun… kenyataan di hadapan mereka berdua amatlah berbeda. Harapan Sehun untuk bisa kembali dengan Luhan perlahan mulai runtuh ketika Luhan mengenalkan Yifan sebagai kekasihnya dua tahun yang lalu. Dan hari ini, ketika Sehun menyatakan bahwa Byun Baekhyun adalah calon istrinya membuat harapan itu makin hancur. Tak ada jalan kembali.
Drrrt….
Ponsel Sehun bergetar, dengan gerakan lambat Sehun membuka sebuah pesan yang berasal dari Baekhyun.
From: Byun Baek
Apa semuanya baik – baik saja?
Jaehun tidak sakit lagi kan?
Sehun menghela napasnya cukup panjang setelah membaca pesan itu. Baekhyun mengkhawatirkan putranya. Satu sisi hati Sehun merasa bahwa keputusan dia untuk segera menikahi Baekhyun adalah keputusan yang benar, namun disisi lainnya, dia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa dia masih sangat mencintai Luhan.
"Aku harus pulang Lu, ini sudah jam 1 pagi"
Sehun membuka percakapan setelah dingin dan diam yang sangat lama diantara mereka. Luhan pun hanya mengangguk dan memberikan Sehun senyum tipis sebagai jawaban, entah apa maksudnya.
"Baiklah… dan… terima kasih…"
"Jangan berterimakasih, apa yang aku lakukan adalah kewajibanku untuk HunHan,"
"Bukan… bukan itu…"
Sehun mengerutkan keningnya, tak mengerti pada apa yang Luhan maskud.
"Terima kasih karena kau masih mencintaiku" ucap Luhan diikuti seulas senyum lembut yang dengan susah payah dia ikhlaskan
CHUP
Sehun mengecup bibir Luhan cukup lama, Luhan sendiri sama sekali tak melawan menerima perlakuan itu dari Sehun. Biarlah piring dan gelas kosong di meja makan yang jadi saksi atas apa yang mereka lakukan malam ini.
"Aku mencintaimu! Sampai jumpa besok!"
"Ya… sampai jumpa besok, mau ku antar sampai di depan?"
"Tidak perlu… kau kunci saja pintunya.. selamat beristirahat Lu…"
"Ya.. kau juga Hun-ah.."
.
Sehun berjalan keluar dari pekarangan rumah Luhan, pria tampan itu menatap sebentar rumah mungil yang ditempati oleh istri dan kedua anaknya. Ketika lampu sudah dimatikan, Sehun baru beranjak dan masuk ke rumahnya sendiri.
Dari kejauhan, di ujung jalan yang cukup gelap. Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir dengan seseorang di dalamnya. Seseorang yang menatap kepergian Sehun dari rumah itu dengan penuh kebencian.
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali pada mereka, Oh Sehun… tidak akan"
Ucap lelaki dalam mobil yang tak lain adalah Yifan. Dia belum pulang, dia menunggu hingga Sehun pergi dari rumah itu, selama 3 jam, di dalam mobil.
Jemari panjang Yifan mengambil sebuah benda berbentuk persegi dari dalam laci dashboard mobilnya. Yifan menghidupkan ponsel berwarna hitam itu dan terlihat foto seorang pria dengan dua bocah lucu di gendongannya sebagai wallpaper. Itu adalah foto HunHan kecil bersama ayah mereka, Oh Sehun. Dan yah… ponsel yang kini ada di tangan Yifan adalah ponsel milik Sehun yang hilang beberapa hari yang lalu.
"Kau tidak pantas memiliki mereka" ucap Yifan pada wajah tersenyum Sehun di foto itu
"Mereka adalah milikku, Luhan adalah milikku"
Yifan melempar ponselnya ke belakang mobil, persetan ponsel itu mau jatuh di sudut mobil yang mana. Dia kemudian menarik tuas rem tangan mobilnya, memasukan persneleng dan menginjak pedal gas untuk meninggalkan perumahan dimana Sehun dan Luhan kini bertetangga.
.
.
.
Hari baru telah datang, matahari belum sepenuhnya muncul di langit kota Seoul namun sesosok wanita imut dengan make up natural di wajahnya sudah menyibukkan diri di sebuah dapur mungil di rumahnya. Bibir tipisnya yang berwarna pink segar menyenandungkan irama lagu favoritnya.
SREK
Suara penanda roti yang telah matang mengalihkan perhatian wanita bereyeliner tipis itu dari teflon dan telur di atasnya pada pemanggang. Jemari lentiknya menata roti, sosis, telur dan salad di atas sebuah piring lebar, disandingkan dengan segelas susu dan semangkok potongan buah segar. Ada dua porsi diatas meja makan dengan taplak motif kotak – kotak berwarna biru muda itu.
TING TONG!
Bunyi bel dari interkom yang terpasang membuat fokus wanita imut itu kembali teralih. Sesegera mungkin gadis itu melepas celemeknya dan menuju kearah interkom.
"Sehun-ah… ini aku! Buka pintunya!"
Sebuah suara berat dan menggelegar masuk dari dalam interkom yang membuat wanita cantik di hadapannya cukup terkejut. Tanpa membalas akhirnya satu telunjuk lentik itu menekan tombol buka.
Ceklek
"Yah Oh Sehun! Bagaimana bisa kau melupakan berkas… OH ASTAGA! KAU SIAPA?!"
Begitu tangan lentik Baekhyun membuka pintu depan rumahnya, seorang pria tampan dengan stelan baju kerja lengkap langsung mengoceh tanpa melihat siapa yang membuka pintu. Namun begitu sadar yang membuka pintu bukanlah Sehun, mata bundar pira tampan berdaun telinga lebar itu langsung membulat.
"Ah, Hai… aku… Byun Baekhyun… aku calon istrinya Sehun" ucap Baekhyun dengan suara lembut dan senyum manisnya
"Jadi kau yang akan menikah dengan Sehun… kalau begitu senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi, aku Park Chanyeol, rekan kerja Sehun di kantor. Jika Sehun arsiteknya maka aku adalah marketingnya… akulah orang yang selalu menjual Sehun.. aahahaha…"
Pria tampan bermarga Park itu dengan akrab menyapa calon istri dari rekan kerjanya. Baekhyun pun menimpali pria tinggi menjulang itu dengan sedikit mendongakkan kepala karena jujur saja, tinggi Baekhyun tidak seberapa jika dibandingkan dengan Chanyeol.
"Apa kau mau ikut sarapan bersama kami, Chanyeol-ssi?"
"Ah? Sarapan? Bolehkah? Apa tidak mengganggu?"
"Tentu saja tidak Chanyeol-ssi, semakin ramai suasananya akan semakin menyenangkan"
Baekhyun menggiring Chanyeol langsung ke meja makan yang sudah tertata dan mempersilahkan Chanyeol duduk di salah satu tempat yang sudah dia tata.
"Oh, Chanyeol-ah… kenapa bisa disini?" Sehun langsung menyapa Chanyeol sambil berjalan dari kamar menuju meja makan dengan memasang dasinya.
"Yak! Oh Sehun… Bagaimana bisa kau melupakan berkas rapat hari ini. Blue printmu juga ketinggalan, kepalamu ada dimana sih?"
Chanyeol langsung mengomel begitu Sehun masuk ke areal dapur.
"Ah benarkah? Aku kira semua berkas itu sudah aku taruh di mobil.. Thanks Chanyeol!" ujar Sehun lalu mengambil berkas dan Blue Print yang sudah Chanyeol siapkan.
"Sehun-ah… ayo sarapan dulu…" Baekhyun mengajak Sehun untuk duduk di meja makan
"Ng… Sorry Baek, aku sudah janji akan sarapan bersama dengan HunHan di rumah sebelah"
"HunHan? Rumah sebelah?"
Bukannya Baekhyun, yang kaget malah Chanyeol.
"Ya… Luhan dan HunHan tinggal di rumah sebelah" jawab Sehun enteng
"Kau gila? Kau akan tinggal dan membangun rumah tangga baru di sebelah rumah mantan istrimu?"
"Ehem… kau mau kopi atau teh Chanyeol-ssi?"
Chanyeol langsung menutup rapat bibirnya ketika Baekhyun datang, dia baru sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Pria tampan itu langsung merasa bersalah pada gadis manis di sebelahnya.
"Aku… Kopi…" jawab Chanyeol dengan senyum canggung, sementara Sehun juga menatap tak enak pada meja yang sudah rapi dengan sarapan yang Baekhyun buat.
"Kalau kau mau sarapan bersama HunHan lebih baik kau cepat kesana… aku yakin mereka pasti menunggumu" ujar Baekhyun dengan senyum santai
"Tapi… bagaimana denganmu?" tanya Sehun bingung
"Kebetulan Chanyeol-ssi mau ikut sarapan denganku… lumayankan aku bisa kenal dengan temanmu juga" ucap Baekhyun lalu mendekat kearah Sehun dan sedikit merapikan dasi calon suaminya itu
Di tempat duduknya Chanyeol malah merasa Canggung dan tidak enak pada Sehun dan Baekhyun, dia merasa seperti menjadi orang ketiga.
"Benarkah? Mmmm… kalau begitu… aku makanlah yang banyak Park Chanyeol, masakan Baekhyun sangat enak… aku pergi dulu… bye Baek"
"Bye Hunnah"
Sehun segera meninggalkan ruang makan, entah pria tampan itu memang bodoh atau tidak peka, seenaknya saja dia meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang baru saja saling berkenalan untuk sarapan bersama hanya berdua. Situasi sempat terasa canggung, namun senyum manis Baekhyun yang ramah dan Chanyeol yang memang punya bakat untuk jadi cepat akrab dengan orang lain membuat mereka berdua seakan sudah mengenal sejak lama.
.
Sehun melihat sebuah mobil yang dia tau itu bukanlah mobil Luhan terparkir santai di depan rumah mantan istrinya. Pintu pagar pun tak terkunci membuat Sehun bisa masuk tanpa harus menekan interkom, sama seperti pintu pagar, pintu depan rumah Luhan pun terbuka lebar. Dari luar, Sehun bisa mendengar tawa riang si kembar dan juga sebuah suara berat yang sudah tak asing bagi Sehun. Itu suara Yifan, kekasih Luhan.
"J!"
"Jambu!"
"Jeruk!"
"Yes! Paman dokter kalah lagi!"
"Hyung, ayo kita pukul paman dokter!
Di meja makan si kembar dan seseorang yang mereka panggil paman dokter itu sedang bermain tebak – tebakan buah. Permainan anak – anak yang seru, tak heran jika HunHan kecil terlihat bahagia ketika bermain bersama si paman dokter itu.
"Jaehun-ah… Jaehan-ah… jangan main – main di meja makan, ayo makan sarapan kalian dengan baik"
Luhan datang dengan semangkuk salad yang baru saja dia letakkan di meja makan, wanita cantik itu menginterupsi HunHan kecil dengan sedikit death glare.
"Biarkan saja Lu… makan sambil bermain kan lebih asik…" Yifan berkata dengan senyum imut lalu kembali melanjutkan permainannya dengan dua bocah tampan yang sudah siap dengan seragam lengkap mereka.
"Tapi Yifan-ah…"
"Iya eomma…makan sambil main itu seru!" ujar si bungsu Jaehan membantah perkataan Luhan dan membela pendapat Yifan.
Oh Sehun, pria tampan itu dengan nyali pengecutnya hanya bisa melihat adegan sebuah calon keluarga dengan berdiam diri di lorong ruang tamu. Kaki jenjangnya terlalu takut untuk mengambil langkah, hatinya juga terlalu lemah untuk berani masuk ke dalam situasi itu. Sehun, selalu hilang keberanian setiap kali melihat HunHan kecil tertawa bersama dengan Yifan. Suara – suara di dalam kepalanya terdengar mengejek dan meremehkan kredibilitasnya sebagai seorang ayah.
Namun, hati ayah mana yang bisa tenang dan biasa saja ketika melihat kedua putra kembarnya tertawa riang dan bahagia bersama calon ayah mereka yang baru? Hati pria mana yang bisa dengan lapangnya masuk ke tengah – tengah situasi intim antara seorang ibu yang mencoba mendekatkan kekasihnya pada si kembar?
Pria juga punya hati dan perasaan, pria juga bisa jadi lemah dan begitu pula dengan Oh Sehun. Pria itu selalu melabeli dirinya sendiri dengan sebutan pengecut.
Pengecut yang memilih untuk balik kanan dan meninggalkan rumah itu, meninggalkan kedua putra dan mantan istri yang masih sangat dia cintai bersama seseorang yang tak dia suka.
"Kau melihat apa Yifan-ah?" Luhan melihat arah pandang Yifan yang sedari mencuri lirik ke lorong ruang tamu
"Tidak… aku tidak melihat apapun… mmm… salad buatanmu enak Lu"
"Tentu saja enak! Masakan eomma kami adalah masakan paling enak sedunia!" Jaehan mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat untuk memuji masakan sang ibu
"Tapi eomma jarang masak, jadi kami juga jarang makan masakan eomma" Jaehun memprotes pada ibunya
"Ayo… cepat habiskan makanan kalian lalu setelah itu kalian berangkat ke sekolah bersama Paman Dokter" Luhan ingin menyudahi aksi protes sang anak namun ituasi jadi canggung lagi ketika Jaehan bertanya
"Appa mana?"
"Ap..pa?" Yifan bertanya dengan nada tidak yakin
"Ng… kemarin Jaehan tidur sama appa, sebelum tidur appa janji akan ikut sarapan dan antar kami ke sekolah" ucap bibir mungilnya
Jahun hanya terdiam, dia tau apa yang terjadi kemarin, tapi dari pada bertanya, anak itu lebih baik diam. Meskipun wajahnya mirip Luhan tapi Jaehun itu memiliki sifat seperti Sehun. Hanya saja… Jaehun memang tidak secerewet Sehun dalam hal protes memprotes, sifat itu nampaknya diwarisi oleh Jaehan.
.
.
.
"Jadi kau bekerja disini?"
Chanyeol baru saja memarkir mobilnya di halaman sebuah sekolah yang cukup ramai hari itu.
"Ya… aku adalah seorang guru sekolah dasar" Baekhyun tersenyum sambil melepas seat beltnya
"Pantas saja wajahmu terlihat imut, setiap hari kau bergaul dengan anak – anak yang lucu… pasti menyenangkan ya…?" kedua mata bundar Park Chanyeol langsung bersinar melihat anak – anak sekolah dasar itu, senyumnya pun merekah seperti seorang anak kecil yang diberi permen kapas.
"Terima kasih sudah mau mengantarku, aku belum begitu hapal jalan – jalan di Seoul. Sekali lagi maaf merepotkan" Baekhyun membungkuk sopan dan itu membuat Chanyeol jadi merasa tidak enak
"Aniyo… aku tidak merasa keberatan mengantarmu, lagi pula kau sebentar lagi akan jadi istrinya Sehun, itu artinya kita akan terus bersahabat selamanya. Dan… boleh aku tanya sesuatu?"
Baru saja Baekhyun akan turun, tapi dia urungkan dan menggangguk untuk mepersilahkan Chanyeol bertanya.
"Apa kau tau mantan istri Sehun tinggal di sebelah rumah kalian?" tanya pria itu taku – takut
"Ahaha… justru kami membeli rumah itu karena si kembar HunHan tinggal di sana" jawab Baekhyun enteng
"Apa? Kau tidak keberatan? Ah… maaf tidak seharusnya aku ikut campur tapi… aku… hanya penasaran.." ujar pria itu lagi
"Aku suka orang yang mau bertanya daripada menyimpan penasarannya dan berakhir dengan menebak – nebak sendiri,.."
Baekhyun menjeda kalimatnya lalu tersenyum dan menjawab, "aku sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Sehun saat ini. Aku tau Sehun sangat menyayangi HunHan dan ingin selalu berada dekat dengan mereka. Aku tidak mau egois dengan melarang seorang ayah dekat dengan anaknya, apalagi aku hanyalah seorang pendatang baru di kehidupan mereka. Jadi… aku sangat menghargai itu"
Baekhyun menjawab mantap dengan senyum manisnya, disamping Baekhyu, Chanyeol hanya bisa mengangguk dan menatap kagum pada gadis imut itu.
"Sehun beruntung mendapatkanmu… ah tidak… si kembar HunHan lah yang beruntung karena mereka akan punya ibu baru yang sangat baik"
"Thanks Chanyeol-ssi… kalau begitu aku turun dulu ya…"
Baekhyun baru saja menutup pintu mobil Chanyeol, namun kaca pintu mobil kembali terbuka,
"Nanti kau pulang dengan siapa?"
"Ng… Sehun bilang akan menjemputku dan anak – anak"
"Anak – anak?"
"Sekolah tempatku bekerja adalah sekolahnya HunHan"
"Daebak! Kalau begitu aku permisi dulu, Have a nice day Baekhyun-ssi"
.
"Hati – hati ya sayang… belajar rajin dan jadilah anak yang hebat!"
Yifan mengusak kepala Jaehun dan Jaehan secara bersamaan sebelum dua bocah lucu itu masuk ke dalam areal sekolah. Setelah itu keduanya langsung pamit dan berjalan masuk meninggalkan Yifan yang masih tetap berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum manis menatap punggung – punggung kecil calon anaknya berjalan semakin jauh ke dalam areal sekolah, namun lamunan itu terpecah saat ponsel Yifan berbunyi. Senyumnya makin manis ketika nama Luhan tertera disana.
"Ya Lu… ada apa?"
"Nanti siang kau tidak perlu menjemput HunHan di sekolah"
"Ng? Bukannya kau ada meeting untuk Seoul Fashion Week?"
"Ya… ada, Sehun akan menjemput mereka…"
"Sehun?"
"Ya… Sehun bilang akan menjemput HunHan hari ini"
"Tapi Lu… apa Sehun tau apa yang harus dia lakukan setelah menjemput anak – anak? Menjemput anak – anak bukanlah tentang datang dan membawa mereka pulang ke rumah.."
"Yifan-ah…. Sehun adalah ayah mereka, tentu Sehun tau betul apa yang harus dia lakukan. Dia ayah HunHan"
"Tapi Lu… Sehun kan tidak pernah dekat dengan mereka.."
"Siapa bilang?"
"…."
"Sehun menyayangi HunHan… meskipun yang kau lihat Sehun tidak pernah ada untuk mereka, tapi Sehun sangat mengerti mereka."
"Kenapa kau malah membela Sehun, Lu?"
"Aku tidak membela Sehun, aku hanya mengkoreksi kata – katamu tentang ayah dari anak – anakku"
Dan begitu saja, telpon pun langsung terputus.
.
"Selamat pagi… anak – anak… hari ini kalian punya homeroom teacher baru… kenalkan… ini Byun Seonsaeng"
Seorang wanita paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah memperkenalkan Baekhyun di depan kelas 2-1. Kelas Jaehun dan Jaehan.
"Annyeonghaseyo… aku adalah guru kelas kalian yang baru, namaku Byun Baekhyun, kalian bisa memanggilku Byun Seonsaeng"
Baekhyun memang begitu, dia selalu menganggap murid – muridnya sebagai sahabat dan bertingkah selayaknya anak – anak jika berhadapan dengan anak – anak. Baru hari pertama dia masuk ke dalam kelas itu, seluruh isi kelas langsung menyukainya. Menyukai sosok seorang Byun Seonsaeng yang menyenangkan dan pintar.
Baekhyun tau, ada sepasang mata sipit yang terus menerus memperhatikannya. Semua mata memang memperhatikan Baekhyun, namun sepasang mata itu berbeda, mata itu menatap Baekhyun dengan banyak sekali pertanyaan.
"Semua sudah dapat kelompokkan?"
"Byun Sonsaeng…. Hyungku belum dapat kelompok, Shin Yoora tidak masuk sekolah, jadi murid perempuannya kurang satu"
Jaehan mengadu pada Baekhyun dengan tatapan cemas. Hari itu mereka membuat sebuah praktek kesenian, membuat sebuah rumah dari stick es krim dan 1 kelompok terdiri dari dua orang, perempuan dan laki – laki.
"Tidak apa – apa Jaehan-ah… biar Jaehun satu kelompok dengan Byun Seonsaeng"
Jaehan langsung tersenyum dan kembali ke kelompoknya bersama seorang bocah perempuan gendut berpipi gembul seperti bakpao.
Baekhyun mendekati Jaehun dengan senyum ramah, sementara Jaehun hanya bisa menunduk malu dan diam.
"Kau mau membuat rumah yang seperti apa?" tanya Baekhyun lembut
"Aku mau membuat rumah seperti rumah yang di buat Appa" ujar Jaehun tenang, Baekhyun kembali tersenyum, mengingat seberapa miripnya anak ini degan ayahnya.
"Byun Seonsaeng… kemarin malam ada di rumah Appa kan?" tanya anak itu tiba – tiba.
Baekhyun mencoba untuk mepertahankan senyumnya agar tak terlihat terkejut, dia tau, Jaehun pasti mengenalinya
"Iya.. kemarin Byun Seonsaeng ada di rumah Appa Jaehun" jawab wanita manis itu tenang
"Kenapa bisa ada disana?"
"mmm… karena Byun Seonsaeng juga tinggal disana.."
"Bersama Appa?"
Jaehun nampak kaget dan seperti tidak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Apalagi setelah Baekhyun mengangguk untuk jawabannya, wajah tampan ala Oh Sehun kecil itu langsung tertunduk dan murung.
"Apa Byun Seonsaeng teman Appa… sama seperti Dokter Wu yang juga teman eomma?" tanya anak itu lagi
Baekhyun tersenyum lalu menggenggam tangan mungil Jaehun yang terasa begitu dingin.
"Byun Seonsaeng… memang teman Appa kalian. Byun Seonsaeng tidak akan mengambil Appa dari kalian…"
Jaehun mengangkat kepalanya dan menatap polos pada Baekhyun.
"Tapi Byun Seonsaeng akan menggambil Appa dari Eomma… seperti Dokter Wu mengambil Eomma dari Appa"
Baekhyun mengerutkan keningnya, Baekhyun tau, mata sipit Jaehun membicarakan hal lain selain arti 'mengambil' itu sendiri. Ada sesuatu yang Jaehun tau namun dia sembunyikan. Mudah saja untuk Baekhyun tau itu, dia menempuh 4 tahun pendidikan untuk menjadi guru dan mempelajari bagaimana mata seseorang berbicara. Dan apa yang mata Jaehun katakan saat ini membuat Baekhyun menyadari ada yang tidak beres dengan hubungan ketiga orang itu. Sehun, Luhan dan Yifan.
"Jaehun-ah…"
Baekhyun memanggil Jaehun dengan nada yang sangat bersahabat, Jaehun mau tidak mau kembali menatap mata jernih Baekhyun tanpa mengedip.
"Byun Seonsaeng… tidak akan mengambil siapapun. Byun Seonsaeng akan menjaga Appa untuk kalian" ujar Baekhyun tulus.
Jaehun bukanlah orang yang tidak peka, tentu dia tau apa arti ketulusan dan begitulah Baekhyun saat ini. Jaehun pun akhirnya tersenyum lalu berkata, "Byun Seonsaeng…. Mau berteman denganku?"
.
.
.
"APPAA!"
Jaehan berlari ke sosok sang ayah yang sudah berdiri dengan tampannya di parkiran halaman sekolah, sementara Jaehun menggenggam jemari lentik Baekhyun sambil berjalan.
"Halo jagoan… bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?" Sehun langsung menyaup Jaehan dalam gendongannya dan mencium pipi gembul putranya itu
"Saaangat menyenangkan. Kami punya guru baru, itu dia… Byun Seonsaeng"
"Anak – anak tidak menyusahkanmu kan?" tanya Sehun pada Baekhyun
"Tidak… tidak sama sekali… mereka sangat baik dan manis" Baekhyun berkata sambil menggoyangkan tangan Jaehun
"Appa mengenal Byun Seonsaeng?" tanya Jaehan kebingungan
"Byun Seonsaeng adalah teman Appa, Jaehan-ah"
Yang menjawab barusan adalah si kecil Jaehun, dan itu membuat Jaehan megerutkan keningnya
"Teman?"
Jaehan menatap sang ayah dan guru barunya yang menyenangkan itu dengan tatapan takut. Seperti seseorang yang trauma akan sesuatu, maka Jaehan seakan trauma mendengar kata teman untuk kedua orang tuanya.
"Ya sayang… Byun Seonsaeng adalah teman baik Appa.."
"Appa juga akan menikah dengan Byun Seonsaeng seperti Eomma dan Dokter Wu?"
Jaehan sedikit membentak kali ini, anak itu terlihat sangat marah pada keduanya, Sehun dan Baekhyun.
"Eomma… dia bilang dulu Dokter Wu adalah temannya, tapi lama – lama mereka bilang akan menikah! Apa Appa juga seperti Eomma?"
Mata Jaehan sudah berkaca – kaca saat ini, Baekhyun sendiri kaget dengan reaksi Jaehan yang sangat berbeda dengan Jaehun. Emosi Jaehan meledak lebih keras daripada kembarannya.
"Jaehan-ah… biar Appa jelaskan… Byun Seon…"
"Jaehan mau turun!"
Sehun langsung menurunkan Jaehan dari gendongannya dan seketika Jaehan langsung berlari kencang kembali masuk ke halaman sekolah.
"JAEHAN-AH!"
Sehun baru saja mau mengejar Jaehan tapi tangan mungil Jaehun mencegahnya.
"Biar Jaehun yang cari Jaehan, Appa tunggu disini saja ya…"
"Tapi…"
"Dia adikku, Appa…"
Jaehun melempar sebuah senyum yakin pada Sehun, membuat ayahnya memandang dia berbeda. Kaki mungil Jaehun berjalan perlahan masuk ke halaman sekolah, dia sama sekali tak berlari. Jaehun tidak punya jantung yang cukup kuat untuk diajak berlari.
"Kau disini…"
Jaehun duduk di sebuah bangku taman tempat mereka biasa makan siang. Jaehan yang duduk di hadapannya hanya menekuk kesal wajahnya.
"Kau tega ya membuatku harus berjalan dan mencarimu…"
"Hyung… maafkan aku, apa hyung lelah?"
Jaehun hanya menggeleng lalu melihat jejak air mata di pipi Jaehan.
"Kau menangis lagi…" kata Jaehun dengan nada datar namun sedikit tersenyum
"Taeoh benar… apa yang dikatakannya benar. Suatu hari appa juga akan membawa seseorang yang bukan hanya sekedar teman… seperti eomma membawa dokter Wu pada kita" oceh Jaehan yang melanjutkan lagi tangisnya
"Kau marah pada Appa atau marah karena Taeoh benar?" tanya Jaehun lagi
"Aku tidak tau. Tapi aku takut jika nanti eomma dan appa meninggalkan kita berdua karena mereka sudah punya keluarga baru, seperti Taeoh. Appanya sudah menikah lagi."
"Kau tidak perlu takut Jaehan-ah… kau punya aku. Kau tidak sendirian Jaehan-ah.."
Jaehan menatap kembarannya dengan mata basah, ya… dia baru sadar, bukan hanya dia yang punya nasib mengenaskan. Kembarannya pun sama. Jaehun tentu punya perasaan sedih dan takut yang sama dengannya saat ini.
"Hyung… Apa kau tidak takut nanti eomma dan appa meninggalkan kita?"
"Tidak…"
"Kenapa?"
"Karena aku punya kau, Jaehan-ah… aku bersyukur kau ikut lahir denganku, jadi aku tidak akan pernah sendirian"
"Hyung…"
"Kau bukan hanya adikku, kau juga temanku… kau yang menjagaku saat aku sakit, kau yang mengajariku saat aku tidak masuk sekolah, kau yang membuatkan PRku saat aku tidak bisa mengerjakannya, kau yang memperhatikanku setiap saat… aku… lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan eomma dan appa..."
Ya…. Semua kata – kata itu keluar dari bibir mungil Jaehun, seorang bocah berusia 7 tahun. Seorang bocah berusia 7 tahun dengan beban pikiran yang lebih berat dari anak seusia mereka.
"Aku menyukai Byun Seonsaeng" kata Jaehun lagi
"Wae?"
"Dia cantik dan … senyumnya tidak menakutkan seperti paman dokter"
Kalimat itu akhirnya membuat Jaehun tertawa meskipun air mata masih menggantung di kelopak matanya.
.
"Mereka berusia 7 tahun, Sehun-ah"
Baekhyun memandang dua tubuh bocah kecil yang saat ini sedang tertawa dengan air mata di pipi masing – masing. Mencoba saling menguatkan dan menjadi teman bagi satu sama lain. Mata Baekhyun juga berkaca – kaca, demikian juga Sehun yang kini sedang memandang keatas agar air matanya tidak jatuh. Berusaha kuat agar tidak menangis. Mereka berdua menguping pembicaraan dua bocah kecil itu sejak awal. Dan kenyataan yang mereka lihat sekarang, cukup menyadarkan Sehun akan seberapa besar luka dan trauma yang dia dan Luhan berikan kepada kedua anak – anak mereka. Bahkan sejak usia mereka 2 tahun 2 bulan. 5 tahun bertahan dengan situasi semacam ini, 2 tahun menerima bahwa Ayahnya bukan lagi satu – satunya pria dalam hidup ibunya, dan baru saja mendapatkan kenyataan bahwa Ibu mereka juga bukan lagi satu – satunya wanita dalam hidup ayahnya. Dengan kata lain, mereka hancur berantakan.
"BIsa kau bayangkan apa yang telah kalian lakukan pada mereka? Mereka tidak seharusnya merasakan hal seperti itu, tidak seharusnya mereka menerima beban pikiran dan perasaan seperti itu. Kembalilah pada Luhan, Oh Sehun…. Kau harus berusaha untuk mendapatkannya kembali, bukan untukmu, tapi untuk mereka, untuk HunHan… dan jika kau memang mencintai Luhan kau harus mengejarnya, bukannya malah lari dari kenyataan… dan menikahiku"
.
.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 3: I Know…. I'm not the only one
"Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kau sadar, kau hanya seorang figuran dalam hidup orang yang jadi peran utama dalam hidupmu"
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Maaf ya guys, aku baru sempet update sekarang. Semoga ceritanya gak ngebosenin yah… hehehe… chapter 2 dan 3 emang pusat konflik jadi… yah… tolong sedikit bertahan. Hehehe… oh ya… awalnya Chapter 2 bukan seperti ini. Cerita aslinya udah set dan itu cuma muat untuk 4 Chapter. Ya maaf sih kalo 1 chapter selalu panjang, tapi aku gak bisa memotong sebuah cerita di tempat yang gak pas buat aku. Misal words udah ada 5K dan aku potong gitu aja, ya ga bisa… bukan wordsnya, tapi complete story per chapter adalah tempat aku motong cerita itu. Jadi ya mohon maklum ya… dan btw, cerita ini mengalami sedikit pemanjangan cerita, agar fit minimal 6 Chapter seperti syarat Challangenya. So ya gitu deh…
.
.
.
Ada beberapa pertanyaan yang mau aku jawab, sorry sebelumnya ga bisa balesin satu – satu karena akupun buat ini nyuri – nyuri waktu di sela – sela kesibukan, maklum udah mulai kerja sih sekarang.
1. Sehun sama Baekhyun atau Luhan?
* LUHAN! Sehun gak mungkin lah sama yang lain, Sehun kan cuma punya Luhan dan fansnya Sehun aja. (ehem)
.
2. Ini Happy ending gak sih?
*Happy kok…. (kok?)…. Karena syaratnya gitu… kekekeke
.
3. Ini sampe Chap berapa?
*6 dan udah set. Tinggal aku publish aja sih…
.
4. Kenapa nama anaknya Jaehun dan Jaehan? Kenapa gak Haowen dan Ziyu aja?
*karena aku authornya. Haahahaha…. Itulah enaknya jadi author, apapun sesuka author bahahahaha… gak ah becanda, ini karena aku mau sesuatu yang beda aja. Masa sih di semua tempat harus Haowen dan Ziyu, juju raja aku ga mau ikut – ikutan meskipun di dunia maya kedua bocah ini adalah versi mini dari HunHan tapi yah… gak ada keharusan tiap ada FF HunHan anak mereka harus Ziyu dan Haowen kan? Hehehe… nama Jaehun dan Jaehan juga bagus kok… (menurut aku sih) kekekekek
.
.
.
.
Okay sementara itu aja sih, dan… oh ya…. Aku ganti pen name. dari Aruna Wu jadi Xiugarbaby. Why? Entahlah, jujur ini bukan karena sekarang aku ngebias XIumin di EXO, bukan…. Aku masih meigeni kok, cumin ya… nama pen name dengan akhiran WU itu udah banyak, aku gak mau kalian salah orang aja. Kekekekeke… dan Xiugarbaby, nama alay itu… aku pilih karena, namanya catchy aja ditelinga ehehehe…
.
.
.
Ya udah gitu aja… sekali lagi terimakasih buat yang udah follow, favorite dan review cerita ini. Semoga chapter ini gak mengecewakan kalian.
.
sincerely
-xiugarbaby-
