A/N

Hola, semua! Pa kabar? Jumpa lagi dengan saya di acara *Dilempar kulit pisang*, Skefo (Sekedar Info) ini Vamfic (Vampire Fic) pertama saia. Kyaa...! seneng banget bisa ngebuat vamfic. Yah, nggak tahu juga tapi, kayaknya saya rada-rada tertarik ama Vampire dan entah kenpa jadi kagum gitu. *R: dasar! Author aneh!* Oh, iya! Satu lagi! Disini hanya ada kota Konoha, Suna, Iwa, Oto dan lain-lain. Pokoknya desa-desa yang ada di Naruto!

Forever Life

Part 1

The Beginning

Disclaimer:

Mashasi Kishimoto

Genre:

Crime/Romance

Rated:

M for Gore and little physco

Pair:

Narusasu

Minakushi

Nejigaa or Gaaneji?

Itakyuu or Kyuuita?

Sasodei or Deisaso?

Warning:

This fic is Shou-ai menuju Yaoi

So, if you hate just far-far away from this fic! Miss Typo (s)

Bad Words/Kata-kata kasar!

Summary:

Dengan takdir dan dunia yang berbeda.

Akankah keabadian mempersatukan mereka?

Ket.

Dashiokure : Terlambat

Akuma : Iblis

Konoha-Suna, At 11.40 PM 10 Oktober 1993

"Akhirnya! Akhirnya aku menemukannya!" teriak seorang pria bercadar dengan gembira memandang segel aneh berbentuk bintang yang dikelilingi lingkaran berwarna merah darah yang terukir di tanah di depan sebuah kastil atau lebih tepat di sebut reruntuhan kastil karena di sana-sini sudah hancur di makan usia atau terpaan air hujan, tak terbayangkan berapa usia kastil itu.

"Hah! Itu berkat bantuanku tahu!" kata seorang pria lagi di sampingnya berambut putih sambil memegang sebuah sabit besar yang berlumuran darah. Laki-laki itu menoleh kebelakang, "Terus, kita apakan dia?" tanyanya sambil mengedikkan kepalanya pada sosok mayat yang berlumuran darah dengan tubuh hancur, sungguh mengerikan melihatnya.

"Apa peduliku? Buang saja ke jurang!" kata pria bercadar itu lagi cuek. Pria bercadar itu adalah seorang ilmuwan arkeolog terkenal di Kota Konoha "Sekarang! Kau diam! Aku harus membaca mantra ini!" katanya sambil membolak-balik sebuah buku yang tampak sudah tua di makan usia dengan huruf-huruf Rune di atasnya, tampaknya hanya pria bercadar itu yang mengerti arti dari huruf Rune itu, karena kalau pria berambut putih itu mengerti maka dia pasti tidak akan mengikuti rencana pria bercadar itu. Buku yang bertuliskan juuman'okudo yang berarti keabadian dengan simbol bintang di kelilingi lingkaran persis yang tergambar di tanah depan mereka dengan versi yang lebih kecil.

"Hm... apakah kamu yakin soal ini?" tanya pria rambut putih ragu-ragu atau sebenarnya ngeri sendiri melihat reruntuhan yang tampak mengerikan di depan mereka, reruntuhan kastil tersebut seperti mengeluarkan sebuah hawa lain, hawa di luar nalar manusia yang di latar belakangi langit kelam.

"Kamu takut?" tanya pria bercadar itu sinis, "Dengar, Hidan! Sudah 15 tahun aku menunggu saat-saat ini. Aku harus membuktikan pada semua ilmuwan brengsek di kota Konoha itu bahwa aku benar dan aku tidak gila! Kamu tenang saja, aku sudah mengkalkulasi semuanya! Segel itu akan melemah saat semua planet membentuk satu lintasan lurus, kejadian ini hanya terjadi seribu tahun sekali! Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Jadi, kalau kamu takut! Kamu boleh pergi!" katanya dengan nada mengejek. Hidan terdiam, merenung.

"Baiklah, terserah kamu!" katanya sambil memandang berkeliling tapi yang di lihatnya hanya kegelapan yang lama-lama semakin mencekam, para burung hantu beruhu pelan menambah suasana yang semakin tegang. Mereka berdua sekarang berada di daerah pegunungan terpencil perbatasan antara kota Konoha dengan kota Suna.

"Sekarang kita tunggu sampai tepat tengah malam, lalu kita adakan ritual itu."

"Yah!"

Mereka menunggu diiringi desau angin dan suara-suara yang mengerikan, entah makhluk apa yang mengeluarkan suara seperti itu. Mereka menunggu dalam diam, masing-masing tak tahu apa yang harus di bicarakan.

Tepat pukul 00.00 pria bercadar itu bangkit dan berdiri di depan segel yang berbentuk bintang dengan lingkaran di sekelilingnya. Mengelilingi segel itu dan membaca mantra pada buku tua yang dipegangnya, berulang-ulang. Tentunya dengan bahasa Rune tapi di translatekan,

"Saat langit mencapai batas tertinggi, saat itulah sesuatu akan bangkit dalam naluri para pengalir darah. Tetesan darah akan membangkitkan mereka, capailah dengan pembatasan hati, dan jadilah saksi kehidupan yang hancur penuh darah!"

"Datanglah kepadaku,

Langit kelam!

Sambutlah aku

Dengan tetesan darah segar!

Aku adalah keabadian

Akulah sang Akuma!

Dari kegelapan!"

Setelah membaca mantra tersebut, segel aneh itu tiba-tiba menghilang seperti terisap kedalam tanah, sesaat hanya kesunyian yang ada, lalu dari dalam reruntuhan beterbangan ribuan kelelawar. Sebagian menabrak Hidan yang sedari tadi hanya diam memandang partnernya membaca mantra, sambil mengumpat dan mengutuk kelelawar itu dia mendekati pria bercadar itu yang berdiri diam memandang ke arah reruntuhan.

"Hei! Kakuzu apakah mantra itu berhasil?" tanyanya tapi yang ditanya hanya terpaku tak bergerak dari tempatnya, "Ada apa denganmu Kakuzu?" ulang Hidan, kali ini dia memegang pundak Kakuzu. Tapi, tetap saja yang di sentuh seperti tidak merasakannya. Matanya melotot memandang sesuatu yang berada dikegelapan, Hidan mengikuti arah pandangan Kakuzu. Sejenak dia tidak dapat melihat apa-apa, hanya kegelapan yang ada! Tapi dia sadar diantara kegelapan itu ada sesuatu yang lebih gelap lagi, hitam pekat, kemudian sesuatu memang muncul dari kegelapan kastil, kegelapan yang paling pekat melebihi pekatnya langit malam. Lalu beberapa makhluk mulai muncul dari kegelapan yang pekat itu, bukan! Tepatnya tujuh manusia kalau mereka masih bisa dibilang manusia! Mereka semua berjubah hitam polos dengan kesan dingin dan angker, wajah yang pucat dan datar nyaris tanpa darah. Mata mereka berwarna merah membara menatap tajam dua orang di depannya.

Seorang perempuan berambut merah dan berkacamata memandang berkeliling dan merenggangkan tubuhnya. Dia berbicara dengan suara sedingin es.

"Hei! Sudah lama sekali kita tidak bangun!"

"Aku lapar!" kata laki-laki gendut di bagian kanan.

"Jiroubo! Makanan saja kerjamu!" kata laki-laki berambut oranye di sebelahnya.

"Wajar kan, Juugo! Kita sudah tidur berabad-abad!" sahutnya membela diri.

"Diam kalian semua!" sahut sebuah suara sedingin es yang luar biasa dinginnya sehingga kau akan merasa seperti di tenggelamkan ke danau es juga dengan nada menusuk. Aura kegelapan meyertainya saat dia berjalan, lalu muncullah seorang pria yang astaga! Bertangan enam dengan jubah hitam melambai-lambai di belakangnya. Matanya lebih merah dari darah menatap semua yang di situ dengan pandangan tajam.

"Wah! Ternyata sang pangeran sudah bangun" ujar seorang pria berambut putih dengan gigi setajam hiu.

"Siapa yang telah berani membangunkan kita semua?" tanyanya begitu pandangannya tertumbuk pada sesosok mayat yang berlumuran darah di pinggir jurang.

"Ternyata ada manusia segar disni!" kata seorang pria dengan oh! Kepala dua yang tiba-tiba berada di belakang Hidan dan Kakuzu yang sedari tadi terpaku di tempat melihat kemunculan mereka semua, "Ah, kebetulan sekali! Aku lapar!"

Pria berkepala dua itu mencengkram leher Hidan dan Kakuzu yang sudah keringat dingin.

"Bagaimana tidak lapar! Kita sudah tertidur selama ribuan tahun!" gerutu pria gendut tadi.

"Le-lepas... kan! Ka...mi ya...ng membangunkan kalian!" kata Hidan terbata-bata sedangkan Kakuzu hanya mengangguk saking takutnya.

"Lepaskan mereka, Sakon!" ujar sang pangeran, serta merta pria berkepala dua yang di panggil Sakon menjatuhkan Hidan dan Kakuzu. Mereka berdua gemetaran saking takutnya. Sang pangeran melangkah mendekati Hidan dan Kakuzu.

"To...long, j...ja...ngan sakiti kami!" kata Kakuzu memelas.

"Hm...siapa nama kalian?" tanyanya tanpa mempedulikan mereka.

"Na...ma...saya Kakuz...zu, saya adalah seorang arkeolog di kota Konoha sedangkan dia adalah Hidan yang membantu saya." kata Kakuzu sangat gugup.

"Kalau begitu sekarang katakan alasan mengapa kalian membangunkan kami! Kau tahu kan resikonya? Wahai para pengalir darah!"

"Ah...i..tu, a...nu, saya maksudku ka...mi hanya ingin membuktikan bahwa Vampire itu ada, soalnya tidak ada yang percaya dengan perkataanku malahan aku dibilang sudah gila kalau percaya bahwa vampire itu ada!" jelas Kakuzu, sejenak dia menatap sang Pangeran tapi buru-buru mengalihkan pandangannya, dia tidak tahu, tapi rasanya mata sang pangeran ini sanggup membunuhnya.

"Jadi, begitu! Hanya karena alasan itu kalian berdua membangunkan kami para pemuja darah ini! Ini abad keberapa?"

"Ini a...bad ke-20"

"Wah, melegakan! Kita sudah tertidur selama 500 tahun." kata seorang perempuan berambut merah tapi tanpa kacamata, sinis.

"Hebat! Umur kita hampir mencapai 1000 tahun" kata perempuan berkacamata di sebelahnya. Kali ini Hidan dan Kakuzu menatap bersamaan sang Pangeran.

"Kalian tidak menghormati pangeran!" kata Sakon yang masih berdiri dibelakang mereka, mengagetkan mereka berdua, "Apakah kalian tahu bahwa merupakan suatu penghinaan kalau memandang sang pangeran secara langsung?" tanyanya dingin sedangkan yang lainnya mendekat. Sang pangeran mengangguk pada seorang anak buahnya yang seperti hiu.

"Kalian tahu! Tadi, ada sebuah kalimat yang kalian baca saat mengucapkan mantra tadi." katanya tersenyum dingin sambil menampilkan giginya yang bertaring hiu.

"Suigetsu, tak usah berbelit-belit! Langsung saja!" kata laki-laki gendut yang dipanggil Jiroubo tadi kesal. Tapi pria bertaring hiu bernama Suigetsu tidak mempedulikannya.

"Apakah kalian masih mengingatnya?" tanya Suigetsu lagi, Kakuzu dan Hidan hanya menggeleng.

"'Sambutlah aku dengan tetesan darah segar'!" ujar seorang laki-laki berambut putih.

"Oh, terima kasih Kimimaroo!" kata Suigetsu tersenyum "Nah! Kalian mengerti?" tentu saja Hidan dan Kakuzu mengerti, muka mereka memucat seperti mayat, bibir mereka bergerak-gerak seakan-akan mengucapkan sesuatu tetapi yang keluar hanya desis tidak jelas.

"Oh, teman-teman! Ayolah! Jangan buang-buang waktu." Kata wanita berambut merah tadi memutar bola matanya, kesal. Suigetsu memang paling suka mempermainkan korbannya terlebih dahulu, membuatnya tidak sabar.

"Terserah kalian lah!" akhirnya Suigetsu menyerah.

"Pangeran, apakah anda mau?" tanya Sakon.

"Hm...simpankan saja bagianku! Aku ingin menemui Juubi dulu!" kata sang pangeran lalu beranjak dari situ kembali ke kegelapan yang pekat yang menelannya. Serentak mereka bertujuh memejamkan mata dan begitu mereka membuka mata, muncullah taring-taring panjang di mulut mereka semua. Mata mereka yang semerah darah berkilat-kilat bengis penuh nafsu.

"To...long! jangan hisap darah kami!" kata Hidan tersendat-sendat, sudah terbayang di depan matanya tujuh vampire kelaparan menghisap darahnya. Dia jadi sangat menyesal telah menyetujui rencana Kakuzu. Perempuan berkacamata tertawa bengis.

"Dashiokure!" katanya disambut tawa yang lain. Kemudian terdengarlah jeritan dahsyat seolah ingin merobek langit kelam. Makhluk-makhluk kegelapan itu begitu liar! Mencabik dan menghisap penuh nafsu. Burung-burung malam beterbangan, aktivitas dunia seakan berhenti setelah jeritan itu mereda. Mungkin mereka semua shock dengan kemunculan para perusak dunia.

xxxxx

Berselang beberapa jam setelah kejadian mengerikan di depan kastil itu, sosok-sosok mengerikan itu meninggalkan korban pertama mereka selama 500 tahun ini dengan tawa puas. Tapi, hawa dingin kembali menyelimuti kastil itu, dan luar biasa! Pintu kastil yang besar dan kokoh itu terbuka dengan derit pelan. Lalu muncullah enam orang yang berjubah hitam tapi, kali ini jubah mereka mempunyai corak yang berbeda-beda.

"Huamh! Aku masih ngantuk!" ujar seorang laki-laki berambut pirang jabrik bermata biru langit berjubah hitam dengan corak yang seperti percikan darah berwarna oranye sambil menguap di sambut jitakan dari laki-laki berambut oranye kemerah-merahan di sebelahnya dengan mata merah.

"Bodoh! Kita baru bangun kau sudah ingin tidur lagi? Dasar pemalas!" bentaknya marah.

"Aduh, Kyuubi-nii! Sakit tahu!" katanya sambil memegang kepalanya yang baru saja terkena jitakan.

"Rasakan itu!"

"Aduh, kalian! Sudahlah, jangan bertengkar!" kata suara lembut di belakang mereka, seorang wanita berambut merah seperti darah dengan mata hijau tosca.

"Gomen, Kaasan!"

"Sepertinya, kelompok Zaigokuro *A/N: asal-asalan aja! Tidak usah diambil hati, tapi artinya seh kelompok jahat atau hitam gitu* sudah makan!" kata seorang pria berambut kuning jabrik tapi agak panjangan di samping, memandang dua mayat dengan kondisi menggenaskan. Baju kedua mayat itu robek di sana-sini, tubuh mereka tinggal kulit dan tulang, darah mereka terhisap habis. Mata mayat itu melotot penuh kengerian seakan tidak rela dengan kehidupan yang di renggut paksa dari mereka. Semua langsung terdiam memandang mayat di depannya.

"Heh! Mereka tetap sadis yah!" ujar anak berambut pirang itu.

"Naruto! Kamu tidak boleh lihat!" larang seorang laki-laki berambut merah dengan mata berwarna batu jade sambil menutup mata pemuda pirang itu dengan tangannya.

"Argh! Gaara-Nii! Aku bukan anak kecil lagi!" katanya sambil memberontak.

"Tidak! Kamu masih kecil! Ayo, tutup mata!" sanggah Gaara.

"Aku rasa Gaara benar, un! Ayo, Naruto! Tutup matamu, un." kata seorang cowok berambut pirang panjang memandang cemas ke arah mayat dan Naruto secara bergantian.

"Tapi aku kan vampire! Jadi, tidak masalah kan?"

"Masalah! Sudah, jangan membantah!" sambung Kyuubi kembali menjitak adiknya.

"Sudah! Jangan bertengkar! Gaara, Deidara! Ayo, bawa masuk adikmu!" perintah wanita berambut merah itu.

"Baik! Kaasan!" lalu pemuda berambut merah yang di panggil Gaara itu menyeret adiknya yang masih memberontak diikuti oleh pemuda lainnya berambut pirang panjang dengan mata biru bernama Deidara.

"Kushina, kita harus membereskan mayat ini!" kata laki-laki berambut pirang jabrik agak panjang itu.

"Hm...baiklah! Kyuubi, bantu ayahmu!" perintahnya kepada Kyuubi yang sedari tadi diam saja, "Minato, kita akan tinggal dimana?" tanya Kushina.

"Aku rasa di sini saja! Lagipula kelompok Zaigokuro itu tidak mungkin tinggal di sini kan?" kata Minato, "Sudahlah, Kushina! Tidak apa-apa!" kata Minato begitu melihat rasa khawatir di mata istrinya.

"Kurasa, aku setuju kalau kita tinggal disini!" ujar Kyuubi, "Kastil ini besar sekali! Dan juga kayaknya terpencil" sambungnya sambil melihat sekelilingnya, "Lagipula dengan terucapnya mantra itu seluruh vampire yang ada di dunia pasti sudah bangkit dan di sini kita akan aman." Kushina mengangguk tanda setuju.

"Tapi, pertama-tama! Kita harus cari makan dulu! Aku lapar!" kata Kyuubi.

"Baiklah, sayang! Kita akan mencarinya setelah mengurus mayat-mayat ini."

"Oh, aku harus menemui Hachibi dulu!" kata Minato, "Kalian urus sisanya." Dia lalu berkelebat dan menghilang di telan kegelapan malam.

Malam telah mencapai batasnya, menyambut hari baru. Hari yang merupakan awal dari semua kejadian ini. Inilah awal dari kehancuran dunia!

To Be Continued...

Spoiler Next Chapter...

"Sekarang, kau ikut aku pulang! Cepat!" perintah laki-laki itu kasar sambil menendang pemuda itu. Sang pemuda bangkit dan berjalan terseok-seok dibelakang laki-laki berambut panjang itu. Saat mereka berpapasan anak itu memandang Naruto. Langit Biru bertemu langit kelam.

DEG...

Entah kenapa jantung Naruto berdetak tidak karuan, Vampire memang mempunyai detak jantung kalau sudah meminum darah, sesaat mereka bertatapan tapi anak itu kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya dan kembali mengikuti tuannnya. Naruto mengikuti terus pemuda itu sampai dia menghilang di belokan.

Gomenne,

kalo banyak typo dan tidak menarik!

oh, iya hari ini udah satu tahun Ai jadi author lo! -nebar-nebar confetti-

Moga-moga gak ada pairing war lagi!

At least...

Review...

Minna!

~Airu Haruza~