CHAPTER 2 UPDATE!

gomen lama updatenya T.T

author baru sembuh dari sakit.. dan ini sekalian mau post yang chap 3...

sebelumnya

special thanks for :

Naomi Kudo, Youichi HiKaRi, Lampuhijau, Azure Knight, CT-mania, Hany Bun-bun...

terima kasih buat review kalian... ^^


DISCLAIMER :

Tsubasa itu hanya punya Yoichi Takahashi!

Pairing :

Misugi X Yayoi

Warning :

OOC, cerita gj

Author :

Ririn Kiseki (Cross)

CHAPTER 2 :

::Boy's Chatting::


Enjoy my fict!

Cerita sebelumnya :

Dalam penerbangan menuju Paris di pesawat. Misugi merasa cemburu pada Kojiro tanpa alasan yang bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Kemudian saat pesawat sedang mengudara ada sedikit guncangan karena melewati awan badai. Yayoi ketakutan dan Jun melindunginya. Akan tetapi segera seetelah dan selama goncangan itu penyakit jantung Jun kambuh! Yayoi panik dan ketakutan!

"Ka..kapten!" Yayoi mulai menangis melihat keadaan kaptennya itu. Lalu Yayoi segera meminta pertolongan. Segera setelah itu datanglah beberapa pramugari dan tim medis pesawat.

Kemudian setelah diperiksa dan meminum obat, Jun bisa tidur dengan tenang di pesawat itu. Yayoi bersyukur dalam hati. Kemudian dia terus memperhatikan wajah mantan kaptennya yang teduh itu. Senyum Yayoi langsung terkembang dan pipinya tiba-tiba merasa panas.

~XXX~

Akhirnya mereka sampai juga di Prancis. Kemudian mereka segera menuju Paris, pusat pemerintahan Negara Prancis. Jun telah sadar dari pingsannya dan dibantu berjalan oleh Tsubasa dan Matsuyama. Dia menolak untuk diajak ke rumah sakit dan dirawat, dia memilih ikut dengan teman-temannya selain itu dia juga masih banyak tugas untuk menyusun strategi sebagai asisten pelatih. Dia bilang sudah tidak apa-apa. Meskipun begitu wajahnya tampak begitu pucat. Tim Junior Jepang memutuskan untuk check in ke Hotel di Paris dulu dan beristirahat. Pertandingannya juga masih tiga hari lagi. Jadi masih ada waktu juga untuk mereka jalan-jalan.

"Akhirnya sampai juga," ucap Tsubasa senang.

"Iya, benar. Kita juga masih ada waktu luang sebelum pertandingan jadi waktu sekarang untuk istirahat saja," jelas Wakabayashi.

"Baik!" jawab semuanya serempak dan segera menghambur ke kamar hotel yang telah di pesan untuk beristirahat.

~XXX~

Di Kamar Hotel Yayoi

Yayoi sekamar dengan Sanae dan Yoshiko. Khusus untuk mereka dipesankan double bed super jumbo. Mungkin karena mereka anak gadis jadi sedikitnya lebih dihargai. Yoshiko dan Sanae tidur satu bed. Sedangkan Yayoi tidur di bed yang lain.

Meskipun kini baru pukul 09.00 PM waktu Paris tetapi kelihatannya tim Kesebelasan Junior Jepang sudah mulai terlelap ke alam mimpi. Mungkin karena kecapekan setelah melakukan perjalanan jauh. Tetapi tidak bagi Yayoi. Dia masih terjaga dari tidurnya. Dirinya masih memikirkan keadaan Misugi.

Akhirnya gadis berambut merah kecoklatan itu memutuskan untuk ke luar menuju beranda kamar. Sanae yang tidak sengaja mendengar bunyi pintu dibuka kini ikut terjaga. Yayoi melihat pemandangan kota Paris yang terlihat berkilauan di malam hari itu. Pusat mode dunia memang sangat lain. Keadaan ini berbeda sekali dengan Jepang. Setidaknya di Jepang masih ada ruang lingkup gelap walau hanya sedikit. Dari kejauhan tampaklah menara Eiffel yang menjulang tinggi dan memancarkan kilauan indah. Pasti menyenangkan sekali berkencan dengan suasana seperti ini. Yayoi benar-benar merasa senang puas. Ini pertama kalinya dia ke Paris dan sangat menyenangkan. Keasyikan Yayoi dibuyarkan oleh sebuah sentuhan di pundaknya.

Gadis itu segera memalingkan wajahnya.

"Sanae?" desis Yayoi.

"Belum tidur?" Tanya Sanae ikut berdiri di samping Yayoi.

"Belum," jawab Yayoi pelan. Keduanya kemudian saling terdiam untuk beberapa saat.

"Indah sekali ya pemandangan di sini," tambah Sanae setelah memperhatikan sekitarnya beberapa saat. Yayoi hanya tersenyum.

"Pasti menyenangkan sekali kalau kita berkencan dalam suasana seperti ini," tambah Sanae dengan pipi agak sedikit memerah. Yayoi yang mendengarnya tersentak, pikiran mereka sama. Tetapi mereka punya perbedaan yang signifikan. Karena Sanae telah mempunyai pacar, sedangkan dirinya tidak.

Melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan Yayoi membuat Sanae menjadi tidak enak hati. "Eh, ma..maaf Yayoi."

"TIdak masalah Sanae. Yang kau katakana itu benar. Dan mungkin kamu punya kesempatan untuk menikmatinya," ujar Yayoi sambil tersenyum.

"Eh, tidak. Bukan begitu Yayoi. Yah meskipun aku sudah pacaran, tetapi kelihatannya kesempatam ini tetap tidak bisa kami manfaatkan. Tsubasa selalu saja lebih mementingkan latihannya. Apalagi dengan adanya pertandingan yang sangat penting ini. Tak ada kesempatan bagi kami untuk berkencan," jelas Sanae sambil menerawang.

"Begitu ya? Tapi kurasa Tsubasa masih bisa meluangkan sedikit waktu untukmu mengingat pertandingan masih tiga hari lagi." Yayoi membesarkan hati Sanae.

"Mungkin juga," balasnya singkat sambil masih terus memandang jauh. "Lalu bagaimanan Misugi?" Tanya Sanae cepat.

"Ah, kami bukan apa-apa Sanae. Hanya partner," jelas Yayoi kini mengikuti pandangan mata Sanae. Sanae hanya mengernyitkan alisnya menatap sahabatnya itu. Meski sudah bersama Jun sejak lama, kelihatannya Yayoi belum ada kemajuan selain hubungan seperti kapten tim dan manajernya.

"Kau harus bilang padanya!"tegas Sanae.

"Aku tidak berani Sanae. Aku takut dia akan menjauh. Cukup seperti ini saja," balas Yayoi. Kini perasaannya seperti terhimpit benda keras setelah mendengar kata-katanya sendiri.

"Kau yakin cukup seperti ini?" Tanya Sanae meragukan.

"Ya, mungkin,"

~XXX~

Di waktu yang sama di kamar Hotel Misugi Jun

Jun sekamar dengan Tsubasa dan Matsuyama. Keduanya yang lain sudah terlelap. Tetapi Jun belum karena harus menyiapkan beberapa strategi untuk pertandingan yang akan datang. Untuk sementara pikirannya melayang. Melayang ke kejadian di pesawat tadi. Yayoi dengan Kojiro yang sedang berdua membuatnya kepikiran terus. Dan tak sengaja Jun menyenggol gelas yang ada di sampingnya. Sontak bunyi jatuhnya benda pecah belah itu membuat Tsubasa dan Matsuyama terbangun.

"Maaf teman-teman," ujar Jun yang dengan segera beranjak dari kursinya dan memunguti pecahannya. Tsubasa dan Matsuyama tidak bisa membiarkan dan ikut membantu Jun.

"Misugi kau kenapa?" Tanya Tsubasa agak curiga setelah selesai membereskan pecahan itu.

"Ti..tidak apa-apa kok," jawab Misugi agak tergagap.

"Kau aneh," balas Matsuyama kemudian pemuda itu membaringkan tubuh di bednya.

"Begitulah," tambah Tsubasa mengikuti Matsuyama.

Banyak pikiran yang berkecamuk di dalam diri Jun. tetapi pemuda itu tidak tahu harus memulai dari mana. Lalu sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. Dengan segera Jun mencegah Tsubasa untuk melanjutkan tidurnya, "Tsubasa, tunggu."

"Ada apa?" Tanya Tsubasa sebelum dia benar-benar sempat terlelap. Matsuyama juga mulai menegakkan telinganya meski pemuda itu masih saja dalam posisi berbaring.

"Aku boleh bertanya. Tapi kurasa ini tidak wajar." Jun mulai bicara.

"Lalu apa masalahmu teman?" ujar Tsubasa mendekati Jun yang kini kelihatan agak kacau sepertinya.

"Begini. Tadi saat di pesawat aku merasa —aneh," jelas Jun.

"Aneh? Maksudnya?' Tsubasa masih tidak mengerti kemana arah topik pembicaraan yang akan Jun katakan.

"Iya.. aku merasa sakit di sini," jawab Jun lalu memegang dadanya.

"Jangan-jangan jantungmu kambuh!" ujar Tsubasa panik. Membuat Jun sweatdrop begitupula dengan Matsuyama yang sedang menguping.

"Bukan itu!" tegas Jun. Matsuyama yang sudah tidak tahan dengan kelolaan Tsubasa pun akhirnya bangkit dan ikut angkat bicara. Ini membuat Tsubasa kaget, sedangkan Jun yang sweatdrop pun ikut-ikutan kaget.

"Oke—" Matsuyama belum mengeluarkan kalimatnya dia sudah di sela Tsubasa.

"Lho? Kau belum tidur ternyata Matsuyama," Tanya Tsubasa.

"Belum," jawabnya cepat. Kemudian Matsuyama langsung mengalihkan pandangan ke Jun, "Maksudmu kejadian yang ada hubungannya dengan Kijiro?" Tanya Matsuyama yang kebetulan ikut memperhatikannya di pesawat.

"Yah mungkin." Jun menjawab sekenanya.

"Lalu apa yang kaurasakan?" Tanya Matsuyama kelihatan menggebu.

"Aku merasa panas, tidak nyaman, dan tidak suka saat melihatnya bersama dengan Kojiro," terang Jun.

Matsuyama dan Tsubasa yang sudah mulai connect segera menyadari apa yang Jun maksud. Kedua sahabatnya itu kelihatan — bersemangat.

"KAU CEMBURU!" teriak mereka bersamaan membuat Jun harus menutup telinganya yang berdenging untuk beberapa saat. Author yakin, seandainya kamar hotel itu tidak dilengkapi peredam, seluruh penghuni lantai kamar Hotel itu pasti akan mendengar teriakan kedua pemuda berbakat sepak bola itu dan terbangun karena berisik.

"KALIAN BERISIK TAHU!" Kini gantian Jun yang berteriak membuat kedua maklhuk itu ikutan menutup telinga.

"Iya, maaf," jawab Tsubasa sambil nyengir. Matsuyama hanya mengangguk.

"Tapi kan aneh," lanjut Jun cuek.

"Oke. Mungkin kau pikir begitu. Tetapi seandainya kita telah lama bersamanya dan merasakan sesuatu yang lain apalagi perhatiannya begitu besar kepada kita pasti akan ada perasaan yang tumbuh kan?" terang Matsuyama panjang lebar.

"Benar sekali. Dan itu tidak mustahil Jun. Lihatlah kami, maksudku aku dan Matsuyama," tambah Tsubasa. Jun agak terbengong mendengar penjelasan Matsuyama dan Tsubasa, kelihatannya bagi dia lebih mudah menerima masukan untuk strategi dan sepak bola yang rumit daripada membicarakan topik ini.

"Kau mengerti tidak?" Tanya Matsuyama yang merasa kesal karena dicuekin.

"Itu., sulit," jawab Jun dengan jujur. Tsubasa hanya sweatdrop sementara Matsuyama mengacak rambutnya kelihatan seperti orang yang frusatasi.

"Baiklah. Aku Tanya, bagaimana perasaanmu dengan gadis itu?" lanjut Matsuyama to the point.

"Gadis itu siapa?" Tanya Jun agak linglung, dia benar-benar bingung dengan sikap kedua sahabatnya itu. Atau memang hari ini dia sedang tidak bisa berpikir jernih.

"Maksudnya Yayoi!" tambah Tsubasa cepat.

"Ehm, seperti kapten dan manajer," jawab Jun.

"Bukan itu! Tapi perasaanmu Jun Misugi!" bentak Matsuyama.

"Owh itu. Aku merasa sangat nyaman, tenang dan tidak sendirian. Lagipula entah kenapa setiap kali dekat dengannya rasanya jantungku berdebar-debar, yah sedikit nyeri sih," jawab Jun polos.

"BINGO! Sudah kuduga!" Matsuyama mengepalkan tangannya dan kelihatan berbinar-binar. Sementara Tsubasa hanya cengengesan.

"Kalian kenapa malah jadi aneh?" Jun berkomentar karena melihat tingkah dua sahabatnya yang menurutnya konyol.

"Kau sedang kena virus," jawab Matsuyama.

"Virus apa? Perasaan aku hanya punya penyakit jantung?" tanyanya.

"Virus cinta bodoh," tambah Tsubasa.

"Apa?" serangan jantung Jun kambuh lagi. Matsuyama dan Tsubasa panik.

~XXX~

Esoknya para anggota tim telah bangun dan kelihatan bersemangat. Tetapi tidak dengan duo kita yang cakep-cakep itu. Ozora Tubasa dan Hikaru Matsuyama, mereka kelihatan benar-benar kurang tidur. Benar, karena serangan jantung Jun kambuh mereka berdua terpaksa harus begadang semalaman. Dan akhirnya Jun pun kini telah sehat kembali.

"Kalian kenapa?" Tanya Ishizaki penasaran melihat roman muka keduanya yang terlihat lesu.

"Tidak apa-apa Ishizaki," jawab Tsubasa.

"Hanya kurang tidur," lanjut Matsuyama.

"Eh?" IShizaki hanya bengong. Kemudian pikirannya melayang. "Ja..jangan-jangan mereka melakukan sesuatu!"

Dengan segera Ishizaki menuju ke kamar Sanae dan Yoshiko.

"Ada apa Ishizaki?" Tanya Sanae setelah membukakan pintu dan mendapati Ishizaki yang berdiri disana dengan ekspresi tidak jelas.

"Ano.. itu Anego." Ishizaki tak tahu harus mulai darimana.

"Cepat jawab. Kami juga perlu bersiap Ishizaki," hardik Sanae. Yoshiko yang baru selesai mandi segera menghampiri mereka karena penasaran.

"Eh, Ishizaki. Ohayou~," sapa Yoshiko ramah.

"Ohayou mo Yoshiko," balas Ishizaki sedikit nyengir.

"Ada apa ini Sanae." Tanya Yoshiko mengalihkan pandangan pada Sanae.

Sanae hanya menunjuk Ishizaki. Dan dengan isyarat itu juga artinya Ishizaki harus segera menjawab atau daun pintu yang akan meresponnya.

"Hii.. Baiklah," Ishizaki agak takut dengan ekspresi Sanae yang seperti itu.

"Itu, Tsubasa dan Matsuyama, kelihatan aneh," tambah Ishizaki.

"Aneh kenapa?" Sanae sedikit mengangkat alisnya.

"Muka mereka lesu, katanya kurang tidur."

"Eh, masa? Harusnya mereka kan istirahat yang cukup," ujar Yoshiko agak kaget.

"Iya, makanya itu. Jangan-jangan mereka— Aduh!" Belum selesai Ishizaki bicara sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

'Dasar bodoh. Kau berpikir macam-macam ya. Mereka masih normal tahu!" Sanae sewot. Yoshiko tak berkomentar.

"Kenapa kau malah memukulku?"' rintih Ishizaki masih memegangi kepalanya.

"Aku tahu dari ekspresismu itu. Pasti ada maksud aneh dan tidak benar," tegas Sanae.

"Huh, dari dulu kau tak berubah. Kenapa ya Tsubasa bisa suka padamu," gantian Ishizaki yang sewot. Satu pukulan mendarat lagi di kepala Ishizaki. Kini pemuda itu menyerah dan pamit pergi.

"Tunggu Sanae, kita mesti tahu apa yang terjadi," Yoshiko membuka pembicaraan dengan Sanae selepas Ishizaki pergi.

"Kau tidak berpikir yang aneh seperti da kan Yoshiko?" Tanya Sanae agak ragu.

"Tentu tidak." Yoshiko segera membela. "Mungkin ini ada hubungannya dengan Misugi, kau tahu dia kan punya masalah dengan jantungnya. Mungkin saja tadi malam dia kambuh," jelas Yoshiko panjang lebar.

"Uhm, benar juga ya? Tapi kenapa bisa kambuh?" Tanya Sanae agak menyelidik.

"Aku juga tidak tahu. Tetapi setelah kejadian di pesawat itu Misugi kelihatan uring-uringan," tambah Yoshiko.

"Aku tahu! Mungkin—" belum selesai Sanae bicara Yayoi telah keluar dari kamar mandi.

Sanae dan Yoshiko langsung terdiam dan menatap Yayoi.

"Hey, kalian kenapa? Ada yang aneh denganku?" Tanya Yayoi santai.

"Ah~ Tidak," elak Sanae.

"Sepertinya sudah waktunya sarapan. Kita harus segera turun," balas Yoshiko.

"Lebih baik nanti kita bicarakan ini dengan Tsubasa dan Matsuyama saja," bisik Sanae kepada Yoshiko.

Yoshiko hanya mengangguk.

—TO BE CONTINUED —

Lama tak update!

Akhirnya bisa update juga ni fict. Gomen...maaf banget T.T

Selamat membaca.

Kritik dan Saran diterima!