There's no tomorrow for us
Park Jimin
Min Yoongi
.
.
Jimin menyeret tubuh yang baru saja di habisinya ini dan melemparkannya ke jurang. "Well done."
Jimin tersenyum puas. Membayangkan seberapa banyak uang yang akan di dapatkannya kali ini. "Halo? Ya ya selesai. Baik tinggalkan saja disana"
Pemuda itu memakai topi nya dan menyalakan rokok. "Hm..." ia menggumam dan mengingat wajah cantik Yoongi sambil dia berjalan ke tempat sampah tidak jauh disana.
"Gotcha." Jimin membuka tempat sampah itu dan menemukan paper bag incarannya. Di bukanya benda itu dan ia bersiul senang. Tumpukan uang dalam mata uang dollar itu membuat liur Jimin hampir menetes. Ia melihat jam dan mengehela nafas. Masih pukul 3 pagi. Yoongi nya pasti masih tidur. Jimin berinisiatif untuk pergi sejenak ke bar untuk menghilangkan bau darah dan lebih baik menggantinya dengan bau alkohol dan rokok.
"Park Jimin!" Taehyung memberi high five pada sahabatnya itu saat Jimin berjalan memasuki bar langganannya. "Mana kekasihmu?"
Jimin tertawa. "Sedang tidur. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Dia akan mengomel jika tau aku masih bekerja pada orang itu."
Taehyung memandang baju Jimin yang terkena beberapa noda darah. "Aku juga tidak suka sebenarnya. Street fighter tidak masalah. Tapi pembunuh bayaran? Itu gila Jim."
Jimin mengibaskan tangannya tanda tak peduli. "Ambilkan aku American Voodoo seperti biasa. Dan eh, kaus juga untuk mengganti kaus ku." Jimin berkata acuh dan duduk di salah satu sofa di pojok.
Taehyung mengangguk dan segera pergi untuk mengambilkan pesanan Jimin. Setelah kepergian Tae, Jimin melepas kaus bernoda darahnya dan melemparkannya begitu saja ke sebelahnya.
"Hei, apa kau sendiri?" Seorang gadis tiba tiba saja duduk di pangkuan Jimin.
"Aku tidak berminat padamu." Jimin berusaha mengusir gadis yang ia kenal sebagai Hani. Salah satu stripteaser disini.
Hani mengelus dada telanjang Jimin. "Kapan lagi aku memiliki kesempatan emas dirimu tanpa dia?"
Jimin memutar bola matanya malas. "Namanya Min Yoongi. Dan dia pemuda baik baik yang aku cintai."
"Yang kau cintai tapi tak cukup mengertimu?"
Jimin meremas bokong Hani dan mendekapnya hingga mereka berdua tenggelam di sofa dengan Jimin di atas Hani.
"Ahn Hani pergilah." Taehyung meletak kan gelas dan kaus Jimin di meja lalu menyeret Hani pergi.
Jimin menghela nafas lega. "Dia menakutkan."
Taehyung kembali dan tertawa. "Karena dia seksi atau karena dia menggodamu?"
Jimin meneguk minumannya. "Seksi dan menggoda."
.
,,,
.
"Jimin..." Yoongi terbangun lebih awal pagi ini dan tentu saja ia sangat kaget melihat kekasihnya itu tidak ada di rumah mereka.
"Ck. Pasti ke bar." Yoongi mendengus kesal dan menelfon Jimin.
"Aku sudah disini sayang. Kau tak perlu menelfon ku." Jimin tiba tiba memeluk Yoongi dari belakang. Membuat pemuda manis itu terlonjak kaget.
"Aku akan memukulmu jika kau mengagetkan ku lagi. " Yoongi membalik kan badannya dan memukul kepala Jimin.
"Kau sudah memukul ku hyung..." Jimin meringis.
Yoongi hanya menjulurkan lidahnya berniat untuk mengejek Jimin. Namun bukan Jimin namanya jika menyia nyiakan kesempatan itu kan?
Mata Yoongi terbelalak saat Jimin dengan sigap menyesap lidahnya yang terjulur itu dan menahan tengkuk Yoongi agar tidak bergerak. Jimin menyesap manisnya lidah Yoongi. "Bagaimana? Berminat untuk menjulurkan lidahmu lebih panjang lagi?"
Yoongi memukul dada Jimin dan berjalan cepat cepat ke dapur untuk menutupi wajah nya yang memerah hingga telinga.
"Kau akan masak apa hyung?" Jimin mengikuti Yoongi dan memeluk nya dari belakang.
Tapi bukannya menjawab, Yoongi malah memukul lengan Jimin. "Kau bau wanita."
Jimin mengangkat bahunya cuek. "Di bar banyak gadis sayang"
"Dan apa yang kau lakukan bersama mereka?"
Jimin melepaskan rangkulannya dan duduk di kursi dapur mereka. "Nothing."
Yoongi berbalik dan menghadap Jimin. "Tidak ada? Bau mu menyatakan kau melakukan sesuatu."
Jimin berdiri dan menatap jengah pada Yoongi. "Kau berlebihan. Aku tidak melakukan apapun Min Yoongi."
Yoongi mengigit bibirnya sendiri menahan umpatan umpatan di lidahnya. "Ya sudah." Ia memilih fokus membuat sup lagi daripada melihat Jimin.
"Aku hanya mencintaimu. " Jimin memeluk pinggang Yoongi lagi. Mencium tengkuk Yoongi yang selalu harum menenangkan.
"Kau hanya berbicara Park. Tidak membuktikan." Yoongi menggumam pelan sambil memotong sayuran.
"Apa aku tidak memperlakukan mu dengan baik? Aku baru dapat uang. Ayo kita pergi membeli apa yang kau inginkan sayang." Jimin mulai menciumi telinga kekasihnya.
"Aku tidak butuh uang!" Yoongi melempar wortel yang sedang di potongnya dan menjerit marah. "Apa kau buta? Apa kau bodoh? Idiot? Aku tidak butuh uang!"
Jimin menggeram marah dan membalikkan badan Yoongi dengan paksa. "Lalu katakan apa maumu Min Yoongi! Setiap detik yang kau lakukan hanya cemburu, marah, cemburu dan marah!"
"Apa yang harus kulakukan?! Katakan sialan apa yang harus kulakukan saat melihat mu mencium gadis di bar? Apa yang harus ku lakukan saat kau pulang dengan mabuk ?! Apa yang harus ku lakukan saat kau menantang mautmu sendiri?!" Yoongi meninggikan suaranya.
"Sudah ku bilang itu hanya selingan!"
"Jadi semua pelacurmu itu selingan? Ahn Hani atau Jeon Jungkook atau semua orang itu selingan? Sial sekali kau park! Apa bedanya aku dengan mereka. Aku pun mungkin hanya selingan."
Plak!
Jimin dengan segala emosi nya menampar pipi pucat Yoongi hingga pemuda manis itu tersungkur di lantai dengan bibir berdarah.
Yoongi meringis menyaksikan darah dari sudut bibirnya menetes di lantai. Ia masih menunduk dan tidak berkata apapun hingga Jimin berlutut dan mencengkram kuat rahangnya.
"Jangan pernah meragukan aku. Kau tau aku mencintaimu. Tapi jika sikapmu seperti ini..." Jimin menghempaskan rahang Yoongi begitu saja. Ia meludah di sebelah kepala Yoongi dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Yoongi yang menangis terisak merasakan perih di bibir dan hatinya.
.
,,,
.
Jimin merebahkan tubuh atletisnya di kasur. Ia memejamkan mata dan berusaha mengembalikan kesadarannya. Kepalanya pening. Ia meraih bantal di atas kepalanya dan menghirup wangi bantal itu dalam dalam. Wangi ini...
"Min Yoongi!"
Jimin segera bangkit dengan tergesa menuju dapur. Tapi dia tidak menemukan kekasihnya. Jimin mengumpati dirinya. Ia sangat mudah lepas kendali jika itu menyangkut rasa cintanya pada Yoongi. Yang kadang berakhir dengan dia yang menyakiti Yoongi.
"Aw..."
Jimin tersenyum lega. Itu rintihan Yoongi. Kekasih gulanya itu pasti ada di kamar mandi. Secepat kilat Jimin membuka kamar mandi.
"Menjauhlah Park." Yoongi berucap dingin.
Jimin terpaku di tempatnya. Ini adalah salah satu moment yang paling di bencinya.
Min Yoongi yang menangis dengan luka di tubuhnya. Terlebih luka itu berasal dari tangan Jimin sendiri.
"Ah sial! Ini sakit sekali!" Yoongi berusaha mengoleskan obat merah itu di luka bibirnya.
Jimin mendekat dan membalik badan Yoongi. "Maafkan aku sayang.." ia kemudian mengoleskan obat itu di bibirnya sendiri dan menempelkan bibirnya di bibir Yoongi. Hanya menempel hingga seluruh obat merah itu juga menempel di bibir Yoongi.
"Pergilah. Temui kekasihmu." Yoongi mendorong dada Jimin agar tidak menghalangi pintu kamar mandi.
Jimin mengikuti Yoongi yang melanjutkan acara memasaknya. "Hyung.. aku menyakitimu lagi..."
Yoongi tertawa mengejek. "Oh tidak. Hanya tanganmu menamparku."
Jimin menciumi seluruh leher Yoongi dari belakang. "Maafkan aku oke? Aku hanya tidak suka kau meragukan ku..."
Yoongi mendesah berat. Se marah apapun ia, sekejam apapun Jimin memperlakukannya, ia tidak bisa tidak memaafkan kekasih nya ini.
Akhirnya Yoongi menyerah. Ia menghadap Jimin dan berjinjit untuk mencium kening kekasih nya itu. "Ya... aku memaafkanmu.. tapi ku mohon... jangan ulangi lagi..."
Jimin mengangguk dan mendekap erat Yoongi. Menyembunyikan seluruh tubuh Yoongi dalam dekapannya. Agar tak seorangpun bisa melihat betapa mengagumkan kekasihnya ini. "Aku tidak akan mengulanginya. Aku terlalu mencintaimu..."
Sementara Yoongi hanya tersenyum tipis. Menyadari betapa lihai nya lidah Jimin berbohong.
.
,,,
.
"Jim, apa kau siap?" Taehyung menepuk punggung Jimin yang sedang meminum air mineral nya.
"Tentu aku siap. Dia tidak terlalu menyusahkan." Jimin berkata enteng. Sementara Yoongi di sebelahnya sudah mengerucutkan bibir nya.
"Ayo kita pulang saja." Ujarnya kesal.
Jimin tertawa seakan akan Yoongi adalah anak bayi yang meminta naik pesawat.
"Kita akan pulang satu
jam lagi. Sekarang kau ingin melihat ku disana atau duduk disini seperti biasa?" Jimin mengusak rambut mint Yoongi.
"Aku tidak bisa melihat mereka melukaimu..." Yoongi berkata lirih.
Jimin terdiam sesaat. Ia menyukai bagaimana Yoongi sangat khawatir padanya. "Aku tidak akan apa apa. Aku akan menemui mu disini 30 menit lagi oke?" Jimin mencium kening Yoongi dan berlalu ke arena nya.
.
,,,
.
"Ya! Hajar terus! Rahangnya Jimin! Dadanya! Yaa! Seperti itu! " Taehyung yang berada di barisan belakang di sebelah Yoongi menjulurkan lehernya tinggi tinggi untuk mengawasi Jimin yang sedang bertanding. Sementa Yoongi seperti biasa. Menunduk dan menahan air matanya membayangkan Jimin bertarung dan di hajar seperti itu.
"Hyung, Jimin itu kuat. Kau santai saja." Taehyung menepuk pundak Jimin.
"Bagaimana jika kau ada di posisiku? Mengetahui kekasih mu, orang yang sangat kau cintai, bagaimana jika Jung Hoseok mu itu yang sedang bertarung dan mempertaruhkan nyawa? Apa kau bisa tenang?" Yoongi berkata tajam dengan air mata yang menggenang di sudut mata kecilnya.
Taehyung terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu. Sekarang ia mengerti mengapa Yoongi tidak pernah mau berdiri di garis paling depan melihat Jimin bertarung. Taehyung juga akan sekhawatir Yoongi jika Hoseok yang sedang bertarung disana. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan Jimin.
"Yeaaaaah! Jimin!" Semua orang berteriak heboh. Taehyung tersadar dari lamunannya dan bertepuk tangan melihat kemenangan telak Jimin.
"Yeah! Park Jimin!"
Yoongi tersenyum sedih. Kemenangan Jimin bukanlah sesuatu yang akan ia bangga kan. Karena Jimin pasti memiliki banyak bekas luka di wajah dan tubuhnya.
Yoongi tidak beranjak dari duduknya. Taehyung sudah berlari ke depan untuk menyambut kemenangan Jimin. Tapi Yoongi tetap diam. Jimin akan kemari.
"Woaaaaaahhhh!" Semua orang berteriak heboh. Beberapa bahkan bersiul siul. Yoongi mengerutkan kening. Ada apa?
Yoongi tidak tahan menunggu. Jadi ia merangsek maju kedepan. Mengabaikan orang orang yang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Jimin..."
Jika Yoongi bisa mati karena patah hati, mungkin Yoongi akan mati saat ini juga...
.
,,,
.
Jimin memutar mutar kaus nya di udara. Kebiasaannya jika menang. "Yeah!" Teriaknya bangga.
Ia sudah akan menyeret Yoongi kedepan seperti biasa saat tiba tiba seseorang menarik tangannya, memaksanya untuk merunduk dan menciumnya.
Jimin terbelalak menyadari Jungkook yang menciumnya di tengah orang orang. Otaknya kosong seketika. Sementara Jungkook semakin memperdalam ciumannya di tengah orang orang yang menyoraki mereka, ekor mata Jimin menangkap surai mint di tengah penonton. Rambut mint yang selalu di belainya, lalu pandangannya turun pada wajah si surai mint. Wajah yang setiap malam di cium nya. Mata cerah yang selalu memandangnya penuh cinta itu kini di hiasi air mata yang mengalir deras di pipi pucatnya.
"Sial!" Jimin mendapatkan kembali akal sehatnya dan menyentak kan ciuman Jungkook untuk mengejar kekasihnya yang sudah terlebih dahulu berlari menjauhi kerumunan itu.
.
,,,
.
Yoongi berusaha menjauhi arena street fighting itu sambil menyeka kasar air matanya. "Park sialan!" Umpatnya berulang kali.
"Aduh!"
"Hei berhati hatilah kalau berjalan!" Seseorang membentak Yoongi.
Pemuda itu berusaha bangun, tapi kakinya sepertinya terkilir. "Kau yang hati hati!" Yoongi balas memaki.
"Oh hei kawan, lihatlah. Dia menantangku." Tiga pemuda bertubuh besar kekar mendekatinya.
Yoongi mendadak merasakan serangan rasa panik. "Menjauhlah!"
Pria di tengah yang berambut pirang tertawa meremehkan. "Oh hahaha kau manis juga sayang." Pria itu menjambak rambut Yoongi agar menghadapnya.
"Hei! Dia kekasih Jimin! Sial! Kita akan mati jika terjadi sesuatu." Pria disebelah kanannya mengenali Yoongi.
Sementara pria di sebelah kirinya terkekeh. "Kekasih? Kau tidak lihat Jimin mencium kekasih barunya yang imut itu tadi kan?"
Pria di tengah yang menjambak Yoongi menarik rambut Yoongi lebih keras. "Jadi kau hanya sampah Jimin sekarang? Padahal kurasa kau lebih manis. Tapi kami juga tidak keberatan dengan sampah manis."
Yoongi meringis dan berusaha melepaskan diri. Tapi kakinya sakit sekali dan kepalanya pening karena dia di jambak terlalu kuat.
"Bawa dia ke tempat biasa saja. Kita bisa menikmatinya." Pria di sebelah kiri Yoongi mengusulkan. Kedua temannya setuju. Mereka segera menyeret Yoongi.
"Tidak! Lepaskan aku! Sial! Lepas!" Yoongi yang terseret seperti itu menangis dan berusaha memukul sebisanya.
"Diam!" Salah satu dari ketiga pria itu membentaknya dan menarik kedua tangan Yoongi. Menyeretnya hanya dengan memegangi tangan Yoongi.
Kedua kaki Yoongi benar benar mati rasa menahan sakit dan hanya bisa terkulai begitu saja. Jins Yoongi sudah sobek meninggalkan noda darah karena kulitnya juga bergesekan dengan tanah. ia terus memohon dan berteriak minta di bebaskan hingga mereka sampai di sebuah gang buntu, Yoongi di hempaskan begitu saja. Pria pirang yang sedari tadi menjambak Yoongi segera menindihnya. "Aku akan merasakan sampah ini terlebih dulu. Sayang sekali Jimin membuangmu."
Yoongi Berteriak frustasi. Memohon dan memukul sebisanya. "Berhenti! Hentikan ku mohon..."
Pria itu memukul kepala Yoongi dengan keras. Seketika membuat pandangan Yoongi berkunang kunang. Di benaknya terlintas wajah Jimin. Lalu moment ketika Jimin dan Jungkook berciuman dengan bangga di tengah kerumunan.
Darah mengalir di pelipisnya. Yoongi merasa bajunya di robek paksa dan ia perlahan kehilangan kesadarannya.
"Jimin... tolong aku..."
.
,,,
.
TBC
.
Hola :D aku apdet~ gimanaaa? Bagus ndak? Makasih yg kmrin udah review maaf aku nyakitin Yoongi sama Jimin :''') dan soal rating... uhm aku cuma bisa bikin sebatas pegang pegang kissing aja gabisa bikin 'this and that' . Tapi aku bakal 'berguru' sama masternya kalo memang banyak yg minta 'this and that' :'D tapi buat anak kecil di mohon jangan baca ini karena ini banyak kekerasannya lho ya! Aku sudah memperingatkan.
Last but not least, review please ^^
