Title: For Taurus
Rating: T
Genre: Romance
Summary: Untuk tiga Taurus kita tersayang. Selamat ulang tahun! Chapter 2: For Haru.
Disclaimer: Amano Akira owns Kateikyoushi Hitman Reborn!
Warning: phail angst, plagiat sebuah adegan di Mint-na Bokura. Sedikiiit aja T_T
Chapter 2: For Haru
Prompt: Gokudera/Haru – forced; "I've tried but love should be effortless."
Kyoko & Haru – innocence – "Years from now."
"Hayato, apa kau senggang tanggal tiga?"
Gerakan jemari pria berambut perak itu terhenti, dan ia melirik ke asal suara tadi. Seorang wanita muda dengan rambut sewarna kayu eboni duduk di sofa berlengan tak jauh dari meja kerjanya. Sejak sejam yang lalu ia telah berada di sana, duduk menunggui sang Arashi no Shugosha untuk menyelesaikan tugasnya.
"Tanggal tiga?" lelaki berkacamata itu menaikkan sebelah alisnya seraya mengulang perkataan kekasihnya.
Pertanyaannya disambut dengan senyum tipis. "Tanggal 3 Mei. Senggang?"
Menggumamkan "hmm" pendek, Gokudera Hayato membuka aplikasi khusus yang ia ciptakan sendiri, yang berfungsi sebagai agendanya. Melirik daftar hal-hal yang harus ia lakukan pada tanggal 3 Mei, ia menggeleng.
"Aku harus menemani Juudaime menghadiri pertemuan bersama capofamiglia Bertesco, dan setelah itu mengecek pekerjaan orang-orang departemen Teknologi Vongola. Katanya mereka mengembangkan alat transportasi baru."
"Oh," adalah jawaban pendek yang diberikan Haru ketika Gokudera selesai menjabarkan jadwalnya pada tanggal tersebut.
"Kenapa memangnya?"
Wanita itu menggeleng singkat. "Tidak ada apa-apa. Hanya bertanya."
Gokudera gagal menangkap intonasi sedih dan kecewa di nada suaranya.
.
.
.
RIIIINGG. RIIIINGG.
"Ya, tunggu sebentar!"
Derap langkah kaki terdengar mendekati telepon rumah yang telah berdering beberapa kali. Salah satu penghuni rumah, seorang wanita muda berambut cokelat muda, segera meraih gagang telepon untuk menjawab panggilan tersebut.
"Ya, kediaman Sasagawa di sini."
"Kyoko-chan?"
Sasagawa Kyoko mengerjap sesaat, mencoba mengenali suara sang penelpon sebelum menyunggingkan senyum riang. "Haru-chan? Iya, ini aku sendiri. Ada apa?"
Hening. Jeda sejenak sementara ia mendengarkan alasan sahabatnya tersebut. Perlahan senyumnya digantikan oleh kerutan di dahi.
"Boleh saja, 'sih…kapan?"
Hening lagi.
"…baiklah. Sampai ketemu di sana, Haru-chan!"
.
.
.
"Otsukaresama, Juudaime! Anda berhasil meminta Don Bertesco itu untuk meminjamkan Snow Ring-nya sejenak!"
Lelaki yang akrab disapa Decimo oleh bawahan-bawahannya yang berdarah Italia hanya tertawa pelan. Ya, ia baru saja memenangkan perundingan dengan Gelaro Bertesco, yang isinya mengenai proposal kerjasama. Vongola ingin meneliti kemampuan Sky Ring lebih lanjut, maka mereka harus meminjamnya dari Gelaro.
"Tidak apa. Asal kau bisa segera menyelesaikan pekerjaanmu untuk hari ini."
Gokudera, yang sedang menyetir, melirik bosnya yang duduk di jok belakang, sambil tersenyum. "Terima kasih sudah memperhatikan kesibukan saya, Juudaime, tapi saya tidak apa-apa. Setelah ini juga masih harus mengecek pekerjaan orang-orang dari departemen Teknologi!"
"Gokudera-kun, bekerja dengan giat itu baik, tapi jangan sampai melupakan orang-orang yang kau sayangi," tukas Tsuna kalem.
"Saya mengerti, Juudaime!"
Benarkah dia mengerti?
.
.
.
Dan kini, di sebuah kafe kecil yang terkenal akan kelezatan cream puff-nya, Sasagawa Kyoko duduk berseberangan dengan sahabatnya, Miura Haru. Di tengah-tengah mereka ada satu loyang besar fruit tart dengan potongan bermacam-macam buah sebagai topping, serta icing cokelat lezat yang menutupi layer-layer kue tart tersebut.
Bisa dipastikan berat badan mereka berdua akan naik drastis jika memakan semuanya.
Ah, tapi tampaknya tidak. Setelah diamati, Kyoko hanya mengambil sepotong kue, sementara Haru akan menghabiskan sisanya.
Sebuah kebiasaan yang mereka lakukan untuk menghilangkan rasa sedih.
"Haru-chan…kau tidak usah memaksakan diri untuk menghabiskan semuanya," ujar Kyoko, khawatir kalau-kalau nantinya Haru akan syok melihat panah pada timbangan berat badan bergeser jauh dari angka idealnya.
Tapi wanita yang kini berprofesi sampingan sebagai bagian intel CEDEF itu menggeleng, dan kembali meneruskan kegiatannya. Sudah potongan keempat. Ia yakin ia sanggup menghabiskan tiga potong lagi.
Atau mungkin hanya dua potong lagi, karena kedatangan seseorang yang tak terduga, dan tentunya mereka harus menawari orang tersebut untuk mencicipi sepotong.
"Haru-dono, Kyoko-dono. Apa kabar?"
Keduanya menoleh dan menemukan lelaki berparas rupawan mengenakan setelan jas rapi plus kemeja biru langit dan dasi hitam menghampiri mereka. Basilicum, atau akrab disapa Basil, sang calon pewaris tampuk kekuasaan Sawada Iemitsu atas kepemimpinan CEDEF, baru saja menyapa mereka. Ia membawa sebuah tas kertas. Mungkin baru saja berbelanja?
"Baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Basil-kun?" kedua wanita muda tersebut membalas secara bersamaan, membuat Basil terkekeh pelan.
"Saya baik-baik saja," mata birunya segera tertuju ke arah kue tart di atas meja. "Merayakan ulang tahun Haru-dono? Hanya berdua saja?"
Haru tertawa gugup dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Yah, habisnya yang lainnya sekarang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Haru tidak masalah, 'kok, tidak dirayakan dengan besar-besaran. Cukup dengan Kyoko-chan saja."
"Bahkan tidak dengan Gokudera-dono?"
Untuk sepersekian detik, senyum Haru pudar, dan Kyoko menyadarinya. Maka ia segera menjawab, "Gokudera-san juga sibuk."
Basil mengangguk tanda mengerti. "Kalau begitu, ini." Tangannya menyodorkan tas kertas yang ia bawa sedari tadi ke arah Haru, membuat gadis itu bingung. "Hadiah ulang tahun. Tadinya saya akan ke rumah engkau untuk menyerahkannya, tapi saya melihat engkau sedang bersama Kyoko-dono di sini, jadi sekarang saja saya serahkan pada engkau."
Meraih tas kertas tersebut, Haru melirik isinya. Sebuah kado berbentuk kotak yang terbungkus kertas kado berwarna hijau gemerlap dan pita merah. Ukurannya cukup besar. Ia penasaran apa isinya, tapi tidak sopan kalau ia membukanya sekarang, 'kan?
Untungnya Basil bisa langsung mengerti dan menjawab, "Hanya pajangan kecil-kecilan yang saya beli ketika bertugas di Vietnam."
"Ah, begitu…terima kasih banyak, Basil-kun!" ucap Haru senang.
Setidaknya, ada satu orang yang tahu hari ini adalah hari ulang tahunnya tanpa perlu ia beritahu.
.
.
.
Gokudera melangkah keluar ke koridor sambil menghela napas. Melirik jam tangannya, ia baru sadar bahwa sudah lewat tengah malam. Itu artinya sudah 6 jam lebih ia bekerja bersama orang-orang dari departemen teknologi. Ia bahkan tidak sempat makan malam.
"Sebaiknya aku pulang dan tidur…masih ada waktu sebelum mengerjakan dokumen-dokumen besok," gumamnya sembari menguap kecil.
Ia berbelok di pertigaan, dan nyaris saja bertabrakan dengan Basil, yang tidak melihat jalan di depannya karena asyik membaca berkas-berkas di tangannya. Beruntung secara refleks keduanya menghentikan langkah, sehingga mereka tidak jadi bertabrakan satu sama lain.
"Ah, selamat malam, Gokudera-dono! Baru pulang jam segini?" sapa pria berambut cokelat tersebut sopan.
Gokudera mengangguk, lalu menambahkan, "Tidak sempat pulang sejak sore. Kau masih ada urusan dengan Juudaime? Sebaiknya besok pagi saja, karena kurasa Juudaime sudah pulang."
"Ah tidak, saya mencari Irie-dono untuk memeriksa sesuatu," balas Basil. Kalimat selanjutnya terlupakan ketika ia menyadari sesuatu dari kalimat Gokudera. "Gokudera-dono tidak pulang sejak sore? Jadi, Gokudera-dono tidak merayakan ulang tahun Haru-dono dengannya?"
Hening lama sementara kedua bola mata berwarna hijau jamrud itu terbelalak.
"Hayato, apa kau senggang tanggal tiga?"
Barulah ia sadar bahwa ia sudah menyakiti hati gadisnya.
.
.
.
Rabu pagi.
Setelah bangun tidur, mandi, dan mengenakan pakaian, Haru mengecek ponselnya dan menemukan sebuah email dengan nama Gokudera tertera di sana.
Sender: Hayato
Subject: no title
Aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama nanti.
Haru terdiam, termangu untuk beberapa saat, sebelum membalas dengan jawaban afirmatif:
Baiklah.
.
.
.
Kamis siang, di sebuah kafe kecil tak jauh dari markas CEDEF.
Mereka duduk di sana, berdua, berhadap-hadapan. Dua cangkir espresso terhidang di meja yang membatasi jarak di antara mereka berdua. Tidak seperti biasanya, Haru diam dan tak banyak bicara. Toh bukan dia yang mengajak untuk bertemu. Maka ia menunggu hingga Gokudera memulai pembicaraan.
Dan akhirnya ia angkat suara.
"Terlambat sehari, tapi kuharap kau mau menerimanya."
Ia menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi dengan kertas kado warna merah dan pita pink. Haru menatap kotak itu dengan sedikit sorot mata penasaran.
"Mont blanc, yang kupesan khusus. Kau suka Mont Blanc, 'kan?" jelasnya.
Segaris senyum tipis tersungging di bibir Haru. "Iya. Terima kasih banyak."
Menghela napas sejenak, Gokudera mengangkat cangkirnya dan menyesap minumannya untuk beberapa saat, sebelum kembali meletakannya di atas piring, dan kembali berbicara. "Seharusnya kau bilang padaku. Kalau aku tahu, pasti akan kubatalkan janji dengan orang-orang departemen Teknologi itu."
Senyumnya masih bertahan di sana ketika ia memulai argumennya,
"Ulang tahunku tahun lalu kuhabiskan dengan membicarakan suatu misi penting bersama anggota CEDEF lainnya dalam sebuah rapat."
Mata hijaunya menatap lurus wanita di hadapannya.
"Setelahnya, Basil-kun mengajak kami semua makan-makan di restoran kecil yang dekat dari markas. Lalu Tsuna-san bersama para Guardian-nya, juga Kyoko-chan ikut bergabung karena ditelpon oleh Basil-kun.
"Waktu itu karena sakit hati melihat Tsuna-san yang asyik mengobrol dengan Kyoko-chan, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak melihat mereka. Suara canda tawa mereka yang terdengar olehku membuatku ingin kabur dari tempat itu.
"Tapi kau di sana, mengajakku bicara, membuatku hanyut dalam pembicaraan kita, dan akhirnya tidak menghiraukan keberadaan Tsuna-san dan Kyoko-chan sama sekali.
"Tapi kau tidak ingat, 'kan?"
Tenggorokannya serasa tercekat.
"Ingatanku buruk."
Gokudera serasa ingin memukul kepalanya sendiri karena otaknya dengan bodohnya membuat alasan payah macam itu.
"Lalu, dari mana kau tahu ulang tahunku?" Haru bertanya lagi.
"Dari Basil. Kemarin malam aku bertemu dengannya, dan ia bertanya kenapa aku tidak merayakan ulang tahunmu malam itu..."
Ia merasa semakin bodoh.
Hening.
"…jadi kau memang tidak punya rasa suka yang khusus padaku, ya, Hayato?"
Alis keperakannya bertaut. "Bukan begitu."
"Aku tahu kau suka pada Tsuna-san juga."
Mulutnya terkunci rapat. Ia tak punya pembelaan.
"Karena itu, kukira mungkin kita, yang sama-sama berasal dari pihak yang patah hati, mungkin bisa saling menghibur dengan menjadi sepasang kekasih. Siapa tahu dengan kita saling menghabiskan waktu bersama-sama, rasa cinta kita pada Tsuna-san akan tergantikan.
"Tapi tidak. Rasanya hanya aku yang memaksakan kehendakku sendiri.
"Jadi...
"Mari kita akhiri saja, ya?"
"Tunggu sebentar!"
Ia meraih tangannya, mengamit jari-jari mungilnya dengan jemari pianisnya yang kurus. Jemari yang terbiasa menari di atas tuts piano. Jemari yang terbiasa memegang senjata api.
"Maafkan aku."
Jemari yang dipenuhi cincin untuk mengaktifkan box weapon. Yang ia gunakan untuk melindungi dia yang ia sayangi.
"Bisa kita coba lagi, Haru? Aku akan mencoba menyukaimu dengan lebih serius."
Ditepisnya jemari itu. Dingin.
"Aku sudah mencoba," suaranya bergetar ketika mengatakannya, "tapi cinta memang seharusnya tidak bisa dipaksakan."
Hening.
Dingin.
"…Baiklah…jika itu keputusanmu."
Senyum palsu menghiasi paras manis wanita berambut eboni itu, menutupi ekspresi pahit yang seharusnya ia tampakkan. "Terima kasih sudah mau mengerti, Gokudera-san. Akan kunikmati Mont Blanc-nya pelan-pelan."
.
.
.
Makenai de donna ni mukai kaze demo—
"Halo, Haru-chan?"
"Kyoko-chan..."
Sekali dengar, Kyoko bisa langsung mengerti.
Ia sudah dengar dari sahabatnya itu bahwa Haru akan menemui Gokudera saat waktu makan siang. Sudah 3 jam lewat semenjak waktu makan siang berakhir. Dan ia memang menunggu. Ia seperti bisa melihat hal ini cepat atau lambat akan terjadi.
Entah mengapa.
Getaran pada suara Haru ketika menyebut namanya dan suara isak tangis pelan merupakan bukti kuat bahwa hal yang ia takutkan sudah terjadi.
"Haru-chan...kau bisa dengar aku?"
"...hiks..."
"Haru-chan..." ia mengambil napas sedikit, menenangkan dirinya yang hampir saja ikut menangis—ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sang sahabat. "Ketahuilah, menangislah sepuasmu. Sampai kau tenang. Sampai kau bisa memutuskan untuk melangkah maju di esok hari.
"Kelak, di tahun-tahun berikutnya, kita akan mengenang masa lalu dan teringat akan peristiwa ini. Lalu kita akan berpikir...'ah, betapa polos dan berkilaunya diri kita di masa lalu'...sambil tersenyum.
"Karena pada saat itu, kita sudah mengerti bagaimana cara untuk bertahan dalam masa-masa yang menyedihkan dan menyakitkan hati seperti ini.
"Jadi menangislah. Sekencang yang kau mau. Biar kudengarkan kau."
Dan volume suara tangis itu terdengar membesar, tanda Haru mematuhi anjuran sahabatnya. Ya, untuk saat ini, menangis tampaknya solusi terbaik untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
Dan ia yakin, kelak di masa depan, ia akan tersenyum geli, mengingat betapa polos dan naifnya ia di masa lampau, seperti yang diutarakan Kyoko.
END
Salahkan TYL!Gokudera dan TYL!Tsuna yang bikin TYL!Haru saya galau dan membuat cerita macam ini! T_T
Anyway, review? ;D
Next chapter: For Hibari, updated on May 5th.
