A/N : Misa Kaguya Hime-san, makasi yaa reviewnya... *terhura, eh terharu* Sebagai jawabannya, ini chapter 2. Enjoy! XD

Bagian II :

MIMPI INDAH DAN LAPANGAN BASKET

Pagi hari di rumah keluarga Monou memang selalu diawali dengan rutinitas yang menyenangkan. Pagi – pagi buta, Nyonya Saya Monou, ibu Fuuma dan Kotori sudah berangkat ke pasar untuk membeli bahan masakan dan kembali saat Kyougo Monou—sang ayah, sedang menyapu halaman kuil. Saat itu, matahari mulai menampakkan senyumnya di ufuk Timur. Tak lama kemudian, Fuuma terbangun oleh suara alarmnya yang berbunyi dengan lagu Cardcaptor Sakura dan kemudian mencuci mukanya sebelum pergi ke depan kamar Kotori untuk membangunkan adiknya itu. Biasanya, rutinitas membangunkan ini selalu diakhiri dengan teriakan marah Kotori dan bantal guling berwarna pink yang berserakan di depan kamarnya karena dilempar ke arah Fuuma.

Setelah sekitar sepuluh menit, Fuuma dan Kotori sudah memakai seragam lengkap dan siap untuk sarapan pagi. Pagi ini, di atas meja makan sudah tersedia makanan ala Barat berupa telur mata sapi, sosis asap dan roti bakar. Fuuma dan Kotori segera duduk di kursi, menemani sang ayah yang sudah terlebih dahulu menikmati sarapannya dan sekarang sedang membaca koran.

"Selamat pagi, Fuuma, Kotori," sapa Kyougo.

"Pagi, Ayah," jawab kedua kakak beradik itu serempak. Ibu mereka kemudian muncul dari dapur sambil membawa dua buah kotak bekal berwarna pink dan coklat. Kotak bekal yang coklat tampak berisi lebih banyak daripada yang pink. Saya kemudian memberikan kotak bekal coklat itu pada Fuuma

"He? Oniichan kok lebih banyak porsinya? Aku bagaimana, Ibu?" tanya Kotori. Saya tersenyum bijak dan menjawab, "Kotori sayang, kakakmu itu nanti ada latihan basket, jadi dia perlu tambahan energi. Lagipula, Kotori nanti malah gemuk lho kalau makan banyak!" Jawaban itu membuat Fuuma tertawa dan Kotori mendengus kesal.

"Sudahlah, Kotori. Nanti kalau kamu mau, nanti aku bagi deh," kata Fuuma sambil mengusap rambut pirang panjang adiknya. Kotori tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.

"Jadi kau nanti ada kegiatan klub, ya? Pulang jam berapa?" tanya Kyougo sambil menutup korannya dan mengambil sepotong sosis di piring. Sambil melahap sarapan paginya, Fuuma menjawab, "Sekitar jam lima sore, Yah."

"Berarti nanti Kotori pulang sendiri, ya?" tanya Kotori. Fuuma menggeleng, "Jangan, sama temanmu saja. Siang nanti pasti panas. Aku takut kamu nanti jatuh pingsan. Tubuhmu masih belum cukup kuat lho buat jalan – jalan sendirian."

"Oke," kata Kotori ceria. "Kalau begitu, aku nanti pulang sama Kamui-chan saja."

Entah kenapa, pernyataan Kotori barusan itu membuat hati Fuuma mencelos. Ia sudah berhasil melupakan cowok manis itu dan tidur nyenyak semalam. Tetapi Kotori kembali mengingatkannya akan keberadaan Kamui. Terlebih lagi, Kotori akan meminta cowok manis itu untuk menemaninya pulang nanti, berdua saja. Pikiran itu membuat hati Fuuma sangat tak nyaman.

Setelah akhirnya dua bersaudara itu selesai dengan sarapan pagi mereka, Fuuma mengambil sepedanya dari garasi dan menuntunnya ke luar kuil, diikuti Kotori di belakang.

"Oke, ayah, ibu. Kami berangkat dulu," kata Fuuma ketika Kotori sudah duduk di sadel belakang. Kyougo dan Saya melambaikan tangan mereka dan mengucapkan selamat jalan. "Hati – hati ya, sayang," kata Saya. Fuuma mengangguk dan memacu pelan sepedanya menuju ke sekolah.

-ooo-

"Hoi, hoi, selamat pagi, Monou!" sapa Taku dan Satou ketika Fuuma sampai di kelas. Mereka berdua duduk di pojok belakang kelas sambil memegang sebuah majalah olahraga keluaran terbaru. Fuuma balas menyapa dan segera duduk di bangkunya. Sambil mengeluarkan buku biologi dari dalam tasnya, Fuuma mengajak bicara kedua temannya yang tengah asyik berdiskusi.

"Hey, kalian berdua. Nanti siang ada latihan basket," katanya. Satou dan Taku tampak senang dengan berita tersebut.

"Bagus! Akhirnya bisa latihan juga! Aku sudah kangen untuk melatih three point-ku lagi!" kata Taku bersemangat.

"Yep, aku juga! Aku ingin mencoba teknik yang ada di majalah ini!" sahut Satou sambil menunjuk salah satu halaman yang ada di majalah. Fuuma tertawa dan membuka buku biologinya.

"Yah, tapi sebelum itu, lebih baik kalian buka buku biologi kalian dan belajar untuk ulangan nanti," kata Fuuma.

"Huuh, Monou, kau memang suka merusak kesenangan orang!" kata Satou sambil meletakkan majalahnya di kolong meja.

-ooo-

Kelas 2-5 tampak lengang ketika Kotori masuk ke kelas. Tetapi, Kotori sangat senang ketika ia menemukan orang yang dicarinya sedang duduk di bangkunya di dekat jendela sambil melihat ke arah luar ke gedung olahraga tempat latihan basket.

"Kamui-chan!" sapa Kotori riang, sukses membuat cowok bermata violet itu terlonjak dari tempat duduknya.

"Kotori! Aku tidak dengar kapan kau masuk kelas! Jangan mengagetkan begitu dong!" kata Kamui sambil memegang dadanya. Kotori tertawa riang dan memukul bahu Kamui dengan sikap bersahabat.

"Ehehe, kaget ya. Maaf deh, Kamui-chan. Umm, Kamui-chan lihat apa di luar, kok sepertinya serius amat?" tanya Kotori sambil melirik ke arah Kamui melihat tadi dan menemukan gedung olahraga di sana. "He? Gedung olahraga? Memang Kamui-chan ingin masuk klub?"

Kamui menggeleng cepat, "Iie, hanya melamun, kok!"

"Hontou ka? Umm, aneh… Ah, ngomong – ngomong, nanti siang Kamui-chan ada acara?" tanya Kotori.

Kamui menelengkan kepalanya, bingung. "Memangnya ada apa?"

"Kau mau tidak menemaniku pulang nanti? Oniichan ada latihan basket, jadi tidak bisa mengantarku pulang…"

Kamui membelalakkan matanya mendengarkan informasi itu, dadanya terasa berdebar mengingat cowok bermata emas itu dan pikirannya melayang mengingat mimpinya tadi malam…. Mimpi indah yang berkaitan dengan gedung olahraga tempat latihan basket itu dan Fuuma…

"Kakakmu latihan hari ini?" tanya Kamui hati – hati.

Kotori mengangguk, "Iya, Oniichan latihan selama seminggu penuh ini untuk menghadapi pertandingan penyisihan daerah minggu depan."

"Be-benarkah? Jam berapa?"

"Ha? Memangnya kenapa? Kamui-chan ingin lihat Oniichan main basket ya?" tanya Kotori polos. "Atau Kamui-chan ingin ikut basket?"

"Oh, tidak, tidak ada apa – apa. Hanya ingin tahu…" kata Kamui sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Oh ya, aku nanti kosong kok. Biar kuantar nanti kau pulang."

Kotori tersenyum ceria, "Oke, arigatou, Kamui-chan!"

-ooo-

Hari ini adalah hari yang sangat baik untuk seorang Fuuma Monou. Ia cukup berhasil dalam ulangan biologinya tadi dan latihan basket yang sudah dinanti – nantinya sejak kemarin akan diadakan lagi hari ini. Ia benar – benar tidak sabar untuk memegang bola oranye itu lagi dan melemparkannya ke dalam ring.

Soal Kamui? Hmm… sejujurnya ia masih memikirkan cowok itu. Ia terus kepikiran mengenai rencana Kotori untuk mengajak pulang Kamui bersamanya. Apakah adiknya itu benar – benar akan meminta cowok manis itu untuk mengantarnya pulang?

Ugh, setiap kali memikirkan kemungkinan itu, aku jadi tidak tenang, pikir Fuuma. Entah kenapa, aku merasa tidak senang kalau melihat Kotori bersama cowok violet itu. Rasanya, ada sesuatu dalam diriku yang ingin melihat mereka berpisah.

Fuuma menjitak kepalanya sendiri. Kau kakak yang jahat, Fuuma! sisi baik dalam dirinya berteriak. Apa – apaan itu? Padahal tadi kau sendiri yang menyuruh Kotori untuk jangan pulang sendiri! Sekarang saat Kotori bisa menemukan orang yang tepat untuk menemaninya, kau malah ingin memisahkan mereka!

Tentu saja, aku tak ingin Kotori pulang sendiri! Hanya saja, aku tak ingin kalau Kamui yang menemaninya… batin Fuuma. Siapapun boleh menemaninya, asal bukan Kamui…

Kenapa? tanya sisi baiknya itu.

Kenapa? Aku tidak tahu… aku tak tahu kenapa aku tidak suka melihat mereka bersama… Hanya dengan Kamui saja aku tidak ingin Kotori bersamanya…Fuuma menutup matanya. Wajah Kamui terbayang jelas di benaknya. Hanya Kamui SEORANG saja…

Oi, tak mungkin… Fuuma Monou… Jangan – jangan kau jatuh cinta padanya?

Apa? Mana mungkin? Dia itu cowok! Jangan cepat – cepat mengartikan perhatianku seperti itu! Lagipula aku sudah bersumpah tak akan jatuh cinta pada siapapun!

Tapi… Perasaan yang begitu kuat dan emosional sampai – sampai mengalahkan perhatian dan kebutuhan adikmu akan teman… Kau jelas jatuh cinta, Fuuma…Pada cowok bernama Kamui Shirou itu…

BOHONG!

"MANA MUNGKIN!" teriak Fuuma.

"Monou, kau kenapa? Kok teriak – teriak sendiri begitu?" tanya Taku sambil menepuk bahu Fuuma.

Fuuma menoleh ke arah Taku dan langsung salah tingkah. "Uhh… maaf, kurasa tadi aku melamun…"

"Hmmh, dasar aneh. Tidak biasanya kau begitu, Monou," kata Satou sambil meletakkan tangannya di dagu.

Ketika itu, Fuuma, Taku dan Satou sedang dalam perjalanan menuju gedung olahraga untuk berlatih basket. Di bahu mereka sudah tertenteng tas berisi seragam klub basket sekolah mereka dan juga alat – alat yang diperlukan sehabis olahraga nanti seperti handuk dan dua botol penuh air minum.

Fuuma menggaruk kepalanya kikuk. Ia begitu asyik memikirkan Kamui sampai ia tak sadar bahwa ia sudah hampir sampai di tempat tujuannya itu, dan juga merasa sangat bodoh karena sudah berteriak – teriak sendiri di depan kedua temannya di tengah - tengah lapangan sepakbola yang berada dekat gedung olahraga tersebut.

"Monou," kata Satou penuh selidik. "Jangan – jangan kau sudah ketemu ya dengan calon sweetheart-mu?"

Wajah Fuuma langsung panas dengan komentar tepat sasaran itu. "Ma-mana mungkin! Kau tahu aku tak tertarik dengan urusan percintaan begitu!"

"Yah, kau sih bisa bilang begitu pada awalnya. Tetapi yang namanya manusia itu tak bisa mengabaikan nalurinya yang berkaitan dengan rasa cinta dan kasih sayang!" sahut Taku. "Sekalipun itu manusia jenius dan berbakat sepertimu, Monou!"

"Ya, ya, terserah deh!" kata Fuuma, cepat – cepat berbalik dan berlari menuju gedung olahraga, berusaha menghindari pembicaraan tolol yang—sebenarnya—mencerminkan apa yang dipikirkannya sekarang ini.

-ooo-

Gedung olahraga sekolah Fuuma termasuk gedung berbentuk persegi panjang yang cukup besar. Bentuk atapnya melengkung. Tingginya dua lantai dengan cat berwarna putih. Gedung itu memiliki empat pintu masuk dengan masing – masing dua pintu di kedua sisi panjangnya, juga delapan buah jendela di masing – masing sisi atas. Di dalamnya, terdapat satu lapangan basket, dua lapangan bulu tangkis dan satu buah ruang tertutup yang berisi kolam renang.

Latihan basket hari ini diawali dengan latihan peregangan dan pelenturan, diikuti lari keliling lapangan dua puluh kali, squat thrust dan shuttle run lima puluh kali, kemudian push up, back up dan sit up yang masing masing dilakukan seratus kali. Setelah itu, setiap anggota klub berpasangan – pasangan dan melakukan latihan passing atas dan bawah.

Fuuma berpasangan dengan Taku, sementara Satou berpasangan dengan seorang anak kelas dua. Fuuma menunjukkan kepiawaiannya dalam hal passing sampai – sampai Taku harus selalu berusaha menyesuaikan pace Fuuma yang selalu berganti – ganti.

"Sial, Monou! Kau membuat bola basket itu tampak ringan!" kata Satou sambil setengah mengejek Taku yang kewalahan menerima passing. "Si shooting guard kita sampai kewalahan tuh."

"Ha ha, masa' sih? Biasa saja. Aku sedang bersemangat hari ini!" kata Fuuma. "Sudah sejak kemarin aku menantikan latihan ini," lanjutnya sambil melempar bola di atas kepalanya.

"Sama dong," kata Taku sambil menangkap bola passing dari Fuuma itu dan melemparnya balik. "Basket memang menarik. Rasa – rasanya cuma ini kegiatan yang 'waras' di sekolah ini."

"Yah, kau bilang begitu soalnya kau tidak menikmati kegiatan belajar kita di sekolah sih," kata Fuuma. Kedua temannya itu langsung menjulurkan lidah, "Yaa, terang saja. Kau 'kan bintang kelas kita, Monou!" kata mereka diikuti tawa Fuuma.

PRIIITT! Terdengar suara peluit dari pelatih mereka. Semua lemparan bola langsung berhenti. Pelatih kemudian menyuruh mereka untuk latihan shooting dan lay up di masing – masing sisi lapangan. Taku tersenyum karena latihan ini memang latihan yang ditunggunya hari ini.

"Oke! Akan kutunjukkan seberapa hebat aku dalam three points!"

"Yah, semoga saja bolanya tidak nyasar ke bangku penonton seperti pertandingan terakhir lalu," kata Satou.

-ooo-

Jam dua lebih sepuluh.

Kotori dan Kamui sudah berada di depan rumah kuil Togakushi milik keluarga Monou. Kotori membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada Kamui.

"Terima kasih banyak, Kamui-chan. Kau sudah mengantarku pulang dengan selamat! Arigatou!" kata Kotori tersenyum.

"Sama – sama. Aku juga sekalian pulang, kok. Nah sekarang hati – hati ya, Kotori. Jangan sampai kau jatuh pingsan lagi seperti di jalan tadi. Aku khawatir sekali waktu melihatmu tiba – tiba jatuh begitu saja di tengah jalan," kata Kamui, menepuk kepala Kotori dengan sayang.

Wajah Kotori memerah seketika karena wajah Kamui saat itu sangat dekat dengannya, Kotori bahkan dapat merasakan kehangatan tubuh Kamui. Tanpa sadar Kotori menutup matanya, kemudian secara perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Kamui. Kamui kontan terkejut tetapi ia langsung memegang bahu Kotori dan mendorongnya secara refleks.

"Ka… mui-chan?" tanya Kotori bingung. "Kenapa?"

"A-aku…" jawab Kamui panik. "Maaf. Aku belum terbiasa…"

Kotori menundukkan kepalanya dan menggeleng sedih. "Tak apa – apa. Aku yang salah karena tiba – tiba berusaha mencium Kamui-chan."

Suasana tiba – tiba menjadi sangat tidak nyaman. Baik Kamui maupun Kotori sama – sama salah tingkah dengan kejadian barusan. Akhirnya, setelah beberapa saat, Kotori berbalik dan berjalan menuju rumah utama yang berada sekitar sepuluh meter dari gerbang kuil.

"Hari ini, sampai di sini saja. Sampai jumpa besok, Kamui-chan!" Kotori membungkuk dan tersenyum sebelum berlari masuk ke rumah.

Kamui memandang gadis berambut pirang itu dari jauh dengan sedih. Ia sadar ia baru saja menyakiti hati sahabatnya itu. Tetapi, kejadian itu begitu tiba – tiba dan mengagetkan. Lagipula, ada sesuatu dalam diri Kamui yang menolak untuk menerima ciuman dari Kotori itu.

Dan Kamui tahu, bagian itu adalah hatinya yang memikirkan Fuuma.

Memikirkan cowok itu, Kamui teringat dengan pembicaraannya dengan Kotori selama perjalanan pulang tadi. Menurut Kotori, hari ini Fuuma akan latihan basket di sekolah hingga pukul lima sore di gedung olahraga itu. Sejenak Kamui ingat mimpinya tadi malam dan tanpa sadar, Kamui menyentuh bibirnya dan wajahnya memerah.

"Fuuma…"

Akhirnya setelah membulatkan tekad, Kamui berbalik dan berlari kembali menuju sekolah. Tujuan utamanya? Tentu saja gedung olahraga sekolah.

-ooo-

Anggota klub basket sedang berlatih shooting ketika Kamui sampai di gedung olahraga. Dengan diam – diam Kamui menyelinap ke bangku penonton di lantai dua dan melihat ke arah lapangan basket di bawah, mencari – cari Fuuma di antara anggota klub basket yang berseragam merah tua.

Akhirnya setelah mencari – cari dengan sangat berhati – hati, mata violet Kamui menemukan cowok itu sedang berlatih sendirian di salah satu sisi lapangan. Jantung Kamui menjadi berdebar sangat kencang melihat sosok Fuuma yang tampak sangat gagah saat melempar bola ke dalam ring, dan hebatnya, setiap lemparan bolanya itu selalu tepat masuk.

Dia sungguh tampan… dan benar – benar keren… Baik pula… batin Kamui secara tak sadar. Tapi sayang… Dia kakak dari Kotori, sahabatku sendiri…hati Kamui serasa mencelos mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan adik cowok yang disukainya itu.

Mengingat hal itu hanya membuatku terus – menerus merasa bersalah. Lebih baik sekarang aku nikmati saja pemandangan ini, daripada memikirkan masalah yang tak kunjung ketemu solusinya…

Dengan pikiran seperti itu, Kamui duduk di pokok bangku penonton yang tidak terlihat dari lapangan dan menikmati pemandangan sisa latihan basket hari itu.

-ooo-

Tepat pukul lima sore, setelah pertandingan percobaan antara tim gabungan kelas 1 dan kelas 2 melawan kelas 3, latihan basket akhirnya selesai. Sebagian anggota klub basket menuju ke kamar mandi untuk sekadar membasahi tubuh mereka dengan air dingin atau mencuci kaki mereka sebelum membereskan barang – barang. Sementara beberapa ada yang hanya menghanduki tubuh mereka yang penuh keringat, berganti pakaian lalu pulang.

Fuuma termasuk di antara mereka yang pergi ke kamar mandi dulu baru membereskan barang – barangnya. Selain itu, ia juga selesai paling terakhir karena ia diberi instruksi dulu oleh pelatih untuk berlatih lay up dan three points lebih banyak lagi.

Ketika Fuuma selesai membereskan barang – barangnya, seluruh anggota klub basket, termasuk Taku, Satou dan Pak Pelatih telah pergi meninggalkan gedung olahraga. Sambil menghela napas panjang karena kesal telah ditinggal, Fuuma mengangkat tasnya dan berjalan menuju pintu keluar gedung ketika ia mendengar suara gedebuk aneh dari salah satu bangku tempat duduk penonton.

Fuuma secara refleks berteriak, "Hey, tunjukkan dirimu, penyusup!" dan ia kemudian terkejut bukan kepalang ketika si 'penyusup' itu menampakkan diri.

"Ka-Kamui? Ngapain kau di sini?" tanya Fuuma kaget sekaligus salah tingkah.

-ooo-

Kamui lebih kaget lagi karena Fuuma berhasil menemukannya. Ia tahu semestinya ia tadi tidak terburu – buru menuruni tangga karena takut terkunci di dalam gedung olahraga sampai terjatuh. Tetapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Fuuma telah mengetahui kalau ia berada di sini di mana semestinya ia sudah pulang dari tadi bersama adik Fuuma.

"Maaf…" kata Kamui dari atas bangku penonton. "Maaf karena aku sudah menyelinap ke sini."

Fuuma menghela napas pendek tetapi ia tampak senang. Ia kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum padanya. "Ya sudah, ayo turun Kamui! Kuantar kau pulang!"

Dada Kamui berdesir hangat mendengar namanya disebut. Ia cepat – cepat menuruni tangga dari bangku penonton menuju lapangan basket tempat Fuuma berada. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan Fuuma sudah berpindah tempat dan berada tepat di dekat tangga sambil mengulurkan tangannya.

"Fuuma…" kata Kamui sambil menerima uluran tangan Fuuma. "Maaf, aku sungguh – sungguh minta maaf karena telah menyelinap masuk ke sini. Padahal semestinya selain anggota klub tidak boleh masuk ke sini ya…"

Fuuma tertawa dan menepuk kepala Kamui, "Tak apa – apa. Kalau misalnya tadi kau ditemukan anak lain selain aku, paling – paling kau hanya akan dianggap sebagai calon anak basket. Oh, tapi jangan – jangan kau menyelinap masuk ke sini karena memang ingin masuk klub ya?"

Wajah Kamui memerah. "Eng, tidak… Aku hanya ingin melihat – lihat…"

"Kau ingin lihat – lihat gedung olahraga ini? Apakah di sekolahmu di Okinawa dulu tidak ada gedung olahraga?" tanya Fuuma, wajahnya sangat dekat dengan Kamui, membuat jantung Kamui berdebar lebih kencang.

"Tidak… ada…" jawab Kamui terbata – bata.

Fuuma mengangkat wajahnya dan meletakkan tangannya di dagu. "Oh begitu. Ya sudah, mumpung aku ada di sini, bagaimana kalau kuajak kau berkeliling melihat – lihat gedung ini? Tenang saja, gedung olahraga ini tidak akan dikunci kok. Soalnya hari ini aku yang pegang kuncinya," kata Fuuma sambil mengedipkan matanya. Ia menggenggam erat tangan Kamui yang dipegangnya (membuat Kamui salah tingkah) dan menariknya untuk berjalan – jalan di gedung olahraga itu.

-ooo-

"Di sebelah sana ada ruang yang berisi kolam renang. Biasanya kolam itu hanya dipakai pada akhir minggu saat ekskul renang…"

Fuuma dan Kamui berjalan mengitari gedung olahraga raksasa itu dengan santai. Walau matahari sudah mulai terbenam, Fuuma masih tetap bersemangat menjelaskan panjang lebar mengenai gedung itu. Meski begitu, tangannya tak pernah melepaskan tangan Kamui. Ia terus menggenggam erat tangan yang halus seperti perempuan itu.

Kamui sendiri nyaris tak memperhatikan penjelasan Fuuma. Ia hanya menikmati kesempatan untuk berdua saja dengan cowok yang dicintainya itu. Matanya tak henti – hentinya melihat ke arah cowok yang lebih tinggi darinya itu. Tangannya yang digenggam Fuuma sampai gemetar saking senangnya.

"…Jadi, biasanya diadakan giliran untuk memegang kunci gedung ini di antara anak klub basket. …Kamui? Kau mendengarkanku?" tanya Fuuma, membuat Kamui langsung kikuk karena sadar ia telah memandang Fuuma dengan tatapan yang nyaris – nyaris kosong.

"Iya, aku mendengarkan!" jawab Kamui cepat. "Maaf!"

"Kamu aneh deh. Dari tadi minta maaf terus… Tapi lucu juga. Wajahmu jadi merah semua begitu…" kata Fuuma sambil tersenyum nakal. Kamui jelas gelagepan dengan pernyataan itu. Ia pura – pura merajuk dan memukul – mukul punggung bahu Fuuma.

"Sudah – sudah! Ayo! Sekarang temani aku menyalakan lampu di gedung ini. Tempatnya ada di atas sana," kata Fuuma, menunjuk sebuah ruang kecil di dekat bangku penonton di lantai dua. "Di sana biasanya juga tempat untuk komentator dalam pertandingan."

"Oh, oke…" kata Kamui. Kali ini ia yang menggenggam tangan Fuuma duluan. Jantung Fuuma berdetak keras merasakan sentuhan lembut cowok itu di tangannya dan diam – diam, ia menyembunyikan dari Kamui kalau wajahnya juga berubah semerah tomat.

Setelah menaiki tangga, kedua cowok itu sampai di sebuah ruang kecil dan gelap berbentuk persegi dengan jendela yang menghadap ke arah lapangan. Di dalamnya terdapat beberapa panel, dua buah headphone dan dua buah mike yang digunakan oleh komentator dalam pertandingan. Selain itu terdapat satu buah kotak yang dipaku di dinding yang di dalamnya terdapat tombol untuk lampu di lapangan.

Fuuma mendekati panel lampu itu dan menekan semua tombol yang ada di situ. Satu persatu lampu di dalam gedung itu menyala. Ruang – ruang yang tadinya gelap itu mulai terang dan membuat suasana dalam gedung itu terasa lebih hidup.

"Bagus 'kan?" tanya Fuuma sambil menekan tombol yang terakhir. "Aku paling suka melihat gedung ini waktu malam." Kamui mengangguk dan tersenyum. Aku suka gedung ini kapan saja, asal ada kamu…batin Kamui. Ia melirik ke arah Fuuma dan menemukan Fuuma menekan tombol terakhir berkali – kali.

"Duh, kenapa tidak mau menyala ya…"

"Ada apa, Fuuma?" tanya Kamui sambil mendekat.

"Ini," kata Fuuma dengan nada kesal. "Lampunya tidak mau menyala… Rusak mungkin. Ruang ini memang jarang dipakai akhir – akhir ini."

Kamui mendekat ke panel lampu dan meneliti jaringan yang menyambungkan panel itu dengan lampu di ruangan itu. "Sepertinya ada kabel yang putus di atas sana. Mungkin digigit tikus. Coba aku lihat…" Kamui berjalan menuju tempat kabel yang putus itu ketika tak sengaja kakinya tersangkut salah satu kabel headphone yang melintang di bawah dan nyaris jatuh terjerembab…

…Kalau saja tidak ada Fuuma yang bereaksi cepat dan menahan jatuhnya Kamui dengan tubuhnya yang besar.

"Kau tak apa – apa, Kamui?" tanya Fuuma, nada suaranya terdengar agak panik.

"Aku tidak apa – apa…" kata Kamui, agak oleng gara – gara disorientasi dalam kegelapan. Ia mengangkat wajahnya dan sangat kaget menemukan dirinya berada dalam pelukan Fuuma. Kedua lengan Fuuma yang besar dan kuat melingkar di pinggang kecilnya dan merapatkan tubuh Kamui ke tubuhnya, menahan jatuhnya, sementara kepala Kamui bersandar di dada Fuuma yang lebar dan bidang. Wajah mereka sangat dekat satu sama lain. Kamui kini dapat melihat lebih dekat mata emas yang membiusnya sejak kemarin.

Tubuh Kamui langsung terasa lemas dan tak berdaya. Jantungnya berdebar sangat keras sampai – sampai terasa menyakitkan. Dadanya berdesir hangat dan wajahnya panas. Tangannya yang berada di bahu Fuuma meremas baju cowok itu dengan erat.

Ya Tuhan… Jangan – jangan mimpiku jadi kenyataan…

Setelah beberapa saat tak ada pergerakan, pelan – pelan, Fuuma menurunkan kepalanya sedikit dan menutup matanya. Perlahan tapi pasti wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat… begitu dekat sampai akhirnya bibir mereka bertemu…

Kamui terkesiap.

Mimpiku… benar – benar menjadi nyata…

-ooo-

Fuuma sudah tak mampu menahan dirinya lagi. Saat itu juga ketika ia sepenuhnya bisa merasakan tubuh cowok bermata violet itu dalam pelukannya, ia sudah nyaris kehilangan kontrol atas akal sehatnya.

Tubuhnya begitu kecil seperti perempuan, rapuh dan mudah hancur… Wajahnya benar – benar terlihat manis di bawah temaram gelapnya ruang itu… Dan mata violetnya itu… seperti menembus ke dalam kalbuku yang paling dalam…

Tiba – tiba Fuuma merasakan gejolak kuat dari dalam perutnya. Dadanya berdesir panas dan tubuhnya terasa bergetar dengan hasrat yang bergejolak tiba – tiba. Fuuma berusaha menahannya, tetapi gejolak perasaan itu begitu kuat dan menguasainya. Fuuma bingung. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini pada siapapun sebelumnya.

Benarkah… benarkah aku jatuh cinta pada Kamui?

Tak kuasa menahan perasaannya lagi, Fuuma dengan perlahan tapi pasti mendekatkan wajahnya ke cowok yang tubuhnya lebih kecil darinya itu. Fuuma nyaris berharap Kamui akan mendorongnya menjauh, namun Kamui bahkan tidak bergerak sedikitpun. Mungkinkah ini kepastian bahwa Kamui menerimanya?

Dengan itu, bibir mereka akhirnya bertemu.

Sungguh lembut… bibirnya mungil dan terasa sangat lembut… Inikah… Inikah rasanya berciuman itu? Selama ini aku selalu heran kenapa Taku dan Satou begitu menggembar – gemborkan nikmatnya ciuman dengan orang yang disukai… Dan bahkan mengejek – ejek mereka. Tetapi sekarang… aku malah…aku malah…

Fuuma menekankan bibirnya lebih rapat ke bibir Kamui, seperti hendak mencuri napasnya. Kamui yang tadinya diam tak bergerak mulai balas mencium dengan energi yang sama yang diberikan Fuuma.

Sambil tetap menekankan bibirnya satu sama lain, Fuuma mulai mendorong tubuh Kamui ke bawah sampai akhirnya tubuh Kamui menempel di tanah. Tubuhnya tiba – tiba terasa panas membara, dibakar api cintanya pada Kamui.

Akhirnya… aku menemukanmu…Aku menemukanmu… Cinta sejatiku…

-ooo-

Kamui tak menolak ketika Fuuma mendorongnya pelan ke lantai. Ciuman mereka memang semakin lama semakin penuh emosi dan gejolak. Meski begitu, Fuuma tampak agak bingung dan kikuk, seperti tak yakin dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Kamui melingkarkan tangannya di sekeliling leher Fuuma dan menjilat bibir Fuuma. Fuuma terlihat agak terkejut tapi ia membuka sedikit mulutnya.

Dengan cepat Kamui menjilat bagian dalam mulut Fuuma dengan bersemangat seperti seorang ahli. Fuuma awalnya agak bingung dan hanya diam saat Kamui menjilat dan sedikit mengigiti lidah Fuuma. Tetapi, setelah beberapa saat, dikontrol oleh nafsunya, Fuuma balas menciumnya dan tak lama kemudian, mereka sudah berada dalam ciuman yang panas.

Setelah sekian lama, Fuuma menarik dirinya dan melepaskan bibir Kamui untuk bernapas. Napasnya terengah – engah dan wajahnya tampak berkeringat. Tetapi energi yang terlihat di matanya seperti api yang berkobar.

"Kamui…"

"Fuuma…"

Fuuma kembali salah tingkah dan lalu mengangkat tubuhnya dan melonggarkan kerah bajunya.

"Maaf… kau… kau pasti marah karena aku…" Fuuma tak mampu melanjutkan, wajahnya berubah merah seperti tomat segar. Suaranya begitu pelan dan terdengar seperti air yang berdeguk. "Kau pasti menganggapku aneh…"

Kamui bangun dari posisinya dan menggeleng cepat. "Tidak apa – apa…"

Suasana di antara mereka kemudian menjadi kaku dan kikuk untuk beberapa saat. Sampai akhirnya suara Kamui muncul memecah keheningan. "Fuuma, kenapa kau melakukan itu? Maksudku… kenapa kau menciumku?"

Fuuma menundukkan kepalanya dan meletakkan tangannya di atas pangkuannya. "Maaf… sebelumnya aku… sungguh – sungguh minta maaf…"

"Tidak apa – apa… Katakan saja…" kata Kamui, suaranya tampak lebih tenang daripada saat ketika mereka bertemu tadi.

Fuuma memandang cowok manis di hadapannya itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Haruskah aku mengatakannya? Bagaimana kalau nanti ia malah merasa jijik dan menjauhi aku dan Kotori? Oh tidak… Kotori! Ya Tuhan Fuuma! Kau baru saja mencium cowok yang disukai adikmu!

"Ya Tuhan… maafkan aku, Kotori…" kata Fuuma, terlihat sangat menyesal. "Kamui… Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Maaf…"

Seketika Kamui merasa ada timah panas yang meleleh dalam dadanya. Ia merasa sangat sedih dan tak karuan, dan kemudian, secara perlahan, air matanya mulai menetes. Fuuma kaget dengan reaksi Kamui dan cepat – cepat menghapus air matanya.

"Kamui…?"

"Lepaskan tanganmu!" teriak Kamui tiba – tiba sambil menyentakkan tangan Fuuma, suaranya bergema dalam ruangan sempit itu. "Percuma saja aku melakukan semua ini. Ternyata kau memang hanya menganggapku sebagai teman adikmu. Tak lebih dari itu!"

"Apa maksudmu, Kamui?" tanya Fuuma, benar – benar bingung dengan reaksi Kamui.

"'Apa maksudmu, apa maksudmu'… Jangan berpura – pura baik Fuuma! Kau benar – benar jahat. Kamu mempermainkan perasaanku!" air mata Kamui sudah tak terbendung lagi.

Fuuma mengusap air mata Kamui dengan sabar. Dengan hati – hati ia bertanya, "Mempermainkan perasaanmu? Bagaimana bisa?"

"Dasar bodoh!" teriak Kamui lagi. "Bukankah kau baru saja MENCIUMku? Kuberitahu ya, kau tak bisa sembarangan mencium orang di bibir seperti itu! Atau kau memang terlalu bodoh untuk mengerti arti ciuman sebenarnya? Apa kau terlalu terpesona dengan perhatian semua orang dan ketenaran sehingga kau merendahkan arti sebuah ciuman?"

"Kamui, aku tidak…"

"Sudah cukup! Sudah cukup! Akulah yang memang cukup bodoh karena mengira kau menciumku karena kau menyukaiku! …. Padahal… Padahal kukira mimpiku akhirnya jadi kenyataan… Aku memang bodoh…" Kamui menekapkan kedua telapak tangannya ke muka, menutup tangisan air matanya.

Fuuma merasa amat bersalah karena membuat Kamui yang sebenarnya sangat ia cintai itu menangis. Ia sangat bingung dengan reaksi Kamui itu, bingung dengan semua perkataannya. Apakah itu berarti Kamui juga mencintainya? Ia ingin memastikan itu semua… Ia ingin memeluk Kamui… Tapi tangannya gemetar. Bahkan melihat pada Kamui pun, Fuuma tak sanggup lagi.

Suasana di antara mereka menjadi senyap dan dingin. Baik Fuuma maupun Kamui tidak berkata apapun lagi, sibuk dengan pikiran mereka masing – masing. Fuuma, yang merasa bersalah karena telah menyakiti hati Kamui yang disayanginya… Kamui, yang merasa telah ditipu dan merasa sakit hati pada Fuuma…

"Sudah malam…" kata Kamui akhirnya, bangkit dan membersihkan bajunya yang sedikit terkena debu. Fuuma menatap cowok itu mengusap air matanya, lalu mulai berjalan keluar tanpa menoleh kepadanya sedikitpun.

"Kamui…" kata Fuuma dengan suara lemah.

Kamui berhenti tepat di depan pintu, menoleh sebentar pada Fuuma dan berkata, "Selamat tinggal…"

TO BE CONTINUED…

A/N : chap 2 done! XD gimana? Gimana? Sudah cukup hot-kah? *dijitak Kamui* Yak pembaca, author memohon reviewnya yaa~ *munak banget saya* huhu…