Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Date a Live © Koshi Tachibana

Summary : Jika para spirit wanita tidak muncul di Kota Tenguu, melainkan di dunia shinobi, khususnya Konoha. Apa yang akan dilakukan Naruto untuk mempertahankan kedamaian yang sudah susah payah ia raih dari ancaman makhluk yang disebut spirit itu? Apa yang akan terjadi pada kehidupan Naruto selanjutnya? Simak saja ceritanya. . . . . [Naruto Hareem][No Lemonade Juice]..

Genre : Adventure, Humor, & Little bit Romance

Rate : T M = (Semi M)

Setting : Canon dunia shinobi, Konoha, 6 tahun setelah Movie The Last.

Warning : Maybe Humor, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak Chara, dll.

Pair : Naruto Mass Hareem

Ahad, 13 Desembar 2015

Happy reading . . . . .

Spirit, Uzumaki, dan Kekacauan

By Si Hitam

Chapter 2. Sang Diva, Miku.

Pagi yang cerah, hari ini hari minggu jadi waktunya untuk bersantai. Hal wajar bagi kebanyakan orang untuk bangun lebih siang daripada biasanya. Itu untuk kebanyakan orang, pengecualian untuk Naruto. Naruto bangun kesiangan karena suatu hal, tapi bukannya bangun di kasur didalam kamarnya sendiri, melainkan bangun di sofa.

"Hoooaaammm" Naruto menguap, masih belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya.

Mengucek-ngucek mata sebentar, ada banyak kotoran dimatanya. Memang begitu, Naruto rada jorok. Diapun menatap kesekeliling, sedikit heran karena tidak bangun di kasurnya.

"Kenapa aku tidur disini ya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

Karena pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri, jadi diapun berpikir untuk menjawabnya.

Berpikir sejenak, hingga teringat suatu hal.

"Oh iya yaa... Kemarin malam kan aku di jyuken Hinata. Aaarggh, , , , pantas punggungku masih terasa sakit"

Flasback Start...

Naruto yang sudah siap tidur di kamarnya, bahkan sudah berbaring dan hanya tinggal menutup mata saja, tiba-tiba bangkit dan duduk. Hal ini tentu saja membuat perempuan yang disampingnya penasaran.

"Ada apa lagi, Naruto-kun?" Hinata bertanya, dia juga belum tidur. Heran saja, padahal biasanya Naruto akan tidur lebih dahulu daripada dirinya karena kelelahan sehabis beraktifitas siang hari.

"Ahhh, , , , , Hinata. Ku kira kau sudah tidur. Aku ingin buang air." jawab Naruto.

"Umm. . . . ." sahut Hinata seadanya.

Naruto pun berjalan keluar, ke kamar mandi yang terletak dekat dengan dapur. Rumahnya sekarang tidak terlalu besar, rumah yang sangat pas untuk ditinggali oleh keluarga kecilnya yang beranggotakan empat orang, jadi hanya ada satu kamar mandi di rumah ini.

Sampai didepan pintu kamar mandi, langsung saja membuka pintunya. Sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah pintu kamar mandi terbuka, Naruto melihat seseorang gadis duduk di closet sedang melongo dan menatapnya balik.

"Eh, Tohka-chan? ngapain disini" tanya Naruto.

Naruto memang dari sananya bodoh, pake nanya lagi. Jika ada seseorang sedang duduk di closet, ya jelaslah sedang buang air.

Tohka, yang baru saja sadar. Langsung saja menurunkan bagian bawah baju kaosnya hingga paha. Beruntung kaos itu lumayan panjang sehingga tidak ada area berbahaya yang terlihat. Dan sebagai seorang gadis, tentu saja respon yang keluar,,,

"KYAAAAAAA" Tohka berteriak kencang. Mengambil tissu disampingnya, sekalian dengan wadah tissunya yang ternyata terbuat dari logam yang lumayan berat dan langsung saja dilemparkan ke wajah Naruto.

Duggg...

Naruto yang terkena lemparan benda logam, terhunyung-hunyung kebelakang. Tapi penderitaan Naruto sepertinya belum behenti sebab,,,,,

Jyuken

Buggg...

Perut Naruto yang jadi sasaran.

Braakk...

Naruto terhempas didinding lalu terduduk dilantai.

Kepala Naruto benjol karena lemparan Tohka, dan lidahnya keluar serta matanya yang kehilangan pupil, tepar akibat Jyuken tanda sayang dari sang istri.

"Tohka-chan. Kalau sudah selesai, segera tidur di kamarmu" kata Hinata.

"Ha'i... Hinata-sama" Tohka menurut.

"Dan kau Naruto-kun. Kau tidur diluar..!" kata Hinata lalu kembali kekamar meninggalkan suaminya yang sedang tepar dan tak sadarkan diri lagi.

Flashback End...

"Ugghh, itteteteee,,, sakit sekali. Pukulan Hinata ternyata lebih menyakitkan dari jitakan Sakura" Naruto mengaduh sekali lagi.

Naruto bangkit hendak bangun, tapi "Eh...?" bobot tubuhnya serasa bertambah berat. Bukan, tapi ada seseorang yang sedang menindih badannya.

Naruto mengarahkan matanya pada orang yang menindihnya, seorang perempuan dengan rambut yang berwarna gelap. Aah, ini rambut istrinya. Ternyata Hinata memang wanita lembut yang tidak bisa marah berlama-lama, pikir Naruto senang.

Tapi ketika perempuan itu bangun, dan balik menatapnya, lalu berkata "Ohaiyo, Naru"

Ohh,,, tidak. Kalau Hinata yang bicara manis seperti tadi, tentu Naruto senang. Tapi ini,,,,,

"To-Tohka-chan. Nga-ngapain kamu disitu?" tanya Naruto gagap.

Tohka bangun, namun tidak menjauh. Malah sekarang dia merayap ditubuh Naruto dan duduk diatas perutnya.

"glek.." Naruto meneguk ludah.

Pagi-pagi Naruto sudah menyaksikan pemandangan yang, WOOOWWW,,,... Tohka hanya mengenakan dalaman saja, sebuah celana dalam dan bra yang Naruto yakini milik Hinata. Ukurannya ngepas banget, ya memang karena postur tubuh dan lekukan-lekukannya sama persis antara Tohka dan Hinata. Naruto belum sempat berbelanja pakaian untuk penghuni baru dirumahnya, baru 2 hari Tohka menumpang.

Tapi itu belum seberapa, yang membuat Naruto semakin merinding pagi-pagi adalah saat ini Tohka semakin mencondongkan badannya kebawah, wajah mereka berdua semakin dekat, bibir mereka hampir bersentuhan, dan,,,,

"Nee, Naruuu. Hari ini aku mau kencan ramen" pinta Tohka manja. Badannya bergelayut manja diatas Naruto, membuat Naruto langsung tegang ( *itunya yang tegang ) pagi-pagi.

"Aaa,,," ucapan Naruto dipotong oleh suara lain.

"Tohka-chan. Pakai pakaian mu dengan benar dulu kalau mau berkeliaran dirumah" suara bernada lembut.

"Laksanakan,,!, Hinata-sama" jawab Tohka riang. Lalu langsung bangkit dari atas tubuh Naruto, berlari menuju kamar, tapi sebelum itu, "Naru, Jangan lupa ya. Siang ini kencan ramen",

"Glek" menelan ludah serasa menelan biji salak. Naruto semain merinding ketika Hinata tampak sudah mengaktifkan Byakugan.

Jyuken

Dan Naruto pun lagi-lagi berakhir tepar. Kasihan Naruto, sebelum tidur di Jyuken dulu, bangun tidur pun dikasih Jyuken lagi.

.

"Kami-sama. Terima kasih atas makanan yang telah kau berikan pada kami" seru Naruto, berdoa setelah menyelesaikan sarapan. Kemudian beranjak berdiri.

"Tunggu dulu, Naruto-kun. Duduklah, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu" kata Hinata.

Naruto sarapan berdua saja dengan Hinata. Tohka sudah sarapan bersama Bolt, sedangkan Himawari sudah diberi ASI oleh Hinata. Naruto sarapan terlambat, karena cukup lama dia pingsan dan tidak ada yang memperhatikannya setelah terkena Jyuken selamat pagi dari Hinata tadi. Hinata pun belum sarapan, dia menunggu suaminya sadar. Dia istri berbakti, tapi sayang nasib rumah tangganya sedang kacau sekarang.

"Tentang apa?" tanya Naruto yang sudah kembali duduk.

"Tentang Tohka-chan. Kau tahu kan kekuatan spiritnya belum disegel?"

"Ya tahu lah. Itu kan karena dia belum ku cium" jawab Naruto enteng. Begitulah seharusnya, untuk menyegel kekuatan spirit, harus lakukan sebuah ciuman sesuai yang tertulis di volume terakhir serial novel Icha-Icha Paradise karangan Jiraiya.

Hinata mendelik tajam.

"Ah,,, maaf. Teruskan" Naruto tentu tidak ingin menerima Jyuken lagi.

"Kemarin aku membicarakan tentang ini pada Rokudaime-sama, Tsunade-sama dan beberapa tetua lainnya. Mereka menyarankan untuk menyegel Tohka-chan kedalam tubuh seseorang"

"Hah?" Naruto terkejut, "Mereka pikir Tohka-chan itu biju? Seenaknya main segel. Memangnya bisa ada manusia yang menjadi jinchuriki spirit?" kata Naruto tidak terima.

"Aku juga tidak setuju, kasihan Tohka-chan kalau kebebasannya direnggut. Karena itu aku mencari cara lain"

"Lalu?"

"Aku membuka dan membaca lagi semua koleksi novel Icha-Icha karya Jiraiya-sama dari yang pertama hingga terakhir."

"Eh?" Naruto lagi-lagi terkejut. 'Kalau membaca novel begituan untuk menambah referensi kegiatan malam kita, harusnya kita membacanya bersama,' pikir Naruto nista.

"Jangan berpikir macam-macam, Naruto-kun" kata Hinata yang seakan tahu apa yang dipikiran suaminya, "Aku membacanya, siapa tahu ada informasi lagi tentang spirit di novel itu"

"Ahh, lalu hasilnya?"

"Spirit itu datang dari suatu tempat yang tidak diketahui. Mereka bertindak berdasarkan emosi dan insting mereka. Jika emosi mereka tidak stabil, mereka akan mengamuk dan timbul spacequake seperti saat Tohka-chan pertama kali datang kesini"

"Begitu, lalu apa lagi?"

"Di novel itu, jika spirit sudah ditaklukkan. Maka pria yang menaklukkannya tidak boleh berada jauh-jauh dari spirit, agar emosinya tetap terkontrol. Spirit akan terus menempel pada pria yang telah membuatnya jatuh hati. Jika dijauhkan, spirit bisa mengamuk"

"Oooh. Jadi itu alasannya kenapa Tohka-chan tinggal dirumah kita?"

"Yaa. Aku sendiri yang membawanya kerumah ini..." jawab Hinata.

"Haaaahh.? Pantas saja dia ada dirumah kita, ternyata kau sendiri yang membawanya. Apa tidak bisa kita pulangkan saja Tohka ketempat asalnya?"

"Tidak tahu. Di novel Icha-Icha, sama sekali tidak dituliskan cara memulangkan spirit ketempat asalnya" jawab Hinata, kali ini dengan ekspresi seperti orang depresi.

Di Konoha, hanya Naruto saja, pria yang bisa diharapkan untuk memikat hati gadis spirit. Tapi Naruto itu bodoh dan terlalu naif, dan berhubung Hinata adalah istri sah Naruto, maka mau tidak mau hal ini juga menjadi tanggung jawab Hinata. Inilah yang menjadi beban pikiran Hinata.

Hening, tidak ada pembicaraan lagi.

"Aku mau mencuci piring. Kita bicarakan hal ini lain kali saja kalau ada informasi baru" kata Hinata.

"Baiklah, aku juga mau mandi" sahut Naruto.

Naruto beranjak dari ruang makan, sedangkan Hinata mencuci piringnya. Beberapa menit kemudian, saat Hinata hampir menyelesaikan kegiatan mencuci piring, Hinata seperti mengingat sesuatu.

"Oh,,, ya ampun. Aku lupa"

Sementara itu dikamar mandi,,

"Lalalaalalaaaa" Naruto bersenandung ria ala anak alay saat hendak masuk kekamar mandi. Dia hanya mengenakan selembar handuk yang melilit pinggangnya.

Cklekkk,,,

Pintu kamar mandi terbuka, dan ada hal yang membuat mata Naruto membulat.

Tohka sedang memandikan Bolt dan Himawari. Himawari cekikikan di bathtube khusus bayi karena Tohka yang mengusap-ngusap badannya, sedangkan Bolt sedang asik berendam sambil main bebek-bebekan.

Tapi bukan hal itu yang membuat Naruto terkejut, Tohka sedang telanjang bulat, mungkin dia sekalian ikut mandi juga. Naruto pernah melihat tubuh telanjang perempuan, tubuh istrinya, istri sahnya, Hinata. Tapi ini perempuan lain, Naruto merasa akan menerima hal buruk lagi.

Dan benar saja,,,,

Jyuken

Brakkkk...

Naruto lagi-lagi terkapar, kali ini dengan posisi nungging telanjang, handuk yang tadi melilit pinggangnya entah melayang kemana.

pukpukpuk...

Hinata menepukkan kedua telapak tangannya, dia tersenyum puas karena sudah selesai menghadiahi suaminya dengan jyuken penuh cinta. Hinata tidak sadar kalau ini salahnya sendiri, padahal ia yang sebelumnya meminta Tohka untuk memandikan Bolt dan Himawari sementara dia sarapan bersama Naruto, dan lupa memberitahu kepada Naruto tadi. Tapi Hinata tidak ingin mengakui kesalahannya, jadi Naruto lah yang menanggung akibatnya.

.

"Naruu, kencan ramen. Aku mau kencan rameeen..." Tohka merengek-rengek agar keinginannya dipenuhi. Dia menarik-narik ujung baju Naruto.

Naruto sedang dirumah, karena hari ini sedang tidak ada kerjaan. Tapi ada suatu hal yang membuat dia tidak bisa mengabulkan keinginan Tohka.

"Nanti ya, Tohka-chan"

"Enggak maaauuuu. . . . Aku mau kencan ramennya sekaraaaang..." Tohka terus merengek.

"Aku beneran ga bisa, Tohka-chan. Aku sibuk"

"Tapi, Naru,, hiks,,hiks... huueeeee" sekarang Tohka menangis seperti anak kecil.

"Naruto-kun. Turuti saja keinginan Tohka-chan. Hima-chan juga ikutan nangis karena tangisan Tohka-chan" kata Hinata yang sudah berada didekat Naruto. Hinata sedang menimang Himawari yang tidak kunjung berhenti menangis.

Keadaan saat ini, seperti keluarga Uzumaki yang mengadopsi bayi besar, Tohka. Dia sudah seperti anak kandung Naruto dan Hinata saja.

"Tapi,,," Naruto enggan mengiyakan.

"Apa lagi? Kau sedang tidak ada kegiatan juga hari ini kan? Atau kau ingin Tohka-chan mengamuk dan membuat bencana lagi?"

"Ahhh, itu ,,,, sebenarnya uangku habis. Heheheee, lagian karena sudah damai, jarang ada misi"

"Ck" Hinata berdecak kesal.

"Boleh aku minta uang?"

Mungkin hanya seorang Naruto saja didunia ini, yang berani secara terang-terangan meminta uang pada istri untuk biaya kencannya dengan gadis lain.

Hinata memasang wajah datar, lalu timbul seringaian tipis dibibirnya.

"Tohka-chan. Berhentilah manangis, Naruto-kun pasti mau mengajakmu kencan ramen kok"

Mata Tohka berbinar bahagia, dia langsung menurut dengan ucapan Hinata. Himawari akhirnya berhenti menangis karena Tohka sudah tidak menagis lagi. Hinata beranjak kekamar, meletakkan Himawari ke babybox dan mengambil sejumlah uang kertas.

Tidak lama kemudian, Hinata kembali.

"Nah, Naruto-kun. Kau duduklah di sofa!" perintah Hinata. Naruto menurut saja.

"Kemari, Tohka-chan" panggil Hinata.

Hinata membisikkan sesuatu ditelinga Tohka, lalu dia meletakkan uang kertas yang ia ambil tepat di belahan dada tohka yang kebetulan terlihat jelas karena kerah leher kaos yang dipakai Tohka terlalu lebar. Uang kertas tadi terjepit diantara belahan dada Tohka.

Tohka pun langsung melaksanakan aksinya, sesuai instruksi Hinata.

Naruto tentu saja heran, ditambah lagi sekarang Tohka yang sedang merangkak dilantai semakin mendekat kearahnya yang sedang duduk disofa layaknya penari klub malam. Kelihatan jelas dari posisi Naruto, dada Tohka yang,,, Ugghhh...

kretak,kretakkk...

Hinata melemaskan jari jemarinya,

Byakugan

Mata sakti Hinata juga sudah aktif.

"Neee, Naruto-kun. Kalau ~*piiiiip*~mu sampai tegang sedikit saja, aku akan memberikan sentuhan lembut pukulan jyuken disana. Kau selalu suka kan ketika aku memberi sentuhan lembut di bagian tubuhmu yang itu setiap malam?" kata Hinata dengan wajah seperti seorang psikopat.

"Glekkk" ooooh, , , ini benar-benar menyiksa Naruto.

"Ja-jangan... Kalau kau menggunakan Jyuken, nanti mainanmu setiap malam bisa rusak Hinata" kata Naruto, memcoba membujuk Hinata. Mengingatkan kalau bagian itu bukan hanya milik Naruto saja sekarang, tapi juga sudah menjadi milik Hinata sejak mereka menikah.

"Aaaahhh~~~" Hinata berseru dengan nada sing a song, "Tenang saja, Naruto-kun. Aku tidak akan merusak mainan kesukaanku. Lagipula kalaupun kena jyuken, nanti malam juga sudah sembuh dengan sendirinya kok, tapi rasa sakitnya luar biasa loh. Rasanya seperti nyawamu sedang dicabut malaikat maut" kata Hinata lagi, dengan suara yang sengaja dibuat-buat lembut.

"TIIDAAKKKK..."

[Author tidak ingin melanjutkan scene ini lagi karena terlalu menyedihkan untuk Naruto. Jadi bayaning aja masing-masing yaaaa...]

.

.

.

"Temeee, ku mohooon. Mau yaa . . . . ." kata Naruto memelas.

"Dobe, berhenti. Kau membuat kita tampak seperti pasangan homo yang bertengkar ditengah jalan" balas Sasuke.

Ya, seperti itulah keadannya sekarang. Naruto dan Sasuke seperti pasangan homo yang sedang bertengkar di jalanan Konoha yang sangat ramai. Dan para warga pun berhenti untuk menyaksikan ini, hal menarik untuk jadi tontonan sore dari seorang pahlawan Konoha.

"Aku tidak peduli, mau ya, mau yaaa... Hanya dua hari saja dalam seminggu kau menampung Tohka dirumahmu, lima harinya dirumahku" tawar Naruto lagi.

Sebenarnya, Naruto sedang membujuk Sasuke agar mau menampung Tohka. Dia tentu tidak ingin setiap hari menderita karena keberadaan Tohka dirumahnya. Ini memang sudah menjadi kewajiban Naruto, tapi wajarkan Naruto ingin libur mengurus Tohka dan menikmati hidup normal?

"Sampai kapanpun aku tidak akan menuruti keinginanmu, Dobe" balas Sasuke.

"Kau ini sahabatku atau bukan sih?"

"Hn..."

Hal tidak terduga terjadi, tiba-tiba suara gemuruh terdengar menggema menyakitkan telinga, dimensi ruang beberapa puluh meter diatas permukaan tanah Konoha sebelah barat terjadi distrosi. Tercipta ruang berbentuk bola kehitaman besar dengan diameter lebih dari seratus meter, dan dalam sekejap bola itu hilang kembali. Yang tersisa hanyalah kawah besar di permukaan tanah disertai lenyapnya pepohonan rimbun yang banyak terdapat di barat Konoha. Beruntung tidak ada korban, karena wilayah itu bukan untuk pemukiman.

"Kita lihat apa yang terjadi, Dobe!" Sasuke yang lebih dahulu tanggap.

"Ah, ya" sahut Naruto

Tidak perlu waktu lama untuk ninja hebat seperti mereka berdua agar sampai ditempat kejadian. Seperti yang sudah mereka duga, ada fenomena spacequake yang terjadi lagi. Dan seperti sebelumnya, spacequake lagi-lagi menyisakan seorang gadis, lebih tepatnya gadis spirit.

Spirit yang muncul kali ini tak kalah cantik dengan Tohka. Gadis spirit itu berambut panjang berwarna indigo terang, serta iris mata berwarna senada dengan rambutnya. Dia memakai pakaian seperti seorang putri yang dominan berwarna kuning dan diselingi warna biru dan putih. Spirit yang belum diketahui namanya itu sedang berdiri angkuh ditengah-tengah kawah hasil dari spacequake tadi.

ANBU dan ninja-ninja Konoha sudah banyak yang berada ditempat kejadian, mereka langsung tanggap. Mereka semua sudah mengetahui bahwa gadis yang muncul adalah spirit, dan mereka sudah dibekali oleh Hokage Keenam bahwa Konoha tidak akan melawan spirit dengan pertarungan tetapi dengan 'cinta dan kencan'. Jadi mereka hanya bertugas mengevakuasi beberapa warga yang kebetulan ada disekitar tempat kejadian dan meminimalisir kerusakan.

Seperti sebelumnya, sekarang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sudah menjadi tugas seorang pria untuk menaklukan spirit. Ada beberapa ninja bergender laki-laki yang melakukan upaya pendekatan. Namun semuanya gagal, entah kenapa spirit selalu menatap jijik jika ada pria yang mendekat, lalu muncul gelombang kejut ketika dia membuka mulutnya, yang mampu mementalkan semua pria yang mendekati gadis spirit itu satu persatu.

Gadis spirit itu tampak semakin marah ketika lagi-lagi ada pria yang berusaha mendekatinya. Dia kemudia berseru lantang.

"Gabriel"

Sang gadis memanggil nama malaikatnya. Muncullah dari ketiadaan pipa-pipa emas yang tinggi besar menjulang, tampak tersusun seperti sebuah alat musik organ raksasa. Di depan gadis spirit itu, muncul sebaris tuts, lalu sang gadis spirit pun menakan tutsnya.

Suara indah menggema dari pipa-pipa itu, suara yang mampu menggetarkan hati. Semua orang di tempat kejadian tampak melongo dengan tatapan kosong.

Sasuke lah yang pertama kali menyadarinya, ini hipnotis massal, sama seperti genjutsu area.

KAI...

Sasuke terbebas dari perngaruh hipnotis, berkat kemampuan dan teknik mata nya yang mampu mengenali genjutsu dengan cepat, bahkan tomoe dimata sharingannya sudah berubah ke level eternal mangekyo sharingan.

Sasuke melihat kesamping, sahabatnya yang selalu berisik hanya diam menatap lurus kedepan. Naruto pasti terkena genjutsu juga, pikir Sasuke.

"Dobe,," panggil Sasuke.

Naruto yang dipanggil tidak menyahut.

"Hoi, Narutooo. . . . Sadarlah" Sasuke berteriak keras.

"NARUTOOOO..." Sasuke berteriak lebih keras lagi, hilang sudah image nya sebagai pria cool yang irit bicara, karena sekarang dia berteriak-teriak seperti wanita.

Merasa tidak berhasil, Sasuke memegang bahu Naruto untuk membantu Naruto bebas dari pengaruh hipnotis.

Merasa ada yang memegang bahunya, Naruto pun menoleh kearah sasuke, melepas benda yang menutup lubang telinganya, lalu berkata,

"Ada apa teme?" tanya Naruto dengan wajah polos tanpa dosa.

Sasuke tidak menjawab. Hatinya sangat kesal, usaha yang dilakukannya tadi sia-sia. Dia sudah berteriak seperti orang gila, tapi ternyata tidak berguna. Ingin sekali dia melempar sahabatnya ini ke jurang, kalau perlu ke jurang neraka sekalian. Sasuke merasa dirinya lebih bodoh daripada si idiot Naruto, kenapa dirinya tidak terpikir menggunakan penyumbat telinga? Padahal sudah jelas-jelas kalau kekuatan spirit yang ada berdasar elemen suara.

Sekarang dua pemuda pahlawan perang ini kembali fokus menatap spirit yang membuat kewalahan para ANBU dan ninja-ninja elit Konoha.

"Teme. Sebaiknya sekarang giliranmu yang menaklukan spirit itu. Dirumahku sudah ada satu" kata Naruto mengusulkan.

"Hn..." Sasuke menjawab seadanya, dia merasa masih kesal dengan kejadian tadi.

"Jawab yang jelas, Teme! Iya atau tidak?"

"Hn..."

"Bisa tidak kau melupakan tingkah sok cool mu itu, kita sedang dalam masalah"

"Hn..." dengusan hidung Sasuke makin nyaring.

Naruto tidak bicara lagi karena pasti akan mendapat jawaban yang sama, tapi dalam hatinya 'Ghhh,, rasanya mau ku tabok juga ni orang'

Hening sejenak karena rivalnya yang cerewet tidak kunjung bicara lagi, akhirnya Sasuke menambah lagi porsi bicaranya hari ini.

"Aku tidak mau berurusan dengan wanita, merepotkan"

Naruto mencoba bersabar. Melihat spirit itu sejenak dan seketika itulah, muncul ide gila brilian penuh kejutan dari otak bodohnya. Dengan seringaian lebar Naruto berkata,

"Ne Teme? Ku dengar dulu salah satu impianmu adalah membangkitkan kembali Klan Uchiha?" tanya Naruto.

"Sampai sekarang pun itu masih impianku"

"Bagus... Tapi kalau terus seperti ini saja, akan lama impianmu bisa tercapai"

"Aku hanya harus bersabar, Dobe" kata Sasuke sok bijak.

"Ohhh, massa...? Aku punya ide, ini kesempatan bagus untukmu"

"Apa maksudmu?"

"Kau sudah 5 tahun menikah dengan Sakura, tapi hanya punya satu anak. Perempuan lagi, bagaimana Klan Uchiha mau bangkit kalau begitu? Jika anak perempuanmu menikah, dia akan ikut marga suaminya"

"Benar juga sih" harus Sasuke akui kalau cuma berharap pada keturunan satu-satunya yang ia miliki, Sarada, maka Klan Uchiha tidak akan pernah bangkit.

"Nah,,, bagaimana kalau kau taklukan spirit itu, buat anak yang banyak bersamanya, maka Klan Uchiha pasti bangkit lagi dengan cepat" kata Naruto mengusulkan idenya.

"..." Sasuke diam saja, masih menimbang-nimbang baik dan buruknya ide yang diberikan sahabatnya.

"Baiklah. Kalau begitu Teme, sekarang coba kau lihat spirit itu baik-baik!" seru Naruto pada Sasuke. Dia mulai melaksanakan ide gilanya.

Sasuke pun menurut, mengikuti perkataan Naruto untuk melihat spirit yang sedang berada di tengah-tengah kawah.

"Coba kau lihat dadanya, apa kau tidak tertarik?"

"Hn..." ini dapat di artikan sebagai dengusan bingung.

"Lihaaat,,, dua balon besar itu bergoyang-goyang saat dia menggerakkan tubuhnya seakan balon itu adalah balon karet yang berisi air, bukan angin"

"Ehh.." mata Sasuke menyipit agar bisa melihat lebih jelas.

"Gunakan sharingan mu sekalian!, biar lebih jelas. Dadanya besar. Lihat baik-baik, dadanya itu loh, BE-SAAR... dan pasti sangat empuk"

"Terus?" tanya Sasuke masih kurang paham.

"Heheee, massa kau tidak mau dada yang seperti itu? Aku yakin kalau selama ini kau belum pernah menikmati dada berukuran besar kan?"

Sasuke magut-magut membenarkan, dengan pelan ia mulai mengangguk. Dia sadar bahwa selama ini dirinya sama sekali tidak pernah merasakan dada berukuran besar, mengingat siapa yang jadi istrinya sekarang. Istrinya, Sakura, bahkan sering di ejek oleh sesama kunoichi Konoha karena ukuran dadanya yang hanya lebih besar sedikit (sedikit sekali) dari si cewek pettanko, Shizune. Sasuke tidak seberuntung Naruto dalam hal pasangan hidup.

"Ku prediksikan, ukurannya sama dengan milik Tsunade-baachan. Yaa, aku tau dan masih ingat saat kita masih chunin berumur 13 tahun sebagai tim 7 dahulu, kau sering menatap ke arah dada Tsunade-baachan kan, ketika kita kekantor Hokage?, jadi aku yakin kau pasti sangat berselera dengan ukuran dada jumbo."

Anggukan Sasuke semakin cepat, dia juga ingin mendapat kenikmatan dada berukuran jumbo dan empuk yang bisa dijadikan bantal tidur. Itulah impian lain masa kecil Sasuke yang tidak terealisasi saat ini, dan mungkin tidak akan pernah terealisasi, tidak akan pernah menjadi kenyataan selamanya, jika melewatkan kesempatan yang diberikan Naruto.

"Nah, jadi apa kau sangat ingin menikmati dada seperti itu?"

Pertanyaan Naruto barusan tidak dijawab dengan kata-kata, tapi dijawab Sasuke dengan anggukan cepat serta mulut terbuka layaknya bocah balita yang ditawari permen.

"Katakan padaku, kalau kau ingin dada besar, Teme!"

"Aku ingin dada yang besar" kata Sasuke, mulutnya semakin terbuka lebar dan tampak ada lelehan air liur yang mengalir dari sudut bibirnya. Tampang dan gestur tubuh Sasuke sudah seperti anjing kepanasan yang ingin cepat kawin.

"Katakan lagi, Teme! katakan tiga kali dengan keras."

"AKU INGIN DADA BESAR.. AKU INGIN DADA BESAAR.. AKU INGIN DADA YANG BESAAAAAARR.." teriak Sasuke, menarik perhatian semua orang yang ada disekitar TKP.

"Saaa, kalau begitu silahkan kau taklukkan sendiri spirit it-,,,,"

DDHHUUUUAAAARRRRRR. . . . . .

Tanah seakan amblas, bumi seperti hendak terbelah.

"NARUTOOOO.. JANGAN MEMBANDINGKAN UKURAN DADAKUUUUU!... AAAHH SALAH, BUKAN ITU,,,,,,, JANGAN MERUSAK PIKIRAN SUAMIKU!, ATAU KAU AKAN MERASAKAN NERAKA LEBIH CEPAT.." sebuah teriakan menggelagar, teriakan yang terasa berasal dari tempat berjarak puluhan mil jauhnya.

Glekk..

Naruto terpaksa menelan ludahnya, melihat kesamping ternyata sang rival sudah tidak ada. Kabur, mungkin Sasuke termasuk tipe suami takut istri.

'Haaaaah, kalau bergini terpaksa aku yang harus turun tangan. Semoga saja nanti Hinata tidak marah kalau aku membawa pulang satu spirit lagi''

Naruto pun akhirnya melangkah maju, turun tangan langsung untuk menaklukkan hati spirit yang muncul kali ini, entah dengan cara apa, itu nanti saja dipikirkan. Lebih baik mendekat dan ajak bicara saja dahulu.

Naruto sudah sampai di tepian kawah dimana spirit tadi berada, "Hooii.. kau yang disana. Boleh aku tahu namamu?" seru Naruto lantang.

Namun jawaban yang didapat Naruto tidak seperti harapannya, malah yang ada sebuah gelombang kejut melesat kearahnya. Naruto itu ninja hebat, jadi mudah saja dia menghindari itu dengan menggeser badannya kesamping.

"Siapa kau?" tanya si gadis spirit.

"Oooh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Naruto, namaku Uzumaki Naruto" kata Naruto yang berjalan semakin mendekat kearah gadis spirit,

Si gadis spirit semakin menatap jijik ketika Naruto mendekat, "Berhenti..!"

wusshhhh,,

Lagi-lagi hempasan gelombang kejut mengarah pada Naruto, namun berhasil ia hindari.

"Bernyanyilah, Gabriel" si gadis spirit hendak menekan tuts organ nya lagi.

Naruto tidak akan membiarkan spirit itu beraksi lagi dengan malaikatnya, segera sebelum terlambat, Naruto membuat segel tangan.

Kagebunshin no Jutsu

Boffffpt...

Namun yang tampak bukan lah puluhan bunshin Naruto, tapi serorang gadis seksi berambut pirang yang berkuncir dua dalam kondisi telanjang bulat.

Naruto tidak sengaja salah membuat segel tangan, dan hasilnya malah memakai sexy no jutsu.

Hal anehnya ialah, jutsu Naruto yang ini mempan pada gadis spirit. Biasanya yang terkapar dengan hidung berdarah karena jutsu ini hanyalah pria-pria mesum macam jiraiya den ebisu, tapi sekarang si gadis spirit juga ikut terkena efeknya. Si gadis spirit tidak jadi menekan tust organ dari malaikatnya dan malah menatap henge Naruto dengan air liur menetes.

"Namaku Miku, namamu siapa?" dengan riangnya si gadis spirit tiba-tiba saja langsung memperkenalkan diri.

"Na-namaku, Naruko,,,,, yah, Naruko" jawab Naruto yang berubah dengan henge menjadi perempuan telanjang. Dia bahkan menutupi selangkangan dan dadanya, aneh sekali melihat hengge dari sexy no jutsu Naruto menjadi malu-malu seperti itu. Biasanya kan selalu berani dan tanpa malu sedikitpun mempertontonkan tubuh seksi telanjangnya didepan para pria mesum.

"Neee Naruko-chan, maukan kau menjadi milikku?" kata Miku yang tiba-tiba saja sudah berada tepat didepan *Naruko. Miku bergerak secepat suara dengan kekuatanya.

"Ahh, itt..." *Naruko tidak sempat menjawab karena Miku bertanya lagi.

"Bolehkan aku menciummu?"

Brukk...

Kini posisi *Naruko sudah terbaring di tanah dengan tubuh masih telanjang, Miku semakin mendekat bahkan sudah menduduki tubuh *Naruko. Wajah Miku tinggal beberapa centi lagi dari wajah *Naruko.

Miku membelai pipi *Naruko dengan tangan kanannya, mengusap bibir *Naruto dengan ibu jarinya. Perlahan tangan itu bergerak keleher, lalu semakin turun. Tangan Miku semakin turun dengan satu telunjuk yang terus menyentuh tubuh telanjang *Naruko, melalui di tengah dada, turun keperut, jari itupun berputar sekali mengelilingi pusar dan terus turun lagi hingga menuju selangkangan.

Naruto/*Naruko mengerti sekarang, gadis spirit bernama Miku ini mempunyai kelainan seksual. Miku tertarik pada perempuan, dia lesbi.

*Naruko mengalihkan wajahnya kesamping, dia menutup mata, seperti pasrah akan keadaan ini, dia berkata, "Jangan perkosa aku,,, Jangan ambil keperawananku,,, hiks,,, ku mohon. Jangan..." katanya sendu sambil terisak

Tapi *Naruko yang seperti sudah pasrah, malah menaikkan libido Miku. Miku sangat suka dengan gadis polos yang pasrah menerima perlakuannya seperi ini. Gerakan tangan Miku didaerah selangkangan *Naruko semakin liar...

Ketika *Naruko merasakan ada benda yang mencoba masuk lewat lubang dibawah sana, akhirnya *Naruko berteriak kencang, "TIIDAAAKKKKKK. . . . MASA DEPANKU HANCUR. AKU TIDAK AKAN BISA MENIKAAAAHH..."

Naruto/*Naruko berteriak dan melupakan statusnya sebagai seorang laki-laki yang sudah menikah.

Brukkkk...

"Eh?" *Naruko heran karena mendengar suara orang yang jatuh.

Ketika membuka matanya lagi, dia tidak lagi melihat Miku diatas tubuhnya. Ketika menengok ke arah kiri, Miku sudah terbaring.

Naruto pun memeriksa Miku, ternyata Miku hanya tertidur. Tampak dari wajah dan deru nafasnya, jelas bahwa Miku sedang sangat kelelahan.

"Haaaah, untung aku tidak menjadi korban pemerkosaan" kata *Naruko lega.

Boffttt.

Kembali lagi seperti sedia kala, melepas henge dan kembali lagi ke tubuh aslinya sebagai laki-laki serta pakaian jingga-hitam yang melekat dibadannya.

"Baiklah, masalah selesai. Dia ku apakan ya? Ah, ku bawa pulang saja dulu" kata Naruto pada dirinya sendiri.

.

Hari semakin sore, banyak orang yang berlalu lalang di jalanan, termasuk Naruto juga. Dia ingin pulang dan segera sampai dirumah. Namun sekarang Naruto merasa tidak nyaman karena banyak warga yang memandangnya dengan tatapan aneh. Mau bagaimana lagi? Dia yang seorang calon Hokage Ketujuh yang dilantik 5 tahun lagi, sudah beristri dan memiliki dua orang anak, tapi ditengah jalan sedang menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri, ada banyak pertanyaan yang timbul di benak warga yang sedang menatap kearahnya. Yang tentu saja kebanyakan pertanyaan itu berkonotasi negatif.

Naruto tidak terlalu memikirkan tatapan warga, toh sejak kecil dirinya sudah sangat sering diberi tatapan seperti itu. Yang membuatnya tidak nyaman sekarang adalah karena ada sesuatu yang sedang tegang di tubuhnya. Yaaa, ~*sesuatu*~. Penyebabnya adalah karena Naruto menggengong gadis spirit bernama Miku dipungungnya, dan dia merasasakan jelas kalau ada sepasang benda empuk berukuran besar yang menempel ketat dan menekan-nekan punggungnya.

Karena tidak tahan, akhirnya Naruto menganti posisi. Sekarang dia menggendong Miku didepan ala bridal style. Aaaah, ternyata ini lebih buruk. Jelas sekali terlihat apa yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Bagian tubuh Naruto yang tadi tegang menjadi semakin tegang. Bukan salah Naruto, yang salah itu adalah pakaian bagian atas Miku yang terlalu terbuka.

Akhirnya posisi diganti lagi, posisi Miku sekarang di bahu Naruto. Miku tidak jauh beda dengan karung beras yang sedang di bawa seorang kuli. Tidak lama kemudian akhirnya Naruto sampai dirumah.

Sebelum Naruto masuk, pintu rumah sudah dibuka terlebih dahulu oleh istrinya, Hinata.

Hinata menatap tajam pada Naruto, dengan wajah shock dia berkata.

"Na-naruto-kun. Kau,,, kau melakukan pelecehan? Hikss,,, Aku ini istrimu, apa kau tidak puas dengan service dariku?" kata Hinata tidak jelas, sambil sesekali terisak.

Naruto bingung dengan pertanyaan istrinya, "Pelecehan apanya?"

"Itu, gadis yang kau bawa di bahumu. Dia korban pelecehan seksual yang kau perbuat padanya kan?" kata Hinata.

Yah, memang begitulah yang tampak sekarang. Jika ada seorang pria dengan tampang lumayan mesum, sedang membawa seorang gadis manis, cantik, dan semok yang tak sadarkan diri di bahunya, maka jelas sekali yang tampak dimata orang lain adalah seorang kriminal pelaku pelecehan seksual yang sedang membawa korbannya. Ternyata posisi yang ketiga ini jauh lebih buruk dari posisi menggendong sebelumnya.

"Hah?" Naruto hanya memasang tampang bodohnya, belum mengerti situasi.

"Kau bejat,,! Kau ingin melanjutkan aksi pelecehanmu padanya dirumah? Hebat sekali" puji Hinata sinis. Yah, Naruto memang hebat, sudah tahu ada istri dirumah tapi malah membawa korban pelecehan kerumah untuk melanjutkan aksi bejatnya, pikir Hinata.

Naruto sudah mengerti tuduhan istrinya sekarang, "Tentu saja tidak. Gadis ini seorang spirit, sama seperti Tohka"

"Jangan bohong!" Hinata belum mau percaya.

"Di dalam rumah saja, aku akan jelaskan semuanya" kata Naruto lagi, daripada banyak tetangga yang melihat pertengkarannya dengan sang istri. Dia masuk tanpa mengindahkan kemarahan Hinata, toh sejak Tohka menumpang dia sudah sering melihat Hinata yang jadi pemarah dan bengis. Pokoknya sifat Hinata berubah 180 derajat setelah spirit muncul.

Di dalam rumah akhirnya terjadi perdebatan sengit. Hinata sudah percaya kalau Miku adalah spirit setelah memeriksanya sendiri dengan Byakugan. Tapi Hinata masih belum mau menerima Miku di rumahnya. Beberapa menit terlewat, Naruto berhasil meyakinkan Hinata dan mengusulkan agar miku ditampung dulu. Sampai mendapatkan cara mengembalikan spirit-spirit ketempat asalnya, termasuk Tohka juga.

Hidup Naruto bersama keluarga kecilnya tidak akan pernah damai dan tentram jika ada spirit yang numpang hidup di rumahnya.

.

.

.

To be Continued. . . .


.

Note : Ini dia spirit yang kedua,, huahahaaaa. Ada yang lumutan nungguin updatenya.? Biarin, kan udah ku bilang bakal lama chap 2 nya kelar...

Puas dengan chapter ini? Kasihan Narutonya yaa,, tapi malah bagus kok. Dia mendapatkan berkah dalam derita, hahahahaaaa. Ah, yaa,,, pokoknya fic ini juga akan menistakan banyak chara-chara dari serial Manga Naruto. Kurang lebih sama dengan fanfic ku yang lainnya.

Tadi ~*piiiiip*~nya Naruto beneran dijyuken Hinata ga ya? Hinata juga, ada sisi mesumnya, mungkin karena efek terlalu banyak membaca novel buatan Jiraiya. Dan ooh iya,, *Naruko masih perawan kan? Kalau *Naruko masih perawan, ayo tebak siapa yang akan mengambil keperawannya nanti, Miku atau Hinata? Hahahaaaaa. . . . . Lalu, kalau disini, penyakit Miku (*Lesbi) yang dideritanya, ku buat jauh lebih parah dari yang di anime date a live sendiri. Gpp juga, biar makin greget...

Nih, dibawah ada lanjutannya lagi kok,,,, baca dulu yaaa!

...

...

...

Omake...

Naruto sedang duduk di sofa, membaca koran harian Konoha, ditemani secangkir teh dan setoples cookies.

"Naruto" sapa riang seorang gadis.

Naruto menurunkan koran yang sedang dibacanya, dia menatap gadis yang memanggilnya tadi, "Ada apa Miku?"

"Ah.. Eheheeee, tidak ada" jawab Miku santai.

Semenjak beberapa hari ini Miku tinggal dirumah keluarga Uzumaki, dia memang sudah akrab dengan Naruto. Selain itu dengan Tohka serta kedua anak Naruto juga akrab, bahkan dengan Hinata, istri sah Naruto.

Walaupun Miku sudah akrab dan mau dekat dengan Naruto, tapi tidak dengan laki-laki lain. Setiap memandang laki-laki, Miku selalu memberikan tatapan jijik. Hanya Naruto saja, lelaki yang bisa dekat dengan Miku. Salahkan sifat kelainan seksual (lesbi) yang diderita oleh Miku. Ternyata selain berbahaya kekuatannya, spirit juga mempunyai sifat berbahaya dalam dirinya, contohnya ya ini.

Miku mengambil posisi duduk di sofa bersampingan dengan Naruto.

Naruto menatap Miku heran, yang terlihat adalah mata Miku yang tampak berkilat-kilat seperti harimau yang menemukan mangsanya.

Bibir Miku mendekat ke telinga Naruto, kemudia membisikkan, "Naaaru-channn"

Sontak, pikiran Naruto jadi kosong. Dia terkena hipnotis dari suara Miku.

Bofffttt...

Naruto melakukan henge dan berubah menjadi *Naruko, dan *Narukonya telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh polosnya.

Miku menyeringai mesum, air liur berlelehan dari mulutnya.

Miku merapatkan tubuhnya pada *Naruko yang diam telanjang. Dia merebahkan *Naruto di sofa, lalu mulai melancarkan aksinya menggrepe tubuh *Naruko. Tangan Miku secara liar melakukan tugasnya mulai dari leher, ke dada, turun ke paha, lalu kepangkal paha, memberikan elusan hangat pada semua bagian tubuh *Naruko yang dijelajahi tangannya.

*Naruko,,,? tentu saja mendesah hebat karena perlakuan Miku. Ini pertama kalinya bagi *Naruko diperlakukan seperti ini oleh seseorang. Tubuhnya menggelinjang tidak karuan menerima kenikmatan yang diberikan Miku.

Miku sudah terlihat tidak sabaran, bibirnya mendekat pada bibir *Naruko dan...

.

[Stoooopp. . . . . . Anggap saja keperawanan *Naruko benar-benar berakhir digenggaman Miku. Kita tidak akan melanjutkan ini sampai adegan Yuri, karena ini rate fic ini semi-M, author ga mau ratenya berubah menjadi M beneran. Dan Author sebenarnya juga tidak suka yuri, potongan adegan diatas ada hanya karena untuk menyesuaikan tuntutan peran Miku saja]

.

.

.

[Eeeittt, , , , ternyata Author salah,,,,]

.

BRAAAKKKK...

"Cih" dengus Miku kesal karena suara barusan.

Ternyata barusan itu adalah suara pintu yang dibanting. Dari balik pintu, muncul Hinata dengan wajah bengis seperti malaikat maut yang akan mencabut nyawa pernghuni rumah.

Miku beranjak pergi dengan senyuman hambar meninggalkan *Naruko yang hampir saja jadi korban kejahilannya. Dia memang bersifat angkuh jika dihadapan orang lain, tapi dia sama sekali tidak berani dengan Hinata, sama seperti Tohka yang sangat menurut dengan semua perkataan Hinata.

Dan akhirnya, lagi-lagi Naruto yang kena sial. Satu pukulan Jyuken yang sarat akan cinta Hinata, dengan senang hati Naruto terima sehingga membuatnya sadar dari hipnotis Miku. Sakit memang, namun Naruto/*Naruko harus tetap bersyukur karena kali ini keperawanannya terselamatkan oleh Hinata.

...

...

...

Eittsss ada lagi nih, karena dibawah ini ada cuplikan untuk chap depan yang tiba-tiba saja muncul dikepala. Kalau ga ditulis nanti hilang jadi ku cantumkan dulu disini. Kalau chapter lalu sudah ditunjukkan kalau Sasuke memiliki fetish atau ketertarikan seksual pada 'dada', maka dibawah ini giliran Shikamaru yang ditampilkan memiliki fetish aneh juga. Updatenya mungkin akan sama lamanya untuk chapter 3. Maklumi aja yaaa...

Next Preview...

Shikamaru dan Naruto sedang duduk di salah satu bangku taman di Konoha. Jangan ada yang berpikiran kalau mereka sedang berkencan, mereka masih normal dan masing-masing sudah punya istri. Mereka berdua sedang mengamati seorang gadis spirit yang ada ditaman itu. ANBU dan Ninja-ninja sedang bersiaga disekeliling area taman.

Para ANBU dan Ninja-ninja Konoha sudah tahu cara berususan dengan spirit, mottonya adalah 'ajak kencan dan buat spirit jatuh cinta'. Tapi berhubung spiritnya adalah seorang gadis kecil 13 tahunan, sebut saja gadis spirit berjenis 'loli', jadinya mereka bingung mau pakai cara pendekatan yang bagaimana. Kalau salah menggunakan cara pendekatan, maka jeruji besi Konoha siap menampung mereka dengan tuduhan tindak kriminal pelecehan anak dibawah umur, dan akan mendapatkan cap pedofil dari seluruh masyarakat Konoha.

"Apa dia beneran spirit Naruto?" tanya Shikamaru.

"Ya, pasti" jawab Naruto.

"Tapi kan tidak ada tanda-tanda spirit muncul, spacequake saja tidak ada"

"Aku sudah mengeceknya dengan sennin mode, lagipula aku punya dua spirit yang ku urus dirumahku. Jadi jangan meremehkanku, Shikamaru"

"Iya, iyaaa. Aku percaya, tapi aku masih belum yakin dia itu spirit" otak jenius Shikamaru belum mendapatkan kesimpulan sampai sekarang, tidak biasanya otak Shikamaru berjalan lambat.

Dilihat dari segi manapun, gadis kecil itu tidak tampak seperti spirit. Yang tampak hanya seorang gadis kecil polos yang seperti tidak tahu apa-apa. Gadis kecil itu berambut biru dan mengenakan mantel berwarna hijau berhias telinga kelinci yang kebesaran. Lalu, gadis itu berjalan seperti orang ketakutan dan beberapa kali terjatuh. Hanya berjalan berputar-putar di tengah taman, bingung tidak tahu arah. Tidak seperti dua spirit sebelum ini yang baru muncul langsung mengamuk, gadis kecil ini seperti takut menyakiti orang lain.

Naruto menatap sahabatnya, "Shikamaru, kalau kau masih belum yakin. Coba dekati dia, kau pasti mengerti bagaimana spirit itu sebenarnya"

"Tidak, aku tidak ingin melakukan pekerjaan merepotkan seperti itu" sanggah Shikamaru dengan wajah yang masih kedepan, tidak menatap Naruto.

Naruto menyeringai senang ketika ide brilian penuh kejutaan lagi-lagi hinggap di otak bodohnya.

"Istrimu si Temari itu, lebih tua darimu kan?" tanya Naruto mengambil topik pembicaraan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan spirit.

"Ya, dia memang lebih tua dariku" Shikamaru langsung menjawab saja tanpa curiga.

"Apa kau bahagia punya istri yang lebih tua?"

"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia... Yaaa walauuuuu,,, kelakuannya sangat merepotkanku siihhh,,,"

"Aaahh~~ , , , , benerann?" Naruto tersenyum sinis, "Aku tahu kau lolicon, karena selama ini kau selalu terlihat senang sekali melatih Mirai anaknya Asuma sensei dan Kurenai sensei yang sudah berusia 12 tahun. Kau memang ingin menjadi gurunya karena wasiat beliau, tapi aku tahu kau juga selalu memandangi Mirai dengan tatapan mesum" kata Naruto mantap.

"Ah, yaa" walau terdengar saaangat pelan, tapi jelas Naruto tahu kalau Shikamaru sudah mengiyakan.

"Nee, Shikamaru. Sekarang coba lihat baik-baik spirit itu!"

"Iyaa, ini juga sekarang aku lihat dia" jawab Shikamaru dengan nada sedikit kesal karena Naruto telah mengetahui kebiasaan buruknya.

"Lihat yang benar, Shikamaru!... Gadis spirit itu sangat imut kan?"

Shikamaru menatap intens, perlahan mengangguk membenarkan.

"Lihat, dia manis sekali, wajahnya yang polos, bersih tanpa dosa, tubuhnya yang mungil, daaann..."

"..." Shikamaru diam saja menunggu kelanjutan ucapan Naruto.

"Nah, tuh lihat!" seru Naruto saat gadis kecil spirit itu lagi-lagi terjatuh saat berjalan, membuat mantel kebesarannya tersingkap "Lihaat, uuggh... Pahanya mulus, bahu mungilnya putih, dada kecilnya yang pasti akan tumbuh besar tidak lama lagi, bibir tipisnya kemerahan, pipinya yang bersemu, dan-dan-dan,,, semua bagian tubuhnya khas anak gadis yang sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan. Itu semua adalah kenikmatan terbesar para lolicon kan?"

"Glekkk.." Shikamaru menelan liurnya. Melihat langsung apa yang dikatakan Naruto, Jiwa loli Shikamaru seperti terbakar.

"Kau ingin melewatkan gadis superloli seperti itu?" tanya Naruto.

Dijawab Shikamaru dengan gelengan kepala.

"Aku yakin kau pasti ingin membawa pulang yang seperti itu kerumahmu kan?" tanya Naruto sembari menunjuk si gadis spirit.

Shikamaru mengangguk cepat.

"Katakan padaku kalau kau lolicon sejati, Shikamaru"

"Aku lolicon sejati..." kata Shikamaru lantang.

"Katakan lagi, Shikamaru! katakan tiga kali dengan keras."

"AKU LOLICON, AKU LOLICON SEJATI... AKU SUUKAAAA LOLIIII... " teriak Shikamaru, menarik perhatian semua orang yang ada disekitar TKP.

"Saaa, kalau begitu silahkan kau taklukkan sendiri spirit it-,,,,"

SWWOOSSSSSS...

Tak ada awan mendung, tak ada petir, bahkan tak ada tanda-tanda apapun sebelumnya, tiba-tiba saja angin badai bertiup sangat kencang.

"NARUTOOOO.. AKU HANYA SATU TAHUN LEBIH TUA DARI SHIKAMARU!... AAAHH SALAH, BUKAN ITU,,,,,,, JANGAN MERUSAK PIKIRAN SUAMIKU!, ATAU KAU AKAN MERASAKAN NERAKA LEBIH CEPAT.." sebuah teriakan menggelagar, teriakan yang terasa berasal dari tempat berjarak puluhan mil jauhnya. Yang pasti orang yang berteriak ini sedang memegang kipas raksasa pembuat angin badai tadi.

"Glekkk,"

Naruto terpaksa menelan ludahnya, melihat kesamping ternyata sahabat pemalasnya sudah tidak ada. Kabur, mungkin Shikamaru juga termasuk tipe suami takut istri, sama seperti Sasuke.

'Haaaaah, massa sih aku yang harus membawa pulang spirit lagi? Bisa-bisa Hinata mengamuk..''

.

.

.