Phosphorescent
.
.
You better read this alone in the middle of the night, without a single light. And, who knows who will stay beside, maybe read along with you. Boo!
.
.
Second, Floral Scent
.
.
Aku memutuskan untuk pindah, pergi dari rumah itu, atau kamar itu lebih tepatnya. Mama memprotes keras, tidak rela salah satu anak gadisnya tinggal sendirian jauh dari dekapan. Terlebih mengetahui ada banyak kemungkinan yang lebih mengerikan, bahkan membahayakan. Jika di rumah saja aku sudah separah itu, lantas bagaimana jika aku sendirian?
Aku menjawabnya dengan gumaman tipis yang membuat beliau diam. Menatapku dengan tatapan sendu dan iba. Harusnya Mama tahu itu tatapan yang tidak pernah bersahabat denganku.
"Ma, setidaknya mereka tidak mengenalku, dan aku tidak akan mengganggu mereka. Mereka tak akan sekurang ajar ini." Aku harap itu tak akan menjadi bulan semata.
Aku memilih flat yang arahnya berlawanan dengan rumahku, jaraknya tak begitu jauh dari kampus. Tak banyak yang aku beritahu perihal kepindahanku ini, memangnya apa? Aku tidak sebodoh itu untuk memberikan peluang pada mereka yang seharusnya tidak boleh mendengar.
Sehun membantuku, dia datang dengan kaus lengan pendek hitam dan celana jeans belel. Aku tertegun akan kedatangannya, kupikir aku akan membersihkan flat ini sendirian karena Mama mempunyai urusan lain—entah apa, aku tak mau tahu.
Tapi lebih dari itu, aku seperti melihat seseorang lain dalam dirinya. Seseorang dari masa lalu yang begitu aku rindukan.
"Apa saja yang bisa kubantu, Luhan?" Meski dia bertanya, lengan-lengan kokohnya mulai mengangkat kotak kardus dan memasukkannya kedalam.
"Apa saja." Aku tahu jawabanku percuma, dan dia hanya mengerling kecil.
Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan flat kecil itu. Flat berisi satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur sederhana yang menyatu dengan ruang serbaguna yang tak luas ini; aku menemukannya sesuai bayangan.
Pekerjaan itu selesai setelah jam makan siang terlewat. Sehun duduk bersila sambil mengipasi wajahnya yang berkilat, membuatku melemparkan sejumput sapu tangan. Dia menerima dengan tawa dan kekehan renyah.
Lagi-lagi tawa itu...
"Kenapa tak ada yang datang membantu?" Dia bertanya, lalu meraih sebotol minuman isotonik dan meneguknya. Aku yang ada di seberang, menatapnya terang-terangan. Aku tak memiliki keinginan untuk menjawab.
Cara Sehun meminum, terlihat sama dengannya... Tegukan-tegukan keras yang seolah memamerkan betapa nikmat minuman murah itu. Dia juga seperti itu, lalu selanjutnya dia akan menggodaku dengan kalimat...
Melihatku dengan tatapan seperti itu, yang kau inginkan itu aku atau minuman ini?
"Melihatku dengan tatapan seperti itu, yang kau inginkan itu aku atau minuman ini?"
Aku tersentak. Sehun tersenyum.
Senyuman itu terasa sedikit mengganggu, tapi di saat yang sama aku merasa hangat dan merindukannya sekaligus. Apa maksudnya? Kenapa aku terus merasa seperti ini?
"Hei, Luhan. Kau suka pengharum ruangan ini? Kau serius?" Sehun bangkit meraih botol aerosol sedang bercorak bunga—entah apa.
Aku mengerjapkan mata, sebelum menunduk untuk menghilangankan lapisan tipis pada dua mataku.
"Entahlah, Mama yang membelinya." Aku berharap Sehun tidak menyadari suaraku yang bergetar.
Botol aerosol itu dikocok, dan disemprotkan ke seluruh penjuru ruang.
Begitu aroma aerosol itu masuk ke hidung dan menyentuh saraf mukosaku, aku langsung terbatuk keras. Dadaku terhimpit, seseorang seperti tengah memelintir tenggorokanku, dan aku nyaris tak dapat menarik nafas.
"Luhan! Luhan, kau baik-baik saja?!"
Aku tak punya waktu untuk menyahut. Aku terus memukul dadaku, mencoba menghentikan semua ini namun yang kudapat dadaku semakin sakit. Tak kunjung berhenti! Aku bahkan bisa mendengar laringku berdenging saat aku mencoba menarik nafas. Aku tercekik, sepasang tangan dingin mencekikku!
Aku tak tahu apa yang Sehun lakukan terhadapku. Ucapannya terdengar samar dan sentuhannya terasa mengambang. Aku menemukan isi perutku terasa ingin keluar, begitu sakit dan menyiksa.
"Luhan!"
Perasaan sakit itu mulai menghilang. Pandanganku mulai terang dan aku menemukan Sehun tengah menatapku dengan khawatir. Dua telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku, dan sebagian dari mereka basah karena air liur.
Sehun mengusap sekitaran wajahku yang berantakan.
Aku terengah, mataku berair.
"M-maaf..." Suaraku terdengar seperti orang berpenyakit.
"Maafmu itu untuk apa?!"
Dia berteriak, bangkit mengambilkan air putih dengan wajah pucat dan gusar. Sementara itu aku menoleh ke belakang. Seseorang yang meringkuk di sudut ruang menatapku dengan tatapan entah apa, dia terlalu gelap dan wajahnya tertutup helai rambut tebal. Aku tak menyangka dia akan seperti ini.
Aku balas menatapnya dengan tatapan yang tidak aku ketahui akan terlihat seperti apa.
"Sambutan yang mengesankan..." Aku berbisik lirih.
.
.
.
Hari itu Sehun pulang tak rela, menatapku dengan picingan mata tajam. Aku mencoba meyakinkan dengan senyum lemah. Dia membiarkanku setelah membuatku berjanji akan menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Dan sepertinya, dia tak punya niat mengganggu. Aku sudah membuang botol aerosol pengharum ruangan itu, terlihat dari cara penyambutannya yang ekstrem sebelumnya, kurasa dia membencinya. Malam itu aku tidur cukup lelap, hanya beberapa kali terbangun untuk melihat bayangan hitam samar berdiri di sebelah tempat tidur. Aku abaikan, esok aku punya serentet jadwal untuk ditebas.
Aku mencoba menghindarinya, sekaligus menghargai keberadaannya. Tidak banyak bertingkah, berusaha setenang mungkin, dan menggunakan wewangian di luar; sesuatu sederhana seperti itu. Dia masih sering menatapku dengan tatapan yang tak terlihat sepenuhnya; dia terlihat enggan menyingkirkan rambutnya. Aku masih sering terkejut ketika dia diam-diam berpindah tempat. Hal paling menyebalkan adalah saat tiba-tiba ia muncul di seberang meja saat aku makan, membuat suapanku nyaris tak tertelan melihat jemari kurus panjangnya.
Aku masih sering tersentak, tercekat takut ketika ia menggerakkan tangan; cekikannya masih terasa membekas. Aku merasa dia tengah menyeringai. Aku benci sekali kejahilan mengerikan itu.
"Luhan! Kami datang!"
"Masuklah!" Aku menyahut dari kamar, merapikan rambutku untuk menyambut tiga orang yang datang.
Semuanya teman kuliahku; Baekhyun, Kyungsoo dan Shalom. Baekhyun sahabat dekatku sejak sekolah menengah. Kyungsoo dekat dengan kami sejak masa ospek. Dan satu lagi, teman yang tak terlalu dekat. Dia terlihat sedikit aneh, setidaknya menurut yang lain. Kami jarang melihatnya di kelas.
Ketika aku keluar kamar, aku disambut pertanyaan yang membuat flat itu hening.
"Luhan, roommatemu suka aroma dupa dan melati, ya?"
Dua aroma itu langsung menusuk hidung. Begitu tajam, pekat dan nyaris mematikan saraf pembau. Aku refleks memegangi leher dan dadaku. Nafasku sedikit terengah, dan di sudut ruangan aku melihat seringai.
Shalom mengikuti arah pandangku. Dan aku terkesiap saat menyadari wajahnya memendarkan cahaya biru lembut. Tatapannya tak terbaca.
"Heung? Katanya ini memang kesukaannya, dia bertanya apa kau keberatan, begitu."
Kyungsoo pasih, Baekhyun menampilkan ekspresi kaku. Maafkan aku kawan, kalian harus terjebak dengan dua gadis cenayang macam kami.
"Tidak, aku tidak keberatan."
Aku memungkas lugas, lekas menghentikan semua ini sebelum melarut. Kyungsoo pasti menyesal setengah mati mengusulkan mengerjakan tugas di sini tempo hari. Tapi kami tak punya waktu untuk sekadar memikirkan tempat baru.
Sampai menjelang malam, kami membantai kertas tugas dengan aroma dupa dan melati pekat yang melayang-layang. Shalom tampak tenang, dia yang kelihatannya paling normal di antara kami; bahkan dibanding aku yang pemilik tempat ini. Oh, aku bicara apa.
Saat jam makan malam tiba, Baekhyun dan Kyungsoo bergegas keluar, berdalih membeli sesuatu. Ponsel mereka menyala terang, dan aku tahu Baekhyun menggenggam kalung salibnya dengan sangat erat.
Shalom tiba-tiba meletakkan pensilnya begitu mereka berdua pergi, dan menatapku dengan senyum kecil yang sejujurnya terlihat sedikit... kekanakan.
"Kau baru terbuka sebagian, ya? 'Sebagian' yang lebih sedikit." Aku berhenti menulis dan menghela nafas, tak memberikan jawaban apapun karena ia pasti lebih mengerti.
Dia memegang tanganku, menepuknya pelan menenangkan. Tiba-tiba saja aku merasa sudah sangat dekat dengannya.
"Kau melihat apa saja akhir-akhir ini?"
"Seseorang yang hanya punya barisan gigi runcing tanpa mata dan hidung, bayangan-bayangan hitam, dia," Aku melirik sudut ruang. "dan beberapa orang yang berpendar biru lembut, sepertimu." Aku nyaris berbisik saat mengatakannya.
Dia terkekeh kecil, tampak seperti baru saja mendengar lelucon.
"Sepertinya kau pernah tertutup sebentar, sebelum akhirnya kau bisa melihat mereka lagi. Aku yakin kau punya garis keturunan macam ini, entah dari ibu atau ayah, dan sudah meninggal."
Aku tersenyum kecil.
"Kau hati-hati, ya?" Senyumnya lenyap, dan dia menatapku dengan ekspresi kaku. "Banyak sekali yang sepertinya merindukan dirimu. Kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu."
Kata-kata itu berdenging di telingaku; banyak sekali yang merindukanku, katanya?
Aku nyaris terisak, aku benar-benar takut bertemu mereka lagi.
Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
.
.
.
"Great coughing, painful choking, and floral mystic scent experiences is mine. Several years ago."
.
.
.
Ini nyaris keseluruhan berdasarkan pengalaman saya. Tapi ada beberapa bagian dari pengalaman orang terdekat saya untuk penyempurnaan jalan cerita.
Plot terbesar yang saya ambil dari pengalaman orang lain; yang personanya saya pakai untuk karakter Shalom di sini, adalah tentang Sehun. Ada yang sadar nggak sih, Sehun punya peran cukup besar di sini? See ya next week.
.
Anne, 2018-01-11
