So long, this is harder than you know
But we'll remember everything
It's tough to let it go

Think of the nights we spent when we were not alone
They remember everything
It's tough to let it go

Here we are again, falling for it
Here we are again and we're falling for it

Dead Air - Blessthefall


...

Chapter 2: Avalanche

...

.

.

.

.

Dulu, Toshirou tidak pernah berpikir bahwa akan tiba hari ia kembali mencintai seseorang.

Mengapa? Yah. Ia cukup belajar dari pengalaman-nya dengan Okita Mitsuba, seorang gadis Beta berwajah teduh yang dahulu pernah menjadi satu-satunya orang yang ia cintai. Toshirou tahu bahwa di antara mereka tak ada harapan, tidak akan terbentang masa depan dari hubungannya dengan sang gadis pujaan. Pekerjaan yang Toshirou lakoni saat itu terlalu beresiko, dan Mitsuba tidak pantas bersanding dengan seorang pria yang tangannya telah berlumuran darah.

Ia dulu percaya Mitsuba akan menemukan kebahagiaan-nya sendiri, bukannya menunggu seorang laki-laki yang tidak punya pilihan lain selain mengacuhkannya. Karena itulah, Toshirou tak menyangka bahwa sampai detik terakhir pun, kakak perempuan satu-satunya dari Sougo tersebut ternyata terus menanti dirinya - mencintai sang Alpha bahkan saat Mitsuba nyaris menikahi orang lain, atau saat penyakit yang diidapnya terus meraup fisik dan hidupnya.

Mitsuba terus mendambakan Toshiro, bahkan sampai ajalnya menjemput. Namun si laki-laki yang dicintainya tidak dapat melakukan apapun - selain membenci dirinya sendiri, tentu saja.

Pada dasarnya, Toshirou tahu tidak ada hubungan romansa yang akan berakhir baik jika melibatkan seseorang yang hidupnya dipenuhi kekerasan seperti dirinya.

(Ia menyalahkan kebodohannya sendiri karena telah melakukan hal yang sembrono seperti jatuh cinta.)

Setelah kematian gadis yang ia sayangi tersebut, Toshirou berusaha untuk mengunci hatinya rapat-rapat. Menenggelamkan penyesalan dan kesedihan yang amat luar biasa dalam larutan kertas pekerjaan. Memfokuskan segala atensi-nya pada tugas dan misi yang ia emban. Ia menolak segala peluang untuk jatuh cinta.

Namun begitu, tampaknya yang telah si pria Alpha coba lakukan selama ini malah berakhir sia-sia.

Sebuah ironi.

Sejak beberapa waktu lalu, bahkan sebelum Mitsuba meninggal, Toshirou telah sekuat tenaga mencoba mengabaikan seseorang yang entah mengapa selalu mampir di otaknya pada saat yang tidak tepat. Tanpa sadar, ia mulai menerima fakta bahwa mungkin hanya orang itu yang sanggup mencuri kunci dari dinding hati yang ia kukuhkan. Satu-satunya manusia di dunia yang dapat mendobrak pertahanannya setelah Mitsuba tiada. Satu makhluk terakhir di jagat raya yang berpeluang mempunyai tempatnya sendiri di dada seorang Hijikata Toshirou.

Orang itu. Si keriting pemalas sialan. Si rambut perak Sakata Gintoki.

Gintoki. Sebuah nama yang bahkan tidak pernah Toshirou berani ucapkan keras-keras. Ia tidak paham apa yang bagus dari si bodoh tersebut. Toshirou hanya mengetahui bahwa orang-orang di sekitar Gintoki menyebutnya sebagai Alpha yang senang menyia-nyiakan potensi dirinya. Ia juga tahu bahwa si rambut perak dikelilingi oleh orang-orang yang sedikit posesif. Si pria brengsek tersebut memang punya keahlian untuk menarik seluruh orang pada dirinya tanpa ia sadari. Dan Toshirou, walau ia tidak akan pernah mau mengakuinya, termasuk salah satu korban Gintoki yang paling parah.

Pada awalnya Toshirou tidak menyangka bahwa ia akan kembali jatuh cinta. Terlebih pada seseorang seperti Sakata Gintoki, laki-laki yang (ia simpulkan) berstatus Alpha sama seperti dirinya.

(Walaupun tampaknya Gintoki tidak pernah memanfaatkan aura kuat khas Alpha yang biasanya dapat digunakan untuk mengintimidasi lawan. Atau mungkin ia hanya menyembunyikannya. Entah karena alasan apa, Toshirou tidak tahu ataupun peduli.)

Toshirou tahu ia tidak boleh melakukan kesalahan yang sama seperti yang ia lakukan pada Mitsuba dahulu.

Karena itu, saat melihat Gintoki menunggu dirinya di tengah hujan, tersenyum hangat ke arahnya dari balik sebuah payung, mungkin berniat mengucapkan salam perpisahan - Toshirou tahu hal terakhir apa yang harus ia lakukan sebelum meninggalkan Edo.

Ia sudah membulatkan tekadnya. Dan ia hanya dapat berdoa semoga si rambut perak tidak berlari ketakutan setelah mendengar apa yang akan ia sampaikan nanti.

Toshirou akan memberitahu Gintoki tentang perasaannya yang sebenarnya.

.


.

Sungguh berat meninggalkan seseorang yang kau cintai, terutama saat kau mengetahui bahwa perasaan itu, mungkin saja telah berbalas.

Tidak ada pernyataan cinta di antara mereka. Mungkin karena keduanya merasa terlalu renta, ataupun terlalu di luar karakter mereka untuk mendapatkan penegasan berupa kata-kata. Toshirou hanya menatap mata merah redup di hadapannya untuk dapat mengerti. Tatapan si pria rambut perak yang biasanya tampak malas tersebut, kali itu dihiasi oleh kilat - seakan memohon Toshirou untuk membaca ke dalam dirinya. Tak perlu suara untuk sekedar penyampaian. Sepasang mata itu telah berbicara.

Yang terjadi di antara mereka berikutnya, mungkin adalah hal yang akan membekas di otak Toshirou dalam setiap langkah perjalanannya selanjutnya...

Si pria rambut hitam tersebut kini merenung sendiri di geladak kapal, menatap kosong entah apa, batang nikotin terpaut di antara kedua bibirnya. Diam-diam bernafas lega ketika tidak ada seorang pun dari bawahan-nya yang berani untuk mengganggu. Pikiran Toshirou sedang melayang akan kejadian beberapa jam lalu. Ia tidak tahu apakah ia harus menyesal, atau malah mensyukuri yang telah terjadi.

Ia tidak dapat menahan diri.

Hal yang Toshirou tahu, Gintoki kini ada di sana, menunggunya. Ia merasa kepergian saat ini malah menjadi semakin berat. Bayangan akan hamparan rambut perak pada lantai tempat Gintoki berbaring, kulit putih pucatnya yang dihiasi noda kemerahan, aliran keringat yang menuruni pelipis lalu jatuh ke tengkuk leher si pria rambut perak, refleksi otot-otot itu saat jari Toshirou menuruni jengkal demi jengkal tubuhnya, kehangatan erat yang luar biasa nikmat serta bau manis memabukkan yang si pria rambut hitam tidak pernah sangka Gintoki miliki - akan senantiasa menghantuinya seperti rekaman kaset yang telah rusak.

Sial. Toshirou bahkan tidak tahu apakah ia bisa berpikiran 'lurus' lagi saat memikirkan tentang Gintoki.

Ia merasa ingin menertawai dirinya sendiri. Siapa yang akan menyangka? Seorang (mantan) wakil komandan Shinsengumi dibuat tergila-gila oleh mantan pemberontak, dan dari semua orang di dunia, orang yang telah mencuri hatinya tersebut tidak lain tidak bukan adalah sang Shiroyasha sendiri. Sungguh terdengar bagai sebuah guyon yang tidak lucu.

(Wow. Saat ia pikirkan lagi, Shiroyasha yang legendaris tersebut telah membiarkan Toshirou menyetubuhinya. Mungkin hal ini dapat ia tautkan dalam daftar 'pencapaian hidup'-nya kemudian?)

Walau begitu, ada satu hal aneh yang mengganjal di pikiran Toshirou.

Bau Gintoki.

Ia pernah tidur dengan seorang gadis Alpha dari Yoshiwara (yap, bahkan seseorang sesibuk Hijikata Toshirou pun butuh pelampiasan sekali-kali). Namun wanita tersebut tidak memiliki aroma mempesona seperti Gintoki. Toshirou bahkan tidak pernah sekali pun kelepasan kontrol saat ia tidur dengan seseorang, tidak seperti yang terjadi beberapa jam lalu dalam kegiatannya bersama si keriting pemalas itu.

Mungkin ini ada hubungannya dengan perasaan yang ia benam untuk Gintoki? Mungkin hal itu juga mempengaruhi hormon-nya? Siapa tahu. Karena sebelumnya, yang pernah ia dengar- aroma memabukkan biasanya hanya dimiliki oleh para Omega.

Tidak mungkin 'kan kalau Gintoki-?

Tidak, batin Toshirou kemudian. Buang jauh-jauh pemikiran konyol tersebut.

(Ia sendiri tidak pernah mengerti seperti apa 'aroma' Omega yang orang-orang sering bicarakan tersebut. Jangan salahkan dirinya, memangnya berapa orang yang pernah bertemu Omega langsung?)

Toshirou tahu persis. Jumlah Omega yang lahir ke dunia sangatlah sedikit. Akan sangat beruntung jika kau pernah bertemu seseorang dari kaum tersebut dalam kehidupan nyata. Biasanya, seseorang yang saat lahir diklaim sebagai Omega akan segera dibawa untuk dijodohkan dengan keluarga-keluarga kerajaan atau bangsawan terhormat. Tempat yang pantas untuk 'kaum langka' seperti mereka...

Karena itulah, mustahil jika seorang samurai pemalas mantan pemberontak Joui seperti Gintoki-

"Toshi, apa yang sedang kau pikirkan?"

Toshirou seketika tersentak dari lamunannya. Perhatiannya kontan tertuju pada sosok di sebelahnya yang entah sejak kapan ikut bersandar pada sisi kapal bersamanya. Isao Kondou. Laki-laki pemimpin kelompok kebanggaannya.

"Uh. Tidak, aku hanya…," Toshirou menyesap rokok di apitan kedua jari-nya dalam-dalam. Ia mendengar seutas tawa kecil keluar dari bibir sang (mantan) komandan, yang seketika membuatnya terdiam.

"Apa kau tadi bertemu bos Yorozuya itu?"

"Kira-kira begitu…"

"Bagaimana?" Toshirou mendelik ke sosok Alpha di sebelahnya, yang kini tengah menatapnya dengan sunggingan senyum kecil. "-Saat perpisahan kalian? Apa berkesan?"

Toshirou kembali memutar bola matanya untuk menatap pada awan-awan di langit malam yang kini tampak seperti dicoraki warna biru tua. 'Berkesan'? Mungkin itu adalah istilah paling remeh untuk menggambarkan 'perpisahan' mereka tadi…

"Kurang lebih," jawab si laki-laki rambut hitam tersebut pendek. "Kondou-san sendiri bagaimana? Aku harap Otae-san tidak menghajarmu karena ini harusnya jadi saat mengharukan bagi kalian."

Toshirou sedikit menduga bahwa Kondou akan memulai sesi 'penolakan kenyataan' yang biasa ia lakukan saat seseorang mempertanyakan hubungannya dengan Tae. Namun tidak kali ini. Sang komandan malah memasang sebuah senyuman sedih. Dan Toshirou tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia agak terhenyak - dirinya tak punya pilihan lain namun terdiam.

Setelah beberapa detik, akhirnya Kondou memecah keheningan.

"Aku sedikit berharap ia akan menghajarku seperti biasanya."

"Apa yang terjadi?" tanya Toshirou dengan hati-hati.

"Ia dan Shinpachi-kun melepas kepergianku-", Kondou memasang sebuah raut sendu. "-dengan sebuah senyuman hangat. Hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka bahkan tidak ingin mengucapkan 'selamat tinggal'. Saat itu aku benar-benar merasa bahwa hal ini nyata. Akan sangat sulit untuk kembali ke kehidupan kita yang dahulu..."

Ah.

Toshirou tidak mengatakan apapun. Apa yang Kondou katakan memang benar.

Segala hal menyenangkan, menegangkan, maupun menjengkelkan yang dialaminya bersama Gintoki, kini seperti ada di belakang sana - sudah terjadi puluhan tahun lalu, entah apakah akan kembali lagi. Rambut perak dan wajah menyebalkan yang kadang tanpa ekspresi itu-

Toshirou merasa kini diserang oleh rasa rindu yang amat sangat terhadap kekasih(ia dapat menyebutnya demikian 'kan setelah yang terjadi tadi?) idiot-nya tersebut. Walau semenit kemudian ia menginterupsi pemikirannya sendiri dan berdecak di dalam hati.

Yang benar saja, aku 'kan baru saja beberapa jam lalu meninggalkan Edo!

"Lalu…", Toshirou mengeluarkan sebuah batuk kecil, berusaha mengalihkan mood sang komandan yang tampaknya makin muram. "Bagaimana dengan Sougo? Aku lihat tadi dia berhasil menakut-nakuti beberapa mantan anggota Mimawarigumi."

"Oh. Ia memang terlihat menyeramkan saat mengernyit seperti itu. Tampak seperti ingin membunuh seseorang," aura Kondou seketika tampak lebih cerah seiring dengan bergantinya topik di antara mereka. Toshirou bernafas lega di dalam hati. "Tidak, ia sebenarnya hanya sedang senang, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Jadi ia memasang ekspresi aneh seperti itu..."

"Hee?", Toshirou menopang dagunya, mengistiratkan lengannya pada pembatas kapal, menunggu pria lebih tua di sampingnya tersebut melanjutkan ceritanya.

"Sebelum kita pergi tadi, ia sebenarnya sempat keluar untuk mencari si gadis China, walau tampaknya ia lebih memilih melakukan seppuku dibanding mengakuinya", Kondou memasang sebuah cengiran, dan Toshirou pun ikut tersenyum. "-Ia tadi pulang dengan baju yang basah dan beberapa lebam di wajah dan lengan-nya, namun ia tampak sangat senang. Kelihatannya, dia berhasil bertemu si gadis China dan mengucapkan salam perpisahan padanya."

"Sougo memang tidak pernah jujur dengan perasaannya sendiri."

Kondou mengangkat kedua alisnya.

"Kau sendiri bagaimana, Toshi? Aku tidak yakin bahwa perpisahanmu dengan Yorozuya hanya sekedar 'kurang lebih'."

Toshirou kembali menutup bibirnya. Astaga. Kondou memang ahli dalam membuatnya kehilangan kata-kata.

"Aku berjanji akan kembali untuk menemuinya", sahut Toshirou setelah menghabiskan lima puluh detik untuk meyakinkan dirinya bahwa suara yang keluar dari kerongkongannya tidak bergetar atau terdengar canggung. Ia menatap komandan terhormat-nya tersebut lurus-lurus. Namun Kondou hanya tersenyum.

"Itu saja?"

"Ya, Kondou-san. Memangnya harus ada apa lagi?"

Kondou tidak membalas pertanyaannya dengan jawaban lugas. Ia hanya tertawa seraya menepuk pundak laki-laki lebih muda di sebelahnya keras-keras. Toshirou meringis. Menunggu hingga sang komandan berhenti menyiksa pundaknya yang malang dan mengalihkan pembicaraan mereka, mungkin ke topik lain yang lebih penting.

Namun, Toshirou tampaknya sedang berharap terlalu banyak.

"Kau tahu, Toshi", kata Kondou, masih dengan cengiran lebar di wajahnya, entah kenapa membuat sebuah perasaan tidak enak tiba-tiba hinggap di dada Toshirou.

"Ya?"

"Mungkin kau tidak sadar. Tapi ada bekas kemerahan yang lumayan besar di pangkal lehermu."

Toshirou merasa seluruh darah pada wajahnya menguap. Ia memucat dan matanya melebar. Kontan, ia bergerak cepat mengeratkan leher yukata yang ia kenakan. Berharap masih dapat mengelak apapun itu yang Kondou akan tuduhkan padanya kemudian.

"Kau tidak perlu berbohong padaku, Toshi. Selamat ya atas hubunganmu dengan Gintoki."

Walau begitu...

"HUH?!"

Tampaknya, nasi sudah menjadi bubur...

.

.


.

.

Saat Gintoki bangun dari tidur siang panjang-nya, ia tidak dapat menemukan apapun selain kekacauan beruntun yang datang bertubi-tubi.

Pertama. Ada sebuah senjata laras panjang asing(baca: alat kelamin) yang menempel pada kepalanya tepat pada saat ia terbangun dari sebuah mimpi buruk. Hal tersebut cukup untuk membuat Gintoki melayangkan tendangan paling kuat yang ia yakini melebihi Sanji dari One Piece sekali pun. Ia yakin trauma yang diperolehnya akan berdampak panjang.

Kedua. Ia menyadari bahwa pemilik dari 'senjata' tersebut tidak lain tidak bukan adalah Elizabeth, maskot bodoh pengikut Katsura Koutaro, teman lamanya yang juga tidak kalah idiot. Tampaknya kelompok yang dipimpin oleh Katsura kini mengabdikan diri mereka untuk melindungi Gintoki. Suatu hal yang sebenarnya tidak diperlukan si Omega rambut perak. Namun, atas jasa dari si rambut panjang bodoh, kini sepertinya seluruh populasi di Edo tahu bahwa Gintoki sedang dalam persembunyian.

Ketiga. Terimakasih pada Katsura, sang pemimpin pemberontak yang agung, bijaksana, setia kawan lagi rendah hati-nya, kini Gintoki telah resmi menjadi buronan pemerintah. Poster-poster berhiaskan wajah Katsura yang sedang ber-cosplay menjadi Gintoki disebar di seluruh Edo. Tidak tanggung-tanggung, pria sableng tersebut juga turut berkontribusi dalam menghancurkan image Gintoki dengan membuat foto-nya terlihat dua ratus kali lebih sadis.

Empat. Lima. Enam. Gintoki menghitung kekacauan-kekacauan yang terjadi di sekitarnya hanya dalam hitungan hari semenjak kepergian Toshirou. Mungkin sudah melebihi jumlah jari-jari yang ia miliki, termasuk jari kaki.

Ia butuh sedikit ruang untuk bernafas.

.


.

Gintoki memutuskan untuk berjalan diam-diam di tengah keramaian orang-orang di Akiba yang tidak mengidahkan dirinya - selepas pertemuannya dengan Nobume dan beberapa anggota Kiheitai yang tiba-tiba muncul beberapa jam yang lalu. Ia hanya butuh beberapa menit sendiri, sekedar untuk meluruskan pikiran dan menenangkan diri.

Sebenarnya Gintoki yang biasa tidak akan keberatan dengan segala keributan yang terjadi, toh hidup yang dijalaninya memang tidak pernah damai dari awal. Ia mungkin dapat berlaku cuek dan santai seperti Gin-san yang dikenal orang-orang bila saja ia berada dalam performa prima-nya yang normal. Namun saat ini berbeda...

Semenjak hari itu, Gintoki merasakan kondisi dalam dirinya menurun perlahan-lahan. Ia tidak dapat menjelaskannya - tidak paham apakah letak kesalahan tersebut ada pada fisik, mental, hormon, atau bahkan mood-nya. Pada setiap detik ia melangkah, ia hanya dapat merasa semakin buruk. Trauma akan Shouyou yang telah lama dipendam si Omega rambut perak tersebut kini terpampang jelas pada pikirannya dalam mode maksimal. Fakta yang dikatakan si gadis mantan anggota Mimawarigumi, Nobume, mengenai mantan guru-nya juga sama sekali tidak membantu Gintoki. Ia malah menemukan dirinya jatuh ke kondisi yang semakin tidak kondusif...

(Oh, ngomong-ngomong, kini Gintoki paham darimana Shouyou memperoleh seluruh pengetahuan tentang Omega. Tentu sebagai orang yang telah hidup ratusan tahun, sang guru sudah mempelajari segala hal mengenai makhluk bernama manusia, kan?)

Gintoki tahu bahwa dirinya sama sekali tidak boleh menunjukkan kerapuhan ini di hadapan siapa pun. Edo carut-marut. Gintoki dapat mencium potensi peperangan yang akan terjadi di masa depan. Mungkin akan lebih parah dari masa lalu, karena kini semua orang di dalamnya tampaknya akan turut terlibat.

Ia harus menguatkan dirinya. Demi Kagura, Shinpachi, semua orang (dan makhluk hidup) di Edo, bahkan Takasugi dan mendiang Shouyou. Juga demi Shinsengumi yang sedang berjuang di sisi lain - dan tentunya juga demi pria yang dicintainya, Toshirou.

Toshirou.

Gintoki merasakan jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat saat nama itu terlintas di otak-nya.

Sejujurnya, Gintoki tidak tahu harus menangis atau tertawa saat ia mengingat si Alpha idiot penggila mayonnaise tersebut. Seharusnya ia merasa bahagia karena kini, sebagai Omega, dirinya resmi terikat pada Toshirou. Yah, walaupun sang Alpha sendiri tidak mengetahui tentang hal itu…

Gintoki tidak dapat menghindarkan kepalanya dari pemikiran-pemikiran buruk. Akankah Toshirou membencinya jika ia tahu bahwa si rambut perak telah diam-diam membuatnya memberikan ikatan sepihak, terlebih pada seorang Omega seperti Gintoki? Si rambut perak tahu bahwa sebenarnya ia telah menggali kuburannya sendiri. Ia tidak dapat membayangkan separah apa heat berikutnya yang akan ia lewati kuranglebih dua bulan lagi. Ia tidak paham akan bentuk resiko yang harus dihadapi apabila seorang Omega yang telah terikat, menghabiskan masa subur-nya tanpa kehadiran pasangan Alpha mereka. Bahkan ia juga sama sekali tidak mengerti akibat apa yang akan diterima tubuhnya saat ini ataupun ke depan nanti...

Apa kondisi dirinya yang tidak stabil saat ini berpengaruh pada ikatan yang tidak lengkap tersebut-?

Tidak. Tidak. Gintoki berharap tidak demikian. Ia ingin segera pulih. Banyak hal yang harus dilakukannya saat ini. Termasuk…

"GIN-SAN!"

Suara Shinpachi. Disusul dengan gonggongan khas milik Sadaharu, dan derap langkah mereka yang semakin terdengar keras.

"GIN-SAN! GAWAT!"

Mereka tampak panik.

"Shinpachi, apa yang-"

"KAGURA MENGHILANG!"

.


.

Tampaknya, Kagura telah meninggalkan bumi bersama dengan sisa kru Kiheitai. Tidak butuh waktu lama bagi Gintoki dan Shinpachi untuk menyadari hal itu - sehingga dalam hitungan detik saja mereka telah dapat memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Karena itulah, kini mereka berada dalam kapal milik Sakamoto, pedagang dengan tawa aneh yang dulu pernah bertarung bersisian dengan Gintoki dalam perang melawan Amanto. Perjalanan mereka akan sangat berbahaya, karena semua orang tahu bahkan sang Shogun sendiri sedang memburu mereka.

"Gin, apa kau punya taktik yang bisa mengalihkan perhatian si belah pinggir tersebut?" tanya Katsura pada Gintoki tiba-tiba saat mereka semua terduduk di sekitar meja bundar, membicarakan mengenai langkah paling tepat yang harus diambil.

Gintoki tersentak. Ia tidak sadar bahwa wajah dari si rambut panjang hitam itu kini terpampang di hadapannya dengan raut serius. Sebenarnya pikiran Gintoki sedang kacau - ia tidak menginginkan hal apapun selain terbaring di futon kesayangannya dan berdoa agar semua penderitaan ini segera menghilang. Diam-diam ia juga berharap bahwa Katsura tidak akan menyadari beberapa bulir keringat yang sedang menuruni dahi Gintoki.

Tidak ada yang boleh mengetahui bahwa ia sedang berada dalam kondisi nyaris-depresif.

"Oh," seru Gintoki kemudian. Memasang wajah 'terinspirasi' terbaik yang bisa ia berikan, karena perhatian semua orang di ruangan tersebut sedang terpusat pada dirinya. "Aku punya satu ide…"

"Oh, boleh kau jelaskan, Kintoki?"

Biasanya Gintoki akan marah jika mendengar Sakamoto memanggilnya dengan nama yang keliru. Namun ia tidak punya energi untuk melakukan hal itu kini. Ia hanya dapat meringis dan memutuskan untuk kembali melanjutkan kalimatnya.

"Ah. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang sebaliknya, kita membuntuti kapal-kapal mereka dari sekarang dan memasang kamuflase. Pada saat mereka menemukan 'kamuflase' itu, kita tinggal serang mereka dari belakang-"

"OOOOH. OH ITU IDE YANG SANGAT BAGUS KINTOKI."

"SEPERTI YANG BISA KITA DUGA DARI SHIROYASHA."

"INI AKAN JADI KEMENANGAN MUDAH!"

Gintoki tersenyum tipis saat semua orang terlihat begitu bersemangat dalam menjalankan taktik yang diusulkannya. Mereka kemudian berlanjut untuk mendiskusikan mengenai gaya tendangan apa yang akan digunakan untuk menghajar Shogun nanti. Gintoki merasa bahwa momen ini dapat menjadi saat yang baik untuk diam-diam kabur dan menenangkan dirinya sendiri di tempat yang tidak banyak orang. Ia bangkit dari kursi tempatnya duduk, dan bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum seorang pun menyadarinya.

Gintoki tidak tahu, bahwa ada satu orang yang daritadi dengan giat terus mengawasinya. Mata orang itu mengikuti figur Gintoki yang menghilang di balik pintu keluar, menatap punggungnya dengan pandangan yang sulit ditebak.

Orang itu kemudian memutuskan untuk keluar diam-diam dan mengikuti Gintoki.

.


.

Gintoki mengunci dirinya di sebuah toilet yang ditemukannya pada ujung lorong kapal raksasa tersebut.

Ia merasa mual. Keringat dingin kini makin mengalir deras pada wajahnya yang putih pucat. Beberapa helai rambut peraknya menempel di dahi dan pelipisnya. Bahkan sendi-sendi di seluruh tubuhnya pun ikut memberontak, tulang-tulang punggungnya seakan berkedut menyakitkan dan Gintoki yakin ia tidak pernah merasakan hal seperti ini bahkan ketika sedang mengalami cedera yang paling parah.

Tapi satu hal yang paling tidak dapat Gintoki tahan, adalah pikiran-pikiran buruk yang melintas dengan gila dalam otaknya. Adegan kematian Shouyou berulang kali terputar, bersamaan dengan senyum mengerikan Utsurou saat sang immortal nyaris memenggal lehernya. Trauma mengerikan itu kini punya tempat permanen di dalam satu sisi kepalanya.

Gintoki juga tidak dapat menghentikan prasangka akan Toshirou yang menyebar bagaikan virus dalam kekacauan psikis-nya. Bagaimana Toshirou akan membencinya saat mengetahui Gintoki adalah Omega. Bagaimana Toshirou akan meninggalkannya. Sang Alpha akan menemukan seorang gadis baik mirip Mitsuba dalam perjalanan panjangnya. Toshirou mungkin tidak akan kembali. Gintoki akan terjebak selamanya dalam ikatan sepihak yang tidak akan pernah terlengkapi.

Si rambut perak menyiramkan setangkup air pada wajahnya yang kian pucat. Membiarkan kucuran-kucuran air jatuh dari dagu dan ujung-ujung rambutnya. Kedua lengannya ia rengkuhkan pada tubuhnya yang mulai bergetar. Gintoki ingin meraung dan menangis, ia tidak menyukai kondisi aneh yang menguasainya saat ini. Ia ingin bebas. Ia punya hal-hal mendesak yang harus segera dihadapi…

Apakah ini murni karena ikatan yang diterimanya saat itu? Memikirkan tentang kemungkinan itu, Gintoki ingin membantingkan kepalanya sendiri pada lantai baja di bawah kaki-nya. Ia seharusnya tidak membuat pilihan yang sembrono. Waktu itu, bisa saja ia menghentikan Toshirou jika ia mau(mengenal Toshirou, ia yakin sang Alpha pun tidak akan memaksanya). Gintoki sama sekali tidak paham akibat apa yang akan diterima tubuhnya ketika seorang Alpha - terutama Alpha dengan gen sekuat Toshirou - meng-klaim dirinya yang seorang Omega. Ia terlalu diliputi keserakahan pada saat itu, terlalu menginginkan Toshirou untuk menjadi satu-satunya Alpha yang dapat memiliki dirinya…

Gintoki merasakan perut bawahnya ikut berkedut, dan ia merasa semakin mual.

...ia hanya berpikir, jika Toshirou ada di sini, akankah ia merasa jauh lebih baik?

Suara ketukan pada pintu toilet membuat Gintoki nyaris terlonjak. Buru-buru ia menyeka matanya yang setengah berkaca-kaca, dan berusaha membuat rambut keriting awut-awutannya terlihat sedikit lebih pantas. Menekan tombol flush hanya untuk membuat kegiatannya di dalam toilet terlihat lebih meyakinkan, Gintoki menjawab ketukan itu dengan sebuah sahutan.

"Aku sudah selesai! Maaf sepertinya tadi aku mengeluarkan setoran selama satu minggu-"

"Gin-san?"

Gintoki terhenti.

Shinpachi?

"Gin-san apa kau di dalam?" tanya Shinpachi lagi, dan Gintoki dengan jelas mendengar nada khawatir dalam intonasi suaranya. "Gin-san?"

Jika ia tetap bersikukuh untuk mengunci dirinya di dalam, Gintoki tahu ia hanya akan membuat anak remajanya tersebut semakin khawatir. Setelah berdebat singkat dengan dirinya sendiri, akhirnya Gintoki memutuskan untuk membuka pintu yang memisahkan mereka berdua.

Shinpachi tampak terperanjat saat ia melihat sosok Gin yang hanya memberikan senyum kecil padanya. Si rambut perak berusaha untuk memberikan cengirannya yang biasa padanya - walau tampaknya mungkin hanya terlihat sebagai sebuah jerngitan karena ia juga tengah menahan setengah mati sakit yang dirasakannya.

"Hi Patsuan…"

"Gin-san, kau pucat sekali…"

"Mungkin aku makan sesuatu yang aneh tad-"

"GIN-SAN! Jelas-jelas ada sesuatu yang salah denganmu!" Gintoki hanya dapat pasrah saat anak didik-nya tersebut menempelkan telapak tangannya pada dahinya yang dipenuhi keringat. "Astaga, tubuhmu dingin sekali…"

"Aku tidak apa-apa, Shinpac-"

Gelombang rasa mual yang tadi susah payah Gintoki tahan, tiba-tiba menyerangnya lagi dengan dorongan penuh. Ia dengan segera menutup mulutnya dan mendorong Shinpachi yang terlihat semakin panik - berlari ke arah kloset yang masih tidak jauh berada di belakangnya.

Matanya berkaca-kaca saat ia memuntahkan seluruh isi perutnya pada kloset di hadapannya. Ia merasakan tangan si remaja berkacamata yang mengelus punggungnya. Berusaha sesabar mungkin mengatakan sesuatu di tengah pening yang mulai dirasakan Gintoki.

"Gin-san, kita harus ke dokter setelah ini."

"Tidak, Patsuan. Aku tidak apa-apa, kapal Shogun pasti sudah mendekat kini-"

"Gin-san! Kau tidak bisa bertarung dengan kondisi begini!"

"Aku tidak apa-apa", tegas Gintoki lagi, mengibaskan tangan Shinpachi yang berusaha menuntunnya untuk bangkit. Ia agak sedikit oleng saat berusaha untuk berdiri, namun Shinpachi ada di sana untuk menopang tubuhnya.

"Gin-san, kumohon tolong ceritakan padaku jika ada sesuatu…"

"Aku sudah bilang, tidak ada yang salah denganku," Gintoki berusaha meyakinkan remaja di sebelahnya sesaat setelah ia berkumur dengan air wastafel dan membasuh wajahnya sekali lagi. Ia menatap Shinpachi singkat setelahnya, menghembuskan nafas dan tersenyum saat menyadari wajah luar biasa khawatir yang tengah dikenakannya.

"Aku tidak apa-apa," Gintoki menepuk pundak remaja kebanggaannya tersebut.

"Semua akan baik-baik saja."

Atau setidaknya, itulah yang ia harapkan.

.

.

.

.

.


End Notes:

Ini yang akan terjadi kalau menulis fanfic di tengah2 cuti sambil mendengarkan musik dari band metalcore o(-(

Anyway, terimakasih telah membaca chapter 2! Sepertinya saya merencanakan 4-7 chapter untuk cerita ini. Yap, cerita ini mungkin akan mengandung banyak spoiler (untuk kalian yang masih catching up dengan cerita canon-nya) karena permulaannya akan mengambil jalan cerita yang kurang lebih sama dengan canon(walau tentu saja saya nge-skip detail yang bisa kalian baca sendiri di manga-nya), walau nanti akan berbeda akhirnya.

Terimakasih sekali lagi! Review will be really appreciated! (The English version will be out on Ao3 soon, as well!)