Title : Precious Love
Author : LyA-Qii
Cast : Mark Tuan (GOT7), Park Jinyoung aka Junior (GOT7)
Other Cast : GOT7 Members
Genre : Romance, School Life, Friendship, Drama, OOC
Rating : Teen
Lenght : Chapter
Seorang pria keluar dari sebuah toko yang bertuliskan N'Young Cofeeshop lalu memperbaiki tatanan seragam sekolahnya sambil berkaca didepan pintu toko ini. Ia tersenyum sebentar melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu yang tepat lalu kakinya melenggang dari toko berukuran sedang ini
Park Jinyoung
Pria ini baru saja duduk di halte bus dekat N'Young Cofeeshop, kedai kopi milik orang tuanya. Jinyoung harus menunggu seseorang disini, ia kembali melihat jam yang melingkar ditangannya lalu tersenyum kembali
"Kau kalah, Kim Yugyeom." Jinyoung melihat pria yang sedang berlari diseberang jalan dan berusaha menyeberang yang sialnya keadaan jalan yang sangat ramai ini, ia bangkit lalu terkekeh pelan. Mengejek pria yang masih sibuk menyeberang jalan itu
"Strike! Kau kalah lagi." ujar Jinyoung menyambut kedatangan pria bernama tag Kim Yugyeom
"Aishh... kau sangat tahu kelemahanku." pria bernama Yugyeom ini mengusap peluh yang membanjiri wajahnya
"Kalau begitu jalan lupa istirahat nanti." Jinyoung menaik-turunkan kedua alisnya, Yugyeom tahu maksud pria ini
"Hmmm." Yugyeom hanya berdehem pelan mengiyakan perkataan Jinyoung
Siasat Jinyoung tepat juga, ia berhasil membodohi Yugyeom dengan sedikit curang di taruhan ini. Ia sengaja tidur di kodai kopi orang tuanya agar ia lebih cepat sampai di halte bus yang dijanjikan kemarin. Dan menanglah Jinyoung
Dua pria yang tadi berada di halte sekarang sudah berada di koridor sekolah dikawasan jantung kota Seoul. Pria bernama Kim Yugyeom ini masih saja menunjukkan wajah masamnya setelah ia kalah taruhan tadi, taruhan yang sangat tidak adil menurutnya
"Itu satu-satunya cara agar kau bisa berangkat pagi." ucap Jinyoung membuka suara, selama dalam perjalanan tadi mereka hanya saling diam dengan keadaan Yugyeom yang kesal habis-habisan
"Aku tidak mau taruhan semacam itu, tidak masuk akal!" gerutu Yugyeom sambil menatap sinis Jinyoung, sahabatnya yang satu ini selalu membuatnya sebal
"Baik... hari ini saja, lagi pula aku sampai lupa sarapan." lalu Jinyoung melenggang pergi tanpa rasa bersalah pada Yugyeom
"Mwo?! Yakk... Park Jinyoung berhenti!" teriak Yugyeom dengan suara yang menggema, sial! Anak itu kembali membodohinya
.
.
"Satu minggu lagi Natal, kau ada acara?" tanya Yugyeom sambil duduk disamping Jinyoung yang sedang memainkan ponselnya
"Eung..." Jinyoung berpikir sebentar untuk menjawab perkataan Yugyeom
"Mungkin pulang ke Busan." jawabnya setelah berpikir lama, terdengar suara hembusan nafas dari mulut Yugyeom
"Sekali-kali di Seoul bersamaku, ya?" bujuk Yugyeom sambil memohon, jangan lupa dengan wajah yang err.. membuat Jinyoung ingin muntah
"Ihh.." Jinyoung memukul pelan pipi Yugyeom bermaksud untuk menghentikan ekspresinya yang memuakkan itu
"Kenapa kau menamparku?" kini Yugyeom menunjukkan ekspresi sedihnya
"Yakk! Kau berlebihan." omel Jinyoung menatap horror Yugyeom, sejak kapan dia belajar akting? Hidupnya malah dramatis seperti ini
.
.
Satu minggu lagi Natal? Jinyoung pikir waktu berjalan sangat cepat, ia bahkan tidak sadar jika sebentar lagi Natal. Kenangan Natal hanya membuatnya mengingatkan masa yang membuat Jinyoung benci pertama kalinya pada seseorang. Saat ini ia tengah beradu pikiran yang malah membuatnya pusing, Jinyoung menengadahkan kepalanya ke langit yang diselimuti awan putih yang terlihat sangat lembut, selembut tatapannya
"Mark... aku benar-benar membencimu." gumamnya pelan sambil menatap sendu, berbeda dengan beberapa detik yang lalu
"Ini sama sekali tidak berguna untukku." Jinyoung menatap gelang perak ini, rasanya ingin sekali melepas benda ini dari tangannya namun entah kenapa hatinya menolak
"Kenapa kau selalu bertolak belakang dengan ego ku?!" kembali Jinyoung menatap gelang perak ini dengan tatapan tanpa minat
Seorang pria dengan sweater wol abu-abu nya menatap kosong ke arah luar jendela yang berembun ini, tidak sehangat pakaian yang ia kenakan. Disini salju sudah turun satu hari yang lalu, perlahan tangannya bergerak menuliskan huruf keatas kaca jendela itu
진영
Entah nama siapa itu, yang pasti bagi pria ini nama itu milik seseorang yang sangat ia rindukan selama beberapa tahun ini
"Park Jinyoung, aku mencintaimu." gumamnya pelan sambil menatap tangannya yang terdapat gelang perak yang terlihat sangat cocok dengan warna kulitnya
"Mark.." sebuah suara menyadarkan lamunannya terhadap gelang ini lalu pria yang dipanggil Mark ini menoleh
"Kau menyiapkan kopermu? Kau mendapat jadwal terbang pukul 2 siang." Mark hanya mengangguk menjawab pertanyaan eommanya
"Eomma.." panggil Mark pelan saat eommanya hendak menutup pintu dan wanita paruh baya itu membalikkan tubuhnya
"Ya?"
"Eomma ikut kan?" wanita yang berada diambang pintu itu tersenyum lalu berjalan mendekati sang anak
"Eomma akan kesana bersama appa, dua hari sebelum Natal." seketika mata Mark berbinar mendengar perkataan eommanya
"Ahh.. Terima kasih eomma." detik selanjutnya Mark memeluk tubuh sang eomma sambil tersenyum bahagia
"Eomma ingin bertemu dengan Park Jinyoung yang berhasil membuat anak eomma seperti tidak terurus." seketika Mark langsung melepaskan pelukannya, menatap eommanya sedikit kesal
"Eomma... itu karena aku sangat merindukan Jinyoung." wanita didepan Mark ini hanya bisa terkekeh melihat putranya bertindak seperti ini
Jinyoung memasuki kedai kopi milik keluarganya bersama Yugyeom. Kedai kopi dengan desain interior bernuansa vintage ini terkesan sederhana sekaligus mewah, cocok untuk segala usia untuk berkunjung ke kedai kopi ini
"Kau mentraktirku disini saja." ujar Jinyoung mendudukkan dirinya dimeja dekat kasir
"Aishh.. ku pikir kau yang akan mentraktirku." Yugyeom kembali berwajah masam, lagi-lagi ia dibodohi oleh Jinyoung
"Tenang saja.. untuk mu ada potongan harga." ujar Jinyoung langsung disambut mata binar Yugyeom
"Jinjja? Kalo begitu cepat pesan!" Jinyoung langsung mengangguk lalu berjalan menuju kasir untuk memesan kopi
"Hei.. mana uangnya?" teriaknya yang sadar jika Yugyeom belum memberinya uang
"Ku pikir kau lupa." Yugyeom langsung merogoh dompetnya lalu mengeluarkan won nya
"Selalu terasa enak jika mendapat potongan harga." ujar Yugyeom setelah mengesap kopi miliknya
"Ohh.. jadi, selama ini kopi milik orang tua ku tidak enak?!" komentar Jinyoung memukul tangan Yugyeom, ia kan baru memberikan potongan hari pada pria berambut jamur itu pertama kalinya
"Ya- eh.. maksudku tidak. Yakk Park Jinyoung, ini kopiku!" teriak Yugyeom membuat pengunjung di kedai ini menoleh kearahnya
"Kau berteriak terlalu kencang bodoh!" ucap Jinyoung sambil mengembalikan cup kopi milik Yugyeom
"Kau yang memulai!" Yugyeom menjulurkan lidahnya lalu kembali meminum kopinya
"Dimana tadi kau saat istirahat? Ku aku tidak perlu mentraktirku makan siang." tanya Yugyeom mencairkan suasana, bagaimana juga dan sesering pun mereka berdebat, maka tidak akan ada yang merajuk lama-lama terutama Yugyeom. Ia terlalu sayang pada Jinyoung, sahabatnya ini
"A-aku... pergi menenangkan pikiranku. Yakk! Kau pikir aku tidak pusing apa?! Hampir seluruh mata pelajaran hari ini tidak ada satupun yang kau mengerti." Jinyoung berkata sakartis tidak peduli dengan Yugyeom yang kini hanya menyengir kuda
"Salah aku sendiri yang terlalu pandai."
"Terima Kasih." ucap Jinyoung sambil menunjukkan eye smile nya
"Yakk!" tadi itu Yugyeom sedang mengejeknya bukan memujinya, aneh!
"Dia akan pulang tahun ini?" Jinyoung menatap Yugyeom lamat-lamat, dia? Ia tahu maksud Yugyeom siapa
"Kau menghancurkan mood ku." tangan Jinyoung menyingkirkan cup kopi sedikit menjauh dari tangannya
"Untukku?" tanya Yugyeom melihat cup kopi tersodor ke arahnya
"Yakk!" Jinyoung segera menepis tangan Yugyeom yang hendak mengambil cup kopinya, padahal ia tidak bermaksud memberikan kopi ini untuknya
"Aishh.. kau sensitif sekali. Padahal aku tidak menyebut namanya."
"Kau berani menyebut namanya dihadapanku maka aku akan membunuhmu!" Jinyoung bersiap meninju Yugyeom, ohh.. lihatlah, Yugyeom melihat ini hanya sebagai candaan
"Kau tidak merindukannya? Jinyoung-ah.. kau hanya belum arti cinta." pria Park ini terdiam sejenak, berusaha meresapi perkataan Yugyeom yang sangat sulit dicerna oleh otaknya. Ia hanya tak ingin membahas kenangan pahit itu
"Park Jinyoung, sebentar lagi dia kembali. Bukalah hatimu, jangan egois." terdiam kembali dan cukup lama, Jinyoung belum membuka suaranya lebih tepatnya tidak tahu harus berkata apa. Dia akan kembali? Disaat hatinya mulai membaik, berhasil melupakannya. Hatinya sama sekali belum siap untuk menerima pria itu, bahkan untuk menyambut kedatangan pria itu
'Mark... aku tidak yakin masih mencintaimu.'
-TBC-
LyA-Qii is back!
Gak yakin ada yg nunggu T.T liat review masih dikit rasanya gmana gitu, gk tahu emng yg baca emng segitu atau siders hormon(?) Krn aku jga baru cari nama di dunia ff ini. But... gak apa" yg penting udh ada yg kasih review, aku udh seneng buat lnjut post Precious Love^^ walaupun ff ini udh END tinggal ngepost aja. So... wait for me
©LyA-Qii2016
