Seasons of Love

Disclaimer : Yamaha

Warning(s) : Typo(s), alur yang tak menentu, bahasa/kalimat yang sulit dimengerti, jalan cerita yang melenceng, POV tidak beraturan, scene moe bertebaran (?)

Genre(s) : Comedy, Drama, Romance/Hurt, Slice of Life, School Life

Rated : T (Teen)

Summary : "Masihkah kau ingat? Dimana saat kita pertama kali bertemu? Saat cuaca sudah mulai mendingin? Kuharap kau mengingatnya, dan apabila kau ingat itu, itu sangat membuatku senang, lebih dari senang."

A/N : Aa~ sudah chapter 2. Senangnya~. Awalnya, Keron ingin berterimakasih yang sudah membaca fanfic aneh ini ^^b terutama kepada Lynn 'Ne'-chan yang sudah mem-follow fanfic ini~ Sankyuu~ ikuti terus jalan ceritanya yaa, dan jangan bosan ;D

- Short story -

Rin : Keron, tadaima~

Keron : Ah, Rin. Okaeri! *lanjut bikin fanfic*

Rin : Wah, lagi bikin fanfic? Kok gak bilang-bilang?

Keron : Aaa ketahuan deeh… hehe~ maaf ya, gak bilang-bilang… *pundung*

Rin : Gak apa, kok! Hey, bukannya senin kamu akan MIDSEM?

Keron : Iya sih, tapi ini demi para readers juga, (memang ada yang ngebaca?) mungkin kali ini Keron hiatus sebentar, Insya Allah sekitar satu atau dua minggu, fokus belajar.

Rin : Hmm, yaudah kamu lanjutin aja dulu fanficnya~ *flip hair *salah

Keron : Okey! *pose *salah juga

Rin : Sok banget-_- buat para readers, jangan lupa review ya~ nanti Keron gak ngelanjutin fanficnya looh :D

Keron : Hee? Siapa bilang! Kalaupun tanpa review, aku akan tetap ngelanjutin fanficnya, kok! Demi para readers!

Rin : Hoooh, oke-oke…

- Short Story TBC -

Chapter 2 : Perasaan

Normal POV

Rin menuju ke arah lemari buku langganannya di perpustakaan. Ia memilih buku-buku yang berada di bawah, agar mudah dijangkau. Kemudian, Rin mengambil dua buku, lalu Ia bawa sampai ke kursi perpustakaan. Rin mulai membaca bukunya.

"Cklek." suara pintu perpustakaan terbuka, Rin merasa terganggu, konsentrasinya hilang sejenak. Rin melihat ke arah pintu perpustakaan, Ia menunggu siapa yang akan masuk. Rin kaget! Yang masuk adalah lelaki berkacamata kemarin! Kali ini Rin merasa sangat terganggu akan kedatangan lelaki itu.

Rin berjalan mendekati lelaki berkacamata tersebut. "Hoh? Aah, Kagamine-sa-" "Uuh, nanti saja bicaranya! Sini ikuti aku!" lelaki itu belum selesai berbicara, Rin sudah menyeretnya duluan ke samping lemari buku yang lumayan sepi. Semua pandangan mata tertuju kepada Rin dan lelaki berkacamata.

"Mengapa kau membawaku ke sini?" lelaki itu bertanya, dengan wajah polos tak berdosa dan memiringkan kepalanya. Rin terdiam sebentar, Ia tak tahan dengan wajah imut milik lelaki itu. "Na-... namamu… Siapa namamu!" Rin bertanya balik, sambil memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat wajah manis lelaki tersebut. "Hee? Hanya untuk menanyakan namaku? Kenapa tidak di depan pin-" "Sudahlah, ce-ce-cepat jawab!" ucap Rin tak sabaran.

"Oke, namaku Len. Len Kamine." jawab lelaki berkacamata itu, Len. Hah?! Kamine?! pikir Rin kaget. "Kamu anak pemilik Kamine's Restaurant itu, ya?!" Rin syok berat. "Iya. Memangnya kenapa?" lagi-lagi, Len memiringkan kepalanya. Rin ingin nosebleed, tapi ditahannya sambil menutup hidungnya dengan tangannya.

Anak ini, pemilik restoran terkenal berbintang 5 itu?! Aku… tak menyangka. Rin masih syok. "Memang aku anak pemilik restoran itu, tapi aku tidak terlalu menonjol di sekolah, kok. Tapi, maaf. Aku cukup cakep." Rin mangap, Ia tak menyangka lelaki super polos berkata seperti itu. "Ha… haha… hahahahaha!" Rin tertawa sangat keras, membuat semua orang yang ada di perpustakaan melihatnya.

"Bisa-bisanya… bisa-bisanya kau percaya diri akan fisikmu! Huahahahaha!" Rin masih tertawa, "ugh… perutku sakit… hahaha…" tertawa. Hingga perutnya sakit. "Bukannya aku memang cakep?" Rin tertawa lagi. Kali ini, tertawanya lebih keras.

Akhirnya dia tertawa juga… kata Len dalam hati.

"Syuu~" buku setebal 5 cm melayang ke arah Rin. "Duk!" Buku itu mengenai ke arah kepala Rin, Rin hanya bisa berjongkok sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Yang di sana! Mohon tenang!" petugas perpustakaan menegur Rin.

"Kau baik-baik saja…?" Len memulai pembicaraan, sedikit sweatdrop. "Kondisi begini, kau kira aku baik-baik saja?" Rin menjawab dengan nada… yandere. "Uwaa, maaf, ke UKS saja…" Len langsung mengangkat Rin, karena Rin kaget akan perbuatan Len, Ia hanya bisa meronta-ronta, tetapi Len tidak menghiraukannya. Rin makin malu, Ia menutup wajahnya sembari Len berjalan keluar perpustakaan.

Len berlari melewati beberapa lorong sekolah, sekolah mulai ramai, karena sudah pukul tujuh pagi. Murid-murid melihat Len dan Rin, dan sebagian dari mereka berteriak-teriak menyoraki Len. "Len! Kau hebat!" Len hanya tersenyum bodoh, sedikit-sedikit Ia melambaikan tangannya ke murid-murid perempuan, sok kenal. Murid-murid perempuan malah takut.

Sesampai di depan ruang UKS, Len membuka pintunya, dengan cara mendorong ke depan. Tidak bisa dibuka. "Kagamine-san… pintunya-" "Cukup kau tarik saja, bodoh!" Len menarik pintunya, ternyata bisa dibuka.

"Turunkan aku!" Rin membentak Len, layaknya seorang Himedere, tsundere juga bisa. Len segera menurunkan Sang Putri, Rin. "Baiklah, Ojou-sama." kata Len sambil menbungkuk hormat, seperti seorang pelayan. Itu membuat Rin malu, wajahnya memerah. Karena Ia tak tahan dengan wajah polos Len, Rin segera memasuki ruang UKS.

"Kau ke kelas saja… sudah pukul tujuh. Nanti kau terlambat masuk ke kelas," kata Rin sambil menaiki kasur yang sudah ada di UKS.

"Tidak perlu, aku di sini saja," Len ikut masuk ke dalam UKS. Kata-katanya membuat wajah Rin merah lagi. "Ke-kenapa…?" Rin bertanya kepada Len, malu-malu.

"Karena aku ingin bolos pelajaran sejarah." Rin hanya bisa sweatdrop, Rin mengepal tangannya. "B-bakaaaa!"

Rin POV

Aku berhasil memukul Kamine-san. Sekarang, Kamine-san hanya bisa mengeluh kesakitan, sambil berguling-guling di lantai. Aku mengacuhkannya, aku kembali tidur di atas kasur UKS. Apa yang sedang kupikirkan tadi? Saat Kamine-san ingin berada juga di UKS, kupikir karena dia ingin bersamaku lebih lama. Tidak mungkin! Baru saja kenal!

Sekian lama aku berpikir hal-hal yang aneh, (kenapa mesti bilang 'aneh' ya…) Kamine-san menatapku sekian lama, wajahnya terlihat sangat manis, aku tidak tahan. "Kenapa… kenapa lihati-lihat?!" tanyaku sambil memalingkan wajahku, karena aku sudah malu.

"Ah… nggak… itu…" jawab Kamine-san sambil ikut memalingkan wajahnya, wajahnya merah. Entah kenapa, wajahku ikut makin memerah! "itu… kancing bajumu…"

Len POV

Kepalaku sedikit benjol. Kagamine-san memukul kepalaku, sangat keras. Apakah aku salah memberitahunya bahwa kancing bajunya terbuka? Dan juga, aku tidak mesum, kok!

Aku berdiri dari lantai keramik, setelah aku dipukul oleh Kagamine-san. Aku memulai percakapan, walaupun Kagamine-san masih terlihat kesal. "Oh iya, kalau mau, pulang sekolah ke restoranku, yuk!" ajakku kepadanya. Kagamine-san masih terlihat berpikir.

"Aku tidak ikut!" jawabnya sambil memalingkan wajahnya. Aku tahu dia ingin ikut. "Yakin tidak ingin ikut?".

"Ta-tapi… kau yang bayar!" katanya jujur dengan ketus, walaupun mungkin dia hanya bercanda disaat dia memintaku untuk membayarnya. Takut image tsundere-nya turun, mungkin? "Yakin aku yang bayar?" kataku menggodanya, dia tidak menjawab. Kubiarkan suasana hening sejenak. "Uuh… baiklah, aku bayar sendiri!" katanya tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya.

"Haha," kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, karena bingung untuk membicarakan apa selanjutnya. Aku memang tidak tahan dengan suasana diam, apalagi bila berduaan dengan anak perempuan. "Kagamine-san, boleh aku memanggilmu dengan nama depanmu?" tanyaku kepadanya.

"Huh? Kenapa?" Kagamine-san bertanya balik, wajahnya memandangku dengan tatapan mata yang lumayan mengerikan. "Agar mudah untuk memanggilmu. Menurutku, nama panggilan seperti itu terlihat lebih pantas untuk memanggilmu, nama yang manis!" kataku sambil tersenyum lebar ke arahnya. Lalu aku melihat kembali ke arah Kagami- ehm, Rin. Wajahnya merah, dan ekspresi wajahnya terlihat abstrak tak beraturan.

"Wajahmu kenapa memerah, Rin? Demam, ya?" aku mendekati wajah Rin, Rin mulai bertingkah aneh, lalu memegang ke arah dahinya, tidak terlalu panas. "hmm, aneh… Tidak demam, kok…"

Rin POV

Aku diajak oleh Kamine-san untuk pergi ke restoran miliknya, milik keluarganya, pulang sekolah ini. Sekarang aku hanya bisa memikirkan ajakkannya. Hmm… aku ikut saja, deh. Makanan di situ juga enak-enak! Eh, tidak! Aku tidak ingin makan bersama lelaki mesum ini!

"Aku tidak ikut!" kataku sambil memalingkan wajahku terhadapnya. "Yakin tidak ingin ikut?" katanya, membuatku ingin menarik kembali ucapanku tadi.

"Ta-tapi… kau yang bayar!" jawabku lagi dengan nada ketus, mencari alasan lain agar dia tahu bahwa aku ingin ikut. "Yakin aku yang bayar?" tanyanya lagi, membuatku keasal. "Uuh… baiklah, aku bayar sendiri!" dan akhirnya aku menyerah.

"Haha," katanya tertawa sambil menggaruk-garukkan kepalanya, yang mungkin tidak gatal. Setelah itu, suasana hening sebentar.

"Kagamine-san, boleh aku memanggilmu dengan nama depanmu?" tanyanya blak-blakkan. Aku terdiam sejenak, malu. Mungkin sekarang wajahku lumayan memerah. Aku bingung untuk menjawab apa, karena baru kali ini ada seseorang lelaki yang berani ingin memanggilku dengan nama depanku.

"Huh? Kenapa?" tanyaku balik, ingin tau kenapa Kamine-san ingin memanggilku dengan nama depanku. Apakah karena dia sudah merasa dekat denganku? Eeh-! Mana mungkin!

"Agar mudah untuk memanggilmu. Menurutku, nama panggilan seperti itu terlihat lebih pantas untuk memanggilmu, nama yang manis!" jawabnya sambil tersenyum lebar kearah ku. Dia manis sekali!

"Wajahmu kenapa memerah, Rin? Demam, ya?" katanya sambil mendekati wajahku. Jangan mendekat! Bahaya…! pikirku sambil memasangkan ekspresi salah tingkah. Kemudian, Kamine-san memegang dahiku, memastikan aku demam atau tidak. "Hmm, aneh… Tidak demam, kok…"

"He-hentikan!" teriakku sambil menampar tangannya, lalu aku berlari keluar UKS.

Me-mengerikan! Mesum! pikirku selama perjalanan menuju ke kelasku, meninggalkan Kamine-san sendirian. Aku melirik ke arah jam tanganku, sudah pukul setengah delapan. Apa lebih baik aku ke kelas? pikirku, lagi. Aku berjalan melewati beberapa kelas, dan baru saja melewati kelas 2-4. "Kagamine-san! Kesini!" kata seseorang, entah siapa, namun sepertinya itu suara perempuan. Karena aku tidak tau darimana asal suara itu, aku segera melihat ke kanan-kiri, dengan tatapan bingung.

"Sret!" tiba-tiba, aku ditarik oleh seseorang! "Kagamine-san, kau berpacaran dengan Len, ya?" tanyanya, aku tidak mengenalinya. Tapi aku tau, kebanyakan murid-murid yang selalu melanggar peraturan sekolah karena penampilan dan perilakunya itu berasal dari kelas 2-4. Lalu aku sadar, aku sedang berada di kelas 2-4, dengan murid-murid yang sangat aneh.

"K-kau siapa?! Dan juga, aku bukan siapa-siapanya Kamine-san!" ralatku kepadanya, gadis berambut biru yang diurai panjang. Lalu dia tersenyum. "Hey! Miki! Kagamine-san bukan pacarnya Len, kok!" Ia langsung berseru kepada Miki. Tamaya Miki. Namun, Tamaya-san hanya malu-malu. "Jangan keras-keras, Ring bodoh!" katanya sambil menutupkan wajahnya yang memerah. Gadis berambut biru yang bernama Ring ini hanya tersenyum bodoh. "Oh iya, tetapi mengapa kau digendongnya tadi?" kata Ring-san. Lalu aku menceritakannya panjang lebar.

Ring-san hanya menganggu pertanda mengerti, lalu Ia mendekati Tamaya-san. Kemudian, Ia berjalan mendekatiku lagi, dengan Tamaya-san. "Perkenalkan, namaku Ring, Suzune Ring. Yoroshiku!" katanya sambil memperkenalkan dirinya. "Yo-yoroshiku!" aku juga ikut menunduk. "Dan ini Tamaya Miki, dia menyukai Len. Karena dia malu untuk berbicara dengan Len, jadi dia meminta bantuan terhadapmu untuk mendekatinya dengan Len. Karena, dia pikir kau akrab dengan Len." jelas Suzune-san panjang lebar. Tamaya-san hanya menunduk malu, wajahnya sangat merah.

Eh? Mengapa hatiku sakit?

Hari ini tanggal 21 Desember, salju mulai turun menghiasi pagi ini. Namun mengapa, hatiku terasa sakit?

TBC

Sankyuu bagi yang sudah membaca fanfic abal ini! Ditunggu reviewnya! *ngebut* maaf kalau pendek! TAT