Basically, Park Chanyeol is a grandpa.

Dibandingkan ketiga temannya yang sangat familiar dengan teknologi–terutama Jongdae. Chanyeol bisa dibilang sangat hopeless saat membeli Iphone pertamanya. Kris, yang Yixing paksa untuk mengajarinya, sampai menyerah karena kebebalan otaknya terhadap teknologi yang sampai sekarang masih tidak ia mengerti. Sehingga, ketika Yixing menjelaskan konsep aplikasi bernama SugarMe ini padanya (dan, sungguh, ia masih bingung mengapa Jongdae terbahak keras setiap ia menyebut nama aplikasi itu). Chanyeol kembali tersesat ke dalam dunia teknologi era ini yang menurutnya sangat complicated.

"Damnit, Chanyeol! Kau baru saja meng-like profil gadis di bawah umur!" seru Yixing lalu merampas ponsel Chanyeol.

"Huh?" Chanyeol melirik ke arah Kris meminta penjelasan. Namun, sahabatnya itu sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai sambil memeluk sebotol bir kosong.

Yixing bersandar pada kaki sofa, memilih Sugar Baby yang tepat untuk sahabatnya. Karena Chanyeol sangat payah dengan jarinya. Ia yakin pria itu akan meng-like semua profil Sugar Baby di aplikasi itu dan berakhir di penjara karena mengencani anak di bawah umur. Ya, sepertinya itu bisa saja terjadi. Mengingat, Chanyeol sangat naif dan cenderung terlalu baik terhadap orang-orang di sekitarnya.

Jari Yixing berhenti bermain di layar ponsel Chanyeol begitu melihat foto seorang pemuda yang dikenalinya. Yixing langsung mengedarkan pandangannya, mencari Jongdae yang entah dimana sekarang. "Dia tidur di kamarku," ujar Chanyeol menjawab pertanyaan di pikiran Yixing. Yixing menganggukkan kepalanya lalu kembali menatap layar ponsel.

Apa yang Kim Jongin lakukan di aplikasi semacam ini?!

Sebuah ide cemerlang terlintas di dalam otaknya. Yixing melirik ke arah Chanyeol yang kini berada di sampingnya, menenggak sebotol bir dan mata tertuju lurus pada layar TV. Ia dapat mendengar bisikan lagu Let It Go yang diam-diam sahabatnya itu nyanyikan. Yixing menghela nafas panjang. Mungkin, ide ini bisa menjadi bencana bagi Chanyeol. Tapi, kemungkinan kalau ide ini dapat membuat Chanyeol berakhir bahagia cukuplah besar.

"Hey, bro," Chanyeol segera menoleh ke arah Yixing, meninggalkan film Frozen di layar TV. "aku pernah mendengar dari Kris kalau kau pernah bereksperimen di Amerika?"

Chanyeol berusaha memahami pertanyaan sahabatnya itu. Hingga, akhirnya ia mengerti apa arti dari bereksperimen yang Yixing maksud. Dengan gugup serta senyum canggung, Chanyeol menganggukkan kepala. Saat, masa-masa kuliahnya di Harvard beberapa tahun yang lalu. Chanyeol memang pernah mengencani dua orang pria yang berbeda fakultas dengannya. Jujur saja, ia cukup nyaman bersentuhan (secara intim maupun tidak) dengan pria lain. Jadi, bisa disimpulkan mungkin dirinya.. bisexual.

"How about this guy?" Yixing menunjukkan profil Jongin pada Chanyeol. Ada seringai yang tersembunyi di balik wajah polosnya.

Chanyeol mengamati foto Jongin yang pemuda itu ambil di pantai. Jongin shirtless, menyeringai arogan pada kamera seolah ia tahu dirinya sangat hot, dan birunya laut tampak menyatu dengan celana pendeknya. Chanyeol mulai membaca profil Jongin dan tanpa dirinya sadari ia tersenyum. Well, this guy is hot and cute. Jika dirinya boleh akui, ia cukup tertarik untuk mengenal bocah bernama Jongin ini lebih jauh.

Tapi, entah mengapa.. Chanyeol merasa ada sesuatu yang familiar dari wajah pemuda ini.

"Jadi?" Yixing menunggu jawaban dari Chanyeol yang sebenarnya sudah ia ketahui. Bajingan itu tahu kalau Chanyeol tertarik dengan Jongin. Senyum di bibir serta binaran yang tersorot dari mata Chanyeol adalah suatu pertanda yang jelas.

Chanyeol tersenyum pada sahabatnya lalu bertanya, "Bagaimana caranya mengirim pesan di aplikasi ini?"

.

.

Jongin terbangun saat lagu theme song Spongebob menggema di dalam kamar. Ia nyaris melempar ponselnya jika saja ia tidak melihat jam yang menjadi lockscreen ponselnya. Shit! Jongin langsung meloncat bangun dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ia hanya punya waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Fuck, fuck, fuck, mengapa ia bisa lupa kalau hari ini ia memiliki jadwal kuliah pagi?!

Untuk menghemat waktu, Jongin hanya menyikat giginya lalu berganti pakaian. Ia sengaja membiarkan rambutnya acak-acakan karena menurut beberapa orang itu membuatnya lebih seksi. Jongin keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Ia yakin Taemin atau Sehun masih tidur pulas sekarang. Lucky bastard.

Gedung universitas tidak begitu jauh dari apartemennya. Ia sengaja mencari apartemen yang letaknya cukup dekat karena ia tahu ia akan lumayan sering berakhir dalam situasi seperti ini. Jongin berlari dari komplek apartemennya melintasi jalan-jalan kecil yang masih sepi. Ia berhenti sebentar dari ujung jalan yang merupakan akses utama menuju jalan raya. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya, menunggu lampu lalu lintas berubah merah sambil mengatur nafasnya. Setelah lampu berubah menjadi merah, ia kembali berlari seperti The Flash melintasi jalan menuju gedung universitasnya di seberang jalan.

Pada akhirnya, Jongin terlambat sekitar lima menit.

Untungnya, dosen yang mengajar belum masuk ke dalam kelas. Sehingga, Jongin masih bisa bernafas lega dan duduk di deretan paling belakang–tempat favoritnya. Seorang gadis berambut merahyang duduk di depannya berbalik menghadap ke belakang. "Aku dengar dari Taemin. Kau akhirnya putus dari bajingan itu?" tanyanya tanpa basa basi.

"Well, good morning to you too," gumam Jongin membuat Seulgi memutar matanya.

"Whatever, dude. Intinya, aku senang mendengar kau putus dengan bajingan itu. Kau pantas mendapatkan pria yang seratus kali lebih baik dari dia," ujar Seulgi tampak tidak main-main dengan pernyataannya itu.

Jongin tidak bisa menahan senyum di bibirnya. Ia merasa amat beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar peduli padanya. Bukan hanya peduli karena dirinya anak konglomerat di Korea, melainkan karena dia adalah teman atau sahabat mereka.

Jongin tidak begitu mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas. Matanya terasa berat serta beberapa kali kepalanya terjatuh menyentuh permukaan meja. Ia amat membutuhkan kopi atau Starbucks sekarang. Sedikit catatan untuk dirinya sendiri; setelah ini ia akan menyeret Seulgi untuk menemaninya ke Starbucks.

Dua jam berlalu begitu lambat. Ketika, dosen berjalan keluar dari kelas. Jongin yang tertidur dengan kepala menghadap ke jendela masih tidak bergerak dari tempatnya. Seulgi menyentil kening sahabatnya itu membuat Jongin langsung menegakkan tubuhnya. "Fuck, kau mengagetkanku," tukas Jongin.

Seulgi mengibaskan tangannya lalu bangkit berdiri. "Jadi, Starbucks?" tawar Seulgi berhasil mengembalikan senyum di bibir Jongin.

"Hell yeah!"

Dengan antusias serta semangat membara, Jongin menarik lengan Seulgi keluar dari kelas. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama gedung K-ARTS. Jongin yang tidak akan benar-benar bangun sebelum meminum kopinya, berjalan seperti robot Terminator menuju kafe Starbucks yang sederetan dengan K-ARTS. Sementara itu, Seulgi sibuk dengan ponselnya sendiri. Mungkin, ia sedang bertukar pesan romantis (atau super menggelikan, quotes by Taemin) dengan pacar barunya. Ketika, mereka akhirnya sampai di Starbuks. Jongin segera memesan Frappuchino Latte ukuran venti.

Saat, Seulgi akan mengeluarkan beberapa lembar won dari dompetnya. Jongin langsung mendahuluinya. "Well, pasti ada sesuatu yang terjadi. Karena Kim Jongin yang kukenal terkenal sangat kikir," gurau Seulgi. Kali ini, giliran Jongin yang memutar mata.

Sambil membawa minuman pesanan mereka, Seulgi serta Jongin memutuskan untuk duduk di pojokan Starbucks yang menurut Seulgi adalah lokasi WiFi terbaik. Jongin kembali memutar mata karena sahabatnya itu benar-benar tidak bisa hidup tanpa WiFi gratisan. "Jadi, apa yang terjadi?" Seulgi menyedot Frappe-nya dengan tatapan meminta penjelasan.

Jongin menghela nafas, merasa gugup untuk mengakui situasi yang di hadapinya. Sehun dan Taemin adalah dua orang idiot, sehingga mereka tidak mempermasalahkan keputusannya untuk menjadi Sugar Baby. Tapi, Seulgi? Sahabat sekaligus sepupunya ini tidak seidiot Sehun ataupun Taemin. Seulgi bisa saja mengadukannya pada Joonmyun, Jongdae atau kedua orangtuanya. Dan Jongin yakin mereka akan memercayainya–karena, well, Jongin cukup terkenal dengan tindakan bodoh serta childish-nya di dalam keluarga Kim (dan Jongdae adalah satu-satunya orang yang bangga akan reputasinya itu).

"Nini," Jongin mengerutkan kening saat mendengar nickname mengerikan itu. "kau tidak apa-apa, kan? Kau terlihat.. memucat."

Seulgi menatapnya cemas membuat Jongin semakin sulit untuk jujur padanya. Pemuda itu mulai meremas jemarinya sendiri serta menggigiti kulit bibirnya. Matanya mulai bergerak gusar menghindari kontak mata dengan Seulgi. Gadis itu mengenal Jongin seumur hidupnya. Mereka tumbuh bersama dan entah sudah berapa banyak rahasia yang mereka simpan berdua. "Nini, jangan-jangan kau ha-hamil, ya?!" tuduh Seulgi membuat dua orang yang duduk cukup jauh dari mereka menoleh.

Jongin nyaris menyemburkan Frappe-nya karena what the fuck. "Kau gila atau tidak waras? Otakmu sudah kau gadaikan untuk beli tas baru, hm?"

Seulgi memasang wajah masam seraya memberikan jari tengahnya pada Jongin. Sementara itu, Jongin tertawa cukup keras begitu melihat semburat merah di pipi sepupunya. "Hei, siapa tahu, kan? Aku baca di wattpad kalau cowok bisa hamil," sanggah Seulgi membela dirinya sendiri.

"Terserah," tukas Jongin.

Setelah itu, ia mengecek ponselnya dan mendapati ada banyak notifikasi dari aplikasi SugarMe. Dengan rasa penasaran, ia membuka aplikasi itu untuk melihat siapa saja orang yang meng-like profil serta mengirimkan pesan padanya. Pertama, ia melihat daftar orang yang menyukai profilnya dan, damn, dalam waktu tidak sampai sehari sudah ada 50 orang lebih yang menjadikannya favorit. "Seul-ah, kemarin aku membuat dating profil dan kau tahu ada 50 orang yang menyukai profilku," ujar Jongin tanpa berpikir panjang.

"Wow, ternyata Kim Jongin sefrustasi itu untuk menemukan pacar baru," cibir Seulgi setengah menggodanya.

"Fuck you," balas Jongin. Lalu, jarinya berhenti meng-scroll pada nama Park Chanyeol. Ia sampai menyipitkan matanya karena, fuck, ini tidak mungkin Park Chanyeol yang itu, kan?


Name : Park Chanyeol

Sugar Daddy/Baby : Daddy

Gender : Male

Born : Seoul, 27th Nover 1987

Age : 29

Education : PhD Degree of Medical School

Interest in : Female & Male

Range of Your Patner's Age : 20-26

Summary About Yourself :

Hi, maybe you knew me from magazine.

Maybe you knew me as the hottest guy in Asia

But, baby.. you still don't know what I can do to you

On the bed

(edited : sorry, my bestfriend wrote this! soon, i will make a better summary)


Namun, saat ia membaca profil Chanyeol dan mengamati foto profilnya untuk beberapa menit. Jongin yakin kalau ini adalah Park Chanyeol yang itu–yang selalu menjadi bintang utama dalam mimpi basahnya beberapa tahun yang lalu. Ia masih ingat kalau Chanyeol pernah beberapa kali datang ke rumahnya untuk menjemput Jongdae dan mereka pernah mengobrol dua kali. Saat itu, Jongin masih duduk di bangku SMP. Jadi, well, itulah mengapa hormonnya benar-benar tidak bisa terkontrol setiap ia melihat Chanyeol.

Tapi, itu tidak penting. Karena yang menjadi masalah sekarang adalah; mengapa Chanyeol ada di aplikasi ini? Dan kenapa ia mengirimkan pesan pada Jongin? Apa pria itu sudah lupa padanya?


Park Chanyeol : Hai!

Park Chanyeol : Jadi, apa film Disney favoritmu?

Kim Jongin : umm, hai!

Kim Jongin : film disney favoritku Mulan

Kim Jongin : cause she saves China, dude. awasome, right?

Kim Jongin : tapi, toy story juga membuatku menangis selama berjam-jam

Kim Jongin : jadi, bagaimana denganmu, dr. park?


Chanyeol baru saja menyelesaikan operasi dengan tiga dokter senior lainnya. Sebagai dokter bedah termuda di rumah sakit, Chanyeol merasa sedikit awkward berkumpul bersama dengan dokter lainnya yang rata-rata sudah berusia 40 tahun lebih. Sehingga, ia lebih memilih melewatkan waktu kosongnya sendirian di dalam ruangannya dengan paketan Burger King serta koneksi WiFi super cepat. Sejak kemarin malam, ia menghiraukan berbagai macam notifikasi dari SugarMe yang tidak ada hubungannya dengan seseorang bernama Kim Jongin.

Yixing bilang dirinya adalah seorang cassanova karena ada 100 orang (laki-laki maupun perempuan) yang menyukai profilnya. Jongdae terlalu pusing untuk peduli tentang dirinya. Sementara itu, Kris tidak berhenti muntah di dalam kamar mandi. Pria itu juga bersumpah kalau ia tidak akan pernah minum lagi–yang tentunya hanya omong kosong belaka.

Chanyeol mengecek ponselnya dan, fuck yeah, ada notifikasi pesan dari Kim Jongin di deretan paling atas. Ia segera membuka pesan Jongin lalu tertawa kecil karena he is so cute. Dengan senyum lebar di bibirnya, ia mengetik balasan dari pesan Jongin.


Park Chanyeol : film disney favoritku tentu saja beauty and the beast

Park Chanyeol : dan toy story juga

Park Chanyeol : maybe next time kita bisa maraton film disney bersama?

Park Chanyeol : start from the old classic one, snow white?


Jongin nyaris memekik seperti fangirls yang bertemu idolanya. Ia mencubit pipi, lengan serta hidungnya karena ini tidak mungkin nyata. Park Chanyeol baru saja menawarkan diri untuk mewujudkan impiannya? What the hell! Karena, sungguh, maraton film Disney adalah date impian Jongin sejak lama. Mereka tidak perlu pergi ke restoran mahal atau melakukan hal-hal klise romantis seperti di film rom-com. Mereka hanya perlu tinggal di kamar Jongin yang pengap, saling berpelukan di atas ranjang, dengan semangkok popcorn di atas paha mereka dan film Disney. Maka, itu akan menjadi kencan paling sempurna bagi Jongin.


Kim Jongin : well, siapa yang bisa menolak maraton film Disney?

Park Chanyeol : sepertinya tidak ada ;)


WTF! Chanyeol baru saja menggunakan emo wink padanya?

BYE DUNIA. Sepertinya, sebentar lagi Jongin akan mati jika Chanyeol terus memberikan emo itu kepadanya.


Kim Jongin : soo, dokter park, kau tidak sibuk sekarang?

Park Chanyeol : nah, aku sedang istirahat. aku baru saja menyelesaikan operasi usus buntu

Kim Jongin : tapi, ini baru saja jam 9 pagi omg

Park Chanyeol : aku tahu tapi yah mau bagaimana lagi.. pekerjaanku memang menuntut waktu setiap saat

Kim Jongin : the life of being doctor

Kim Jongin : a sexy doctor lol


"JONGIN! OMG! Berhenti tersenyum sendiri seperti itu! Aku harus segera kembali ke dorm-ku, bitch!" Seulgi terlihat kesal sekarang. Sejak tadi, ia seperti mengobrol dengan tembok karena Jongin tidak mendengarkannya sama sekali. Pemuda itu terlalu sibuk tersenyum pada ponselnya sendiri.

"Huh?" Jongin memasang tampang bodoh yang membuat Seulgi ingin menyentil keningnya. "oh, kalau begitu, ayo kita pulang."

"Ya, ya, ayo cepat!" Seulgi berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju pintu keluar. Jongin kembali menatap ponselnya mengharapkan balasan dari Chanyeol. Dan, fuck, ia nyaris menabrak pintu karena tidak memerhatikan sekitarnya.

"Jongin, kalau kau tidak berhenti melihat ponselmu, aku akan merampasnya dari tanganmu lalu menginjaknya sampai hancur," ancam Seulgi. Jongin menatap gadis itu yang kini melipat kedua tangan di depan dada, menatapnya dengan tatapan 'aku-tidak-main-main', yang tentu saja berhasil membuat Jongin langsung mengantongi ponselnya.

"I hate you, Kim Seulgi,"

"Love you too, Nini,"


Park Chanyeol : tidak, aku tidak seksi

Park Chanyeol : pemuda di profil picture-mu jauh lebih seksi daripadaku haha ;)


.

.

Rin's note :

i like this fic.. dunno about you but i love grandpa-but-flirty!pcy

and seulgi... definitely bestie goals

p.s if u want to ask something just PM me or ask me on askfm (ferineee)