Disclaimer : All hail to Kishimoto Masashi. Just borrowed his great masterpiece' characters. Story and plotline are mine.

Summary : Kau tak pernah melihatku, sayang. Kau hanya mengingat mereka. Sebagian kecil dari masa lalu yang ingin kau lupakan. Kau—lupa padaku seorang. Tetapi, tak perlu bersedih, sayang. Akan kubuat kau ingat, hingga kau berkata. "—semua yang sudah kuotopsi adalah kawan-kawan lamaku sendiri."

Warning : AU, mind trick, heavy dark theme, boring (perhaps), little bit NaruSaku-ish.

.

.

.

Naruto © Kishimoto Masashi

.

Visum et Repertum

by ceruleanday

January, 2012

write things based on trace evidence. Never tell lies.

.

A fic of psychology, horror, crime, mystery, and drama

(LatinVisum adalah melihat sesuai kenyataan et [dan] Repertum ialah melaporkan)

.

.

.

Chapter Two : Controlling

.

.

.

For everything you said I would hear it. For every tears you made I would let it flow. For every smile you left I would—keep it forever.

Everlasting.

.

Jejak-jejak mobil membuat alur kasar di sepanjang jalan berbelok dan menikung pelataran Rumah Sakit Pusat Sendai. Meski hujan sedikit mereda, genangan air masih terlihat jelas. Bayangan awan dan langit yang bersedih terpantul melalui cermin hujan. Sepatu-sepatu licin telah terkena lumpur. Para pemilik sepatu berlari dengan sigap, seakan baru saja mendapat mangsa di pagi beranjak siang seperti saat ini. Mobil-mobil polisi berdengung saling beriringan bersama dengan mobil ambulans rumah sakit, layaknya kampanye masa pemilihan anggota parlemen. Paramedis berkumpul dan mengerumuni korban yang baru saja tiba.

Uzumaki Naruto. Dua puluh enam tahun. Berprofesi sebagai stuntman film-film action. Ditemukan tengah bersimbah darah tepat di perempatan Kurogane Avenue. Sebab kehilangan darah tercatat oleh kecelakaan limo milik seorang anggota parlemen Jepang sekaligus empunya museum lukis terbesar di Sendai.

Ruang Instalasi Gawat Darurat terisi, memberi warna merah pada lampu yang menggantung di pintunya, dan para pencari berita berusaha mendobrak blokade polisi. Berita cukup mudah tersebar, meski para aparat terlanjur menurunkan belasan bahkan puluhan kesatuannya. Apapun demi kepuasan publik dan jatuhnya imej seorang anggota parlemen yang terkenal dengan kekolotannya—Danzou.

Lorong-lorong berbau densifektan terdengar bising sesaat. Lampu neon di langit-langit berkerlap-kerlip seperti bintang utara yang tersibak di langit Kutub. Pandangannya mengabur secara penuh, meski samar-samar aroma yang menyengat terasa menusuk indera penciumannya. Ia tahu ia sudah kehilangan banyak darah, tetapi keyakinannya pada kejadian beberapa saat yang lalu masih sangat jelas. Semuanya tergambar begitu apik di memorinya. Mulai di pagi yang dingin oleh hujan itu hingga...

...bekas-bekas jahitan yang bersarang di abdomennya.

Saatnya bagi para ahli bedah untuk menyelamatkan nyawa ini. Satu dari saksi dan korban hidup yang masih tersisa. Asumsi sementara seorang gadis yang bekerja empat belas jam sehari di ruang otopsi Rumah Sakit Pusat Sendai.

Lampu itu tetap menunjukkan warna merah darah hingga dua setengah jam ke depan. Bising dan dengungan beberapa aparat yang siap siaga di lorong IGD memenuhi potret buram dari keheningan yang biasanya sering terjadi. Dan, di jam-jam yang akan datang, Uzumaki Naruto baru saja terbangun dari efek anestesi pasca operasi rekonstruksi tulang paha yang fraktur dan jahitan sana-sini di otot-ototnya.

Sang korban telah selamat dari maut dua kali.

Ia membuka mata biru cerah miliknya. Menilik langit-langit yang berwarna monokrom. Putih dan bersih. Ia masih merintih dan memejamkan mata berulang kali—berusaha meyakini dirinya bila ia telah berada di tempat yang aman dan tak ada lagi gangguan. Keras kepala. Itulah ia. Ia meneleng meski nyeri begitu terasa di tengkuknya dan menangkap pemandangan yang begitu berbeda. Sepi dan hening. Tak ada hujan maupun petir di luar sana. Semuanya telah kembali normal. Cuaca tak lagi bersedih. Hanya menampilkan sedikit warna keabuan di langit. Menoleh ke samping kanan, ia mendapatkan sebuket bunga lili yang masih baru. Ia—kembali terlelap.

Bunyi-bunyian sumbang menggaduh di luar sana. Keributan itu tak berlangsung lama. Beberapa detik dan dentuman pintu yang terbuka dengan tenaga super memerlihatkan sebuah sosok yang baru saja tiba. Nafasnya tak beraturan. Ia bahkan lupa harus bersikap tenang di depan pasien gawat yang baru saja mengalami operasi berjam-jam lamanya.

Haruno Sakura mengatur nafas sementara kedua tangannya yang masih gemetaran berusaha menutup grendel pintu kamar. Ia merapikan coat dan rambut panjangnya yang setengah basah. Wajahnya membeku dan lidahnya turut kelu. Ia tak yakin mampu berucap setelah ini. Langkahnya begitu berisik, tidak seperti dirinya yang biasa. Membuka-muka isi tasnya, ia meraih selembar amplop berwarna merah muda dan meletakkannya di atas meja kecil samping ranjang pasien. Namun, desah nafasnya yang terlihat jelas bersama gurat kecemasan membuat si pasien terbangun dengan santai.

"Siapa?" tanyanya di antara lenguhan. "Apa aku mengenalmu?"

"A-ah. I-ini aku, Naruto. Ini aku."

"Hmm? Siapa 'aku'?"

"Sakura."

Seketika dan dalam sekejap mata, kedua mata yang masih terlihat memar itu membuka sempurna dan begitu lebar. Tanpa aba-aba, kepalanya pun ikut menoleh ke samping kanan—mengamati wajah pucat Haruno Sakura yang berusaha tersenyum ke arahnya. "Sa-Sa-Sa-SAKURA!"

Pemuda itu terbangun tanpa alih-alih—meski tubuhnya masih terasa sangat kaku pasca operasi, terlebih pada salah satu tungkainya. Dengan semangat bersama senyuman paling terlebar, ia mengangkat tubuh bagian atasnya. Tangannya yang masih dibebat perban berusaha menggapai-gapai tubuh Sakura. Ia bagai baru saja dipertemukan dengan gadis yang dicintainya dari masa lalu. Dan, Haruno Sakura adalah benar cinta pertama Uzumaki Naruto, meski hingga sekarang tak pernah terbalaskan.

Pipi pemuda itu memerah seketika. "Oh my Holly God! Ap-apa yang kau lakukan di sini? Astaga! He-hei, lama sekali aku tak lagi melihatmu! Dan ti-tiba-tiba—astaga! Lihat dirimu sekarang. Aku sampai tak bisa mengenalimu! Aku seakan melihat orang lain, bahkan suaramu pun terdengar begitu berbeda! Kau—kau yakin kau tidak berbohong? Kau… benar-benar Sakura yang dulu itu, 'kan? Kau… a-ha-ha-wow…benar-benar Sakura yang dulu, 'kan?" nada penuh ketidakyakinan terdengar di antara tawa dan seruan pemuda pirang itu. Di lain pihak, wajah Sakura terlihat menegang. Ia tidak tahu harus bersikap apa menjawab semua keterkejutan Naruto akan perubahan drastis yang terjadi pada dirinya. Itu bukan respon terhadap kemarahan, melainkan lebih kepada… kekhawatiran.

Kedua alis Naruto sedikit bertemu. Ia tampak kebingungan. "A-ada apa? Kenapa wajahmu? A-ah! I'm sorry! I'm really sorry, Sakura! Mak-maksudku, ah—aku tidak bermaksud mengataimu—ah bukan! Aku hanya—well—terkejut saja melihat wow—lihat dirimu sekarang. Kau terlihat—" mata birunya memindai tiap jengkal dari postur tubuh Sakura. Tak terlewatkan sedikit pun. "—you look so gorgeous now. Dan… kau sudah membuang kacamata pantat botol itu. Haha. Waktu memang benar-benar misterius." Ia mengakhiri kata-katanya dengan kikikan.

Ia berucap tanpa karuan. Berceloteh tentang banyak hal mengenai masa lalu yang semakin membuat gadis itu tak mengerti. Sakura hanya diam mematung dan masih menampilkan wajah khawatir. Ia hanya membiarkan pemuda pirang itu berkata-kata sekehendak hatinya tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dan akan terjadi padanya.

Sudah cukup.

"Naruto."

"—dan kau tahu, dulu kau bahkan sering menangis di akhir mata pelajaran atletik. Si bodoh Jiroubo itu selalu saja—"

"Naruto…"

"—lalu, gadis jelek itu menarik rambut merah mudamu yang kupikir sangat-sangat-sangat eksotis! Tapi—"

Ia masih berujar tentang hal-hal di masa lalu. Dan…

"—bum! Aku pun menghajar pria menjijikkan itu, lalu-lalu—"

…semakin menjadi. Ia harus menghentikannya. Segera. Ia harus—membuatnya mendengar hal yang seharusnya ia ucapkan saat itu juga.

Ia harus… memperingatkannya.

"Naruto! Hentikan!"

Suara miliknya mendengung dan menghentikan seluruh bebunyian yang terdengar statis di ruang sedikit gelap itu. Getaran suaranya terlihat di balik plica vocalis-nya. Ia nyaris menangis dan tubuhnya sudah basah oleh air. Ia tidak mau terlihat lebih basah lagi. Tidak untuk saat ini. Tangannya yang dingin dan pucat menyentuh bahu pemuda itu. Menyentuh dan memegangnya sebagai sandaran. Naruto merasakan tangan si gadis bervibrasi tak terkontrol, seperti baru saja terkena frost bite. Tapi, suhu di ruangan itu jauh lebih hangat dibanding suhu di luar sana. Adalah hal yang sangat tidak wajar jika gadis itu harus mengalami serangan dingin yang begitu luar biasa. Gadis itu menundukkan kepalanya, membuat rambut-rambut miliknya berjatuhan membungkus seluruh wajah itu.

"Ma-maafkan aku, Sakura. Aku—berkata yang kurang menyenangkan sepertinya. Apa—iya?" tutur Naruto setengah berbisik. Ia menatap sedih dan mengubah senyum yang selalu menggantung di ujung bibirnya. Ia menggunakan satu tangannya yang bebas dari bebatan perban dan menyentuh pipi Sakura. Mengelusnya lembut. "Sebenarnya ada apa, Sakura-chan?" Ia kembali menggunakan sufiks yang dahulu selalu digunakannya. Dahulu sekali. Hanya membuat suasana kembali ke masa lalu. "Mm, aku hanya terlalu senang. Well, kita bertemu lagi setelah sekian lama. Ah, pasca kelulusan SMA, kurasa. Dan, tiba-tiba kau menghilang seakan tidak ingin lagi bertemu denganku dan yang lainnya. Tapi… lagi-lagi aku senang sekali. Aku bisa melihatmu... Ya."

Tangannya yang dingin menyentuh jemari berwarna tan milik Naruto. Tepat berada di pipinya. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum pias. Berusaha membalas sapaan hangat yang hanya bisa ditujukan Naruto kepadanya. Ia lalu menurunkan tangan itu kembali ke samping tubuhnya. Pandangan biru cerah Naruto sedang bertanya.

"Maafkan aku, Naruto. Aku sudah meneriakimu tadi. Aku hanya… aku hanya tidak suka kejadian yang dulu harus—"

"My mistakes, my mistakes. Itu salahku, haha. Aku hanya kelewatan saja. Maafkan aku juga ya, Sakura-chan." ujarnya kembali penuh dengan cengiran. "Jadi… apa yang terjadi? Kau tiba-tiba muncul di saat kondisiku sedang well—ya seperti ini. Hell, padahal akan lebih baik jika kita bertemu setelah sekian lama di lapangan tempatku bekerja. Ah, aku sedang dalam proyek lho. Film terbaru yang baru-baru saja selesai pengambilan scene akhir. Aku di sana menggantikan peran si pahlawan. Haha. Kupikir, kau akan terkesima dengan penampilanku. Hihi."

Gadis itu tersenyum. "Seorang pria berambut nanas yang membantu mengevakuasi dirimu dari TKP memberitahuku jika korban yang mengalami tabrakan adalah pemuda bernama Uzumaki Naruto." jawabnya. "Dan, segera saja aku ke mari untuk melihat keadaanmu. Lagipula, kau adalah satu di antara dua teman yang sangat baik denganku, Naruto. Tentu saja aku harus… menjengukmu."

Pemuda itu kembali menorehkan cengirannya. "Hehehe. Tapi, waktunya sangat tidak tepat, Sakura-chan. Lihat kondisiku. Aku benar-benar payah. Hahh… Padahal—"

Sakura menggeleng dan menyanggah sebelum pemuda itu melanjutkan. "Tidak, Naruto. Bukankah itu adalah hal yang sangat hebat? Mm, maksudku, kau benar-benar bisa membuktikan bahwa kau adalah the true hero. Iya, 'kan? Kau bisa selamat sampai sejauh ini dari maut. Kata dokter, luka-lukamu sangat parah dan lihat dirimu sekarang. Kau sudah menunjukkan padaku seberapa hebat dirimu."

"Khekhe. Kurasa kau memang benar, Sakura-chan. Mengingat aku adalah seorang stuntman—" Naruto meletakkan satu lengan di belakang kepalanya dan bersandar santai. "—sesungguhnya aku adalah tokoh hero-nya, bukan? Sama seperti yang sudah kau katakan tadi. Aku menggantikan mereka yang seharusnya muncul sebagai pahlawan. Tetapi, kemampuan action mereka benar-benar payah. Makanya, meski harus beraksi di balik bayangan, kurasa aku tetaplah sosok pahlawan itu." tuturnya yang diakhiri dengan helaan nafas. "Tapi, pada dasarnya, setiap hal yang telah kau lakukan selalu ada niat untuk mendapatkan imbalan yang setimpal. Meski lagi-lagi harus bekerja di balik bayangan ataupun layar dan apapaun namanya itu, terlalu munafik untuk tidak mengatakan kita menginginkan sesuatu. Well! Itu hanya asumsiku saja. Aku benar-benar menyukai profesiku ini kok. Jadi, jangan dipikirkan terlalu berlebihan ya. Hehe. Dan oh iya! Aku belum tahu pekerjaanmu, Sakura-chan. Karena kau dengan cepat bisa mendapatkan informasi mengenai diriku dari seorang petugas keamanan yang apapun itu, apakah kau adalah… errmm… detektif? Ataukah polisi? Ataukah—"

Gadis itu mengembangkan senyumnya sekali lagi. "Aku seorang ahli forensik, Naruto. Dokter di bidang kematian yang fisiologis dan patologis, bahkan yang berhubungan dengan kriminalitas."

"Wow." respon Naruto cepat. "You're so brilliant, Sakura-chan! Hahaha!" Tak lama, ia terdiam. "Apa pekerjaanmu itu berkaitan dengan err—dead body?"

Sakura mengangguk sekali dan mengacak-acak rambut pirang Naruto. Ia tertawa pelan. "Kau takut mayat ya, Naruto?"

"He-hei! Hentikan mengacak rambutku! Pfft, iya iya. Bukannya dari dulu aku memang tidak suka melihat bangkai apapun itu jenisnya. Sudah bau dan yaiks—kau tahu maksudku. Ta-tapi—ah, bukan maksudku ingin menjelek-jelekkan profesimu. Tidak sama sekali."

"Hihi. Iya, aku tahu itu kok. Tidak semua orang bersedia dengan kerelaan hati memilih profesi ini meski titel yang diberikan di depan dan belakang nama kami terdengar sangat wow—seperti respon darimu tadi." jawab Sakura sembari menyisiri rambut miliknya dengan jemari-jemari pucatnya. Ia menggosok-gosok lengannya yang terasa dingin, meski tubuhnya telah terbungkus oleh coat tebal selutut berwarna pastel. Kembali, kekhawatiran itu muncul di benaknya. Seharusnya, ia tak perlu banyak berbasa-basi. Tidak perlu. Semestinya... semestinya... ia segera memperingati pemuda itu. Memperingatkan kepadanya mengenai asumsi-asumsi dan kejadian yang baginya saling berhubungan. Namun, suaranya terasa mencekat tiba-tiba. Ia hanya membuka-menutup bibirnya tanpa tahu harus berkata apa. Kebimbangan menggerus logikanya. Dan, gadis itu tampak semakin bingung. "Na-Naruto..."

"Hm, ya?" tanya si pirang. Kembali ia menoleh dan mamandangi gadis yang hanya berdiri statis di samping kanannya. Mata birunya menangkap hal yang sangat tidak biasa. Menyimpulkan jika gadis itu sedang ketakutan. Benar-benar ketakutan. "Kau... terlihat agak aneh, Sakura-chan. Apa kau... baik-baik saja?" Ia menarik tangan Sakura. Dan, menempelkan telapak tangan Sakura di dahinya. "Astaga, kau kedinginan. Ah, mau kunaikkan suhu ruangannya? Kurasa ada remote-nya di samping uhh—ranjangku ini."

Sakura menggeleng lemah. "Tidak. Aku baik, Naruto. Aku hanya... Aku datang ke sini—untuk melihat apakah kau baik-baik saja. Dan... ya, kau baik-baik saja. Yokatta." Ada keambiguan di antara ucapan Sakura. Ia mengamati intens wajah sahabat lamanya itu. Menundukkan kembali wajahnya dan bergerak refleks—memeluk pemuda itu. Melingkarkan kedua lengan miliknya di sekitar lingkar leher Naruto. Merasakan kehangatan yang selalu menguar dari tubuh pemuda periang itu. Berikutnya, ia hanya menangis.

"Sa-Sakura-chan?"

"Gomenna. Akhir-akhir ini aku selalu cengeng. Padahal—aku sudah dua puluh lima tahun. Haha." ujar Sakura berusaha mengalihkan perhatian. Ia akan melepaskan pelukannya, namun tangan bebas Naruto menahannya. "Na-Naruto?"

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sakura-chan? Apa kau mau menceritakannya padaku? Apa... Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang kualami? Meski aku tidak sepintar dirimu atau pun... ya kau tahu itu, aku selalu tahu jika sesuatu hal yang buruk sedang terjadi padamu." tutur Naruto dengan sedikit menuntut. Ia bisa merasakan tubuh Sakura kembali menegang dan gemetar. Ia tak'kan melepas tangan miliknya sebelum gadis itu berbicara. Bahkan akan semakin mengeratkannya jika perlu. "Kumohon ceritakanlah padaku, Sakura-chan."

Helaan nafas terdengar. Tubuhnya telah normal. Ia tak lagi bergetar hebat. Setelah meyakinkan dirinya, ia berujar. Berupaya mengendalikan situasi—seperti biasa. Meski demikian, ia masih takut membuka asumsi bodoh miliknya. Ia tak sepenuhnya percaya dengan kesimpulan sementara itu. Hanya serangkaian kekhawatiran yang berasal dari destruksi mental yang dipaparkan kepadanya selama berbulan-bulan lamanya ini. Tetapi tidak untuk tubuh-tubuh mati yang digenggamnya. Tidak.

Ia tidak mau hal yang sama berulang lagi. Tidak untuk Naruto. Dan... tidak untuk Uchiha Sasuke.

"Ah, kau tahu siapa pelaku utama yang sudah menabrakmu pagi tadi?" Gadis itu bangkit dan menyelipkan anak-anak rambut di balik cuping telinga miliknya. "Dia adalah Danzou. Anggota parlemen yang saat ini tengah disibukkan dengan pengesahan Undang-Undang Anti Terorisme. Ia berasal dari partai yang sedang terkenal saat ini. Publik membicarakannya, bahkan... hah, ia dikatakan sebagai satu-satunya anggota parlemen yang sangat menginginkan UU Anti Terorisme itu segera disahkan. Terutama mengenai kesatuan polisi militer rahasia yang dibentuk oleh Perdana Menteri. Ia berharap kesatuan itu segera dihapus dan diganti secara strtuktural berdasarkan UU yang diajukannya. Plus, ia hanya seorang kakek tua yang pemarah dan culas. Tapi, ia sangat kaya, tentu. Ia memiliki setidaknya dua per tiga dari saham sebuah perusahaan minyak di Bahrain. Ia juga pemilik dari sebuah Museum Seni Rupa di Sendai."

Naruto mengangguk mahfum. Ia hanya menundukkan wajahnya. Tapi, senyum itu tetap terpatri di wajahnya. Tak ada satu pun kecemasan terlihat di sana. "Jika yang kau khawatirkan sedari tadi ialah mengenai kakek tua bernama Danzou ini, kurasa aku akan baik-baik saja, Sakura-chan. Mungkin, orang ini sudah menabrak dan membuatku sampai seperti ini. Jeez, bahkan mungkin juga aku tidak akan bisa mengikuti premiere film-ku. Tapi... haha, jika benar yang kau khawatirkan mengenai akan bagaimana diriku kemudian bila kakek tua ini berusaha menutup mulutku dengan uangnya dan apapun itu, kurasa tidak ada yang perlu kau cemaskan, Sakura-chan. Tidak ada."

"Naruto?"

Pemuda pirang itu menyanggah. "Daijobu. Semuanya akan baik-baik saja kok. Aku bukan orang yang seperti itu. Aku akan berkata jujur di pengadilan. Sungguh. Meski yah... aku akan—"

"Tidak! Bu-bukan itu, Naruto! Kau tidak tahu siapa Danzou ini. Ka-kau... bahkan tidak pernah tahu bahaya apa yang akan terjadi setelah ini. Kali ini kau mungkin hidup dan selamat. Tapi... tapi... aku hanya tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi padamu!" teriak Sakura. Kali ini jauh lebih keras dibanding seruan yang pertama. "Semua... Semua... yang kukenal—semua yang ada di masa laluku—semua yang... yang... hidup akan mati. Dan aku tidak mau—aku tidak mau—"

"Huussh. Aku akan hidup, Sakura. Aku akan bertahan. Ingat, aku adalah seorang pahlawan di balik bayangan. Kalau pun di lain kesempatan aku akan jatuh, aku akan kembali bangkit di scene yang berikutnya. Dan begitu terus hingga layar menunjukkan kata the end. Sama seperti hidup, bukan?" ujar Naruto tenang. Raut wajahnya terlihat lebih menyejukkan. Bahkan, pengendali emosi saat ini adalah dirinya. "Kau harus yakin padaku, oke?" Cengiran kembali menyusuri garis senyumnya.

"Ka-kau tidak mengerti, Naruto." Gadis itu menggenggam jemarinya erat-erat. Ingin rasanya mengatakan hal yang ditakutinya. Ia terlalu takut dan begitu naïf. Hanya memejamkan mata dan menggigit bibir yang bisa dilakukannya. Ia terlalu takut kenyataan itu akan terulang lagi. Sebab, hal itu telah terjadi. Kesebelas tubuh mati kawan lamanya—ia tidak menginginkan jika Naruto menjadi tubuh keduabelas. Dan, tidak untuk tubuh yang ketigabelas.

Pemuda itu menaikkan alisnya kebingungan. "Apa yang tidak kumengerti, Sakura-chan?"

(you knew you can't runaway from me)

(not even from these men)

(never)

Berisik!

"Jangan memaksaku untuk mengatakannya, Naruto."

Naruto semakin menyadari adanya ketidakberesan. Ia mengerutkan alisnya. Meminta segala kejelasan. "Apa yang tidak kumengerti, Sakura? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan sejak awal?"

"Ja-jangan memaksaku... Ja-jangan..."

"SAKURA!"

Gadis itu terdesak. Terdesak dan semakin terdesak.

Ia telah mengatakannya.

"Mati! Semua... Semuanya akan mati!"

Ketegangan itu menjadi waktu yang kian melambat. Berhenti tepat di pendulumnya. Memberi keheningan yang sama sekali tidak menyenangkan. Langit-langit yang berwarna putih terlihat memerah oleh darah. Dan, genangannya mendasar membentuk lautan dalam yang tak bisa terukur.

"Semua kawan yang kukenal akan mati!"

Maafkan aku, Naruto. Maafkan aku... Aku terlanjur...

"Go-gomen. Gomenna."

Detik berikutnya, ruangan itu menyepi kembali. Meninggalkan jejak-jejak air yang basah oleh langit. Hujan turun menderas. Diikuti dengan lampu ruangan yang masih meredup. Gadis itu meninggalkan sejuta tanya untuk sang pemuda. Dalam jam-jam yang statis dan stagnan, Uzumaki Naruto hanya dibuat bimbang oleh pikirannya.

"Aku akan mati? Semua kawan yang dikenal oleh Sakura-chan akan mati? Jadi... itu yang ingin dikatakannya sejak awal ya?"

Kata-kata itu bukanlah kata-kata penutup yang ingin didengarnya. Tidak dari bibir seorang wanita yang dahulu hingga sekarang dicintainya. Tidak—sama sekali.

.

.

.

Hitam.

Satu-satunya warna yang melambangkan segalanya di kala malam. Warna tergelap yang mengaburkan segala cahaya bahkan tanpa adanya kerlipan sinar kecil yang menyertai. Lampu-lampu jalan berfungsi sebagai penerang sementara. Absensi hujan saat itu berarti baik. Hanya, nyalakan anjing menjadi pertanda negatif yang tak mengenakkan. Menjadi satu-satunya suara di antara kesunyian malam.

Lorong-lorong rumah sakit telah begitu sepi. Di ujung koridor, tepat sebuah meja registrasi bersama sebuah televisi mini yang memberi warna buram dijaga ketat oleh seorang ners yang masih menyesap kopi hangatnya. Ia hanya seorang diri dan tampak tak begitu terpengaruh dengan desas-desus kengerian lorong rumah sakit di malam hari. Sudah menjadi kesehariannya menjalani rutinitas penjagaan meja registrasi hingga larut. Menunggu shift dan pulang ke rumahnya yang nyaman.

Derap langkah terdengar. Pelan dan teratur. Hembusan angin nakal terasa di tengkuk ners penjaga meja. Saat berbalik, yang dilihatnya hanya sebuah badge Kepolisian Sendai. Ia mengangguk dan memberi nomor kamar yang diminta orang itu. Tak peduli meski jam kunjungan pasien telah ditutup sejak tiga jam yang lalu, demi keperluan penyidikan, permintaan akan diperbolehkan. Terlebih jika yang meminta adalah pria ini.

Room 261 A.

Gelap. Pitch black.

Sosok yang berada di atas ranjang telah tertidur pulas. Bunyi snoring pelan tak menggema, hanya memberi efek suara di antara keheningan yang ada. Suhu ruangan terasa begitu hangat. Setidaknya, bisa menghilangkan efek dingin yang menempel di tubuh orang itu. Ia masuk tanpa meminta satu pencahayaan. Hanya gelap dan ia meraih sebuah kursi lipat. Meletakkannya tak jauh dari sisi ranjang. Mengamati dari balik kegelapan sosok yang masih tertidur.

Jika sosok itu benar-benar sudah tertidur.

"Apa yang kau lakukan di tengah-tengah kegelapan, Sasuke? Berniat untuk menculikku, eh? Atau memandangi diriku yang sedang tertidur hingga pagi menjelang?"

Dengusan pelan terdengar. Cahaya yang terpantul dari neon-neon di luar bangunan rumah sakit sedikit menyinari tubuh bermateri itu. Ia tengah duduk sembari memangku dagu dengan buku-buku jemarinya. Rambut kehitamannya terlihat bagai siluet sayap karasu oleh hamburan sinar-sinar yang lebih kecil. Namun, matanya terlihat jauh lebih merah dari biasanya. Bagai darah yang jatuh menggantikan air mata.

"Hn. Lama tak bertemu. Naruto."

Ia menyeringai.

"Tsk."

Dan, ia tahu. Pertemuan itu bukan lah suatu kebetulan. Pertemuan pertama dari sebuah perpisahan yang sudah begitu lama.

(remember, remember)

(each person will die. will die. soon or late)

(because... I control every person you know)

.

.

.

There's something inside me that pulls beneath the surface

Consuming, confusing

This lack of self control I fear is never ending

Controlling

.

.

.

To Be Continued

The lyric above is Crawling by Linkin Park.

.

A/N : Huge thanks buat embun pagi, mysticahime dan Ruru atas apresiasinya terhadap fic ini. Seluruh komentar yang tertulis di kolom review semakin memotivasi saya untuk melanjutkan fic ini. Agak kecepetan ya apdetnya? Well, soalnya untuk beberapa minggu ini saya akan plesir ke luar kota; mengunjungi kakak saya yang habis melahirkan. Ah, akhirnya saya sudah punya ponakan. Namanya Danish. You may call him Dan-kun. =))

Masih pertanyaan yang sama, mind to review?