17/9/17 & 20.22

All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

By Kohan44

.

"Kamu masih suka main bareng Naruto?"

"Iya."

"Tapi bukannya sekarang Naruto temenan sama Shikamaru?"

Sasuke menutup bukunya dengan suara debum keras sampai Neji terlonjak keheranan.

"Kayaknya dia deket sama Shikamaru, gitu doang sih…" kata Neji buru-buru menambahkan.

"Kalau dia temenan sama Shikamaru, apa itu artinya aku gk bisa temenan lagi sama dia?" akhirnya Sasuke menimpali.

Neji menyeringai jahil. Tadinya dia pikir Sasuke bakal menanggapinya setengah bercanda, tapi Sasuke justru terdengar jengkel. "Bukan gitu, sekarang kan kamu sama Naruto beda kelas. Pasti gk segampang dulu kalau mau main."

"Oh," Sasuke menjawab sekenanya, dan itu malah membuat Neji ingin berbicara lebih banyak dan terus memanasinya.

"Tadi aja aku liat Naruto sama Shikamaru di kantin, kayaknya lagi asyik banget."

Sasuke mengambil langkah besar-besar dengan hentakan keras, bukunya ditinggal begitu saja. Keningnya mengernyit, dan matanya seperti biasa, kelihatan tajam, tapi nampaknya mata dan isi pikirannya hanya dipenuhi satu hal sampai-sampai tak menyadari kehadiranku. Hanya Neji dan anak-anak lain yang kebetulan berpapasan denganku membungkuk hormat, dan Neji juga yang meminta maaf atas ketidaksopanan Sasuke.

Mungkin Sasuke tidak suka atas keputusan sekolah di tahun ketiga mereka tadi pagi. Pada umumnya, kami mengubah susunan murid per kelas setiap tahun. Beberapa anak mungkin satu kelas lagi dengan teman-teman terdahulunya, dan tidak terkecuali Naruto dengan Sasuke. Hanya saja… aku yang menyusun daftar kelas baru tahun ini.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.

"Eh, tahu gk Hanabi kelas 1?"

Kiba merendahkan suaranya sampai teman-temannya berpaling dan memperhatikannya, kecuali Naruto dan Chouji yang berfokus pada mangkuk masing-masing.

"Oh, tahu.. anak yang rambutnya panjang, kan?" kata Lee yang masih menikmati mangkuk baksonya sambil memegang buku pelajaran yang terbuka. Katanya, di tahun ini dia ingin belajar serius dan mendapat peringkat supaya bisa masuk SMA favorit. Padahal, dia lebih banyak berfokus pada bakso ketimbang apa yang dibacanya.

Kiba mengeluarkan sedotan dari minumannya, lalu dia lempar ke arah Lee. "Heh Ulat Bulu, semua cewek rambutnya panjang!"

"Hanabi itu adenya Hinata kan?" kata Shikamaru.

"Eh? Kamu kenal dia?" sahut Naruto, sesaat terlupa dengan mangkuknya, karena tentu saja Naruto tak akan percaya kalau Shikamaru punya rasa ketertarikan kepada perempuan setelah semua yang Naruto tahu tentang Shikamaru adalah Cuma tentang main PS, tidur, dan tiba-tiba pintar.

"Kenal lah… cantik gitu,"

"Nah!" Kiba berseru senang seraya bertepuk tangan, dan di waktu bersamaan Naruto terhenyak mendengar jawaban Shikamaru. "Emang beda kalau yang jenius, langsung tahu dan nyambung gitu aja."

"Widiih..." Naruto menyikut pinggang Shikamaru. "Naksir ya?"

"Ih, apa sih.." Shikamaru mendesis risih.

"Siapa yang naksir Hanabi?" tiba-tiba Neji datang berhenti di tengah-tengah meja mereka.

"Ini nih, si Shikamaru!" Naruto menyahut cepat, bahunya menyenggol-nyenggol Shikamaru.

"Permisi, ikut duduk." Seseorang lain menginterupsi, mendorong Naruto ke pinggir sampai hampir terjatuh. Naruto mendesis sebal, hendak ingin mengumpat jika Kiba tak menyela,

"Oy, oy, santai dong!"

Shikamaru pun hendak menegur orang yang memaksakan diri mengambil ruang di sampingnya, tapi Neji berkata cepat.

"Heh, Shikamaru, kamu beneran naksir Hanabi?" kali ini mendesak, dan meja itu kembali riuh, karena Shikamaru membalasnya dengan nada tinggi.

"Memang kenapa?"

"Kenapa kamu bilang?"

Keduanya berdebat sampai Kiba tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan keduanya yang sangat serius, bahkan Lee menyimpan bukunya mencoba melerai, dan diam-diam Chouji mengambil sebutir bakso dari mangkuk Lee.

"Udah, berantem aja kalian." Sasuke ikut menimpali, tapi tidak nampak serius ingin ikut campur. Matanya tertuju pada layar telepon pintar yang tidak bisa dilihat Naruto karena pelindung layarnya.

"Kenapa sih nyeret-nyeret orang?" gerutunya sebal sembari menggeser pantatnya menjauh. Padahal, di sisinya yang lain tersedia ruang duduk yang luas, tapi Sasuke memilih tempat yang bahkan tak memungkinkan seekor semut duduk.

Sasuke meliriknya sekilas sebelum kembali melihat layar ponsel. "Nggk boleh ya?" balas Sasuke dengan suara pelan sampai Kiba dan kawan-kawan tak bisa mendengarnya.

Naruto tak menanggapi. Matanya tertuju pada mangkuk bakso yang hampir habis. Sebelah tangannya memainkan sendok di sana, mengaduk-aduk kuah.

"Oy kalian, bantuin dong! Jangan Cuma pacaran!" Lee memanggil. Sasuke berbalik cepat dan mendengus lucu mendengar perkataan Lee.

"Hah? Bilang apa tadi?"sahut Naruto, tapi Lee tak menggubris karena Neji menarik kerah kemeja Shikamaru.

Lee berdiri panik. "Woy! Woy! Udah dong!"

Kiba ikut berteriak, "bocah banget sih! Eh, kita emang masih bocah sih, tapi apa perlu berantem di kantin? Gk keren banget."

Chouji melindungi mangkuknya dari meja yang tak henti melompat-lompat kecil terkena gebrakan Neji dan Shikamaru. "Shika, kamu beneran suka sama Hanabi?" katanya, namun tak seorang menjawab karena suaranya terlalu kecil dibanding mereka yang saling bersahut-sahutan lantang.

Semuanya saling berseteru. Di meja itu, satu-satunya yang masih tertawa adalah Uchiha Sasuke, dan Naruto tak mengerti alasannya. Apanya yang masih terasa lucu ketika Kiba keluar dari kursinya untuk menahan kepalan tangan Neji? Bahkan tindakan Lee jauh lebih masuk akal.

"Sensi amat. Kalem, bro.." kata Sasuke di cela-cela tawanya. Sebelah tangannya menarik kerah belakang kemeja Shikamaru, berusaha menjauhkannya dari jangkauan Neji. Kemudian dia mundur memaksa Naruto ikut mundur, dan terus menyerempet sampai Naruto kehilangan ruang dan berhenti. Kedua bahu mereka pun saling beradu.

"Sasuke!" desisnya, tapi Sasuke sibuk memain-mainkan Shikamaru, sampai Neji menarik Shika lagi, menjauhkannya dari Sasuke, tapi Sasuke tak mengubah posisinya. Dia tetap duduk di sana, tertawa menonton perkelahian dua orang teman. Sebelah tangannya menutup mulut yang ingin tertawa lebar, sementara tangan lain berbaring di pangkuan Naruto tanpa alasan pasti. Naruto hanya diam dengan pertanyaan berulang-ulang di dalam kepala. Kenapa?

Ada yang aneh dengan Sasuke, pikirnya dalam hati.

Lalu…

CRAT!

"Argh!" Naruto menggeram saat mangkuk kuah bakso melompat membasahi celana sekolahnya. Di meja itu tidak ada kotak tisu. Jadi, air kuah yang masih hangat itu merembes sampai menyentuh kulit Naruto dan menyebar ke sana-sini.

"Heh, berhenti." Kata Sasuke.

"Dasar sok pinter." Kata Neji.

"Apa lo, sok keren?" balas Shikamaru.

BRAK! Meja digebrak keras. Seisi kantin senyap seketika, dan perhatian mereka teralihkan. Sasuke berdiri menatap keduanya dengan serius. "Lo berdua pengen gue hajar?" tak satupun menjawab.

Dalam gerakan cepat, Sasuke menarik Naruto pergi untuk membersihkan noda di celananya.

.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.

Sejak hari itu, Naruto jadi sering memikirkan tiap hal-hal kecil yang mereka lakukan atau yang dulu pernah dilakukan. Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, Sasuke terlalu sering menyampirkan tangannya di bahu Naruto, atau menyimpan tangannya di atas pangkuan Naruto seperti sewaktu di kantin, dimana pun mereka berada, Sasuke sering memilih duduk di sebelah Naruto, dan jika Naruto datang terlambat, Sasuke sudah menyediakan satu ruang kosong untuk Naruto duduk ketika mereka semua sedang berkumpul.

Atau… ini hanya perasaan saja?

.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.

"Sasuke mau masuk SMA favorit itu." Kataku dengan nada penegasan. Naruto terdiam saat mendengar isi catatan konseling Sasuke yang aku bocorkan.

"Kamu gk mau masuk sekolah yang sama?" kataku lagi, makin terdengar memojokkan, tapi berlagak kasual dengan mengaduk-aduk teh. "Tante sih tidak memaksakan. Kamu bebas mau masuk sekolah manapun, yang penting sekolahnya layak. Cuman… apa kamu bisa pisah dari Sasuke?"

Naruto menyimpan ponselnya sekalipun sesaat tadi ponselnya berdering memberikan notifikasi. Matanya menatap lurus langit-langit, menerawang apa-apa saja yang telah kubicarakan padanya.

"Tante,"

"Ya?"

"Aku boleh ajak Sasuke nginep di sini gk?"

PRANG! Sendok tehku jatuh dan aku berteriak kaget saat kupikir cangkir teh akan ikut terjatuh dan pecah. Untunglah hanya bergeser.

"Kenapa, Tante?" tanya Naruto ikut panik. Kepalanya melongo dari balik sofa, mencari aku yang berdiri di dapur.

"Nggk apa-apa, cuma tumpah sedikit." Jawabku sambil memikirkan apa yang harus kukatakan selanjutnya. Aku tidak seharusnya memancing Naruto soal Sasuke jika aku tahu Naruto bakal bereaksi seperti itu.

"Gimana, Tante?"

"Mau Tante lap lah…"

"Bukan itu, tapi soal Sasuke…"

Tanganku berhenti sesaat, dan tertegun.

Jika hal itu terjadi, apa yang mungkin mereka lakukan di kamar? Hanya mereka berdua ketika mataku tertutup dan terlelap malam. Oh, batinku mendesah. Demi Tuhan, mereka masih SMP. Apa yang mungkin bisa terjadi?

Karin, ingat waktu itu!

Ah! Waktu itu… saat aku mendengar gaduh lalu Sasuke turun dan aku melihat tonjolan di selangkangannya. Apakah mungkin dia begitu karena… atau ini hanya pikiran burukku saja? Maksudku, mereka terlalu muda untuk hal-hal seperti itu.

"Tante?"

"Iya, Naruto. Boleh."

.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.