Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Gender bender, Typos, OOC, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Aku terlanjur mencintaimu bahkan aku tak sanggup untuk melepaskan rasaku. Terlalu erat, membuatku tersiksa. Tidakkah kau tahu? Rasa ini membunuhku perlahan.
Always Loving You
By
Sentimental Aquamarine
Naruto melangkah memasuki gedung tempat perayaan ulang tahun Gaara malam berwarna pink dengan kombinasi hitam di bagian dada menjadi pilihan Naruto. Dipadukan dengan tatanan rambut sanggul sederhana, Naruto tampak sangat mempesona dan menyilaukan dimata para undangan.
Gaara, sang pemilik pesta tersenyum senang saat melihat kehadiran gadis itu. Dia akui, pesona penyanyi berumur dua-puluh-lima-tahun itu cukup besar. Lihat saja tatapan memuja para tamu undangan yang terarah padanya sejak gadis itu memasuki gedung. Gaara pamit mengundurkan diri pada teman-temannya kemudian menghampiri Naruto yang sedang berdiri sendirian dengan segelas minuman di tangannya.
Naruto mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru tempat itu, berharap ada seseorang yang Ia kenal. Tapi sepertinya tak ada satupun orang yang dia kenal di pesta ini. Dia kembali meneguk minumannya. Sebaiknya dia pergi saja dari sini, lagipula dia sudah datangkan? Tak jadi masalah jika dia hanya datang sebentar.
Naruto menaruh gelasnya diatas meja dan hendak melangkah pergi. Saat suara Gaara mengintrupsinya, membuatnya menoleh kearah pemuda itu."Mau kemana? Pesta akan dimulai sebentar lagi." tanya Gaara.
"Aku tak punya kepentingan apa-apa disini. Jadi, lebih baik aku pergi saja." ucap Naruto dan mulai melangkahkan kakinya lagi. Tapi, langkah itu terhenti lagi saat dengan tiba-tiba Gaara menarik lengannya.
"Lepaskan!" perintah Naruto.
"Aku akan melepaskanmu, jika kau tetap tinggal sampai pesta ini selesai." ujar Gaara. "Jika saya tidak mau, Anda mau apa?" tanyanya menantang. "Aku akan memaksamu dan tidak akan melepaskanmu sampai pesta ini berakhir." jawab Gaara santai.
Naruto mendengus kesal. Akan sangat sulit bila ia harus berhadap dengan orang macam Gaara. "Baiklah, sekarang lepaskan saya." perintah Naruto lagi. Tanpa diperintah dua kali, Gaara melepaskan genggamannya dari wanita itu.
"Ayo, ikut aku." ajak Gaara seraya mengulurkan tangannya dihadapan Naruto. Mau tak mau Naruto menyambut tangan pemuda itu kemudian membiarkan Gaara menggandeng tangannya dan menuntun dirinya menuju tengah-tengah ruangan.
"You're so beautiful, tonight." bisik Gaara tepat di telinga Naruto. Wanita itu hanya bergidik geli saat merasakan hembusan napas hangat pria yang sedang menggandengnya itu. Sedangkan Gaara, pria itu tersenyum tipis dan semakin erat menggenggam tangan Naruto.
Gaara dan Naruto sedang berdiri berdampingan, dihadapan mereka ada para tamu undangan yang memandang iri keduanya, dan jangan lupakan kue ulang tahun berukur besar yang baru saja memasuki tertawa kecil, betapa gilanya pemuda disampingnya ini. Menghabiskan puluhan juta dollar hanya untuk mengadakan pesta ulang tahun seperti ini.
Para undangan mulai menyanyikan lagu selamat ualang tahun untuk tampak tak peduli, gadis itu hanya sesekali bersuara, bertepuk tangan dengan malas. Betapa dia sangat membenci pesta. Gaara melangkah maju, memejamkan kedua matanya untuk make a wish kemudian meniup lilin dengan angka 26 itu.
Gaara meraih pisau yang disediakan oleh pelayan, memotong kue itu dan menaruhnya di piring. "Aku akan memberikan potongan kue pertama ini untuk seseorang yang sudah lama mencuri perhatianku." ucap Gaara.
Para undangan mulai berbisik, begitu juga halnya dengan para gadis yang diam-diam menganggumi pemuda berambut merah tersenyum dan memandang kearah Naruto yang berdiri tak jauh darinya. Naruto yang sedari tadi tidak memperhatikan tampak tidak terlalu perduli.
"Dia adalah Naruto." ujar Gaara seraya menoleh ke kanan, tempat gadis pirang itu tamu undangan dengan cepat menatap kearah Naruto. Memandang gadis pirang itu amat pula ada yang mulai berbisik-bisik. Dan sialnya, Naruto tahu apa yang sedang mereka bisikan. Tidak jauh dari tempat Naruto berdiri, seorang wanita bersurai pirang sepertinya juga tengah mengumpat saat tahu ternyata gadis beruntung yang mendapatklan hati sekelas Rei Gaara adalah seorang Uzumaki Naruto. Penyanyi sekaligus penulis lagu yang sedang naik daun saat ini.
Mata beriris sapphire itu terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu. "Apa maksudmu?" tanya Naruto
"Seperti yang kau adalah wanita yang istimewa untukku. Karena itu-" ujar Gaara memberi jeda.
Pemuda itu tersenyum wanita tercekat karena ulahnya. Bahkan pelayan wanita diacara itu terpukau akan senyuman pemuda bersurai merah tersebut. Gaara memberi jeda pada ucapannya, membuat para tamu udangan yang sebagian wanita itu menunggu tidak sabaran.
"- jadilah kekasihku, Naruto."
Naruto mengernyit itu lebih seperti sebuah perintah daripada permintaan. Entah kenapa itu membuatnya teringat akan Sasuke. Pemuda itu, entah bagaimana kabarnya sekarang. Sejak masa-masa sulit itu, entah kenapa ia masih sangat merindukan pemuda raven itu. Bahkan disaat seperti ini pun. Ia masih ingat. Seakan hidupnya sudah terpatri pada pemuda yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu.
Gadis itu orang-orang disekelilingnya heran. Gaara menyentuh lengan gadis itu lembut. "Naruto." tersentak, dipandangainya pemuda itu."Maafkan aku. Aku harus pergi." Ucapnya kemudian kebingungan bagi semua orang.
Gaara terenyak, kemudian menyusul gadis itu berlari saat melihat Naruto memasuki lift. "Naruto." panggilnya.
"Sial." umpatnya saat ia kalah cepat dengan pergerakan Naruto.
Para paparazzi tampak bergegas mengikuti Gaara dan Naruto. Mereka tidak ingin melewatkan berita hot macam ini. Gaara menekan tombol lift berharap lift yang ditumpangi Naruto berhenti dan ia dapat menyusul gadis itu.
TING!
Satu pintu lift terbuka dan Gaara bergegas masuk ke dalamnya sedangkan paparazzi mulai berlari menyusul dengan tangga darurat. Naruto berjalan cepat disepanjang hall hotel bintang lima itu. Ia memacuh laju kakinya saat mendengar suara Gaara memanggilnya.
Gaara langsung mencari keberadaan Naruto dan ia menemukan wanita itu sudah sampai di dekat pintu keluar hotel. Pemuda itu berlari mengejar Naruto. Tidak peduli dengan orang-orang yang tidak sengaja ditabraknya.
Naruto menyetop taxi yang lewat tiba sesaat setelah wanita itu berlalu. Pemuda itu memandang kepergian Naruto. Gaara tertawa pelan. Geli akan tingkahnya. Mengejar wanita itu entah mengapa menimbulkan perasaan senang dihatinya."Apa ini sebuah penolakan, heh?" tanyanya.
Pemuda itu beranjak pergi, menghampiri para paparazzi yang mulai berdesakan di lobi hotel. "Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang." ujarnya pelan seraya berjalan penuh wibawa.
.
.
.
Naruto memandang keluar jendela. Jalanan masih sangat ramai, padahal jam sudah menunjukan pukul dua belas tengah malam. Sudah dua jam ia berada di dalam taxi. Tanpa tujuan yang jelas Ia menyuruh sang supir taxi untuk tetap melajukan kendaraannya. "Kita akan pergi kemana, Nona?" tanya supir taxi itu.
"Kita berada dimana sekarang, Sir?" tanya Naruto pada supir taxi tua itu.
"District 7, Nona."
Naruto terdiam sesaat, district ini tidak jauh dari kediaman . Jika ia kembali ke apartement. Ms Anko pasti akan menanyainya macam-macam. Belum lagi tentang penyataan cinta pemuda itu dan kepergianya yang mendadak dari pesta. Berita itu pasti sudah menyebar luas di media. Terlalu banyak para paparazzi disana. Naruto menghela napas panjang. Ia lelah.
"Bawa saya ke Johannes Street Blok A, Sir." pinta Naruto
"Baik, Nona."
Lima belas menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat tujuannya. Naruto sudah berada di depan pintu rumah . Naruto menekan bel dan beberapa saat kemudian Shion datang dan membukakan pintu.
"Naruto." ucapnya cukup kaget mendapati wanita yang sudah dianggap adik olenya itu berada dikediamannya tengah malam begini.
"Malam, Kak. Boleh aku masuk?"
"Silakan." ujar Shion seraya melebarkan pintu agar Naruto dapat masuk. Naruto beranjak masuk dan duduk di sofa. Sedangkan Shion, dokter muda itu berada dibelakangnya.
"Kau ingin minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot begitu, Kak."
"Aku memaksa."
"Baiklah, terserah kakak saja. Apapun itu akan aku minum."
"Jika aku memberimu racun, bagaimana?"
"Aku tahu kakak tidak akan setega itu padaku yang cantik ini." ucap Naruto narsis.
Shion mengerling mata bosan. "Percaya diri sekali." ucapnya kemudian berlalu pergi, meninggalkan Naruto yang terkikik sendiri di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Shion kembali dari dapur dan mendudukan dirinya di seberang sofa tempat Naruto duduk."Aku membuatkanmu coklat hangat. Minumlah."
"Terima kasih." ucap Naruto seraya mengambil minumannya. Shion menatap wanita yang beberapa tahun lebih muda darinya itu."Ada apa?" tanyanya.
"Hm?"
"Kutanya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kau tidak bisa berbohong padaku, Naruto." ucap Shion seraya mengambil majalah yang tergeletak di meja dan mulai membaca isinya.
Naruto tersenyum kearah Shion."Aku sungguh tidak apa-apa, Kak. Boleh aku menginap disini?"
"Terserah kau saja." ujar Shion sekenanya.
"Arigatou." ucap Naruto tanpa sadar kemudian berlalu pergi menuju kamar tamu.
Tokyo
Sasuke sedang menyantap sarapannya. Kemarin sang Ayah menelepon dan menyuruhnya datang ke rumah utama. Pemuda raven itu menaruh piring di bak cuci kemudian berlalu pergi. Jalanan cukup padat di jam begini. Sasuke melajukan kendaraannya dengan pelan menuju kediaman Uchiha. Sejak empat tahun lalu, Ia sudah tidak tinggal di rumah utama. Hubungannya dengan sang Ayah yang memutuskannya untuk hengkang dari rumah yang sudah belasan tahun itu ia tinggali itu. Setiap hari hanya ada pertengkaran dan perdebatan antara Ia dan Ayahnya. Membuatnya jengah serta muak.
Tiga puluh menit berlalu dan Sasuke tiba dikediaman Uchiha. Para maid menyambutnya.
"Sasuke," Panggil Mikoto.
Sasuke menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya. "Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Mikoto seraya melepaskan pelukannya."Aku baik-baik saja."
"Ayah yang memintamu datang?"
"Hn."
"Temuilah Ayahmu. Mungkin ada hal penting yang ingin Ia sampaikan."
"Hn."
Sasuke berajak pergi menuju ruang kerja sang Ayah sesaat sesudah ia mencium dahi Mikoto. Mikoto menatap sendu punggung sang anak yang mulai menjauh. "Apa kebahagiannmu hanya ada pada wanita itu, Sasuke?" tanyanya lirih
Sasuke mengetuk pintu coklat itu saat sudah mendapatkan ijin, Ia masuk dan melangkah menuju meja kerja Ayahnya. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa basi.
"Duduklah dulu, Sasuke. Kau sama sekali tidak sopan." Cibir Fugaku
"Aku tidak punya banyak bicara."
"Oooh, terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai presdir muda, heh?"
"…."
Fugaku menatap putera bungsunya ada raut wajah persahabatan disana. "Baiklah, Ayah akan memberitahukan tujuan kenapa kau Ayah panggil kesini."
"Hn."
"Ayah ingin kau memantau pembanguan resort baru perusahaan di Kyoto minggu depan, dan bawa juga Deidara bersamamu."
"Kenapa dia harus ikut?"
"Ada yang salah jika dia ikut? Lagipula dia itu tunanganmu."
"…."
"Ayah dengar kalian bertengkar. Apa itu benar?"
"Tidak perlu kujawab. Kau pasti sudah tahu dari wanita itu."
Fugaku tampak menahan emosi dengan sikap putera bungsunya itu. "Dengar Sasuke! Kau harus bersikap baik padanya. Deidara itu tunanganmu."
"Kau tahu aku tidak suka berpura-pura. Jadi, untuk apa aku harus bersikap baik padanya?"
"Sasuke!" bentak Fugaku
"Jika tidak ada hal penting lain yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku pergi." Ucap Sasuke, kemudian membungkuk memberi hormat lalu beranjak pergi.
"Anak itu!" geram Fugaku.
Kediaman Namikaze
Deidara tampak senang. Kemarin ia sempat mengaduh perihal pertengkarannya dengan Sasuke pada Fugaku. Dan, sesuai dengan yang ia harapkan, ayah dari Sasuke itu langsung menelepon Sasuke dan memintanya untuk datang ke kediaman Uchiha. Dan yang membuatnya lebih senang adalah, ia akan ikut bersama Sasuke ke Kyoto. Bukankah itu bagus?Ia bisa menghabiskan waktu bersama tungangnnya itu. Gadis itu meloncat girang, tidak sabar untuk segera pergi.
.
.
.
Naruto melangkah ringan menuju dapur. Disana Ia menemukan Shion sedang memasak. "Pagi kak." sapa Naruto
"Pagi, Naruto."
Naruto mendudukan diri disalah satu kursi. Memperhatikan Shion yang tampak asyik memasak. "Berita tentangmu dan pria bernama Gaara itu sudah memenuhi setiap majalah. Bahkan menjadi hot news dalam semalam." ucap Shion seraya menaruh dengan kasar majalah gosip itu diatas meja. Naruto hanya melirik majalah itu sekilas, kemudian tersenyum kecut.
Sudah kuduga, batinnya."Kau tidak kembali ke apartement? Ms. Anko pasti sedang mencarimu saat ini. Belum lagi kepala agency-mu."
"Mereka belum menghubungimu?" tanya Shion lagi
"Aku mematikan ponsel-ku."
"Melarikan diri, heh?" cibir Shion sedangkan Naruto, wanita muda itu hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Shion.
.
.
.
Ms. Anko tampak panik saat ini. Naruto sama sekali belum bisa dihubungi. Belum lagi Nyonya Tsunade yang tampak kesal saat tahu jika Naruto sama sekali belum pulang ke apartement. "Dimana kau, Naruto?" tanya seraya kembali menghubungi nomor wanita pirang itu.
"Hallo Ms. Anko?"
"Naruto. Ini benar kau Naruto?"
"Iya, ini aku Ms. Anko."
"Dimana kau? Kenapa tidak pulang ke apartement, huh? Dan kenapa ponsel-mu mati? Kau membuatku dan yang lain panik." ucap Anko dalam satu tarikan napas
"Maaf soal itu Ms. Anko. Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi, sekarang aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa? Kau tidak terlibat masalah kan?"
"Sayangnya iya Ms. Anko. Dengar, aku berada di kediaman dokter Shion saat ini. Dan entah kenapa, para paparazzi itu bisa tahu aku ada disini. Dokter Shion sudah mengatakan aku tidak ada disini, tapi mereka tidak percaya."
"Tentu, mereka tidak mungkin percaya begitu saja."
"Aku butuh bantuanmu Ms. Anko. Paparazzi itu mulai menggila. Aku tidak tahu berapa lama lagi Dokter Shion bisa menahan mereka diluar."
"Baiklah. Baiklah, aku akan membantumu. Kau tetaplah disana. Aku akan segera kesana tidak lama lagi."
"Terima kasih, Ms. Anko."
Naruto menutup itu tampak panik. Bagaimana bisa para pemburu berita gila itu ada disini. Siapa yang memberitahukan mereka? Naruto mengintip dari celah tirai jendela. Melihat semakin banyaknya para paparazzi itu diluar sana. "Sial! Ini benar-benar gila." umpatnya.
.
.
.
Ms. Anko datang satu jam kemudian. Wanita itu harus mengendap-endap seperti pencuri untuk dapat masuk agar para paparazzi tidak mengetahui keberadaanya. menutup pintu belakang rumah dokter Shion kemudian mulai beranjak masuk. "Aaaarrggh!" teriak
"Sssst! Diamlah Ms. Anko. Bagaimana jika mereka mendengar teriakanmu?"
"Kau mengagetkanku." ucap wanita bermbut gelap itu kesal.
"Maaf. Jadi bagaimana?"
"Supir sudah menunggu kita diperempatan jalan. Kita akan berlari kesana, setelah itu kita akan pergi ke menuju gedung agency."
"Kenapa harus kesana?"
"Karena disana tempat yang cukup aman untukmu saat ini, Naruto."
"Tapi, bagaimana kita bisa masuk kalau mereka sudah berkerumun di depan gedung?"
"Masalah itu sudah ditangani oleh Nyonya Tsunade. Sekarang kita harus bergegas keluar dari sini."
"Naruto! Cepatlah pergi, mereka sudah mulai menggila diluar sana." ujar Shion.
"Baiklah, Kak. Terima kasih untuk bantuanmu."
"Ya, sama-sama. Sekarang bergegaslah."
"Ayo, Naruto!" ucap Anko dan mereka berdua mulai bergegas keluar. Para paparazzi masih berkumpul di depan kediaman dokter Shion. Bahkan mereka berusaha untuk masuk. Tapi untung saja, dokter Shion bisa menghalau mereka sampai Naruto dan Ms. Anko benar-benar aman dan berhasil masuk ke dalam mobil.
.
.
Naruto tampak memberikan penjelasan mengenai peristiwa pernyataan cinta Gaara padanya tadi malam pada para paparazzi.
"Aku tidak memiliki hubungan khusus dengan Rei Gaara."
"Apa ini sebuah penolakan, Naruto?" Tanya seorang paparazzi
"Rei Gaara seorang pria yang tampan, dia juga aktor dan musisi yang berbakat. Apa kau tidak merasa berutung bisa mendapatkan hatinya."
"Kalian pernah berada dalam satu frame yang sama. Kalian juga sering melakukan kolaborasi. Apa mungkin tidak ada rasa cinta disana?"
"Iya benar. Jangan munafik Naruto."
"Munafik? Dengar aku tidak menyukainya, aku hanya menganggapnya rekan kerja. Itu saja." ucap Naruto. "Mengapa kalian selalu melebihkan sesuatu?" tanya Naruto mulai kesal.
"Apa kau benar-benar menyukai gadis itu?" tanya seorang wanita berkuncir satu pada pemuda dihadapannya seraya mematikan televisi dihadapannya.
"Tentu saja." ucap sang pria.
"Tapi perasaaanmu itu akan sangat merepotkan. Kau tahu 'kan?" tanya seorang pria lain dalam ruangan itu.
"Lagipula, tampaknya dia tidak menyukaimu, Gaara."
"Tutup mulutmu, Temari! Gaara akan tersinggung dengan ucapnmu itu." ucap pemuda itu mengingatkan.
"Itu 'kan hanya pendapatku. Dia pergi begitu saja saat Gaara memintanya menjadi kekasih. Bukankah itu pertanda penolakan?"
"Kalaupun memang benar apa yang kau katakan Temari. Aku rasa, Gaara akan punya banyak cara untuk mendapatkannya. Bukan begitu, Gaara?"
Gaara menyeringai. "Kau pintar, Sai." Puji Gaara. Pria itu melangkah pelan dengan segelas wine ditangannya. Kemudian berdiri di belakang jendela. Menatap gedung-gedung pencakar langit dari tempatnya berdiri. "Semakin kau berlari, semakin terus aku mengejarmu, Naruto."
To be Countinue
