My Young Brother (Bab. 1)

.

.

I.

.

.

.


Hansol Vernon Choi mengiriminya pesan melalui email seperti ini :

To : Jonginkim

Miss You Broh..

Hey, Jongin hyung..Hari ini aku bosan sekali. Sophie memintaku untuk mengantarnya terus menemui teman-teman genitnya itu. Astaga, adikku satu itu..

Jongin tertawa membaca pesan singkat itu. Ia menutup ponselnya ketika suara cempreng Sarang memanggil namanya sambil menggedur pintu kamarnya dengan keras.

Ada apa dengan anak itu?

Cklek..

"Oppa" Sapanya.

Sarang dengan gaun tidur berwarna putih terlihat sangat manis. Rambutnya yang agak ikal itu dikepang dua. Bibi pengasuh memang sering menata rambut anak itu sedemikian rupa.

"Ada apa?" tanya Jongin.

"Jungkook oppa pulang. Dia membelikan Sarang sepatu cantik ini" katanya, seraya memamerkan sepatu flat shoes cantik berwarna merah hati.

Jongin segera turun ke bawah. Mendapati adik bungsunya yang tumbuh menjadi laki-laki tampan dengan senyumnya yang menawan.

"Apa aku perlu memberitahu mama jika kau pulang hari ini?" tanya Jongin.

"Tidak perlu" adiknya berkata.

Mama dan Siwon appa sedang berada di Ulsan. Jadi mereka tidak tahu jika Jungkook pulang ke rumah.

"Kenapa begitu?" Jongin sejak awal sama sekali tidak mengerti dengan keadaan keluarganya selama ia berada di Sydney.

"Itu sama sekali tidak penting" kata Jungkook.

Tidak penting dia bilang? Bahkan mama sangat antusias saat menceritakan bagaimana cerita Jungkook selama anak itu menjadi seorang trainee.

"Kau bercanda.. Mama ingin anak-anak nya di sini. Begitu juga denganmu, Kook"

Jungkook tertawa sangau. "Dia hanya mengharapkan dirimu. Si anak emas dengan prestasinya di Negara orang"

Apa ini kalimat sindiran? Mengapa Jongin tersinggung dengan ucapan Jungkook barusan.

"Apa maksudmu?"

"Sama sekali tidak ada maksud" Jungkook menyahut. Ia menggendong tas ranselnya, berniat untuk pergi.

"Kook.. Jungkook"

Jungkook berjalan acuh. Dia tidak ingin melihat wajah itu lagi. Wajah seorang kakak yang selalu mengingatkan dirinya akan ambisi-ambisi ibunya menjadikan dirinya sama persis seperti kakak keduanya itu.

Sangat tidak adil bagi seorang Jungkook. Saat dimana Jongin bebas meraih mimpi. Jungkook yang memiliki mimpi menjadi seorang idol terkenal malah dilarang sang ibu dan dipaksa keras untuk menghapus impiannya itu.

Yang selama ini Jongin tahu, Jungkook tidak pernah mau pulang ke rumah mereka setelah menjadi seorang trainee dan akan debut beberapa minggu lagi. Tetapi yang terjadi sesungguhnya adalah.. HEECHUL MENGUSIR JUNGKOOK DARI RUMAH hanya karena anak itu tetap keras hati mempertahankan impiannya.

Jungkook tidak pernah membenci kakaknya. Hanya saja ibunya terlalu menuntut dirinya sempurna seperti kakak keduanya itu..

.

.

Hari Sabtu, Jongin sudah janji pada Kyungsoo (teman semasa SMA) untuk hadir ke acara reuni kecil-kecilan di kedai roti milik Kyungsoo. Di sana ada Baekhyun, salah satu teman dekatnya juga yang sekarang sudah bersuami.

"Kau terlihat sedikit berbeda, Kai" Baekhyun berkata. Dia memuji bentuk tubuh Jongin yang semakin terlihat sexy. Bahkan namja manis itu bertanya. Apakah Jongin masih bisa menari lagi?

Jongin terdiam.. Ibunya sangat benci melihatnya menari sekalipun Jongin sangat suka menari. Karena mama tidak suka melihat Jongin menjadi seorang idol, melainkan mama ingin melihat Jongin menjadi seorang pekerja kantoran yang punya karir emas dan prestasi yang gemilang. Mama tidak suka anak-anaknya jadi idol. Karena yang mama tahu dunia selebriti penuh dengan drama dan tuntutan loyalitas. Dunia selebritis adalah panggung sandiwara kejam yang hanya mementingkan popularitas individu saja.

"Ekhem.. Aku senang kau datang dan kita bertiga bisa kumpul lagi seperti dulu" Kyungsoo berdehem.

Saat kuliah dia mengambil jurusan sastra inggris. tetapi begitu lulus dia malah membangun sebuah toko roti dengan label namanya sendiri. Mengingat kecintaannya pada dunia memasak. Bahkan ortunya sempat menyayangkan jurusan yang Kyungsoo pilih. Mengapa bukan chef pastry saja? Tetapi Kyungsoo tetap berdalih jika membuat kue hanya memerlukan kemauan dan bahan-bahan yang dibutuhkan tanpa perlu julukan seorang Chef tersemat di depan namanya.

"Iya.. Ibuku memintaku untuk tinggal di sini lagi.. Kami sedikit berdebat beberapa waktu yang lalu. Jadi aku tidak punya pilihan untuk menetap di Sydney" Jongin berkata.

"Eh, Kai" Baekhyun mencoba untuk mendapatkan perhatian dari kedua sahabatnya itu. "Ku dengar Jungkook sedang mempersiapkan debutnya ya? wah,saat pra debut saja dia keren apa lagi saat debut.. Aku jadi ikut bangga mendengarnya"

Jongin tersenyum kecut. Mengingat bagaimana keadaannya sekarang hanya akan mebuat sesak saja. Ada banyak perubahan yang dialami banyak orang di sekitarnya, hanya saja Jongin tidak pernah mengetahuinya. Bahkan adiknya sendiri, dimana dulu mereka pernah bermain dan berbagi Kasih sayang bersama.

"Kita mungkin akan kaget saat melihatnya di jalan. Fans akan berteriak Kookie oppa.. kookie oppa saranghae" ujar Kyungsoo, dengan tawa di bibir heartshape nya itu.

"Ya.. aku akan minta tanda tangannya kalau berkunjung ke rumah Kai nanti" Baekhyun menangkup wajahnya dengan kedua tangan. senyuman mengembang di wajah cantiknya.

"Asal kau tidak lupa untuk tidak memangilku Kai saat di rumahku nanti" Jongin menyahut.

Baekhyun terkekeh saat mengingat hal paling penting dan tidak boleh dilanggar sama sekali saat bertemu bibi Heechul. Jangan pernah memanggil Jongin dengan sebutan Kai, karena yeoja cantik itu sama sekali tidak menyukainya.

Kai adalah nama panggung Jongin saat pemuda itu masih bergelut di dunia dance. Nama yang diberikan oleh guru tarinya saat di SMA. Sesungguhnya Jongin sudah menanggalkan nama ltu cukup lama sekali. Mengingat sang ibu yang menentang keinginannya untuk mengikuti audisi dance ke luar negeri.

Pembicaraan ketiganya terus bergulir begitu saja. Hingga Kyungsoo yang tiba-tiba menepuk dahinya seolah melupakan sesuatu.

"Astaga, aku ingat. aku ingin mengenalkan dirimu dengan sahabat dokterku" Kyungsoo berkata. Dia lupa menghubungi sahabatnya yang mungkin saja sedang sibuk menghindari para suster centil yang menggodanya. Kasihan si tampan itu!

"Oh Sehun ya, soo?" tebak Baekhyun.

Kyungsoo mengangguk dan membuat namja dengan wajah bishonen itu terkekeh. Apakah Baekhyun juga mengenal Sehun?

"Dia temanku dan Chanyeol saat di universitas" Kyungsoo menjawab pertanyaan yang terbesit di kepala Jongin. "Kau ingat Chanyeol kan?"

"Chanyeol?" Jongin mencoba untuk mengingat. Dia nyaris saja lupa jika Kyungsoo tidak mengingatkan jika Chanyeol yang dimaksud adalah mantan Baekhyun yang punya tinggi badan melebihi rata-rata dan punya suara berat dengan wajah imutnya itu.

"Oh.. Aku ingat" dengan tawanya Jongin berseru. Wajah Baekhyun bersemu saat topik pembicaraan berganti. Mengapa dua sohibnya ini malah membicarakan hubungannya dengan sang mantan?

"Aku dan dia masih berhubungan dengan baik" kata Baekhyun. "Ayolah, mengapa harus membahas Chanyeol sih?"

"Karena aku ingin tahu. Kenapa kau malah menikahi pria lain? Aku ingat kau dan Chanyeol bahkan sudah melakukan hubungan yang lebih dari pacaran" Bukan Kyungsoo namanya kalau tidak to the point dan menusuk seperti ini.

Tetapi Baekhyun dan Jongin cukup memakluminya. Dengan santai Baekhyun menanggapinya. "Karena aku butuh seorang pria matang seperti Kris hyung"

Kris adalah seorang pria berusia 29 tahun. Dia sangat dewasa dan sangat mengayomi Baekhyun. Pria itu seolah menjadi figur seorang ayah bagi Baekhyun. Mengingat Tuan Byun sudah lama meninggal dunia saat Baekhyun masih berusia 1 tahun. Kris sangat pengertian, point penting yang dicari Baekhyun dan tidak ia dapatkan saat masih bersama Chanyeol.

.

.

Jongin tidak pernah berpikir jika hari ini dia akan dipertemukan kembali dengan dokter tampan yang diidolakan oleh sang adik. Mereka berkenalan secara terbuka layaknya teman baru yang dipertemukan di waktu yang sangat mendukung.

Namanya Oh Sehun, lahir tanggal 12 April dengan tinggi 184 cm dan punya hobi membaca. Pria berkulit pucat ini sangat tampan saat dia berbicara, bahkan saat tidak menggunakan jas kedokterannya. Sosok seorang dokter yang telaten masih terlihat begitu jelas dalam dirinya.

Jongin tidak bisa berbohong. oh Sehun adalah pria dewasa yang layak untuk diidam-idamkan.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini" Terlihat jelas, lelaki tampan itu berusaha menghilangkan rasa kikuknya di hadapan Jongin.

"Tunggu.. tunggu" Itu Kyungsoo, dia juga terlihat bingung dengan tingkah dua orang di hadapannya ini. "Jadi namja cantik yang kau maksud itu Jongin?"

Oh Sehun salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya pelan dengan tawa. Begitu pula dengan Kim Jongin. wajahnya merona saat Sehun terus mengatakan jika Sarang memiliki wajah yang menawan karena kakaknya juga seseorang yang memiliki wajah menawan seperti malaikat. Aigoo, Sehun..itu sangat berlebihan!

"Oh Sehun kau benar-benar out of character saat salah tingkah" cibir Kyungsoo.

Baekhyun dan Jongin tertawa mendengar cibiran Kyungsoo. Mulut pedas Kyungsoo sama sekali tidak berubah!

"Aku berkata jujur" Sehun mencoba menjelaskan. "Kim Kai-ssi, aku jujur.. Aku sedang tidak merayu"

"Aku percaya itu kok" Jongin menyahut. tidak tega juga melihat Sehun jadi bahan ejekan oleh dua namja manis itu. "Btw, dimana Chanyeol?"

Kemarin Kyungsoo bilang Chanyeol juga akan datang. Tapi sampai jam segini pun dia tidak juga datang.

Baekhyun berdehem pelan. Seolah dia tahu alasan mengapa pria bertelinga lebar itu tidak mau hadir di antara mereka.

"Dia ada sedikit urusan, tapi dia pasti datang" Jawab Kyungsoo, berusaha untuk mencairkan suasana.

.

.

Hari-hari berikutnya masih tetap sama. Hanya saja Yang berbeda mama Sudah pulang dari Ulsan dengan berbagai macam buah tangan yang banyak. Jongin tidak mau bertanya-tanya mengapa atau apa alasannya.

Karena ia yakin itu tidak akan cukup menarik untuk dibahas. Yang penting mama dan appa pulang dalam keadaan selamat. Dan Sarang bisa bermanja-manja dengan kedua orang tuanya itu.

"Bibi Bong bilang adikmu pulang beberapa waktu yang lalu" mama berkata, seraya memotong bawang bombay di atas talenan.

Hari ini mama bilang akan membuat tumis ayam bombay asam manis kesukaan Sarang. Mengingat anak itu berhasil meraih juara 1 lomba menggambar tingkat Sekolah Dasar di distrik yang mereka tempati ini. Entah keberuntungan apa yang membuat anak itu memiliki kesamaan dalam hal makanan favorit dengan kakak keduanya itu.

"Ya" Jongin menyahut. mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja. Mengingat pembicaraan terakhirnya dengan Jungkook bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan baik.

"Kau tidak memberitahu mama" mama menoleh ke arahnya. meski tersenyum, Jongin tahu jika mamanya tengah menatapnya penuh kekecewaan.

"Apa mama sudi melihat Putra mama yang memilih menjadi seorang idol daripada menjadi seorang pilot?" Tanya Jongin.

Mama terdiam untuk beberapa saat. "Jongin, jangan bicara seperti itu!" terdengar menjadi kesal dengan perkataan Jongin beberapa detik yang lalu.

"Aku hanya bertanya. Yang aku tahu, mama sangat membenci kehidupan para Idol yang penuh dengan sandiwara. Mama ingatkan? Mama bahkan membuang tiket pendaftaran lomba menariku saat aku SMP"

"Jongin"

Jongin tahu mama hanya tidak mau anaknya memiliki kehidupan glamour yang penuh dengan tipu muslihat seperti para selebritis dunia di luar sana. Mama bilang panggung kehidupan itu kejam, tetapi panggung sandiwara para selebritis jauh lebih kejam dari kehidupan normal. itulah sebabnya mama tidak pernah bangga dengan talenta menari Jongin yang selalu diagung-agungkan oleh teman-temannya semasa sekolah.

"Menjadi seorang Idol itu tidak selamanya buruk, ma" ujar Jongin.

"Dan kau mendukung Jungkook menjadi salah satu dari mereka?"

Bentakan mama membuat Jongin terdiam. Takut? Tidak! hanya saja dia kecewa dengan bagaimana cara pandang mamanya mengenai panggung hiburan.

"Dulu mama selalu bilang" Jongin berkata perlahan. "Kejarlah impianmu tanpa batas. itulah yang mama katakan pada kami. Apa mama ingat? "

Mama terdiam.. seolah menunggu kalimat-kalimat yang akan terlontar dari bibir Jongin.

"Sejak dulu Jungkook selalu bilang dia ingin melihat dunia luar dengan caranya sendiri"

"Dengan menjadi seorang idol? Dia bahkan menolak pergi ke Miami hanya untuk menjadi seorang laki-laki yang menari dan menghibur orang di luar sana "

Jongin mengepalkan kedua tangannya begitu erat. "Apa salahnya dengan menari? apa menghibur orang-orang dari atas panggung itu perbuatan tercela? jika mama tidak bisa menerima jalan pikir Jungkook, jangan pernah berharap jungkook akan pulang"

Mama menghentikan gerakan memotongnya. menatap nanar punggung Putra keduanya yang berjalan pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Jongin, putranya.. Putra yang selalu ia banggakan di setiap lidahnya mengecap pujian baru saja membentak dirinya dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. entah darimana anak itu belajar untuk menjadi seorang sarkatis.

.

.

.

Sebagai seorang lajang di usia 26, membuat Sehun terkadang menjadi sangat kesulitan saat lapar di tengah malam. Mengingat dirinya yang tinggal sendiri di apartemen sementara memasak bukanlah keahliannya.

Ditambah kesibukannya selama nyaris 4minggu ini. Mebuat dirinya lupa membeli stok persedian mie instant favoritnya yang bisa menyelematkan perutnya di saat lapar.

Maka yang ia lakukan adalah keluar mencari kedai rumah makan yang masih buka di malam hari. Dia sengaja tidak membawa mobilnya karena terlalu malas untuk berkendara di malam hari.

Hanya sebuah stand kecil di pinggir Taman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sebuah stand yang menyediakan makanan-makanan kecil seperti odeng, teoppoki, dimsum, dan aneka macam sate seafood lainnya. Oh, dia bahkan bisa memesan sebotol soju jika ia mau.

"Bibi, aku pesan satu mangkuk bibimbap 3 tusuk odeng, dan ocha hangat" Sehun berseru.

Dia bisa makan sebanyak itu tanpa perlu merasa takut gemuk. Karena di hari weekend ia selalu rutin pergi ke tempat gym hanya untuk menjaga berat badannya supaya tetap proporsional.

Sehun memutuskan untuk menunggu pesanannya dengan sedikit memainkan ponselnya. Tetapi seseorang yang baru saja tiba membuatnya menoleh dengan sedikit keterkejutan di wajahnya.

"K.. Kai-ssi" katanya.

Sosok manis berbalut mantel berwarna biru dongker itu tersenyum ramah ke arahnya. Jongin aka. Kai memutuskan untuk duduk di meja yang sama dengan Sehun setelah meminta izin lebih dulu.

"Ku rasa anda memiliki masalah sehingga menuntun anda pergi ke sini di malam hari" Sehun berkata formal.

Jongin terkekeh mendengarnya. "Bisakah kita berbicara casual saja? Aku tidak terbiasa bicara seformal itu, dokter Oh. Ah, dan kau harus memanggilku Jongin saja agar lebih akrab"

Sehun menggangguku pelan. ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Dia akui, bahwa ia memang tertarik dengan wajah manis Jongin saat pertama kali bertemu di rumah sakit. Hanya tertarik, tidak dalam artian ingin mencintai dan memiliki.

"Oh" Jongin tersenyum tipis. "Kau benar.. aku pergi ke luar karena perutku lapar" katanya lagi, diselingi tawa.

Sehun tidak bisa untuk tidak tertawa. "Apa nyonya Choi tidak memasak di rumah?"

"mama tidak pernah memasak di tengah malam begini" jawabnya.

"Ah.. begitu" Sehun menyahut. ia hanya memperhatikan anak buah bibi pemilik stand itu menata pesanan mereka di atas meja.

Melihat tiga botol soju membuat Sehun mengernyitkan keningnya. Bukan hal baru lagi jika orang Korea seperti mereka menyukai soju. Hanya saja.. Tiga botol soju untuk satu orang membuat Sehun bisa menebak jika Jongin sedang dalam masalah yang pelik.

"Kau minum?"

Jongin menggeleng pelan. "Tidak.. hanya sedikit ingin minum saja malam ini"

Sehun menarik napas pelan. sedikit dia bilang? 3 botol itu tidak bisa dibilang sedikit!

"Apa di Australia kau juga minum sebanyak itu? " Sehun bertanya kepo.

"Tidak" Jongin menggeleng pelan. "Aku tidak pernah minum sendiri saat di Bar. Karena di Australia itu peraturan sangat ketat. Kau akan kehilangan pekerjaanmu jika efek mabuk semalam masih terlihat selama kau bekerja"

"Oh..dimana kau tinggal?"

"Sydney"

Sehun bertepuk tangan. "Aku sudah mendengar ceritamu dari Kyungsoo dan ibumu.. kau sangat hebat"

Jongin yang tengah menuang soju ke dalam gelas kecil itu terkekeh pelan. "Mereka terlalu memuji"

"Sehun, apa kau minum?" tanya Jongin.

Namja manis itu hendak menuangkan soju ke dalam gelas lain. Namun Sehun menggeleng. besok dia harus menemui seorang pasien, dan tidak etis untuk seorang dokter menemui pasiennya dalam keadaan teler.

"Kau harus memakan odengnya. odeng bibi Han sangat enak" kata Sehun.

"Kau ini sedang promosi atau apa? " tanya Jongin

keduanya tertawa terbahak-bahak. Jongin meminta Sehun untuk mencicipi ayam pedas pesanannya dengan gayanya yang agak aneh. Apa namja itu mulai mabuk?

.

.

"Kau perlu menghibur dirimu setelah debut kita selesai"

Jungkook menghentikan petikan gitarnya. Menoleh ke arah Namjoon yang baru saja tiba dengan dua kantung plastik di tangannya.

"Gitarku adalah hiburanku, hyung" Jungkook berkata.

Jungkook meletakan gitarnya di sisi kanan. Sementara dirinya membantu Namjoon membuka bungkusan yang diberikan Namjoon untuknya. Itu satu porsi mandu dan dua tusuk corn dogs.

"Kau ingat namja manis yang waktu itu memberikanmu sebuah buku saat kita pulang berlatih?" tanya Namjoon.

Ah.. Jungkook mengangguk pelan. dia bahkan masih ingat wajah bersemu namja cantik itu saat memberinya sebuah buku berisi panduan-panduan bermain gitar.

"Oh.. Ya.. Kenapa hyung?"

"Dia memberikan ini untukmu"

Jungkook terdiam. Darimana namja itu tahu jika Jungkook suka mandu? Mandu adalah makanan kesukaannya yang hanya keluarganya sajalah yang tahu.

"Dia sangat manis.. tapi dia tidak berbicara sedikitpun padaku. melainkan memberikan secarik kertas yang berisi permintaannya untuk memberikan ini untukmu" Namjoon berkata perlahan. ia menikmati corn dogsnya dengan penuh penghayatan.

Jungkook menarik napas pelan. saat melihat mandu, entah mengapa ia jadi ingat ibunya di rumah. Mandu adalah makanan yang selalu ibunya buat saat mereka masih kecil. saat Natal ibunya hanya akan membuat mandu dan kue beras. karena memang hanya itulah yang bisa ibu buat dengan uangnya yang tidak seberapa.

Jungkook selalu menyembunyikan satu mandu dari masing-masing mangkuk kedua kakaknya. Hal itu yang membuat Jungkook terkadang merindukan masa kecilnya dan kedua kakaknya yang saat itu masih terlalu polos untuk mengerti kehidupan.

"Kook..Kook"

suara namjoon menyadarkan Jungkook dari lamunan masa kecilnya.

"Eh.. ya.. ada apa?"

Namjoon menggeleng pelan. "Kau melamun ya? Huft.. padahal tadi aku bicara panjang lebar lho"

"Ano.. maaf, hyung" ucapnya. "Aku hanya mengira jika anak itu emm.. bisu.. maksudku, ya.. difabel" Jungkook mencoba memberi alasan.

"Oh"Namjoon berseru. mulutnya penuh dengan corndogs. "Ku pikir juga begitu" katanya, setelah menelan kunyahannya.

.

.

.

Jongin terbangun dengan kepala yang terasa berat. pusing, dan rasa ingin muntah terus bergejolak. Ini pagi hari, dan dia benar-benar belum mengumpulkan kesadarannya dengan keberadaannya saat ini.

"Selamat pagi" ucapan seseorang membuatnya menoleh ke arah pintu.

Melihat sosok jangkung dalam balutan piyama tidur berwarna biru dongker membuat otaknya blank seketika. Pria tampan itu membawa sebuah nampan berisi sandwich dan segelas air putih. oh, juga ada obat di sana. Jongin bisa tebak jika obat itu adalah aspirin.

"A.. aku"

Sehun mengulum senyum. dia menghibur Jongin jika semalam dia mabuk. dan Sehun tidak sampai hati untuk meninggalkan Jongin sendiri. Jadi yang dilakukan Sehun adalah menggendong Jongin yang pastinya lumayan berat itu menuju apartemennya.

"Aku tidak tahu rumahmu. jadi aku membawamu ke sini. maaf, tapi aku tidak melakukan apapun selain membuka mantelmu" kata Sehun.

Semalam Jongin meracau. tentang kehidupan keluarganya yang cukup pelik. Sehun tidak terlalu mengerti dengan ucapan yang dilontarkan namja itu saat tengah mabuk. Jadi ia menganggap cerita Jongin hanya angin lalu, meskipun ia tahu Jongin tidak berbohong.

"Kepalaku sakit" keluh Jongin.

Sehun terkekeh pelan. "Kau bisa istirahat selama yang kau mau. aku akan mengantarmu pulang"

"Tidak.. Terimakasih.. Aku pasti sudah merepotkan semalam"

"Haha.. tentu saja.. kau bahkan muntah di bajuku"

Jongin salah tingkah. "Maaf" ucapnya.

Sehun mendudukan tubuhnya di samping ranjang. meletakan nampan di tangannya di samping nakas agar Jongin mudah mengambilnya.

"Kim Jongin-ssi" sebutnya. Ia masih mempertahankan senyumannya. "Aku tidak tahu masalah apa yang mendera kehidupanmu dan keluargamu. Tapi jika aku boleh saran. Kau hanya perlu menghadapinya dengan cara yang bijak. Bukan malah pergi minum di tengah malam seperti itu. Kau hanya akan merusak dirimu sendiri nanti"

Jongin terdiam. Bahkan saat Sehun menyentuh tangannya dan sedikit menggenggamnya. "Jika kau tidak bisa menanggungnya sendiri. kau hanya perlu membaginya pada orang lain. seorang sahabat? kau membutuhkannya, Jongin"

Baekhyun dan Kyungsoo adalah sahabatnya. Namun menceritakan semua masalah bukanlah tipe seorang Kim Jongin. namja manis itu akan menyimpan semuanya sendiri karena ia pikir, tak ada seorang pun yang bisa mengerti dirinya dan membuat dirinya percaya.

"Aku dan Kyungsoo bersahabat sejak semester pertama di universitas. Kau adalah sahabat Kyungsoo. yang artinya kau juga sahabatku" Sehun berkata.. begitu meyakinkan sehingga membuat Jongin hanya terdiam, setuju.

.

.

.

.

TBC

.

.

A/n :

Hello.. Thanks buat semuanya yang sudah singgah ke lapak baru Joy. Joy gak nyangka kalo kalian bakalan suka ff gaje ini. sebenarnya aku cuma mau jelasin kalo ff ini temanya konflik keluarga. soal pairingnya sendiri tuh cuma buat pemanisnya aja. Biar gak bikin jenuh. jadi kalo ada yang mengharapkan NC atau full Hunkai Scene Joy musti putar otak utk buat alur yg seperti itu.

sekali lagi big thanks banget ya buat kamu kau semua yang udah sempat Review. hehe.. seenggaknya jadi semangat buat lanjut:)