Author's note: Maaf~ saya baru bisa update sekarang, sungguh saya minta maaf sekali lagi maaf. Oke berhubung saya lagi kepengen ngetik fic jadi saya memutuskan mengupdate fiction saya yang berjudul 'The Resistance' ini. Yang chapter lalu ada kesalahan di tanggal. Maaf semuanya… diganti, harusnya tahunnya menjadi 1923-1929.

Rate: T.

Warning: Miss typo, OOC banget, sejarah seadanya (dan mungkin saya salah, maka harap jangan percaya! Apalagi tanggal-tanggalnya), dan lain-lain.

Disclaimer © Masashi Kishimoto.

Pairing (s): SasuSaku, slight SaIno

Listening to: Vanilla Twilight- Owl City.

.

.

.

Happy Birthday Sakura Haruno

.

.

.

Prussia, 6 Januari 1929.

Sakura hanya menatap keadaan sekitar di luar pesawat yang ia naiki, salju putih menutupi hutan bagian selatan negara Prussia, memang musim dingin baru saja datang.

"Kau siap Miss?" tanya pilot pesawat itu tiba-tiba dengan tambahan senyuman hangat ala Inggris tentunya.

Sakura hanya melirik remeh pilot itu, "Apakah aku pernah tidak siap?" tanya balik Sakura. "Turunkan aku setelah aku memakai peralatan mendaratku!" suruh Sakura. "Dan jangan lupa doakan aku kembali ke tempat kelahiranku dengan selamat."

Pilot itu tertawa keras, "Kau tidak menyeruhku mendoakanmu pun aku akan mendoakanmu, kita ini kan keluarga, nona agen."

"Kuharap begitu Lee."

"Agen Sasuke memang agak pendiam, tetapi aku yakin kau akan jatuh cinta." canda Lee itu sambil tertawa keras.

Sakura hanya mendesah kesal dan mencubit lengan Lee, dengan bringas tentunya. "Akan kubunuh kau kalau mengatakan hal itu lagi. Kumohon Lee, jangan gila, jangan jodohkan aku dengan pemuda berambut pantat ayam itu." kata Sakura kesal, dan tentunya masih mencubit Lee.

"Auw, Sakura, sekarang biarkan aku yang memohon padamu, bila kau dan aku tidak mau mati dengan lucu karena pesawat ini oleng, lalu diketahui para Gestapo, lalu ditembaki, lalu meledak dan akhirnya jatuh." kata Lee.

"Satu, kau terlalu berlebihan," kata Sakura kesal. "Dan…lalu? Apa peduliku? Bila pesawat ini ditembaki dan aku punya parasut yang sudah kupasang di tubuhku sejak tadi, aku kan tinggal loncat dari pesawat ini juga." oceh Sakura sambil melepaskan cubitannya.

"Yang kuketahui kau juga akan mati Sakura," jawab asisten pilot kesal, mungkin karena dia mendengar ocehan tidak berguna dari dua orang aneh yang ada didalam pesawat itu. "Saat kau turun dari pesawat dan memakai parasutmu, dan ada dua cara kematianmu, yang pertama sudah kupastikan saat kau terjatuh di air yang dinginnya dibawah sembilan belas derajat pasti kau mati kedinginan-

"Yang kedua bila kau jatuh kedalam air dan selamat, kupastikan agen-agen Gestapo itu akan mengejarmu dan membunuhmu dengan disiksa terlebih dahulu." oceh asisten pesawat itu dengan tampang mengerikan, bisa dibilang tampang psikopat.

"Neji…kau, menyebalkan." hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Sakura setelah beberapa lama Neji berbicara begitu panjang.

.

.

.

"Semoga saja gadis berambut pink itu selamat saat mendarat nanti," dengus seorang pemuda berambut raven kesal. "Ia sudah delapan kali gagal dalam pelatihan mendarat saat itu, bagaimana ya? Geez, aku tidak pernah mengerti apa maunya atasanku sampai menurunkan gadis belum berpengalaman di Prussia." decah kesal pemuda itu.

Ia tampan, dengan memakai jaket musim dingin buatan penjahit Jerman bewarna kuning dengan bulu-bulu halus di sekitar leher jaket itu, ia juga sengaja mendobel celana panjangnya hanya karena suhu diluar -19, ya mungkin ia masih berterima kasih pada atasannya karena ia diturunkan di Prussia bukan di Rusia.

Uchiha Sasuke, itulah namanya, hanya menyebutkan namanya mungkin beberapa eh- bukan beberapa tetapi banyak dari anggota The Resistance mengetahui dia, siapa yang tidak tahu agen terlatih sejak umur sepuluh tahun? Jawabannya adalah para Gestapo dan para Nazi.

"Bukannya lebih baik dia diturunkan di Polandia bersama orang berambut kuning cerewet itu…" kata Sasuke kesal.

"Menurutku Polandia akan menjadi misi yang sangat mudah untukku agen Sasuke," jawab seorang gadis dari belakang Sasuke. "Naruto sudah diturunkan bersama Kiba, jadi kau tidak perlu cemas karenanya." canda Sakura.

"Hhh…maaf saja aku tidak pernah cemas karena Naruto." jawab Sasuke.

"Hei, aku hanya bercanda agen Sasuke-"

"Jangan memanggilku begitu disini," potong Sasuke. "Panggil saja Sasuke kau mengerti?" tanya Sasuke remeh pada Sakura dan yang ditanyai hanya memutar bola matanya, bosan.

"Verstehen (1) tuan Sasuke." jawab Sakura sambil menekankan kata tuan.

.

.

.

"Menurut Vater (2), gaun merah muda ini atau biru laut ini yang lebih indah?" tanya gadis berambut blonde. "Menurut ayah lebih baik rambutku tergerai atau dikuncir?" tanyanya lagi, sambil memutar-putar tubuhnya di depan cermin.

"Semuanya cantik bagimu liebe(3), tapi menurut ayah kau cantik dengan tampilan natural didepan tamu-tamu, daripada kamu tampil menor nanti." jawab seorang laki-laki, sudah dimakan umur memang, berapa kerutan tampak diwajahnya yang pucat, tetapi tidak mengurangi kegagahannya.

"Aku tahu Vater, hanya saja aku ingin tampil yang terbaik di ulang tahunku yang ke empat belas ini," kata gadis blonde itu dengan semangat. "Akan kuperlihatkan kecantikan perempuan Jerman yang sebenarnya."

Dan laki-laki tua itu hanya tertawa, "Semuanya akan kulakukan untuk anakku sayang, bagaimana Ino?" tanya sang Vater kepada anak kesayangannya.

"Danke, Vater," jawab Ino, setelah itu dia berlari ke arah Vater-nya dan memeluk laki-laki tua itu dengan erat. "Aku sayang Vater."

Tok tok…

"Ya, masuk saja!" perintah sang laki-laki tua itu.

"Tuan, lima belas menit lagi pesta akan dimulai, dan Nona muda ada seorang laki-laki ingin bertemu nona," sang pelayan memberi tahu dan setelahnya melihat jamnya kemudian melihat tuan dan nona mudanya lagi. "Nona harus segera bersiap." saran sang pelayan.

"Tenang saja Sai, oh iya Sai menerutmu lebih baik aku memakai gaun merah muda ini atau biru laut ini?" tanya nonanya sambil memperlihatkan dua gaunnya kepada sang pelayan.

"Hem, menurut saya eh, maksud saya, saya juga tidak tahu fashion jadi…"

"Jawab saja." potong pria tua itu tegas.

"Eh, eh," jawab Sai gugup. "Bagus yang biru nona, karena gaun itu cocok dengan mata nona yang indah itu." jawab Sai tidak yakin apakah jawabannya itu tepat.

Ino yang mendengarnya hanya tersenyum senang dan berkata, "Terima kasih Sai, hem…bisakah kau panggilkan Karin?" tanya Ino lagi-lagi tersenyum lembut pada pelayannya itu.

"Baiklah Nona." jawab Sai tenang setelah memberi hormat pada tuan dan nona mudanya ia segera keluar dari kamar Ino.

"Ayah, lebih baik ayah bersiap deh." saran Ino.

" Baiklah Liebe, kupastikan kau siap lima belas menit lagi." kata pria tua, dan Ino hanya mengangguk mengerti.

.

.

.

The Resistance belongs to Meine Nacht

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

"Kau tahu! Aku sungguh-sungguh!" teriak Sakura kesal, tanpa memperhatikan sekitarnya.

"Aku juga sungguh-sungguh," jawab Sasuke enteng. "Aku sudah bilang padamu, kalau kau mau datang ke si mata merah(4) kau tidak boleh makan seperti makanan orang bertopi (5)." bisik Sasuke pada Sakura.

"Tapi aku tidak suka makanan si mata merah!" bisik Sakura kesal. "Aku tidak suka kentang dan susis yang tidak berasa itu!" bisik Sakura.

"Mau tidak mau kamu harus menyukai dua hal itu," paksa Sasuke. "Ini bukan kota orang bertopi." kata Sasuke tenang.

"Tapi kenapa memesankan aku makanan itu-"

"Sakura jangan manja!" bentak Sasuke. "Setelah keluar dari sini kau boleh makan scone(6) sebanyak-banyaknya yang kamu mau!" bisik Sasuke kesal. "Sekarang menurutlah padaku!"

Mungkin sebetulnya yang membuat para agen Resistance tidak bertahan kuat di Prussia bukan karena banyak agen Gestapo bersebaran, tetapi mungkin karena makanan yang dimakan mereka.

"Pesanan datang," kata seorang pelayan kereta…

Eh-

Kereta? Ya, mereka sedang ada di kereta bukan kereta biasa, kereta khusus buatan Jerman dengan ukiran mediteran ala Austria, terdengar juga alunan musik ala negara pemusik itu, Austria.

Setelah sang pelayan itu pergi Sakura hanya menatap makanan itu dengan padangan nafsu dan tidak nafsu, yaitu nafsu membunuh dan membuang makanan itu jauh-jauh dan tidak nafsu memakan makanan ala Jerman itu.

"Makanlah, kentang mengandung karbohidrat yang baik untuk tubuhmu." kata Sasuke sambil menghancurkan kentang itu dengan serpihan yang lebih kecil dan memasukkannya kedalam mulutnya dengan lahapnya, seperti layaknya orang Jerman asli.

"Cara makanmu menjijikan." ejek Sakura sambil memakan kentang itu tanpa dihancurkan atau dipotong.

Dan dengan itu Sasuke langsung menginjak kakinya, dengan diselangi bunyi "Ouch." dari Sakura, Sasuke langsung menatapnya tajam. "Kau harus menghancurkan kentangnya terlebih dahulu! Itu cara orang Jerman." bisik Sasuke tajam pada Sakura.

"Tch," dengan ini lengkap sudah penderitaan Sakura, dengan tidak bisa makan scone kesukaannya ditambah lagi dengan ia harus memakan kentang dan susis yang menurutnya sangat menjijikan ini dan terlebih lagi dengan cara makannya, oh iya! Jangan lupakan karena disini dia harus berbicara bahasa Jerman (7)!

"Kau tahu Sakura, lama-lama kau juga akan terbiasa dengan ini semua, aku tahu ini sulit…aku juga mengeluh diawal tapi buktinya aku sekarang bisa melakukan semua ini. Hh, mungkin sekarang bila aku pulang ke rumah orang bertopi mungkin aku yang akan dikira orang sini." kata Sasuke sambil memakan kentang dan susisnya.

Sakura menatap Sasuke tak percaya, bisa juga si pantat ayam ini berbicara seperti itu. "Hey, pantat ayam, danke!" jawab Sakura.

"Bukan Hey, tetapi Hallo(8)!" perintah Sasuke.

"Ya, ya, maafkan aku, okay." jawab Sakura.

"Bukan okay, tetapi ja(9)!" perintah Sasuke lagi. "Kau masih harus banyak belajar." kata Sasuke.

"Terserahlah."

.

.

.

Tok tok…

"Ya?" jawab Ino saat mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Nona, saya Karin," ucap Karin sambil membuka pintu kamar nonanya.

Terlihatlah seorang gadis sebaya Sakura dengan pakaian maid, rambutnya merah maroon dan juga bertengger kacamata diwajahnya itu, membuatnya menjadi gadis yang cantik.

"Karin, aku butuh bantuanmu," kata Ino. "Tolong hias rambutku seindah mungkin." perintah Ino.

Karin hanya tersenyum lembut dan mendekati nona mudanya, "Nona duduk dulu, biar saya ambilkan alat dan barangnya dahulu." kata Karin lembut.

Ino hanya mengangguk mengerti dan setelah itu dia duduk di depan kaca riasnya. "Menurutmu hiasan apa yang cocok dengan rambutku dan gaunku ini?" tanya Ino kepada Karin.

"Hm…bagaimana dengan model natural tapi secerah warna gaun nona?" tanya Karin balik sambil mencari peralatan menatanya di laci rias Ino.

"Maksudmu?" tanya Ino tidak mengerti.

"Hm…susah menjelaskannya, saya akan mempraktekannya sekarang." jawab Karin.

"Ja! Karin kamu pernah jatuh cinta?" tanya Ino.

"Eh? Kenapatiba-tiba nona menanyakan hal tersebut?" tanya Karin balik. "Jangan-jangan nona jatuh cinta ya?" tanya Karin dengan semangat. "Wah-wah siapa lelaki yang beruntung itu ya?"

"Hem, ya begitulah… Bagaimana denganmu?" tanya Ino.

"Pernah, tetapi sayangnya terlarang," kata Karin, sebelum Ino bertanya apa maksudnya Karin menjawab lagi, "Terlarang karena dengan lelaki Inggris." kata Karin sambil menatap Ino sendu.

"Maaf, sudah membawamu mengingat masa lalumu." kata Ino.

"Eh? Tidak apa-apa nona, itu salah saya karena saya gampang terlarut dengan masa lalu saya." ucap Karin sungkan.

.

.

.

Tbc….

.

.

.

Author's note: Maap! Tambah jelek ya? Maap maap maap, aduh fic saya jelek semua huuhuu… . Ada yang berniat review fic saya ini?

(1)Verstehen: Mengerti dalam bahasa Jerman.

(2) Vater: Ayah dalam bahasa Jerman.

(3)Liebe: Sayang dalam bahasa Jerman.

(4)Si mata merah itu sebutan Prussia atau orang Prussia dalam Resistance.

(5)Kalo orang bertopi itu artinya orang Inggris atau Inggris sendiri, bahasa Resistance juga.

(6)Scone: Makanan orang Inggris.

(7)Kenapa harus bahasa Jerman, kenapa gak Prussia? Yah, karena bahasa mereka sama.

(8)Orang Jerman lebih terbiasa berkata Hallo daripada Hey, berbeda dengan orang Inggris yang lebih suka berkata Hey daripada Hallo.

(9)Sama seperti tadi, orang Jerman lebih suka berkata Ja (Tentu karena Ja bahasa Jermannya Ya) daripada Okay, bila kalian mengira Okay itu hanya bahasa Inggris kalian salah, Okay juga bahasa Jerman tetapi entah kenapa orang Jerman lebih suka berkata Ya daripada Okay.

Yah, segitu saja dulu, ada berniat review?

Sign, Meine Nacht (Out).