You are My Doll
Ichigo: Hosh, hosh…. Akhirnya update juga…
Rin: Ngapain lu ngos-ngosan?
Ichigo: Habis lari keliling lapangan… hosh… hosh… Baca disclaimer sana… hosh…
Rin: Iya iya… ehem!
Disclaimer : Vocaloid bukan milik saia, tapi fic ini saia yang punya.
Rate : T
Genre : Romance, Fantasy, Comedy/Humor
Caution : AU, typo, OOC, de el el
Chapter 2 Our Life
Len POV
Hai, disini Kagamine Len. Seorang anak lelaki yang berumur 15 tahun. Aku pindahan dari Amerika dan mulai hari ini bersekolah di Jepang, tepatnya di Voca High School. Dan aku juga tinggal di sebuah apartemen yang dijual dengan harga cuma-cuma oleh pemilik sebelumnya.
Pada awalnya aku mengira bahwa aku akan tinggal sendiri dengan tentram di apartemenku ini. Tapi ternyata tidak, sejak kejadian kemarin sekarang aku tinggal dengan seorang anak gadis yang mengaku bahwa dirinya adalah sebuah boneka. Dan karena aku kemarin membuat kontrak dengannya, hidupku sekarang bagaikan seorang pelayan.
"Leeennn! Kamu ngomong sama siapa sih! Cepetan kesiniii!" teriak seorang gadis dari dalam kamarnya.
Ya, itu dia gadis yang membuatku harus membuat kontrak dengannya. Namanya Rin. Walaupun badannya mungil dan wajahnya manis, tapi sifatnya… euh, bagaikan seorang ratu!
Hah sudahlah, dari pada aku berdiam diri disini. Bisa-bisa aku ditampar lagi olehnya.
Dengan segera aku masuk kedalam kamarnya yang terletak di dalam kamarku, lebih tepatnya disebelah kamarku. Disana aku melihat Rin sedang duduk di depan sebuah meja rias yang bisa dikatakan cukup mewah dan besar. Wajahnya sedang cemberut karena aku yang datang terlalu lama.
"Kau kemana saja sih, dasar Baka!" ucapnya padaku sambil menggembungkan kedua pipinya. Walaupun dia sedang marah, tapi wajahnya itu kelihatan sangat lucu.
"Iya iya Rin, ada apa kau memanggilku?" ucapku pelan padanya sambil mendekati dirinya.
"Tolong sisir rambutku" ucapnya sambil memberikan sebuah sisir berwarna kuning padaku. Disisi lain, dia bisa menjadi sangat sopan dan baik padaku, ya walaupun jarang.
"Kenapa tidak kau sisir sendiri saja?" tanyaku. Dia pun segera cemberut lagi.
"Len Baka! Mana bisa aku menyisir rambutku sendirian! Kumohon, sisir rambutku" ucapnya dengan nada memohon.
"Sigh, baiklah Rin. Diam ya" ucapku dia pun segera mengangguk dan melihat ke arah cermin, menunggu rambutnya untuk disisir.
Kalian tahu, rambut Rin itu sangat sangat panjang. Bahkan rambutnya sudah sudah tergerai hingga ke lantai. Mungkin karena ukuran tubuhnya yang mungil seperti boneka dan dia sedang dalam posisi duduk, makanya rambutnya sampai panjang begitu. Ya, walaupun rambutnya yang honeyblonde itu sangatlah indah, aku penasaran bagaimana bisa dia bertahan dengan rambutnya yang super panjang itu.
Dengan pelan ku sisir rambutnya yang panjang itu. Dapat kurasakan bahwa rambutnya itu sangatlah lembut dan harum, mirip bau jeruk.
Kini dia benar-benar seperti boneka yang duduk dengan manisnya menunggu rambutnya selesai disisir. Setelah beberapa saat, akhirnya aku selesai menyisir rambutnya. Fiuh, cukup menguras tenaga juga.
"Ah, Arigatou Len!" ucapnya sambil tersenyum manis padaku. Senyumannya sangatlah manis, sampai-sampai wajahku menjadi agak merah.
"Sa-sama-sama… Nee, Rin…"
"Hmmm?" tanyanya yang masih saja melihat pantulan dirinya di cermin.
"Apa kau tidak ribet dengan rambutmu yang panjang itu" tanyaku. Mendengar pertanyaanku Rin pun memangdang ke arahku.
"Mmm, tidak. Karena rambut ini adalah pemberian Otou-sama, maka aku harus menjaga rambut ini" ucapnya sambil tersenyum kecil. Aku pun hanya ber'oh'ria didepannya.
"Len" ucapnya sambil terus memandangi cermin.
"Hm?" tanyaku yang sedang memperhatikannya.
"Tolong lakukan sesuatu dengan poniku, aku tidak bisa melihat" ucapnya. Saat kulihat wajahnya, benar saja, poninya yang panjang sudah menutupi kedua matanya.
"Pfft… Kau benar-benar lucu…" ucapku sambil tertawa kecil.
PLAK!
"Ja-Jangan tertawa! Ini tidak lucu!" bentaknya padaku. Wajahnya kini memerah karena malu. Tapi kenapa dia menamparku lagi!
"Ouch, itu sakit! Geez, baik-baik, sini biar kupotong" ucapku sambil mengambil gunting dari laci.
"E-Ehh? Ja-Jangaaann!" tolaknya sambil menjauhkan dirinya dariku. Mukanya kini kelihatan sangat histeris. Apa dia takut?
"Kenapa? Kau takut" ucapku dengan nada yang agak mengejek padanya. Sementara dia sudah bersembunyi dibalik selimut.
"Bu-Bukan itu! Kau tidak boleh memotongnya!" ucapnya lagi.
"Eh? Kenapa?" tanyaku dengan lugunya.
"Rambut ini adalah pemberian Otou-sama! Aku tidak boleh memotongnya apapun yang terjadi!" ucapnya lagi. Segitunyakah dia patuh pada ayahnya?
"Sigh. Baiklah aku tidak akan memotong rambutmu, tapi kesini dulu! Mana bisa aku melakukannya kalau kau sembunyi dibalik selimut begitu! Dan bagus, kini rambutmu sudah berantakan lagi!"
.
.
.
"Dasar Len BAKA! Kenapa tidak begini dari tadi!"
"Bukannya kau yang memulai! Rin no BAKA!" balasku. "Nah, sudah selesai, jangan sembunyi dibalik selimut lagi. Aku capek menyisir rambutmu itu."
"Uwaahh~ Arigatou Len!" ucap Rin dengan senyuman yang tekembang di wajahnya. Kini matanya sudah tidak tertutup dengan poninya lagi. Karena aku sudah menjepit poninya dengan empat buah jepit kecil berwarna putih. Dia juga memasang pita putih besar dikepalanya, mungkin itu ciri khasnya.
Baiklah, sekarang dengan instannya dia merubah karakternya dari galak menjadi baik. Dasar gadis aneh.
"Ayo kesekolah Len!" ajaknya padaku yang entah sejak kapan sudah memakai seragam yang sama seperti seragam di sekolahku.
"Hei, darimana kau dapat seragam itu?" tanyaku keheranan. Sementara Rin sudah asyik melihat dirinya lagi di cermin dengan seragam yang dikenakannya
"Hm? Otou-san yang sudah mengaturnya. Dia bilang bahwa dia juga sudah mengatur biaya sekolahku, jadi kau tidak perlu repot." Ucapnya tanpa melihat ke arahku.
He? Jadi ayahnya sudah mengatur semuanya? Baik, ini benar-benar sangat aneh!
"Nee Len…"
"Hm? Apa lagi?" tanyaku, sambil melihat ke arah jam tanganku. Rupanya ada waktu 20 menit lagi sampai sekolah masuk.
"Mengenai kontrak kemarin…" dia mengatakannya tanpa menyelesaikan kata-katanya.
"Ya?"
"Dengan kontrak itu kau sekarang sudah menjadi medium ku. Jadi kekuatanku berasal dari dirimu." Balasnya.
"Maksudmu?" tanyaku tidak paham. Tentu saja aku tidak paham, aku melakukan kontrak tanpa ada penjelasan terlebih dahulu.
"Iiih… Dasar Baka! Maksudku, tanpa dirimu aku tidak bisa apa-apa. Kesimpulannya tenagamu adalah tenagaku. Paham?" tanyanya padaku sambil memandang ke arah wajahku. "Makanya aku harus melindungimu, karena jika kau tidak ada, aku juga tidak bisa bergerak"
"Oh…" balasku singkat. Walau masih kurang paham tapi aku sudah mengerti setengahnya, dan itu cukup bagiku.
"Kalau begitu ayo kesekolah, kau tidak mau terlambat di hari pertamamu sebagai murid pindahan kan? Aku juga begitu, jadi ayo!" ucapnya, dan dia pun menggenggam tanganku dengan tangan mungilnya. Spontan saja, itu membuatku sedikit blushing.
.
.
.
Normal POV
"Hajimemashite, Kagamine Len" ucap seorang lelaki berambut honeyblonde pada seluruh siswa dan siswi di kelas barunya.
"Terimakasih Kagamine-kun, silahkan nona yang disebelahnya" ucap seorang sensei berambut coklat dan berkaca mata yang dikenal sebagai Kiyoteru Hiyama-sensei pada gadis disebelah Len.
"Ah, Hajimemashite, Kagamine Rin desu" ucap gadis itu, atau Rin sembari memperkenalkan diri.
"Apa kalian bersaudara?" Tanya Kikoteru-sensei.
"Umm… aku itu sepupu jauhnya Kagamine-kun" jawab Rin. Len pun dibuat kaget olehnya.
"Oh… kalau begitu silahkan duduk di dua bangku kosong di pojok sana" ucap Kiyoteru-sensei sembari menunjuk dua bangku kosong yang kebetulan bersebelahan yang ada di pojok.
Dengan tanggap kedua murid baru itupun menghampiri bangku mereka. Dan pelajaran pun dimulai.
.
.
.
-skip, jam istirahat-
"Hei Rin, kenapa kau bilang pada sensei kalau kau itu sepupu jauhku?" bisik Len pada Rin yang sedang serius membaca buku.
"Hm? Oh itu, tentu saja supaya tidak ada yang curiga baka! Apa kau mau orang-orang tahu bahwa kita tidak punya hubungan sama sekali tapi tinggal di tempat yang sama." Balas Rin yang masih serius membaca bukunya.
Len yang mendengar jawaban dari Rin pun hanya bisa ngangguk-ngangguk kepala. 'Kenapa hidupku jadi kacau begini sih?' pikirnya dalam hati.
.
.
.
-skip lagi, pulang sekolah, di jalan menuju rumah-
"Hei Rin…" Tanya Len pada Rin yang sedang berjalan disampingnya. Rin pun menolehkan wajahnya.
"Hm?"
"Wajahmu pucat, apa kau baik-baik saja?" Tanya Len lagi. Memang, saat ini wajah Rin sangatlah pucat. Dan ini membuat Len menjadi sangat khawatir.
"Ah, itu… tidak apa-apa…" jawabnya pelan. Dan wajahnya merona sedikit.
"Kau yakin? Apa mau istirahat dulu? Di sana saja ya…" dan Len pun mengajak Rin kesebuah ladang bunga yang luas.
"Hwaa~ Cantiknya~" ucap Rin dengan terkagum-kagumnya. Matanya yang berwarna biru sapphire kini berbinar-binar melihat ladang bunga tersebut. Walaupun wajahnya masih pucat, tapi dia kelihatannya sangat senang.
Mereka pun duduk di sana, sambil memandangi ladang bunga itu dan juga langit yang sudah berubah menjadi kemerahan. Saat ini tidak ada siapa-siapa disana, jadi mereka cuman berdua.
"Hei Rin, wajahmu masih pucat… Apa kau yakin kau baik-baik saja?" Len pun menanyakannya untuk yang kedua kalinya pada Rin.
"Eh? Kalau kau memaksa, aku memang sedang kurang sehat" balasnya pelan, dia pun merebahkan kepalanya di bahu milik Len.
"Apa kau mau pulang? Aku bisa menggendongmu kalau kau mau…" ujar Len yang wajahnya kini sudah merona cukup merah.
"Tidak, membawaku pulang tidak bisa membuatku baikan… Hanya ada satu cara, tapi… umm… aku malu… dan kau juga mungkin tidak mau melakukannya…" balas Rin yang kini wajahnya semakin memerah. Len merasa dibuat bingung dengan perkataan Rin.
"Lalu? Apa itu?" Tanya Len pada Rin yang masih bersandar di bahunya. Walaupun wajah Rin merona merah, tapi tetap saja dia kelihatan seperti orang sakit.
Rin pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Len. Wajahnya bertambah merah, dan dia mengucapkan sesuatu dengan amat sangat pelan.
"Kau harus… ukh… me-me…" Rin tidak sampai menyelesaikan bicaranya karena dia malu, dan wajahnya terus bertambah merah. Len yang melihatnya pun hanya bisa memandangnya dengan tatapan bingung.
"Kau harus… me… menciumku! Cium aku!" ucap Rin dengan lantangnya. Kini kedua matanya tertutup dan wajahnya sekarang sangat merah karena menahan malu.
Mendengar kata 'cium' Len pun langsung kaget. Wajahnya juga sekarang jadi ikut-ikutan merah.
"A-Apa maksudmu dengan… ci-ci-cium!" ucapnya tergagap-gagap.
"Ka-Kan sudah kubilang, kau pasti tidak mau… makanya aku… uh…" ucap Rin dengan pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Bukannya tidak mau… tapi… tapi kenapa!" Tanya Len dengan wajah yang semakin merah.
"Len no Baka! Apa kau tidak ingat saat kau membangunkanku? Dan juga caramu membuat kontrak! Semuanya memakai ciuman… jadi aku… ukh…" belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya tubuhnya tumbang menuju arah Len, walaupun dia masih tersadar.
"R-Rin! Jangan pingsan dulu!" ucap Len dengan khawatirnya. Dia sudah dibuat khawatir oleh Rin untuk yang kedua kalinya. Wajah Rin semakin memucat dan dia kelihatan begitu lemah.
"Te-Tenang saja… aku baik-baik saja kok… Hehe…" ucap Rin pelan. Walaupun wajahnya pucat namun dia mencoba untuk tersenyum.
"Baik-baik saja apanya? Ukh… baiklah! Aku akan…. me… menciummu!" ucap Len dengan wajah yang sudah semerah tomat. Spontan saja, itu membuat Rin kaget.
"Ti-tidak apa-apa nih… Kau kan… em… baru mengenalku kemarin…" ucap Rin ragu-ragu, yang kepalanya kini sedang berada dalam pangkuan Len.
Rin POV
"Len no Baka! Apa kau tidak ingat saat kau membangunkanku? Dan juga caramu membuat kontrak! Semuanya memakai ciuman… jadi aku… ukh…" belum sempat menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba saja tubuhku menjadi sangat lemah. Aku pun terjatuh ke arah Len. Dan dia menangkapku.
"R-Rin! Jangan pingsan dulu!" ucap Len dengan khawatirnya. Sepertinya dia benar-benar sangat khawatir padaku.
"Te-Tenang saja… aku baik-baik saja kok… Hehe…" ucapku pelan. Aku berusaha untuk tersenyum, supaya Len tidak terlalu khawatir lagi.
"Baik-baik saja apanya? Ukh… baiklah! Aku akan…. me… menciummu!" ucap Len dengan wajah yang sudah semerah tomat. Dan perkataannya itu membuatku kaget.
Eh? Di-Dia mau menciumku?
"Ti-tidak apa-apa nih… Kau kan… em… baru mengenalku kemarin…" ucap ku ragu-ragu, akupun mengalihkan wajahku ke arah lain karena wajahku sudah merah karena malu.
"Asalkan itu bisa membuatmu sehat aku tidak keberatan!" ucapnya dengan lantang. "Kau masih bisa duduk kan?" tanyanya pelan. Dan aku mengangguk.
Sebenarnya aku tidak mau terlalu menyusahkan Len tapi… memang ini caranya.
Setelah aku duduk aku memandang wajah Len yang kini disinari oleh cahaya mentari senja. Matanya yang biru sapphire itu berkilau dan wajahnya kelihatan sangat keren dan tampan, walau wajahnya berwarna merah karena menahan malu.
Dia pun meletakkan kedua tangannya di kedua pipiku, lalu menggerakkan kepalaku pelan menuju wajahnya.
Le-Len… aku malu sekali!
Saking malunya aku hanya bisa menutup kedua mataku. Antara perasaan sakit dan deg-degan, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Hingga akhirnya sesuatu yang lembut dan hangat menyenyuh bibirku. Ya, itu bibirnya Len. Dia mencium bibirku dengan lembut. Bagiku ini adalah ciuman pertamaku sejak pertama kali aku diciptakan.
Perasaan hangat pun mulai menjalar keseluruh tubuhku. Perasaan apa ini? Perasaan ini begitu hangat dan membuat diriku menjadi ringan. Apakah ini perasaan yang diberitahukan oleh Otou-sama? Apakah ini yang disebut… suka?
Dengan perlahan, kubuka kedua mataku. Kulihat Len juga menutup kedua matanya, dan wajahnya terlihat begitu merah.
Ciuman itu kemudian dilepas oleh Len. Tentu saja agar kami dapat menghirup udara. Walaupun ciuman itu tidak terlalu mesra, tapi itu cukup untuk membuatku bertahan sampai besok.
Setelah ciuman itu, kami memandang satu sama lain. Dan wajah kami sama-sama merah. Kami terdiam hingga cukup lama hingga aku angkat bicara.
"Arigatou… Len" ucapku sambil tersenyum manis ke arah Len. Dan dia juga membalas dengan senyuman pula. Sepertinya dia lega karena aku sudah pulih. Pada akhirnya kami berdua sama-sama tertawa satu sama lain.
.
.
.
Normal POV
-sementara itu-
Di lain tempat, ada seseorang yang melihat apa yang dilakukan Rin dan Len. Lebih tepatnya dia mengintip apa yang sedang terjadi.
"He~ Ini akan menarik sekali~ Fufu~" ucap orang itu dengan sinisnya. Dia pun langsung pergi entah kemana.
.
.
.
-skip, di apartemen Len dan Rin-
"Leeeennn! Mana makanankuuu!" ucap seorang gadis dengan rambut honeyblonde panjang, sambil menghentak-hentakkan tangannya di meja makan.
"Tunggu sebentar kenapa sih! Nih, makan ini! Kau puas sekarang Rin?" bentak seorang pemuda yang bernama Len sambil meletakkan makan malam pada gadis yang bernama Rin itu dengan kasarnya.
PLAK!
"Jangan tidak sopan padaku! LEN NO BAKA!" bentak Rin. Lalu dengan santainya dilahap makanan itu. Tanpa melihat ekspresi dari Len yang tadi ditamparnya.
Len tentu saja ngambek karena ini sudah kesekian kalinya pipinya ditampar oleh Rin. Kini dia sudah berubah mengenai Rin. Kini dia menganggap Rin adalah orang paling menyebalkan yang ia kenal.
"Rin! Harusnya saat itu tidak kutolong kau! Dasar menyebalkaaaannn!" teriak Len dengan emosi yang sudah diujung tanduk. Sementara Rin hanya memakan makan malamnya seakan tidak terjadi apa-apa.
Dan beginilah awal dari kisah dua orang yang sangat berbeda yang mulai merasakan benih cinta. Namun, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan terus bersama?
~~To be Continued~~
Ichigo: Yosh! Chappie 2 selesai! Banzaii!
Rin: Len, maaf aku menamparmu! Ini semua karena si author! *meluk Len*
Len: Ti-Tidak apa-apa kok.. *blush*
Ichigo: Cieeee~~ Yang lagi blushing ni yeee~~
Len: Urusai! Rin, mana kunci roadroller ku? Akan kugiles author ini!
Rin: Ini! OK! Road and…
Len: Roll!
Ichigo: Hwaaa! Si kembar ngamuk! Readers, tolong reviewnya ya! Bagi yang sudah ngeriview makasih banyak! Saya mau kabur dulu! Jaa ne~~
Rin+Len: Yiiihaaa! Sampai jumpa! *evil aura*
.
.
KEEP OR DELETE?
.
REVIEW PLEASE!
.
.
