Title : Wolf (The Black Cat)

Author : Raichi KrisTaoKaiSoo Fujoshi

Rated : T dalam perjalanan menuju M :""V

Pairing : All Couple EXO *Only Official couple, not Crack pair*

Genre : Romance, mystery, Supranatural, Fantasy

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : Dunia tidak akan pernah tenang. 4 sekawan tidak akan pernah tenang bersama hidup barunya ketika tahu satu tubuh tidak akan pernah merelakannya. "Dia disebut The Black Cat. Wolf, berhati-hatilah, karena ia bahkan lebih kuat dari kalian. Lebih dari apa yang kalian bayangkan."

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai, YAOI. typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^

.

.

.

Ibarat hubungan jarak jauh sepasang insan manusia, Bumi dan Matahari patut disamakan. Meskipun jauh, bumi selalu mendapatkan kehangatan dan energi dari cahaya matahari.

Mentari selalu bersinar terang setiap pagi, memberikan kehangatan dan energi bagi siapapun. Tubuh berkulit kuning mengarah tan nampak tengah menyiapkan sarapan untuk 2 porsi.

Tao nampak tersenyum kecil ketika melihat foto yang menempel pada kulkasnya. Foto Kris bersama dirinya.

Semenjak perang besar dan kepulangan mereka ke Korea, para Wolf menjadi manusia meski tak seutuhnya. Berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baru dan dengan idenditas baru.

Kris berusaha keras menyesuaikannya. Ia bahkan tidak ragu untuk bekerja. Sekarang, Kris bekerja sebagai seorang model pakaian formal pria. Wajah Kris yang tampan selalu menghiasi banyak majalah pria, Begitu pula Sehun. Kalau yang didengar dengan Tao, Chanyeol menjadi seorang rapper dan penyiar radio yang sangat terkenal. Ia juga bahkan menjadi seorang Host dalam sebuah acara.

Lain pula dengan Kai, Kai menjadi seorang gamer professional dan sesekali menjadi model untuk majalah-majalah pria. Beberapa kali ia juga berhasil menjuarai kompetisi game bersama dengan teman-temannya.

Kalau Suho, setahu Tao ia menjadi seorang penulis dan seorang pelukis. Karyanya sudah banyak dikenal. Tao sekarang bekerja sebagai seorang Dancer. Luhan juga sama seperti Sehun, seorang model. Kalau Kyungsoo, Tao dengar ia menjadi seorang penyanyi setelah ikut sebuah audisi. Baekhyun juga sama seperti Kyungsoo.

Sepasang lengan kokoh memeluk pinggang Tao dari belakang, meletakkan dagunya yang terbentuk sempurna dibahu Tao. Tao tidak usah berteriak karena tahu siapa yang setiap pagi akan memberikannya pelukan dipinggangnya.

"Kau semakin mengurus, peach..apa karena pekerjaanmu?" Tao diam sejenak. Ya, Kris benar. Pekerjaannya sebagai Dancer seorang penyanyi terkenal membuatnya banyak melakukan gerakan tarian. Apalagi kalau sang artis akan comeback, Tao akan sibuk sekali. Terakhir, ia kembali turun 2 kg dalam waktu 4 hari ini.

"Hm…kau tahu kan, kalau salah satu artis tempatku bekerja akan comeback, otomatis aku semakin banyak bergerak." Tao menjawil hidung Kris. Kris mengecup pipi Tao.

"Tapi kalau begitu ceritanya, aku akan melarangmu bekerja. Gajiku cukup untuk kita hidup, peach." Kris melepas pelukannya dan duduk disalah satu kursi. Tao duduk dihadapan Kris dan tersenyum.

"Gege, aku paham kau khawatir…tapi aku mohon jangan memaksaku untuk berhenti dari pekerjaanku. Aku sangat menikmatinya, dan lagi…aku tidak mau berdiam diri selama aku masih bisa bergerak bebas." Ujar Tao Kris tersenyum kecil. Kris mengambil tangan Tao dan mencium jemari Tao.

"Hm, baiklah. Tapi berjanjilah kalau, ketika kau sakit kau harus istirahat total dan tidak boleh banyak beraktivitas." Tao tersenyum mendengar ucapan Kris. Ia mengangguk. Kris menjawil lembut pipi Tao yang mulai lebih tirus dari sebelumnya.

.

.

.

Sehun nampak tengah menjalani sebuah pemotretan untuk sebuah majalah. Wajahnya yang tenang mengarah serius bahkan emotionless menjadi daya pikat tersendiri baginya. Beberapa kali ia diharuskan menggunakan softlense merah ataupun abu-abu. Setiap makeup artist yang ditemuinya selalu menyuruhnya menggunakan softlense, meski terkadang ia juga selalu tampil seolah tanpa makeup.

Alasannya simple, wajahnya sudah tampan bahkan tanpa makeup berlebih. Kulitnya juga sudah bagus tanpa riasan sana sini.

Kali ini pun, Sehun menggunakan softlense merah dengan gaya pakaian casual seperti biasanya. Wajahnya nampak menciptakan berbagai macam ekspresi. Kamera juga sangat menyukainya.

Musik yang berdentum selalu menjadi penyemangat bagi Sehun dalam berpose. Dia hanya sendirian tanpa ditemani Luhan kali ini. Sebenanya Sehun berniat untuk bolos bekerja tadinya, namun manejer sudah menelfon bahkan menjemputnya, ia tidak bisa kabur.

Sehun menghela nafas ketika sang fotografer menyuruhnya istirahat. Sehun tersenyum dan berjalan mendekati tempat istirahatnya dan melihat hasil foto dirinya sendiri. Senyum puas terukir diwajah tampan milik Sehun. Puas sekali melihat hasil kerjanya.

Sepasang mata berwarna caramel menatap Sehun dikejauhan. Matanya yang dibingkai dengan kacamata bening dan bingkai hitam. Matanya menatap tajam dan tenang namun tak lama.

Sehun menoleh. Ada semacam perasaan aneh pada dirinya. Stylist terus merapihkan makeup yang mulai disapu dengan keringat dari Sehun. Sehun mendekati salah satu bangku. Beberapa staf masih sibuk menyiapkan peralatan.

Sehun menghela nafas dan memejamkan matanya. Ini tidak benar. Ada yang aneh.

.

.

.

Baekhyun nampak tengah berbelanja dengan Chanyeol. Keduanya tidak ragu untuk saling bergenggaman tangan dan sesekali tertawa bersama. Beberapa orang memiliki pandangan masing-masing.

Chanyeol menatap beberapa dari yang menatap tidak suka, adapula yang tidak peduli.

"Some people are so anti gay." Chanyeol berujar seolah tanpa direncanakan. Baekhyun menoleh dan tersenyum getir. Chanyeol melirik dan mengecup apel wajah Baekhyun. "Jangan pedulikan, aku ada disampingmu." Ujar Chanyeol dengan nada lembutnya dan kembali keduanya berjalan dengan bergandengan tangan.

Tautan keduanya tidak pernah sekalipun mengendur.

Chanyeol nampak meneliti beberapa pertokoan yang menjual pakaian-pakaian lelaki. Mata Chanyeol meneliti salah satu yang dipajang di etalase toko. Namun matanya kini menatap suatu objek. Suatu pantulan yang menarik perhatiannya. Mata berwarna violet, bibir semerah anggur dan rambut merah darah. Senyum misterius terukir diwajah anggun nan misteriusnya. Mata Chanyeol terbelak dan berbalik. Ia menatap kerumunan manusia yang sibuk berlalu lalang. Tidak ada.

"Ada apa Yeol? Ada yang salah?" tanya Baekhyun. Chanyeol tidak bisa menjawab. Debaran dadanya bergemuruh kencang. Sebuah aliran kuat melingkar berbentuk spiral didalam tubuhnya. Matanya seolah dialiri tenaga. Chanyeol menutup matanya.

"Sial…" desisnya. Dia tidak mungkin salah. Gadis yang ia lihat tadi tidak mungkin hanya ilusi dari pikirannya. Ilusi hanya terjadi bila ia selalu mengingat kejadian masa lalu, tapi tidak. Ia sama sekali tidak (mau) mengingat dan tidak mengungkitnya kembali. Tidak mungkin ia berhalusinasi melihat Angelica.

"Yeol, kau kenapa? Kau tidak enak badan?" Baekhyun bertanya khawatir. Chanyeol membuka kelopak matanya. sekilas, Baekhyun dapat melihat matanya mengkilat berwarna abu-abu. Baekhyun terdiam.

"Kita harus kembali, aku harus mengabari Kris dan yang lainnya." Chanyeol berujar tenang. Ia langsung berlari sambil menggandeng Baekhyun. Keduanya berlari menuju sebuah taksi yang terhenti.

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomer ponsel. Gawat, aliran tenaga yang selama ini disembunyikan dan ditutup oleh sang Bijak terasa seolah akan terbuka kembali.

"Kris, kita harus berkumpul!" ujar Chanyeol ditelefon.

.

.

Kris sudah dikabari oleh Chanyeol lewat telefon. Kini, ada Kris, Chanyeol, Kai dan Sehun. Suho tidak ada karena posisinya sangat jauh. Para 'manusia' itu sudah berkumpul di kediaman Kris dan Tao. Mata Kris menampakkan kalau ia sedang menahan perasaan gusarnya. Sial sekali.

"Bagaimana ini, Kris?" Chanyeol membuka suara.

Mereka sudah berdiam 5 menit sejak Chanyeol menceritakan pengalamannya. Kris menutup matanya.

Sebenarnya, sejak Chanyeol menceritakan semuanya, ada semacam kepulan tenaga yang mengepul dan mengaliri dirinya. Mereka semua belum menjadi manusia sempurna. Sedikit langkah kecil bisa membuat mereka kembali. Dan sejujurnya sekarang, mereka kembali merasakan kekuatan Wolf yang mereka simpan. Kris yakin, Suho sekarang sedang merasakannya disana.

"Sejujurnya…" Sehun membuka suara. Semua menatap pada saudara mereka yang termuda itu. "Luhan pernah dikirimi pesan oleh Ashley dari Roma. Saat itu dini hari…ketika akan kembali tidur, aku juga merasakan adanya hal aneh, ketika aku membuka jendela tidak ada. Dan saat itu, aku bisa merasakan mataku berubah menjadi merah dan kembali menjadi warna emas lalu menjadi hitam kembali. Lalu, saat pemotretan tadi…aku juga merasakan adanya seseorang yang sedang menatapiku…" Sehun berwajah keruh.

BRAK…!

"Gawat!" Luhan berteriak, wajahnya penuh kepanikan. Sehun berlari mendekati Luhan.

"Ada apa, Lu?" tanya Sehun. Luhan menatap mata Sehun dalam. Wajahnya penuh kepanikan, ponsel berada ditangannya.

"Ashley….dia…terkena goresan pisau belati pada pinggang dan kedua tangannya ketika akan dirampok…aku harus ke Roma! Aku tidak bisa membiarkan adik sepupuku menjadi korban pembunuhan selanjutnya disana!" Sehun mengangguk dan langsung memeluk tubuh mungil Luhan.

"Baiklah, kita usahakan besok akan ke Roma. Berhentilah cemas, doakan yang terbaik untuknya." Sehun berusaha menenangkan Luhan. Sehun mengerti perasaan Luhan sekarang. Ashley adalah adik sepupu yang sudah dianggap adik sendiri oleh Luhan.

"Ada yang aneh." Kali ini, Kris bersuara. Matanya menatap tajam langit-langit, seolah terhanyut pada pikirannya sendiri.

"Apa maksudmu, Kris?" tanya Kai dengan wajah heran.

"Kalian ingat berita yang sedang hangat di berita online ataupun Koran dan televisi? Disana memberitakan kematian para petugas keamanan…" Kris berhenti sejenak. "Lalu Sehun merasakan adanya keanehan, dan Chanyeol yang melihat sosok Angelica…ditambah lagi sekarang, Ashley mendapatkan hal buruk…ini terlalu terorganisir. Aku yakin…ini ada sedikit permainannya dengan Angelica. Kalian ingat dia bukan? Gadis itu gila, dia bisa lakukan apapun untuk dendamnya." Jelas Kris. Chanyeol menatap.

"Tapi, Kris..bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia mau? Suho sudah menceritakan pada kita kalau Angelica sudah mendapatkan guci itu-"

"Tapi apa kau lupa guci Aquarius tetap akan kembali pada Aquarius?" pertanyaan Kris berhasil membungkam Chanyeol. Kris berdiri. "Kalian lupa kita ini apa dulunya? Kita hanyalah makhluk Neraka dulunya! Sekarang meski merasakan menjadi manusia, kita tidak seutuhnya menjadi manusia. Guci itu pasti sudah kembali pada Aquarius dan misi Angelica tidak bisa dicapainya, aku yakin dia sekarang sedang mengatur rencana untuk membalaskan dendamnya pada kita! Apa kalian tidak bisa merasakannya? Kecelakaan yang didapati Ashley sekarang terlalu kebetulan!" Kris memejamkan matanya.

Hening terasa menyesakkan. Mata Kris masih terpejam, seolah fokus.

"Kita akan…" mata Kris terbuka. Menampakkan iris yang selama ini menghilang, menampakkan iris yang selama ini seolah terbuang didalam ujung tubuh Kris. "Menyelesaikan Angelica."

Iris ungu dan merah Kris yang selama ini hilang kembali. Bersinar dan diikuti oleh mata para saudaranya yang berubah menjadi mata mereka dulunya. Berkilat terang. Matanya menatap tajam saudara-saudaranya. Semuanya terdiam, tidak mau berkomentar apapun ketika kekuatan mereka bangkit.

.

.

.

Mata Ashley terbuka. Tubuhnya masih terasa sangat sakit. Ia ada dirumah sakit sekarang. Dokter menyuruhnya untuk menginap. Ia melirik jam dan ponselnya. Tangan Ashley berusaha menggapai ponselnya. Ia tersenyum. Luhan mengirim e-mail kalau mereka semua akan kembali menemani Ashley. Mereka bahkan akan pergi 15 menit lagi karena pesawat sedikit terlambat. Setelah mengirim pesan balasan, Ashley menatap sekitarnya. Kerongkongannya sedikit kering.

Ia menggapai gelas terdekatnya dan meminum air yang ada disana. Hanya sedikit, tapi setidaknya sudah membasahi kerongkongannya yang kering. Meskipun goresan pada pinggang dan tangannya sangat kecil, namun trauma dan benturan punggungnya pada dinding mengharuskannya untuk beristirahat di rumah sakit. Dokter bernama…ah entahlah siapa itu.

Ashley menyalakan televisi. Matanya kosong meskipun menatap televisi. Beberapa pikiran menghilang lalu muncul secara tiba-tiba. Pintu itu diketuk dan masuklah sosok tubuh tegap tinggi dengan balutan jas dokter.

Wajahnya lembut namun menatap Ashley heran.

"Permisi..?" Ashley tersadar dan menatap dokter itu. Dokter itu tersenyum lembut. Entah bagaimana, Ashley berdebar.

"A..aa…ya?" tanya Ashley. Dokter itu mendekati Ashley dan duduk disamping Ashley.

"Kenapa tidak tidur, Nona Ashley? Ini sudah sangat larut, bahkan sekarang dini hari, meskipun luka yang kau dapatkan tidak parah, tetapi kau tetap butuh istirahat." Dokter itu berujar lembut. Ashley sedikit kikuk.

"Aku…aku hanya terbangun dokter…kalau mengantuk, aku akan tidur lagi.." ujarnya. Dokter itu tersenyum.

"Kau sungguh gadis yang luar biasa, Nona Ashley. Kau seolah tidak mengalami traumatik…apa kau mau mengobrol? Kebetulan sekali aku aku juga tidak mengantuk. Bagaimana kalau kita mengobrol sedikit kalau tidak keberatan?" Ashley mengangguk. "Bisa aku tahu mengapa kau mendapatkan kejadian seperti ini? Apa kau akan dirampok?" tanya dokter itu. Ashley berusaha mengingat.

"Aku…aku berusaha…" Ashley terdiam. aneh, mengapa ia bisa lupa? Yang ia ingat ia didekati oleh tubuh dengan jaket dan pakaian serba hitam. Wajah yang ditutupi topeng hitam…dan mengancamnya.. "Aku tidak ingat…" desis Ashley. Dokter itu terdiam.

"Maaf kalau aku sudah menanyakan pertanyaan itu, Nona Ashley. Sebaiknya anda tidur. Pagi nanti jam 9, kau akan keluar rumah sakit. Kau harus tidur." Ujarnya. Dokter tampan itu tersenyum dan berbalik meninggalkan Ashley.

Ashley masih terus terdiam. Ia berusaha mengingat segala detil otaknya mengapa ia bisa dilukai?

"Ada yang…salah…" desisnya penuh keyakinan ditengah rasa pusing kepalanya yang datang tiba-tiba. Ia menatap pintu yang tertutup. Pikirannya memutar.

.

.

.

TBC

.

.

Wkwkwkw, maaf sangat ngaret untuk chap 2 WOLF The Black Cat.

Ini karena Rai sangat disibukkan dengan ospek, bikin tugas ospek yangsangatsangatmenyebalkanbanyaknya hingga bikin fict Raichi terbengkalai.

Tinggal jauh dari orangtua bikin lupa segalanya :"V

Well, please review this fanfict.

Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

Sign,

Raichi