Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warnings: Alternative Universe, Sexual Content, NTR, etc.
Don't Like Don't Read
...
Chapter 2: Hanya Milikku
.
.
Semilir angin menerbangkan anak rambut Sasuke yang sedari tadi diam di atap kampus, tangannya menggenggam sebuah kamera seraya mencoba mengarahkan kamera itu kepada sesuatu yang sedari tadi menjadi objek Sasuke. Bibirnya sedikit tersenyum ketika Sasuke mendapatkan gambar objek dalam foto tersebut sedang tersenyum.
Puk
Sebuah tepukan dibahunya membuat Sasuke berbalik, melihat siapa orang yang telah mengganggu dari kegiatan menyenangkannya. Ternyata Naruto, sahabat Sasuke dari kecil. Dengan terpaksa, Sasuke memasukkan kameranya segera sebelum Naruto mengambil dan melihat isi kamera itu.
"Hehe.. Kau sedang apa sih Teme?" Naruto sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan Sasuke di atap kampus dengan sebuah kamera. Bukannya Sasuke tidak suka memotret, eh? Merasa penasaran, Naruto mencoba meminjam kamera itu, namun Sasuke tidak memberikannya dan berjalan meninggalkan Naruto.
"Hn."
"Pelit!" Naruto mengerucutkan bibir, ia berjalan menyusul Sasuke. Namun langkahnya terhenti dan segera berbalik kembali ke tempat semula. "Kenapa tidak kulihat sendiri saja!" lanjut Naruto seraya memukul kepalanya sendiri.
Setelah berada di tempat semula, Naruto segera mendekati pembatas lalu menjulurkan kepalanya ke bawah melihat sesuatu yang membuat Sasuke tertarik untuk memotretnya mengingat Sasuke tidak suka memotret karena menurut Sasuke, memotret itu hal yang tidak penting sekaligus tidak menarik. Hanya kegiatan yang membosankan dan membuang-buang waktu.
Diedarkannya pandangannya kesana-kemari mencari sesuatu yang menjadi objek memotret Sasuke. Namun Naruto hanya melihat pohon dan sebuah bangku saja, selebihnya tak ada yang menarik.
"Tidak ada yang menarik, dasar Sasuke aneh." Naruto mengangkat bahu dan segera berbalik. Namun sesaat sebelum Naruto berbalik, matanya menangkap siluet merah muda di dekat semak-semak membuat Naruto mengurungkan niatnya kembali untuk meninggalkan tempat itu. Alis Naruto sedikit terangkat melihat seseorang yang baru saja keluar di balik semak-semak membawa seekor kelinci berwarna hitam.
"Eh... bukannya itu Sakura-chan?" Naruto semakin memicingkan mata mencoba memperjelas orang yang kini tengah duduk di bangku seraya mengusap kelinci yang berada di pangkuannya.
Gadis itu berambut merah muda, dan yang mempunyai rambut merah muda di Universitas Konoha hanya Haruno Sakura, temannya sekaligus orang yang Naruto sukai dari kecil.
"Tidak salah lagi, itu Sakura-chan." Naruto mengerutkan keningnya terlihat berpikir dengan apa yang dilakukan Sasuke dengan kameranya dengan objek seorang Haruno Sakura, karena tidak mungkin Sasuke memotret pohon, tiba-tiba mata Naruto membelalak.
"Apa mungkin Sasuke… Ah tidak! Tidak! Apa yang aku pikirkan, Sakura-chan 'kan istri Kak Itachi. Lagipula belum tentu Sasuke memotret Sakura-chan!" Naruto menggaruk kepalanya frustasi dan segera meninggalkan atap kampus menyusul Sasuke yang terlebih dulu meninggalkan tempat itu.
"Hei Sasuke tunggu!" Naruto mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke. Napasnya terengah karena mengejar Sasuke yang meninggalkannya di atap kampus sendirian.
"Tadi aku melihat Sakura-chan di belakang kampus. Kau di atap sedang tidak mengambil gambar Sakura-chan 'kan?" ucapan Naruto membuat Sasuke menghentikan langkahnya sesaat membuat Naruto menaikkan alisnya seolah bertanya 'kenapa berhenti?'
"Hn, tentu saja tidak." Sasuke melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti disusul dengan Naruto yang kini tengah menggaruk kepalanya bingung dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba berhenti berjalan ketika Naruto bertanya seperti itu.
"Hei Sasuke, aku sungguh tak menyangka jika kak Itachi yang akan menjadi suami Sakura-chan. Padahal aku selalu berharap bahwa aku lah yang menjadi suami Sakura-chan. Kau tahu? Aku ingin Sakura-chan yang melahirkan anak-anakku." Naruto tertawa membayangkan Sakura menjadi istrinya dan hidup bahagia dengan Naruto bersama anak-anaknya.
Tiba-tiba ucapan Sasuke menyadarkan Naruto dari hayalannya bersama Sakura. "Kau lupa ya hari ini kau harus menemui nona Tsunade."
Naruto menepuk jidatnya, ia lupa kalau hari ini Naruto akan menjemput orang tuanya yang baru pulang dari Kirigakure bersama Tsunade, neneknya yang juga seorang dosen senior kedokteran di Universitas Konoha.
"Baiklah Sasuke, aku duluan ya." Naruto segera berlari meninggalkan Sasuke seraya melambaikan tangan kepada Sasuke yang hanya dibalas dengan sebuah seringai.
Melihat Naruto yang sudah menghilang. Sasuke berbalik lalu melanjutkan kembali langkahnya. Tujuannya sekarang adalah kelas. Dia lebih suka diam di kelas menunggu dosen datang dari pada harus berada di luaran dengan tatapan fans gilanya.
Sasuke mendudukkan dirinya senyaman mungkin di bangku kelas lalu diedarkannya pandanganya keluar jendela melihat suasana Universitas Konoha yang selalu terlihat ramai. Sasuke mengalihkan penglihatannya saat mendengar pintu kelas terbuka, menampilkan sesosok gadis berambut merah muda yang kini tengah tersenyum kepada Sasuke membuat jantung Sasuke berdetak lebih kencang.
Gadis itu—Sakura menghampiri Sasuke, tak lupa sebuah senyuman lembut terbingkai diwajahnya membuat Sasuke gugup. Namun tentu saja Sasuke bisa menyembunyikan kegugupannya mengingat ego Uchiha yang besar. Sasuke melihat Sakura menarik sebuah kursi dan segera duduk di depan Sasuke.
Ya, Sasuke dan Sakura memang satu jurusan, kedokteran. Dan Sasuke tidak tahu kenapa dia bisa mengambil jurusan yang sama dengan Sakura mengingat semua keturunan Uchiha tak satu pun yang menjadi dokter.
Sasuke berpikir, meskipun dia berkuliah dijurusan lain pun, pada akhirnya juga dia akan tetap melanjutkan perusahaan keluarganya. Sasuke melirik Sakura, ya, Sakura lah yang menjadi alasan Sasuke memasuki kedokteran.
Jujur, sejak bersekolah di Konoha Gakuen, Sasuke sudah menaruh hati pada gadis ini. Namun Sasuke tak berani mengungkapkannya. Yang Sasuke lakukan hanya memperhatikan Sakura dari jauh sampai akhirnya dia mendengar Sakura akan menikah dengan Itachi. Dan itu... membuatnya sedikit menyesal, dia telat.
"Kemana Naruto?" tanya Sakura sedikit kebingungan dengan tidak hadirnya Naruto. Biasanya 'kan Naruto bersama Sasuke.
"Pergi." jawabnya acuh. Sasuke melirik kembali gadis di depannya. Alisnya sedikit terangkat melihat tingkah Sakura yang tersenyum sendiri dengan ponselnya.
Tiba-tiba gadis itu beranjak pergi meninggalkan Sasuke dengan langkah terburu-buru saat mendengar ponselnya berbunyi menandakan bahwa ada sebuah panggilan masuk.
Dan sesaat sebelum Sakura benar-benar keluar, Sasuke mendengar sebuah nama yang diucapkan Sakura—Itachi, membuat Sasuke mengepalkan tangan dan memukulkannya ke meja malang yang berada di depannya hingga retak.
.
...
.
Malam pun tiba. Namun sama seperti hari kemarin, Sasuke sulit memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi Sakura dan Sakura. Diliriknya jam yang baru menunjukkan angka sembilan. Masih sore, pikirnya dalam hati, mungkin sedikit jalan-jalan akan menenangkan pikirannya. Lantas Sasuke turun di atas pembaringan dan segera menyambar jaket di dekatnya, memakainya.
Namun ketika Sasuke berada di ruang tengah, Sasuke mendengar suara seseorang dari arah dapur yang sepertinya sedang mandi. Merasa penasaran, Sasuke segera menghampiri suara itu dengan langkah pelan. Dugaannya benar, seseorang tengah mandi dengan sedikit bersenandung ria dan Sasuke tahu, itu adalah suara Sakura—istri Itachi Uchiha, kakaknya.
Sasuke terpaku melihat tubuh gadis itu dari luar mengingat tempat kamar mandi yang berada di dapur sedikit transparan membuat Sasuke bisa melihat apa yang dilakukan gadis itu di dalam. Tentu saja hanya terlihat bayangan hitamnya!
Tiba-tiba Sasuke membelalakkan mata melihat Sakura keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan selembar handuk tipis. Segera Sasuke bersembunyi di balik tembok mencoba menyembunyikan dirinya dari Sakura. Sasuke tidak ingin Sakura melihatnya di sini dan mengecapnya sebagai seorang pengintip!
Saat ini wajah Sasuke memerah setelah melihat tubuh seksi Sakura yang hanya dibalut handuk tipis. Gadis itu belum juga beranjak dari sana membuat Sasuke risih melihat penampilan Sakura yang membuatnya terangsang.
"Hah... Gara-gara kamar mandi kami rusak aku jadi mandi di sini. Untung saja, Sasuke sudah tidur."
Sasuke sedikit mengepalkan tanganya. Ia tidak suka mendengar kalimat 'kami' yang diucapkan Sakura yang berarti Sakura dan Itachi. Setelah Sakura pergi, segera Sasuke keluar dari persembunyiannya dan pergi dari sana menuju kamar, ia mengurungkan niatnya untuk berjalan-jalan dan memilih untuk tidur.
Setelah sampai, Sasuke membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memaksa memejamkan matanya. Namun, Sasuke semakin sulit untuk tidur, pikirannya semakin gila akan Sakura. Terlebih lagi setelah Sasuke melihat tubuh Sakura meskipun hanya bayangan hitam saja, itu sudah membuat Sasuke berpikiran tidak jernih.
Sama seperti sekarang. Wajah Sasuke memerah ketika Sasuke membayangkan sedang mencumbu tubuh Sakura. Astaga... ini benar-benar sudah gila! Pikirnya. Tapi meskipun begitu, Sasuke sangat senang membayangkannya hingga terbawa ke dalam mimpi bahwa Sasuke sedang bercumbu dengan Sakura di kamar mandi. Oh shit!
.
...
.
Pagi telah kembali datang, jam dinding telah menunjukkan pukul 8 pagi. Itachi dan Sakura tengah duduk manis di depan meja makan di mana telah tersedia makanan. Namun Sakura terlihat bingung melihat suaminya yang sesekali menengok ke arah kamar Sasuke yang masih saja tidak terbuka.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Itachi menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Tidak, hanya saja Sasuke belum keluar. Bisa kau bangunkan dia?" ujarnya. Sakura menganggukkan kepala. Mengangkat pantatnya berdiri dari tempat duduknya kemudian dia melangkah ke arah kamar Sasuke.
Sesampainya di depan kamar Sasuke, Sakura menghentikan langkahnya. Matanya memandang ke arah pintu kamar Sasuke yang masih tertutup. Tangannya akhirnya mengetuk pintu kamar Sasuke dengan pelan.
Tok Tok Tok
"Sasuke, ini sudah siang. Bangunlah, sarapan dulu. Itachi sudah menunggu." seru Sakura dari luar menyaksikan pintu kamar Sasuke yang tak kunjung terbuka.
"Sasuke bangunlah." seperti apa yang dilakukannya semula, kembali tidak ada jawaban dari dalam kamar Sasuke. Dicobanya membuka pintu, tangannya dipegangkan ke handle pintu, kemudian didorongnya dan segera Sakura masuk ke dalam.
Suasana di dalam kamar Sasuke yang gelap sangat sulit untuk Sakura melihat keadaan di dalam kamar Sasuke. Tangannya mencari-cari sakral untuk menyalakan lampu yang ada di kamar Sasuke. Kemudian setelah dapat, dinyalakan lampu di ruang kamar Sasuke.
Seketika seulas senyum tipis terbingkai di wajah cantiknya saat melihat Sasuke masih bergelut dengan selimut tebal. Sakura mendekati Sasuke, memperhatikan wajah sang Uchiha bungsu yang masih terlelap.
"Ternyata meskipun wajahmu sangat dingin, tapi wajahmu itu lucu seperti anak kecil kalau sedang tidur." Sakura terkikik geli melihat wajah Sasuke. Ia lalu mendudukkan diri di samping kepala Sasuke. Menyibakkan poni sang Uchiha yang menutupi wajah tampannya dan tersenyum lembut.
"Kau sudah ku anggap seperti adik, Sasuke." katanya seraya mengecup kening Sasuke lembut. Kemudian ia menghela napas seraya bangkit dan berkata, "Bangunlah... kau harus sara-EH?" seseorang menarik lengan Sakura yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke.
CUP!
Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Sakura membuatnya terkejut. Semua bagaikan terbungkam, tubuh Sakura terasa kaku untuk digerakkan. Ia masih shock dan hanya terdiam membiarkan bibir Sasuke melumat bibirnya hingga sebuah gigitan kecil dibibir Sakura menyadarkannya. Segera Sakura mendorong tubuh Sasuke dan menatapnya tajam.
"Kau!" desisnya. Sasuke balas menatapnya tajam. Mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan kaki terjulur ke bawah.
"Jangan pernah menganggapku sebagai adikmu," ucapnya datar. Kemudian ia menyeringai. "...kau hanya milikku, Sakura."
Sakura membelalakkan mata mendengar ucapan terakhir Sasuke. Ia melangkahkan kakinya mundur. Namun Sasuke kembali menarik tubuh Sakura hingga berdekatan dan mencengkram lengan gadis itu membuat Sakura meringis kesakitan.
"Dan jangan pernah menganggapku seperti anak kecil!" kata Sasuke tajam. Melepaskan cengkramannya pada lengan Sakura dan berpindah ke kancing kemeja Sakura, mencoba membuka kemejanya. Sakura sangat terkejut dengan tindakkan pemuda di depannya yang kini telah berhasil membuka dua kancing atas kemejanya.
"Apa yang-UH!" Sakura kembali mendorong tubuh Sasuke dan berlari meninggalkan Sasuke yang kini tengah menatap kepergiannya.
Sakura menyandarkan tubuhnya di dinding luar kamar Sasuke. Matanya berkaca-kaca mencoba menahan linangan air mata. Tangan mungilnya sibuk mengancingkan kembali kemejanya yang terbuka. Setelah selesai lekas gadis itu menghampiri sang suami yang setia menunggunya di ruang makan.
Dengan sebisa mungkin Sakura tersenyum lembut kepada sang suami yang tengah tersenyum padanya. Kemudian Sakura mendudukkan diri di samping Itachi. Ia mengereyitkan dahinya mendapati seluruh masakannya belum terjamah sedikit pun.
"Kau belum memakannya. Kau tidak suka?" tanyanya keheranan. Itachi mendekatkan wajahnya dengan Sakura lalu mengecup pelan kening sang istri.
"Tentu saja bukan. Aku menunggumu dan Sasuke." katanya tulus.
Kembali Sakura tersenyum. Namun senyum itu berubah gelisah ketika melihat Sasuke datang dan duduk tepat di depannya. Wajahnya yang datar menyiratkan seolah tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Sakura, seakan pemuda itu telah melupakannya dan Sakura, ia juga berusaha untuk tidak peduli.
Seperti biasa Sakura menyendok nasi untuk Itachi, setelah itu baru lah dia mengisi piringnya sendiri. Akan tetapi seketika gairah nafsu makannya hilang. Pikirannya meski telah diusahakan untuk tenang, tetap saja tidak mau tenang. Pikirannya senantiasa tertuju pada Sasuke, seakan tidak percaya bahwa pemuda itu menciumnya.
"Aku sudah selesai." Sakura menganggukkan kepala, kemudian berdiri serta membiarkan keningnya dikecup oleh Itachi. Sakura mengikuti langkah Itachi ke depan, meninggalkan tempat itu.
"Aku pergi dulu." kembali Itachi mengecup kening Sakura yang mengancingkan kancing jasnya. Sakura mengangguk, melambaikan tangannya dan membiarkan Itachi pergi dengan mobilnya.
Dibalikkan tubuhnya, kemudian kakinya melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Sakura kembali ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Sakura melihat Sasuke yang masih menikmati jus tomatnya.
Dengan ragu ia mendekati meja makan. Mengemasi piring yang kotor dan menaruhnya di ruang cuci. Dibersihkan meja makan dan ditata kembali semuanya. Kemudian dengan cepat Sakura kembali ke ruang cuci untuk membersihkan piring dan peralatan makan yang kotor. Setelah selesai ia pergi ke kamarnya. Hari ini kuliah sedang libur.
Sakura membaringkan tubuhnya, ia kelihatan sangat gelisah. Pikirannya tak juga dapat tenang setelah mengingat kejadian tadi pagi ketika ia membangunkan Sasuke. Sakura bangun dari rebahannya dengan pikiran masih saja melayang pada Sasuke.
"Apa yang tadi dia lakukan? Baru kali ini aku melihat Sasuke yang seperti itu," gumamnya. "Sebaiknya aku tidak menceritakan kejadian tadi pada Itachi. Aku akan memberikan pengertian pada Sasuke. Hm, mungkin dia marah karena aku menganggapnya anak kecil." lanjutnya seraya merebahkan kembali tubuhnya. Menutup mata. Mencoba melupakan kejadian tadi pagi bersama Sasuke tanpa sadar bahwa sebentar lagi masalah besar menghampirinya.
.
.
Tsuzuku
...
Hehe banyak adegan Itachi yang mencium kening Sakura ya? Habisnya kasihan, dari pada ngga dapat apa-apa ya lebih baik cium kening. Hahahaha…. Gaje. (- -")
Spesial thanks to:
Youmi, JOe, Thia Nokoru, Tabita Pinkybunny, Kurousa Hime, vvvv, Riku Aida, Uchiharuno sasusaku, Valkyria Sapphire, Midori Kumiko, 4nkt4-ch4n, bebCWIB UchiHAruno, Silver Hat, ChiaraS, Winterblossom concrit team, Rinka Uchiharuno, Nagi Kuran 'sunounenjeru, Violetz Eminemers, Reader, Joshephine Lancastrian, vvvv.
.
Review?
Kritik, saran, flame, etc diterima. :D
ども ありがとう ございます。!^^
