"Tuhan, biarkanlah aku menjadi malaikatnya, dan mengabulkan permintaannya" ucap Suho, diiringi dengan berubahnya warna Kristal yang dipegangnya menjadi kuning.
BaekhyunSamma Present
Wish, Dream, and Love
.
.
.
.
Lay merasakan hari-harinya aneh beberapa minggu ini. Tepatnya sejak 2 minggu lalu, saat ia lupa membawa jaket, ia mulai merasakan ada sesuatu yang mengikutinya. Namun, bukannya Lay merasa terganggu, ia malah merasa nyaman dengan sesuatu yang mengikutinya, ia merasa 'itu' malah menjaganya.
Lay meraih kenop pintu depan, dan melangkahkan kakinya masuk. Yah, ia telah sampai ditempat kerjanya sekarang. Ia menaruh payungnya kemudian melepas jaketnya dan menggantungkannya di dinding. Namun, sebuah teriakan menginterupsi, memaksanya menoleh untuk melihat sang terdakwa.
"Ada apa Wookie-ah?" Tanya Lay lembut
Ryeowook tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya "Lay, kau disuruh melayani pesanan meja nomor 10"
"Meja nomor 10? Bukannya biasanya bilik?" Lay terlihat bingung, mengapa pelanggannya berada di meja, bukan bilik.
"Entahlah, itu perintah dari Zhoumi-hyung" Ucap Ryeowook lalu pergi meninggalkan Lay sendiri.
.
.
Suho menutup panggilan selularnya. Tadi ia baru saja menelfon asistennya, meminta membawakan beberapa barang menuju tempat ini. Kini dia berada ditempat ini. Tempat yang susah payah ia cari. Tempat yang membuatnya harus cuti bekerja untuk untuk mencarinya. Namun, tempat ini juga yang telah membuatnya bertemu dengan pujaan hatinya, Lay, walau bukan dalam bentuknya saat ini. 'Cepatlah datang, aku tak mau terlambat' batinnya, kemudian melangkahkan tubuhnya memasuki bangunan itu.
.
.
.
Lay menunggu Jaejoong, si bartender menyiapkan pesanan pelanggannya. Sebenarnya, sedikit aneh karena pelanggannya tidak memaksanya kebilik malam ini. Sembari menunggu minuman jadi, Lay melihat-lihat pengunjung disana.
Ceklek
Lay menajamkan matanya, sungguh, kali ini ia melihat seorang pria asing -pria yang bukan pelanggan bar ini- tersenyum lembut kearahnya. "Tampan" ucapnya tanpa sadar. 'Ayolah Lay, kau pikir kau siapa hingga berani memuji pria sepertinya eoh?' batin Lay sembari meneraturkan detak jantungnya yang berdegup marathon kali ini.
"Lay ini pesanannya" ucapan Jaejoong sontak membuatnya kembali mengingat tujuannya, berada dimeja bar saat ini.
'Lay pabbo… kau disini untuk mengambil pesanan tamumu, bukan malah melihat-lihat orang' rutuknya sambil memukul sebelah kepalanya.
.
.
.
"Ini tuan, pesanan anda"
Lay menundukkan kepalanya, takut melihat tatapan orang didepannya, yang melihatnya dengan tatapan menelanjangi.
"Aku menginginkanmu disini, Manis" ucap pria itu seduktif
Lay membulatkan matanya, tak percaya apa yang telah didengarnya. Menginginkannya disini? Bukankah itu melanggar aturan? Lay berusaha meredam emosinya saat ini.
"Kita tidak boleh melakukannya disini tuan, itu aturannya" balas Lay sakartis.
"Aku sudah ijin pada bosmu, dan membayarmu 5 kali lipat padanya" ucapnya kembali diiringi suara tawanya, kemudian menarik Lay kesofa dan menindihnya, membuat Lay menutup matanya dan menggigit bibir bagian bawahnya.
.
.
.
Suho mengedarkan pandangannya. Lay, pujaan hatinya yang beberapa saat lalu tengah duduk didepan meja bar kini menghilang dari pandangannya. 'Sial, bar ini ramai sekali' sungutnya dalam hati. Suho, masih sibuk mencari pria itu, hingga sebuah suara menghentikannya.
"Kita tidak boleh melakukannya disini tuan, itu aturannya"
Suho melangkahkan kakinya, mencoba mendekati asal suara itu. Ia yakin itu suara Lay, walaupun terdengar samar-samar tersaingi dengan kerasnya suara musik saat ini.
"Aku sudah ijin pada bosmu, dan membayarmu 5 kali lipat padanya" ucapan seorang pria diiringi suara tawa -yang terdengar sumbang bagi Suho- membuatnya marah. Ia mempercepat langkahnya dan mendapati pria itu tengah menurunkan celana yang dipakai Lay hingga dibawah paha.
.
.
.
BRAK
Lay membuka matanya. Kini, ia melihat pria brengsek tadi tersungkur didepan meja, dengan pecahan pecahan kaca disekelilingnya. Tunggu dulu? Bukankah sofa tadi hanya ada dia dan pria brengsek itu? Bukankan tadi saat ia meronta tidak ada yang menolongnya? Lalu, siapa yang memukulnya?
"Jika kau berani menyentuhnya, ku bunuh kau"
Lay menolehkan kepalanya kearah samping, mendapati seorang pria berwajah malaikat –baginya- tengah mengepalkan tangannya marah. Bukankah ia pria yang dipujinya tadi?
"Tuan, jika kau ingin dia, kau bia mengantri setelahku, aku sudah membayar mahal, jadi biarkan aku menikmatinya dul-"
BRAK
Pria malaikat itu kembali melayangkan pukulannya, membuat pria dihadapannya kembali tersungkur dengan keadaan yang lebih mengenaskan. Kini, dapat ia lihat, semua orang didiskotik mengarahkan pandangannya kepada mereka bertiga.
.
.
.
Zhoumi melihat pelanggan tetapnya dipukul oleh seseorang segera datang dan membantu pelanggan setianya itu berdiri.
"Tuan, jika anda menginginkan pria itu, tuan tak perlu membuat keributan seperti ini" Ucapnya keras namun masih terdengar sopan, melihat penampilan Suho yang terkesan elegan. 'Sepertinya ia orang kaya' batin Zhoumi hati-hati.
"Berapa yang harus kubayar untuk mengambilnya dari sini?" ucap Suho sambil menunjuknya Lay, tanpa melihat kearahnya
"Apa?" balasnya. Zhoumi terlihat bingung dengan pertanyaan Suho. Mengambilnya dari sini? Maksudnya membelinya?
"Tuan, Ia tidak dijual" lanjutnya
"Jino-ah, cepat bawa kau bawa masuk barang-barangku tadi" perintah Suho pada seseorang diseberang sana tanpa memperdulikan ucapan Zhoumi barusan.
.
.
Baru saja Suho memasukkan ponsel kesakunya, mulai berdatangan belasan orang mengangkut koper-koper besar dan menaruhnya diatas meja. Tak kurang dari 10 menit, kini, 25 koper –menurut hitungan Lay- telah tertumpuk rapi disana. Suho meraih salah satunya, kemudian membukanya.
"Aku membelinya seumur hidupnya"
Suho pun menyodorkan jaketnya, membuat Lay, mau tak mau harus memakainya. Kemudian dengan posesif Suho menggandeng tangan Lay dan menariknya keluar dari tempat itu.
'Apa aku akan melayaninya seumur hidup?' batin Lay, diikuti oleh semburat merah yang merayap dipipinya.
.
.
.
"Ini rumahku, mulai sekarang tinggallah disini" ucap Suho, masih tidak menolehkan kepalanya kearah Lay.
"Kamarmu ada di lantai dua dengan pintu berwarna putih, mandilah dan gantilah bajumu dengan baju yang ada disana, aku akan menunggumu dibawah" lanjutnya, kemudian pergi keluar lagi meninggalkan Lay yang masih terdiam disana.
Sebenarnya Suho tidak ingin bersikap tak acuh kepada Lay seperti tadi, hanya saja, ia merasa canggung sehingga tidak tahu harus berkata apa. Suho meraih ponselnya, menekan beberapa digit angka, kemudian berbicara sambil menjalankan mobilnya.
.
.
.
Lay terdiam, menatap luasnya bangunan yang ditempatinya saat ini. Walau didesain simple, rumah ini masih terkesan mewah dengan arsitekturnya yang kokoh. Lay melangkahkan kakinya menaiki tangga, mencari ruangan yang dimaksud Suho tadi dan masuk kedalamnya, kemudian menjalankan intruksi selanjutnya, yaitu mandi.
Lay telah sesesai mandi dan kini membuka lemari bersiap memilih baju. Betapa terkejutnya ia melihat pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasanya diberikan pelanggannya saat ia diundang ke Hotel. Apa pria tadi yakin menyuruhku memakai baju seperti ini?
.
.
.
Lay turun kebawah -setelah memakai bajunya tadi- kemudian ia melihat Suho tengah menunggunya didepan meja yang penuh dengan berbagai sajian makanan. 'Mungkin dia menyuruhku makan dulu, baru melakukannya' pikir Lay seraya mendudukkan dirinya dikursi..
.
.
.
Lay telah menghabiskan makanannya, mulai menatap Suho seakan menunggu perintah darinya. Suho yang sadar jika ditatap oleh sang pujaan hati merasa semakin gugup dan canggung, namun ia putuskan untuk membuka sebuah percakapan, agar Lay tidak semakin bingung dengan sikapnya.
"Aku-Kim-Jun-myeon" ucap Suho terbata, ia menghela nafas, kemudian melanjutkan "Kau bisa memanggilku Suho"
Lay terdiam, kemudian memasang senyum manis dan membalas perkenalan Suho "Aku Zhang Yixing, biasa dipanggil Lay"
Keduanya terdiam kembali, tenggelam dengan pikirannya masing-masing, Lay yang semakin bingung dengan tugasnya, memutuskan untuk bertanya.
"Jadi Suho-hyung, kapan aku akan menjalankan tugasku?"
Suho menyerngit, kini terlihat kedua alisnya mendekat "Tugas apa?" tanyanya
Lay menghela nafas, memandang heran kearah pemiliknya "Kau membawaku kesini karena ingin melakukan 'itu' kan?"
Suho menepuk jidatnya, lupa bahwa ia belum menjelaskan tujuannya membawa Lay kemari. 'Lay pasti berfikir aneh-aneh tentangku' rutuknya dalam hati.
"Aku hanya mengabulkan permintaanmu Lay-ah?"
Lay menyerngit, menunjukkan ekspresi yang hampir mirip dengan Suho tadi. Suho menatap Lay geli –karena bagi Suho, ekspresi Lay lucu- kemudian melanjutkan perkataannya
"Bukankah kau selalu memohon 'Lenyapkanlah aku dari sini dan segeralah pertemukan aku dengan malaikatmu Tuhan, aku mohon'? dan aku, hanya membawamu keluar dari tempat itu. Jadi, jika kau mengira aku ingin melakukan yang tidak-tidak padamu maka kau salah. Dan juga, sekarang tidurlah, ini sudah malam"
Suho melangkah pergi menuju kamarnya. Sedangkan Lay? Ia masih sibuk menyalahkan pikiran bodohnya.
'Lay pabbo, mana mungkin orang seterhormat dia mau melakukannya denganmu eoh? Kau ini hanya pria murahan' sungutnya. Namun entah mengapa ia merasa kecewa bila Suho tak menyentuhnya.
.
.
.
Lay telah bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk membuat sarapan pagi. Ia berniat membantu Suho mengurus dirinya dan rumahnya, setelah tahu niat baik Suho yang ingin mengeluarkannya dari tempat kerjanya dulu. Lay, telah menyelesaikan kegiatan memasaknya, kini berniat membangunkan Suho yang berada dikamarnya.
"Suho ah, makanan-" perkataan Lay terhenti saat melihat Suho, telah dibangunkan oleh seorang gadis cantik yang saat ini telah menoleh kearah Lay karena teriakannya tadi. Sedang Suho, merasa ada aura kecanggungan disekitarnya memutuskan untuk membuka suara.
"Taeyeon-nunna, ini Lay, er-temanku, dan Lay-ah, ini Taeyeon-nunna, sekretarisku"
Lay, yang merasa ditatap intens oleh sang sekretaris menundukkan wajahnya, dan berharap gadis itu mengalihkan pendangannya. Taeyeon yang mengerti maksudnya mulai mengalihkan pandangannya ke Suho lalu mengatakan "Kau tidak pernah menceritakan dia padaku" dan menarik Suho keluar kamar.
.
.
.
Lay menatap jendela dengan pandangan kosong. Dia sendirian dirumah sekarang, dan hal itu membuatnya merasa bosan. Ditambah lagi dengan kedatangan Taeyeon-nunna yang tidak suka padanya –menurut pendapat Lay- seolah menambah moodnya semakin buruk. Lay menaiki tangga menuju kamarnya, berniat membaringkan dirinya diranjang. Ia hampir berbaring, jika saja ia tidak menemukan sebuah gundukan dibalik selimutnya.
Lay menyibakkan selimutnya. 'Kristal?' gunamnya heran. Ia memandang benda itu dari beberapa sudut, kemudian meraihnya dan mengelusnya dengan salah satu tangannya. Blush… warna Kristal itu berubah menjadi merah, membuat Lay merasa bingung.
"Ah, mungkin ini milik Suho" tebaknya, lalu menaruh Kristal itu di lemarinya.
.
.
.
Sudah satu bulan tepat Lay tinggal dirumah Suho. Ia dan Suho pun sudah tidak terlalu canggung lagi saat berbicara, bahkan mereka sudah semakin dekat. Mereka kadang satu sama lain bercerita mengenai masa lalunya, seperti mengapa Lay harus bekerja di diskotik, atau Suho yang menceritakan tragedi kecelakaan kedua orang tuanya 4 tahun silam. Namun, walau telah dekat dengan Suho, Lay tidak pernah berani menanyakan hubungannya dengan Taeyeon-nunna –yang terlihat begitu akrab dengan Suho- karena Lay yakin hubungan mereka bukan sebatas rekan kerja.
Lay mendudukkan dirinya disofa, sambil menonton acara drama ditelevisi. Seperti biasa, ia akan menunggu Suho pulang untuk makan bersama. Lay melirik ke arah jam dinding diatas dinding, kemudian menghela nafas dan bergunam 'Mengapa ia belum pulang?' lalu bersiap mengambil minuman kedapur.
Kring Kring
Mendengar telfon rumah berdering, Lay mengurungkan niatnya mengambil minum dan meraih gagang telefon.
"Halo, saya dari Park Hotel, saya ingin berbicara dengan saudara Kim perihal pemesanan gedung resepsi atas nama Kim Junmyeon dan Kim Taeyeon"
Kaget dengan apa yang didengarnya, Lay tanpa sengaja menjatuhkan gagang telefon itu, membuat sang penelfon berteriak-teriak diseberang sana.
TBC
Balasan Review
EXOtic Panda: iya, itu Suhonya emang gak mati, soalnya ntar kalau mati Lay umma janda dong?
cacing kawat: ini udah next….terus review ya.. *bow
shintalang: diusahain gak ngaret, haha…tetep reviewnya ya *kedipkedip*
jettaome: tadinya aku yang mau nyelametin Lay umma #digetokSuho
Myjonggie: iya Saeng…pokoknya kamu harus tetep review #maksa
SMKA: makasih…kya senengnya ditungguin.. ^^
siscaMinstalove: Ahjussi? Setua itukah dirimu Suho? Ah iya, warna kuning itu berarti permohonan chingu ^^
Kim Haerin-ah: ahaha…gak papa, kalau Lay digituin kan Suhonya juga liat…lumayan lah, author mau amal sama Suho ^^
PutriPootree: hehe..tapi sayanya malah suka *plak*
Tania3424: tadinya mau tuberculosis..tapi kepanjangan *gaknyambung*
Viandra Shelvi: iya chingu...tapi janji ya jangan putus review... ^^
ajib4ff: iya...makasih..saya sehat kok... gomawo doanya..^^
Brigitta Bukan Brigittiw: Haha..Suhonya emang pamalu.. apalagi kalau sama saya *wink*
Seeekaar: iya..makasih pujiannya (?) haha..tetep review ya..
selvian summer: *pencet remot ganti acara yang gak drama* hahaha..sayangnya author suka bikin Lay sakit...
Tzera: masa belum ada salahnya? masakih... *typo woi* eh, maksunya makasih...
Rey: iya...ini udah lanjut.. *ikut tereak pake Tao*
Thanks for read and review, hope you review again in this chapter ^^
Jika ada Review yang belum kebalas saya minta maaf, karena reviewnya mungkin telat masuk... *bow
.
.
.
Sebenarnya Partnya Sulay udah mau selesai, dan rencananya mau dilanjut ke partnya Taoris. Namun berhubung saya bingung kalau pada gak suka Taorisnya, jadi saya tanya dulu….yang setuju dilanjut bagian Taoris mohon review, saya butuh saran *bow
