Tok! Tok! Tok!

Mikoto mendongakkan kepalanya. "Sebentar!" Ia meletakkan jahitannya dan berdiri, melangkah menuju pintu depannya sembari bertanya-tanya siapa yang mengetuk pintu rumahnya selarut ini.

Seorang pemuda berambut hitam lurus dengan kulit pucat membungkukkan tubuhnya saat Mikoto membuka pintu. "Bibi," Pemuda itu menyapanya dengan senyuman yang manis.

Mikoto mengenalinya sebagai teman satu kampus Sasuke. "Ah, Sai-kun," Wanita itu menyunggingkan senyuman sebagai balasan. "Masuklah, Sasuke ada di dalam."

Sai menggeleng. Rona kemerahan muncul di wajahnya. Mikoto, ibunda Sasuke itu memang selalu lembut dan baik hati—tipikal ibu idaman setiap orang—selalu membuatnya nyaman serta sangat mengagumi wanita itu. "Bisa tolong bibi panggilkan Sasuke saja?" Sungguh, jika orang di hadapannya bukan Mikoto, mana mau dia bersikap dan berkata-kata lembut seperti itu.

Mikoto mengangguk. "Kalau begitu, tolong tunggu sebentar."

Sai menyandarkan tubuhnya di dinding rumah, menatap Mikoto yang menjauh. Iris matanya meredup. Seandainya ia yang mempunyai ibu seperti Mikoto ... Ah, pemuda itu cepat-cepat mengusir pikiran yang dianggapnya bodoh itu.

Pemuda pucat itu menegakkan kembali tubuhnya saat Sasuke melangkah mendekat. Sai memasang senyum palsunya. "Sasuke—hei, tunggu!" Cepat-cepat ia menahan pintu yang hendak ditutup Sasuke seolah-olah pemuda Uchiha itu tidak melihatnya. Sai menggerutu dalam hati. Berbeda sekali sikap sang ibu dengan sang anak.

Sasuke melepas handle pintu dan melipat kedua tangannya di dada. Mengacuhkan Sai yang kini terang-terangan menatapnya kesal karena sikapnya. "Aku tidak mau."

Sai mengontrol emosinya yang keluar dengan cepat dan kembali memasang wajah datar. "Aku belum mengatakan apapun."

Sasuke memutar bola matanya. "Then, I already said no." Pemuda itu berkata acuh.

Membujuk Sasuke adalah hal terakhir yang ingin Sai lakukan, karena pemuda raven itu bukan tipe orang yang mau melakukan hal yang tidak dia inginkan. "Mereka punya Bugatti. Aku perlu bantuanmu. Lagipula, mobil itu akan jadi milikmu jika kau menang."

Sasuke mendengus. "Aku tidak butuh benda itu. I have mine."

Mau tak mau Sai melirik truk tua yang sering dipakai sahabatnya itu untuk mengantarkan orderan jahitan Mikoto. "Ibumu mungkin akan senang jika kau membawa Bugatti itu pulang."

"Ibuku bukan orang materialistis."

Sai tahu ia sudah menginjak ranjau saat Sasuke melontarkan kalimat dengan nada dingin seperti itu. "Sorry, I know," Sai menghela napas. Pemuda itu menatap sahabatnya. "Do it as your hobby, then."

Ada keraguan di oniks milik Sasuke ketika ia mendengar perkataan Sai. Hobi ... dulu, ia memang sering ikut balap ilegal. Ia memenangkan banyak pertandingan dengan bermodalkan sebuah mobil sport yang diberikan sang ayah. Sasuke menabungkan semua uang hasil kemenangan dan penjualan mobil yang didapatnya di pertandingan. Dan siapa sangka, dalam kondisi paling terpuruknya, semua itu berguna?

Ia sudah menemukan celah. Sai mengetahuinya dari mata Sasuke. Jadi pemuda itu melanjutkan bujukannya. "At least, do it for me, as your friend."

Sasuke menghela napas setengah kesal kepada Sai. "You've gotten me, you know?"

Sai mengangkat bahu dan kembali menyunggingkan senyum palsunya.

.

.

A Sasuke-Naruko fanfiction

rainbow life

.

.

Satu jam kemudian, Sasuke sudah berada di dalam Mercedes-Benz SLR McLaren milik Sai. Pemuda itu menarik topinya hingga nyaris menutupi mata, memastikan wajahnya tidak sepenuhnya terlihat. Diliriknya mobil di sebelahnya yang berisi pemuda dari Kiri yang menyeringai meremehkan padanya. Pantas saja Sai meminta tolong dirinya untuk bertanding.

"Bagaimana rasanya bertanding melawan mobilmu sendiri, huh, Cowok Elang?" ejek pemuda itu.

Taka. Nama julukannya saat ia masih menjadi street racer. Sasuke menatap datar sang pemuda yang kini berada di dalam Bugatti Veyron miliknya dulu. Pemuda itu mengumpat pelan. Tiga tahun lalu, ketika ia memutuskan untuk berhenti, ia melelang mobil yang mengikuti sepak terjangnya di ajang balap liar itu dengan harga tinggi. Tak disangka, kini ia harus melawan pengendara yang membawa mobil kesayangannya itu.

Pemuda Uchiha itu menyeringai kecil. Diliriknya pemuda dari Kiri yang masih bersiul penuh kemenangan itu. Whatever. Dia sudah tidak peduli lagi dengan masa lalunya.

Ketika gadis dengan pakaian serba mini itu mengangkat benderanya, Sasuke menginjak gasnya kuat-kuat.

Di mata Sasuke, tak ada yang namanya benda keberuntungan. Meski teman-temannya dulu selalu memujinya dan menganggapnya beruntung karena ia selalu memenangkan balapan dengan mobil Bugatti itu, Sasuke tidak menganggap hal itu serius. Baginya, tak ada keberuntungan. Jika Itachi tidak mengajari teknik-teknik drift padanya sejak ia masih SMP, ia takkan memiliki skill yang cukup untuk memenangkan balapan.

Dan kini, meski ia tidak membawa mobil "keberuntungan"-nya itu, ia optimis akan tetap memenangkan balapan.

Sasuke melakukan braking drift saat berada di tikungan. Diliriknya spion. Pemuda itu lumayan jauh tertinggal di belakang.

Speedometer-nya menunjukkan bahwa ia melaju dengan kecepatan 128 km/h. Garis finish tinggal satu tikungan lagi. Diinjaknya gas untuk menjaga roda belakang tetap meluncur, berbelok dengan mulus. Sasuke mempertahankan posisi drift-nya kemudian membanting stir dan kembali melaju lurus.

Sorak-sorai terdengar saat ia menginjak rem di garis finish. Sai menunggu dengan senyum palsunya ketika ia keluar dari mobil. Sasuke melempar kunci mobil pada Sai dan berjalan menyeruak kerumunan.

"Sasuke!"

Sasuke melirik Sai yang mengikutinya. "Ambil mobilnya. Jangan biarkan orang sepertinya mengendarai mobilku," ucap pemuda itu, menepuk pundak sang sahabat. "Aku pulang."

Sai menatap Sasuke yang menjauh. Sahabatnya itu sudah benar-benar berubah. Pemuda itu kini tersenyum kecil; senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. "Dasar Uchiha."

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Standard warning applied

.

.

Namikaze Naruko menyisiri rambut keemasan sepunggung miliknya. Gadis itu tersenyum kecil. Sudah seminggu berlalu sejak keluarga mereka pindah ke Amegakure. Hari ini ia berencana untuk berjalan-jalan sekaligus mengenal lebih jauh kota Ame. Karena itu, meski ini hari minggu, Naruko rela bangun pagi-pagi demi rencananya itu.

Gadis itu melirik jam tangan rubahnya. Ditatapnya sekali lagi dirinya dalam cermin. Ia sudah siap dengan celana jeans dan kaus berwarna biru cerah yang dilapisi hodie oranye.

"Kak?"

Begitu turun ke lantai bawah, Naruko segera menuju ke dapur, mengintip Karin dan pembantu mereka yang sedang menyiapkan sarapan.

"Hmm?"

"Aku mau pergi dulu."

Karin menghentikan kegiatannya, menatap sang adik yang sudah rapi. Mata ruby-nya menyipit, "Kencan?"

Naruko mengerucutkan bibirnya. "Aku bahkan belum kenal siapapun di sini, 'ttebane, dan kau sudah menyudutkanku?" protes gadis blasteran itu.

Karin tertawa kecil. "Hai, hai, imotou. Kau boleh pergi."

"Ittekimasu~"

"Itterasshai!"

Naruko berlarian melintasi halaman rumahnya yang cukup luas dengan sedikit menggerutu. Menyulitkannya saja. Kenapa ayahnya harus membeli rumah yang megah, alih-alih condominium sih?

Setelah menutup kembali pagar rumahnya, gadis itu mendongak untuk menatap langit yang sewarna dengan matanya sembari tersenyum.

What a nice day!

Naruko memutuskan untuk berjalan kaki. Ia meraih smartphone miliknya dan mengaktifkan GPS. Hmm ... pertama, ia ingin ke stasiun. Dari stasiun ia akan mengingat-ingat jalan menuju rumah bibi Mikoto yang baik hati.

Stasiun tidak terlalu jauh dari mansion miliknya. Hanya dengan sepuluh menit berjalan kaki. Sesampai di tempat yang sangat ramai pada jam-jam pekerja kantoran seperti sekarang, Naruko meneruskan langkahnya dan berbelok ke kanan.

Area pertokoan menyambutnya. Persis seperti saat ia diantar pulang oleh Sasuke. Naruko menghampiri toko bunga. Ia ingin membelikan bunga untuk bibi Mikoto, wanita itu pasti menyukainya.

Setelah keluar dari toko bunga, Naruko tertarik untuk memasuki swalayan. Membeli bahan-bahan makanan yang sangat banyak jumlahnya. Gadis pirang itu berharap Mikoto mau memasakkannya makanan.

Setengah jam kemudian, Naruko sudah keluar dari swalayan dengan dua kantong besar belanjaan dan bunga mawar putih yang dibelinya untuk Mikoto. Gadis itu nyaris memasuki sebuah butik saat ia menyadari sesuatu.

"Sepertinya aku berlebihan, 'ttebane ..." Naruko meringis kecil, menatap belanjaan di tangannya. Perjalanannya yang sebenarnya hanya kurang lebih limabelas menit untuk sampai di rumah Mikoto menjadi sangat lama gara-gara keinginannya untuk tidak datang dengan tangan kosong.

Naruko menatap toko kue di seberang jalan. Hmm ... mungkin dia harus membeli cheesecake dan orange cake untuk Mikoto. Mudah-mudahan wanita itu suka kue.

Dengan langkah riang, gadis blonde itu memasuki toko kue.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Uchiha Sasuke menghentikan aktivitasnya di depan laptop, meregangkan tubuhnya sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. Kening pemuda itu berkerut. Siapa yang mengetuk pintu di hari yang tenang seperti ini?

Cklek.

Di hadapannya, berdiri seorang gadis berambut pirang yang nyengir lebar. Ada tiga kantung plastik besar di tangannya dan sebuket bunga mawar putih. Sasuke mengernyit. Ditatapnya kantung belanjaan sang gadis.

"Panti asuhan ada di ujung gang."

Pemuda Uchiha itu nyaris menutup pintu ketika sang gadis menahan pintu berwarna cokelat itu dengan tubuhnya.

"Hoi, matte, Teme!"

Teme? Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya, mengingat-ingat nama panggilan yang menjengkelkan itu. Ditatapnya sekali lagi wajah sang gadis. Mata biru dan rambut pirang ... tunggu, rasanya ia ingat.

Saat Sasuke melepas handle pintu dan hendak bertanya baik-baik, gadis itu sepertinya tidak siap karena tubuhnya masih mendorong pintu agar tetap terbuka. Alhasil, gadis itu oleng ke depan.

Brukk!

Sasuke merasakan tubuhnya ditindih oleh tubuh gadis itu. Wangi citrus menyeruak penciumannya. Rambut pirang sang gadis—yang ternyata sangat halus—menggelitik pipinya. Sasuke berdecak.

Gadis itu mengangkat kepalanya. "Ittai ..." Ia mengeluh sembari mengelus keningnya yang terantuk oleh dagu Sasuke. Melupakan posisi mereka yang terlalu intim, mata birunya mendelik. "Kau! Kenapa menutup pintu dan tiba-tiba melepasnya, hah? Kau sengaja ingin mempermainkanku, ya?!"

Sasuke tak menghiraukannya. Pemuda itu berusaha bangkit dan bertumpu dengan kedua tangannya. Emosinya tersulut. Mengabaikan posisi mereka yang bisa jadi salah tafsir jika ada yang melihat—Sasuke kini duduk dan gadis itu berada di pangkuannya—diberikannya deathglare miliknya untuk gadis pirang itu. "Kau sendiri siapa? Aku tidak terima tamu di rumah ini," tukasnya menyebalkan.

"Siapa bilang aku mencarimu? Aku mencari bibi Mikoto, tahu! Dan lagipula, masa kau melupakanku? Dasar Teme!"

"Siapa kau hingga harus kuingat, Dobe? Hentikan panggilan menyebalkan itu seolah-olah kau mengenalku!" Sasuke mengernyit. Rasanya ... ia pernah bertemu orang yang bisa menyulut emosinya dengan mudah seperti ini. "Kau ... gadis bunuh diri itu, 'kan? Naru ... Naru—"

"Naruko!" Naruko menyambar dengan cepat, mendengus setengah kesal dan setengah tak percaya. Gadis pirang itu melipat tangannya di dada. "Kau menyebalkan sekali, 'ttebane!"

"Salahmu sendiri tidak memperkenalkan diri."

"Seperti aku dapat kesempatan untuk itu saja." Naruko menggerutu, emosinya mulai turun. "Kau sendiri yang menutup pintu tepat di depan hidungku."

"Nyaris." Sasuke mengoreksi.

Naruko mendengus, mata birunya tak sadar menjelajah wajah pemuda di hadapannya. Tampan, sangat tampan. Alisnya yang berlekuk, hidungnya yang mancung, bibirnya sedikit tebal, dan yang membuatnya sempurna, sepasang mata hitam yang tajam dan seolah mampu membius siapapun itu. Naruko menelan ludah, mengusir perasaan berdesir yang mendadak muncul. Dengan cepat gadis itu bangun dari posisinya. "Apakah bibi Mikoto ada?" Ia bertanya, mengumpulkan belanjaannya yang berserakan.

Sasuke menghela napas, ikut berjongkok untuk membantu gadis itu. "Ibu sedang keluar. Sebentar lagi datang." Keningnya berkerut saat menyadari belanjaan gadis itu yang sangat banyak. Ditatapnya Naruko. "Kau beli semua ini untuk siapa, Dobe?"

Semburat merah menghiasi pipi Naruko. "Etto ... aku hanya ingin membawakan sesuatu untuk bibi Mikoto. Hehehe."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Belanjaan yang banyak ini membuatnya berpikir bahwa Naruko ingin menyumbangkannya untuk panti asuhan. Lagi pula, tentu saja anak-anak panti lebih membutuhkannya daripada dirinya. "Kaupikir rumahku tempat penampungan?"

Naruko mengerucutkan bibirnya, meski tak ada rasa tersinggung. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan ucapan Sasuke yang memang pada dasarnya menyakitkan hati. "Hargai niat baik orang dong, 'ttebane!"

Sasuke mendengus kecil. Malas berdebat lagi dengan gadis ini. "Masuklah. Kubuatkan teh."

.

.

.

.

"Tadaima ..." Mikoto melepas sandal yang dikenakannya dan memasuki rumah.

"Okaeri~~"

Wanita itu mengernyit saat mendengar balasan dari nada seorang perempuan yang kelewat bersemangat. Apakah ... Sasuke memasukkan gadis ke rumah selama ia pergi? Ah, seperti bukan Sasuke saja, Mikoto membatin. Bergegas ia melangkahkan kakinya. Langkah yang terhenti saat menyadari Sasuke memang tidak sendirian, namun bersama seorang gadis berambut pirang yang menatapnya sembari tersenyum lebar.

"Naru-chan?"

"Bibi~!" Naruko sontak berdiri dan membungkukkan tubuhnya, sebelum akhirnya berlari dan memeluk Mikoto erat. "Huaa~ aitai dattebane!"

Mikoto tertawa lembut dan mengelus rambut pirang gadis itu. "Hmm ... yokatta, kau baik-baik saja. Bibi juga merindukanmu, Naru-chan." Mereka berdua berjalan dan duduk di sofa. Namun kemudian Mikoto mengerutkan kening saat menyadari ada begitu banyak barang di meja. "Lho, apa ini?"

Naruko meringis kecil, melirik Sasuke yang masih sibuk dengan laptop miliknya. "Tadi aku berniat bawa sesuatu, tapi sepertinya kebanyakan. Aku bawa bahan masakan untuk bibi. Umm ... maukah bibi membuatkanku ramen?"

Wanita paruh baya itu tersenyum kecil. Ada kilat jahil di matanya yang tidak disadari oleh kedua muda-mudi yang duduk bersebelahan itu. "Sou ka ..., Naru-chan, apa kau tidak tahu kalau Sasu-kun pintar masak?"

Mata biru Naruko melebar. "Eeh? Benarkah?" Ditatapnya Sasuke tidak percaya lalu menggelengkan kepalanya. "Uso dayo!" Ia berkata keras.

Mikoto mengangguk, "Sasu-kun dulu pernah bekerja di restoran sebagai asisten koki." Mikoto menambahkan dengan sinar mata berbinar untuk meyakinkan sang gadis blasteran.

Naruko menahan kalimat 'orang seperti dia?' yang seakan berada di ujung lidahnya. Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap lekat Sasuke yang fokus pada laptopnya.

"Apa?" Sasuke bertanya pada akhirnya, jengah ditatap terus-menerus oleh Naruko. "Memangnya kenapa kalau aku bisa masak, Dobe?"

Gadis berambut pirang itu mengerjap dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tetap tidak percaya, 'ttebane!" Ia nyaris menunjuk Sasuke saat menyadari itu tindakan yang sangat tidak sopan di depan Mikoto.

Sasuke menutup laptopnya. "Jika kau tak percaya, aku akan buktikan padamu."

Mikoto nyaris tertawa, tak menyangka putra bungsu dan kesayangannya yang biasanya begitu tenang dan kokoh bagaikan karang itu akan terbujuk dengan mudah ketika dihadapkan dengan Naruko. Hm, Mikoto diam-diam berdoa semoga firasatnya kali ini benar.

.

.

.

.

Naruko mengintip tidak sabar ke dalam panci yang berisi rebusan mi buatan Sasuke. Ramen memang perlu waktu yang lama untuk memasaknya, terlebih mereka benar-benar membuat semuanya dari awal. Mau tak mau gadis berambut pirang itu mengakui bahwa Sasuke memang bisa memasak.

Naruko mengambil sepotong tomat yang ada di pantry dan mengendusnya. Sasuke bekerja sembari mencomot tomat yang terlebih dahulu dipotongnya rapi satu persatu, membuat Naruko sedikit banyak penasaran dengan tindakan itu. Gadis itu menjulurkan lidahnya dan menjilat tomat itu, lalu mengernyit. "Kau benar-benar aneh, Teme." Naruko berucap, mengembalikan kembali tomat itu ke tempatnya dengan cuek. "Apa enaknya makan tomat mentah?"

"Tomat memiliki lebih banyak vitamin C dibandingkan jeruk, kau tahu?*"

Naruko membulatkan matanya, mendelik pada Sasuke yang sedang sibuk memasukkan beberapa rempah ke dalam kuah ramen. "Enak saja! Jeruk lebih banyak vitaminnya! Teori darimana itu?" Naruko menggerutu, tidak terima buah kesukaannya dihina secara tidak langsung. "Jeruk itu kuning! Dan kuning artinya vitamin C, 'ttebane!"

Sasuke melirik gadis yang kini bersedekap di sebelahnya, lalu mendengus, setengah merasa geli. Tanpa sadar jarinya bergerak untuk menyentil dahi Naruko. "Anak TK."

Naruko mengerutkan keningnya dan menggembungkan pipi. "Aku sudah SMA, Teme!"

Sasuke memutar tubuhnya hingga menghadap Naruko dan menyilangkan kedua tangannya di dada, "Aku mahasiswa kedokteran, Dobe." Tatapan keras kepala yang dilayangkan Naruko membuat Sasuke kembali mendengus kecil.

"Ya, ya. Mahasiswa kedokteran selalu merasa diri mereka paling pintar."

Pemuda berambut raven itu menghela napas, memutuskan untuk tidak memperpanjang perdebatan tak jelas antara mereka. Sasuke memilih mengaduk kuah ramennya yang sudah mendidih. "Dobe, kau mau mencicipinya?"

Melupakan pertengkarannya dengan Sasuke, Naruko melangkah maju untuk menengok ke dalam panci yang bergolak. "Aku boleh mencicipinya?" Gadis itu bertanya.

Sasuke menyendokkan kuah ramen yang berwarna kuning kemerahan dan meniupnya beberapa kali untuk menghilangkan suhu panasnya, lalu menyodorkannya pada Naruko yang segera menyeruputnya.

Naruko tak bisa mencegah perasaannya yang membuncah saat mencecap lezatnya kuah ramen yang dibuat oleh Sasuke. Gadis itu mendongak untuk menemukan kedua oniks Sasuke yang menanti komentarnya, lalu tersenyum seceria yang ia bisa. "Enak, 'ttebane!"

Sasuke tidak berkata apapun sebagai balasan. Namun, saat itulah Naruko pertama kali menyadari binar senyuman pada mata sepekat malam milik Sasuke yang tak terefleksikan oleh bibirnya. Dan, betapa oniks itu begitu berkilau ketika tersenyum, menenggelamkan Naruko dalam debaran jantungnya sendiri.

.

.

To Be Continued

.

.

(*) My sister is studying to be a nutritionist and she told me so. Correct me if I'm wrong :)

So, that's love at the first ramen *lol*

Tapi jujur, that's true. Segampang itu, kita jatuh cinta. Based on my own reality, I find that I really in love with my classmate, just because his eyes—his dark, onyx, and calm eyes—smiled when he asked me a very simple question, "Kamu suka Naruto juga, ya?"

Dan, cinta gue ke dia bertahan dari gue kelas 1 SMA sampai sekarang. (oke, mungkin gue yang emang kurang waras).

Chapter ini update sebagai ucapan selamat buat kita-kita yang kelas 3 SMA dan berhasil melaksanakan UN dengan mulus /banzai!/ Congratz, guys! Dan buat para reviewers chapter 1 yang berbaik hati merespons cerita gue dan mengapresiasinya, arigatou gozaimashita minna!