Pair : SasuHina
Rate : T
Genre : Fantasy, Romance, Humor (maybe)
Warning : OC, OOC, Typos, etc
-Fantasia-The Realm of Thanos-
{Sasuhina Version}
Meeting Up With The Guys
"Di-dimana aku?!"
"Inilah Fantasia….Selamat datang di kerajaan Seldrus… Manusia bukanlah satu-satunya yang menghuni negeri ini… Ada elf yang mirip dengan manusia, tapi mereka memiliki tubuh yang lebih tinggi dan terlihat menyeramkan… Ada juga Novandels, Iblis, dan Pengembara hidup di sini… Tapi mereka tidak tinggal di kota ini… Hmmm… Ah, ya aku hampir lupa… ada juga …. Ah, tidak… lupakan saja, aku tidak akan membicarakan tentang mereka sekarang… masih belum waktunya aku memberitahumu… Yang lebih penting sekarang adalah aku sudah menyiapkan penginapan untukmu… dan di sanalah kau akan tinggal sampai misimu selesai… Kau akan menemukannya dengan mudah… itu adalah satu-satunya penginapan di kota ini…"
"Ta-tapi…"
"Kau tidak perlu khawatir tentang biayanya… Itu sudah kuurus dengan baik… barang-barangmu akan tiba besok pagi… dan sekarang, pergilah… aku bisa merasakan kehadiran orang-orang itu di sekitar sini… Misimu dimulai besok, tapi hari ini kau harus tahu bagaimana wajah mereka… kita akan bicara lagi nanti… "
"E-eh?"
"Semoga beruntung Hinata-chan…".
Tiba-tiba wanita itu menghilang begitu saja dari hadapanku. "Jadi hari ini aku hanya harus bertemu dengan mereka saja?". Tidak ada pilihan lain, aku harus tahu bagaimana rupa mereka.
Beberapa jam kemudian….
Aku tidak bisa percaya ini. Wanita itu membuatku lelah dengan berjalan dan berlari mengelilingi kota ini selama berjam-jam. Aku bahkan belum menemukan penginapan untukku menginap. Apalagi dia menyuruhku untuk menemukan orang-orang itu yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana rupa mereka maupun nama mereka. Jika dia mempunyai kekuatan, tidak bisakah dia membuat mereka datang padaku saja?
-Brugghhh-
"Ittai… Berapa banyak lagi aku akan menabrak orang lain?". Aku jatuh terduduk di tanah.
"Sasori…". Aku mendengar suara seseorang. Tapi suara ini sama sekali tidak asing. Ah, benar. Ini terdengar seperti suara wanita itu. Tidak salah lagi, aku langsung menoleh kesana kemari, tetapi aku tidak melihat siluetnya sedikitpun. Aku pikir ini adalah caranya untuk berkomunikasi denganku. Aku melihat orang yang tidak sengaja kutabrak. Seorang pria berambut merah dan bermata coklat. Ia menatapku aneh. Orang ini pasti orang pertama yang dimaksud.
"Hmph…. Lihatlah apa yang ada di depanmu jika kau berjalan…".
"….Go-gomenasai…".
"Terserahlah…".
Ia meraih tanganku dan membantuku berdiri, lalu menjatuhkanku setelahnya. Ternyata dia orang yang sangat kasar.
"Aku harus pergi… lain kali, menjauhlah dariku… Dasar bodoh…". Ia pergi melewatiku begitu saja tanpa melihatku.
"Ta-tapi siapa tadi namanya? Ah, benar… Sasori… Tapi namanya tidak begitu penting sekarang…". Aku berdiri dan membersihkan rok dan tanganku yang kotor karena terjatuh. "Aku pikir, ini adalah waktunya untuk melihat-lihat dan berkeliling kota ini…"
Lima menit berlalu dan tidak ada yang menarik dan kemudian sesuatu menggema dalam pikiranku.
"Ke kiri…". Suara misterius itu lagi. "Namanya Toneri…"
aku memutuskan mendengarkan apa yang di katakannya dan belok ke kiri, dan di sanalah aku melihat seseorang berdiri sendirian. Seorang pria berambut putih acak, berkulit pucat dan mata yang dingin. Mungkin dia adalah orang kedua yang dimaksud. Aku mulai berjalan mendekatinya dan ia hanya memandang lurus ke arahku.
"….".
Ia sama sekali tidak mengatakan apapun.
"….".
Ya, dia masih diam dan tidak mengatakan apapun.
"….".
Baiklah, dia sudah pasti sedang menatapku sekarang. Tapi dia masih saja diam.
Apakah aku terlihat aneh?. Aku cepat-cepat berjalan melewatinya, tapi saat aku melakukannya, tiba-tiba aku merasakan udara menjadi sangat dingin. Aku yakin itu bukanlah imajinasiku karena itu terasa sangat nyata. Aura orang itulah yang membuat udara tiba-tiba menjadi dingin. Setelah aku melewatinya, aku melanjutkan perjalananku. Dan seperti dugaanku, udara menjadi normal kembali. Aku menghela napas frustasi. Empat? Tapi aku hanya menemukan dua orang saja dengan nama mereka yang masih menggema di pikiranku. Jadi sekarang tinggal menemukan dua orang lagi.
"Permisi…". Suara misterius lagi. Tapi yang jelas ini bukanlah suara wanita itu.
"Ha-hai?".
"Apakah kau belakangan ini melihat seseorang dengan kekuatan yang luar biasa berjalan di sekitar sini?"
"Ke-kekuatan?"
1 detik
2 detik
3 detik
"Lebih dari dua detik berpikir, aku cukup yakin kau tidak tahu itu… Seseorang dengan kekuatan yang kumaksud itu sangat terkenal… Jika kau tidak tahu itu, kau pasti orang baru di sini…Hm, Aku perlu bertanya pada orang lain…".
Tunggu, wanita itu tidak memberitahuku nama orang ini. Aku harus tahu siapa dia.
"Baiklah, kita akan bertemu lagi nanti… Ah, maksudku mungkin…". Katanya lagi.
"A-aku harap begitu…".
"Aku harap tidak". Ia berbalik dan pergi meninggalkanku.
Aku sudah menemukan tiga orang. Tinggal satu orang lagi.
"Keluarkan aku…". Suara misterius lagi. Dan ini terdengar berat dan mengerikan.
"Darimana suara itu berasal?". Aku mendengar suara yang aneh.
"Disini…. Sekitar sini….". Suara misterius itu menyahutku. Padahal aku hanya bergumam saja tadi.
"Segel… Raja…Iblis…. rusak…". Teriaknya frustasi seperti mencoba meloloskan diri dari suatu tempat.
"…Apa?". Aku memutuskan mencari sumber suara yang terdengar sangat kelelahan itu. Aku belok ke arah kanan dan tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dengan keras. Aku berhenti dan mencoba mendengar apa yang terjadi.
"Keluarkan aku!". Itu suara seorang pria. Sangat jelas ia terdengar sangat marah dan frustasi.
"A-apa?".
"Ck… keluarkan aku dari kurungan sialan ini!"
-Bugghhh-
Tiba-tiba suara pukulan yang sangat keras terdengar. Tapi aku masih tidak bisa melihat apapun di sini.
"Akhirnya… Awas kau wanita tua sialan!".
Dan suara itu menghilang begitu saja. "Tapi suara apa itu?" Pada akhirnya aku tidak melihat siapapun. Mungkin aku harus istirahat sebentar. Aku berjalan dan terus berjalan mencari penginapan yang di maksud wanita itu sebelum hari menjadi gelap. Hanya perasaanku saja atau memang di dunia ini waktu berlalu dengan sangat cepat?
"Ketemu". Akhirnya senyumanku mengembang. Aku langsung masuk ke dalam penginapan dan menanyakan tentang kamar yang sudah dipesan atas namaku pada seorang wanita tua yang merupakan pemilik penginapan. Setelah mendapatkan kunci kamar, aku tidak membuang banyak waktu lagi dan langsung pergi ke kamarku. Aku sangat lelah berjalan. Aku melihat seisi ruangan yang menjadi tempat tinggalku sementara. Kamar ini tidak begitu luas. Hanya ada satu tempat tidur tunggal, satu nakas, satu meja, satu sofa panjang, satu jendela yang tidak begitu besar, dan paling tidak ada kamar mandi di dalam. Aku memutuskan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur.
Keesokan harinya…
"Kaa-chan… Aku siap untuk sarapannya…". Aku langsung membuka mataku dengan cepat karena sadar dengan suaraku sendiri yang mengigau.
-Deg-
"Kami-sama…". Aku seperti orang bodoh. Bermimpi jika keluargaku masih hidup. "Ha ha dasar kau ini Hinata…". Pada akhirnya aku hanya menertawai diriku sendiri. "Yabai… a-aku harus cepat bangun sekarang. Aku harus menemukan kunci itu". Aku segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
-Beberapa saat kemudian…-
Aku keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju lobi. Dan di sanalah aku melihat koper yang memuat barang-barangku.
"Aku membawakan kopermu…".
"Hime-sama?". Dia tidak memberitahuku namanya. Jadi sekarang aku memanggilnya dengan asal.
"Hahaha… Aku senang melihatmu seantusias ini… aku yakin kau pasti sudah bertemu dengan mereka…".
"Ha-hai… tapi saya hanya bertemu dengan tiga orang saja… Anda bilang ada empat orang…"
"Ya… yang ke empat adalah salah satu orang yang menguasai dunia ini… Dia mungkin saja tertarik padamu… sekarang ini dia sudah menghancurkan segelnya…"
"Aku akan keluar mencari mereka hari ini… Mungkin saja nanti aku secara tidak sengaja menabrak salah satu dari mereka lagi…".
"Sebelum itu kau harus sarapan, kau ingat?".
"Ta-tapi…"
"Kau membutuhkan tenaga lebih untuk melakukan misimu… Aku membawakan makanan untukmu… kita sarapan saja dulu…"
"Ha-hai…"
Selama sarapan, aku terus bertanya tentang dunia ini. Tapi Hime-sama hanya memberitahuku beberapa hal saja.
"Apakah salah satu diantara mereka sudah ada yang tertarik padamu?". Tanyanya tiba-tiba saat kami selesai makan dan keluar dari penginapan.
"Be-belum…"
"Hahahah… Itulah yang aku bayangkan dari tadi… Tapi, bagaimanapun juga semoga beruntung untuk hari ini…"
"e-etto…". Belum sempat aku mengatakan sesuatu, Hime-sama menghilang lagi dengan meninggalkan suara tawa yang aneh. Caranya tertawa benar-benar membuatku takut. "Yosh… ayo mulai menemui mereka Hinata…".
-TBC-
