Casts
Kelas 2: Min Yoongi
Kelas 1: Park Jimin!GS | Jung Hoseok!GS
Other casts menyusul
AU. School life. Young romance. Friendship.
Rated: T
MELT
Ketika musim panas bertemu dengan musim dingin
.
Chapter 1: That cold sunbae
[Jimin POV]
Aku kesiangan, ralat, maksudku kami.
Ralat lagi, ia membuatku jadi kesiangan.
Terimakasih kepada Jung Hoseok yang semalaman curhat tentang Taehyung, hoobae-nya sewaktu SMP yang statusnya sudah tidak menjadi pacarnya lagi.
Sungguh, aku tidak tega melihat Hosiki-ku yang biasanya terlihat seperti kelebihan asupan gula darah, beberapa hari kemarin termenung dan hanya bicara kalau ditegur. Ia bahkan tidak tidur sampai subuh sewaktu tadi malam menginap di rumahku.
Aku yang sangat menyayangi sahabatku itu tentu saja dengan senang hati menemaninya begadang dan mendengarkannya bercerita tentang sang mantan.
Tapi jika efeknya jadi tidak bisa ikut kuis karena datang terlambat ke sekolah, wajar kan, jika aku ingin menjambak rambut Hoseok?
Sekarang berakhirlah aku di ruang detensi. Ralat, maksudku kami. Aku, Hoseok, dan beberapa anak lainnya yang tidak kukenal—beberapa dari mereka sunbae. Mereka juga datang terlambat sepertiku.
Setelah didiamkan agak lama di sana, aku, Hoseok, dan satu sunbae diberi hukuman membereskan ruang olahraga. Aku tidak tahu nama sunbae itu karena daya ingatku memang buruk. Hosiki selalu meledekku IJP. Bukan Ih-Jimin-Pendek, ya, melainkan Ingatan-Jangka-Pendek.
Ada alasan kenapa aku tidak banyak mengenal siswa lain di sekolah. Aku tak pernah memperhatikan lingkungan sekitarku. Bukannya aku membuang sampah sembarangan atau tidak menutup keran setelah dipakai. Bukan lingkungan yang seperti itu yang tidak kuperhatikan.
Aku selalu memandang lurus setiap berjalan. Bukannya sombong, aku hanya tak biasa memulai percakapan dengan orang-orang yang tak terlalu akrab denganku. Jadi, daripada bertemu mata dengan orang asing lalu jadi harus berbasa-basi, lebih baik aku tidak melihat ke arah mereka sama sekali, bukan?
"Putus cinta, 'gak ikut kuis, detensi, disuruh bersih-bersih. Malang sekali nasibmu, nak..", seruku pada Hoseok yang sedang mengepel lantai gedung olahraga.
"Aish, Park Jimin! Jangan membahas hal itu di sini. Atau kamu ingin mendengarku bercerita sampai subuh lagi?"
"No, no, no. Big no, miss Jung. Cukup sekali saja aku skip kuis, karena dengan itu saja aku harus belajar ekstra supaya kuis selanjutnya dapat nilai sempurna. Untuk menutupi nilai kuis yang sekarang aku lewatkan, kalau kau ingin tahu."
"Ya! Bukan hanya kau yang ketinggalan kuis, tapi aku juga! Kita kan satu kelas, pabo!", seru Hoseok sambil mengangkat tongkat pelnya ke udara dan bersiap-siap mengejarku.
Aku yang sudah menebak gerak-gerik sahabatku itu sudah akan berlari kalau tidak menubruk tubuh seseorang sekaligus menimpanya.
"Argh, wajahku.", seruku saat merasakan denyut kesakitan di seluruh wajahku. Rasanya seperti menabrak lemari, padahal aku kan cuma menabrak orang. Hah?! Aku menabrak orang! Hoseok ada di belakangku. Jadi siapa….
Aku mendongakkan wajahku dan langsung segera bangkit dari tubuh orang yang aku tabrak, dan aku tindih.
"Ah, sunbae! Maafkan aku yang begitu ceroboh ini.. Sunbae baik-baik saja?", tanyaku pada orang itu sambil menjulurkan tangan untuk membantunya bangun. Aku begitu terkejut saat orang itu mengacuhkan tanganku dan bangun sendiri.
"Kalian begitu berisik dan baru lima-belas menit di sini sudah menyebabkan kecelakaan. Aku rasa sebaiknya kalian pergi, biar aku yang menyelesaikan sisa hukuman ini.", kata orang itu dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Hiiiih. Berisik katanya? Penyebab kecelakaan? Kalau saja kau tidak berada di depanku saat aku berbalik dan hendak berlari, aku juga tidak akan menabrakmu!
"Mana bisa begitu, sunbae. Kita bertiga dihukum membersihkan ruangan ini. Bagaimana kalau Lee sonsaengnim melihat cuma kau yang membersihkannya? Hah, bisa kacau dunia pertarian."
"…Persilatan, Jiminnie..", kata Hoseok, membetulkan istilah yang kugunakan.
"Apapun. Jadi, kita bertiga tetap membersihkannya bersama."
"Kalau begitu, jangan berisik.", kata sunbae itu dingin. Ia lalu pergi ke sudut kanan ruangan yang memang belum aku atau Hoseok pel.
"Hish. Siapa, sih, sunbae itu?", kataku sambil berbisik pada Hoseok.
"Dia Min Yoongi, kelas 2. Anak basket. Bukannya kamu sering menonton anak basket kalau sedang latihan?", jawab Hoseok sambil berbisik juga.
Aku mencoba mengingat saat-saat aku menonton latihan klub basket. Namun sosok sunbae itu tidak ada di sudut ingatanku. Sekarang aku mengakui ucapan Hoseok kalau IJP-ku sudah parah.
Aku menggeleng pelan, menandakan kalau aku tidak mengingat sunbae itu.
"Itu, loh.. MVP-nya tim basket sekolah. Yang suka pake headband merah. Ah, kemarin-kemarin, sih, rambutnya masih warna hijau terang. Mungkin karena sekarang rambutnya silver kamu jadi lupa.", jelas Hoseok.
"Aah.. Sunbae yang itu, toh!", aku berseru tapi tetap dalam mode berbisik. Aku tidak mau sunbae itu tahu kalau kami sedang membicarakannya. Nanti dia ge-er, lagi. Hiiiih.
"Dia cool sekali di lapangan, tapi ternyata dia menyebalkan di luar lapangan. Cool juga sih, tapi jenis cool yang menyebalkan. Ah, berarti lebih cocok kalau disebut cold, bukan cool.", lanjutku.
"Dia memang terkenal dingin, Jiminnie.. Bahkan aku dengar gosip kalau waktu itu ada yang nembak dia waktu tim basket lagi latihan.."
"Terus, terus?"
"Terus ditolak. Gitu aja. Dia tolak, terus lanjut latihan kayak nggak ada apa-apa. Padahal cewek itu masih diam di tengah lapangan. Kayaknya doi shock."
"Terus sunbae itu 'gak ngapa-ngapain cewek itu? Nganter ke pinggir lapangan apa gimana, gitu?"
"Nggak. Dia mah lanjut 'aja latihan nge-shoot. Teman-teman timnya 'aja sampai bengong."
Gila. Sedingin itukah Min Yoongi sunbae.
"Terus akhirnya cewek itu gimana?", tanyaku penasaran dengan nasib cewek malang itu.
"Katanya sih ditarik ke pinggir lapangan sama salah satu anggota tim. Terus habis itu cewek itu diam, 'gak melakukan apa-apa. Sampai beberapa menit kemudian ada teman-temannya datang menjemput. Menarik-narik paksa cewek itu buat ngejauhin lapangan."
"Aku jadi penasaran apa yang dikatakan sunbae itu padanya.."
"Sunbae itu terkenal 'gak pernah memedulikan perasaan orang lain. Mungkin dia bilang kalau dia 'gak suka sama cewek itu, entahlah."
Aku dan Hoseok melanjutkan acara membersihkan ruangan olahraga sambil terus membicarakan sunbae itu.
Ω
Ah, sial! Kenapa harus hujan, sih!
Aku terjebak di halte bis depan sekolahku. Tadi aku ada kegiatan klub, makanya aku pulang terlambat. Dan sekarang aku harus menunggu bis lainnya yang mengarah ke rumahku sekitar setengah jam lagi.
Kalau saja hujan tidak turun, aku bisa berjalan ke halte selanjutnya, atau ke tempat makan, atau ke mana pun asal tidak kedinginan di halte bus ini.
Ah.. Aku bosan sekali menunggu sendirian seperti ini. Hoseok tadi pulang duluan karena kegiatan klub dance-nya memang dilaksanakan setiap hari Selasa, bukan hari Senin seperti klub vokalku.
Mana sekolah sudah sepi.. Langit juga mulai menggelap. Tidak akan ada yang menculikku, kan?
Baru saja pikiran negatif terlintas di otakku, ada sosok hitam berlari menuju ke arahku. Sontak aku membelalakkan kedua mataku yang sipit.
Dewa langit, tolong jangan bercanda.
Sosok itu semakin mendekat. Aku tidak tahu harus bagaimana. Otakku memerintahkan untuk segera berlari, tapi kakiku tidak memproses perintah itu dengan baik. Apa tadi ada yang menumpahkan lem di lantai halte bis ini? Karena kurasa kakiku menempel erat dengan lantai.
Sekarang sosok itu sudah berada satu atap denganku. Tapi berbeda denganku yang hanya basah terkena cipratan hujan, ia basah kuyup setelah tadi merebos hujan.
"Hiiih, gila! Dingin banget!", seru sosok itu.
Aku menyipitkan mata untuk memperjelas pandanganku. Rasanya aku kenal dengan sosok itu..
Kakiku sekarang bisa digerakkan. Tapi, alih-alih bergerak menjauh, kakiku malah membawa tubuhku mendekat dengan sosok itu.
Ternyata sosok itu adalah si cold sunbae.
Aku berniat menyapanya karena bagaimana pun juga, tadi pagi kami berinteraksi, bukan?
Memang, sih, biasanya aku tak pernah menyapa orang lain terlebih dahulu, apa lagi yang tidak terlalu kukenal. Tapi sekarang sudah pukul 7 malam, hujan deras, dan aku sudah terlalu bosan menunggu bis dalam diam. Jadi aku benar-benar menyapanya.
"Annyeong, sunbae."
Yoongi sunbae membalikkan tubuhnya menghadapku. "Oh, kamu."
Tuh, kan. Dingin. "Ne, sunbae. Kenapa baru pulang?"
"Tadi aku ketiduran di ruangan tim basket. Yang lain sengaja tidak membangunkanku. Mereka bahkan mengambil payung, dompet, ponsel, dan juga kunci motorku.", kata Yoongi sunbae. Aku tidak tahu ia secerewet ini. Ia juga melanjutkan, "Mereka hanya meninggalkan 1.500 won di saku celanaku. Cukup untuk ongkos bis sampai halte dekat rumahku. Dasar, tim gila."
Aku jadi terkekeh karena sekarang Yoongi sunbae-lah yang cerewet, bukan aku. "Kenapa mereka melakukan itu padamu, sunbae? Apa kau sedang berulang tahun?"
Aku tidak menyangka Yoongi sunbae akan menjawab "Ne.", mengiyakan tebakanku.
"Wah, saengil chukae kalau begitu.", kataku.
"Gomawo.", katanya singkat. Tapi aku dapat melihat sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Timmu usil sekali, sunbae.", kataku lagi. Mengalihkan pikiranku dari bibir tipis Yoongi sunbae.
"Begitulah, tiap ada yang ulang tahun pasti dikerjai.", kata Yoongi sunbae sambil menatap hujan. "Bahkan tadi pintu loker dikunci dari luar. Jadi tadi aku keluar lewat jendela."
Aku tertawa mendengar ujaran Yoongi sunbae. "Ah, maaf, sunbae. Aku tidak bermaksud menertawaimu.", kataku karena tiba-tiba saja ia menatapku lagi.
"Ani, nggak apa.", katanya. Lalu ucapan Yoongi sunbae selanjutnya membuatku terkejut. "Suara tertawamu lucu, enak didengar."
Deg!
Apa ini? Ada apa dengan jantungku?
"Ah, sunbae bisa saja.", kataku sambil berpura-pura membenarkan rambutku. Bagaimana kalau ia melihat wajahku yang memerah? Ah, aku pasti akan malu sekali.
"Nggak, aku serius. Coba deh kamu nyanyi, aku yakin suaramu pasti bagus."
"Em.. aku memang ikut klub vokal, sih, sunbae."
"Tuhkan, ikut klub vokal pula. Coba, nyanyi lagu selamat ulang tahun untukku."
"Hm.. Baiklah.", lalu aku pun menyanyikan satu lagu untuknya.
Ini pertama kalinya aku bernyanyi untuk orang asing. Biasanya aku hanya bernyanyi di depan keluarga dan teman sekelas, di klub, dan di gereja saja. Ini pertama kalinya aku bernyanyi di hadapan seorang laki-laki yang baru kukenal tadi pagi, di ruang terbuka, di tengah guyuran hujan yang seakan-akan menjadi background music nyanyianku.
"Kyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin
(lahir di musim dingin, kau cantik
bersih seperti salju, kau adalah milikku)
Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun
Nuncheoreom malgeun namanui dangsin
(lahir di musim dingin, kekasihku
jelas seperti salju, kau adalah milikku)
Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae
(terlepas apakah itu musim semi, musim panas,
musim gugur, atau musim dingin
selalu jelas dan bersih)
Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida
Saengil chukhahamnida.
(selamat ulang tahun untukmu, selamat ulang tahun untukmu
selamat ulang tahun untukmu)
Happy birthday to you, Yoongi sunbae.."
Aku menyanyikan lagu Suzy Miss A yang berjudul 'Winter Child' untuknya. Setelah nyanyianku selesai, tanganku langsung ditarik oleh Yoongi sunbae ke pelukannya yang dingin. Dia basah kuyup, ingat?
Aku terlalu terkejut untuk sekedar bergerak. Hingga suara berat Yoongi sunbae menyadarkan akal sehatku. "Terimakasih, Park Jimin. Indah sekali."
Yoongi sunbae lalu bercerita, sebenarnya ia sudah menyukaiku sejak lama. Dan tadi di ruang olahraga ia tidak bermaksud menyebutku cerewet ataupun mengusirku. Ia hanya tidak tega melihatku membersihkan ruang olahraga sebesar itu, jadi ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Padahal sebenarnya ia ingin berlama-lama denganku.
"Kau tahu, aku merasa bersyukur sekali hari ini. Awalnya aku merasa sial karena di hari ulang tahunku, ban motorku malah bocor sehingga aku jadi datang terlambat ke sekolah. Tapi pikiranku langsung berubah ketika aku melihatmu di barisan siswa yang terlambat."
Aku tercengang mendengar Yoongi sunbae berkata seperti itu. Apakah ini benar Min Yoongi, sunbae yang tadi pagi aku bicarakan dengan Hoseok? Bukankah Hoseok bilang ia dingin?
"Ketika guru menggiring kita ke ruang detensi, aku berusaha sekuat tenaga menahan pekikan senangku. Aku bukannya senang kamu dihukum, tapi aku senang karena untuk pertama kalinya aku akan berada di ruangan yang sama denganmu."
Yoongi sunbae terus melanjutkan pidato romantisnya itu.
"Apalagi saat Lee ssaem menghukum kita bersama. Rasanya aku rela membersihkan seluruh sekolah jika itu bisa membuatku dekat denganmu."
"Lalu tadi setelah sadar aku dikerjai oleh timku, dan sekarang hujan deras, aku kembali berpikir bahwa ini adalah ulang tahun terburuk yang pernah kualami. Hingga aku melihat sosokmu sedang menunggu di halte bis sendirian. Aku tidak memikirkan apapun lagi, yang jelas aku ingin menghampirimu saat itu juga. Makanya aku berlari hujan-hujanan kemari."
"Aku sengaja diam dan tidak menyapamu karena aku sedang menstabilkan pernapasanku dan detak jantungku. Bukan karena lelah berlari, tapi karena kamu ada di dekatku lagi. Dan sepertinya dewa langit sedang berbaik hati padaku karena kamulah yang lebih dulu menyapaku."
Yoongi sunbae melepaskan pelukannya dan menatap wajahku.
"Jadi, Park Jimin. Apa kamu mau menjadi pacarku?"
Aku tidak mengerti dengan tubuhku.
Kepalaku mengangguk dengan sendirinya.
Lalu Yoongi sunbae pun memelukku lagi seraya berkata "Gomawoyo, ini ulang tahun terbaik seumur hidupku!"
Ω
TBC
Chapter 1 updated!
Pairingnya udah jelas kan siapa? Yoonmin! kkekeekekeke
ini masih bersambung kok soalnya aku kurang suka oneshot
aku sukanya yang panjang2 biar kayak sinetron haha
nanti ada pengganggu di hubungan yoonmin
siapa kah dia
jengjengjenggg
apakah hoseok?
jengjegjengjeng
temukan jawabannya di chapter selanjutnya mwachhh
