Happiness for You and Me

Story by Sae Kiyomi

Trent x Claire

Disclaimer: Harvest Moon bukan milik Sae!

Request by Summist Moon

.

.

.

Dokter Claire adalah dokter dari sebuah desa terpencil. Karena suatu masalah di kota besar, beliau dan asistennya, Suster Elli pergi ke rumah sakit kota, dan bekerja di sana. Tapi Claire bertemu dengan orang yang menurutnya itu kurang ajar, dan tidak tahu didikan, bernama Trent. Claire tidak tahu, bahwa Trent itu adalah seorang dokter juga. Bagaimana kisah hidup mereka yang gempar dan penuh kekacauan itu?


"Dokter Claire… kita sudah sampai… Dokter! Bangun!" kata Elli mengguncang-guncangkan tubuh Claire. Sedangkan sang 'DOKTER' malahan tidur dengan nyenyaknya. "Terpaksa deh, pakai cara ini," kata Elli. Dibukanya lengan baju Claire, dan dicubitnya.

"Aaaawww!" pekik Claire.

"Kita sudah sampai, DOKTER!" kata Elli.

"Ah, sudah ya? Sekarang jam berapa?" kata Claire celingukan.

"Jam… dua pagi," kata Elli melirik arlojinya. "Dokter ini, kalau bekerja di rumah sakit besar, harus siap begadang! Kalau nanti ada pasien dadakan, gimana?"

"Tenang aja, kan ada Elli yang akan membangunkan aku… ehehe…"

"Dokterr! Kamu masih mengingau!" teriak Elli sambil menampar bolak-balik Claire. "Dasar, gara-gara tadi minum cola yang disuguhkan, sih. Ternyata Dokter mabuk sama soda, ya."

"Elli? Ini di mana? Negeri sihir ya?"

"DOKTER!" teriak Elli setengah menangis, takut Claire tidur lagi. Elli akhirnya menyeret Claire keluar dari kereta, dan menidurkannya di bangku stasiun, dan menyeret koper-koper Claire dan kopernya, lalu duduk di sebelah Claire. "Capeeek…"

Elli melihat keran air di sebelah Claire, dan hendak mengguyur dokternya itu sehingga bangun. Namun bukannya berhasil, malahan Elli didatangi dua orang bapak-bapak.

"Mau ke mana, nona cantik~?"

"Ah, aku mau ngambil air," kata Elli ketakutan, namun tetap senyum.

"Wah, masih muda. Kamu sama kami aja ya?" kata yang lain.

"Ap- TIDAAAAK!" teriak Elli. Namun percuma, karena tempat itu sepi. Sedangkan Claire tetap saja tidur pulas.

"Jangan berontak, nanti sakit lho?" kata bapak-bapak mabuk itu. Perlahan, dengan tangan-tangan menjijikan itu, mereka memaksa buka baju Elli.

"Wah, nona cantik ini suster ya? Rawat aku juga dong~"

"HEH, BRENGSEK! APA YANG KALIAN LAKUKAN SAMA ELLI!?" tongkat panjang mengarah kepada kedua bapak-bapak itu. Claire, setengah mabuk mengayunan tongkat wushunya. Ternyata dia bawa juga.

"Wah, yang ini lebih muda lagi~"

Tanpa segan-segan, Claire menghajar kedua pria mabuk itu dengan tongkat wushunya. Elli yang merasa terlepas dari pria-pria mabuk itu, langsung sembunyi di balik Claire. "Dokterrrr…"

"Minggir, Elli! Akan aku hajar orang-orang mabuk itu!" kata Claire menggulung lengan bajunya.

Kamu juga mabuk, dokter… kata Elli dalam hati. Claire menjatuhkan tongkatnya, dan mulai menghajar orang-orang itu dengan anggota badan.

Tanpa habis dipukuli, ditendangi dan diikat mereka. "Elli, ayo kita pergi."

Mereka pergi dari stasiun, namun karena Claire masih mabuk, dia tidak bisa berjalan dengan baik.

"Bi-biar aku tuntun, Dokter!" kata Elli membopong Claire. "Dimana tinggalnya?"

"Di apartemen…" kata Claire. Claire menunjukkan jalan, dan Elli membopong Claire yang masih mabuk. "Aku harap sebentar lagi sampai ya, Elli. Karena aku mau muntah sekarang."

"APA!?" kata Elli kaget. Segera dia menuntun Claire masuk ke dalam apartemen sederhana itu, dan menaruh Claire di toilet yang dekat sama pintu masuk.

"HUEEEK… Ohok… Ohok… Ehkk…"

"Suaranya enggak elit banget, Dokter," kata Elli sambil menyeret koper masuk. Tampak dua kamar tertata manis di dalam apartemen mungil itu. Elli memasukkan koper miliknya ke dalam kamar Claire, dan koper lainnya ke kamarnya.

Claire keluar dari toilet dengan wajah pucat. Elli tersenyum geli. "Sebentar ya, aku ambilin air hangat dulu."

Claire mengangguk lemas. Elli yang sudah menjelajahi apartemen mungil itu jadi langsung dapat menemukan dapur yang terletak di sebelah toilet. Setelah memanaskan air, Elli memberikan air itu kepada Claire, agar mulutnya tidak terlalu bau.

Akhirnya, mereka berdua tertidur di sofa yang ada di apartemen itu.


"Huuo! Besarnyaaa!" kata Claire di depan rumah sakit bergedung itu.

"Namanya juga kota, Dokter."

"Elli! Elli! Lihat, ada lift!" kata Claire kagum.

"Dokter, kita diperhatikan orang nih. Kita dipikir 'kampungan'," kata Elli sweatdropped.

"Ih, Elli cerewet deh. Emang kita dari desa kok. Kalau mereka enggak seneng, ya kita tinggal pulang," kata Claire cemberut.

"Iya deh, Ibu Dokter," kata Elli tertawa kecil.

"Aku masih muda!"

DUAG~! Suara nan elit ini adalah sebuah even saat Claire menabrak seseorang.

"Aduduh…" kata Claire sambil mengelus kepalanya yang tertabrak pot bunga besar. "Heh, jalan lihat-lihat!"

Claire terkesiap ketika membalikkan badan, bertemu pandang dengan orang yang menabraknya.

Elli sampai berbisik, "Cakep…"

"Maaf, apa kamu tidak apa-apa?" kata orang itu menjulurkan tangannya, membantu Claire berdiri. Namun gadis itu menolaknya.

"Eh, apa-apaan kamu?! Punya mata enggak!?" kata Claire marah-marah. Claire mengomel sambil berdiri sendiri. "Kalau jalan, lihat-lihat dong!"

Sepertinya orang itu tidak senang akan tingkah laku Claire yang tergolong 'kampungan', dan membalas caci makian Claire. "Aku sudah minta maaf, lagi pula salah sendiri teriak-teriak di dalam Rumah Sakit."

"Oh, jadi kalau ini Rumah Sakit, tindakan kurang ajar bisa dimaafkan!?" balas Claire.

"Dok-dokter!" kata Elli berusaha melerai, sambil menarik tangan Claire.

"Dokter?" kata orang itu tertawa miris. Ia emperhatikan Claire dari atas sampai bawah. "Tidak cocok dengan image-mu."

"Heh, siapa kamu berani-beraninya ngomong begitu!?" kata Claire merasa ditantang.

"Aku?" ucap orang itu. Ia tersenyum. "Aku terkenal di sini."

"WOIII! TUNGGU!" teriak Claire saat orang itu pergi. "Dasar mencurigakan. Elli? Hallo? Kamu masih ada jiwanya, kan? Ada apa?" ucap Claire sambil mengayun-ayunkan tangannya ke wajah Elli.

"Enggak kok," ucap Elli.

"Kenapa? Kamu naksir?"

"Enggak. Tapi jujur, dia cakep."

"Elli, kamu ngigo?" kata Claire mencibir. "Walaupun wajahnya tampan, tapi kalau sikapnya jelek sama aja bukan!"

"Iya deh. Ayo kita tanyai suster kepala, atau pemilik rumah sakit ini."

"Yaaa."


"Yo! Cepat sembuh!" kata Claire sambil melambaikan tangannya dengan senyum. Itu pasien terakhirnya hari ini. "Elli! Kita hari ini selesai~!" ucap Claire sambil menarik Elli yang sedang mencucikan perabotan.

"Eh? Iya," kata Elli setengah terseret. "Kita mau ke mana, Dokter?"

"Kita jelajahi rumah sakit ini, yuk~ aku tadi sempet nyasar, pas mau ke wc. Sekarang aku mau meriksa detail tempat ini," kata Claire.

"Sebentar ya," kata Elli sambil menaruh perabotan seperti thermometer, stetoskop, dan lainnya ke dalam rak. Mereka berjalan menjelajahi tempat itu, dengan Clarie menyilangkan tangannya di antara kepala, dan Elli memeluk papan kertas.

"Dok-dokter," kata Elli merintih.

"Ada apa?"

"W… C…" ucap Elli kebelet.

"Belok kiri, yang ada gambar orang pink," kata Claire tegas.

"Bukan begitu!" kata Elli. "Tolong tunggu aku!"

"Baiklah," kata Claire. Elli segera berlari masuk ke dalam toilet wanita, dan Claire hanya bertampang cool dengan memasukkan tangannya ke kantong saku.

Dug! Aw, ada yang pukul kepalaku dari belakang… pikir Claire.

"AWW! SAKIT, TAHU! LIHAT-LIHAT DONG KALAU JA-… KAMU LAGI!" teriak Claire kesal, melihat orang taid pagi yang membuatnya emosi.

Orang itu menjulurkan lidahnya, sepertinya senang menganggu Claire.

"APAAN SIH!?" bentak Claire.

"Sudah betah bekerja di sini, 'Ibu Dokter'?" kata orang itu membuat Claire ingin meledak.

"Tidak jika kamu terus berkeliaran di sini," kata Claire mencibir.

"Ih, judes deh," kata orang itu mencubit pipi Claire.

"Apaan sih!?" kata Claire meronta. Di balasnya menendang perut orang itu.

"Aduh… sakit! Jangan nendang dong!" kata orang itu merintih.

"Salah sendiri isengin aku," kata Claire kesal. Gadis muda itu menoleh ke sebelah kiri. "Elli? Kenapa kamu bengong?" kata Claire menyadari bahwa Elli sudah keluar dari toilet.

"Enggak," kata Elli gugup, mendekati Claire. "Ah, Dokter Muda Trent, selamat siang," kata Elli menunduk.

"Selamat siang," kata orang itu, yang dipanggil Dokter Muda Trent, membalas sapaan Elli.

.

.

.

"APAAAA!?" teriak Claire kaget. "KAMU DOKTER!?"

"Lebay deh," kata Trent cemberut.

"MUSTAHIL!"

"Kenapa mustahil?"

"KAMU KAN… KAMU KAN…" Claire kehabisan kata-kata.

"Sombong?"

"I-IYA!"

"Ih."

Gadis berambut pirang itu langsung berbalik menghadap ke Elli. "Elli!"

"I-iya, Dokter?"

"KAMU TAHU DARI MANA ORANG INI… ORANG INI… ORANG INI…"

"Dokter?" sambung Trent.

"IYA!" kata Claire dengan wajah pucat.

"Eh? Diomongin kok sama perawat-perawat lain," kata Elli kaget, saat pundaknya dicengkram Claire.

"Kamu tidak tahu? Akulah sang dokter jenius," kata Trent tersenyum kemenangan.

"Ya Tuhan," gumam Claire memegang kepalanya. "Aku sakit sekarang…"

"BENARKAH!?" kata Trent panik. "Kamu harus di bawa ke tempat periksa!"

"Bohong kok," kata Claire menjulurkan lidahnya.

Wajah Trent memerah. "Ap-apa!? Kamu mengerjaiku!"

"Rasakan, Dokter JENIUS," kata Claire berlari kabur, sambil menyeret Elli.

"Woi, tunggu!"


"Dokter sama Dokter Trent akrab ya."

Claire cengo. "Apanya?"

"Iya, habisnya…"

"Habisnya apa?" kata Claire sambil senyum, tapi senyum jahat yang berarti 'ngomong-lagi-kucincang-kau.'

"Enggak jadi, deh," kata Elli yang sadar situasi. Claire membereskan dokumennya, dan hendak pulang ke apartemen mungil mereka.

"Yuk, Elli. Kita pulang," kata Claire sambil memasukkan jas putihnya ke dalam tas besarnya.

"Ya," ucap Elli sambil memasukkan peralatan pribadi miliknya dan Claire ke dalam tas besar Claire.

"Hoi, 'Ibu Dokter'."

"Tanpa menoleh aku sudah bisa menebak pasti kau, Dokter yang dijuluki J-E-N-I-U-S," kata Claire tanpa menoleh.

Tampak Trent tengah terkekeh.

"Apa?" jawab Claire.

"Hei, aku mau mengajakmu pergi," kata Trent tengah bertengger di pintu tempat praktek Claire.

"Maaf, tidak tertarik."

"Kenapa?"

"Karena pasti aku akan diceramahi, dan terus-terusan dijuluki 'Ibu Dokter'," kata Claire mencibir.

"Lho? Bukannya memang kamu perempuan?"

"TAPI AKU MASIH MUDAAAA!" teriak Claire kesal.

"Maaf deh," kata Trent tersenyum. Claire membuang muka. "Jadi?"

"Aku harus pulang, juga Elli," kata Claire.

"Elli itu sustermu ini kan?" kata Trent menunjuk Elli.

"Benar, Dokter Muda Trent," ucap Elli tersenyum sambil mencuci perabotan.

"Baiklah," kata Trent. "Ayo, Dokter Magang, kita pergi dari sini! Aku mau mengajakmu!" rengek Trent.

"AKU BUKAN DOKTER MAGANG, YA! AKU DI SINI BEKERJA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH! DOKTER YANG MERASA PINTAR SEPERTIMU TIDAK MENGERTI ORANG LAIN BERUSAHA, KARENA MEREKA SUDAH BISA DARI DULUNYA!" kata Claire kesal. "Dan jawaban ajakanmu adalah TIDAK!"

"Hmng… bagaimana kalau ini?" kata Trent sambil mengeluarkan sebuah buku berwarna biru laut. Mata Claire langsung tertuju kepada buku itu. Mimik wajahnya berubah. Menjadi lebih pucat dan gelap.

"Bukuku!" kata Claire panik. "Kembalikan!"

"Tidak," kata Trent mengejek.

"Kumohon," rengek Claire.

"Akan aku kembalikan kalau kamu mau pergi bersamaku," kata Trent melempar-lempar buku itu ke udara.

"…" Claire terdiam. Sungguh penuh pertimbangan. "Tapi… nanti Elli…"

"Gampang," kata Trent tersenyum nakal. Dibukanya dompet miliknya, dan mengeluarkan dua lembar uang yang pastinya bernilai besar. "Pakai ini untuk pesan taksi." Elli menerima uang dari Trent dengan ragu-ragu.

"Dokter…" panggil Elli bingung.

"Pakai saja. Sisanya buat jajan," kata Claire santai. "Dan bawa juga ya tas ku. Kalau ada apa-apa, jerit saja."

"Santai banget ngomongnya," kata Trent. "Oke, selamat jalan, perawat muda!" lalu Trent menyeret Claire sambil berjalan ringan.

"Jalannya pelan-pelan, aku juga punya kaki, kok!"


Bersambung -Chapter 2 END-


SaeSite

Sae: terima kasih sudah membaca fict ini. Pertama Sae alurnya beda, lho. Pertama Sae mau bikinnya si Trent itu pasiennya, sebagai pasien yang suka ngisengin dokternya sendiri, tapi ternyata dapetnya si Trent sebagai 'Dokter Jenius'.

"BERHENTILAH MENGEJEKKU!" "Sedang apa kamu di rumahku!?" "Dasar tukang gombal!" "Kamu yang membiayainya kuliah? Kamu dapat uang dari mana?" "Nah, bocah geng sejati!" "Soalnya kamu nyetrik." "Kamu enggak melakukan yang aneh-aneh sama aku, kan?" "Rasakan ini!" "AKU SUNGGUHAN SAMURAI!" "SIAPA YANG CEWEK ALIEN, BOCAH TENGIK!?"