Chap 2

Maaf update-nya lama.

Sebenarnya aku berpikir ini udah gak mau aku lanjutin. Tapi... sayang... udah ada yang review sih... (Tapi aku tidak menyalakan reviewer) Malah bagus akhirnya ini bukan menjadi fic yang terbuang.

Warning∶ Yaoi/Shonen-ai/Blood/

Rated∶ M for sadistic and bloody scene

NARUTO (c) Mashashi Kishimoto

Story (c) Me

DARK BLOOD

Taring tajam yang menancap di leher Yamato sudah merajai rasa sakit yang mengalir di seluruh nadi yang ada di tubuh Yamato. Vampire itu sudah menghisap darah yang Yamato miliki dengan cepat dan penuh napsu. Sebelah tangan vampire itu memegang sisi leher yang satunya.

Tangan Yamato beserta seluruh tubuhnya gemetar. Yamato berusaha meraih pisau peraknya namun entah vampire itu tahu atau tidak dan mempercepat isapannya. Membuat Yamato semakin melemah dan lemas. Napas Yamato mulai tersenggal-senggal. Susah sekali untuk bernapas. Yamato merasa kepalanya sangat pusing, dan setelah vampire itu melepaskan taringnya, Yamato terjatuh ke lantai masih dengan mata yang terbuka dan napas yang tertahan.

"Tenang saja," Kata Vampire itu memegang wajah Yamato. "Kau tak akan mati. Ataupun menjadi seperti kami. Aku Uchiha Madara belum membiarkanmu seperti kami. Dan kau tak akan kubiarkan mati begitu saja," Kata Madara sambil mengelus wajah Yamato. Bola mata hitam yang dimiliki Yamato perlahan melirik siapa vampire itu. Sialnya ia tak bisa melihat wajah vampire keparat yang sudah berani menancapkan taringnya ke lehernya.

Ingin rasanya memukul vampire itu, ingin rasanya meludahi vampire itu, ingin rasanya membunuh dirinya sendiri ataupun vampire itu. Dan setidaknya ingin sekali berkata-kata untuk mencaci maki vampire yang berjongkok dengan angkuhnya dan bisa mempermainkan Yamato. Seorang hunter. Vampire itu menyeringai dalam kegelapan dan berbisik.

"Tidur...!" Itu perintah dan mata Yamato terpejam dalam kegelapan yang sunyi dan dingin.

XXXX

Esok paginya Yamato di kasurnya seperti habis mengalami mimpi buruk. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Wajahnya pucat dan napasnya tersenggal-senggal. Cahaya mentari pagi menyinari ruangan itu, masuk melalui jendela yang terbuka dan menghasilkan bayangan-bayangan dari benda yang terkena sinarnya. Angin pagi juga ikut masuk dan menerbangkan tirai yang ada. Memang lazim.

"Ugh!" Yamato merasa kepalanya berat sekali. Ia teringat dengan kejadian semalam dan buru-buru meraba lehernya. Tidak ada bekas gigitan. Kemudian ia berjalan ke jendela dan melihat mentari yang menyilaukan matanya. 'Jadi... apa itu mimpi?' Gumam Yamato masih melihat dari jendela rumahnya. Bosan... ia pun beranjak dari sana dan segera keluar dari kamarnya. Tapi saat ia akan membuka engsel pintu, ada suara kucing di jendela kamarnya. Itu adalah kucing hitam yang kemarin malam. Duduk manis di jendela itu.

"Kucing?" Yamato sedikit bingung dan mendekati kucing itu. Tangannya mengelus kepala kucing itu dan sepertinya kucing itu merasa nyaman bersama dengan Yamato. Yamato terseyum melihat kucing itu. Tapi sesuatu menyadarkannya dan memudarkan seyum yang terlukis tadi.

"Ini kucing yang kemarin... kalau begitu... apa..." Yamato kembali pucat dan mundur selangkah menjauhi kucing itu. Ia terdiam sejenak menatap kucing yang sekarang turun dan mendekatinya. Yamato berlutut dan mengelus kembali kucing itu. 'Itu pasti mimpi...' Gumamnya kosong.

XXXX

Yamato berjalan di setapak kota kecil tersebut. Ia mengenakan jas coklatnya dan berjalan santai sambil memasukan tangannya ke saku celananya. Banyak penduduk yang sudah melakukan aktivitasnya. Ia sedikit telat bangun tadi pagi. Dan yang sedikit berbeda adalah wajahnya sedikit pucat dan ia tampak sangat lesu. Yamato berhenti ketika ia menatap Kakashi di depannya.

"Yo!" Sapa Kakashi mendekati Yamato. Yamato hanya diam saja membuat pemuda berambut perak itu hanya mengerutkan dahinya dan menatap bingung pada patnernya itu. "Tenzou?" Panggil Kakashi lagi.

"Selamat pagi..." Katanya lesu.

"Kau... baik-baik saja?" Tanya Kakashi sedikit penasaran dan prihatin.

"Tidak... hanya sedikit tidak enak badan," Jawab Yamato memegang kening kepalanya. "Dan sedikit pusing."

"Apa kau sakit? Kurang tidur?" Tanya Kakashi lagi.

"Aku..."

"Ayo pergi ke Tsunade," Kata Kakashi dan menarik tangan Yamato. Yamato tidak bisa menolak dengan tenaganya yang sekarang. Bahkan ia merasa kosong dan sedikit ada yang hilang. Tapi apa? Ia-pun tak tahu apa itu. Dan suara-suara di sekitarnya membuatnya serasa berjalan di kabut yang menghalangi jalan. Sendiri, tanpa siapapun.

'Kenapa terasa aneh?' Gumam Yamato sendiri. Ia lemas.

"Tenzou?" Kakashi berhenti ketika menyadari Yamato berhenti. Kakashi tambah terkejut ketika Yamato tiba-tiba saja jatuh dan pingsan. "Tenzou!" Teriak Kakashi kemudian membopong patner serta kohainya itu cepat-cepat ke tempat Tsunade. Tsunade adalah dokter yang terahli di kota kecil itu. Tak ada alasan orang sakit tidak di bawa kepadanya. Tentu saja itu pasti.

"Bertahanlah!" Kata Kakashi kemudian buru-buru membawa Yamato. Yamatao sendiri merasa sangat pusing dan tak dapat berpikir jernih. Yang keluar dalam benaknya hanyalah bayangan dengan seyuman yang mengerikan itu. Dan entah ia pasti sudah mengambil sesuatu dari Yamato. Dan lagi ia merasa ingin membuka mulut. Namun terkunci. Dan bukan ia yang memegang sang kunci melainkan sang bayangan.

Yamato di bawa masuk ke ruangan rawat Tsunade oleh Kakashi yang membuka pintu dengan kasar dan terburu-buru. Tsunade sedikit terkejut melihat Kakashi dan Yamato yang terkulai lemas tak dapat berdiri. Bodohnya Kakashi kenapa tidak di gendong.

"Apa yang terjadi di sini?" Tanya Tsunade kepada Kakashi sedikit keras.

"Dia..." Kakashi tak mampu menjelaskan.

"Bawa dia!" Perintah Tsunade dan Kakashi membaringkan tubuh lemas Yamato di ranjang dan Tsunade akan segera memeriksa sebelum menyuruh Kakashi keluar. "Keluar," Perintahnya lembut.

"Tapi-"

"Sekarang!" Kakashi tak dapat membantah lagi. Ia segera pergi dan menutup pintu dengan pelan. Dan Tsunade memeriksa Yamato dengan seksama. Sementara Yamato sudah setengah tertidur di alam bawah sadarnya.

XXXX

'Siapa? Siapa kau... Kenapa aku ada disini?' Gumam Yamato mendapat dirinya di sesuatu tempat yang sangat asing. Berkabut, sunyi, sepi, dan dingin bagaikan es. Tak ada siapa-siapa di sana kecuali Yamato sendiri. 'Siapa?' Gumam Yamato lagi mendapati ia melihat sesuatu. Ketika ia akan berjalan, Kakinya menginjak sesuatu yang cair.

Darah...

Ya... Darah merah pekat, yang kental dan masih baru mengalir kearah Yamato. Yamato menjadi takut dan berjalan munduru menjauhi genangan darah itu.

Ia melihat sebuah... Tidak banyak sekali mayat yang bergelimpangan.

Sakura. Ia melihat tubuh gadis itu tergantung terbalik di ranting pohon dengan perut yang kosong dengan tulang-tulang rusuk yang terlihat akibat dari cabikan burung gagak hitam yang kerap memakan dagingnya. Dan juga dengan tanpa kedua bola mata tempat darah itu mengalir.

Naruto. Ia hanya di temukan tergeletak di tanag dengan jantung yang pecah. Kepala terlepas dari tubuhnya. Tak seburuk Sakura. Tapi burung-burung bangkai datang dan menyisakannya tulang belulang.

"Huwaa!" Yamato berteriak meyaksikan apa yang terjadi. Ia terjatuh dan merangkak mundur masih dengan melihat mayat mereka berdua.

"Apa ini!" Teriak Yamato sendirinya dan ia menyentuh lagi sesosok yang tergeletak di belakangnya. Yamato memutar kepalanya melihat wajah sosok itu. Sosok mayat Tsunade. Dadanya terbelah menjadi dua dan kedua mata dan wajah pucatnya menghadap Yamato. Ia masih hidup dan menggerakan tangannya menggapai Yamato. Sayang, tiba-tiba tangan pucat itu putus dan tergeletak begitu saja.

"Tsu... Tsunade...?" Ucap Yamato.

Dan yang terparah ia melihat Kakashi. Senpainya yang bersama dengan mahluk jahanam itu. Kakashi terikat dan berlutut. Sementara mahluk itu sudah menyiapkan taringnya siap menikam Kakashi dan membiarkan mayatnya sama seperti yang lain.

Tidak. Mahluk itu lebih memilih untuk mematahkan leher Kakashi yang memutar 180 derajat. Itu sudah cukup untuk membuat Yamato mual, sakit, dan takut. Tubuhnya seakan membeku di sana. Menatap mayat teman-temannya. Mayat senpainya. Dan sosok vampire yang mulai mendekatinya. Dengan cepat tangan sang vampire memasuki dada Yamato dan tumpalah darah segar.

Tangan Vampire itu meremas sedikit jantung Yamato yang masih berdetak. Yamato muntah darah karena itu. Sementara lidah vampire itu sudah menjilati leher jejang Yamato. Dan menggigitnya dengan cepat

"HWAAA!"

XXXX

Yamato terbangun dari mimpi buruknya. Tidak itu bukan sekedar mimpi buruk. Itu adalah mimpi yang jauh lebih menakutkan daripada kategori buruk. Dan Yamato cukup merasa seperti orang bodoh yang tak punya kekuatan. Keringat dingin, tubuh yang gemetar. Itu adalah hal yang lazim, bukan untuk-nya.

'Mimpi lagi?' Gumam Yamato lagi. 'Mimpi.. Mimpi!'

Yamato sedikit tersadar ketika melihat ruangan sekitarnya. Bau obat, dan meja yang penuh dengan resep obat. Itu adalah ruang rawat kecil yang sudah tertebak itu adalah milik Tsunade. Yamato perlahan turun dari tempat tidur itu dan akan membuka pintu sebelum Tsunade yang membukanya lebih dahulu.

"Tsu...-?"

"Yamato!" Kata Tsunade memotong suara Yamato.

"Y-ya..." Jawab Yamato sedikit terkejut.

"Sekarang jelaskan padaku. Bagaimana kau bisa kehilangan banyak darah!" Ucap Tsunade.

"Hah!" Yamato meng-'Hah' dengan sedikit keras dengan menaikan alisnya sedikit. "Aku? Tunggu dulu. Jangan bilang aku kena anemia?" Kata Yamato lagi dengan sedikit terkejut. Tsunade hanya mengagguk dan Yamato nampak berpikir. "Aku tidak tahu," Jawab Yamato singkat.

"BODOH!" Teriak Tsunade yang sangat menggelegar. Kakashi yang sedari tadi di sampingnya juga ikut mundur. "Kau mau bilang kalau darahmu itu menghilang dari tubuhmu dengan sendirinya dan dalam 1 malam!" Marah Tsunade lagi. Sedang badmood rupanya.

"Su... sudalah Tsunade-sama. Yamato juga sedang sakit bukan?" Belas Kakashi menghalangi Tsunade. Tsunade jadi memijat pelipisnya dan memberikan sebuah botol obat kepada Kakashi.

"Itu kapsul penambah darah. Minum sehari 2 kali saja sudah cukup," Lalu Tsunade pergi meniggalkan mereka berdua di depan ruang kerjanya menuju ke tempat lain. Sementara Kakashi dan Yamato hanya menatap wanita tua itu pergi.

"Baiklah," Kakashi memulai pembicaraan. "Kau harus rajin minum obat walau kau tidak mau," Lanjut Kakashi dan memberikannya pada Yamato. Yamato sebentar melihat botol obat itu dan kembali menatap Kakashi. "Mau makan siang?" Tanya Kakashi lembut. Yamato hanya terseyum. "Ten-chan?" Dan Yamato kembali cemberut. Yamato berjalan melewati Kakashi tak lupa memberi plus injakan kaki ke kaki Kakashi dengan sengaja dan keras.

"Itte!" Kakashi kesakita dan memegang kakinya sambil menatap punggung Yamato yang berjalan sambil nangambek. Kakashi segera berdiri dan mengikuti Yamato pergi. Di jalan mereka saling berbincang dan itu membuat Yamato nyaman sehingga melupakan apa yang ia mimpikan.

"Senpai," Panggil Yamato.

"Hn."

"Senpai hari ini tidak mengajar?" Tanya Yamato.

"Tidak. Sekolah libur. Ya... kau tahu kenapa bukan?" Kata Kakashi kemudian mereka masuk ke sebuah restoran dan duduk di meja yang paling pojok agar mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. "Ingin makan apa?" Tanya Kakashi menatap kohainya.

"Um... Apa saja," Jawab Yamato sambil terseyum. Kakashi-pun turut terseyum dan memanggil pelayan serta memesan makanannya juga. Yamato hanya memandangi senpainya da menoleh ke arah pelayan. Yamato sedikit tercenggang ketika mengingat mimpi itu lagi membuat Yamato mengalihkan pandangannya ke lantai. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi dengan keringat dingin yang mulai muncul dan perlahan jatuh dari pelipisnya menuju lantai kayu tersebut.

"Tenzou?" Panggil Kakashi. Yamato tersadar dan menatap senpainya. "Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa... Tadi uang koinku jatuh... um.. di mana ya?" Kata Yamato terlihat seperti orang yang mencari sesuatu di bawah meja dan meraba-raba. Ia tidak ingin senpainya tahu apa yang terjadi. Kakashi jadinya hanya terseyum melilhat tingkah laku kohainya yang kepalanya terantuk meja dengan cukup keras. Setelah Yamato duduk, mereka tertawa dengan riang. Dan Kakashi mengusap kepala Yamato yang membuatnya malu.

'Maafkan aku Kakashi-senpai' Gumam Yamato di sela tawanya atas perlakuan Kakashi. 'Maafkan aku...' Walau sebenarnya ia menangis.

XXXX

Yamato duduk di kasur kamarnya yang gelap dan hanya ada pencahayaan dari bulan yang masuk melalui kaca jendela karena tirainya tidak di tutup. Yamato duduk sambil mengelus kucing baru yang mendadak bisa datang ke kediamannya. Kucing itu terus bersuara kepada tuanya dan manja di pangkuan tuan barunya itu. Sungguh kucing yang manis.

Tak lama kucing itu bangkit dan segera berlari ke pojok kamar. Yamato hanya membiarkan kucing itu karena di depannya berdiri sosok yang kemarin datang. Ia tak bisa bergerak sama sekali. Matanya kosong, seakan ia kini menjadi boneka. Uchiha Madara membungkuk dan mengelus leher Yamato dan keluarlah bekas gigitan itu. Menjilatnya sehingga menimbulkan rasa perih.

"Dongkakan kepalamu!" Perintahnya. Yamato melakukan. Madara menyiapkan taringnya, tapi belum mau menancapkannya. Ia hanya menempelkannya di dekat luka itu. Dan itu membuat Yamato menggemgam seprai dengan kuat dan memejamkan mata. Ia sangat takut pada saat itu.

"Aku lupa," Kata Madara lagi kemudian menegakan tubuhnya dan menatap lekat mata Yamato dengan mata merahnya yang hanya satu itu. "Bukankah kau harus bekerja malam ini? Hunter," Tangan madara hanya mengelus bekas luka itu dan kemudian bekas itu menghilang, masuk ke dalam tubuh Yamato. "Belum saatnya aku untuk menikmatimu. Karena kau ada mangsa yang spesial," Katanya lagi kemudian mengecup bibir Yamato dengan lembut dan perlahan menjadi napsu.

Entah apa yang Yamato pikirkan ia mau saja menerima lidah sang penghisap darah itu bermain di dalam rongga mulutnya. Cukup lama dan cukup bergairah. Yamato jadinya melingkarkan tangannya di leher Madara dan membalas ciuman itu. Ia sudah di bawah kendali sang vampire. Madara melepaskan bibirnya dan menatap mata Yamato sebentar lalu membisikan sesuatu padanya.

"Aku tak akan menjadikanmu vampire... tapi kau harus mengikuti permainan ini... Kalau kau tidak mau aku melakukan hal yang sama pada mereka seperti yang ada dalam mimpimu itu!" Bisiknya.

Yamato terbelak mendengar perkataan Madara. Mimpi itu kembali terlintas dalam pikirannya. Mimpi buruk itu. Madara berdiri dan kemudian keluar dari jendela yang ia buka. Sejak Matahari terbenam ia sudah ada di ruangan itu. Menunggu. Menunggu.

'Uchiha Madara... Uchiha Madara...'

Nama itu terus tergiang di telinga Yamato. Dan Yamato berteriak kesakitan ketika bekas luka itu mulai membakar nadinya. Sakit tidak bisa ditahannya. Yamato jatuh ke lantai dan meringkuk kesakita di sana. Kucing hitam itu mendekati tuannya dan menjilati pipinya. Yamato membuka matanya dan bangun.

"Aku harus segera pergi..." Katanya lirih kemudian bangkit dari sana, membuka lemari pakaiannya dan menggantinya dengan jas hitam serta mengambil pisau perak serta rantai peraknya dan pergi keluar kamar.

Yamato berjalan dengan pikiran dan perasaan yang kacau. Berjalan ke bangunan tua itu untuk berkumpul bersama yang lainnya. Sesama hunter. Seperti biasa bangunan itu masih remang-remang oleh penerangan lilin. Karena bila terlalu terang, untuk kota kecil yang cukup gelap pada malam hari, pasti akan sangat mencolok.

Yamato berjalan kearah senpainya yang sudah menunggunya. Saat mendekat ia mencoba mengubah air wajahnya agar terlihat tak terjadi apa-apa. "Senpai!" Panggil Yamato ke arah Kakashi. Kakashi membalas sapaan itu.

"Kau sedikit terlambat," Kata Kakashi.

"Bukankah kau juga baru datang?" Tanya Yamato sedikit mengejek. "Jadi aku ketinggalan apa?"

"Tidak ada."

"Lalu? Kita mengawas daerah mana?" Tanya Yamato lagi. "Daerah kemarin?" Tebak Yamato jitu. Kakashi mengangguk dan setelah mendengar penjelasan dari Tsunade mereka semua pergi bertugas secara berpasangan. Walau begitu nama vampire itu masih melekat kuat di kepalanya. Mereka berjalan di jalan setapak kota yang kemarin.

Uchiha... Uchiha...

"Uchiha!" Kata Yamato berhenti dan itu membuat Kakashi menoleh ke arahnya.

"Ada apa dengan 'Uchiha'?" Tanya Kakashi.

"Nama patner senpai yang dulu bernama Uchiha Obito... Bukan?" Tanya Yamato.

"Lalu...?"

"Seorang vampire?" Kata Yamato dengan nada tak percaya. Kakashi sedikit terbelak kaget. "Seorang vampire bukan!" Teriak Yamato. Kakashi tidak bisa menjawab sama sekali.

"...Ya..."

TBC

Thanks untuk menunggu lama up datenya.

Maaf bila ada typo...

Terima kasih sekali lagi bila anda mau REVIEW