Disclaimer:
That I need one is a dead giveaway.
Warning:
AU, chara death(s), possibly OOC. No chara bashing purpose. Don't like don't read.
Summary:
Bunyi 'klik' pelan yang terdengar ketika dingin lingkaran borgol membelenggu kedua pergelangan tangannya adalah satu-satunya peringatan sebelum putra tunggal Minato Namikaze itu menangkap ucapan Detektif Kakashi Hatake yang berkata, "You're under arrest."
-x-
-x-
-x-
Poison Paradise
-x-
-x-
-x-
Hakim Tsunade Senju dengan jelas mendengar suara lantang petugas panitera pengadilan yang membacakan nomor urut perkara dan memanggil sang terdakwa, Naruto Namikaze, ke ruang pengadilan siang itu. Ia juga sempat melihat kedua orang tua Naruto, Minato dan Kushina Namikaze, yang menatap cemas ke arah putra semata wayang mereka dari arah bangku pengunjung ketika pemuda berambut pirang itu digelandang masuk ke ruang pengadilan oleh seorang petugas kepolisian. Namun yang paling menyita perhatian Tsunade bukanlah pasangan konglomerat obat-obatan itu. Bukan juga anak tunggal mereka yang kini menjadi tersangka. Perhatian Tsunade tertuju pada seorang pemuda berambut gelap yang berdiri menyanding si pesakitan hukum sebagai pengacara pembela. Shikamaru Nara, namanya. Pengacara juru tidur berperangai malas itu terkenal bisa berubah menjadi singa di ruang sidang, padahal dalam kehidupan sehari-harinya Tsunade tahu benar bahwa memegang sebatang pensil pun pemuda tersebut selalu enggan.
Dari podium tempatnya duduk sekarang Tsunade lalu menengok ke sebelah kiri. Didapatinya sosok Temari berdiri persis di bawah podium hakim, bersiap untuk menjadi prosekutor kasus mereka sebentar lagi. Dalam hatinya diam-diam Tsunade merutuk. Kenapa bukan asisten jaksa wilayah saja yang bertindak sebagai penuntut umum seperti biasanya? Kenapa mesti Temari sendiri yang harus turun gunung hari ini? Bukannya apa-apa, jujur saja Tsunade menyukai bakat yang dimiliki Temari dan Shikamaru. Tapi mempertemukan kedua orang itu dalam satu proses peradilan nyatanya bukanlah ide yang memiliki prospek menyenangkan. Terakhir kali Tsunade memimpin sidang yang mencantumkan nama Sabaku dan Nara sebagai penuntut dan pembelanya, sang hakim senior yang dikenal tetap cantik meski sudah berusia senja itu terpaksa mengetukkan palu hingga dua menit penuh sebelum akhirnya kedua makhluk beda gender tersebut mau mengakhiri perdebatan sengit mereka. Ketika itu Temari menyingkat lima belas halaman testimoni tertulis menjadi sebaris kalimat yang sangat memberatkan terdakwa dan Shikamaru membalas dengan deretan kalimat yang setengah anggota dewa juri tidak tahu maksudnya apa.
Tsunade menghela napas enggan. Kemudian begitu mendapat aba-aba dari petugas panitera pengadilan untuk segera memulai, iapun lantas bersuara, "Pengadilan memanggil para penasehat."
Temari tampil lebih dulu. Ia membungkuk sesaat ke arah podium sebelum menyebutkan, "Temari Sabaku, Yang Mulia. Jaksa Wilayah Konoha Barat. Mewakili rakyat dan kepentingan negara."
Setelah itu giliran Shikamaru yang bangkit dari duduknya untuk berkata, "Shikamaru Nara. Detailed and certified. Mewakili Naruto Namikaze."
Sebagai tanda paham Tsunade mengangguk. Dibolak-baliknya lagi sepintas lalu lembaran nota pra sidang yang barusan ia dapat dari Temari, meskipun ia tahu isi nota yang mencantumkan hasil penyelidikan sementara polisi itu tidak bisa berkata banyak. Hiashi Hyuga, 57 tahun, tewas karena racun strychnine yang dicampurkan ke dalam kopinya. Sampai di sini kedengarannya kasus ini memang biasa saja. Keterangan kecil yang membuat kematian Hiashi menjadi membingungkan adalah kenyataan bahwa pria malang itu meminum kopi dari teko yang sama dengan sebelas cangkir kopi lain yang diminum para pelayat mendiang istrinya sore itu. Sementara semua kopi tersebut dituang dan dibagikan sendiri secara acak oleh Hiashi, yang berarti mustahil ada orang bisa menyelipkan racun secara diam-diam tanpa diketahui sang almarhum tuan rumah.
Suara si hakim berambut pirang terdengar tegas dan tanpa emosi ketika ia mengumumkan, "Naruto Uzumaki Namikaze," jeda sejenak, "didakwa atas satu tindak pidana pembunuhan tingkat pertama yang terjadi pada tanggal dua puluh bulan ketujuh tahun 2012." Sambil menatap datar ke arah Naruto, Tsunade bertanya, "Apa pembelaan Terdakwa?"
Dengan setengah gemetar dan takut-takut Naruto menyahut, "S-saya tidak bersalah, Yang Mulia."
Mendengar jawaban itu Tsunade langsung beralih pada Temari. "Silakan, Jaksa Sabaku."
"Terima kasih, Yang Mulia." Temari maju beberapa langkah ke tengah ruangan. Menghadap podium hakim dengan bahu ditarik sempurna sebelum menuturkan, "Tuan Naruto Namikaze dituduh telah secara sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Mempertimbangkan sifat tuduhan dan latar belakang finansial Terdakwa yang sangat mapan—" artinya prosekutor khawatir Naruto akan mangkir dari proses peradilan, "—maka dengan ini penuntut umum mengajukan remand without bail."
"Tidak dapat diterima, Yang Mulia!" sambar Shikamaru dari tempatnya berdiri. Andaikata ini adalah sebuah sidang dan bukannya prosesi pra sidang, pengacara muda itu pasti sudah meneriakkan mosi keberatan tanpa pikir panjang. "Pihak penyelidik sama sekali tidak memiliki bukti yang memberatkan Terdakwa. Dengan demikian klien saya seharusnya dibebaskan dari tahanan."
Temari melemparkan tatapan menuduhnya yang tajam menusuk pada Shikamaru. "Penyelidik tidak mungkin menangkap siapapun tanpa adanya bukti, Tuan Nara. Atau mungkin anda bermaksud mengatakan bahwa Kepolisian Konoha Barat tidak menjalankan tugasnya dengan baik?"
Tanpa mempedulikan tuduhan Temari itu Shikamaru melanjutkan, "Klien saya tidak layak ditahan hanya atas dasar bukti yang bersifat sirkumstansial, Yang Mulia. Selain itu kita juga harus mempertimbangkan catatan hukum Terdakwa yang sejauh ini bersih dari pelanggaran—"
"Itu tidak benar, Yang Mulia!" giliran Temari yang menyambar kali ini. "Terdakwa tercatat telah belasan kali melakukan perbuatan yang melanggar aturan hukum."
Shikamaru tak terima, "Apapun yang Terdakwa lakukan sebelum berusia cakap hukum tidak lebih dari sekedar kenakalan remaja yang tidak semestinya Anda jadikan argumen, Jaksa Sabaku." Sekedar untuk menegaskan maksud pembelaannya Shikamaru bertanya, "Jika hari ini ada seorang anak perempuan usia tiga tahun bertelanjang dada di taman kota, apa Anda juga akan menuntutnya atas tuduhan pelanggaran asusila dua puluh tahun dari sekarang?"
"Tuan Namikaze sudah tidak lagi berusia tiga tahun ketika membuat gurunya terja—"
"Dimengerti!" seru Tsunade. Pada Temari yang sontak terlihat kecewa berat ia mengatakan, "Saya harap Anda tidak membawa perkara lain yang tidak ada kaitannya dengan perkara ini, Jaksa Sabaku."
Pilihan Tsunade tentunya tak dibantah lagi oleh sang putri sulung keluarga Sabaku, meskipun sebal rasanya gadis itu melihat Shikamaru mendongak puas sesaat lalu. Namun bukan Temari namanya jika gadis cantik berambut pirang itu mau berhenti sampai di sana. Sebelum Shikamaru mengambil kesempatan ini untuk mengajukan lagi poin yang bisa meringankan posisi Naruto, ia bergegas mendahului. "Yang Mulia, sesuai dengan apa yang tertera pada nota sidang nomor 701.10.30.(a), Terdakwa sendiri telah secara implisit mengakui bahwa ia secara sadar me—"
"Klien saya mengaku membuat kopi sore itu, bukan mengaku telah meracuni calon mertuanya." Saking cepatnya Shikamaru bereaksi, Naruto sampai tak sempat bergidik mendengar pernyataan Temari barusan. "Anda disumpah untuk menegakkan hukum, Jaksa Sabaku, bukan untuk memutarbalikkan fakta."
"Fakta apa yang telah saya putar balikkan, Tuan Nara?" Temari menyalak, "Tidakkah Anda tahu bahwa saya sendiri adalah salah seorang saksi yang—"
"Justru itu." Shikamaru tak mau kalah, "Orang waras mana yang berani membunuh seseorang dihadapan belasan pasang mata, terlebih jika salah satu dari belasan pasang mata itu adalah milik jaksa wilayah Konoha Barat?" Kemudian sang pengacara pembela beralih pada Tsunade, "Yang Mulia, klien saya jelas tidak bersalah dalam ka—"
"Jika pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya pernah dilakukan Terdakwa tidak dapat dijadikan argumen, maka semestinya keyakinan Anda bahwa Tuan Namikaze tidak bersalah juga tidak layak diper—"
Bibir Tsunade merengut.
Shikamaru masih berkeras, "—sus ini, apalagi kita juga harus memperhitungkan peranan be—"
"—caya, mengingat pertemanan Anda berdua yang sudah terjalin selama bertahun-tahun dapat mengakibatkan bias—"
Dahi Tsunade berkedut.
"—sar keluarga Namikaze dalam masya—"
"—nya pandangan Anda, Tuan Nara. Selain itu, Yang Mulia, Terdakwa juga tentunya memiliki akses luas terhadap bahan beracun yang digu—"
Ah, persetan. "Uang jaminan ditetapkan senilai dua juta dollar!" seru Tsunade tiba-tiba.
Shikamaru dan Temari sama-sama kaget, sama-sama membelalakkan mata dan bersama-sama meneriakkan, "Yang Mulia!"
"Pra sidang kedua akan digelar sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Terima kasih." Sedikitpun Tsunade tak terlihat peduli pada Shikamaru maupun Temari yang sudah bersiap menyalak seperti anjing gila. Diketukkannya palu sebanyak dua kali sebelum menengok ke arah panitera pengadilan dan memerintahkan, "Perkara berikutnya."
-x-
-x-
-x-
-x-
-x-
Shikamaru menguap. Lalu menggeliat malas. Lalu menguap lagi. Sambil berharap kursi yang didudukinya akan segera berubah menjadi kasur pegas, anak tunggal keluarga Nara itu memandang tanpa minat ke arah sepiring apfelstrudel yang disuguhkan padanya oleh seorang pelayan cafe beberapa menit lalu. Bosan memandangi makanan yang tampak jauh dari menarik, si pengacara muda yang tak pernah berhenti menjunjung moto 'Hidup segan matipun malas' itu beralih memandangi sesosok pria berambut perak mencuat yang menjadi rekan pembicaraannya sejak seperempat jam kebelakang.
"Aku tahu apa yang ingin kau tahu, Shikamaru," Kakashi berkata. "Tapi masalahnya aku sendiri belum tahu banyak."
"...Jadi, masih belum ada perkembangan?" tanya Shikamaru dengan bahu membungkuk dan sepasang mata yang nyaris tertutup karena kantuk. Tidak biasanya Kakashi terjebak di jalan buntu ketika menangani suatu kasus. Lama-lama muncul juga keinginan Shikamaru untuk mengorek kasus kematian Hiashi dengan tangannya sendiri.
"Coba saja kau pikir." Kakashi menjabarkan dengan antusiasme yang sama rendahnya, "Dari dua belas cangkir kopi yang ada, cuma kopi Hiashi saja yang terbukti mengandung racun. Lainnya bersih. Padahal Hiashi menuang sendiri kopi itu dan langsung meminumnya tanpa perantara tangan siapapun."
"Bagaimana dengan sisa kopi di dalam tekonya?"
"Habis tak bersisa," jawab Kakashi.
"Kalau kopi yang masih berupa bubuk?" tanya Shikamaru lagi. "Kudengar mereka membeli kopi sampai sekilo, kan?"
Kakashi diam sebentar. Agak ragu, barangkali. Diamatinya kendaraan demi kendaraan yang tampak berlalu-lalang dari balik dinding kaca sebelum akhirnya ia menjawab juga, "Hilang."
Sebelah alis Shikamaru secara otomatis terangkat naik. "Hilang?"
Sang detektif kepolisian mengangguk. "Ya, hilang. Kami tidak bisa menemukannya dimanapun juga." Melihat Shikamaru yang kemudian menatap heran dengan kedua alis bertaut, Kakashi lantas mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana keadaan klienmu itu? Orang bilang kalian lama berteman."
"Namanya Naruto," jawab Shikamaru. "Kami memang sudah lama berteman. Hakim Senju menetapkan jaminan sebesar dua juta dollar dan paspornya disita pengadilan."
Kakashilah yang sekarang menaikkan sebelah alis. Rasanya belum pernah ada klien Shikamaru yang dijatuhi kewajiban membayar uang jaminan sampai sebesar itu. Biasanya puluhan ribu dollar saja cukup untuk mengeluarkan mereka dari balik jeruji. Bahkan seringkali Shikamaru berhasil membuat mereka bebas tanpa harus membayar uang jaminan sepeserpun. Tak ayal Kakashi dengan mudahnya menebak, "Apa Jaksa Sabaku menyulitkanmu?"
Raut tak senang yang kemudian ditampilkan Shikamaru nyaris membuat Kakashi tertawa. Sambil mendengus pemuda itu menjawab, "Perempuan itu menyulitkan semua orang."
Dari balik masker yang menutup separuh wajahnya Kakashi menyeringai. Masih ingat betul ia bagaimana dulu Shikamaru merutuk dan menyumpah ketika pertama kali tahu bahwa yang ditunjuk sebagai jaksa wilayah baru Konoha Barat adalah seorang perempuan. Perempuan segalak Temari, pula. "Tapi kaupun pasti tahu kalau Jaksa Sabaku memang orang yang paling tepat untuk menyandang jabatan itu."
Shikamaru cuma menguap sebagai balasannya. "Oh ya," si pemuda mendadak teringat, "kalau memang cuma kopi Hiashi saja yang mengandung racun, bagaimana dengan cangkirnya?"
"Cangkirnya kenapa?"
"Misalnya racun itu tidak dibubuhkan ke dalam kopi, tapi justru dioleskan di dasar cangkir, wajar saja kalau cuma dia yang tewas, bukan?"
"Maksudmu," Kakashi menebak, "ada kemungkinan Hiashi selalu memakai cangkir yang sama tiap kali minum kopi dan cangkir itulah yang diolesi racun oleh si pelaku? Begitu?"
Shikamaru mengangguk.
"Tidak mungkin." Terang Kakashi, "Hiashi menuangkan lalu membagi kopi-kopi itu secara acak dan semua cangkirnya pun sama persis. Aku juga sudah bertanya pada anak-anak dan para pelayannya. Mereka bilang Hiashi tidak pernah punya kebiasaan seperti itu."
Brak!
"Hey, Kakashi!"
Kakashi dan Shikamaru menoleh di detik yang sama, mencari tahu siapa orang yang barusan menyapa si detektif dan meletakkan tasnya dengan begitu keras di atas meja. Hatake junior lalu menegur, "Kankuro?"
Kankuro tersenyum lebar. "Aku sudah mencarimu kemana-mana," katanya sambil menarik satu kursi di sebelah Shikamaru dan duduk di sana.
"Ada apa?" tanya Kakashi. "Kau membawakan sampel game baru untukku?"
Suara decihan langsung terdengar. "Dasar kau ini, maniak barang gratisan!" oloknya sebelum menoleh ke arah Shikamaru. Sesaat lamanya Kankuro memperhatikan sosok sang pengacara muda, seperti mengingat-ingat dan memikirkan siapa namanya. "Hey, kau pengacara Naruto 'kan?"
Shikamaru mengangguk dan menguap secara bersamaan.
"Namaku Kankuro," adik Temari itu memperkenalkan diri.
Balas si Nara, "Aku Shikamaru."
"Eh, kau belum menjawab pertanyaanku," Kakashi menagih. "Ada apa kau datang kemari?"
"Aku mau mengundangmu ke acara ulang tahun kakakku dua minggu lagi," jawab Kankuro. "Kita akan berpesiar selama lima hari." Tambahnya setelah menimbang-nimbang secepat kilat, "Kau juga diundang, Shikamaru."
Shikamaru menengok heran. "Aku bahkan tidak kenal kakakmu."
Kankuro tersenyum semakin lebar, bahkan saking lebarnya pemuda itu terlihat seperti sedang menyeringai saja. Dicondongkannya setengah badan ke arah Shikamaru seraya memperkenalkan diri sekali lagi, "Namaku Kankuro Sabaku." Dengan sengaja dibiarkannya jeda menyela. "Bagaimana? Apa sekarang kau sudah kenal siapa kakakku?"
Yang ditanya malah menggeram. "Kau adik perempuan galak itu?" sembari bertanya tanda tak percaya Shikamaru melayapkan pandangan ke arah Kankuro. Kalau dipikir-dipikir, pemuda berambut gelap itu tidak cocok disebut adik Temari. Karena sekalipun Temari itu sangat galak, setidaknya dia juga sangat 'bening', beda jauh dengan Kankuro yang penampilannya serba kusut dan tidak ada ganteng-gantengnya sama sekali.
Si tidak-ada-ganteng-gantengnya-sama-sekali lantas mendengus. "Kau yang cuma menghadapi kakakku di ruang sidang saja berani mengatainya galak. Bayangkan bagaimana rasanya jadi aku yang harus meladeni nenek sihir itu setiap hari selama dua puluh empat tahun!"
"Ya Tuhan, sudahlah," ujar Kakashi. "Jangan mengajak bergunjing seperti ibu-ibu di depanku." Tak dipedulikannya suara Kankuro yang membela diri dengan mengatakan bahwa dia tidak punya niat bergunjing, tapi cuma mau membicarakan sedikit kejelekan Temari saja."Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kau mau mengadakan pesta pesiar selama lima hari dengan jarak pemberitahuan sependek ini? Jatah cutiku sudah habis, Kankuro."
"Jatah cuti apa yang kau khawatirkan?" Kankuro merinci, "Kita berangkat hari Sabtu, sementara akhir pekan memang biasanya libur, kan? Sudah begitu ada tambahan libur nasional selama tiga hari untuk merayakan Festival Protea. Nah, tidak ada yang perlu ambil cuti!"
"Tapi aku masih heran," Shikamaru mengaku. "Kakakmu itu mabuk atau bagaimana? Kami sedang berperkara, Kankuro. Kau tahu itu, kan?"
Kankuro tertawa jahil. Jangankan siapa mengundang siapa, Temari bahkan saat ini belum tahu sama sekali kalau adiknya itu sedang merencanakan pesta ulang tahun untuknya. Kankuro berniat memberitahu Temari nanti, setelah semua persiapan selesai dan para undangan sudah mengkonfirmasi keikutsertaan mereka. Dengan begitu Temari tidak akan mungkin sampai hati berkata 'tidak', mengingat besarnya dana yang sudah terlanjur dikeluarkan Kankuro.
Dana yang nantinya akan Kankuro rampok dari rekening Temari juga.
"Tentu saja aku tahu kalau kalian sedang berperkara. Memangnya kenapa?" kilah Kankuro. Sebagai adik seorang jaksa wilayah, tentunya pemuda itu paham benar bahwa tidak ada satupun aturan atau kode etik yang pernah melarang seorang penuntut umum untuk bertemu dengan pengacara pembela di luar ruang pengadilan. Paling banter Shikamaru hanya akan dibebani kewajiban moral untuk memberitahu Naruto mengenai kepergiannya. Itu saja.
Tapi Shikamaru cuma diam. Kakashi juga diam. Melihat keduanya yang terlihat tak berminat, Kankuro langsung mengeluarkan kartu andalannya. Si penggila warna janda itu berkata, "Aku mengundang semua orang yang menjadi saksi kematian Paman Hiashi."
"Apa?" kedua mata Shikamaru yang sebelumnya nyaris tertutup total karena kantuk kini mendadak terbuka lebar. "Kau sengaja?"
Senyum jahil Kankuro muncul lagi. "Sekarang kau tertarik, bukan?" godanya dengan nada usil. "Tadinya aku ingin mengundang Naruto juga, tapi sekarang itu mustahil. Rute pesiar yang kupilih akan melewati garis pantai Konoha, sementara paspor Naruto sudah disita." Belum lagi Temari bisa didesak untuk melepaskan kasus pembunuhan Hiashi jika sampai ada pihak yang tidak menyetujui relasi apapun antara si jaksa wilayah dengan terdakwa yang perkaranya tengah ia tuntut. "Jadi? Bagaimana?" tanya Kankuro pada Kakashi, "Kau pasti akan menyesal kalau sampai tidak ikut, Kakashi. Aku mengajak Terumi juga."
"Terumi?" tiba-tiba saja Kakashi berubah antusias, "Mei Terumi yang—"
"—yang moleknya seperti bintang porno," Kankuro melanjutkan dengan sukarela.
"Kalau begitu aku ikut!" seru Kakashi mantap. Bodoh rasanya kalau ia sampai melewatkan kesempatan berpesiar dengan si semlohai yang sudah lama bekerja di jaringan restoran keluarga Hyuuga itu.
"Kau bagaimana, Shikamaru?" Kankuro ganti menanyai sang pengacara muda.
Ini jelas bisa jadi sebuah peluang untuk mencari bukti bahwa Naruto tidak bersalah. Tanpa ada Naruto di sana, pula. Tapi— "Ya, aku ikut juga." —akan ada Temari, tentu saja. "Merepotkan."
-x-
-x-
TBC
-x-
-x-
-x-
a/n: Jika ada yang sedikit bingung dengan proses arraignment hearing (tahap pra sidang pertama) di atas, saya mohon maaf. Sebisa mungkin saya memang memakai sistem peradilan AS, karena sepertinya sistem peradilan Indonesia malah lebih rumit dan tidak familiar.
Secara singkat, remand without bail artinya si terdakwa harus ditahan selama proses peradilan tanpa kemungkinan bebas dengan jalan membayar uang jaminan. Kalau ingin tahu penjelasan lengkapnya, silakan klik Tante Wiki.
Kritik dan saran Anda saya tunggu. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu Anda untuk membaca.
p.s. kalau misalnya suatu saat nanti Temari sama Shikamaru sampai gulat di ruang sidang, Anda mau mendukung siapa?
