Hikarusora14 Thanks buat review'a :fly oke, oke di akhir chapter ini ditambahin beberapa keterangan, atau untuk gambaran umum mengenai barti bisa liat di wikipedia..
Nirina Ne Bellanesia thq ^^ tetep di baca y, jangan kapok.. Hehehe..
Dan saya coba terangkan sekali lagi, takut-takut ada yang telah membaca novelnya dan keberatan dengan perbedaan perbedaan yang ada, walau universe'a saya ambil dari novel Bartimeus tapi beberapa detail dan peraturan dasar universe-nya saya rubah sesuai imajinasi saya, walau masih dalam batasan yang saya anggap wajar.. ^^
And here we go, chapter kedua cerita ini..
Disclaimer : Naru punya Kishi, Barti punya abang Stroud. Cerita punya saya :3
PENYEGELAN
Kyubi POV
Ya, ya, ya,, aku tahu efek pemanggilan yang kubuat kurang spektakuler. Aku kelelahan dan inti roh ku rasanya sudah sangat tipis. Baru beberapa jam lalu aku berada dalam pertempuran melawan gerakan teroris di Negara Air, melawan 2 ifrit sekaligus, sendirian. Master baru saja melepaskanku untuk pemulihan ke dunia lain ketika aku dipanggil kesini. Menjadi spirit terkenal memang tidak mudah.
Cukup keluh kesahnya, aku harus fokus dan mencari peluang kesalahan dalam ritual pemanggilan, walau tentu saja hanya penyihir besar yang berani memanggil spirit hebat sepertiku. Dan seperti rata-rata penyihir besar, pasti yang satu ini juga... Hei tunggu dulu, apa-apaan ini?
Alih-alih sesosok penyihir berbadan tegap nan gagah, yang kulihat adalah seorang remaja dengan tampang letih. Nafasnya tersengal-sengal dan nampaknya untuk berdiri pun ia kesulitan. Apakah dia tidak memperkirakan seberapa besar energi yang akan terkuras? Ah tapi yang terpenting sepertinya ia lupa untuk mengucapkan mantra perlindungan. Kesempatan..!
Kuregangkan tangan dalam posisi siap mencengkram dan aku segera melompat.. Yang segera kusesali..
Mukaku menabrak sebuah dinding kasat mata, dan seketika mantra perlindungan aktif membakar seluruh bulu di muka serigalaku. Membuatku mundur beberapa langkah. Dan seakan itu belum cukup, sebuah sengatan listrik terlontar tepat mengenai pantatku. Cukup untuk membuatku melolong dan melompat tinggi. Akupun jatuh dalam posisi memalukan, terduduk sambil memegangi pantat yang kesemutan..
"Hahaha.. Apa kau sebegitu bodohnya untuk mengira bahwa kami akan nekat memanggilmu sendirian?*" ujar suara laki-laki di belakangku. (*Ugh, ya.. Sebenarnya aku berpikiran begitu.. Tapi itu karena aku lelah dan pikiranku tumpul, jadi bukan sepenuhnya karena aku bodoh..)
Mendengar hal itu aku segera menoleh kebelakang dan kudapati seorang remaja dengan wajah mirip anjing berdiri di dalam sebuah pentagram. Tampaknya ia yang tadi melontarkan mantra sengat ke pantatku*. Dan disampingnya berdiri seorang wanita dengan mata seputih marmer** di dalam sebuah pentragram lainnya, ia lah yang membaca mantra perlindungan tepat ketika pemuda yang kelelahan itu mengucapkan mantra pemanggilan. (*Akan kubalas dia nanti, kita lihat apakah ia dapat mengalahkan rekor lompatanku tadi, tentunya tidak. **Apakah ia buta atau itu hanya trend softlens baru?)
"Lain kali gambar pentagram kalian dalam posisi berdampingan, bukan melingkar seperti ini. Sekedar saran dari seorang sahabat untuk mencegah kesalahpahaman dikemudian hari," ujarku jengkel pelan sambil berdiri ke posisi yang lebih bermartabat. Lupakan usaha untuk membuat kesan pertama yang mengesankan.
"Tapi ini cukup bernilai untuk dilakukan. Kapan bisa melihat sesosok manusia serigala dengan muka gosong melompat tinggi seperti tadi?" sindir anak laki-laki tadi.
"Cukup Kiba!" seru gadis bermata putih tadi.* "Shikamaru, apakah kau masih bisa melanjutkannya?" (*Dugaanku salah rupanya, ia tidak buta karena pandangan matanya terfokus, bukannya menerawang. Jadi itu trend baru ya? Mungkin bisa kujadikan referensi jika harus menyamar menjadi seorang gadis kelak)
"Ya, ya.. Tentu saja. Beri aku waktu sejenak untuk menarik nafas," ujar pemuda yang memanggilku, Shikamaru.
"Oh ayo lah.. Betapa amatirnya kalian. Jeda di tengah pemanggilan spirit agung sepertiku? Mengapa tidak kalian panggil saja jin atau bahkan foliot. Kurasa itu cocok untuk level kalian," dengusku jengkel.
Aku melirik sedikit kearah mereka. Tidak ada satu pun yang terpancing ejekanku. Rupanya mereka cukup berbakat di usia belia mereka. Menjengkelkan..
"Jangan-jangan kau lupa mantra apa selanjutnya? Betapa bodohnya. Sini kuajarkan..," dan aku pun mengucapkan sebuah mantra pengikat yang berasal dari Babilonia kuno, yang mungkin akan mereka gunakan untuk mengikatku*, tapi dengan beberapa kata yang ku plesetkan secara halus, berharap mengacaukan hapalan mantra mereka dan membuatku terbebas. *Mantra pengikatan ini lazim digunakan oleh para penyihir muda berbakat seperti mereka, sedikit rumit tapi lebih menghabiskan tenaga fisik ketimbang jiwa, yang menguntungkan bagi mereka yang masih memiliki kondisi fisik yang prima.
"Oke aku siap," ujar Shikamaru tanpa memperdulikan bacaan mantra ku. "Ayo kita ucapkan secara bersama-sama mantra pengikatan Solomon."
"Eh tunggu, apa? Solomon?" ujarku tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. "Tunggu.. Tunggu.. Ayolah, pakai Babilonia saja, apa kalian tidak takut salah?"
Sia-sia.. Mereka telah memulai bacaan mantra mereka dengan penuh konsentrasi.
Aku melolong dan membuat segala kegaduhan*. Mulai dari suara halilintar, gunung meletus, deru badai, dan tangisan kuntilanak.** (*Kalian pasti berpikir kegaduhan ini aku - dan juga spirit lainnya lakukan karena pengikatan menimbulkan rasa sakit. Oh kalian salah, ini hanya sebagai usaha terakhir kami untuk mengacaukan konsentrasi para penyihir. **Tangisan ini kupelajari dari sesosok foliot yang pernah bertugas di Indonesia. Ia bilang suara ini cukup membuat banyak masternya hilang konsentrasi dalam pengucapan mantra.)
"Diam!" bentak Shikamaru. Mulutku langsung mengatup dengan sendirinya*, dan semua kegaduhan tadi menghilang. Mantra ikat telah berhasil dilakukan. *dan tanpa sengaja aku pun menggigit lidah sendiri, untunglah aku disuruh diam, jika tidak aku akan melolong kesakitan lagi yang akan membuatku tampak semakin menyedihkan.
Aku menunggu klausul perintah yang akan diucapkan oleh Shikamaru, tapi ia malah terduduk kelelahan*. Aku sempat berharap dengan begini ritual tidak bisa dilanjutkan, tapi harap tinggalah harap. Dibelakangku, Hinata mulai mengucapkan klausul-klausul perintah, dimulai dari yang paling standar. Aku tentu saja tetap mendengarkan dengan seksama jika ada celah dari perintah yang diucapkannya, yang dapat kugunakan untuk keuntunganku sendiri. Tapi klausul perintah standar yang diucapkannya begitu sempurna, bahkan monoton seperti membaca text book. Dan setelah itu barulah ia mulai mengucapkan klausul perintah yang sesungguhnya. Alasan sebenarnya mengapa aku dipanggil kesini. (*Tumitnya hampir keluar dari lingkaran pentagram, tapi sayang ia segera sadar dan membetulkan posisi nya ke posisi yang lebih aman. Cih..!)
"Kau, Kyubi si Ifrit, kuperintahkan untuk bersatu kedalam raga Naruto Uzumaki. Kau dilarang untuk menghancurkan atau pun memanipulasi jiwa, pikiran, dan raga Naruto Uzumaki. Kau dilarang menggunakan kekuatanmu selain untuk secara aktif membuat segala fungsi organ tubuh Naruto bekerja tanpa kau mengendalikannya kecuali Naruto mengizinkannya, dan menggunakan kekuatanmu diluar itu hanya jika sesuai dengan kehendak Naruto. Dan kau harus secara aktif membantu Naruto untuk lolos dari kurungannya, dan setelah itu menuruti segala perintahnya. Juga sampaikan padanya, 'kami menunggu mu di markas kecil kita', kata per kata tanpa ada yang kau ubah, kurangi atau tambah," ujarnya cepat dalam satu tarikan nafas.
"Tunggu, perintah macam apa itu? Jika kau ingin melakukan misi penyelamatan, kau cukup perintahkan aku melakukannya, aku sangat berpengalaman dalam membobol dan mengeluarkan orang dari penjara," teriakku.
Apa aku kedengaran panik? Ya, tentu. Siapa yang tidak panik? Di London, di mana ritual pengikatan spirit kedalam raga pertama kali dilakukan, telah membunuh semua spirit yang terlibat. Dan mereka bukan spirit sembarangan, banyak jin level atas, afrit, marid bahkan spirit agung Nouda tewas tak tersisa. Jadi wajar jika aku sekarang panik bukan?
"Dan mana bocah Naruto itu? Bagaimana cara ku untuk memasuki raganya?* Apa kalian gila?" lanjutku. (*Itu murni perntanyaan dan bukannya sarkasme. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Sempat terpikir untuk masuk melalu mulutnya sebagai asap, tapi aku hanya akan berakhir di paru-paru atau lambungnya, bukannya terikat kedalam raganya)
Kudengar Kiba mulai mengucapkan mantra teleportasi, dan Hinata mulai mengucapkan mantra pengurung yang sedikit aneh. Sebuah sulur cahaya berwarna emas muncul dari pentagram paling kecil dan mulai menggapai kearahku.
Jadi begitu rupanya, mereka men teleportasiku melalui pentagram kecil itu ke ujung pentagram satunya, yang kuperkirakan digambar di tubuh bocah bernama Naruto dan langsung mengunciku di dalamnya menggunakan mantra pengurung yang telah dimodifikasi.
Dalam keputusasaan, aku berusaha menghindari sulur cahaya itu tapi gagal. Sulur itu menempel di dada serigalaku dan seketika itu kurasakan sensasi seperti tersedot. Inti roh ku mulai terburai dan ruangan tempatku berada sekarang mulai memudar dari pandangan digantikan oleh kelebatan cahaya menyilaukan. Ah sudahlah, kalau memang harus begini...
.
.
.
3rd POV
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang, terlihat seorang pemuda berambut jingga yang tampak babak belur. Kedua tangannya diborgol ke tembok sehingga ia berada dalam posisi berdiri. Sekujur tubuhnya yang bertelanjang dada dipenuhi lebam dan luka bekas cambukan, bahkan dua diantaranya masih sedikit meneteskan darah. Satu kaki serta kesepuluh jari tangannya patah dan mencuat kearah yang janggal. Kepalanya terkulai lemas dan matanya setengah terpejam. Mulutnya tampak sedang bergumam, meski tidak ada sedikitpun suara yang terdengar. Dikedua sisi tubuh pemuda itu berdiri dua sosok foliot yang berjaga.
Tapi mendadak kepalanya tegak dan kedua matanya terbuka lebar. Wajah yang sebelumnya terlihat hampir mati itu kini tampak garang. Dengan mudah ia melepaskan borgol dari kedua tangannya.
Kedua penjaganya, setelah terdiam beberapa detik karena kaget langsung mengeluarkan cakar tajam dari kedua tangannya. Mereka bersiap menyerang dan segera menghampiri pemuda itu tapi dengan segera menyadari kesalahan mereka.
Sebuah cahaya jingga yang berasal dari tangan si pemuda menghantam foliot di sebelah kanan, membuatnya meledak tanpa sisa. Dan dengan tangan kirinya, pemuda itu mencekik leher foliot yang tersisa. Foliot itu mencoba berteriak tapi suaranya tidak dapat keluar. Dengan ngeri ia melihat pemuda itu menyeringai kearahnya.
"Kudapan untuk hari ini," ujar pemuda itu dengan suara yang terdengar asing bagi si Foliot.
Mendengar hal itu si Foliot makin meronta, tapi semua itu sia-sia. Masih dalam keadaan meronta, tubuhnya berpendar kemerahan dan mengecil seukuran burung gereja. Dan kemudian foliot itu di lahap oleh sang Pemuda.
Pemuda itu menyadari bahwa masih ada penjaga lain di luar ruangan. Kali ini seorang pria, yang tengah menatap ngeri ke arah si pemuda. Tapi dengan cepat si pria segera berlari kearah bel yang tidak jauh dari tempatnya berada. Si pemuda mencoba mencegah dengan melontarkan cahaya jingga ke arah penjaga. Cahaya itu telak mengenai tubuh si penjaga dan membuatnya tewas seketika, tapi alarm telah berbunyi dengan nyaring diseluruh gedung dan terdengar berbagai kegaduhan disana-sini.
"Hmmm,,, baiklah," ujar pemuda itu sambil membetulkan posisi tulang-tulangnya yang patah dengan suara berderak dan kemudian melakukan sedikit peregangan. "Jika tidak begini, tidak seru."
Bersambung...
.
.
.
Oke pasti ada banyak part yang membingungkan di cerita ini. Akan saya coba jelaskan satu-satu.
Dibeberapa paragraf ada yang saya tandai dengan tanda bintang dan di akhir paragraf ada kalimat tambahan yang dibuat miring. Kalimat miring itu adalah pikiran dari Kyubi mengenai hal-hal yang diberi tanda bintang. Semacam keterangan tambahan dalam bentuk komentar nyeleneh heheheh.. . Ini saya buat untuk menunjukan salah satu sifat spirit yang mampu memikirkan beberapa hal sekaligus.
Sebagai contoh, ketika sesosok jin tengah memikirkan bagaimana cara menangkap foliot, pikiran lainnya secara bersamaan sedang memikirkan bagaimana cara memasak si foliot, dan bahkan pikiran lainnya lagi malah sedang memikirkan bagaimana cara membalas dendam pada master mereka.
Untuk membaca bagian yang seperti ini adalah dengan membaca hingga tanda bintang, pindah ke bagian tambahan yang dibuat miring sesuai dengan jumlah bintang baru lanjutkan ke bagian yang tadi. Atau di lewat saja tanpa dibaca juga bisa. Mungkin untuk sekarang masih agak membingungkan, tapi saya harap kedepannya kalian akan terbiasa karena hal ini akan sering terlihat ketika cerita mengambil sudut pandang Kyubi :p
Tingkatan Spirit dari yang terlemah adalah : Imp Foliot Jin Ifrit Marid
Ada yang lebih lemah dari Imp tapi biasanya malas dipanggil oleh penyihir karena tidak berguna (bahkan imp pun hampir tidak berguna selain untuk berlatih bagi para penyihir pemula atau membuat barang-barang sihir sederhana) dan juga lebih tinggi dari Marid tapi sangat jarang dipanggil karena amat sangat berbahaya dan membutuhkan banyak penyihir tingkat atas untuk melakukannya (Nouda salah satu spirit level ini, yang ada di Kanon cerita Bartimaeus). Bahkan Marid sendiri sangat jarang dipanggil, karena biasanya membutuhkan 2 penyihir tingkat atas untuk memanggilnya.
Ugh panjang banget y penjelasannya. Diusahakan kedepannya akan lebih sederhana setelah terbiasa dengan universe ini ^^
Jika kalian berminat, kalian bisa mendownload ebook Bartimaues di blog saya : .. 2013/07/25/bartimaeus/ (hapus kelebihan titiknya)
Jangan lupa tinggalkan review ^^ juga jika masih ada yang kurang jelas dan ingin ditanyakan juga bisa ditulis direview
