"GRADUATION"
by
Harada Kiyoshi
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
Cover Image © Eulalie Fujioka
.
Warning: Slight AkaKuro, Possibly OOC, missed typo(s), nyerempet sho-ai, dan di sini anak-anak GoM satu kelas
.
Ga suka jangan baca, oke?
.
.
.
Alter Ego
Mungkin orang kedua yang paling menderita setelah perpecahan first string klub basket SMP Teikou yang dijuluki Kiseki no Sedai adalah Momoi Satsuki. Sedangkan orang pertama yang paling menderita tentu saja Kuroko Tetsuya, yang merasa dirinya tidak setara jika dibandingkan dengan lima jenius warna-warni. Terlebih setelah perubahan drastis kepribadian kapten yang selama ini ia percaya bisa mengendalikan empat jenius lainnya agar tidak sesuka hati menghancurkan mental lawan di lapangan. Tetapi nyatanya, kaptennya itu sama saja.
Kuroko Tetsuya lebih memilih menghilang setelah final interhigh, karena merasa tidak sanggup berjumpa dengan teman-teman satu timnya setelah mereka dengan seenaknya menghancurkan lawan dengan berlomba mencetak angka seolah-olah yang bertanding di sana hanya mereka, tanpa lawan. Lalu ia berencana mendaftar di SMA yang berbeda dengan mantan rekan satu timnya setelah mendengar kabar bahwa mereka semua akan mendaftar di SMA yang sama, atas perintah mantan kaptennya, Akashi Seijuurou, tentunya. Kuroko sangat mengerti kalau mantan rekan satu timnya itu tidak bisa menolak perintah Akashi, karena Akashi yang memerintah mereka sekarang lebih mirip diktator. Siapa coba yang berani melawan? Bahkan Aomine Daiki yang terkenal suka bolos latihan setelah merasa basket semakin membosankan, tunduk pada perintah Akashi.
Tetapi rencana hanya tetap rencana jika tidak terlaksana, bukan? Karena kenyataannya, Kuroko Tetsuya mendaftar di SMA yang sama dengan mantan rekan satu timnya itu. Tadinya Kuroko yakin yang memerintahkan mantan rekan satu timnya agar mendaftar di SMA yang sama adalah mantan kaptennya yang diktator, yang tidak mau menerima penolakan. Namun keyakinannya luntur ketika Akashi secara pribadi menemuinya dan memintanya mendaftar di SMA yang sama dengannya dan empat jenius lainnya. Sekali lagi, Akashi memintanya, bukan memerintahnya. Dan, jika diingat-ingat, saat itu Akashi memanggilnya 'Kuroko', bukan 'Tetsuya' seperti sebelumnya. Saat itu pula Kuroko kembali merasakan wibawa Akashi sebagai pemimpin yang belakangan tertutupi sikap diktatornya. Seperti terpesona, Kuroko mengangguk begitu saja, menyetujui permintaan Akashi.
Mungkin istilah semacam alter ego hanya kelihatan nyata di novel-novel fiksi yang sering ia baca. Padahal kenyataannya, alter ego ada di sekitarnya, pada diri mantan kaptennya tepatnya. Pemikiran bahwa Akashi mempunyai dua kepribadian sempat sekilas terlintas di benaknya. Hanya sekilas, karena ia berpikir itu terlalu mustahil, sebelum Midorima menjelaskan padanya kalau sebenarnya Akashi Seijuurou itu ada dua.
Karena mendapat penjelasan yang amat sangat jelas dari Midorima yang sering menemani Akashi bermain shogi sejak mereka masih SD (Akashi dan Midorima bersekolah di SD yang sama), Kuroko semakin sering memerhatikan Akashi dan baru menyadari kepribadian Akashi sering berubah-ubah. Cara paling mudah membedakan Akashi yang mana yang sedang berbicara dengannya adalah dengan memerhatikan panggilan apa yang Akashi gunakan. Jika itu nama depan, selamat karena itu artinya diri Akashi yang lain yang tengah mengambil alih.
Semakin sering memerhatikan, Kuroko menemui tak hanya cara Akashi memanggil nama seseorang yang berbeda, auranya juga akan terasa berbeda jika diri Akashi yang lain yang sedang mengambil alih. Tatapan matanya seperti mengintimidasi, dan ada aura dingin yang kentara. Ya, walaupun begitu, lama kelamaan mereka juga terbiasa dengan kepribadian Akashi yang sering berubah-ubah karena itu yang mereka hadapi hampir setiap hari, sampai tahun ketiga ini.
Apapun itu, yang jelas setiap kali mendengar kata alter ego membuat Momoi merasa kembali ke masa itu. Walaupun Momoi juga yakin, alter ego Akashi bukan satu-satunya penyebab perpecahan pada first string klub basket SMP Teikou. Tetapi tetap saja ia merasa trauma, dan membuatnya saat ini mati-matian menolak ajakan Kise untuk membahas alter ego, berhubung Akashi belum kembali.
"Mou… Ki-chan, tidak baik menceritakan orang, terlebih teman kita sendiri," ujar Momoi bermaksud agar Kise menyimpan buku mengenai alter ego yang katanya baru ia beli karena penasaran dengan alter ego Akashi.
"Aku bukan menceritakan orang, Momoicchi. Anggap saja kita sedang belajar bersama mengenai kepribadian ganda. Iya, 'kan, Midorimacchi?" Kise menoleh pada Midorima yang sedang membaca buku entah apa, yang jelas bukan buku alter ego miliknya.
"Aku tidak mau ikut campur, nanodayo," balas Midorima. Ia semakin menggeser duduknya dari Kise, menjauh karena tidak ingin cari masalah.
Kise mengerucutkan bibirnya. "Kenapa tidak ada yang mau belajar bersama denganku-ssu?" rengeknya.
"Gomen, Kise-chin. Aku tidak mau Aka-chin berhenti membelikan snack untukku." Murasakibara jelas-jelas menolak ajakan Kise karena ia tentu saja lebih memilih snack dari Akashi daripada hukuman dari Akashi.
"Belajar bersama apanya, Kise. Aku yakin itu hanya kedok supaya kami mau menggosip denganmu," ujar Aomine tidak jelas karena ia mengatakannya sambil menguap.
Momoi mencak-mencak di hadapan Aomine yang tengah tiduran di bangku taman sekolah mereka. "Dai-chan— Aomine-kun! Sudah kubilang jangan tanggapi omongan Ki-chan! Nanti kauterhasut!"
Iya, Aomine memang sering terhasut omongan Kise, dan nasib mereka berdua hampir tidak pernah berakhir dengan bahagia seperti di cerita-cerita petualangan. Padahal, ya, mereka juga sama-sama bertualang dan menghadapi bahaya. Contohnya saat Kise menantang Aomine untuk mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi guru sampai guru di dalamnya keluar. Sebenarnya Aomine tidak mau, tetapi karena Kise mengejeknya pengecut, Aomine tidak terima dan menyetujui tantangan Kise. Alhasil bujukan Momoi tidak mempan lagi. Nasib mereka berdua berakhir dengan tragis. Saat mereka diam-diam masuk ke kamar mandi khusus guru dan mengetuk-ngetuk pintu pada bilik yang tertutup, ternyata guru yang ada di dalam bilik itu adalah guru Matematika yang tidak pernah bersahabat dengan mereka berdua. Guru itu murka, untung saja Akashi yang selalu disayang semua guru karena pintar dan tidak kurang ajar masih mau menyelamatkan mereka.
Petualangan mereka tidak berakhir di situ saja. Midorima dan Akashi—yang saat itu tidak sedang dikendalikan alter ego-nya—menyeramahi mereka. Kuroko juga ikut-ikutan menyeremahi. Tahu sendiri, kan, bagaimana Kuroko kalau sudah berbicara. Ia ibarat wasabi; menjebak. Iya, menjebak. Di mulut tak berasa, tahu-tahu pedasnya sudah menyengat sampai ke hidung. Kalau dalam kasus Kise, sih, menyengatnya sampai ke ulu hati. Right in the kokoro bahasa kerennya.
Kise yang berpikir akan diselamatkan oleh Kuroko, malah menangis meraung-raung karena Kuroko. Momoi yang bujukannya diabaikan mana bersedia menyelamatkan Aomine, ia malah menertawai mereka sekencang-kencangnya. Murasakibara adalah harapan terakhir mereka, namun sepertinya Murasakibara sudah pernah menegaskan untuk tidak berharap banyak padanya. Begitulah, dunia memang tidak adil bagi mereka yang berotak kecil.
"Momoicchi, apa maksudnya itu-ssu? Aku tidak pernah menghasut Aominecchi, tahu!"
Seolah mengabaikan teriakan tidak terima dari Kise, Aomine membuka sebelah matanya, melirik Momoi. "Tidak akan, Satsuki," ujar Aomine pelan. Berniat berbisik sebenarnya, tetapi Kise dan Midorima bisa mendengarnya, jadi itu tidak bisa disebut berbisik.
Midorima pura-pura tidak dengar saja. Ia benar-benar tidak mau ikut campur kali ini.
"Aominecchi … aku tahu kaupenasaran juga, makanya aku membeli buku ini. Momoicchi dan Midorimacchi pasti juga penasaran, 'kan? Murasakibaracchi juga, 'kan?"
Jurus andalan. Manik sewarna madu milik Kise mulai berkaca-kaca.
"Selagi Akashicchi masih menemani Kurokocchi membeli vanilla milk shake, kita bisa membahas ini bersama-sama-ssu."
Masih berkaca-kaca dan belum ada yang luluh.
"Aominecchi …"
Nah.
Aomine refleks membuka matanya, dan tidak sengaja langsung menatap sepasang manik Kise yang berkaca-kaca.
"Kupikir kita teman-ssu—"
Suaranya bergetar, hampir menangis.
"—dan kupikir teman akan melakukan semuanya bersama-sama-ssu."
Midorima melirik Kise sebentar, lalu kembali membaca bukunya. Bersama-sama berakhir di kantor guru karena membicarakan Akashi? Tidak, terimakasih, nanodayo.
Bulir bening mulai meluncur mulus dari sudut mata Kise. Momoi panik. Aomine refleks mendudukkan dirinya. Sementara Midorima berusaha untuk tidak terpengaruh jurus andalan Kise yang biasanya selalu ampuh. Murasakibara tak acuh, dinding pertahanannya setinggi tembok Maria, Rose, dan Sina dalam serial anime kesukaannya.
"Ki-Ki-Ki-chan, jangan menangis … ja-ja-ja-jangan menangis, ya?"
Nah, sepertinya Momoi mulai terpengaruh.
"Kupikir kita semua teman-ssu."
Air mata Kise semakin deras mengalir.
"Aku hanya … hanya ingin lebih memahami Akashicchi-ssu. Supaya … supaya … supaya pertemanan kita tidak retak lagi seperti dulu. Kupikir jika memahami kepribadian ganda, kita bisa lebih mengerti Akashicchi dan tidak akan ribut-ribut lagi-ssu. Aku tidak mempunyai maksud buruk seperti yang kalian pikirkan-ssu," Kise berujar sambil terisak.
Sebenarnya Momoi juga mengerti maksud Kise membeli buku itu. Hanya saja, kadang pemikiran mereka dengan pemikiran Akashi berbeda, apalagi Akashi yang satunya. Baiklah, Momoi menghargai niat baik Kise, dan jujur saja ia juga ingin melakukannya, ingin sekali malah. Tetapi, jika Akashi mengetahui ini, Momoi tidak yakin mereka akan selamat. Beberapa waktu lalu, Aomine berakhir di kantor guru karena Akashi melaporkan Aomine yang tidak pernah mengerjakan tugas piketnya. Guru-guru selalu memercayai Akashi, dan akibatnya Aomine mendapat surat peringatan dan diskors selama seminggu. Jika saja Aomine tidak cari masalah dengan Akashi, mungkin hal semacam itu tidak akan terjadi. Akashi licik? Sebenarnya itu tidak bisa dikatakan licik sepenuhnya. Karena apa yang Akashi laporkan pada guru adalah kenyataan, bukan hal yang ia buat-buat. Namun ia terpaksa melaporkan hal itu pada guru karena Aomine selalu mengabaikan tegurannya, itu artinya Aomine sudah mencari gara-gara dengannya.
Jadi, alasan Momoi berusaha untuk menolak membicarakan Akashi adalah karena tidak ingin satu pun di antara mereka berakhir seperti Aomine. Bagaimanapun, berurusan dengan guru itu tidak baik. Terlebih mereka sudah kelas tiga.
Nah, soal Momoi yang mengatakan pada Aomine jangan menanggapi omongan Kise supaya tidak terhasut, itu karena Momoi hapal betul urutan menuju tahap 'terhasut omongan Kise'. Semua berawal dari menanggapi omongannya, lalu tidak sengaja menatap matanya yang berkaca-kaca, atau jika situasinya berbeda, akan termakan ejekan 'pengecut' darinya.
Aomine sendiri sudah sampai pada tahap 'tidak sengaja menatap mata Kise yang berkaca-kaca'. Tahu sendiri, Aomine yang tampangnya sangar begitu nyatanya tak pernah tahan melihat temannya menangis. Lalu akhirnya ia mengalah dan menuruti omongan Kise karena tidak ingin Kise menangis. Aomine juga manusia yang mempunyai perasaan. Pertahanannya pun goyah.
Momoi juga sama, ia tak pernah tahan dengan mata yang berkaca-kaca. Apalagi Kise sudah menangis begini.
Sedangkan Midorima, ia masih berpura-pura tidak mendengar. Hanya berpura-pura, karena sebenarnya ia juga menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya pada tiga orang di sana. Kalau Murasakibara, jalan pikirannya susah ditebak. Sepertinya ia sudah dikendalikan sepenuhnya oleh snack gratis dari Akashi.
"Baiklah," ujar Aomine dan Momoi bersamaan.
Kise sumringah.
Midorima menguatkan batinnya. Aku tidak akan ikut campur, nanodayo. Tidak akan, nodayo.
"Ne, ne, kita akan mulai dari mana-ssu?" Kise membalik-balik halaman buku itu.
"Lihat di daftar isinya dong, Kise!" Aomine merebut paksa buku itu, mencari daftar isinya.
"Ah, iya. Aku lupa-ssu. Hehe," ujar Kise diiringi cengiran lima jari yang membuat Momoi silau.
Kalau Kise sudah ceria begini, mereka pun lupa dengan nasib mereka selanjutnya jika Akashi tiba-tiba datang memergoki mereka. Tidak peduli tujuan mereka baik, menurut sudut pandang mereka, Akashi pasti akan tetap memberikan hukuman pada mereka. Entah itu dengan melaporkan perbuatan buruk mereka yang hanya Akashi tahu, atau dengan hal lain yang tidak pernah mereka duga. Akashi memang selalu begitu (suka menyimpan-nyimpan rahasia temannya untuk dimanfaatkan jika ia butuh), mereka juga sudah maklum. Anggap saja Akashi itu makhluk penuh kejutan yang sengaja dikirim Tuhan untuk mewarnai hari-hari mereka yang kusam.
Aomine menunjuk sub judul 'sekilas tentang alter ego', lalu meminta persetujuan Kise dan juga Momoi.
Mereka berdua mengangguk setuju. Lalu Aomine mulai membaca dengan suara sedikit keras. "Alter ego disebabkan oleh tekanan yang menyebabkan trauma atau pun ketakutan yang sangat besar pada masa lalu. Sifat alter ego selalu bertolak belakang dengan sifat asli seseorang. Oleh karena itu, orang yang mengidap alter ego dan alter ego-nya bisa saling melengkapi—"
"Tunggu-ssu!" Kise memotong.
Aomine menatap Kise sebal. "Apalagi, sih, Kise?"
"Apa Akashicchipernah mengalami trauma-ssu? Sehingga memunculkan sifat mengerikan itu?" Kise menatap Momoi, lalu bergantian menatap Aomine.
Yang ditatap hanya balik menatap. Mereka sama-sama tidak tahu rupanya.
Kise mendengus. Bagaimana bisa mereka mengaku-ngaku sebagai teman Akashi sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa tentang masa lalu Akashi?
"Ne, seingatku kepribadian Akashi-kun berubah drastis setelah Mukkun menantangnya one-on-one. Iya, 'kan? Saat itu Aomine-kun bolos latihan dan Tetsu-kun pergi mencari Aomine-kun. Lalu setelah itu, first string SMP Teikou dibolehkan tidak mengikuti latihan oleh Akashi-kun yang biasanya selalu keras kalau masalah latihan. Iya, 'kan, Ki-chan?" Momoi berujar sembari mengingat-ingat kejadian yang sebenarnya ingin ia lupakan. Namun sepertinya kejadian itu sudah melekat permanen di otaknya.
Kise mengangguk, membenarkan ucapan Momoi.
"Tapi, Satsuki, memangnya sebelum itu Akashi pernah mengalami trauma? Berjumpa dengan lawan yang membuatnya trauma, misalnya? Seingatku lawan kita selalu kalah. Kalau lawan kita yang kalah, kenapa malah Akashi yang trauma? Apa mungkin Akashi tidak tega mengalahkan lawannya? Memangnya—"
"Di awal memang cukup masuk akal, tetapi semakin ke belakang, omonganmu semakin menegaskan kalau pola pikirmu belum mengalami kemajuan, Dai-chan." Momoi menggelengkan kepalanya dramatis karena tidak mengerti dengan otak kecil Aomine Daiki.
Kise kelihatan berpikir, kemudian menunjuk-nunjuk Midorima dengan sumringah. Jangan lupakan teriakannya yang cukup nyaring untuk membuat kacamata milik Midorima turun beberapa mili. "Midorimacchi! Kausatu SD dengan Akashicchi, 'kan? Iya, 'kan? Iya, 'kan?" Kise menghampiri Midorima, lalu mengguncang-guncang bahu Midorima dengan dramatis. Julukan drama queen atau drama king mungkin cocok untuk Kise. "Ne, ne, katakan padaku, apa Akashicchi pernah mengalami trauma saat SD-ssu?"
Midorima menjauh dari Kise. Membenarkan letak kacamatanya, lalu berujar dengan gaya bicaranya yang menurut Kise lucu. "Aku tidak mau ikut campur, nanodayo. Aku tidak mau cari masalah."
Bukan Kise namanya kalau menyerah begitu saja. Kata menyerah sudah lama ia hapus dari kepalanya.
Kalau sudah begini—
"Midorimacchi …"
—jurus andalannya terpaksa harus ia gunakan.
Midorima mundur teratur.
"H-hentikan, Kise! Itu tidak akan mempan padaku, nanodayo!"
Tidak mempan, ya? Calm down. Kise masih mempunyai jurus andalan lain.
Kise mengalihkan pandangan dari Midorima ke Aomine dan Momoi yang juga tengah memandanginya. Tadinya pandangan mereka datar-datar saja, sebelum sadar kalau mata Kise kembali berkaca-kaca.
Sekarang mereka seperti orang tua yang panik melihat anaknya akan menangis—
"Aominecchi … Momoicchi …"
—ralat, sudah menangis.
Beralih dari Kise ke Midorima, mereka melemparkan death glare yang berhasil membuat Midorima kicep. Midorima bisa takut juga kalau ditatap seperti itu meskipun ketakutannya itu ia tutupi dengan raut tidak peduli. Maklum, tsundere.
Ia menyempatkan diri membenarkan letak kacamatanya sebelum mulai bersuara. "B-bukannya aku mau ikut campur, nanodayo!"
Itu mukadimah ala Midorima. Mereka sumringah, kecuali Murasakibara.
"Aku hanya kebetulan sekelas dengannya saat kelas lima dan kelas enam, nanodayo. Jadi, tidak banyak yang kuketahui."
Kise angguk-angguk. "Lanjutkan, Midorimacchi."
Midorima sempat melirik Kise sebentar dan menyadari sesuatu, bahwa benar-benar ada yang salah dengan isi kepala dua orang temannya di sana. Jelas-jelas air mata buaya, nodayo. Mereka masih saja tertipu.
"Akashi sering mengajakku bermain shogi karena nilai-nilaiku hampir setara dengannya, nodayo. Permainan kami juga hampir setara, Akashi hanya sedikit lebih hebat dariku saat itu, jadi jumlah kemenanganku dan kemenangannya hanya berbeda sedikit, nanodayo. Lalu yang kuingat, ibu Akashi meninggal dunia, dan setelah itu Akashi menjadi agak berbeda, nanodayo. Secara keseluruhan, dia masih Akashi yang sama dan orang yang tidak dekat dengannya tidak akan merasakan perubahan apa-apa. B-bukan berarti aku dekat dengannya, nanodayo! Aku hanya kebetulan sering bermain shogi dengannya—"
Itu, sih, namanya dekat-ssu.
"—dan setelah itu, jumlah kemenanganku dan kemenangannya semakin jauh saja, nanodayo. Dulu aku berpikir mungkin ini hanya perasaanku, Akashi yang menjadi berbeda saat terpojok dalam permainan. Padahal aku hampir menang, nanodayo. Lalu keadaan menjadi terbalik dan Akashi yang memenangkannya, nodayo. Akashi hanya menjadi berbeda di saat-saat seperti itu ketika kami SD, dan kupikir saat SMP juga, sebelum tragedi dengan Murasakibara itu, nanodayo. Sudah, hanya itu yang kutahu, nodayo." Midorima membenarkan letak kacamatanya, kemudian kembali melanjutkan membaca bukunya, mengabaikan tatapan kecewa dari pendengarnya.
"Mou … Midorimacchi! Kaupasti masih mengetahui banyak! Beritahu kami lagi-ssu!"
"Hanya itu yang kutahu, nodayo!"
"Midorimacchi …"
"Midorima, apa salahnya, sih, berbagi ilmu."
"Ilmu apanya, nodayo?! Aku tidak mau mencari masalah dengan Akashi!"
"Midorin …"
"Sekali tidak, tetap tidak!"
"Ne …"
Suara itu … suara bernada malas itu …
"Kise-chin, sepertinya aku mengetahui sesuatu."
Penyelamat datang!
Sepertinya hanya Midorima yang facepalm melihat Murasakibara yang tadinya mengatakan tidak ingin ikut campur karena khawatir dengan asupan snack gratisnya, sekarang malah terang-terangan akan ikut campur. Nah, mungkin memang benar pertahanan Murasakibara itu setinggi tembok Maria, Rose, dan Sina dalam serial anime kesukaannya, tetapi sepertinya pertahannya tidak sekokoh tembok-tembok itu. Sejauh Midorima mengenal Murasakibara, ia seperti anak kecil yang gampang terpengaruh suasana lingkungan.
"Apa itu, Mukkun?" tanya Momoi dengan antusias membara, kelihatan dari tatapan matanya.
"Saat one-on-one dengan Aka-chin, Aka-chin benar-benar berubah, tidak seperti Aka-chin yang kukenal. Firasatku buruk saat itu, makanya aku lebih memilih mengaku kalah lalu pulang dan berjanji untuk selalu menuruti perintah Aka-chin."
"Aku … juga merasa hal buruk akan terjadi saat itu-ssu."
"Kalau kalian lebih memerhatikan, Akashi berubah saat dia benar-benar terpojok dengan skor Murasakibara, nanodayo. Dan setelah itu, Akashi yang kita kenal tidak pernah muncul lagi sampai upacara kelulusan."
Rupanya Midorima ikut terpancing juga. Sepertinya kelepasan, kelihatan dari caranya membenarkan letak kacamata, dan kalimat yang keluar selanjutnya. "B-bukan berarti aku memerhatikannya, nanodayo!"
Kise gagal paham. Ini Midorimacchi, kok, seperti orang yang kepergok diam-diam sering memerhatikan, ya?
Aomine yang tidak ada di lokasi saat itu hanya bisa menyimak. Rasanya ia agak menyesal saat itu malah bolos latihan. Mungkin kalau saat itu ia tidak bolos, ia bisa melihat kemunculan perdana kepribadian Akashi yang satunya, yang kata teman-temannya mengerikan.
Baiklah, sekarang Aomine memang sudah tahu kepribadian Akashi yang satunya itu mengerikan. Tetapi rasanya kemunculan perdana itu mempunyai kesan berbeda.
"Saat upacara kelulusan, ya?" Aomine tidak tahan untuk diam lebih lama. Sepertinya ia tengah mengingat-ingat kejadian penting saat upacara kelulusan mereka.
"Oh, yang itu!" Aomine berseru. "Saat Akashi meminta kita mendaftar di SMA yang sama dengannya, 'kan? Oh, kalau kuingat-ingat, itu memang Akashi yang berbeda dengan sebelumnya. Apa itu kepribadian Akashi yang asli? Yang berbicara dengan kita saat itu, itu kepribadian Akashi yang asli, 'kan?"
Momoi angguk-angguk. "Kali ini Dai-chan benar."
"Apa maksudnya itu, Satsuki? Aku juga bisa pintar kalau aku mau, tahu!"
Momoi nyengir kuda. "Hehe. Dai-chan memang pintar, kok. Hanya jika Akashi-kun mengancam."
"Itu … itu bukan karena aku takut pada Akashi! Aku hanya ingin sekelas dengan kalian makanya aku belajar dengan keras! Kise juga sama sepertiku!"
"Apa-apaan itu, Aominecchi? Aku lebih pintar darimu-ssu! Dan aku juga lebih tampan darimu!"
Oke, abaikan kalimat yang terakhir.
"Maa … maa … kita lanjutkan saja, ya? Sebelum Akashi-kun kembali."
Ternyata membahas beberapa baris saja sudah selama ini. Tidak mau membuang-buang waktu sempit mereka yang amat berharga, Momoi melanjutkan membaca bagian penting selanjutnya. "Alter ego dapat merupakan kepribadian yang memang sama sekali tidak kita miliki atau bisa dibilang bentuk pengekspresian diri. Sifat alter ego itu selalu aneh dan berlebihan. Terkadang ada alter ego yang mengalahkan sifat aslinya sehingga alter ego itu sendiri yang menjadi sifat asli penderita. Penderita akan berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, tetapi orang-orang tidak akan menyadarinya karena sesungguhnya sifat asli seseorang itu juga mempunyai sedikit sifat alter ego-nya. Semakin dewasa yang mengalaminya, semakin bisa pula mengendalikan alter ego-nya ke arah positif—"
"Aneh dan berlebihan, ya?" Kise kelihatan menimbang-nimbang sesuatu, lalu melihat ke kanan, kemudian ke kiri, kemudian ke belakang, sebelum akhirnya berujar agak berbisik. "Itu benar-ssu. Apalagi saat Akashicchi membuat pipi Kagamicchi terluka dengan gunting milik Midorimacchi. Aku sampai ketakutan melihatnya-ssu."
"Sesuatu terlintas begitu saja di kepalaku." Aomine ikut berkomentar. Semua mata tertuju padanya, bahkan Murasakibara juga. Tadi Midorima sempat berspekulasi bahwa Murasakibara seperti anak kecil. Benar memang, anak kecil selalu tertarik dengan hal-hal yang bisa dibilang ajaib. Nah, Aomine Daiki yang sedang berpikir keras begini termasuk di dalamnya, makanya ia tertarik.
Aomine menengadah dengan kedua tangan bertumpu pada bangku taman, kelihatan tengah berpikir keras. "Apa setelah bertanding one-on-one dengan Murasakibara, kepribadian Akashi yang asli dikalahkan kepribadian Akashi yang satunya dan Akashi yang memerintah kita saat itu adalah Akashi yang berbeda? Saat itu juga Akashi membolehkan kita untuk tidak hadir latihan rutin, 'kan? Padahal Akashi yang seharusnya akan menghukum kita kalau membolos latihan. Kali ini aku benar, 'kan? Dan soal mengendalikan alter ego-nya, kupikir sekarang Akashi sudah berhasil melakukannya. Sejak upacara kelulusan itu, Akashi tidak sepenuhnya dikendalikan alter ego-nya, 'kan? Maksudku, kepribadian aslinya dan alter ego-nya seimbang."
Semuanya mengangguk setuju, tak terkecuali Midorima. "Itu benar, nanodayo."
Satu lagi rahasia Akashi mulai tersingkap. Momoi jadi berapi-api untuk melanjutkan membaca penjelasan selanjutnya. Ternyata ini benar-benar menarik.
Momoi baru saja ingin buka mulut untuk melanjutkan membaca, Aomine sudah memotongnya. Ternyata Aomine belum selesai berasumsi. "Oi, oi, aku jadi teringat saat aku dan Kise tidak hadir latihan karena mengira Akashi sedang dikendalikan alter ego-nya. Kalau alter ego-nya, kan, tidak gila latihan, jadi kupikir bisa santai-santai, yang penting aku mencetak angka saat pertandingan. Untung saja saat itu Tetsu meneleponku. Kalau tidak, mungkin hukuman dari Akashi akan berkali-kali lipat beratnya. Tetsu benar-benar malaikat penyelamat."
Momoi dan Kise mengangguk setuju. Untuk hal lain, mereka memang jarang sekali kompak, tetapi kalau sudah menyangkut Kuroko Tetsuya, mereka bisa kompak seperti anak kembar. Kuroko Tetsuya milik bersama bagi mereka, tidak bagi Akashi—terlebih Akashi yang satunya.
Nah, Aomine sudah selesai bernostalgia. Momoi melanjutkan, mumpung Akashi belum kembali. "Alter ego bisa dibilang berpotensi ada di semua orang. Hanya potensinya yang berbeda-beda, tergantung kehidupan yang dijalani dan situasi individu. Bagi beberapa orang yang sudah mengenal alter ego-nya, banyak yang menganggap ini menyenangkan karena terkadang kita dapat berbicara dengan alter ego kita.Alter ego tidak selalu muncul pada hitungan menit, jam, ataupun hari. Banyak juga yang alter ego dan sifat aslinya bergantian satu tahun sekali, tetapi ada juga yang muncul bergantian satu menit sekali."
Momoi menarik napas. Midorima menganggap itu kesempatan untuk menyuarakan estimasinya.
"Sebenarnya aku sudah lama memikirkan ini, nanodayo—" Midorima benar-benar tertarik rupanya, "—Mungkin kemunculan alter ego Akashi karena tertekan saat ibunya meninggal dunia. Yang kudengar, Akashi dan ibunya benar-benar dekat, nanodayo. Bahkan ibunya yang mengenalkan basket padanya. Yang kudengar juga, ibu dan ayah Akashi benar-benar bertolak belakang, nanodayo. Mungkin karena Akashi pewaris tunggal, jadi ayahnya mewajibkannya untuk bisa melakukan semua hal dengan baik, nanodayo. Sementara ibu Akashi adalah penyelamat Akashi dari segala pengekangan yang ayahnya lakukan, nodayo. Jadi saat ibunya meninggal, tidak ada lagi yang menghiburnya, nodayo. Cara ayahnya mendidiknya adalah dengan menanamkan prinsip 'tidak boleh kalah' dalam dirinya, mungkin karena itu Akashi jadi berbeda ketika ia nyaris kalah. Dirinya yang asli tidak menyukai kekalahan, tetapi kekuatannya juga terbatas, makanya dirinya yang lain muncul saat Akashi nyaris kalah, nanodayo. Itu hanya pemikiranku saja, nodayo." Midorima membenarkan letak kacamatanya, kemudian melanjutkan membaca bukunya. Ternyata Midorima benar-benar menyimak percakapan teman-temannya meskipun ia berpura-pura tidak peduli. Tsundere memang beda.
"Midorimacchi, kaukeren sekali-ssu. Jadi … jadi itu yang sebenarnya terjadi pada Akashicchi-ssu? Kenapa aku baru tahu-ssu! Akashicchi …aku jadi ingin memeluknya-ssu!"
"Aku juga ingin memeluk Aka-chin."
"Kalian berdua hanya akan ditendangnya kalau benar-benar memeluknya."
Benar juga.
Mengabaikan komentar miring Aomine, Kise kembali berujar dengan bersemangat, "Lanjutkan, Momoi—"
"Wah, sepertinya sedang membicarakan hal yang seru. Menggosipkan siapa?"
—Mampus-ssu.
Semua yang ada di sana, kecuali Murasakibara, menoleh ke sumber suara dengan gerakan patah-patah. Momoi buru-buru melemparkan buku milik Kise ke Aomine.
"Ini, Aka-chin, mereka sedang membicarakan Aka-chin."
Semua mata tersangka tertuju pada Murasakibara. Bisa dipastikan mereka tengah meneriakkan hal yang intinya sama, hanya dalam hati tentunya.
Mukkun penghianat.
Che. Sial. Ternyata dia benar-benar sudah dikendalikan snack gratis Akashi sepenuhnya.
Murasakibaracchi hidoi-ssu. Kenapa kautega menghianati kami-ssu? Kenapa-ssu?!
Ada penghianat di sini, nanodayo.
"Benarkah? Apa yang mereka bicarakan tentangku, Murasakibara?"
Murasakibara? Syukurlah … Tuhan masih menyayangiku rupanya. Kira-kira itu yang mereka ucapkan dalam hati setelah mengetahui ini adalah Akashi yang asli.
"Mereka membicarakan Aka-chin yang ada dua."
Anak kecil memang selalu jujur.
"Oh, begitu."
Semua tersangka mengembuskan napas lega—kecuali Murasakibara yang tidak merasa menjadi tersangka.
"Midorima—"
Mampus, nanodayo.
"—apa lucky item Sagitarius hari ini?"
Midorima sebenarnya curiga, tetapi karena Akashi yang bertanya, itu artinya ia harus menjawab. Berbohong mengatakan tidak tahu bukan pilihan, karena Akashi tahu kalau Midorima hapal semua lucky item untuk teman-temannya. Meskipun tidak menunjukkannya, Midorima menyayangi teman-temannya dan tidak ingin teman-temannya tertimpa kesialan. Midorima sebenarnya peduli. Tetapi karena ia adalah penganut paham tsundere, maka kepeduliannya terkesan ditutup-tutupi.
"Raket listrik, nanoda—"
Midorima mendadak beku. Ini gawat! Gawat! Apa yang ingin Akashi lakukan dengan raket listrik? Ingin membasmi nyamuk? Mustahil, 'kan? Kecuali Akashi menganggap mereka nyamuk.
"Tunggu, Akashi. Apa yang—"
"Raket listrik, ya? Ternyata aku memang tidak salah membaca ramalan tadi pagi."
Mencurigakan. Sejak kapan Akashi menyukai ramalan seperti Midorima? Ah, lupakan, lupakan. Nasib mereka yang lebih penting sekarang.
"Murasakibara, kauikut dalam percakapan mereka, 'kan?"
Murasakibara menunduk sambil terus meremas bungkus keripik kentangnya. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Akashi, berbohong juga percuma. Kalau Murasakibara ibarat anak kecil, maka Akashi yang ini ibarat seorang ibu. Setiap ibu mempunyai naluri pendeteksi kebohongan. Hubungan yang kompleks.
"Maafkan aku, Aka-chin."
Murasakibara anak baik. Murasakibara tidak pernah berbohong. Murasakibara selalu berpihak pada ibunya— salah, Akashi maksudnya. Makanya Akashi tidak merasa harus menghukumnya, yang harus dihukum adalah mereka yang sudah menodai kepolosan Murasakibara.
"Nah, Murasakibara, kau tidak ingin aku marah padamu, 'kan?"
Murasakibara menggeleng polos, masih meremas-remas bungkus keripik kentangnya.
"Kalau begitu, tolong ambilkan raket listrik di gudang sekolah. Seingatku sekolah memiliki satu dan disimpan di sana. Coba kauperiksa lemari yang berisi bola basket yang sudah tidak terpakai."
"Baik, Aka-chin."
Murasakibara memang anak baik. Ia sudah melesat menuju gudang sekolah tanpa memedulikan tatapan memohon teman-temannya.
Mata Kise mulai berkaca-kaca. Ia takut sungguhan, takut wajah tampannya menjadi korban. Sepertinya mulai saat ini mereka juga harus waspada dengan kepribadian Akashi yang asli, karena kelihatannya kepribadiannya yang asli sudah terkontaminasi kepribadian alter ego-nya yang sadis.
Aomine melirik Kuroko Tetsuya yang berdiri di sebelah Akashi, tidak berkomentar apa-apa sedari tadi. Sebenarnya Aomine berniat meminta pertolongan Kuroko, karena bagi mereka Kuroko adalah malaikat penyelamat. Tetapi ia mengurungkan niatnya setelah melihat apa yang Kuroko minum dan apa isi kantong plastik yang dibawa Kuroko. Aomine mendecih kesal. Sial. Bahkan Tetsu kami sudah dikendalikan vanilla milk shake gratis.
Kuroko anak baik yang tidak akan rewel jika sudah dibelikan apa yang ia mau. Sederhana.
"Akashi-kun …" Momoi takut-takut memanggil Akashi. Tetapi demi statusnya sebagai perempuan, ia harus berani. "Apa aku juga akan dihukum dengan raket listrik?" tanya Momoi dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Akashi mengalihkan atensinya pada Momoi. Yah, meskipun ia benar-benar tertarik pada Kuroko Tetsuya, tetapi ia juga masih menghormati perempuan karena Akashi sangat menyayangi ibunya yang sudah lama meninggal. Perempuan tidak boleh disakiti.
Akashi menggeleng. Aomine, Kise, dan Midorima memprotes dalam hati. Momoi sujud syukur.
"Kau kuhukum tidak boleh mendekati Kuroko selama tiga hari. Sakit akibat raket listrik akan hilang dalam tiga hari, jadi hukuman kalian semua seimbang."
Seimbang ndas-mu. Ini jelas penyiksaan batin bagi Momoi. Tiga hari tidak memeluk Tetsu-kun sudah seperti tiga bulan baginya. Momoi tidak terima, tetapi juga tidak berani protes. Lebih baik aku dihukum dengan raket listrik daripada tidak boleh mendekati Tetsu-kun!
Momoi meringis.
"Akashi-kun, aku mau ke toilet."
Kuroko benar-benar tidak peka dengan situasi teman-temannya.
"Mau kutemani?"
Akashi brengsek. Che. Sial.
Akashicchi modus-ssu.
Aku tidak peduli dengan mereka berdua, nanodayo.
Tidak … Tetsu-kun …
"Tidak perlu, Akashi-kun. Tolong pegangi ini saja." Kuroko menyerahkan vanilla milk shake yang tadi ia minum dan vanilla milk shake dalam kantong plastik yang belum sempat ia minum. Hanya Kuroko yang berani menyuruh Akashi dan Akashi tidak marah sama sekali. Benar-benar anak kesayangan.
Mereka—termasuk Midorima—mengembuskan napas lega segera setelah Kuroko berlari menuju toilet.
Tak lama setelah itu, Murasakibara kembali dengan benda yang diinginkan Akashi di tangannya. Selanjutknya mulai terdengar teriakan-teriakan memilukan. Untung saja sekolah sudah sunyi. Kalau tidak, mereka pasti sudah menjadi tontonan murid-murid lain yang gagal paham dengan penyiksaan ini.
Oh, sepertinya mereka melupakan tujuan awal mereka. Tadinya mereka akan belajar bersama di rumah Akashi. Kenapa harus rumah Akashi? Karena hanya Akashi satu-satunya yang memahami materi Fisika tadi, dan Akashi bilang mereka harus ke rumahnya kalau ingin ia mengajari mereka. Apa boleh buat, bahkan Midorima juga kesulitan memahaminya, apalagi Aomine dan Kise. Tetapi karena Kuroko ingin membeli vanilla milk shake, jadi Akashi menyuruh teman-temannya yang lain menunggu di sekolah saja, dan ia akan menemani Kuroko Tetsuya dengan segenap jiwa raga. Modus memang, tetapi siapa yang berani protes kalau itu Akashi. Dan sekarang mereka cidera—fisik dan batin. Entah mereka bisa belajar bersama hari ini atau tidak. Itu masih menjadi misteri.
.
.
.
Dream
Kuroko bingung. Kuroko tidak mengerti. Padahal tadinya minggu paginya normal-normal saja, menonton TV dengan ayah, ibu, dan neneknya sambil mengobrol, sebelum seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya dan menangis meraung-raung di sana. Kuroko tidak mengerti karena si pemecah sunyi hanya terus menangis saat ia menanyai apa yang terjadi. Orang tua dan neneknya juga tidak bisa membantu apa-apa karena sama-sama tidak mengerti situasinya.
"Kise-kun, kaukenapa? Apa yang terjadi?" Kuroko menepuk-nepuk pelan kepala kuning dalam pelukannya itu. Tidak, bukan Kuroko yang memeluk Kise, tetapi Kise yang tiba-tiba menghambur ke pelukannya segera setelah ia membuka pintu. Untung saja orang tua dan neneknya sudah hapal dengan tabiat manja Kise pada Kuroko. Teman-teman Kuroko sudah sering belajar bersama di rumah Kuroko karena mereka bilang rumahnya nyaman. Jadi, sedikit banyak orang tua dan neneknya mulai memahami pribadi masing-masing teman Kuroko. Aneh dan unik adalah kesan pertama.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, Kise-kun." Kali ini ibu Kuroko angkat bicara.
Namun sia-sia, Kise masih terus menangis. Jadi Kuroko mengambil inisiatif untuk menelepon Akashi, dan Akashi akan menelepon teman-temannya yang lain. Biasanya Akashi benar-benar membantu di saat-saat seperti ini. Biasanya, sih.
Sebenarnya ayah dan nenek Kuroko juga ingin ikut membantu, tetapi sepertinya mereka sudah terlanjur kebingungan, meskipun ekspresinya datar-datar saja. Tidak ingin mengganggu, ayah Kuroko mengajak ibunya ke ruang TV mereka yang satunya. Sedangkan ibu Kuroko masih di sana, menemani Kuroko sampai semua teman-temannya datang.
Mencoba sekali lagi, mungkin sekarang Kise sudah bisa menjelaskan situasinya. "Maa … maa … Kise-kun, apa yang sedang terjadi? Kalau Kise-kun menangis terus, Tetsuya-kun akan—"
"Permisi."
Oh, teman-teman Kuroko sudah sampai. Lengkap pula. Wibawa Akashi sebagai pemimpin semakin kentara saja.
"Tetsuya-kun, Ibu ke belakang saja, ya? Kalau perlu apa-apa panggil Ibu saja."
Kuroko mengangguk mengerti. Akashi, Aomine, dan Momoi memerhatikan ibu Kuroko sampai benar-benar menghilang. Mereka memang selalu seperti itu, dan Kise sebenarnya juga sama—kalau situasinya berbeda. Mungkin yang ada di pikiran mereka adalah kalau Kuroko/Tetsu/Tetsu-kun perempuan pasti akan seelegan itu. Midorima, sih, sebenarnya memerhatikan dan juga ikut kagum, tapi tidak semencolok tiga orang itu juga. Midorima masih menjunjung tinggi-tinggi yang namanya sopan santun. Murasakibara— jangan ditanya, maibou yang dipasangkan pita merah muda lebih cantik baginya.
"Ano…"
Mereka—minus Kise dan Murasakibara—kaget.
"Apa Ibuku terlihat aneh? Kenapa kalian selalu melihat Ibuku sampai seperti itu?"
"Ti-ti-ti-ti-tidak kok, Tetsu-kun," ujar Momoi diiringi tawa terputus-putus, tanda ia gugup.
"Cantik, Tetsu."
"Cantik sekali."
Kuroko angguk-angguk. Jadi ini alasan teman-temannya itu selalu memerhatikan ibunya sampai seperti itu setiap kali ke rumahnya.
"Terima kasih banyak. Tetapi kalau Aomine-kun dan Akashi-kun mengatakan itu untuk menggoda ibuku, silahkan tarik kembali ucapan kalian."
"Aku tidak bermaksud begitu, kok."
"Aku juga tidak."
"Kise-chin, kenapa menangis? Aku mau berbagi maibou dengan Kise-chin, tapi Kise-chin harus berhenti menangis, ya?"
Ternyata Murasakibara bisa peka juga.
Di sinilah peran seorang teman untuk saling melengkapi. Jika yang lain sedang mengalami gangguan kepekaan, maka harus ada yang tetap peka. Kira-kira begitu. Dan siapa sangka orangnya adalah Murasakibara.
Kise menggeleng lemah. Tanpa menoleh pada Murasakibara, ia berujar sambil terisak, "Terimakasih, Murasakibaracchi. Tapi … tapi sekarang aku sedang tidak ingin makan maibou-ssu."
"Oh, ya, sudah."
Hanya sampai situ tingkat kepekaan Murasakibara.
"Akashi-kun, tolong lakukan sesuatu pada Kise-kun. Aku sudah pegal, Kise-kun terus memelukku dari tadi."
Tangisan Kise semakin kencang saja. Walaupun terluka dengan omongan Kuroko, ia tetap tidak melepaskan pelukannya. Memangnya hanya Akashi yang bisa modus, Kise juga bisa.
Tidak, Aomine tidak terima. Ia, kan, calon polisi. Ia harus menghentikan pelecehan ini.
Adegan tarik menarik dan jerit menjerit pun dimulai.
"Kise, menjauh dari Tetsu!" Aomine berusaha menarik Kise, sedangkan yang ditarik semakin mengeratkan pelukannya pada Kuroko.
"Tidak mau, Aominecchi!"
"Menjauh! Kubilang menjauh!"
"Tidak mau!"
"Berhenti!"
Mampus.
"Kise-kun, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Kuroko murka.
Kise ketakutan. Aomine dan Momoi pucat. Midorima dan Murasakibara terkejut. Akashi terkagum. Oke, Akashi memang beda. Penyebab situasi ini hanya satu, Kuroko yang jarang sekali marah sekarang kelihatan marah.
Posisi mereka sekarang sedang duduk di lantai, di dekat pintu. Jadi wajar saja kalau ada orang yang kebetulan lewat terheran-heran melihat rumah yang biasanya damai-damai saja sekarang seperti sedang ada demo masak. Salahkan Kise yang langsung memeluk Kuroko saat Kuroko membuka pintu hingga Kuroko jatuh terduduk, dan teman-temannya yang baru saja datang malah ikutan duduk di depan pintu. Seperti situasi darurat saja sampai mereka tidak sempat memikirkan tempat berbicara yang nyaman dan lebih elit.
"Jelaskan apa yang terjadi, Kise." Kalem dan menenangkan, khas seorang ibu. Siapa lagi kalau bukan Akashi (yang asli).
Kise mengusap air mata yang mulai mereda dengan punggung tangannya, kemudian menunduk, lalu berujar dengan sesenggukan. "Aku … aku lulus ujian masuk sekolah penerbangan di New Zealand-ssu."
Satu-satunya alasan mereka kelihatan kaget adalah bahwa mereka tidak tahu kapan Kise mengikuti ujian itu. Bukan karena Kise yang mengatakan ia lulus. Itu tidak mengagetkan, sungguh, karena mereka melihat sendiri bagaimana kerja keras Kise beberapa bulan ini. Kise benar-benar ingin menjadi pilot, makanya ia berusaha keras belajar mati-matian. Ia bahkan mulai cuti dari pekerjaannya sebagai model, dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Kise memang tidak pintar dari lahir seperti Akashi dan Midorima, tetapi Kise mempunyai keyakinan dan usaha bahwa ia bisa menjadi pilot, dan sekarang ia tinggal selangkah lagi.
"Wah, Kise-chin benar-benar hebat. Berarti saat upacara kelulusan nanti, Kise-chin akan dipanggil ke depan. Aku senang sekali," ujar Murasakibara dengan nada malasnya. Tapi ia tidak berbohong, ia benar-benar senang.
"Ki-chan … Ki-chan benar-benar akan menjadi pilot. Aku akan mempunyai teman seorang pilot." Momoi terharu.
Aomine menjitak kepala Kise yang kemudian kembali memicu rengekan yang benar-benar mengganggu pendengaran.
"Aominecchi, sakit-ssu— aduh, Aominecchi! Hentikan!"
Aomine mencapit leher Kise dengan lengan kanannya, lalu menggunakan tangan Kirinya untuk mengacak surai blonde itu. Kemudian terdengar suara tawa renyah. "Kaubenar-benar hebat, Kise. Nanti ajak aku jalan-jalan dengan pesawat, ya? Dan, oh, jangan lupa kenalkan aku dengan pramugari berdada—"
"Dasar Ahomine." Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Apa isi kepalamu itu hanya dada wanita, nanodayo?"
Aomine melepaskan capitan tangannya pada leher Kise. Beralih pada Midorima. "Bilang saja kauiri karena aku masih menyukai hal yang normal!"
Perempatan muncul di dahi Midorima. "Apa maksudnya itu, nanodayo? Aku juga masih normal, nodayo! Menyukai sesuatu secara berlebihan tidak bisa dikatakan normal, nodayo! Kautidak normal, Ahomine."
"Aku normal, Midorima brengsek! Kemari! Kemari, biar aku—"
"Hentikan!"
Ronde kedua Kuroko murka.
"Apa kalian tidak bisa membicarakan hal yang normal kalau sedang di rumahku?"
Oke, jelas sudah. Aomine dan Midorima sama-sama tidak normal dari sudut pandang Kuroko.
Aomine pucat. Midorima kicep. Murasakibara stay cool. Momoi nyengir kuda. Kise mengerjapkan matanya berkali-kali, kagum dengan ekspresi Kuroko ketika marah tadi. Dan Akashi senyum-senyum bahagia, entah kenapa.
Kuroko menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Ini adalah cara klasik meredakan emosi.
"Kise-kun akan menerimanya, 'kan?"
"Aku… tidak tahu-ssu."
"Apa?!" Aomine menjitak Kise lagi. Mungkin benar apa yang pernah dibilang Momoi, bebal Aomine itu bebal bawaan lahir, permanen pula. Padahal baru saja Kuroko memarahinya.
"Yang benar saja, Kise. Kautidak tahu harus menerimanya atau tidak? Kauharus menerimanya, bodoh! Menjadi pilot, kan, impianmu dari dulu! Ini kesempatan emas, Kise. Kapan lagi kaubisa sekolah di luar negeri, hah?"
"Aomine-kun benar. Kise-kun harus mencobanya." Kuroko menatap Kise lembut, dan—entah kenapa—Kise kembali berkaca-kaca.
Aomine tersenyum bangga, kemudian berujar, "Nah, nah. Lihat, kan? Ucapanku itu selalu benar— eh?"
Aomine refleks melirik Akashi. Demi lucky item Midorima, yang ia ucapkan barusan adalah kalimat sakral alter ego Akashi. Aomine mendadak merinding dan berpikiran yang macam-macam, seperti apa alter ego Akashi berpindah ke diriku?
Begitulah. Cara kerja otak Aomine memang unik. Entah dari mana ia mendapat pemikiran bahwa alter ego milik orang lain dapat berpindah ke dirinya.
Mengabaikan omongan tidak penting Aomine, mereka kembali ke pokok permasalahan yang membuat mereka berkumpul di rumah Kuroko pagi-pagi begini, dihari libur pula.
Jadi, di sinilah peran seorang pemimpin. Akashi dengan segala keabsolutannya angkat bicara, "Apa yang membuatmu ragu, Kise?"
Kise kembali menangis. "Aku … aku tidak mau berpisah dengan kalian-ssu. Aku memang ingin menjadi pilot. Tapi … tapi sebenarnya aku ingin sekolah di Jepang saja-ssu. Mengikuti ujian itu hanya saran dari kakakku dan ayahku juga memintaku mencobanya. Aku juga tidak menyangka akan lulus-ssu," jawabnya dengan sesenggukan.
Momoi ikut menangis melihat Kise menangis. Perasaan perempuan memang sangat sensitif.
Akashi dengan penuh wibawa kepemimpinan menepuk pundak Kise, kemudian berujar penuh penghayatan, "Kise, kita sudah bukan anak kecil lagi. Kauharus memikirkan masa depanmu. Bagaimana pun setelah lulus nanti, kita harus mengejar mimpi masing-masing. Aku dan Kuroko akan mencoba Universitas Kyoto. Midorima akan mencoba Universitas Tokyo. Murasakibara akan belajar tata boga di Prancis. Aomine akan mencoba Akademi Kepolisian. Dan Momoi akan mencoba Universitas Osaka. Lihat, tidak ada yang melanjut di daerah yang sama, 'kan?"
Kise menatap Akashi masih dengan mata berair dan sesenggukan kecil, "Ada. Akashicchi dan Kurokocchi."
Semua mata tertuju pada Akashi. Mereka semua—minus Kuroko dan Murasakibara—yakin Akashi sudah mencuci otak Kuroko supaya mau melanjut di universitas yang sama dengan pilihannya.
"Ano…"
Penyelamat datang!
Beralih dari mata belang Akashi ke mata biru muda Kuroko. Rautnya datar seperti biasa, tetapi selalu berhasil membuat Kise dan Momoi gemas ingin memeluknya.
"Jangan memandang Akashi-kun seperti itu. Akashi-kun tidak pernah memaksaku. Aku ingin mencoba karena Universitas Kyoto memang bagus, seperti yang dikatakan Akashi-kun. Ayah, ibu, dan nenekku juga sudah memberi ijin. Jadi aku akan berusaha keras agar bisa lulus ujian masuk," jelas Kuroko dengan sopan, tetapi bagi mereka—yang tidak terima Akashi dan Kuroko melanjut di universitas yang sama—kata-kata itu langsung menghujam jantung, padahal ucapan Kuroko barusan tidak sedikit pun mengandung unsur sarkasme. Mereka tidak terima. Kenapa Akashi yang baru dipandangi seperti itu saja langsung dibela? Kenapa mereka yang beberapa waktu lalu terkena siksaan perih sengatan raket listrik tidak sedikit pun mendapat pembelaan? Kenapa? Kenapa? Kenapa kautega, Kurokocchi?! batin Kise nelangsa.
Akashi melipat kedua tangannya di dada, memandangi teman-temannya satu per satu dengan senyum meremehkan, seolah seorang raja yang memandang pada sekelompok kampungan.
Kalau itu Kise, aku pasti sudah menendangnya.
Kalau itu Aominecchi, aku pasti sudah menjambak-jambak rambutnya-ssu.
Aku tidak mau ikut campur, nanodayo. Tapi Akashi benar-benar membuatku kesal, nodayo. Aku tidak terima, nodayo.
Akashi-kun, mau kauapakan Tetsu-kun?
Murasakibara tidak akan protes karena Murasakibara adalah anak baik.
"Baiklah," akhirnya Kuroko buka suara untuk sedikit meredakan ketegangan yang ada, "jadi, Kise-kun akan melanjut sekolah penerbangan di—"
"Tapi aku juga ingin bersama Kurokocchi, seperti Akashicchi-ssu," potongnya takut-takut. Namun demi melindungi Kurokocchi-nya dari tangan pemimpin berkedok malaikat yang jalan pikirannya selalu susah ditebak, menerima siksaan perih sengatan raket listrik lagi pun Kise rela.
Mengembuskan napas berat, Kuroko mulai berpikir kehadiran Akashi di sini hanya memperumit suasana. "Kise-kun, Universitas Kyoto tidak mempunyai landasan pesawat terbang. Kautidak bisa berlatih mengendarai pesawat di sana. Jika menggunakan pesawat kertas, kautidak akan bisa menjadi pilot. Dan satu lagi, aku dan Akashi-kun sama-sama belajar di sana, bukan bermain basket, apalagi bermain kejar-kejaran seperti anak SD. Kita mempunyai mimpi yang berbeda, Kise-kun. Maka berbeda pula cara meraihnya. Kaupaham?"
Kise mengangguk saja meskipun sebenarnya masih ingin protes. Namun, berhubung Kuroko ada diurutan nomor dua teman yang paling ditakutinya setelah Akashi, dan saat ini Kuroko seperti sedang menahan emosi, akhirnya dengan berat hati Kise mengubur dalam-dalam keinginannya untuk protes.
"Baguslah kalau kaupaham. Masalah sudah selesai. Sekarang kalian boleh pulang," ujar Kuroko datar.
Mereka semua menatap Kuroko heran. Bahkan Akashi sudah tidak bertingkah seperti raja yang memandang orang kampungan lagi. Ia bingung harus berekspresi seperti apa, baru kali ini ia diusir secara terang-terangan.
"Kuro-chin, aku lapar. Apa kami tidak diberi sarapan?" Murasakibara berujar dengan nada malasnya.
"Benar … ssu! Aku juga lapar … ssu!"
Tidak, itu bukan Kise. Itu Aomine yang isi kepalanya sepertinya konslet lagi.
"Dai-chan?" Momoi menjadi yang pertama menyuarakan keheranannya.
"Kebodohan apa lagi yang sedang kaulakukan, Ahomine?"
"Aomine! Bukan Ahomine, Midorima brengsek … ssu!"
Akashi, Kuroko, dan Murasakibara hanya memandang Aomine heran, atau mungkin takjub dengan keanehan Aomine. Sementara Kise yang baru sadar ia tengah ditiru, merengek tidak terima. Ini plagiarisme namanya, dan itu dilarang dimana-mana.
"Aominecchi! Apa yang kaulakukan-ssu? Jangan meniruku-ssu! Aku tidak terima-ssu!" Kise mengguncang-guncang bahu Aomine dramatis.
"Aku pinjam sebentar saja, Kise … Kisecchi! Kalau aku sudah masuk Akademi Kepolisian aku akan mengembalikannya … ssu! Mungkin cara bicaramu membawa keberuntungan … ssu! Jadi aku pinjam sebentar, ya?"
"Tidak! Aku tidak rela ditiru orang sepertimu-ssu! Aku tidak mau-ssu!"
"Tetsuya-kun …"
Hening. Mereka hanya saling pandang selama beberapa detik, kemudian mengalihkan atensi ke sumber suara.
Kepala biru muda menyembul dari sana—sepertinya itu pintu menuju pintu dapur.
"Ada apa, Bu?"
"Ajak teman-temanmu sarapan, ya? Tetsuya-kun juga belum sarapan, 'kan? Teman-temanmu pasti juga belum sarapan karena pagi-pagi sekali sudah ke sini." Kemudian terdengar suara tawa kecil yang bisa dipastikan berasal dari ibu Kuroko. Semua mata memusatkan atensi pada ibu Kuroko yang di mata warna-warni mereka lebih terlihat seperti Kuroko versi perempuan dewasa dengan bonus wajah yang lebih ekspresif.
Kuroko cepat-cepat mengiyakan karena taksudi ibunya dipandangi seperti itu oleh teman-temannya sendiri. Apa maksudnya tatapan seperti itu? Mereka tertarik dengan ibunya, begitu?
Suara tawa kecil kembali terdengar sebelum kepala biru muda itu menghilang. Mereka mengerjap beberapa kali, kemudian mendapat hadiah tatapan datar dari si tuan rumah.
"Ne, kalau Kuro-chin perempuan, mungkin akan seperti Ibu Kuro-chin. Aku jadi ingin menikahi Kuro-chin," ujar Murasakibara tanpa canggung yang kemudian mengundang tatapan tidak terima empat lainnya.
"Tidak! Aku yang akan menikahi Kurokocchi-ssu!"
"Aku yang lebih pantas menikahi Tetsu!"
"Tidak, Aominecchi. Aku yang lebih pantas-ssu!"
"Aku!"
"Aku!"
"B-bukannya aku—"
"Tentu saja aku."
Hening. Momoi bingung harus ikut serta atau tidak dalam memperebutkan Kuroko versi perempuan. Aomine dan Kise yang sibuk berdebat langsung bungkam. Sementara Midorima yang ingin ikut-ikutan memperebutkan jika Kuroko adalah perempuan tetapi karena ia terlalu tsundere, Akashi menikungnya dengan mudah. Murasakibara menonton acara rebutan Kuroko dengan khidmat sambil memakan keripik kentang, seperti tanpa dosa, padahal ia tersangka yang memicu keributan ini.
Akashi kembali melipat kedua tangannya di dada, kemudian mengulangi karena ucapannya tadi hanya ditanggapi sunyi, "Kalian tidak dengar? Tentu saja aku."
Pelafalan dan intonasinya sama persis seperti pertama kali ia mengucapkannya, menandakan Akashi yang tetap tenang bahkan saat semua mata tertuju padanya.
Kuroko tersedak liurnya sendiri. Ini adalah situasi di mana hormon adrenalinnya bekerja secara maksimal. Saat adrenalin meningkat, maka napas dan detak jantung juga akan meningkat. Hal ini berpengaruh pada proses pencernaan yang melambat sehingga energi dialihkan ke otot. Akibatnya, pembuluh darah di wajah akan melebar dan memungkinkan darah yang mengalir melalui wajah lebih banyak dari biasanya. Penjelasan ilmiah mengapa wajah yang biasanya selalu datar itu sekarang dinodai semburat merah.
Kuroko bangkit dari duduknya, kemudian berjalan lebih dulu ke dapur. "Kenyataannya aku bukan perempuan. Jadi tidak ada yang perlu diributkan. Kalian boleh pulang kalau tidak ingin sarapan denganku."
Kuroko menyadari pipinya yang menghangat, dan karena ia adalah penganut paham kuudere, ia tidak rela wajahnya yang memerah menjadi tontonan teman-temannya. Kuroko harus tetap stay cool menghadapi situasi seaneh apa pun.
"Kise, kaulihat tadi? Pipi Tetsu memerah, kaulihat?" bisik Aomine, tetapi semua yang ada di sana bisa mendengar, bahkan Kuroko yang nyaris menghilang di pintu menuju dapur masih bisa mendengar meskipun hanya samar.
"Lihat-ssu! Kurokocchi manis sekali-ssu. Aku mau lihat lagi-ssu." Kemudian Aomine dan Kise berlari tunggang langgang demi melihat sekali lagi pipi Kuroko yang memerah.
Ini pemandangan langka. Jadi Momoi berniat mengabadikannya. Sebenarnya ia sudah memegang handphone dari tadi. Menu kamera sudah ia aktifkan. Namun tangannya bergetar saking bersemangatnya ingin memotret Kuroko. Jepretannya berakhir dengan bayang-bayang samar seperti baru memotret makhluk halus.
Midorima membenarkan letak kacamatanya. Kemudian menyusul Aomine, Kise, dan Momoi sembari terus meyakini diri dalam hati; aku tidak terpesona pada Kuroko, nanodayo. Aku tidak terpesona. Aku tidak terpesona. Aku tidak terpesona. Aku terpesona— tidak! Aku tidak terpesona, nodayo!
Bahkan saat membatin pun Midorima tetap tsundere.
"Aka-chin?" Murasakibara melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Akashi. "Aka-chin baik-baik saja? Apa kausangat kelaparan?"
Murasakibara Atsushi, anak baik yang perhatian dengan pemimpin yang juga merangkap sebagai ibunya yang kedua.
Mengerjap sekali sebelum benar-benar terbangun dari lamunannya, Akashi jadi teringat saat ia menemukan Kuroko tertidur di bangku milik Murasakibara. Pipi Kuroko … merona. Apa saat itu pipinya juga akan merona jika aku melakukannya saat ia sudah terbangun?
"Aka-chin?" Murasakibara kembali melambaikan tangannya di depan wajah Akashi.
Hanya mendapat balasan tatapan mata, Murasakibara menarik tangan Akashi, memaksanya cepat menyusul teman-temannya yang lain karena ia sudah kelaparan.
Bagaimanapun Kuroko menyembunyikan rasa malunya dengan wajah datarnya, semua orang yang ada di sana bisa melihatnya. Karena rasa malu biasanya muncul tanpa bisa dikendalikan sistem otak sadar. Sehingga bagaimanapun Kuroko berusaha bersikap biasa saja, gejala pipi yang merah akan tetap muncul. Anggap saja pipi yang merona adalah komunikasi visual secara taklangsung. Akashi berbunga mengingatnya.
.
.
.
AN:
Terimakasih banyak untuk semua yang sudah menyempatkan diri membaca tulisan saya. Terimakasih banyak untuk yang meninggalkan jejak maupun tidak. Terimakasih banyak untuk yang sudah review, fave, dan juga follow. Semoga chapter 2 ini tidak mengecewakan. Saya juga mohon maaf kalau ini kelamaan update-nya, hehe. Sekali lagi, terimakasih banyak!
Balasan untuk reviewer yang tidak log in (yang log in saya balas via PM, ya?):
Sagara ai-san:
Terimakasih banyak karena sudah suka, Sagara-san! Ini lanjutannya ;) dan terimakasih kembali, Sagara-san!
Eqa Skylight-san:
Terimakasih banyak sudah mengatakan ini keren, Eqa-san! Dan memang iya masa SMA itu yang paling diingat. Ini kelanjutannya, ya ;)
Big thanks to:
Monyan, sagara ai-san, -san, Eqa Skylight-san, KUROUJI-san, Bona Nano Nee-san, Thalia Tetsuna-san, KyraAkaKuroLover-san, Haruka Tachibana-san, Kagamine Micha-san, Ariefyana Fuji Lestari-san, Saory Athena Namikaze-san, ChiiKuro-san, Hyori Sagi-san, Reza C Warni W-san
Last, mind to review?
