A Sunflower
Rated: T
Genre:
Pairing:Naruto.U & Hinata.H
Naruto by Masashi Kishimoto
A Sunflower by Haruchii-Yazumi
Enjoy reading
"Nama mu Naruto Uzumaki, anak dari Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Kau memiliki Kurama karena kau adalah keturunan Uzumaki yang tersisa sampai sekarang. Ayah dan Ibu mu sudah meninggal beberapa ratus tahun yang lalu dan kau menyegel dirimu sendiri untuk tidur di hutan terlarang sampai keadaan membaik bukan?" Ucap pria berkacamata dengan jelas. Naruto dan Hinata membulatkan matanya.
"Siapa kau sebenar nya?" Tanya Naruto.
"Aku? Namaku Kabuto Yakushi, aku adalah anak buah tuan Orochimaru." Jawab Kabuto sambil membetulkan letak kacamata bundar nya.
"Orochimaru?! Kenapa dia bisa ada disini?! Bukan kah saat itu dia sudah ..." Pikir Hinata terkejut mendengar nama Orochimaru, salah satu dari tiga sannin yang menjadi pengkhianat kerajaan.
"Aku masih bisa bertahan hidup karena saat itu Kabuto langsung membawa ku ke kediaman ku dan segera mengobati ku hingga aku pulih, Hinata." Ucap Orochimaru yang menyadari keberadaan Hinata, Hinata pun keluar dari tempat persembunyian nya beberapa menit yang lalu.
"Mengapa anda tidak mati saja dengan tenang, Orochimaru-san? Kurasa umur anda tak lama lagi." Ucap Hinata dengan nada mengejek sambil menyeringai tipis.
"Hei, jaga mulut mu saat berbicara dengan tuan Orochimaru!" Ucap Kabuto dengan sedikit emosi.
"Cih, kau masih berada di pihak ular itu, ya, Kabuto."
"Dari pada kau yang masih berada di pihak Jinchuuriki yang lemah itu!"
Hinata yang mendengar Kabuto mengejek Naruto sebagai Jinchuuriki yang lemah langsung emosi, ia sudah tak bisa menahan amarah nya. Hinata pun melompat ke pagar pembatas. Ia menatap Kabuto dengan pandangan yang seolah berkata Jangan-macam-macam! , sedangkan Kabuto malah tersenyum mengejek ke arah Naruto yang berada di belakang Hinata. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap. Awan hitam menutupi matahari yang sedang bersinar cerah. Mata lavender indah milik Hinata kini menatap tajam ke mata hitam kelam milik Kabuto. Tak lama kilatan petir menuju ke arah Kabuto dan Orochimaru tetapi Kabuto dan Orochimaru dapat menghindari nya dengan cepat. Kabuto dan Orochimaru hanya terus menerus menghindari serangan Hinata tanpa menyerang balik. Setelah beberapa kali Hinata menyerang Kabuto akhirnya Kabuto ikut menyerang Hinata. Ia melempari Hinata beberapa Kunai yang sangat tajam, karena terlalu fokus dengan Kabuto, Hinata tidak menyadari bahwa kini Naruto tengah menghindari serangan-serangan yang diberikan oleh Orochimaru.
'Crash!' Kini lengan Naruto mengeluarkan banyak darah karena luka sayatan dari pedang Orochimaru. Naruto terus memegang lengan nya yang terus menerus mengeluarkan darah. Menyadari apa yang telah terjadi, Hinata segera menengok ke arah belakang nya.
"Naruto-kun!" Ucap Hinata terkejut ketika melihat darah yang terus mengalir dari lengan Naruto. Kabuto pun memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Hinata yang kini sedang lengah. Ia melemparkan sebuah kunai dengan sebuah kertas mantra peledak. Setelah melemparkan Kunai tersebut pada ujung pagar, Kabuto dan Orochhimaru segera pergi dari situ. Hinata pun segera sadar akan ada nya kertas mantra peledak pun langsung membopong tubuh Naruto dan meloncat ke sebuah pohon besar yang tak begitu jauh dari atap sekolah.
'BLAR!' Tepat saat Hinata dan Naruto menapakan kaki mereka di dahan pohon tersebut, kertas peledak itu meledak, menyebabkan sebagian dari gedung sekolah hancur terutama bagian atap.
"..." Hinata dan Naruto pun hanya terdiam sambil memandangi sekolah mereka yang hancur. Mereka tampak sedang mengatur nafas yang keluar masuk melalui hidung mereka. Tanpa mereka sadari ada seorang siswi berambut merah muda dengan mata emerald yang memerhatikan mereka berdua sejak tadi. Gadis yang diketahui bernama Sakura Haruno itu hanya memandang Naruto dan Hinata dengan pandangan bingung.
"Apa itu Jinchuuriki? Apa itu Kurama? Mengapa Hinata bisa memanggil petir dan menyerang dua orang itu?" Pikir Sakura sambil duduk di sebuah pohon Sakura yang lebat dan memiliki kayu yang sangat kuat.
"Siapa mereka sebenar nya?" Gumam Sakura, tak lama seseorang memanggil Sakura.
"Sakura! Cepat turun! Kita sudah terlambat, nih!" Ucap Ino dari bawah pohon.
"Ah, iya, sebentar!" Jawab Sakura, ia pun turun dari atas pohon.
-Skip Time-
Kini waktu telah menunjukan pukul 3 sore, sekolah pun sudah sepi hanya terdapat beberapa anak eskul dan tukan kebun lain hal nya dengan 3 orang gadis yang sedang berada di perpustakaan sekolah. Mereka terlihat sedang mencari sebuah buku tapi sayang nya tidak ada di perpustakaan tersebut.
"Hhh, kurasa tidak ada buku yang bersangkut paut nya dengan hal Jinchuuriki, Kurama, dan lain nya." Ucap Ino sambil menghela napas.
"Iya, mungkin kau salah dengar, Sakura-chan." Ucap Tenten yang sedang duduk di sebuah bangku yang di sediakan oleh perpustakaan sekolah untuk para murid yang ingin membaca.
"Seperti nya aku tidak salah dengar," Ujar Sakura, yakin bahwa ia tidak salah mendengar tadi.
"Aku juga mendengar kata-kata Minato dan Uzumaki." Lanjut Sakura.
"Hhh, mungkin kau tadi hanya berimajinasi saja, Sakura." Ucap Ino.
"Uzumaki? Seperti nya aku pernah membaca sebuah buku dengan kata Uzumaki." Ujar Tenten sambil berpikir. Sakura dan Ino pun segera menengok ke arah nya.
"Lebih baik kita ke rumah ku saja!" Ujar Tenten lagi, Sakura dan Ino pun mengangguk pertanda "iya".
Mereka pun segera mengambil tas mereka di kelas dan segera menuju rumah Tenten.
-Skip time-
Setelah beberapa menit mereka berjalan akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana bertingkat dengan cat dinding berwarna cream. Rumah tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
"Kita sampai." Ujar Tenten sambil membuka pagar rumah dan membuka pintu rumah tersebut. Mereka membuka sepatu mereka dan segera menuju ke kamar Tenten yang berada di lantai 2.
"Permisi." Ucap Sakura dan Ino ketika memasuki kamar Tenten. Di kamar Tenten terdapat banyak buku-buku yang berjejer rapih di tempat nya.
"Wah, ternyata kamar mu banyak buku ya, Tenten." Ucap Ino sambil melihat-lihat koleksi buku-buku Tenten dengan pandangan takjub.
"Hehe, begitulah." Ucap Tenten sambil tersenyum.
"Kalau begitu sekarang kita bisa mulai mencari kan?" Tanya Sakura, Tenten pun mengangguk.
"Tapi aku ke dapur sebentar ya, mau mengambilkan teh dulu sebentar. Kalian cari-cari saja dulu." Ujar Tenten lalu menuju dapur nya yang terdapat di bawah.
"Kira-kira buku yang mana ya?" Gumam Ino sambil melihat-lihat buku-buku Tenten. Sakura pun ikut mencari buku yang mereka cari. Tak lama Tenten pun datang sambil membawa nampan yang terdapat 3 cangkir teh dan beberapa camilan.
"Bagaimana? Apa sudah ketemu?" Tanya Tenten sambil meletakan nampan tersebut ke sebuah meja bundar. Sakura dan Ino pun menggeleng dengan serempak.
"Hhh..." Sakura, Ino dan Tenten pun menghela napas dengan serentak.
"Kalau begitu, ayo kita cari lagi." Ujar Tenten sambil mulai ikut mencari bersama kedua sahabat nya itu. Tanpa mereka sadari kini langit sudah berubah warna menjadi gelap dan mulai menurunkan titik-titik air sedikit-sedikit.
'Zrashhh!' Kini hujan bertambah deras seiring waktu berjalan.
"Wah, sudah malam! Mana hujan lagi... Gimana ini Sakura-chan?" Tanya Ino sambil memegang sebuah buku.
"Entahlah, kita tunggu sampai reda saja." Jawab Sakura masih terus membaca sebuah buku.
"Wah, hujan ya? Sekarang juga sudah malam sih, lebih baik kalian menginap saja disini. Lagi pula besok kan libur. Sekalian temani aku disini." Ucap Tenten dari pintu kamar nya sambil membawa beberapa buku tua.
"Eh, apa tidak merepotkan?" Tanya Ino.
"Tidak kok, lagi pula ayah dan ibu ku sedang tugas ke Amerika selama 2 minggu dan baru pulang 4 hari lagi. Dan lebih baik kalian beri tahu dulu orang tua kalian bahwa kalian ada di rumahku, biar mereka tidak khawatir." Jawab Tenten. Ino pun hanya ber'oh ria lalu memberi tahu orang tuanya dan orang tua Sakura bahwa mereka akan menginap di rumah Tenten. "Itu buku apa lagi, Tenten?" Tanya Sakura sambil menunjuk ke arah buku-buku yang di pegang oleh Tenten.
"Oh, ini buku-buku milik ayah ku yang sudah tua. Tadi aku ambil dari gudang. Siapa tahu buku yang kita cari ada disini." Jawab Tenten. Mereka pun segera membaca buku-buku tersebut dengan teliti. Suasana di kamar tersebut sangat hening sampai akhirnya Sakura berbicara.
"Ketemu!" Ujar Sakura dengan nada riang.
"Yang benar?! Akhirnya!" Ucap Ino, antusias.
"Coba dibaca!" Ujar Tenten. Sakura pun segera membaca nya.
"Pada suatu hari, di sebuah desa di Jepang terdapat sebuah keluarga bangsawan yang terhormat. Sang kepala keluarga Minato Namikaze, anak tunggal bangsawan Namikaze menikahi seorang anak tunggal bangsawan Uzumaki yang mempunyai rahasia yaitu di tubuh gadis itu terdapat siluman rubah berekor 9 yang sangat kuat dan berbahaya. Sampai akhirnya mereka mempunyai putra yang bernama Naruto Uzumaki. Karena wanita Uzumaki itu pendarahan" Ucap Sakura memulai cerita. Ino dan Tenten mulai mendengarkan dengan baik.
Di lain tempat tampak seorang pria berambut blonde kini tengah menatap ke langit yang sedang menurunkan titik-titik air melalui jendela kamar nya.
"Naruto-kun? Apa lengan nya masih sakit?" Tanya seorang gadis berambut indigo dengan mata lavender yang indah.
"Tidak, kok, Hinata-chan." Jawab Naruto dengan nada lembut. Naruto kini sudah ingat siapa itu Hinata Hyuuga dan masa lalu nya dengan lebih jelas. Hinata pun hanya tersenyum lembut.
"Syukurlah, Naruto-kun lapar? Aku buatkan makanan ya?" Ujar Hinata, Naruto pun mengangguk. Hinata pun meninggalkan Naruto. Kini ia memejamkan matanya. Ia terus teringat oleh masa lalu nya.
-Flash back-
Tampak seorang anak laki-laki berambut pirang sedang duduk di sebuah ayunan tua di dekat rumah megah yang diketahui adalah rumahnya. Anak laki-laki tersebut melihat anak-anak lain nya yang sedang bermain di taman dari kejauhan. Ia ingin sekali bermain bersama anak-anak lain nya tapi sayang nya sang nenek melanggar ia untuk bermain maupun bersosialisasi dengan orang lain selain nenek nya dari pihak ibu dan para penghuni rumah. Ibu nya sudah lama meninggal dunia dan ayahnya menghilang entah kemana. Kini yang menemaninnya hanya nenek nya dari pihak ibu, Mito Uzumaki. Ia pun bingung mengapa nenek dan kakek dari pihak ayahnya tak boleh bertemu dengannya? Padahal nenek dan kakek dari pihak ayahnya masih hidup dan sehat. Saat sedang bermain ayunan sendirian ia memutuskan untuk pergi ke taman dan bermain bersama anak-anak lain nya. Ia berpikir mungkin sesekali melanggar perkataan neneknya tidak akan apa-apa. Ia berharap bahwa ia bisa mendapatkan teman tetapi sayangnya harapan nya tak terwujud.
"Monster! Pergi kau dari sini!", "Monster! Ibu tolong aku!", "Aaaa! Ada monster!" Teriak anak-anak di taman.
"Tu-tunggu dulu! Aku bukan monster!" Ucap anak laki-laki tersebut tetapi tak di anggap sama sekali oleh semuanya. Tak lama taman itu menjadi sepi. Ia memutuskan untuk bermain sendiri sampai akhirnya ia duduk di bangku taman karena kelelahan.
"Um, a-apa kau sendirian? Ma-mau tidak main dengan ku?" Tanya seorang gadis berambut indigo. Anak laki-laki tersebut menengok ke arah suara tersebut. Mata biru laut nya kini menatap mata lavender gadis kecil tersebut. Ia menatap ak percaya kepada gadis itu.
"Kamu mau main denganku?" Tanya anak laki-laki itu untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar. Gadis kecil itu mengangguk pelan dengan muka memerah. Seketika wajah anak laki-laki itu menjadi cerah.
"Aku mau!" Ujar anak laki-laki itu dengan semangat, membuat gadis kecil itu tersenyum senang.
"Nama mu siapa?" Tanya anak laki-laki itu.
"Na-namaku Hinata Hyuuga. Ka-kamu?" Tanya anak perempuan itu dengan malu-malu.
"Namaku Naruto Uzumaki! Senang bisa berkenalan dengan mu, Hinata-chan!" Jawab Naruto sambil tersenyum lebar membuat wajah Hinata memerah.
"A-aku juga..." Ucap Hinata pelan tapi bisa di dengar oleh Naruto. Mereka pun akhirnya bermain bersama hingga matahari mulai terbenam.
"Ah, a-aku pulang du-dulu ya, Naruto-kun..." Ujar Hinata ketika menyadari sudah waktunya ia pulang. Wajah Naruto sedikit sedih ketika Hinata bilang bahwa ia harus pulang.
"Baiklah! Hati-hati ya dijalan, Hinata-chan! Aku senang bisa bertemu dengan mu!" Teriak Naruto ketika Hinata sudah berjalan jauh dari nya.
"Aku juga, Naruto-kun..." Gumam Hinata pelan.
Setelah pertemuan dengan Hinata, Naruto segera pulang ke rumahnya. Saat ia pulang ke rumahnya tidak ada sapaan seperti biasa dari para pelayan maupun para pengawal. Keadaan rumah itu pun sangat sepi tetapi Naruto tidak mempedulikan itu karena ia sedang merasa sangat senang karena ia mempunyai teman pertama yang baik, Hinata. Saat hendak memasuki kamarnya Naruto mendengar suara teriakan yang menyakitkan dari kamar neneknya. Suara itu sangat Naruto kenal karena itu adalah suara neneknya. Naruto pun berjalan pelan kearah kamar neneknya lalu membuka pintu tersebut dengan pelan. Ia mengintip ke dalamnya. Mata biru lautnya membesar ketika melihat neneknya di siksa oleh seseorang berambut hitam panjang. Pria tersebut meninju perut neneknya hingga neneknya mengeluarkan banyak darah.
"Ne-nenek?!" Teriak Naruto dalam hati.
"Sudah kubilang, serahkan kurama kepada ku!" Teriak pria tersebut.
"Tidak, aku tidak akan pernah memberikannya kepadamu! Jika aku memberikan Kurama kepadamu itu sama saja membunuh Naruto karena ia adalah Jinchuuriki Kurama saat ini!" Ucap Mito.
"Ck!" Decak pria itu. Akhirnya pria itu menusuk tepat pada bagian jantung Mito yang membuat Mito tertidur selamanya, Mito ambruk di dekat pintu yang sedang dipakai Naruto untuk mengintip. Saat sebelum Mito menutup matanya ia bergumam kepada Naruto.
"Pe-pergi, pergilah, Naruto. Pergi ke hutan larangan dan segel tubuh mu!" Gumam Mito kepada Naruto sambil menahan rasa sakit. Naruto membulatkan matanya ketika melihat neneknya tersenyum lembut kepadanya. Naruto pun mengangguk dan segera berlari menuju hutan larangan untuk menyegel tubuhnya hingga keadaan membaik.
-Flash back Off-
Naruto kini membuka matanya perlahan-lahan. Kembali memandang ke arah luar jendela dengan mata biru lautnya. "Nenek..." Batin Naruto ketika mengingat neneknya.
Di rumah Tenten.
"...Hingga akhirnya Naruto pun menyegel dirinya di hutan larangan tersebut." Ucap Sakura lalu menutup buku tersebut.
"Hanya itu kah?" Tanya Ino, Sakura pun hanya mengangguk.
"Tunggu, tadi di buku itu nama gadis kecil itu Hinata Hyuuga kan?" Tanya Tenten, Sakura kembali mengangguk.
"Apa Hinata Hyuuga yang dimaksud adalah Hinata Hyuuga teman kita atau Hinata Hyuuga yang lain?" Tanya Tenten lagi. Sakura dan Ino hanya bisa terdiam sambil mengangkat bahunya.
"Entahlah." Jawab mereka serempak.
"Masih belum jelas ya." Ucap Ino sambil merebahkan badan nya ke kasur empuk milik Tenten diikuti Sakura dan Tenten.
"Begitulah, kurasa kita harus menanyakan ke orang yang mengetahui hal tersebut dengan jelas. Siapa tahu kita bisa mengetahui lebih dalam atau mendapat petunjuk." Ucap Sakura.
"Orang yang mengetahui hal tersebut dengan jelas ya?" Gumam Tenten. Tiba-tiba mata Tenten membulat.
"Ah, Sakura! Siapa nama pengarang buku itu?" Tanya Tenten.
"Hm, disini tertulis Jiraya." Jawab Sakura sambil membaca nama pengarang tersebut.
"Bagaimana kalau kita bertanya saja kepada nya?" Tanya Tenten.
"Bisa saja dia sudah tidak ada." Jawab Ino.
"Kita coba saja. Jika dia masih hidup, kita bisa mengunjunginya dan bertanya kepadanya kan?" Ujar Tenten. Akhirnya mereka memutuskan pergi besok untuk mencari orang yang bernama Jiraya. Mereka pun tertidur ketika sedang membicarakan rencana mereka besok.
Di lain tempat, jauh dari kota dimana tempat tinggal Tenten, Sakura, Ino serta Naruto dan Hinata terdapat sebuah rumah sederhana yang berisikan seorang pria tua. Pria tua tersebut terlihat sedang menulis sesuatu di selembar kertas. Rambut putihnya yang panjang ia ikat kebelakang agar tak mengganggu aktivitasnya. Selesai menulis ia melihat ke arah sebuah bingkai foto yang sudah tua. Terdapat foto dirinya saat muda dengan wanita berambut pirang yang tentunya masih muda beserta seorang pria berambut blonde dan seorang wanita berambut merah yang sedang menggendong seorang bayi berambut blonde dengan 3 goresan di kedua pipinya.
"Naruto..." Gumam Pria tersebut.
.
.
.
A/N: Halo, ketemu lagi dengan saya, Haruchii Yazumi! Akhirnya chapter 2 selesai dikerjakan dengan baik tanpa gangguan dan akhirnya bisa di update hari ini. Maaf jika masih ada kesalahan typo dan lain nya. Alur cerita nya juga jadi berantakan. Terimakasih banyak buat yang sudah review di chapter 1 kemarin, review dari kalian sangat membantu dalam proses pembuatan karena review kalian semua membangkitkan semangat ku dalam sekejap.
Spesial thank's for:
Kirana Yumei, Kaze no Nachi, Algojo, Amexki chan, Livylaval, Diane Ungu dan para silent reader's.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya...
