shingeki no kyojin © isayama hajime x shoujo-ai, bad diction x reincarnation!AU, alternate reality x very delicious angst, dan akan memiliki banyak bahasa lambang yang mungkin tidak cocok dengan selera anda.


{ II. }


Simple Milk Tea.

Tiga kata itu adalah alasan baru Ymir menyambangi tempat penitipan anak yang menjadi tempat wajib yang ia kunjungi. Ymir datang ke sana ketika anak-anak tengah belajar di pelataran dalam. Ymir berusaha tidak menyolok untuk memerhatikan wanita itu tengah berdiri di tengah ruangan, entah membacakan buku untuk anak-anak, memberi ajaran tentang segala sesuatu yang sederhana. Ymir akan ada, mendengarkan dengan teliti dan meninggalkan teh yang terbungkus rapi dengan wangi tokonya tertinggal di ambang pintu, memerhatikannya sejenak hingga minum tersebut diambil.

Bulan-bulan pertama hingga enam bulan, tidak ada sedikitpun tanda bahwa minuman itu hendak diambil oleh sang guru muda.

Bahkan, terasa seakan Ymir hanya kesana untuk mengganti minuman dan membuang bekas yang tidak tersentuh di hari kemarin segera ke tempat sampah.

Sasha sempat menanyakan kemana gerangan sang barista di hari bolong menuju sore (Ymir menyuruh Marco untuk menggantikannya di saat itu), namun Ymir tidak menggubris.

Marco sempat menanyakan kenapa banyak sampah teh susu yang dibuat senormal lagi semahal mungkin oleh sang barista di tempat sampah belakang, namun Ymir menangkis.

Reiner sempat menanyakan kapan ia akan berhenti berdiri di lorong seperti seorang idiot di penitipan anak itu, namun Ymir tidak menanggap rasis.

Alasannya membawa minuman sesederhana itu adalah karena minuman itu yang suka ia tawarkan ketika malam penuh badai. Alasan lain, mungkin, ia tidak ingin menyuguhkan kafein, melainkan teh susu yang saling melengkapi.

Menuju bulan ketujuh, usahanya pun tidak berbuah, namun tak ada sempat Ymir menyerah di sana. Langkahnya tak pernah berhenti untuk teratur, berbaur dengan ramai dan menuju tempat yang ia tuju tepat waktu, memerhatikan sosok gadis yang fana dalam filamen-filamen ventilasi kaca dan seulas tipis sela pintu tempatnya mendengarkan intensitas suara.

Krista tidak pernah berubah. Krista tetap menyembunyikan sosok yang gelapnya jauh dari pandangan banyak orang, Krista akan berusaha membantu, lagi ia tidak ingin menjadi pengganggu lagi diganggu. Sosoknya selayak katalis transparan yang tidak terasa ada.

Ya, wanita itu Krista—wanita yang selama ini terus tinggal di hatinya.

Lagi, sini dan kini tidak menerimanya.

Itupun menurutnya tidak apa-apa.

Biarkan ia terlarut dalam fana, rasa semata yang benar-benar merajut dalam sedalam-dalamnya.

Ia akan terus berdiri menanti, lagi tidak ada hati yang akan membawanya pergi.

x x x

Bungkus itu selalu tampak tak terambil di ambang pintu, dan hanya dua murid kecil yang bertanya; pemilik surai hitam dengan manik hitam yang lurus serta pemilik surai pirang dengan manik birunya yang gelap.

"Krista-sensei?" Mikasa Ackerman menarik ujung rok sang guru.

"Ada apa, Mikasa, Annie?"

"Itu milik siapa?" Annie Leonhardt menunjuk pintu terbuka yang absen manusia. "Ibu tidak ambil?"

Mulut Krista hanya membentuk huruf 'o' melihat apa yang ditemukan anak-anak asuhannya itu. Sungguh, ia selalu melihat keberadaan bungkus itu di sana, namun ia tidak pernah mengambilnya. Anak-anak yang berlalu-lalang pun tak ia suruh untuk mengambilnya dengan ujaran 'tidak boleh mengambil barang sembarangan'.

Kali ini, penasarannya tertarik.

"Sensei tidak mengambilnya?"

"Siapa tahu ada yang meninggalkannya."

"Sensei harus mengembalikannya."

Mulailah celoteh anak-anak kecil mengurai dan menusuk rasa penasarannya. Iapun mendekati plastik cokelat yang menggantung di sana untuk mengambilnya.

Sedikit ditelaah, plastik itu menunjukkan kepemilikan Theo, Coffee and co., sebuah kafe tidak laku di belantaran jalan tersibuk kota Shiganshina. Sementara bungkus kedua adalah karton cokelat dan kemudian sebuah gelas karton dengan hias warna monokrom. Kuar aroma kuat teh kamomil tercium menyelubungi ruangan, disertai manis nuansa putih susu.

Milk tea.

Tampak olfaktorinya terlalu terbawa suasana, sampai ia lupa bahwa kedua gadis kecil itu memerhatikannya sejak tadi.

"Kalian lihat siapa yang meninggalkan ini?"

Keduanya menggeleng.

Krista terdiam.

Kenapa sang bisu teh ada di sana?

x x x

Untuk pertama kalinya, Ymir ingin berteriak.

Namun, hal tersebut cukup salah.

Untuk pertama kalinya, teh yang ia tinggalkan tidak ada ketika ia membawa bungkus baru.

Apakah itu Bertholdt yang kasihan padanya?

Atau anak-anak yang mengambilnya karena penasaran?

x x x

Sore itu lagi-lagi Annie dan Mikasa menemukan bungkus yang sama dan Krista mengambilnya dari tempatnya tertinggal. Mereka bertiga duduk di tengah-tengah dengan teh susu itu di tangan Krista, tidak ada pertukaran interaksi selain mereka bertiga tengah memerhatikan bungkus rapi itu ada di sana.

"Sayang sekali kalau dibuang," ucap Krista. "Tapi tidak ada yang menjamin ini bagus untuk diminum."

"Sensei tidak meminumnya?"

"Mungkin itu untuk Sensei?"

Mikasa dan Annie tampak bersisian menatap sang guru dengan rasa penasaran yang sama besarnya. Krista mendapati keraguan sebagai seorang guru di sana; antara membuang sebuah hal berharga di depan anak kecil, atau memberi anjuran bahwa makanan dan minuman asing seharusnya dibuang.

Krista menelan ludah, kebimbangannya harus disudahi sekarang juga.

Dalam hitungan ketiga, ia membuka tutup yang menyelubungi gelas karton dan meneguk pelan isi minuman yang ada.

Manis.

Sepat.

Kental.

Luar biasa.

Empat sensasi membuyarkannya dari lapisan dunia nyata.

"Sensei?"

"Oh—ah, maaf, sensei tidak apa-apa," Krista menjawab, menguraikan rasa khawatir dari wajah anak-anak tersebut.

[ "Teh ini terlalu enak ..." ]

x x x

Kini Ymir masih datang dan pergi ke tempat yang sama, dengan bungkus putih yang sama.

Ia sudah tidak perduli apa yang terjadi dengan teh tersebut, atau apa yang akan terjadi dengannya.

Sudah menjadi tugasnya membawakan segelas baru, lagi dan lagi, selalu.

Harapannya untuk bertemu muka sudah pupus namun tak kandas.

Ymir menggantung harapannya.

Dan waktu yang menjawabnya.

Mungkin.

Atau tidak mungkin.

Sepertinya malah mustahil.

Ia sudah tidak perduli apa yang terjadi dengan teh tersebut, atau apa yang akan terjadi dengannya.

Asa yang menyala di hatinya hanya bahwa gelas itu membawa senyum bagi yang menemukannya.

Walau setahun atau dua tahun menjelang, berulang dan meradang.

x x x

"Sensei, ada lagi."

Annie dan Mikasa tampak selayak piket bergantian membawakan bungkus yang sama ke meja sang guru ketika anak-anak lain telah pulang. Krista pun selalu menjadi penikmat hal yang sama setiap harinya seusai penatnya dunia kerja bersama anak-anak.

"Kalian mau coba?" Krista mengayunkan dua cangkir kecil ke arah dua anak yang tengah mewarnai di meja tengah.

Teh susu.

Hal simpel lagi menyimpan banyak rahasia.

Sajian sederhana lagi mahal dibuatnya.

Gelas setengah tinggi itu ia bagi rata menjadi dua cangkir kecil serta sisa kecil untuknya. Kedua anak itu saling berpandangan sebelum memegang gelas dengan kepulan asap putih.

"Enak." kata Annie singkat.

"Rasanya hangat, seperti dipeluk." Mikasa berucap.

Krista bertopang dagu, memegang gelas karton itu dengan sebelah tangannya. Tentu, tidak ada refleksi jelas dirinya di sana, susu bukanlah suatu hal bening dimana kau dapat berkaca.

Theo, Coffee & co.

Sebenarnya apa yang menunggunya di sana?

x x x

"Selamat datang, dengan Marco."

Krista Lenz menuju kedai kopi yang samasekali tidak terkenal itu di suatu senja saat hari liburnya berada. Kedai itu benar-benar sepi, tidak banyak dan bahkan nyaris tidak ada pengunjung terlihat batang hidungnya selain bartender yang memperkenalkan dirinya sebagai Marco.

"Mar ... co?"

"A-ada apa, nona?"

"Ti, tidak, tidak apa-apa. Sekedar familiar saja."

"Apa yang ingin kau pesan?"

"Hot milk tea, yang sedang saja."

Krista mengambil duduk di sisi bar menunggu sejenak pesanannya dibuatkan. Manik biru langitnya menelusuri kafe yang temaram, hiasannya tampak apik dan tertata, suasananya melekat di angan dan pikiran. Corak vintage dan kenyamanan ada di sana, selayaknya kafe bercitra mahal, sayang tiada nyawa bertandang.

"Silahkan, hot milk tea anda." pria berjerawat itu mempersilahkan. "Bila anda perlu tambahan sirup, silahkan bilang saja."

Ada sesuatu yang berbeda ketika ia melihat cangkir di saat pertama kali.

Aroma, citra, tampak—

Ini bukanlah teh yang biasa ia nikmati.

"Bartender Marco?"

"Ada apa, nona?"

"Apa ada satu bartender lagi yang bekerja di sini selain anda?"

"Oh, maaf tapi pemilik kafe sedang tidak ada di tempat. Mungkin di lain hari beliau akan ada."

Siapa gerangan pemilik teh susu dengan berbagai rahasianya tersebut?


tbc.