"Astronaut"

Author : eReL_Ra

Pair : Draco Malfoy x Harry Potter

Rate : T

Disclaimer : Harry Potter (still) belong to J.K. Rowling. And i had some inspiration for plot from 'astronaut'-simple plan- music video...

Ah iya... dan untuk diketahui bahwa "The First Kiss" memang terinspirasi dari film pendek berjudul "Orange".. Saya sudah tuliskan tapi sepertinya kurang jelas jadi ada yang tidak terbaca...

Sorry,keteledoran saya... -_-v

Genre : *masih mikir* angst aja deh atau Hurt/Comfort... tapi... ga juga sih.. intinya ga akan bener-bener happy ending aja..:P#digaplok yang ga suka angst

Summary:

"Bukankah sebelumnya kau bilang ingin menjadi Astronaut untuk mengabsolutkan kesepian? Dua tindakanmu ini terdengar kontradiksi menurutku."

" keduanya memang berkebalikan, tapi motif kenapa aku melakukan yang satunya dan ingin melakukan yang satunya memiliki alasan yang sama.."

"Kau memang aneh.."

-Part 2-

Draco tidak tahu jika ia bisa dibuat seberdebar ini ketika harus tampil di Barbican Arts Center. Baiklah, ini bukan penampilan perdananya sebagai pemain cello termuda dalam sejarah kota London. Well, alat musik ini memang tidak terlalu populer di kalangan anak muda. Sebagian besar teman-teman Draco yang juga menyukai musik lebih memilih mengambil gitar listrik dan mungkin mencoba peruntungan di ajang-ajang pencarian bakat.

Draco tidak menyalahkan mereka. Lagipula siapa yang tidak ingin terkenal. Hanya saja, baiklah pertama kita sebut dulu bahwa Draco adalah golongan konvensional, tapi menurut pria blondie itu esensi musik terletak pada prosesnya yang tak sebentar. Juga tempaan kerja keras. Draco tidak ingin bilang kalau musik pop zaman sekarang adalah musik yang tidak berkualitas. Hanya saja, itu bukan gaya Draco.

Ok, lupakan soal pembahasan taste musik Draco yang 'nyeleneh' dibandingkan teman-teman sebayanya. Ada satu hal lagi yang secara kurang ajar bukan cuma membuat Draco berdebar-debar tak karuan. Tapi juga sukses membuat jemari ramping panjangnya berkeringat, ia jadi khawatir bagaimana nanti permainan cellonya.

Yap. Satu hal itu adalah... sebuah kacamata bundar.

Ia mengenali kacamata bundar itu di antara ratusan kacamata lainnya yang memenuhi gedung basis utama London Symphony Orchestra ini. Milik si potter boncel, pikirnya. Alih-alih tersenyum, di backstage Draco jadi lebih banyak menyeringai. Beberapa gadis yang sempat terpesona kembali dengan karisma Draco dibalik stelan formalnya, jadi mundur teratur dengan sendirinya. Tahu sendirilah, tampang pria berkulit pasi itu kalau sudah menyeringai. 100% antagonis.

"Kau terlihat bersemangat malam ini, Draco?",yang dipanggil memutar matanya saat menemukan siapa yang sedang mengganggu acara melamunnya. Well, mungkin Cuma gadis ini yang mengerti apa makna dibalik seringaian Draco. Semangat. Excited. Ekspresi yang mengatakan bahwa Draco sedang sangat tertarik dengan sebuah objek. Entah apapun itu.

"What's the matter, Daph?",Draco melirik sesosok gadis ramping lain di belakang Daphne yang terlihat lebih berisi. Adik-kakak yang akur, puji Draco dalam hati.

"Hanya ingin tahu untuk apa semua seringaian mu malam ini? Kau sedang merencanakan peledakan bom atau baru membeli virus mematikan untuk menguasai dunia, Mr. Blondie?", Draco Cuma menjawab dengan kibasan tangan dan mulai bangkit dari bangku di depan meja riasnya. Mengusir Daphne ceritanya.

Daphne menyempatkan diri memukul kepala berambut pirang itu kepalan jemari kirinya. Tidak suka merasa diabaikan tapi dengan entengnya mengabaikan suara protes kesakitan Draco.

"Apa masalahmu sebenarnya?", Draco nyaris mengumpat jika tidak melihat wajah lugu Astoria yang terkaget-kaget di belakang punggung Daphne.

"Whatever...But keep up your promise, Mr. Blondie..!", jika menutup kuping adalah sesuatu yang cukup sopan dilakukan oleh seorang Malfoy saat ada yang berbicara padanya. Draco pasti sudah melakukannya sejak tadi.

'Ah ya!',pikiran Draco mengingat sesuatu yang sebenarnya ingin sekali ia lupakan. Malam setelah pertunjukan ini Mr. & Mrs. Grenggrass mengajak Draco dan kedua orangtuanya makan malam bersama. Sebenarnya bukan ia yang membuat janji. Lucius, ayahnya yang buat. Tapi bagi Daphne itu sama saja.

"Aku datang tenang saja.. Ah, Astoria?", gadis itu kaget dan mendadak gembira dalam satu ekspresi wajah. Draco hanya memasukan kategori wajah itu dalam tampang kikuk lain milik para penggemarnya.

"Kau lupa menalikan sepatumu..", Itu saja, Draco sama sekali tidak berminat melihat semburat merah yang menyebar di seluruh wajah gadis itu. Juga adegan menalikan sepatu sampai terantuk kaki kakak gadis itu. Entahlah, sepertinya adik Daphne itu sering sekali salah tingkah jika berada di dekat Draco.

Draco mendekati tempat penyimpanan cellonya. Berjalan dengan hati-hati di antara langkah terburu-buru para crew panggung yang sibuk mengurus ini itu. Pertunjukan pembuka sekitar 10 menit lagi. Para penonton sudah berdatangan dan memenuhi kursi. Tirai panggung masih ditutup dan MC malam ini sudah bersedia di sebaliknya. Draco sekilas memperhatikan ada celah kecil untuk mengintip dari balik tirai. Tapi sudah penuh sesak oleh para gadis pemain piano. Mereka benar-benar kelihatan tegang setelah bergantian melongokan kepala. Tentu, ada banyak tamu penting malam ini. Termasuk anak gadis perdana mentri dan Pangeran William beserta calon istrinya.

Well, nyatanya Draco tidak perduli. Mungkin akan lebih baik jika pertunjukan ini sepi. Jadi peluang Draco untuk melongok ke kursi penonton dan mengintip ekspresi kebingungan seperti apa yang ditampilkan seorang Harry Potter. Sayang sekali ia tergabung dengan salah satu kelompok orkestra favorit warga Inggris.

Draco merasakan ada getar dari sakunya. Sedetik, ia mengabaikan teriakan instruksi para crew yang sudah mulai sibuk mengatur posisi para pemain. Ia membiarkan rasa penasaran mengusiknya dan tanpa berfikir panjang mengeluarkan handphonenya. Harusnya sudah ia nonaktifkan sedari tadi memang. Tapi biasanya tidak pernah ada satu pun sms atau telephon masuk. Jadi Draco berkesimpulan bahwa mode silent saja sudah cukup.

Ternyata tidak.

From The Freak Potter: Kau pegang instrumen apa?

Draco mengernyit, bukannya saat ia kecelakaan ia sudah melihat Draco memainkan cello (lihat The First Kiss). Dan bukannya saat kemarin ia mentraktir anak ini es krim ia menenteng-nenteng tas cello.

Sambil berjalan menempati posisinya. Dan menyiapkan cellonya, Draco membiasakan diri dengan intensitas cahaya lampu yang menyorot panggung mereka. Tirai masih tertutup dan lampu panggung yang menyala masih remang-remang. Ia ragu mata yang punya minus parah seperti milik potter bisa melihatnya. Meskipun ia ada di barisan depan sebenarnya.

Draco mendengus kecewa. Harusnya ia tidak perlu semerasa bersalah itu karna 'ciuman' waktu itu. Ia tidak mengerti apa yang membuatnya melangkah sejauh ini. Bukankah seharusnya melindungi si kutu buku Harry Potter dari berbagai macam bully di sekolah sudah cukup. Kenapa harus sampai mengundangnya menonton pertunjukan Orkestranya? Dan apa-apaan dengan semua dengusan kecewa Draco ini?!

"Dia itu dungu atau idiot? Gajah saja punya ingatan lebih baik dari dia..", Draco malas membalas. Padahal masih ada sekitar 5 menit sebelum pertunjukan dimulai. Dan karna Khawatir remaja kikuk itu mengiriminya pesan lagi Draco berfikir ada baiknya ia nonaktifkan handphonenya itu. Dan tepat sebelum ia selesai menekan tombol nonaktif, sebuah pesan singkat lainnya masuk.

From The Freak Potter: Hei! Serius! Tadi aku melihat seorang pemain simbal dan dua orang pemain biola yang punya rambut pirang persis seperti milikmu! Jadi sebenarnya apa yang kau mainkan?

Draco Malfoy untuk pertama kalinya dibuat menyesal hanya karna membaca sebuah pesan singkat. Pria ini dengan mudah menghancurkan mood yang susah payah Draco bangun sejak awal hari. Ia menghembuskan nafas untuk menenangkan diri. Ia tahu kalau ada cukup banyak pemain dengan rambut pirang di orkestra ini. Dan ia cukup tahu, kalau anak-anak dari kelas bahasa Russia menjulukinya Vladimir Putin-nya inggris. Mereka bilang wajah Sang Pangeran Malfoy persis seperti Presiden Russia itu saat muda. Dan Draco juga sangat tahu bagaimana anak-anak kelas drama dan sastra menyebutnya dengan representasi sempurna dari deskripsi tokoh Pangeran Hamlet.

Tapi.. Serius? Apakah wajah Draco sepasaran itu sampai si bocah boncel itu sampai ragu-ragu dengan alat musik apa yang Draco mainkan?

"Bodoh..", Draco yakin ia nampak frustasi sekarang. Jadi sebelum ada sms masuk lain yang membuat mood-nya bertambah buruk ia memantapkan hati untuk mematikan Hpnya.

From The Freak Potter. Draco tahu seharusnya ia sudah melakukan itu dari tadi, memadamkan daya handphonenya.

Ia menutup mata sejenak. Melihat jam digital di sudut kiri layar HP, memastikan berapa lama waktu yang ia miliki. 3 menit lebih, pikirnya. Jadi ia memutuskan untuk menuntaskan rasa penasaran dan mulai membuka pesan paling aktual dari si bocah boncel itu.

From The Freak Potter: Whatever. Apapun yang kau mainkan nanti. Toh.. Aku akan tahu, karna kau pasti pemain paling perfectionist malam ini.

Setengah mengejek. Atau mungkin memang sindiran telak. Sarkastis. Sama sekali tidak manis. Tapi, entah mengapa seringaian excited Draco kembali.

"Hmm.. Idiot..", kali ini benda elektronik itu benar – benar padam seperti seharusnya. Pangeran Malfoy itu memasukan poni platinanya yang mulai memanjang dan sedari tadi cukup sulit diatur ke selipan daun telinga. Menutup mata. Tiba-tiba ia mengingat rambut acak-acakan si Potter muda yang nampaknya 5 kali lipat sulit diatur dari kebanyakan manusia normal.

Draco menghentikan senyumannya. Merasakan sensitifitas pendengarannya menajam. Ia bisa mendengar derit katrol yang mulai berkarat, dan gesekan kain tirai panggung yang terbuka. Para penonton yang menahan nafas antusias. Beberapa suara menguap. Ketukan jemari gugup kawan-kawan anggota orkestranya. Dan nafas teratur milik Pemimpin Orkestra malam ini.

Draco membuka matanya. Tongkat dirigen telah mulai mengayun. Mengulang simfoni yang telah mereka latih jauh-jauh hari. Draco menghentikan seringaiannya. Sebuah senyum tulus tersemat begitu suara gesekan cello-nya terdengar.

Malam ini Draco berhenti bertanya-tanya. Ia hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam kontradiksi. Malam ini, kehadiran Harry membuatnya menyimpulkan sebuah konklusi. Bahwa semakin lama rasa penasarannya pada pria itu tak mampu ia prediksi.. Dan kepolosan pria itu bukan sesuatu yang mudah dimanipulasi.

Draco hanya berharap. Saat simfoni ini selesai, bangku yang ia ingin longok dari balik tirai masih terisi.


Harry yakin ada yang salah dengan dirinya malam ini. Sejak kemarin ia yakin bahwa ia tidak akan bertahan lebih dari lima menit. Tapi nyatanya ia menyaksikan pertunjukan itu sampai menit terakhir. Ia bahkan hapal dengan dinamika musik simfoni barusan. Ada yang salah dengannya, ia mulai berfikir keras. Setelah ini ia tidak yakin akan melewatkan begitu saja pertunjukan Draco berikutnya.

Dan itu yang ia takutkan.

From Ferret: Tunggu aku di depan pintu keluar.

Dan disitulah Harry berdiri saat ini. Pertunjukan sudah selesai sekitar 20 menit lalu. Jarum jam tangan Harry seakan melambat dan meledeki. Ia tahu harusnya tak perlu menurut. Kalau begini ia ketinggalan jadwal kereta bawah tanah terakhir.

"Aku pasti bercanda..," Harry mengambil saputangan dari saku tuxedonya. Membersihkan pasrtikel-partikel kecil yang mengusik penglihatannya barusan.

"Kau Harry Potter kan?" Cedrig Diggory. Pria itu yang kini berdiri di hadapannya.

"Diggory?", dari jutaan penduduk London, kenapa harus pria ini yang ia temui di saat seperti ini. Harry berharap bisa mengabaikan manusia yang nampak bersinar setiap saat itu.

"Waw! Aku kira hanya aku siswa yang menonton pertunjukan musik klasik di awal liburan musim panas! Hahahaha... Bahkan mantan pacarku saja tidak pernah mau jika kuajak. Aku tidak tahu jika selain fisika kita punya ketertarikan yang sama di bidang musik..." Harry hanya memasang cengiran kuda andalannya. Pria ini terlalu antusias sampai tak mau berhenti bicara. Lagipula Harry tak tahu harus menjawab apa. Mengatakan bahwa sebenarnya ia hanya terpaksa datang kemari karna paksaan Draco Malfoy pasti akan terdengar aneh di telinga siapapun yang tahu bagaimana 'akrab'nya dua mahluk itu di sekolah.

Jadi, Harry hanya berharap cengiran culunnya cukup untuk menghentikan dengan sendirinya rentetan kalimat pria itu. Well, biasanya itu cukup efektif.

"Ah ya.. Kau tahu kalau Draco ikut dalam pertunjukan tadi," kau pikir dari mana aku dapat paksaan untuk mengisi kursi kosong dan mencegah kehadiran si Parkinson, hah? Harry mulai merasa pipinya keram untuk menangagapi puluhan kalimat Diggory dengan senyuman.

"Dia selalu membuatku iri.." sudut lengkung senyum pemuda berkawat gigi itu berangsur menumpul. Ia tidak ingin memikirkannya. Tapi kenyataan bahwa bahkan pria sesempurna Diggory saja cemburu pada Draco Malfoy. Apa yang membuat seorang Harry Potter memiliki cukup kenekatan untuk lancang berfikir bahwa mungkin mereka bisa memiliki sebuah pertemanan.

Harry tidak meminta banyak.

Ia sudah meminta Tuhan untuk berhenti khawatir pada hubungan mereka dan berjanji untuk tak terpancing beradu mulut dengan pria pirang itu. Tapi tuhan sepertinya sedang iseng mambawa Harry dalam pusaran hubungan aneh dengan Draco Malfoy.

"Are you allright, Harry?" kali ini bibir tipis itu hanya membentuk sesudut senyum.

"Kurasa tiba-tiba saja rasanya ada yang menghantam kepalaku.. Sebaiknya aku pulang sebelum merepotkanmu." Pria yang punya tinggi badan jauh melampaui Harry itu menyengajakan posisi tubuhnya untuk menghalangi langkah Harry.

"Kau bahkan terlihat lebih limbung dari orang mabuk." Remaja itu tidak yakin mana yang benar. Suara Diggory yang membuat tengkuknya meremang atau alasan palsunya soal tidak enak badan barusan menjelma nyata? Tuhan senang sekali cepat-cepat menghukumnya kalau coba-coba berdusta.

"Ayahku mengizinkan membawa mobilnya malam ini. Kau akan lebih aman jika ku antar." Harry sedikit tidak rela saat lengannya kini tersampir di pundak pemuda itu. Sama tidak relanya ketika ia tahu bahwa yang memapahnya saat ini adalah orang lain selain Draco, temannya. Bukan berarti Cedrig bukan temannya. Maksudnya, baiklah mereka memang saling mengenal. Tapi katakanlah Harry memposisikan pria ini hanya sebagai kenalan. Ron dan Hermione adalah sahabatnya.

Tapi ia hanya butuh seorang teman, dan yang muncul di gambaran otaknya adalah siluet pria jangkung berambut pirang.

"Cedrig!", samar-samar Harry mendengar teriakan setengah panik itu. Sayangnya matanya terlalu berkunang-kunang untuk melihat satu lagi sosok jangkung lain yang mendekat. Harry hanya melihat dua pria itu bercakap sejenak, dan sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Remaja berkawat gigi itu baru ingat terakhir kali ia makan adalah kemarin sore.

Pantas saja.


"Pelayan!" Draco memesan secangkir kopi hitam ketiganya. Beretepatan dengan geliat sesosok rapuh di pundaknya. Akhirnya..

"Terima kasih untuk tidur nyenyaknya," Draco mengerjap. Melirik si pemuda berambut berantakan lewat ekor matanya. Ucapan bangun tidur yang tidak umum.

"Kau benar-benar tidak cocok untuk dipacari." Harry sedang sedikit kikuk untuk berusaha melepas kacamatanya, tubuhnya masih limbung sisa-sisa kantuk ehmm.. atau pingsan? Terserah yang mana, yang jelas pria itu sudah terlihat lebih segar sekarang.

Sambil mengucek matanya, remaja berkawat gigi itu menjawab,"Memangnya siapa juga yang memikirkan untuk punya pacar dalam waktu dekat ini..".

Reaksi pria ini menarik, pikir Sang Tuan Muda Malfoy. Ia tidak terlihat panik atau berusaha buru-buru bangkit. Draco yakin Harry Potter tidak cukup dungu untuk untuk tidak menyadari ia terbangun di tempat asing.

Pesanan kopinya datang, Draco berbasa-basi terima kasih. Kemudian menatap Harry dengan pandangan bertanya,"Coklat hangat saja". Dan pria bersurai platina bahkan tidak yakin darimana datangnya kemampuan komunikasi tanpa aksara antara dia dan si Potterhead ini.

"Jadi kemana perginya Si Tampan Diggory?", Draco hampir dibuat tersedak pada tegukan pertamanya. Kenapa si Potter ini harus membahas si Tuan Serba Sempurna itu sekarang sih? Sungguh merusak mood.

" Kau punya banyak pertanyaan penting lain yang seharusnya kau tanyakan bukan?", Harry tidak secepatnya memberi jawaban. Beberapa kali pria itu memijat pelipis. Berusaha menghilangkan pening.

Draco Malfoy menarik nafas dalam, diselingi rasa bersalah.

"Aku tidak cukup kuat untuk memapahmu sampai Halte bis terdekat. Jadi, kuputuskan untuk mengistirahatkan dulu tubuhmu. Dan kedai kopi ini yang terdekat. Pelayan barusan sudah memberimu minyak aroma therapy tapi kau butuh waktu dua jam lebih untuk sad—",Draco menghentikan penuturannya. Nyata sekali bahwa ekspresi yang sedang ditampilkan Harry Potter di hadapannya saat ini adalah keheranan.

"Apa?" bocah Potter itu merespon pertanyaan Sang Malfoy muda dengan gelengan sederhana, dan menutupnya dengan cengiran khas Potter miliknya.

"Satu coklat panas, selamat menikmati.." selang dari cengiran kuda milik Harry sampai perempuan montok yang bertugas malam ini datang memberikan pesanan Harry, ada sekitar 5 menit. Hening.

Draco pindah ke sisi lain meja. Tadinya ia memutuskan untuk duduk di sisi yang sama dengan Harry untuk menahan bobot tumbuh pria yang tak sadarkan diri itu tadi. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi.

"Memangnya kau harus pindah ya?" lagi-lagi pertanyaan remaja berambut berantakan di depannya itu nampak tak masuk akal. Iris abu itu menatap berkeliling sambil menyusun kalimat yang tepat dan singkat untuk menjawab. Kalimat pendek berbau stoic, khas malfoy.

"Tentu." Jadi Draco memutuskan untuk melontarkan kata itu tanpa tambahan klausa lain.

"Apa dua orang pria duduk berdampingan terlihat sangat memalukan?", Harry tidak menatap Draco saat mengatakan kalimat itu. Dan Draco yang sedang sibuk mengedarkan pandangannya untuk melihat sisa-sisa pengunjung kedai kopi itu tidak merasa perlu untuk buru-buru mengembalikan fokus. Menatap yang sedang jadi lawan biacaranya.

"Ah.." baru setelah mendengar suara seakan menyadari sesuatu dari mulut si Potter muda, Draco Malfoy kembali menatap pemuda yang nampak sangat rapuh itu.

"Ck.. aku tidak tahu kalau aku seberat itu sampai kau tidak kuat untuk memapahku ke Halte bis terdekat..", Harry bertanya dengan percampuradukan ekspresi bingung campur tidak terima di wajahnya. Sedikit frustasi mungkin.

Draco menebak Harry sedang memikirkan cara yang tepat untuk berdiet sekarang.

"Banyak dosa mungkin.."

Bibir Harry mencibir,"Lihat siapa yang bicara.. Aku tidak tahu Ferret sepertimu masih bisa ingat dosa?!". Seringaian excited Draco kembali. Beradu mulut dengan pria ini memang membangkitkan adrenalin tersendiri.

" Asal kau tahu.. kau sudah 3 kali berhutang nyawa pada si Ferret ini..", Harry mati kutu. Ia baru saja sadar bahwa Malfoy sudah terlalu sering menolongnya akhir-akhir ini. Apa mkasudnya sebenarnya? Harry tidak pernah tahu.

Harry lebih memilih buru-buru meneguk habis coklat hangatnya. Draco melihat gerak-gerik Harry yang jadi serba kilat. Ia menengok jam dinding kedai kopi itu. Pukul setengah duabelas malam.

"Ayo.. aku harus cepat mengantarmu pulang sebelum ibumu menelpon lagi.", Harry mengerjap, baru saja ingat kalau ia janji pulang secepatnya setelah pertunjukan yang selesai jam sembilan tepat. Ia memanfaatkan jeda waktu sementara si pemuda Malfoy itu membayar tagihan, ia memeriksa telephon genggamnya. Mendadak rambutnya gatal saat melihat 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan yang belum ia baca. Ia tak mau taruhan dengan siapapun, karna pihak manapun yang bertaruh kalau semua panggilan dan pesan itu dari ibunya pasti menang.

"Kenapa kau tidak menjawabnya?", Draco mengerjap sesaat ketika tiba-tiba saja dibentak oleh pria yang tadi susah payah dipapahnya.

"Aku tidak berani mengangkat telepon pribadi milik orang lain." Jawaban simple yang dalam sekejap membuat hati pria yang sebelumnya bertanya mencelos. Ah iya.. aku orang lain.

Draco membaca garis kekecewaan di wajah pemuda itu. Ia tidak tahu apa yang ia kecewakan. Yang jelas ia merasa bersalah. "Lagipula saat kau kecelakaan saja kau tak suka saat aku menelpon ibumu."

Wajah itu membaik, rona merahnya kembali. Tentu, jawaban pertama adalah jawaban umum yang akan menjadi rekasi rata-rata orang saat berada di situasi seperti Draco barusan. Walau sebenarnya kalau Potter cukup jeli, dengan cepat ia tahu kalau itu Cuma alasan basa basi. Toh, saat ia kecelakaan Draco sudah pernah cukup lancang memakai Handphone pribadi pemuda itu untuk menghubungi keluarganya.

"Roti?" Draco mengangsurkan setumpuk sandwich yang sepertinya masih hangat untuk Harry santap. "Kau pucat sekali saat pingsan tadi. Seperti belum makan dari kemarin," Harry terdiam, kemudian terbahak. Draco Malfoy menambahkan raut heran pada ekspresi di wajahnya yang biasanya tidak punya banyak ekspresi kecuali seringain licik.

"Thank's, " sepotong frasa itu keluar begitu saja dari bibir Harry setelah tawanya mereda.

Ia terbahak, untuk kenyataan bahwa semakin lama Draco semakin menyerupai peramal. Ia bisa membaca pikiran Harry dan sekarang tahu sudah berapa lama ia tidak makan.

Dan tawa itu untuk mengelabui hatinya. Yang tiba-tiba terasa sesak ketika memikirkan bahwa ia tidak lebih dari sekedar kawan 'situasional'.


Harry tidak yakin kalau membawa mahluk dengan aristokratis tinggi ke rumahnya adalah sebuah pilihan tepat. Tapi sepertinya Ibunya dengan cepat beradaptasi.

"Jadi.. Kau sudah mulai memainkan cello sejak kecil? Menarik. Mengingat akhir-akhir ini kelihatannya tidak banyak anak muda yang ingin andil dalam musik klasik..", atau bisa dikatakan Mrs. Lily Potter sudah benar-benar terhipnotis dengan pesona Tuan Muda Malfoy kita.

"Sebenarnya untuk beberapa alasan, kami, para pecinta musik klasik, hanya tidak terlihat karna publikasi dan pangsa pasar musik kami memang terbatas di beberapa kalangan. Tapi itu tidak berarti kami benar-benar minoritas, Mrs. Potter..", Draco kemudian meneguk teh hijaunya perlahan. Sesuai dengan tata krama ningrat.

"Kau cerdas, Mr. Malfoy Jr." Ibunda Harry itu tersenyum lebar sambil mengangkat cangkir teh antiknya. Sisa-sisa peradaban Inggris yang mungkin tidak pernah hilang adalah tea time. Di berbagai kesempatan.

"Dan Anda adalah orang dewasa yang menyenangkan untuk diajak berbicara oleh seorang Junior seperti saya, Mrs. Potter.." Harry tidak tahu pasti apa yang keduanya tengah bicarakan. Tapi semu merah tanda tersipu di pipi ibunya membuat Harry berdoa pada Tuhan agar tidak sampai membuat Draco Malfoy menjadi ayah tirinya dalam waktu dekat.

Harry memperhatikan dari lantai dua. Living room yang terlihat benar-benar hidup diisi oleh obrolan santai ibunya dan teman 'situasional'nya. Harry mengeringkan rambutnya sambil menuruni anak tangga perlahan. Ibunya sedang mengambil persediaan kue lain saat lelaki berkacamata minus itu hampir menabrak kursi yang sedang Draco duduki.

"Hey! Santai! Kalau masih merasa pusing, kau seharusnya tidak perlu mandi tengah malam begini.." Harry tidak merasa perlu menanggapi. Ia hanya lupa memakai kacamatanya itu saja.

"Kamar mandi kosong.. Kau bisa gunakan sekarang, kecuali kau merasa pusing untuk mandi tengah malam begini..", Draco menahan kikikan geli saat Harry dengan semu merah di pipinya bekas air hangat sisa mandi tadi berusaha mengeluarkan kalimat sarkatis.

"You're kind of cute right now..", Draco sengaja membisiki telinga itu sebelum benar-benar pergi dan naik ke lantai dua. Tempat kamar mandi yang yang Harry maksudkan berada. Dan menghindar dari pukulan yang tak seberapa kuat milik Harry.

Sekarang selain merah, wajah Harry dihiasi ekspresi kesal. "Dasar Ferret Mesum..", gumamnya sambil berusaha meja pendek di depannya.

Harry mengusapi daun telinga kanannya yang terasa memanas. Dan ibunya berbalik dengan menenteng beberapa toples kue yang berhasil ia temukan di lemari penyimpanan.

"Yakin kau OK, Harry? Telingamu semerah tomat." Harry memasang cengiran andalannya untuk berikade dari pertanyaan macam-macam dari Ibunya setelah ini.

Lily Potter menarik nafas dan mulai berbicara," Kau harus mulai berhenti merepotkan orang lain, Harry.. Maksudku, kita sudah pernah merepotkan anak itu saat kau kecelakaan masih saja ceroboh dan tidak belajar untuk lebih teliti. Lain kali berhati-hatilah dengan kesehatanmu, ok?"

Harry tidak mengeluarkan cengiran minta dimakluminya. Ia hanya menatap ibunya dan mengangguk. Supaya ceramah soal kesehatan ini tak berlanjut. Harry mengemukakan topik baru.

"Sepertinya kalian punya banyak bahan obrolan, Mum?", Harry bertanya sambil tangannya sibuk menjelajah ke isi toples butter cookies yang ada di hadapannya.

Sebelum sempat ia menggigit sepotong kue itu Mommy-nya menahan tangannya dan memaksa remaja itu berjanji ia akan menggosok gigi ulang setelah ini.

"Yah.. Kau tahu.. mengherankan saat melihatmu pulang membawa teman hampir tengah malam begini. Dan lebih aneh lagi karna itu bukan Ron atau salah satu dari saudara Weasleynya.. Kalian terlihat cukup akrab.." Senyuman ibunya membuat Harry menelan sepotong butter cookies lain dengan cepat. Ia perlu pengalihan dari rasa sesak. Tentu. Bukan salah orang-orang untuk menganggap mereka kawan akrab.

It's just.. this judgement is something...

"Malfoy.. nama itu cukup familiar di kalangan kerajaan setahu Mommy.. Tidak mengherankan kalau gerak-geriknya teramat tertata selayaknya bangsawan.. Kurasa Mommy menyukai anak itu, Harry..", untungnya Harry sedang sibuk meneguk tehnya saat Mommynya tersenyum sekali lagi.

Harry menutup toples butter cookiesnya serapat mungkin lalu mendekati mommynya dan mencium kening wanita itu. " Kurasa aku harus cepat tidur.. Aku ke kamarku..", sebelum melepas pelukan anaknya Lily Potter menatap remaja itu memperingati. Penuh diskriminasi.

"Yes,mum.. I'll brush my teeth", lalu Harry buru-buru menjauhkan wajahnya sebelum ciuman Mommy-nya mengenai pipinya.

Langkah Harry hampir menghabisi jarak menuju tangga saat ibunya memanggilnya sekali lagi.

"Kuharap kalian tetap jadi teman baik, Harry..",penuda berkawat gigi sedikit memiringkan kepalanya. Gesture sederhana untuk mengatakan bahwa ia tidak mengerti kenapa Mommy-nya berkata seperti itu.

Lily Potter tersenyum kikuk di ujung lain living room," entahlah.. mungkin perasaan Mommy saja.. tapi kurasa ia sama kesepiannya sepertimu, nak..". Harry tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jadi ia mengangguk agar urusan ini cepat selesai dan ia bisa segera terlelap kembali ke alam mimpi.

Sempurna. Besok hari pertama libur musim panas.

Harry sampai di anak tangga paling atas bertepatan dengan Draco yang keluar dari kamar mandi. Letak kamar mandi itu memang dekat dengan tangga. Jadi cukup mengagetkan bagi Harry melihat Draco Malfoy hanya memakai kimono handuk yang ia pinjamkan dan rambut platinanya yang setengah basah terkena guyuran.

"Sudah mau tidur?" Harry mengangguk cepat.

"Kutunjukan dimana tempatmu tidur. Tapi jika masih ingin bercakap-cakap dengan Mommy, ia masih akan bangun sampai jam 2 pagi," Draco membuat ekspresi persetujuan dan mengikuti langkah kaki Harry dua langkah di belakangnya.

Mereka melewati ruangan yang Draco yakini sebagai kamar Harry. Karna ada banyak stiker mengenai fisika dan astronomi di depan pintu. Dan yang paling membuatnya tidak meragukan bahwa itu kamar Harry Potter adalah gantungan kayu kekanakan bergambar Micky Mouse dengan tulisan tangan anak kecil yang cukup berantakan: Haryy

"Aku tidak tahu kalau kau punya kemampuan mengeja yang buruk, Potter?",ucapan dengan nada mengejek itu Harry abaikan. Selang beberapa langkah mereka sampai di depan pintu kamar dengan tulisan tangan yang lebih rapi. Sepertinya tulisan anak perempuan.

"Myrtle ?" Harry berbalik menemukan pertanyaan pada mata keabuan Draco.

"Ini kamar kakak perempuanku. Bekas lebih tepatnya. Ia meninggal saat aku berumur 2 tahun. Kau..Tidak mendadak merasa merinding kan? "Draco mendengus sebagai jawaban ledekan Harry. Sedikit mengagetkan memang ia di tempatkan di sebuah kamar yang kedengarannya cukup angker. Tapi sesaat sebelum Harry berbalik, Draco sudah berencana untuk mengatakan "aku turut berduka". Tentu, ia telan lagi karna sepertinya si boncel ini sama sekali tidak berduka.

"Sepertinya ia tak meninggalkan banyak barang?", Draco memandang sekeliling dan menganalisis bahwa kamar ini tampak seperti kamar tamu biasa. Tidak banyak pernak-pernik. Hanya ada meja rias, lemari ukuran sedang, ranjang queen size, dan meja kecil di samping ranjang.

"Seingatku dulu ada cukup banyak hiasan dan lukisan-lukisan tangan kakakku di dinding. Entahlah kemana perginya mereka. Yang orangtuaku sisakan hanya papan nama kecil di pintu. Ah ya.. kurasa kau butuh baju ganti. Tidak keberatan dengan kaus putih polos dan celana training? Maksudku..",Harry ragu-ragu menyelsaikan kalimatnya.

"Aku mungkin sombong, tapi bukan berarti tak tahu diri. Kau bersedia menampungku saja sudah cukup baik daripada pulang dan kena semburan ceramah dari Lord Malfoy.."Draco memutar matanya jengah. Ia tahu betul konsekuensi melarikan diri dari undangan makan malam keluarga Greengas.

"Bodoh! Jangan bicarakan ayahmu seperti itu."

Setelah itu remaja yang lebih pendek beberapa senti itu melangkah keluar. Langkahnya bergegas. Sementara Draco memilih untuk menyalakan saklar lampu dan duduk-duduk di ranjang. Memikirkan bahwa kehilangan seorang anggota keluarga di usia sangat muda mungkin berakibat pada kepribadian Harry yang cenderung penyendiri dan murung. Kalau saja ia bisa lebih sedikit terbuka dan lebih banyak tersenyum. Mungkin akan ada cukup banyak teman yang ia punya. Dan ia akan punya banyak pembela saat di-bully oleh anak-anak seperti Crabe dan Goyle.

Mungkin.

"Malfoy!",sigap Draco menangkap lemparan ecek-ecek Harry. Sehari ini pemuda berkacamata bundar itu terkesan cukup terbuka dan sedikit lebih ceria. Draco jadi tersenyum sendiri tiba-tiba.

"Apa maksud dari smirk tidak jelasmu itu?" Harry memasang tampang waspada.

"Tidak. Tidak ada. Terima kasih bajunya," Draco sudah mulai menurunkan kimono handuknya saat Harry histeris berteriak, STOP!

"Dengar aku akan keluar dan tidur. Baru kau boleh ganti baju, mengerti?" Draco menyeringai.

"Apa masalahmu? Kita sama-sama laki-laki dan bukankah seharusnya kau sudah biasa melihat badan teman-teman sekelas kita di ruang ganti?"Harry menggaruk tengkuknya. Ya, walaupun sering absen karena penyakit asmanya. Terkadang Harry tetap ikut pelajaran olahraga. Dan memang bukan hal anah baginya untuk melihat tubuh setengah naked atau bahkan naked kawannya.

"Duduklah.."Harry tidak tahu kenapa suara Draco terdengar seperti komando bagi telinganya. Ia menurut dan duduk di sebelah pemuda itu. Dan tiba-tiba saja pemuda berambut platina itu bangkit menuju pintu.

"Kau mau kemana?"suara Harry menahan laju tungkai panjang Draco. Pria itu menatap emerald Harry dengan tatapan hangat yang aneh. Karna remaja itu tidak sama sekali mengendurkan seringaian antagonis di bibirnya.

"Kau sepertinya merasa tidak nyaman, aku akan ganti di kamar mandi. Tapi tunggulah disini. Aku masih ingin mengobrol." Harry membeku detik itu. Saat langkah Draco membawanya menghilang di balik pintu. Terdengar aneh. Tapi rasa sesak di dadanya menjadi saat ia berfikir bahwa mungkin...Mungkin saja alsan Draco memaksa menginap di rumahnya bukan sekedar untuk mengehindari amukan ayahnya.

Tapi juga ingin berbincang lebih lama,"denganku?".

Harry menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan senyum.


-Sekitar sejam lalu-

"Aku tidak tahu kalau rumahmu dekat dengan kawasan Lembah Thames?" Harry menyandarkan kepalanya ke jendela bis sebelum menjawab pertanyaan kawan seperjalanannya kali ini, Draco Malfoy.

Ini pertama kalinya selama hampir 16 tahun hidupnya ia pulang selarut ini. Jadi ia memaksa Draco yang tadinya sudah menempati posisi di dekat jendela supaya bergeser dari sana. Kapan lagi ia bisa menikmati pemandangan malam London seperti ini?

"Hey!"Draco menyikutnya. Mendesaknya untuk menjawab kalimat pembuka obrolan barusan.

"Memangnya kenapa kalau rumahku dekat Lembah Thames?", Harry menjawab dengan tingkat resonansi suara yang rendah dan sama sekali tak berbalik untuk menatap lawan bicaranya.

"Yah.. maksudku, bukankah itu cukup jauh dari sekolah kita untuk di tempuh menggunakan sepeda?"Harry merasa udara malam London di awal musim panas ini tetap saja cukup dingin untuk membuat uap keluar dari bibirnya saat ia bicara. Jadi ia masih tetap memilih untuk tidak menghadap Malfoy.

"Sengaja.. Jadi aku punya perjalanan yang cukup panjang."

Draco menatap punggung pemuda itu yang nampak rapuh. Pantulan bayangan Harry di kaca, wajahnya yang terlihat antusias. Draco jadi sama sekali tidak keberatan walau dipunggungi oleh pemuda itu. Jika situasi berbeda Draco mungkin sudah menjejar orang itu dengan kata-kata tajam dan mengancam mengadukannya pada ayahnya atas ketidaksopanan yang diterima Sang Pewaris Mlafoy.

"Ini soal membunuh kesepian lagi?"Draco memelankan nada bicaranya. Menghilangkan sama sekali kesan angkuh. Membuat Harry otomatis berbalik. Tertarik ekspresi seperti apa yang kini ada di wajah aristokratis Pangeran Malfoy itu.

"Bukankah sebelumnya kau bilang ingin menjadi Astronaut untuk mengabsolutkan kesepian? Dua tindakanmu ini terdengar kontradiksi menurutku."

Harry mengehla nafas, menatap satu-satunya bangku lain yang terisi di depan mereka. Sepasang kekasih yang sepertinya tengah di mabuk asmara. Si gadis nampak tertidur di bahu kokoh si pemuda. Harry tersenyum sekilas.

Baru kemudian menjawab," keduanya memang berkebalikan, tapi motif kenapa aku melakukan yang satunya dan ingin melakukan yang satunya memiliki alasan yang sama.."Draco ikut-ikutan mencuri pandang pada adegan mesra sepasang kekasih di lima bangku di depan mereka.

"Kau memang aneh.."Harry terkikik ritmis. Kentara satirenya di telinga Draco.

"Well, terima kasih atas pujiannya.."Draco menyambut senyum ringkih itu dengan seriangain lain yang berkesan sama liciknya dengan seriangain lain yang ia miliki.

Mereka diam-diaman sambil terus memperhatikan sepasang kekasih itu. Selang 5 menit dan tidak ada pergerakan berarti. Hanya sesekali si pemuda menyamankan posisi kepala si gadis di bahunya. Harry mulai bosan. Dan kembali menatap pemandangan.

Mencari tema baru untuk mereka perbincangkan.

"Apa kau pernah membawa kencan salah satu pacarmu naik bis seperti ini?" Draco yang tadinya masih memandangi sepasang kekasih itu seketika menegakan punggung.

Ia menatap dingin pada samar pantulan emerald Harry di kaca bis,"Pernah, sekali atau mungkin dua kali. Tapi aku bukan tipikal pria baik hati yang akan membiarkan seseorang membebani pundakku seperti itu.." Draco berbisik. Sengaja supa tak ketahuan sedang menggosip.

"Dasar Playboy.."Cuma itu tanggapan Harry. Dan mereka kemabali kehabisan topik.

Hening mencekam keduanya. "Kau turun sebentar lagi kan?",Harry tiba-tiba saja berbalik dan menyentak Draco dengan sebuah pertanyaan yangs ebenarnya tak ingin di dengarnya.

"Errr.. Hey Potter!"karna selang semenit Draco tak juga menjawab. Harry kembali berbalik menatap keluar jendela.

"Hmm?", itu saja tanggapan pria berkacamata bundar itu.

"Kau keberatan kalau aku ikut menginap malam ini?"

Draco samar menemukan mata Harry mendadak membulat dari pantulan kaca jendela,"Aku kan tadi sudah cerita kalau aku kabur dari acara makan malam resmi antara para Kalangan Bangsawan.. Aku, setidaknya untuk malam ini, harus menghindari amukan Ayahku."

Draco tahu punggung rapuh yang membalakanginya berusaha menahan tawa."Entahlah.."Harry berbalik dan menemukan wajah angkuh Draco yang ironisnya seperti luar biasa menahan malu.

"Maksudku.. Ibuku tidak akan suka jika aku membawa pulang 'bukan tipikal pria baik hati',Malfoy.."pemuda berambut platina itu mendengus.

"Hey! Aku kan sudah menyelamatkanmu dari tangan si Diggory itu..",gantian Harry yang mendengus, menahan untuk tidak terbahak. Draco membuat Cedrig jadi terdengar seperti om-om Pedofil dengan kalimat barusan.

"Dia tidak akan menerkam pemuda yang seisi sekolah sebut 'Freak' dan siapa juga yang memintamu untuk datang? Lagipula kupikir kau tidak ingin seorang pun tahu tentang 'keakraban kita',ya kan?"Draco tidak tahu bagaimana, tapi ia yakin senyum Harry yang barusan ia samprikan di akhir kalimat adalah kepalsuan.

Draco bersandar ke kursi bis, menyamankan posisi. Lalu merengkuh pundak raouh yang terasa jauh. Milik Harry. Ada kekagetan kecil, gerakan yang nyaris tak terdeteksi. Tapi kesediaan pria itu mengikuti kemana lengan Draco menariknya, meyakinkan Draco bahwa ini tidak apa-apa. Ia membawa kepala berambut berantakan itu ke pundaknya. Membiarkan beban kepala Harry tersandar di pundaknya.

"Sekarang aku sudah jadi 'tipikal pria baik hati' ?"

Harry tidak tahu harus bagaimana berekspresi. Yang terpikir olehnya adalah menggigit bibir bawah. Menahan senyuman.

"Aku bukan pacarmu, Ferret!", protesnya dengan nada menukik meskipun resonansinya terlalu rendah untuk berkesan berbahaya.

"Tentu. Kita hanya.. Teman?",ujar Draco tak yakin. Harry menghela nafas. Baru mengangguk pelan-pelan di dalam rengkuhan lengan jenjang itu.

"Kupikir kau tidak suka bahkan untuk duduk terlalu dekat dengan teman mu?"Harry bertanya setengah sadar. Tiba-tiba saja kehangatan tubuh pria ini memanjanya. Menimbulkan kantuk.

Draco tidak yakin harus menjawab apa. Di kedai kopi tadi, saat ia pindah ke sebrang sisi lain meja. Ia tidak memikirkan apa-apa. Tidak tahu kalau itu akan menjadi beban pikiran tersendiri untuk pemuda ini.

Jadi ia memilih mendiamkannya, dan menatap keluar jendela. Baru mulai bertanya,"Heh Boncel! Jadi aku boleh menginap tidak?". Harry bersyukur ia bukan semacam gadis sensitif yang akan marah saat pacarnya merusak suasana manis.

Harry memejam,"Ya".

Dan sepanjang perjalanan itu dihabisi keduanya dengan hening. Harry tak benar-benar terlelap, tapi membuka mata terasa menakutkan. Dan pergerakan yang Draco lakukan hanya sesekali menyamankan posisi kepala Harry.

Bus tingkat berwarna merah, simbol ikonik london yang tek terpatahkan. Berjalan ringkih menembus jalanan London yang masih cukup padat di malam awal musim jika laju waktu dapat ia tahan. Draco berharap perjalanan ini bisa lebih panjang.

Yah.. Mungkin..

TBC

A/N: Akhirnya bisa lanjut juga di fandom ini. Maaf untuk lanjutan yang luar biasa laamaaaaaaaa... Maklum mood nulis terbang bebas gara-gara banyak ujian. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, meskipun menurut aturan penulisan karya tulis itu berlebihan, Tapi tetep TERIMA KASIH, buat yang udah review, fav dan follow ff ini. Mudah-mudahan yang ini lebih baik dari yang sebelumnya...:)

So, Review please..?