"Kau sudah merasakannya bagaimana rasanya di abaikan"

"Jadi jangan biarkan istrimu merasakannya pula"

"Kau baru akan merasakan cinta sebenar-benarnya ketika dia pergi dari hidupmu. Jadi apa kau ingin membiarkannya pergi agar kau mengetahui apa kau mencintainya? Kalau kau berbuat seperti itu aku yakin kau akan menyesal"


Hallo Minna-san. Saya kembali dengan Chapter kedua ini. Sebelumnya, saya minta maaf karena terlalu lama up date chapter ini dan juga fict lain jadi terbengkalai. Saya terlalu enjoy main game Naruto Gekitou Ninja Taisen Special dan tentu saja ngerjain tugas kuliah yang makin numpuk. Sehingga pembuatan fict jadi terhambat. Saya ga nyangka ternyata yang review cukup banyak. Semoga chapter kedua ini tidak mengecewakan reader-san yaa ^_^

Balas dulu untuk yang review yaa

ArisaKinoshita0 : Gomen. Saya sudah memperbaikinya di chapter ini. Arigatou untuk koreksinya. :D

laila angel sapphireBluee : Siaappp. Semoga chapter kedua ini laila-san suka juga yaa :D

NHL : Arigatou. Yang review juga keren kok :D

Algojo : Arigatou sudah mau baca fict abal-abal ini :D

uye : Wah arigatou. Iya saya kadang jadi suka males kalo sedikit yang reviewnya. Ga bisa di pungkiri juga sih. Tapi terimakasih untuk semangatnya yaa :D

Diane Ungu : Arigatou untuk sarannya. Tapi gomen, saya tidak bisa melakukannya. Kenapa? Karena sifat tulus dari Hinata itu yang menjadi wah nya fict ini. Semoga chapter ini diane-san tetap suka ya :)

ocha chan : Arigatou :D happy reading ya untuk chapter ini.

jump-an: Tenang, cuma dikit banget tapi di chapter ini ga ada ko. Terimakasih untuk reviewnya :D

tiffanyyuki : Gomen updatenya lama. Semoga tidak mengecewakan untuk chapter ini ya :)

yokanmeow: Arigatou untuk koreksinya. Saya juga baru nyadar pas baca ulang. Namanya manusia pasti ada aja salahnya. Semoga chapter ini tidak ada lagi. Thanks for your review :)

amexki chan : Arigatou :D haduh seneng ternyata fict ini banyak yang suka juga. :D

U. Dila-chan : Arigatou. dila-chan masih nunggu ga ya? hehe :D nih chapter kedua update

Toar : Hehe, ya kan Naruto masih egois sama perasaannya pada Sakura. Jadi dia tidak akan melakukan hal 'itu' dengan orang yang tidak ia cinta. Tapiiiiii. . . baca sendiri aja ya reader-san :p

Lewetan : Arigatou untuk sarannya. Kenapa ya saya tidak menyisipkan selingkuh? saya udah simpan cerita itu di fict lain. Baru bikin sih heuheu. Tapi fict ini tetap seru ko tanpa adanya perselingkuhan. mau bukti? tunggu yaa :D

Paris Violette : Okeh ini chapter udah update. Gomen kelamaan :(

D. Zhaa-san: Arigatou untuk reviewnya :D

wirna : Iya dasar Naruto ya. Di cerita aslinya juga dia emang ga pekaan. Hahaha. Terimakasih untuk reviewnya :)

lara-chan: Iya nih udah update. Gomen updatenya lama. Terimakasih untuk reviewnya :)

Saya juga terimakasih untuk Silent Reader.

Happy Reading Minna-san :D


A NARUTO FICT

BY NAMIKAZE MUTIARA HANA

CHAPTER II

REASON

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing Utama : Uzumaki Naruto & Hinata Hyuuga

Genre: Romance, tragedy, dll

Warning: seperti biasa alur cepat, OOC, gaje, typos, lemon ice de el el

DON'T LIKE DON'T READ


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Naruto membereskan semua berkas-berkas yang sudah ia selesaikan. Naruto lalu membuka laci meja kerjanya. Di lihatnya foto ia dan Hinata ketika selesai menikah. Gadis itu tersenyum manis dan wajahnya memerah padam. Memakai gaun yang sangat indah sampai Naruto sendiri terpukau melihatnya. Sedangkan Naruto tersenyum namun seperti yang di paksakan. Naruto tersenyum miris melihat foto itu. Andai ayahnya Hinata, Hiashi Hyuuga tahu bagaimana ia memperlakukan Hinata selama ini, pasti ia sudah di bunuh oleh orang tua bermuka dingin itu. Tapi Hinata terlalu baik. Gadis itu tidak pernah menceritakan urusan rumah tangganya pada orang lain. Malahan di depan sahabat-sahabatnya Naruto, Hinata tersenyum seperti seorang istri yang sedang bahagia. Naruto menghentikan lamunannya. Ia harus segera pulang. Naruto bergegas berjalan meninggalkan ruang kerja itu menuju mobil milikkya. Sepintas pria itu melihat Sakura, tapi entah mengapa Naruto enggan menyapa lagi gadis itu. Matanya terus tertuju ke depan. Setelah sampai di parkiran mobilnya, Naruto lalu masuk ke mobil mewah itu dan ia segera memacunya menuju ke rumahnya.

.

.

Gadis Hyuuga masih sibuk berkutat menulis sesuatu di sebuah buku. Entah apa itu diary pribadinya, yang pasti gadis itu terlihat sangat bersemangat dan senang. Sampai-sampai Hinata tersenyum sendiri. Lalu ia menyelipkan kertas pesan Naruto dalam buku itu. Hinata kemudian menutup bukunya kemudian memeluk buku itu. Wajahnya seketika memerah ketika mengingat wajah suaminya, Naruto Uzumaki. Hinata melirik jam wekernya, astaga gadis itu terlalu sibuk dengan kegiatan menulisnya. Sampai-sampai ia lupa belum makan siang. Hinata tersenyum simpul. Ia terlalu bahagia sampai ia lupa dengan kondisi tubuhnya sendiri. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Hinata bergegas untuk mempersiapkan diri. Ia berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Hinata lalu memasuki kamarnya. Ia membuka lemari pakaiannya lalu melihat-lihat pakaian yang akan ia gunakan.

"Bagusnya yang mana ya?" gumamnya sambil memilih-milih gaun yang akan ia gunakan.

"Ah yang ini saja" Hinata lalu mencoba memakai gaun itu. Gaun berwarna putih mengkilat dengan dada sedikit terbuka dan di atas lutut. Bercorak bunga berwarna perak. "apa ini terlalu resmi ya? ini kan hanya makan malam dengan Naruto" gadis itu melihat tubuhnya yang telah memakai gaun itu. Tubuhnya yang putih mulus pantas memakai pakaian apapun. Hinata lalu mencepol rambutnya ke sisi kanan kepalanya. Tak lupa ia beri jepit rambut berwarna perak miliknya. Hinata tampak sempurna. Gadis itu sangat anggun dan juga sangat cantik. Hinata berjalan menuju laci di sebelah tempat tidur itu. Ia membukanya lalu mengambil sebuah kotak. Hinata membuka kotak itu dan menggenggam sebuah kalung berbentuk hati yang sangat indah. Kemudian Hinata memakai kalung itu dan ia terlihat semakin cantik saja. Hinata lalu mempersiapkan sepatu high hellsnya kemudian ia keluar dari kamar itu. Ia duduk di sofa ruang tamu menunggu suaminya pulang.

.

.

Tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil. 'itu pasti naruto-kun' batin Hinata.

"Tadaima" pria berambut pirang itu membuka pintu rumahnya. Hinata berdiri bersiap untuk menyambut suaminya itu.

"Okaeri nasai" jawab Hinata sambil tersenyum simpul. Naruto terperangah melihat istrinya yang sudah memakai gaun indah itu. "Like a angel" gumam Naruto pelan. Naruto tidak percaya bahwa istrinya akan secantik itu. Ini adalah kedua kalinya Naruto tulus memuji kecantikan istrinya, Hinata Hyuuga. Naruto lalu mendekati gadis itu.

"Kau cantik sekali Hinata" Naruto berdecak kagum. Ia lalu memperhatikan tubuh gadis itu mulai dari atas kepalanya sampai ke kakinya. Hinata merasa aneh dengan pandangan suaminya itu. Ia tertunduk dan Naruto melihat gadis itu wajahnya kembali memerah. Naruto dengan iseng menempelkan punggung tangannya di kening gadis itu.

"Kau tidak apa-apa kan Hinata" kata Naruto dengan cengiran khasnya yang sudah lama Hinata tak melihatnya.

"Ano a-aku tidak apa-apa Naruto-kun" wajah gadis itu semakin merah saja.

"Hahaha, aku kira Hinata akan pingsan lagi seperti dulu" Naruto tertawa lepas. Hinata semakin dibuat malu dengan perkataan suaminya itu.

"Naruto-kun itu kan dulu" Hinata mencoba tersenyum. Ia merasa gugup kali ini. Naruto sudah kembali menjadi Naruto yang ia kenal. Tawaan Naruto terhenti. Pria itu menatap tajam pada Hinata.

"Maafkan aku Hinata-chan" lirihnya lembut. Hinata merinding mendengarnya.

"Tidak apa-apa Naruto-kun. Naruto tidak meminta maafpun aku sudah memaafkan Naruto-kun" gadis itu tertunduk. Ia tidak berani menatap kembali suaminya.

"Baiklah, aku mau mandi dulu. Kau pilihkan pakaian untukku ya Hinata-chan". kata Naruto sambil mencolek dagu istrinya. Hinata hanya mengangguk pelan. Wajah Hinata semakin memerah di buatnya. Naruto kini telah menghilang dari pandangan Hinata.

"Naruto-kun, ya itu memang Naruto-kun yang aku kenal" lirih gadis itu sambil tersenyum. Hinata lalu bergegas menuju kamarnya untuk mempersiapkan pakaian bagi Naruto.

Tak berapa lama kemudian. .

Ketika Hinata masih sibuk memilih pakaian untuk suaminya, pintu kamar itu terbuka. Naruto dengan santai masuk ke kamar. Pria itu hanya memakai sebuah handuk untuk menutupi kemaluannya. Hinata terkejut melihatnya.

"Ano Naruto-kun" kata Hinata sambil tertunduk. Hinata masih memegang sebuah kemeja milik suaminya.

"Kenapa Hinata? Apa ada yang salah?" Naruto menggaruk-garuk rambutnya. Yang di tanya malah menggeleng-gelengkan kepala. "Aku mau pakai kaos saja ah. Bosan pakai kemeja terus" Naruto lalu mencari kaosnya di lemari itu. Hinata menutupi wajahnya dengan kemeja Naruto. Hinata mulai membayangkan yang tidak-tidak terhadap suaminya itu.

"Kau kenapa sih?" Naruto masih tidak mengerti dengan tingkah laku Hinata. Naruto lalu memakai kaos itu.

"Tidak apa-apa Naruto-kun. Aku tunggu di luar" Hinata lalu menyimpan kembali kemeja Naruto dan bergegas keluar.

"Ah padahal aku ingin mengerjainya tapi ya sudahlah" Naruto lalu memakai celana jeansnya. Ia juga mengambil jaket kesayangannya kemudian memakainya. Naruto kini tampak seperti seorang remaja yang akan berkencan dengan kekasihnya. Naruto lalu keluar dari kamar itu dan ia mendapati Hinata tengah terduduk di sofa ruang tengah. Gaun Hinata yang pendek membuat pahanya yang mulus terlihat. Naruto menelan ludahnya. 'apa-apaan disaat seperti ini aku memikirkan hal seperti itu', pikir Naruto. Pria berambut pirang itu melirik ke arah dapur.

"Kau belum makan?"

"Eh? belum. maaf" Hinata kembali menundukkan wajahnya. Ia takut Naruto memarahinya.

"Aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat" Naruto menatap Hinata dengan pandangan jahil.

"A-apa itu Naruto-kun?"

"Sebagai seorang istri, sepulang nanti kau harus melayaniku"

"Melayanimu?" Hinata tak percaya pemuda itu mengatakannya pada Hinata. "Hmm baiklah Naruto-kun" Hinata kembali dengan senyum manisnya.

"Baiklah, ayo kita mulai kencan kita yang pertama" kata Naruto sambil memakai sepatu ketsnya. Hinatapun telah memakai high heels pemberian mertuanya, Kushina Uzumaki. Naruto lalu memegang tangan istrinya itu kemudian membuka pintu mobil bagi Hinata. Hinata tersenyum lalu masuk ke dalam mobil itu.

"Naruto-kun?" gadis itu memanggil suaminya.

"Ya Hinata?" yang di panggil menoleh.

"Kita akan makan dimana?"

"Hmm aku sudah reservasi di sebuah restoran" Naruto kembali dengan cengirannya yang aneh.

"Apa pakaianku terlalu resmi Naruto-kun?"

"Menurutku tidak, kau cantik Hinata" Hinata tersenyum simpul setelah kembali mendengar pujian dari suaminya. Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi hening.

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di salah satu restoran yang cukup terkenal di Jepang.

"Makan malam kita di restoran yakitori. Tidak apa-apakan?" Naruto mencoba memastikan.

"Tidak apa-apa Naruto-kun"

Kedua sejoli itu turun dari mobil mereka. Berjalan masuk menuju restoran yang di tuju.

"Summimasen, saya tadi reservasi jam tiga sore" kata Naruto pada salah satu pegawai restoran itu.

"Nama anda Uzumaki Naruto? Benar?"

"Ya"

"Baik, ikuti saya"

Pegawai itu berjalan menuju tempat yang di pesan Naruto. Naruto dan Hinata mengikutinya. Restoran itu sedang ramai untunglah Naruto telah memesan tempat terlebih dahulu. Pegawai itu lalu menunjukan salah satu meja yang terletak di paling pojok.

"Anda mau pesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Dua piring yakitori ayam. Minumnya teh hijau saja"

"Baik"

Pelayan itu bergegas pergi. Naruto lalu memperhatikan daerah sekitarnya.

"Sepertinya aku salah membawamu kesini" Naruto memperlihatkan muka cemberutnya.

"Tidak apa-apa Naruto-kun. Aku sangat senang" gadis itu tersenyum simpul.

"Ah aku lupa, seharusnya kau tak memakai gaun itu. Sebentar lagi kan musim dingin Hinata" Naruto memperhatikan istrinya itu. Naruto baru sadar ternyata istrinya mengundang banyak perhatian para pengunjung laki-laki di tempat itu.

"Gomennasai" lirihnya pelan. Namun Naruto masih bisa mendengarnya.

'Apa-apaan mereka. Berani-beraninya menatap istriku seperti itu' raut wajah Naruto berubah tampak kesal. Hinata mengira Naruto marah padanya. Naruto lalu membuka jaket yang ia pakai lalu menutup tubuh Hinata dengan jaket itu.

"Pakai jaketku. Disini dingin" kata Naruto sambil menatap deathglare pada para pengunjung itu. Hinata hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Ia tidak menyadari bahwa suaminya itu sedang merasa cemburu.

"Setelah makan malam ini, aku ingin tidak ada dusta di antara kita" Naruto menatap Hinata serius.

"Eh? Maksudmu?" Hinata tidak mengerti.

"Maksudku kita saling mengutarakan apa yang ada di hati masing-masing. Kau mau kan?"

"Baiklah" Hinata menarik nafasnya. Apa ia akan mengatakan perasaannya selama ini pada Naruto? entahlah Hinata masih belum cukup keberaniannya.

Beberapa menit kemudian, pelayan itu membawa pesanan mereka berdua. Hinata dan Naruto langsung melahapnya.

"Itadakimasu" sahut Naruto dengan bersemangat.

"Itadakimasu" jawab Hinata lembut. Hinata melihat suaminya makan dengan lahap.

"Masakanmu lebih enak Hinata" kata pria berambut pria itu dengan mulut penuh yakitori. Hinata tersenyum melihat suaminya.

"Habiskan dulu Naruto-kun" tangan Hinata spontan mengusap bumbu yang ada di pinggir mulut Naruto. Mereka berdua terdiam. Naruto lalu tersenyum. Hinata kembali menarik tangannya. Wajahnya kini kembali memerah. Naruto lalu dengan cepat menghabiskan makanannya. Naruto merasa ia mulai menyukai istrinya itu.

Tak lama kemudian, Naruto berhasil menghabiskan satu piring yakitouri. Sedangkan Hinata masih ada setengahnya.

"Gochisousama deshita" sahut Naruto masih dengan cengiran khasnya.

"Naruto-kun?"

"Ya Hinata?"

"Aku sudah kenyang" kata gadis itu sambil memegang perutnya.

"Sini biar aku habiskan" kata pemuda itu dengan cengirannya.

"Arigatou" Hinata lalu memberikan piring makanannya pada Naruto. "Tidak apa-apa Naruto-kun?"

"Tentu saja. Aku tak mau ada makanan lagi yang terbuang sia-sia" kata pria itu sambil mengunyah makanannya. "Banyak orang di luar sana yang susah payah mencari uang untuk makan. Jadi kalau tidak ada aku, kau harus menghabiskan makananmu Hinata" Naruto jadi teringat ketika ia menyia-nyiakan masakan Hinata. Perkataan itu sesungguhnya lebih cocok untuk dirinya sendiri.

"Gomennasai Naruto-kun" Hinata tertunduk. Ia malu sekali mendengar perkataan Naruto barusan.

Naruto segera menghabiskan makanan itu. Setelah selesai, ia lalu membayar pada kasir lalu menarik tangan Hinata menuju ke mobil mereka untuk pergi ke suatu tempat. Sepanjang jalan mereka berdua hanya terdiam. Hinata melirik suaminya itu. Ia ragu untuk mengatakan perasaan sesungguhnya. Ia juga takut mendengar Naruto mengatakan masih cinta pada sahabat baiknya, Sakura. Hinata lalu menghapus pikiran buruk itu.

"Kau mencemaskan sesuatu Hinata?" Naruto menoleh ke arah Hinata.

"Ti-tidak apa-apa Naruto-kun"

"Kau jangan membohongiku. Aku tahu semua itu dari matamu" kata pemuda itu dengan mantap. Hinata kembali dengan rona merah di pipinya.

"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa takut" ya gadis itu merasa takut jika Naruto kembali membuat hatinya merasa sakit. Hinata menarik nafasnya. Mempersiapkan tameng bagi hatinya. Ia sedang bahagia sekarang, tapi Hinata rasa itu takan berlangsung lama.

"Aku tidak akan menggigitmu Hinata. Jadi tenang saja" pemuda itu tersenyum. Lebih tepatnya sih cengiran. Gadis itu hanya memberikan senyum simpul. Tak berapa lama mereka akhirnya sampai pada satu tempat.

"Naruto-kun ini kan?"

"Ya ini bukit di belakang sekolah kita dulu. Tempat Shikamaru melihat awan. Aku rasa tempat ini cocok" Naruto lalu keluar dari mobilnya begitu pula dengan Hinata. Naruto lalu terduduk di dekat mobilnya. Ia melihat pemandangan indah Konoha di waktu malam. Di atas kota itu terdapat banyak bintang yang semakin menambah keindahan malam. Hinata kemudian duduk di samping Naruto.

"Baiklah kita mulai sekarang. Bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku Hinata?" Naruto memandang gadis itu serius.

"Perasaanku pada Naruto-kun? gadis itu kebingungan.

"Ya perasaanmu padaku sesungguhnya" Naruto kembali mengulangi pertanyaanya.

Hinata kembali menarik nafas. "Perasaanku pada Naruto-kun..a-aku terlalu mencintaimu" gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan Naruto.

"Aku tidak tahu alasannya mengapa. Tapi karena Naruto-kun, aku yang dulu selalu menangis dan menyerah sebelum mencoba. Aku sering melangkah ke jalan yang salah. Tapi kau menunjukan ke arah yang benar Naruto-kun. Aku selalu mengejarmu. Ingin memilikimu. Aku hanya ingin berjalan bersamamu. Aku hanya ingin selalu bersamamu. Naruto-kun telah merubahku. Senyummu telah menyelamatkanku" gadis itu menundukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu setelah mengatakan itu semua. Naruto hanya terbengong mendengar pengakuan Hinata. Tiba-tiba angin malam menghempas kedua tubuh itu. Cepol Hinata terlepas begitu saja sehingga membuat rambutnya kembali terurai. angin malam memperlihatkan secara jelas kesempurnaan wajah Hinata. Putih bersih tanpa cacat sedikitpun. Mempunyai mata lavender semakin menambah kecantikan gadis itu. Naruto terpesona melihatnya. Kali ini entah mengapa dia merasa jantungnya cukup berdebar.

"Naruto-kun?" panggilan Hinata membuyarkan lamunan pasangan di hadapannya. "Apa kau mendengarku?"

"Eh? Tentu saja" Naruto tersenyum. Ia merasa kikuk.

"Aku sudah mengatakannya. Aku mencintaimu tapi kau menyukai wanita lain" suara Hinata terdengar berat mengatakan itu semua. Naruto hanya bisa tertegun.

"Dengarkan aku Hinata" Naruto menatap tajam pada istrinya. "Aku minta maaf dengan tingkah lakuku kemarin. Aku egois. Hanya memikirkan perasaanku tanpa peduli dengan perasaanmu. Aku tahu rasanya di abaikan dan itu sakit. Tapi aku malah mengabaikanmu. Aku membuatmu sakit" Naruto terdiam. Lavender bertemu dengan blue sappire. "Sepertinya aku mulai menyukaimu Hinata" mata Hinata membulat. Ia tak percaya Naruto mengatakan hal yang selalu dinantikannya. Wajah Hinata kembali merah padam. Tiba-tiba Naruto mendekatkan wajahnya pada istrinya dan 'cup' bibir mereka berdua bertemu. Ciuman pertama Naruto dan juga Hinata. Ciuman Naruto yang lembut dan penuh perasaan. Hinata menutup matanya. Ia masih belum percaya akan perkataan naruto dan bibirnya yang kini masih menempel dengan suaminya. 'Apa aku sedang bermimpi Naruto-kun" batinnya. Hinata lalu memegang wajah suaminya seakan tidak ingin moment itu berakhir. Naruto masih menikmati ciuman pertamanya. Jantungnya kini berdetak hebat tak karuan. Namun jauh di dalam jiwanya, ia merasa tenang dan nyaman. Naruto lalu melepaskan ciumannya itu dan tersenyum pada Hinata.

"Bibirmu lembut hinata" katanya dengan polos. Hinata makin blushing di buatnya.

"Sepertinya aku akan kecanduan dengan ini" jari telunjuk Naruto mengarah ke bibir Hinata. Hinata hanya tersenyum malu.

"Kita bisa memperbaiki hubungan ini" Naruto memegang tangan Hinata erat. Hinata yang mendengarnya hanya mengangguk pertanda setuju.

"Ayo kita pulang. Ini sudah terlalu malam" mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil itu. Hinata takan pernah melupakan bukit belakang sekolahnya dulu yang jadi saksi bisu penyatuan dirinya dengan Naruto. Malam itu membawa kesan yang amat dalam baginya. Sesuatu yang akan menjadi sejarah di dalam hidupnya dan juga Naruto. Sesuatu yang akan ia ceritakan nanti pada anak-anaknya kelak.

.

.

Sesampainya di rumah mereka berdua.

"Ah aku lelah sekali hari ini" kata pria berambut pirang itu saat memasuki kamarnya dan juga Hinata.

"Apa kau akan mandi dulu Naruto-kun?" Hinata lalu terduduk di tempat tidurnya. Ia membuka kalung kesayangannya lalu kembali menyimpannya.

"Aku malas tebbayo" kata pria itu sambil menguap. "Kalau kau Hinata?"

"Aku-"

"Tapi kalau mandi bareng Hinata aku mau" Naruto memperlihatkan cengirannya. Hinata hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya.

"Naru-" belum selesai Hinata berbicara kini sudah di potong lagi oleh Naruto. Namun kali ini bibir Naruto yang berhasil mengunci mulut gadis itu. Hinata mendesah pelan menikmati ciuman mendadak dari Naruto.

Naruto lalu merangkul tubuh istrinya untuk rebahan diri di tepi ranjang. Dengan lembut pria berambut pirang itu menciumi leher Hinata yang putih bersih. "Hinata, kau sangat cantik" bisiknya.

"Ah Naruto-kun" terdengar desahan Hinata yang semakin membuat Naruto terangsang. Lidah lelaki itu semakin nakal menjelajahi leher Hinata yang jenjang. Tangan Naruto mulai nakal untuk menggerayangi payudara Hinata. Payudara itu terasa mengencang saat mengikuti jilatan lidah Naruto di balik telinganya.

"Ah Naruto" Hinata mulai mengikuti rangsangan yang suaminya lakukan di dadanya. Naruto semakin berani melakukan hal yang lebih jauh.

"Hinata, buka gaunnya ya" pinta Naruto. Dengan perlahan Hinata membuka gaunnya itu di bantu Naruto. Mata lelaki itu membulat. Tubuh Hinata masih terbalut dengan bra dan juga celana dalamnya. Tapi Naruto sungguh mengagumi bentuk tubuh istrinya itu. Naruto lalu menaiki tubuh Hinata. Lelaki itu mencium kembali bibir tipis Hinata dan memburu lidah Hinata yang mulai terangsang. Tangan Naruto yang nakal mulai menarik branya dan waw... tersembul puting yang kencang. Tanpa pikir panjang, Naruto melepas lumatan dari bibir Hinata untuk kemudian melepas bra tersebut dan menjilati puting Hinata yang berwarna kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting Hinata berdiri dengan kencang. Sedangkan tangan kanan Naruto memilin puting Hinata yang satu lagi. Naruto memberanikan diri untuk membuka celana dalam Hinata. Dan darahnya mendesir ketika melihat vagina Hinata bersih tanpa ada sehelai rambutpun. Naruto langsung menjilati dan menghisap lubang milik Hinata.

"Oh Naruto-kun" Hinata merintih kenikmatan setiap Naruto menghujam lubang miliknya. Dan sesekali menekan kepala Naruto agar tidak melepaskan kenikmatan itu. Disaat Hinata sedang menikmati jilatan lidah suaminya, Naruto memasukan jari telunjuknya ke lubang vagina Hinata dan ia merasakan bahwa wanita milikknya itu lebih menikmati perlakuan itu. Terbukti dari tubuh Hinata menggeliat dan mendesah di setiap gerakan jarinya keluar masuk.

"Naruto-kun, ini nikmat" desah Hinata.

Disaat kocokan jari Naruto semakin cepat, patner bed nya itu memperlihatkan ciri-ciri wanita yang mau organisme dan disaat kemudian. "Naruto-kun" Hinata menggelinjang hebat sambil mengapit kedua pahanya. Sehingga kepala Naruto terasa sesak di buatnya. "Ahhhh" Hinata merintih panjang saat vaginanya memuntahkan cairan kental dan bersamaan itu pula Naruto membuka mulutnya lebar-lebar sehingga cairan itu habis di lahap Naruto.

Naruto membiarkan Hinata terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Naruto memperhatikan Hinata yang terlihat begitu puas dengan fore play Naruto tadi. Itu terlihat dari raut wajah Hinata yang begitu berbinar. Tanpa memberi watu panjang, Naruto menghampiri tubuh yang masih lemas itu lalu menarik pinggul Hinata ke pinggir ranjang. Naruto mengusap batangnya dan mencoba memasukannya ke dalam lubang nikmat milik Hinata. Namun ia cukup mengalami kesulitan.

"Ah sakit Naruto" lirih Hinata. Wanita itu merasakan sakit yang bisa membuatnya menjerit.

"Tahan Hinata" dalam satu hentakan, penis itu akhirnya bisa menerobos lubang milik Hinata. Naruto sejenak terdiam merasakan pijitan yang vagina Hinata berikan pada batangnya. Naruto melihat ke arah bersatunya kemaluan mereka. Ada darah yang mengalir dari vagina istrinya. Lelaki itu tersenyum.

"Naruto-kun" Hinata mengerang kesakitan. Tak terasa air matanya mengalir melewati pipinya.

Perlahan Naruto menggerakan tubuhnya agar penis itu bisa menggenjot vagina milik Hinata. Rasa sakit itu segera tergantkan dengan kenikmatan yang tiada tara. Hinata kembali desahannya yang membuat Naruto semakin terangsang.

Naruto terus berpacu dengan nafsu. Keringatnya mulai bercucuran dan menetes tepat di wajah Hinata yang dia rasa wanita itu menikmati permainan pertamanya ini.

"Naruto cukup" wanita itu berteriak panjang. Naruto merasa denyutan di vagina Hinata mengapit batang miliknya. Dan Naruto merasakan cairan hangat dari vagina itu. Naruto mendiamkan tubuhnya sejenak. Beberapa menit kemudian Naruto kembali mengulangi aksinya dan membuat Hinata kelabakan. Naruto kembali menggenjot vagina itu.

Tiba-tiba Hinata mendekap tubuh suaminya. Naruto mengetahui bahwa itu adalah tanda Hinata akan mencapai orgasmenya yang ketiga. Naruto mempercepat gerakan maju mundur batangnya itu.

"Aahh" wanita itu menjerit keenakan. Seiring dengan jeritan itu, Naruto kembali merasakan cairan hangat di batangnya dan kembali ia mendiamkannya sejenak. mengatur nafasnya yang kian memburu.

Setelah cukup lama mereka berdua terdiam, Naruto kembali mencoba memasukan kembali batangnya ke luang milik Hinata dan bless dengan mudah penis itu masuk karena dinding vagina itu penuh dengan cairan kewanitaannya. Naruto lalu mengulangi gerakan maju mundurnya. Sepuluh menit kemudian, Naruto merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari batangnya dan "Ahhhh" Naruto mendesah di ikuti keluarnya sperma dari batangnya itu. Lelaki itu abruk di samping istrinya. Karena kelelahan, Naruto dan Hinata langsung menjemput mimpi dengan tubuh polos mereka.

TBC


Akhirnya chapter kedua selesai. Tunggu Chapter ketiga ya Reader-san. Chapter yang paling-paling pokoknya. hehe

Ditunggu Reviewnya :D