AU (Alternate Universe) and OOC (Out of Character)
Enjoy!
.
.
A Sign of Eternal Love
A Drabble Collection Fan Fiction
—From Yuki / Silver Andante
.
.
'That which is loved is always beautiful.'
—Norwegian Proverb
Disclaimer: BLEACH by TiteKubo
See-through by Ootsuki Miu (drabble See-through adaptasi dari manga BL ini, tapi saya ubah beberapa kejadian supaya pas)
[Page 2_Romance Content]
.
.
See-through
Rukia benci hujan.
Ia tak pernah menyukai hujan.
Hanya satu alasan, ia tak ingin Ichigo mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
.
.
Ichigo dan Rukia berteduh di halte dekat sekolah, mereka tak menyangka hujan akan datang sederas ini pada saat musim panas. Rukia agak menjauh, tak ingin berdiri terlalu dekat dengan Ichigo meskipun halte itu hanya bisa memuat sedikit orang saja.
"Ah, sial! Kalau begini kita tak akan bisa pulang tanpa basah kuyup." Ichigo menggerutu saat suara gemuruh menggelegar, membuat hujan semakin deras turun.
"Lalu kenapa kau meminjamkan payungmu kepada mereka, heh?" Rukia menjawab gerutuan Ichigo sinis, beberapa menit yang lalu pemuda itu baru saja meminjamkan payung kepada dua orang perempuan yang menghampirinya.
"Errr, yah, aku tak bisa berkata tidak pada seorang perempuan. Hahaha." Jawaban Ichigo hanya dibalas decakkan oleh Rukia. Apa Ichigo tak mengetahui bahwa teman dekatnya ini seorang perempuan juga? Ichigo bahkan sering menolak perintahnya. 'Gentleman sialan!'
"Hei, Rukia. Mendekatlah kesini." Rukia merasakan lengannya ditarik, ia mendapati dirinya sangat dekat pada Ichigo. "Lama-lama kau akan basah kuyup jika terus di sana."
Berdekatan justru akan membuat keadaan menjadi berbahaya, ia tak mungkin bisa mengelak karena memang tak ingin basah. Rukia memandang ke bawah—pada tali sepatunya yang terkait berantakan. Mana berani ia menghadap Ichigo yang dekat sekali dengannya seperti ini. Wajah Rukia bersemu merah. Sungguh, meskipun ia sudah berhati-hati—menyembunyikan semuanya, namun tetap saja… Hujan akan membuatnya menjadi transparan.
Broommm… Splash!
"ARGHHHHHH! MOBIL SIALAN!"
Ichigo berteriak ketika sebuah mobil melaju kencang dan membuat genangan air terciprat membasahi mereka berdua. Kini Ichigo dan Rukia sudah basah kuyup, percuma jika mereka terus berteduh di halte ini. Namun, hujan sederas ini membuat mereka tidak yakin bisa pulang tanpa sakit nanti. Rukia terus menggumamkan kata-kata yang sama, ia benar-benar tak suka basah.
"Uuh, dinginnya…" Ichigo menggerutu lagi, pemuda itu menoleh pada Rukia yang sedang menggigil. "Kau baik-baik saja, Rukia?"
Rukia bisa merasakan telapak tangan Ichigo yang berada di bahunya, ia tersentak dan wajahnya bersemu lagi. Rukia ingin sekali menolehkan wajahnya pada Ichigo dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Namun, ia tak bisa. Ia tak akan bisa membiarkan Ichigo melihat wajahnya yang seperti ini sekarang.
Sungguh, ia sangat membenci hujan yang membuatnya seperti ini. Semuanya akan menjadi transparan. Bukan hanya dirinya, keburukannya, keinginannya, bahkan perasaannya pun akan menjadi transparan kala itu. Bahkan ia rasa orang lain pun bisa melihatnya.
"Rukia…"
Satu panggilan lembut itu, Rukia memberanikan diri menoleh masih dengan wajahnya yang merona. Ichigo tersentak, hatinya berdesir melihat rona pada wajah cantik Rukia yang selama ini disukainya. Suara jantungnya terdengar bergemuruh, berdetak semakin cepat. Ia tak bisa menahannya lagi. Ichigo mendekatkan diri pada Rukia dan mempertemukan kedua bibir mereka.
"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan payung dan jaket untukmu." Ichigo berlari di bawah hujan, meninggalkan Rukia yang terdiam di halte setelah hal itu terjadi. Sungguh, air mata itu menggenang di pelupuk mata Rukia.
Mereka begitu transparan. Ia bahkan bisa melihat sisi lain dari semua yang biasa dilihatnya. Wajah Ichigo yang bersemu berada sangat dekat dengannya. Ia bisa melihatnya dengan sangat jelas, perasaan Ichigo yang sebenarnya… Dan bagaimana dengan dirinya? Apakah Ichigo tahu?
Walaupun Rukia tahu ia masih membenci hujan.
Tapi ia akan berterima kasih karena telah membuat semuanya menjadi transparan.
.
.
The Clouds, The Sky and You
Akhir-akhir ini Ichigo tak bisa memalingkan pandangannya dari seorang gadis yang duduk di dekat jendela. Ichigo belum pernah melihat gadis itu ketika pertama kali dirinya datang—yah, dia juga tidak terlalu memperhatikan siapa saja yang berada satu kelas dengannya, namun gadis itu yang pertama kali menarik perhatiannya. Gadis itu tak pernah berbaur dengan yang lainnya dan selalu menjauh dari kerumunan, itulah yang membuat Ichigo menyadari kehadiran gadis itu. Kadang ia bertanya-tanya mengapa gadis itu sering melamun sambil menatap langit di luar sana.
Gadis itu bukan orang yang mencolok, tetapi penampilannya yang cantik dan anggun sangat cocok dengan sikapnya yang tenang. Ketika gadis itu dipanggil, senyuman akan selalu menghiasi wajahnya—yang membuat Ichigo terkejut saat pertama kali melihatnya. Dan Ichigo berpikir bahwa gadis itu lebih cantik jika tersenyum. Senyuman itu akan selalu mengingatkannya pada awan siang hari yang hangat dan menentramkan.
Dari sana Ichigo mulai melihat hal-hal yang lebih kecil tentang gadis itu, seperti betapa kecil tangannya, juga rambut hitamnya terbawa angin sepoi yang berhembus lewat jendela. Hal-hal kecil itulah yang membuat Ichigo mengenali gadis itu ketika tak sengaja melihatnya sedang terduduk di sebuah pohon di atas bukit yang sering ia lewati setiap pulang sekolah.
Semenjak saat itu, ia mulai memperhatikan tempat itu meskipun gadis itu tak sering berada di sana. Kadang ia berhenti sebentar untuk memastikan bahwa gadis itu tidak datang. Namun adakalanya ia duduk disana menggantikan gadis itu memandang langit dan satu-satunya yang ia perhatikan adalah beberapa awan kecil. Ichigo menyukai awan—hanya awan, yang dapat membuatnya duduk termenung disana hingga senja datang.
"Ah… mengapa awan hari ini begitu sedikit?" Pertanyaan yang biasa Ichigo tanyakan pada langit. Dalam benaknya, ia juga bertanya apakah yang disukai gadis itu dari langit. Apakah ia menyukai birunya langit atau awan yang transparan dan putih—sama dengan dirinya.
Dan hari ini, ia mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan gadis itu. Tapi ia hanya bertugas membersihkan kelas saat ini, sedangkan gadis itu tetap berada di kelas dan memandang langit. Tak biasanya gadis itu masih berada di dalam kelas pada hari ini. Ichigo tak ingin mengganggu gadis itu dengan bertanya. Namun saat ia sudah menyelesaikan semuanya dan akan pergi mengambil barang-barangnya, gadis itu—untuk pertama kalinya—berbicara di depan Ichigo (sadar atau tidak sadar).
"Langit pasti sedang bahagia hari ini."
.
.
Bulan berikutnya, Ichigo mengetahui bahwa gadis itu begitu menyukai bianglala. Ia tak sengaja bertemu dengannya ketika sedang bekerja part-time di sebuah taman bermain pada saat itu. Dan Ichigo terkejut karena gadis itu mengenalinya. Rukia tersenyum pada Ichigo ketika gadis itu sudah turun dari bianglala yang tadi dinaikinya.
"Kenapa kau datang ke sini?"
Ichigo memberanikan diri bertanya pada gadis itu.
"Karena tempat ini yang paling dekat dengan langit." Gadis itu menjawab dengan menengadahkan kepalanya menatap langit. Ichigo ikut menengadahkan kepalanya—ia ingin tahu mengapa gadis ini begitu mendamba langit, dan tanpa sadar ia berharap dirinya dapat menjadi langit bagi gadis ini.
Hari-hari berikutnya, Ichigo sudah mulai dekat dengan gadis ini. Namanya Rukia—dan bagi Ichigo nama gadis itu mengartikan cahaya yang menerangi langit, membuat awan-awan di langit selalu terlihat cerah dengan warna putihnya. Dan tiap pulang sekolah, ia dan Rukia selalu duduk berdampingan di dekat jendela untuk melihat langit. Bangunan sekolah ini tak memiliki atap rata, maka dari itu mereka lebih memilih melihat langit dari ruang kelas mereka yang berada di lantai paling atas.
"Langit begitu cerah saat ini."
Gumaman yang tak pernah Ichigo mengerti keluar dari bibir Rukia. Namun melihat pandangan mata Rukia yang lembut menatapnya, membuat Ichigo bertanya-tanya. Tetapi, ia tidak pernah bisa mengucapkan sebuah kata yang tepat untuk menanyakannya. Dan dua kata terucap—disaksikan langit, awan yang berarak, juga angin yang berhembus lembut.
"Aku mencintaimu…"
Senyuman hangat itu tercipta untuk dimilikinya.
Dan mulai dari saat ini, mereka akan melihat langit bersama. Selalu bersama…
.
.
Under The Window
Tiga tahun lalu, hal itu terjadi. Saat Rukia melihat wajah itu—wajah yang selama ini ia suka—sedang tertidur lelap di bawah naungan jendela kelas berbalut tirai yang diterbangkan angin. Dan ketika waktu berjalan begitu cepat, semua itu terjadi. Walaupun ia tahu hanya dirinya yang mengetahui, Rukia tak akan pernah mau melihat wajah itu lagi.
"Ck, Ichigo. Bisakah kau tidak ketiduran saat pelajaran terakhir?" Rukia memukul-mukul kepala Ichigo dengan buku tebal yang dibawanya. Sementara pemuda berambut senja itu kesakitan sambil menghalangi buku tebal Rukia dari kepalanya.
"Aw! Aw! Hentikan, itu sakit!" Rukia menghentikan acara memukulnya dan berjalan keluar ruang kelas. Ichigo masih menggerutu sambil mengambil tasnya dan mengikuti Rukia keluar. "Kenapa sih kau tidak bisa membangunkanku secara normal?"
Rukia berjalan di depan Ichigo tanpa pemuda itu tahu gadis itu menghela napas. Ichigo menguap, kemudian mempercepat langkah kakinya menyamakan Rukia. Pemuda itu mendekat—membisikkan kata-kata itu dengan nada rendah.
"Tapi, jangan bosan pulang bersamaku, ya?"
Dan seketika buku tebal mendarat kembali di kepalanya.
.
.
Hari-hari yang sama terulang, Rukia datang ke dalam ruang kelas yang sepi dengan seorang pemuda berambut senja yang tertidur di pojok ruang kelas. Gadis itu menghela napas berat.
'Lagi-lagi.' Pikirnya.
Rukia mendekat, ia berniat membangunkan Ichigo dengan cara biasanya. Sebisa mungkin ia tak melihat wajah damai yang tertidur itu. Namun apa daya, ia tak sengaja. Dan kini ia termenung memandangi wajah Ichigo tanpa bisa berbuat apapun. Tidak, tidak. Rukia tak ingin mengulang kembali kejadian tiga tahun lalu. Rukia menggelengkan kepala bermaksud mengembalikan kesadarannya. Gadis itu memilih keluar, menghindari kejadian yang mungkin saja terulangi. Namun sebelum beranjak pergi, tangan kecil Rukia tertahan oleh tangan besar milik Ichigo.
"Kenapa kau lari?" Rukia terbelalak menyadari bahwa Ichigo terbangun. Ia mencoba melepas tangannya dari cengkraman Ichigo, namun sia-sia. Ichigo bangkit berdiri dan mengurungnya.
"Kenapa kau tidak mengulangnya kembali?"
Pertanyaan ambigu Ichigo membuat Rukia sangat terkejut, beribu pertanyaan berputar di kepalanya. Apakah Ichigo tahu kejadian itu? Tiga tahun yang lalu? Dan seakan mengetahui apa yang dipikirkan Rukia, Ichigo tersenyum.
"Memangnya aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada saat itu, heh." Wajah Ichigo mendekat, membuat Rukia panik. "Ayo perlihatkan padaku lagi."
Rukia menolehkan wajahnya ke samping, menghindari Ichigo yang semakin memojokkannya. "A-aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Pernyataan itu munafik, gadis itu hanya malu mengakui bahwa ia sudah ketahuan.
"Kau sungguh-sungguh tak tahu? Atau hanya pura-pura?" Pertanyaan Ichigo begitu menohoknya. Rukia menelan ludahnya berat—gugup. Ichigo menjauhkan wajahnya sedikit—dan hal itu membuat Rukia lega.
"Aku menunggumu selama ini hanya untuk melihatmu, aku melakukan hal ini hanya untuk menunggumu mengulangnya kembali." Peryataan tak langsung Ichigo membuat Rukia bingung. Rukia memberanikan diri untuk memandang mata amber pemuda itu langsung. Dan dirinya mendapati wajah Ichigo yang begitu terlihat sendu. Gadis itu tahu, hal yang dilakukannya begitu berarti untuk Ichigo.
"Cium aku lagi dan perlihatkan padaku—wajah merahmu yang indah itu."
Perintah Ichigo terdengar merdu di telinganya. Dan dengan senang hati ia melakukannya di bawah naungan jendela ruang kelas, sama seperti tiga tahun lalu.
.
.
Not Invisible
"Aku tak terlihat!"
Ichigo kecil adalah sosok manja dan egois. Rukia menjadi salah satu dari korban keegoisan Ichigo. Perempuan berambut raven berumur lebih tua 2 tahun dari Ichigo itu menghela napas. Ia diharuskan menjaga Ichigo yang titipkan ke rumah keluarga Kuchiki karena kedua orang tuanya pergi. Rukia yang lebih tua harus bersikap dewasa dan menjaga sosok kecil itu dengan sangat hati-hati juga menemaninya bermain. Seperti saat ini, ia diharuskan mengikuti permintaan sang Ichigo kecil untuk menganggapnya tak terlihat. Perlahan Rukia memejamkan mata dan membukanya kembali.
"Oh, Ichi-kun! Kamu ada di mana?" Rukia berteriak mencari dan berpura-pura tak melihat Ichigo yang sedang tertawa kecil di sampingnya. Menganggap rencananya berhasil, bocah itu bersembunyi di bawah rak buku yang kosong. Rak kecil itulah tempat Ichigo bersembunyi. Rukia melihatnya dan mencoba mendekati rak itu.
"Ichi-kun ada di sini tidak ya? Hemm…" Rukia melongokkan kepalanya, ia melihat-lihat ke dalam sana memandang sekeliling seperti tak melihat Ichigo di dalam sana. Ichigo tersenyum kemudian bangun menyerbu Rukia.
Chu!
"Sekarang aku terlihat! Tangkap aku!" Lelaki kecil itu mencuri ciuman dari pipi Rukia kemudian berlari kabur keluar ruangan. Rukia terpaku semenit sebelum keluar ruangan mengikuti Ichigo.
.
.
Rukia masih saja bisa tersenyum mengingat masa kecil mereka yang polos saat itu. Sekarang mereka menginjak usia remaja, namun mereka masih bersahabat sampai sekarang. Walaupun perbedaan usia menuntut terpisahnya kehidupan pribadi, mereka . Ichigo kecil sekarang berubah menjadi pemuda tinggi dan tampan. Ia cukup populer dengan banyak perempuan namun sampai saat ini sepengatahuan Rukia, Ichigo sama sekali belum mempunyai kekasih. Padahal kalau diingat-ingat ia dan Ichigo hanya berbeda 2 tahun saja, itu berarti Rukia di tahun ketiga SMA sementara Ichigo di tahun pertama.
Jika Ichigo menyatakan belum punya kekasih, Rukia mengatakan sebaliknya. Ia mempunyai pujaan hati. Dan di pertandingan musim panas kali ini, ia berencana akan mengatakan perasaannya. Pemuda itulah Shiba Kaien, kakak kelasnya yang datang ke acara pertandingan sepak bola hari ini. Namun rencananya justru tak terlaksana kala surat undangan pernikahan itu terselip di tangannya. Dan kini, Rukia berada di atas atap menangisi cinta pertamanya yang pupus.
Cklek!
Pintu atap terbuka menampakkan sosok Ichigo yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Rukia segera menghapus tangis—tak ingin Ichigo tahu bahwa ia sedang patah hati. Namun dengan segera pemuda itu menahan kedua tangannya sehingga lelehan air mata itu mengalir lagi.
"Anggap aku tak ada di sini."
Kalimat itu lagi, ia sudah cukup untuk menahan diri. Ini bukan waktu yang tepat baginya untuk bermain ataupun melakukan perintah egois Ichigo itu. Rukia menggeleng kemudian mencoba melepaskan tangannya.
"Lepas, lepaskan aku! Le-" Secara tiba-tiba pelukan itu datang kepada Rukia, pelukan yang erat dan hangat. Rukia bisa merasakan hembusan napas hangat di lehernya. Perlakuan Ichigo kali ini, ia tak dapat mengerti. Meminta Rukia untuk menganggapnya tak ada juga memeluknya.
"Lihat aku! Hanya aku! Jangan cintai orang lain, cintai aku saja mulai saat ini…"
Rukia tersenyum setelah sebelumnya terpaku, ia benar-benar masih tak percaya pada apa yang didengarnya. Ichigo melepas pelukannya dan kemudian segera memandang lekat mata Rukia. Mata amethyst Rukia yang basah dan memerah.
"Aku mencintaimu…" Sekilas Rukia bisa melihat bagaimana wajah Ichigo yang memerah. "Jadi mulai sekarang kau harus mencintaiku."
Rukia tersenyum lagi, dan sekarang mulai mengerti mengapa Ichigo memintanya untuk menganggap pemuda itu tidak terlihat. Ichigo hanya malu bahwa pemuda itu menginginkan perhatiannya. Namun jika Rukia tahu kenyataannya lagi, Ichigo mencintai gadis itu lebih dalam hingga ia harus menyembunyikannya sejak lama. Dan tahukah satu hal bahwa perasaan cinta itu mulai kehilangan kekuatannya untuk menghilang?
"Baiklah, mulai hari ini aku akan mencoba belajar mencintaimu."
"Eh?! Kenapa 'mencoba belajar'?! Pokoknya kau harus! Harus mencintaiku!"
Mulai hari ini, ia akan selalu mendengar permintaan egois Ichigo lagi—dan kali ini lebih sering.
.
.
Wedding Dress
Ichigo duduk berdampingan dengan Rukia—menggenggam tangan gadis itu lembut. Menyaksikan dua insan yang sedang berdiri di altar untuk dipersatukan. Di hadapan Tuhan mereka mengikrarkan janji suci bersama. Harum bunga, senyuman dan warna putih menyelimuti ruang altar itu dengan indah. Tepuk tangan dan suara lonceng gereja terdengar menyambut selesainya upacara persatuan itu.
Ishida Uryuu dan Inoue Orihime—yang sudah berganti menjadi Ishida Orihime, berdiri di depan altar memberi senyuman pada tamu yang datang. Beberapa orang menghampiri kedua insan itu mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Kebahagiaan mereka kebahagiaan semua orang yang ada disana berbaur menjadi satu euforia yang indah.
Ichigo dan Rukia menghampiri pasangan baru itu masih dengan saling bergandengan tangan. Orihime yang melihat Rukia menghampirinya pun menangis haru, ia menerjang dan memeluk Rukia erat. Rukia tertawa lembut lalu mengusap lembut punggung Orihime yang tertutup veil—menenangkannya.
"Rukia-san… aku bahagia sekali kau datang." Orihime masih terisak dipelukan Rukia, sementara Rukia tersenyum kemudian melepaskan pelukan Orihime dan menghapus air mata wanita itu.
"Ini hari bahagiamu. Jika kau menangis kau tidak akan terlihat cantik lagi di depan Ishida." Rukia menggenggam tangan Orihime dan menyerahkannya pada Uryuu.
"Kau benar-benar terlihat cantik memakai gaun itu, Orihime." Ichigo melihat Orihime dengan lembut kemudian menolehkan wajahnya pada Uryuu. "Sungguh, Ishida beruntung memilikimu."
Kali itu semuanya tersenyum, terkecuali Orihime yang mulai mengeluarkan air matanya kembali. Rukia memandang Ichigo, kata-kata Ichigo yang dilontarkan suaminya itu begitu menohok hatinya. Hatinya berdenyut dan ia simpulkan, mungkin ia cemburu. Ah…
Kini ia dan Ichigo memasuki hampir satu tahun pernikahannya berlangsung. Pernikahan yang khidmat dengan gaya tradisional yang kental. Tak ada altar, tak ada gaun. Hanya pakaian shiromuku yang dikenakannya. Rukia tidak pernah menyesali hari pernikahannya, hanya saja kini ia… Ia hanya menginginkan Ichigo melihatnya memakai gaun pengantin. Mungkin hanya itu yang sangat diinginkannya saat ini.
.
.
Rukia terduduk di sofa dengan sebuah majalah di pangkuannya. Majalah itu memperlihatkan berbagai macam gaun pengantin. Entah kenapa Rukia tertarik membeli majalah ini ketika sedang menunggu antrian di supermarket tadi pagi. Matanya tertuju pada satu gambar—satu macam gaun pengantin, gaun panjang berwarna putih yang diimpikannya. Meskipun Rukia tahu tak akan bisa memakainya, ia tak bisa menghapus harapan itu dalam benaknya.
"Tadaima!"
Suara Ichigo yang terdengar dari pintu depan membuat Rukia terlonjak dan meninggalkan majalah di atas sofa begitu saja lalu beranjak menyambut suaminya.
"Okaerinasai." Rukia menghampiri Ichigo yang sedang melonggarkan dasinya, ia kemudian mengambil tas kerja Ichigo dan menaruhnya ke kamar.
Sementara itu Ichigo menunggu Rukia, ia beranjak menuju sofa untuk melepaskan lelahnya. Namun Ichigo melihat sebuah majalah yang tergeletak di atas sofa, dan saat itu Ichigo tersenyum—mengerti apa yang membuat Rukia termangu di pernikahan Ishida dan Orihime pada waktu itu. Ichigo menaruh kembali majalah itu ketika mendengar suara Rukia menyahut dari arah dapur untuk memulai makan malam mereka.
Ichigo tak pernah berhenti tersenyum ketika mereka makan malam, dan membuat Rukia bertanya-tanya pada saat itu.
.
.
Musim semi ini, bunga berkembang. Hari ini tepat satu tahun pernikahan yang mereka jalani. Rukia berdiri di balkon apartemen menunggu kepulangan Ichigo. Pucuk-pucuk bunga sakura terbang mengotori lantai balkon dan masuk ke dalam ruangan tak ia pedulikan. Hari ini adalah hari istimewa untuknya dan Ichigo, namun pria itu pergi mengurusi hal lain tadi pagi. Ichigo sudah berjanji mengambil cuti untuk hari ini saja untuknya—bersamanya, dan merayakan usia pernikahan mereka baru menginjak satu tahun. Tapi sampai setengah hari ini ia melanggar janjinya, meninggalkan Rukia sendirian di rumah. Rukia menghela nafas berat, sungguh ia sangat kesal hari ini.
Cklek…
"Tadaima…" Suara pintu terbuka dan suara Ichigo menyahut dari pintu, Rukia masih setia memandang bunga sakura yang berguguran di depan balkon kamar mereka. Rukia ingin Ichigo tahu bahwa ia sedang marah pada saat ini.
"Kenapa diam saja? Kau marah?" suara tapak kaki Ichigo mendekati Rukia, dan menyelipkan satu tangannya untuk memeluk Rukia namun wanita itu masih tetap diam. Ichigo tersenyum menaruh kepalanya di bahu Rukia, ikut memandang sakura yang berguguran. "Musim semi kali ini indah ya…"
"Aku tak akan berbicara denganmu sampai kau mengatakan alasan kenapa kau mengingkari janjimu hari ini." Ichigo terkekeh kecil mendengar penuturan Rukia. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan istri yang manis seperti ini. Ichigo mendekatkan bibirnya pada telinga Rukia dan membisikkan dengan lembut kata-kata itu.
"Aku akan mengatakannya, tapi jika kau berjanji untuk berkata ya."
Ichigo menegakkan tubuhnya dan kemudian menyisipkan sebuah gaun pengantin di hadapan Rukia. Rukia terkejut dan sontak menolehkan wajahnya pada Ichigo. Pria itu mengecup sekilas bibir Rukia kemudian memeluknya erat.
"Will you marry me again?"
Wanita dihadapannya itu menangis dengan air mata kebahagiaan yang pernah dijatuhkannya pada hari pernikahan mereka, Rukia membalas pelukannya tak kalah erat.
"I will treasure you more and more until I die…"
Dari gumaman kecil itu, Rukia akhirnya tahu bahwa Ichigo menganggapnya lebih dari sekedar indah dari apapun di dunia ini.
Dengan ataupun tidak memakai gaun itu.
.
.
Author's Note :
Gagal… Gagal… Drabble gagal… oTL
Apalagi yang theme 4, keburu-buru gak ada ide, gak masuk kecerita, dan juga endingnya maksa. *bruuagghhh* #dihajarpakebankai
Tapi beneran deh ini tuh hasil dari otak seorang penulis yang terkena writer's block, jadi harap dimaklumi. :D *nyengir lima Jari*
Dan untuk mengakhiri tahun ini, selamat tahun baru para reader dan author yang masih aktif! Selanjutnya, persiapkan tissu karna next chapter kita akan lihat drabble yang sedih. :D *senyum innocent*
Minna, want to review..?
Desember 25, 2013
_Silver Andante_
