Tanpa berpikir panjang, Mika langsung berlari menghampiri lelaki tersebut, dan berdiri di hadapannya, mencegah lelaki itu untuk berjalan lebih jauh lagi.

"Hei. Apakah kau sedang patah hati?"

Lelaki di hadapannya terdiam sesaat. Sepertinya ia mengira bahwa gadis ini sudah gila, atau semacamnya.

"Tidak, nona," ujarnya sembari menaikkan salah satu alisnya.

Mika tersenyum kikuk. "Ah- begitu.. Maaf sudah menganggu waktumu," Ia membungkukkan badannya.

"Tidak apa apa, tidak usah dipikirkan!" Lelaki itu pun berjalan pergi.

Tanpa sadar, ia menjatuhkan sesuatu. Sebuah kartu merah.

'Hunter Lisence? Apa ini?'

Mika langsung berlari menyusul lelaki tersebut, hingga ia sampai di sebuah tempat perbelanjaan yang ramai. Suara dari para penjual tidak kalah dari berisiknya suara para pengunjung yang ada di sana.

"Aaaah! Gawat.. Kalau begini, aku tidak akan bisa menemukannya! Bagaimana ini..."

...

"Hei, pak tua. Apakah kau tahu tentang kapal yang menuju ke Dole?"

Pak tua itu, sebut saja Leorio, tidak menggubris perkataan dari anak kecil tadi, Gon.

"Hei, tunggu, pak tua! Kau pasti tahu kan?"

'Aku bukan pak tua, aku bukan pak tua,' batinnya sebal, sambil mengigit apelnya.

"Ayolah! Tunggu! Aku hanya ingin tahu tentang kapal yang menuju ke Dole!" pinta Gon, dan ia dicegat oleh seorang pak tua lainnya.

"Anak kecil, jika kau mau pergi ke Dole, ikuti aku," ia tersenyum. "Aku akau membawamu ke sana."

"Eh? Benarkah?" Gon tersenyum lebar, dan langsung mengikuti orang tersebut.

Leorio, yang sejak tadi geram karena kelakuan Gon, (yang sekarang sedang ditipu) langsung berbalik dan mengejar mereka.

Buk!

Leorio pun menabrak seseorang gadis. Mika.

"Ah, maafkan-" Sebelum Mika bisa menyelesaikan kalimatnya, Leorio sudah mengomel duluan.

"Hei! Lihat-lihat kalau berjalan, anak kecil!" umpatnya, dan melewati Mika begitu saja tanpa ada sepatah kata permintaan maaf dari mulutnya.

"Aku bukan anak kecil, pak tua!"

/Pak tua/ itu berbalik dan memandang Mika dengan tatapan kesal. "Apa kau bilang?! Pak Tua?! Huh! Aku tidak punya waktu untuk melayanimu, anak kecil."

'Huh, dasar author bodoh! Mengapa semua orang memanggilku dengan sebutan /pak tua/, hah/!' omelnya dalam hati.

Dengan ekspresi sebal, Mika mengumpat di dalam hatinya. 'Author-san bodoh! Kenapa kau harus mempertemukanku dengan pak tua seperti dia?!'

Ia berlari meninggalkan Mika, namun Mika masih terus mengejarnya. "Hei, pak tua, bisakah-"

Lagi-lagi, kalimat Mika terpotong oleh Leorio.

"Hei, berhenti!"

Seruan /pak tua/ itu membuat beberapa orang di sana melihat ke arah mereka.

'Ah, itu laki-laki yang tadi!' batin Mika senang ketika melihat seseorang yang familiar.

"Itu adalah trik dari sebuah buku lama-"

Leorio memberi jeda pada kalimatnya.

"-yaitu menipu anak kecil dengan cara ber-akting sebagai orang baik, sehingga kau bisa menjualnya."

Bapak-bapak itu terkejut. "Apa yang kau bicarakan? Aku hanya bermaksud untuk menolong anak ini!"

Tanpa diduga, ia mengeluarkan sebilah pisau dan berniat untuk menusuk Leorio. Namun, Leorio dapat mencegahnya, dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.

"Sial-!" Bapak itu pun berlari pergi.

"Ah, kau gadis yang tadi!" seru Gon.

"Iya. Aku ingin mengembalikan ini," Mika memberikan kartu merah itu kepadanya.

"Ah, terima kasih! Ini sesuatu yang sangat penting!" kata Gon, dan tersenyum lebar.

'Bagus, Mika. Tingkah lakumu sudah menyerupai manusia normal,' pikir Ioryogi.