Title :: I'm Your Biggest Fan
Genre :: Romance/Friendship
Rating :: T
Cast ::
Wu Fan aka Kris,
Huang Zitao aka Tao,
Zhang Yizing aka Lay,
And other EXO-K, EXO-M & f(x)'s members.
Pairing(s) : RisTao/Taoris, KrisYeol, LayTao, etc.
Warning : AU, OOC, Yaoi, Shonen-ai, BL, BoyxBoy, Typo(s), Gaje, Don't like? Don't read.
Disclaimer : They belong to themselves, SMent, and God. The script is belong to me.
Summary : "Aku, Huang Zitao, dengan bangga menyatakan bahwa diriku adalah seorang KrisYeol shipper."
RnR please.
Last word, happy reading~
Author's POV
"Kenapa lama sekali?" Tanya Lay pada Tao yang baru saja sampai. Tao terlihat sangat aneh, ia terlihat pucat seperti baru saja bertemu hantu.
"Kau kenapa?" Lay pun menyikut pelan bahu Tao.
"A-ani. Gwechanayo." Jawab Tao dengan berbisik.
"Kau seperti baru bertemu Kris Wu saja, hahaha." Kata Lay sambil terkekeh.
Tao meneguk liurnya saat mendengar nama yang disebutkan Lay barusan. Oh tidak, ia jadi teringat dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Huang Zitao! Babo! Bisa-bisanya kau sangat kasar pada Kris tadi!" Umpat Tao dalam hatinya. Sepertinya Tao masih shock dengan kejadian tadi.
Tiba-tiba lampu di dalam ruangan itu pun meredup dan suara musik mulai berbunyi. Sepertinya drama musikal ini akan di mulai. Tao sedikit meneguk liurnya, ia tidak berani menatap ke panggung.
"Tao! Itu dia Kris Wu!" Seru Lay sambil menunjuk seseorang di atas panggung.
"Dimana?" Tao pun mendongakan kepalanya dan langsung menatap ke atas panggung pertunjukkan.
JLEB!
Ternyata dugaannya benar. Namja bertopeng tadi adalah Kris Wu, artis yang selama ini Tao kagumi. Dengan cepat Tao pun menundukkan kepalanya lagi. Ia sangat malu pada dirinya sendiri—dan juga dengan Kris tentunya.
"Kenapa kau malah menunduk seperti itu? Harusnya kau senang bisa melihatnya secara langsung." Kata Lay saat ia melihat Tao yang masih saja menunduk.
"Ne." Jawab Tao singkat. Perlahan-lahan ia pun melihat ke atas panggung. Ia melihat satu per satu artis yang akan tampil di drama musikal ini.
"Bukankah seharusnya ada Park Chanyeol disini?" Tanya Tao saat matanya tidak menangkan sosok Park Chanyeol di sana.
"Kabarnya ia sedang sakit. Ya, cidera kecil saat syuting iklan sebelumnya. Ia digantikan oleh adiknya, Park Jongin. Kalau tidak salah nama panggilannya adalah Kai." Kata Lay sambil menunjuk seorang namja bertubuh tinggi dan berkulit coklat yang berdiri di samping Kris.
"Oh, begitu ya." Tao pun menghela napasnya.
.
Selama satu jam pertunjukkan berlangsung, Tao benar-benar tidak menikmati drama musikal ini. Bukan karena drama musikal ini membosankan atau pun memualkan, hanya saja perasaan Tao masih kalut. Bagaimana bisa ia bersikap tidak sopan pada Kris Wu, seseorang yang ia kagumi sejak lama. Bagaimana jika Kris tersinggung dengan perlakuannya tadi? Hanya pertanyaan itu yang sedari tadi terus terjebak di kepala Tao.
"Tao…"
"Eh? Ne?" Lamunan Tao pun terbuyarkan oleh sapaan Lay.
"Sepertinya aku harus pulang. Ibuku sedang pergi keluar rumah, dan tidak ada yang menjaga adikku. Mianhae, sepertinya aku harus pulang sekarang. Apa kau juga mau pulang bersamaku?"
"Tidak usah. Aku akan pulang sendiri saja." Tolak Tao dengan senyum manisnya.
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
"Jeongmal mianhae, Tao." Lay pun berdiri dari tempat duduknya.
"Gwechanayo. Xie xie sudah mengajakku menonton drama musikal ini."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Lay pun pergi meninggalkan Tao di tempat duduknya.
"Berhati-hatilah." Tao pun melambaikan tangannya kearah Lay.
Tao pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Matanya tertuju kearah seseorang yang menggunakan topeng di depan sana—yang tidak lain adalah Kris.
Tao hanya menghela napasnya dan berusaha sebiasa mungkin.
.
.
.
Sekarang Tao sedang berjalan keluar dari area pertunjukkan. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan drama musikal yang ia tonton sudah selesai. Tao terus berjalan keluar dari area penonton. Ia ingin segera pulang. Ia sudah tidak sanggup memikirkan hal tadi lagi.
"Eh? Apa itu?" Tiba-tiba mata Tao menangkap sebuah benda aneh yang berada di dekat pintu keluar gedung pertunjukkan.
"Ini… Dompet. Siapa yang menjatuhkan dompetnya disini?" Tao pun mulai membuka isi dompet itu.
Mata Tao menelisik isi dompet itu. Di sana terdapat beberapa lembar uang dalam jumlah besar. Tao juga melihat beberapa kertas kecil yang terlipat rapi, tapi ia tidak menemukan kartu identitas atau pun tanda pengenal lainnya di dalam dompet itu. Sepertinya seseorang baru saja menjatuhkan dompet ini, ya mengingat pertunjukkan baru saja selesai dan kemungkinan dompet ini adalah milik dari salah satu penonton.
Tao menutup kembali dompet itu dan berpikir untuk memberikannya ke pos satpam. Ya, karena bukan hak Tao untuk menyimpan dompet ini. Lagi pula jika ia ingin mengembalikkan, ia tidak tahu herus pergi ke mana.
"HEY! ITU PENCOPETNYA!" Tiba-tiba dari arah belakang, segerombolan orang berteriak kearah Tao.
"Eh, copet? Dimana?" Tao terlihat bingung dan menatap sekelilingnya. Tapi sesaat kemudian ia sadar dengan benda apa yang ia pegang sekarang.
"MWO? BUKAN, AKU BUKAN PENCOPET!" Tao pun berteriak berusaha menjelaskan, tapi sepertinya hal itu sia-sia saja. Orang-orang tadi masih berlari mengejar Tao.
Tanpa berpikir panjang lagi, Tao pun melemparkan lagi dompet itu entah kemana. Ia berlari sekencang mungkin, ia tidak ingin ditangkap dan dilaporkan ke polisi. Ya, mungkin hari ini hari sial bagi Tao, awalnya bermaksud baik tetapi malah dikira pencopet.
SREEEEEEEEEEEEEEET!
"Butuh tumpangan?" Tiba-tiba sebuah mobil sudah terparkir di depan Tao.
"Ta-tapi…" Tao terus memperhatikan segerombolan orang di belakangnya.
"Atau kau ingin mereka menangkapmu?" Orang dalam mobil itu menunjuk segerombolan orang yang sedang berlari kearah Tao.
Dengan cepat Tao pun membuka pintu mobil itu dan segera masuk ke dalam. Sementara itu gerombolan orang tadi berhenti mengejar Tao yang sekarang sudah menjauh dengan mobil yang menjemputnya barusan.
"Gamsahamnida. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika mereka men—" Tiba-tiba kata-kata Tao terputus saat ia membalikkan wajahnya dan menatap orang yang sedang mengendarai mobil itu.
"Wah, kau namja yang menanyakan toilet tadi ya?" Tanya orang itu pada Tao.
"N-ne." Jawab Tao dengan terbata. Tidak salah lagi, orang yang menyelamatkan Tao ini adalah…
"Kris Wu imnida. Siapa namamu?" Kata orang tadi yang ternyata adalah Kris Wu. Ya, KRIS WU!
"Ja-janeun, Huang Zitao imnida. Panggil saja Tao." Jawab Tao pelan.
"Baiklah Huang Zitao, aku akan mengantarkanmu pulang. Rumahmu dimana?"
"…"
"Hey, kau mendengarku?"
"…"
"Hallo?"
"…"
"Baiklah, karena kau tidak menjawab, maka aku yang menentukan kemana kita pergi."
"Mi-mianhae." Tao pun akhirnya berbicara.
"Eh?" Kris tampak sedikit kebingungan.
"Mi-mianhae, aku sudah bertindak tidak sopan tadi." Jawab Tao dengan nada yang sangat menyesal. Ia juga terlihat menundukkan kepalanya.
"Hahaha, gwenchanayo. Itu bukan masalah. Seandainya tadi aku berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama."
Tao hanya tersenyum kecil. Ia masih sedikit canggung, karena sekarang ia sedang berada dalam satu mobil dengan Kris Wu, aktor favoritnya. Ternyata benar, Kris Wu itu orang yang sangat ramah dengan siapa pun, bahkan dengan dirinya yang sudah berbuat tidak sopan tadi.
"Baiklah, karena aku sedang lapar, maukah kau menemaniku makan malam?" Tanya Kris pada Tao.
"Ta-tapi…"
"Ya, anggap saja ini salam perkenalan dariku. Bagaimana?"
"Tentu saja. Ga-gamsahamnida Kris-sshi."
Kris pun melajukan mobilnya menuju restoran favoritnya. Kris terlihat memperhatikan jalan dengan seksama, sementara Tao terlihat menahan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.
Sementara itu, dari kejauhan tampak seseorang yang memakai jaket kulit berwarna hitam terus memperhatikan mobil Kris yang sudah semakin menjauh. Di tangannya, terlihat sebuah benda berwarna hitam, dan benda itu adalah sebuah dompet. Wajahnya tidak terlihat karena ia memakai topi jaketnya. Tapi meski begitu, aura kelam di sekitarnya masih bisa dirasakan.
"Jadi kau ingin bermain-main, eh? Boleh saja." Kata orang itu sambil tertawa sinis menatap mobil Kris yang sudah menghilang.
.
"Tao, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus segera menemui manajerku karena ada urusan penting." Ujar Kris saat keluar dari restoran tempat mereka makan malam.
"Ah, tidak apa-apa Kris-sshi. Lagi pula rumahku juga tidak jauh dari sini. Terima kasih makan malamnya, saya pasti akan selalau mengingatnya." Tao pun membungkuk kepada Kris.
"Oh ya, ini alamat e-mail-ku. Jika kau ada waktu luang, bisakah kau menemaniku jalan-jalan?" Kris pun mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya.
"Te-tentu saja. Gamsahamnida Kris-sshi." Dengan tangan bergetar Tao pun menerima Kartu nama Kris.
"Nah, kalau begitu sampai jumpa lagi Tao." Kris pun tersenyum saat masuk ke dalam mobilnya dan kemudian melaju meninggalkan Tao. Tao pun membungkuk dan melambai kearah mobil Kris yang sudah menjauh.
"HOREEEEEEEEEEEEEEEE! Aku bisa berkenalan dengan Kris Wu!" Tao pun bersorak dengan girang, ia melompat setinggi mungkin karena merasa sangat senang.
Dengan senyum lebar, Tao terus berjalan menuju rumahnya yang tidak begitu jauh. Ia baru ingat jika ia tidak membawa uang, jadi mau tidak mau ia harus berjalan kaki. Tapi tak apa, yang penting sekarang ia bisa berkenalan dengan artis favoritnya, Kris Wu.
.
.
.
"Aku pulang!" Seru Tao saat baru saja ia sampai di rumahnya.
"Appa? Eomma? Kalian di dalam?" Tanya Tao saat memperhatikan ruang tengahnya yang terlihat tampak gelap. Tidak biasanya rumah Tao gelap seperti ini.
Tao pun melangkah masuk menuju kamarnya. Sepanjang jalan ia tidak menemukan siapa pun, rumahnya kosong melompong. Ia pun memegang gagang pintu kamarnya dan membukanya. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Tao sedikit bingung, mengapa rumahnya sepi sekali?
Tao pun menghidupkan lampu ruang tengah. Ia memperhatikan sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan di dalam rumahnya ini. Tapi nihil, tidak ada tanda-tanda ada orang lain di sini.
Tao memutuskan untuk naik ke lantai 2, tempat dimana kamar kedua orang tuanya berada. Apa mungkin orang tuanya sudah tidur, tapi ini kan baru jam 8 malam, tidak mungkin kan orang tuanya sudah terlelap secepat ini. Lagi pula rumah Tao tidak dikunci, mana mungkin orang tua Tao melakukan hal teledor seperti itu.
Tao mengusap tengkuknya, bahkan kamar orang tuanya pun kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Dengan rasa penasaran Tao pun kembali turun dan memperhatikan sekeliling rumahnya sekali lagi.
"Appa? Eomma? Kali di—"
GREB!
Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut Tao. Tao berusaha melawan, tapi dengan cepat pandangan Tao menjadi kabur dan buyar.
"Sial, ini obat bius!" Kata Tao dalam hatinya sebelum terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Cepat bawa dia!" Tiba-tiba seorang namja dengan topeng yang menutupi wajahnya datang dari arah dapur rumah Tao.
"Siap tuan!" Jawab namja yang baru saja membekap Tao itu dengan sigap.
Mereka pun membawa Tao ke dalam sebuah mobil yang sudah terparkir rapi di belakang pekarangan rumah Tao. Dengan cepat mobil itu pun keluar dari pekarangan rumah Tao dan melaju meninggalkan rumah Tao yang masih sepi. Sebenarnya siapa mereka?
.
.
.
Author's POV end
TBC
Balasan review :
Im Jinah : Hehehe, ini sudah lanjut ^^
GyuniKai7 : Hahaha, ketemunya rada gk elit nih... #dibacokTao
Iya nih, Lay kayaknya naksir Tao, ngaku gak? #disumpelLay
taobbuingtao : Oke, ini udah lanjut, hehehe ^^
Baek Chan Lala EXOtics : BaekYeol? Hmm, nanti author usahain deh, tapi gak janji ya, hehehe ^^v
Nezta : Oke ^^d
Pelangi Senja : Hahaha, iya, RisTao deh... Kalo Kris uke kan gak cocok... #toss
Oke, diusahain update cepet kok... ^^
mocchan : Waw... Jujur saya speechless sekali. Sebelumnya, thank you ya. Baru kali ini, ada yang bener2 bisa baca pikiran saya, hahaha...
Ya, hampir 80% yang mocchan-sshi (manggil gini boleh?) bilang itu bener, saya jadi terharu banget, suer... #mewekdipojokan
Dan soal alur ceritanya, author usahaain bakal bikin ceritanya dengan bantuan reader semua, thanks ya masukannya, hehehe...
P.S : Love you too... #ditampol
Jin Ki Tao : Iya nih, Lay, mau jujur gak? #dibakarLay
Ini bang menejer juga ganggu, gak asik nih... #ditampolmenejer
Hehehe, oke, terima kasih ya... ^^v
wkyjtaoris ALL : Oke, pasti dilanjutin kok... ^^
mjeje : Oke, selalu diusahakan ^^v
.
a/n : Annyeong
Wah, akhirnya selese juga chap duanya. Wew, rada lama ya? Hehehe, mianhae ya...
Dan terima kasih ya untuk semua yang sudah mereview, author seneng banget, ternyata banyak yang suka. Author jadi semangat berapi-api untuk lanjutin. Sekali lagi terima kasih ya.
Dan yang terakhir, author minta review-nya ya. Jika reader suka atau ada kritik untuk ceritanya, review ya, please, don't be silent reader... (^/\^)
