Sacrifice

This fic © Fuyuhime Ryuu

Super junior and DBSK © GOD and themselves

Rated : T

Genre: Friendship, Hurt/Comfort, a Little bit Angst.

Warning! Gaje, abal, EYD gak karuan, don't like, DON'T READ THEN...!

_o0o_

Happy reading...

-o0o—

Chapter 2 : A Decision

"Heechul hyung... Waeyo...?" Tanya donghae yang berada tepat dibelakang heechul. Dia sampai melupakan kalimat formal ketika mereka bekerja demi melihat teman seperjuangannya itu tengah meringis kesakitan.

"Amankan ling hua ssi...". Bisik heechul pelan tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.

"Arraseo..." Segera eunhyuk dan donghae menjadi benteng sempurna bagi tuan ling hua.

Heechul segera menyeret junsu menjauh dari teman-temannya menuju salah satu kamar mandi.

"Jadi anda kim heechul ssi eoh...?. Jadi ling hua ssi meminta anda menjadi pengawalnya?. Ternyata anda masih muda. Sayang sekali anda harus berakhir seperti ini. Racun yang dikembangkan organisasi kami sangat sempurna. Dalam 2x24 jam anda tak mendapat pertolongan yang benar, anda tidak akan tertolong". Penjelasan gamblang dari junsu mampu membuat heechul kaget. Namun rona kaget itu tak nampak jelas.

"Hehh... Bloody rose, eoh?". Ucap heechul mulai lemah ketika melihat tatto bunga mawar sewarna darah itu tercetak jelas di tangan namja tampan berwajah childish itu.

"Nde... Anda luar biasa seperti biasa meskipun sedang sekarat. Ling hua ssi adalah target pembunuhan saya. Tapi jika anda bersedia menggantikannya. Saya rasa tidak akan masalah". Ucap junsu dengan nada riang yang dibuat-buat.

"Tidak masalah bagiku untuk menggantikan tuanku. Itu adalah hal biasa untuk pekerjaan yang kita lakukan. Benar begitu bukan junsu ssi?". Ucap heechul balik dengan suara yang semakin lemah.

Junsu nampak menganggukkan kepalanya. Tanpa terlihat dan entah dari mana dan benda apa yang membuat leher junsu mengeluarkan cairan pekat berbau anyir itu. Sedangkan heechul tak berniat menyembunyikan seringaiannya.

Junsu yang hanya merasakan ngilu diarea lehernya segera mengusap tempat ngilu itu. Dan betapa kagetnya dia saat menyadari cairan pekat menempel dilehernya.

Hanya rasa dingin yang dirasakan oleh junsu saat ini. Hal ini terjadi dalam waktu seperempat detik dan semuanya berubah gelap bagi junsu.

"Anda memberi waktu saya 2 hari, dan saya memberi waktu anda 2 menit. Cukup adil bukan?". Heechul berbicara pada junsu yang kini telah menjadi mayat.

Diapun segera berlalu dari ruangan tersebut tanpa meninggalkan setitikpun bukti. Heechul nampak mulai kepayahan dengan kondisi tubuhnya. Jalannya sudah mulai sempoyongan. Kulitnya yang putih semakin terlihat pucat.

"Heechul sshi... Gwenchana...?". Kembali donghae menggunakan panggilan formal, mengingat mereka sedang bekerja saat ini. Hanya anggukan yang menjawab pertanyaan donghae saat itu.

"Aku ingin tidur. Tolong jaga tuan ling hua ya...?"

"Nde. Itu sudah tugas kami. Bukan hanya tugasmu".

"Geure... Jaljjayo" ucap heechul kemudian dan langsung terlelap dalam mimpi panjangnya.

Donghae dan eunhyuk semakin meningkatkan kewaspadaannya.

_o0o_

5 jam sudah mereka berada didalam pesawat. Pagi hari yang cerah telah menanti bersama suhu yang dingin di bulan november itu.

"Heechul sshi, bangunlah... Kita sudah sampai..." Ucap eunhyuk berusaha membangunkan heechul.

Sedangkan donghae sedang berusaha untuk membangunkan tuan ling hua yang lebih sulit dari membangunkan kerbau dan membuat donghae sedikit kesal.

Sementara heechulpun tidak segera bangun dari tidurnya "Heechul sshi... Irreona..." Sekali lagi eunhyuk mencoba membangunkan heechul, tapi sepertinya tak membuahkan hasil.

Heechul masih setia dengan alam bawah sadarnya. Tidak ada yang tahu bahwa heechul sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik.

Donghae segera mendekati eunhyuk dan heechul. Setelah berhasil membangunkan tuan ling hua. Dia mencoba membangunkan heechul dengan memegang wajahnya. Betapa kagetnya dia saat mengetahui panas tubuh heechul yang luar biasa.

"Hyung... Kau demam...?" Tanpa basa basi donghae segera menggendong heechul ala bridal style, mengingat tubuh heechul memang cukup ringan. Dan jika heechul sedang sadar, mungkin hukuman mati yang akan didapat donghae karena memperlakukan heechul seperti itu.

Mereka berempat segera turun dari mobil. Donghae segera menelphon kyuhyun, salah satu anggota organisasi yang sudah dianggap heechul sebagai adik untuk menjemput heechul. Sedangkan Donghae dan eunhyuk melanjutkan tugas mereka dalam mengawal tuan ling hua.

_o0o_

# Flashback to 17 Years ago...

Seorang namja dan yeoja setengah baya nampak berjalan dalam langkah yang cukup panjang setelah kakinya memijak tanah pelataran rumah mewah beberapa waktu yang lalu. Jangan lupakan dua pasang kaki kecil berjalan setengah berlari berusaha menyamai langkah dua orang dewasa yang seakan tak memperdulikan mereka. Dua buah ransel yang agak kebesaran tergantung manis di punggung kecil mereka.

"Sudah kau persiapkan semuanya?". Seorang –mungkin- pelayan dengan pakaian setelan jas lengkap yang nampak rapi terlihat membungkuk hormat sesaat setelah melihat namja setengah baya itu tiba.

"Nde, tuan. semua sudah saya persiapkan. Mereka semua sudah berkumpul di aula sedang menunggu kedatangan anda".

"Baiklah, terimakasih. Kalian berdua, ikuti dia menuju kamar kalian untuk meletakkan barang-barang yang kalian bawa." Ucap namja setengah baya itu kemudian pergi berlalu begitu saja.

Dua bocah kecil itu dengan patuh segera mengikuti namja berpakaian setelan jas lengkap tadi.

"Daebak... Chullie ah... Kita beruntung mendapatkan orang tua sekaya ini. Daebak... Daebak..." Untuk kesekian kalinya bocah kecil bersurai cokelat terang itu menggumamkan kekagumannya pada setiap hal yang dilihatnya. Sedang bocah bersurai hitam disampingnya hanya mampu tersenyum demi menanggapi ucapan sahabatnya itu.

"Ini kamar kalian berdua. Tidak apa-apakan kalian berbagi kamar?. Letakkan barang-barang kalian disana, dan segera ikuti aku." Namja berpakaian rapi itu segera menunjukkan kamar super mewah dan besar pada dua bocah kecil yang sekali lagi mendapat demam kagum mendadak itu.

"Uwah... Daebak..." Leeteuk bocah bersurai cokelat terang itu lagi-lagi menganga kagum melihat pemandangan dihadapannya. Pemandangan yang sekalipun belum pernah dilihatnya.

"Ck..." Heechul, hanya mampu mendecih melihat sahabatnya yang sedikit kampungan itu. Meski tak dapat ia pungkiri, tempat ini memang terlalu mewah untuk mereka tempati nantinya.

"Palli... Kita harus segera menuju aula setelah ini." Namja pelayan berpakaian rapi yang masih belum diketahui namanya itu segera bergerak menjauh dari kamar mewah itu.

"Nde..." Jawab mereka serentak.

_o0o_

Langkah kaki kecil mereka kini menuju sebuah gedung besar dengan warna emas mengintari seluruh sisinya. Sebuah aula dengan lebar 200m x 200m yang bahkan mampu menampung 1000 orang lebih itu nampak telah diisi oleh segelintir orang dewasa dan beberapa bocah yang nampak masih ingusan.

Sebuah patung besar dalam bentuk sosok yang mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, nampak berdiri gagah di bagian tengah sisi sebelah barat, tepat dibelakang podium besar yang seakan menunjukkan ke arah mana mereka seharusnya berkiblat.

"Baiklah, semuanya telah hadir disini. Mari kita mulai memperkenalkan anggota keluarga kita yang baru." Suara bass namja setengah baya yang mereka kenali sebagai tuan choi itu terdengar begitu ramah. Mata elangnya seketika tertuju pada dua bocah yang terpaksa berdiri di dekat podium besar itu. Leeteuk sedikit gelisah melihat wajah datar yang diperlihatkan seluruh yang hadir diaula tersebut. Sedangkan heechul, dia nampak asyik mengawasi satu persatu makhluk di aula besar itu.

'11 anak seusiaku, 20 namja dewasa, 3 yeoja. Hah.. pakaiannya aneh sekali. Apa itu yang berwarna hitam?. Pistol.? Eyh... pasti pistol air. Bocah sekecil itu tak mungkin menggunakan pistol sungguhan kan?. Eh, kenapa dia membawa panah, apa dia baru saja berburu?. Apa choi sshi memiliki hutan?. Wah... uri appa neomu daebak... Lalu,' Belum selesai heechul menilai satu persatu penampilan mereka, suara besar tuan choi menginterupsi kegiatannya.

"Perkenalkan dirimu pada saudara-saudaramu." Ucapnya pelan namun mampu didengar seluruh penghuni aula itu.

"Kim heechul imnida, bangapsimnida." Ucap kim heechul lantang seraya membungkukkan badannya hormat.

"Chotta heechul ah... Sekarang kau menjadi bagian dari anggota keluarga kami. Mulai sekarang panggil aku aboji. Arra?."

"Ye, arrasimnika aboji..." Balas kim heechul dengan nada yang sangat sopan.

Mata tuan choi segera beralih pada bocah bersurai coklat terang yang berdiri gugup disamping heechul itu. Segera saja yang ditatap mengerti apa yang harus ia lakukan.

"Park jungsu imnida, tapi biasa dipanggil dengan sebutan leeteuk atau teukie. Bangapsimnida..." Leeteuk pun turut membungkukkan badan sesaat setelah memperkenalkan dirinya. Begitulah mereka dididik untuk tahu apa itu kesopanan.

"Geure teukie, mulai sekarang kau juga telah menjadi bagian dari keluarga besar kami. Chukkae... Kau juga telah menjadi anakku, karena itu panggil aku aboji." Wajah tuan choi benar-benar memperlihatkan raut ramah dan dan bersahaja layaknya seorang ayah.

Sebuah anggukan singkat diberikan leeteuk sebagai wujud persetujuannya dan terimakasih yang banyak karena dia turut mendapat kesempatan memiliki sebuah keluarga.

"Cha... sekarang perkenalkan diri kalian pada saudara baru kalian ini." Ucap tuan choi masih dengan wajah ramahnya yang nampak sulit digantikan.

Seorang bocah tampan yang berdiri di sebelah pojok kiri memulai perkenalannya. "Kim kangin imnida. Code name E50105, bangapsimnida." Bocah kecil dengan rambut cepak berwarna hitam itu memperkenalkan dirinya.

'Code name ,? Apa mereka sejenis barang yang diperjual belikan hingga menggunakan kode dan semacamnya.? Atau mungkin saja sejenis code name untuk hewan peliharaan. Tapi kami kan manusia, dan kami kesini karena appa baru kami yang mengajak.' Begitulah batin heechul kecil saat itu.

"Tan hankyung imnida, Code name Charlie50103, Bangapsimnida chullie ah, teukie ah..." ucapnya dalam logat korea yang sangat aneh. 'lagi-lagi Code name . Apa maksudnya ini'. Kim heechul sekali lagi memikirkan hal yang seharusnya belum terpikir dari bocah berusia 6 tahun.

"Lee sungmin imnida, Code name Gamma50107, Bangapsimnida." Kali ini bocah imut dengan gigi kelinci dan rambut sehitam malam yang tengah memperkenalkan dirinya. Sebuah busur panah nampak merekat erat di tangan kecilnya. Baiklah, heecul mulai pusing memikirkan tentang Code name . Dia berharap tidak akan mempermasalahkannya.

"Cho kyuhyun imnida, Code name M50113, Bangapsimnida." Bocah bersurai brunette itu yang memperkenalkan diri. 'Code name lagi. Bagaimana denganku.' Lagi, pikiran heechul benar-benar tak bisa diajak kompromi.

"Kim kibum, Code name L50112." Hei, Bocah ini benar-benar minim ekspresi ini sepertinya juga minim sopan santun.

"Lee donghae imnida, Code name I50109. Chullie ah, teuki ah. Mari menjadi saudara yang baik." Wajah ceria itu terlihat memamerkan tawa lima jari kearah mereka berdua.

"Lee eunhyuk imnida, Code name H50108. Bangapsimnida." Bocah kecil yang nampak hyperaktif itu tersenyum lebar, hingga gusinya nampak jelas.

"Kim yesung imnida. Code name Delta50104." Sepertinya dia lupa mengatakan senang berkenalan denganmu. Atau memang dia tidak senang bertambah saudara.? Siapa yang tahu tentang bocah dingin penuh misteri ini.

"Kim ryeowook imnida. Code name K50111. Bangapsimnida heechul sshi, leeteuk sshi." Sedikit formal. Tidak, itu bahkan terlalu formal. Bocah berambut hitam legam dengan ukuran tubuh yang bisa dikategorikan setengah cebol itu berbicara pelan. Tangan kirinya nampak mengongkang pistol berwarna hitam yang dianggap pistol air sebelumnya oleh heechul.

"Shin dong hae imnida. Code name F50106. Bangapsimnida." Sebuah senyum lebar dipertontonkan begitu saja oleh bocah gembul kelebihan lemak itu.

"Choi siwon imnida. Code name J50110. Bangapsimnida." 'Choi...? Dia juga menggunakan Code name .? Apakah dia anak kandung choi sshi. Atau hanya kebetulan marga mereka sama. Molla. Tapi kenapa hanya dia yang bermarga choi. Kenapa tidak semua berganti marga, apalagi sekarang kami adalah anaknya. Ah... naneun molla...' Benak heechul memang sulit diajak diam saja.

Tanpa disadari oleh seluruh yang ada diruangan itu –atau mungkin juga ada beberapa yang memperhatikan-, tuan choi mengamati gerak-gerak dua bocah yang berdiri disampingnya itu sejak kim kangin memperkenalkan dirinya. Sebuah senyuman –jika tidak bisa digolongkan seringaian- nampak menghiasi wajahnya yang pucat.

"Kalian berdua pasti bertanya-tanya mengapa mereka menggunakan Code name bukan.?" Tuan choi nampak memperhatikan raut dua anak barunya itu. leeteuk bocah tampan bersurai cokelat itu tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya. Berbeda dengan heechul yang cenderung terlihat masa bodoh itu.

"Aku akan memberi tahukan kalian. Tapi bukan sekarang, nanti ketika waktunya tiba." Tentu saja jawaban itu sangat tidak membuat keingintahuan mereka terobati. "Untuk sekarang aku akan memberi kalian Code name, sebagai tanda bahwa kalian berdua adalah bagian dari kami." Dua orang namja kekar yang sebelumnya berdiri disisi kanan tuan choi segera mendekat kearah dua bocah itu.

Leeteuk dan heechul segera dibawa menuju kursi empuk yang memiliki penerangan sebuah lampu yang menyilaukan dan terhubung langsung dengan kursi tersebut. Dua orang namja lain nampak berdiri disetiap sisi kursi tersebut pada masing-masing kursi yang leeteuk dan heechul duduki.

Sebuah sapu tangan tampak dijejalkan kedalam mulut leeteuk dan heechul. Tentu mereka berdua merasa ketakutan. Hey, mereka hanyalah bocah kemarin sore yang belum mengenal arti berani bukan.

Dua orang namja bertubuh kekar yang sebelumnya membawa dua bocah itu menuju kursi tadi segera menganggukkan kepalanya kearah tuan choi sebagai tanda mereka siap melakukan perintah tuan choi.

"Aku, choi minhyuk. Kuambil kalian berdua bukan tanpa alasan. Kalian adalah anak-anak pilihan yang akan aku didik seperti anakku sendiri. Kelak ditangan kalianlah kutumpukan harapan yang ingin ku genggam. Mulai sekarang panggil aku aboji, karena kalian adalah anak-anakku. Jangan pernah berfikir untuk mengkhianati ku atau mengkhianati saudara kalian. Jangan pernah berfikir untuk pergi dari sisiku, karena tidak akan ada tempat untuk pergi atau kembali jika melakukannya." Mata tuan choi semakin menajam. Bahkan heechul yang kini menatap nyalang ke arah tuan choi merasa ketakutan melihat perubahan itu.

"Kuberi kalian code name sebagai tanda kalian berdua adalah bagian dari kami. Park leeteuk, ku beri kau code name Alpha50101." Tuan choi segera menghentikan ucapannya. Dan sejenak kemudian menatap seluruh makhluk yang berada di ruangan tersebut.

Ruangan seketika berubah gaduh. "Jadi dia yang akhirnya terpilih sebagai alpha?", "Apa kemampuannya?", "Bagaimana bisa dia yang terpilih, sepertinya dia lemah?", "Pasti dia sangat hebat?." Terlalu banyak kalimat tanya yang tercipta ditempat itu.

Namja berperawakan kekar itu segera menggambar sesuatu di bahu kiri depan milik leeteuk. Dua namja lainnya nampak memegangi tangan bocah bersurai cokelat itu. Dan beberapa menit kemudian, leeteuk segera menjerit tertahan demi merasakan sesuatu yang panas dibahu kirinya itu. Air mata dan peluh seakan bercampur menjadi satu. Dan tak butuh waktu yang lama, sebuah tanda α50101 dibahu kirinya. Tuan choi tersenyum, sedang heechul nampak miris memandang sahabatnya itu. Luka berwarna merah yang tergambar disana seakan menegaskan betapa sakit proses yang dilaluinya.

Tanpa disadari heechul, tuan choi sudah berada begitu dekat dengan heechul. "Seharusnya kau yang menjadi alpha, tapi kau sedikit nakal chullie ah, aku akan menjadikanmu bayangan alpha". Sebuah bisikan pelan namun cukup membuat bulu kuduknya meremang. "Dan untukmu kim heechul, kuberi kau code name Beta50102."

Dan tak membutuhkan waktu lama, proses yang terjadi pada leeteuk bagaikan di copy-paste pada diri heechul. Begitu juga dengan tanggapan seluruh manusia yang hadir diruangan itu, hingga proses yang menyakitkan bagi heechul itu berakhir menyisakan tanda β50102 di bahu kirinya.

Iya, mereka berdua baru saja menyelesaikan prosesi tatto sebagai tanda bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga baru itu. Keluarga baru yang belum diketahuinya akan memberikan apa sebagai imbalan dari rasa sakit itu.

#Flashback end.

_o0o_

"Kyuhyunie... Apa yang terjadi padanya?." Leeteuk yang tak pernah absen melihat jalan menuju gerbang utama itu menjadi orang yang pertama kali datang menjemput kedatangan mobil hitam yang membawa dua orang terdekatnya itu.

"Hyung, tanya-tanyanya nanti saja. Aku juga tak tahu apa yang terjadi. Sekarang tolong hubungi uisa seongsaengnim. Jebal...!" Perintah kyuhyun tegas yang mampu menyadarkan leeteuk dari kegugupannya.

"Nde, chakkaman kyunnie. Bawa dia kekamar dulu." Leeteuk dengan tergopoh-gopoh segera menghubungi uisa. Terlalu lama jika harus menuju ke ruangannya yang berada dirumah berbeda. Untung saja sang uisa langsung menerima panggilan itu sesaat setelah nada sambung terdengar.

"Uisa-nim, kemarilah cepat. Heechul terluka. Palli jebal..." Leeteuk segera mematikan sambungannya sesaat setelah dia mengatakan kalimat tersebut, dan segera menyusul langkah panjang kyuhyun menuju kamarnya.

"Eottoke hyung...?. Uisa seongsaengnim bisa kemari?." Kedua tangan kyuhyun nampak terampil mengompres dahi heechul yang saat itu memang sedang demam tinggi. "Molla, aku tak mendengar jawaban uisa nim." Dengan muka penuh dosa leeteuk mulai menyadari apa yang dilakukannya tadi. Tidak menunggu jawaban seseorang kadang menjadi sesuatu yang fatal.

"Hyung pabo..." Persetan dengan apa yang dikatakan kyuhyun, leeteuk segera meraih jemari heechul yang lentik tetapi sedikit kasar itu. Dingin, hanya itu yang terasa oleh indra perasanya.

Kyuhyun kini mulai sibuk mengganti pakaian heechul dengan pakaian yang lebih santai. Kaos putih berlengan pendek yang menjadi pilihannya. Dengan pelan dan sedikit bantuan dari leeteuk mereka akhirnya berhasil mengganti pakaian kerja heechul itu, begitu juga dengan celananya, mereka menggantinya dengan celana training panjang berwarna hitam dan segera menyelimutinya kembali. Dan tak lupa terus menaruh kompres di dahinya.

Nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom

Neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon

Dasi ileoseol geoya...

Handphone kyuhyun berdering begitu kencang, sampai tanpa sengaja leeteuk menepuk pelan tangan kyuhyun. Sang pelaku hanya nyengir kuda tak jelas dan segera mengangkat panggilan dari seseorang itu. "Minnie hyung...?" Tidak begitu kencang, namun cukup mengganggu mengingat mereka hanya bertiga didalam ruangan yang luar biasa lebar itu.

Sekali lagi kyuhyun meringis melihat dirinya terus dipandang dengan pandangan mematikan itu dari leeteuk. Akhirnya dia memutuskan untuk sedikit menyingkir dari tempat itu.

"Nde minnie hyung?. Wae"

"Aku sedang berada dikamar leeteuk dan heechul hyung."

"Sudah, keadaan heechul hyung tak baik, dia seperti orang yang sekarat."

"Aku berkata apa adanya hyung. Bibirnya pucat, tubuhnya panas sekali, tapi kaki dan tangannya terasa dingin, dia juga tidak mau bangun. Kemarilah kalau kau tak percaya hyung."

"Nde, aku tunggu disini. Oh, ya, hankyung hyung sudah pulang?. Oh, belum... Kami ada misi nanti jam 4 sore. Nde..."

Kyuhyun akhirnya menyelesaikan sambungan telphonenya dengan roommatenya itu. namun setelahnya handphonenya kembali beredering. Benar-benar orang penting dia. Hanya saja kali ini sebuah sms.

"Nuguya kyunnie...?" Leeteuk bukannya kepo, hanya saja mereka memang seperti itu, saling memberi tahu, saling memperingatkan, dan juga saling menyayangi.

"Kibum hyung. Dia melihatku di kamera pengawas sedang menggendong heechul hyung. Dia menanyakan keadaan heechul hyung. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai disini."

"Oh," Hanya sebuah jawaban singkat yang diberikan leeteuk. "Ah... Chullie kenapa ya?." Leeteuk benar-benar merasa bingung dan sangat cemas melihat keadaan heechul saat ini.

"Yeoboseo..." Seorang namja dengan setelan khas dokter nampak masuk kedalam kamar. "Uisa nim, tolong heechul, jebal... dia kenapa...?"

"Biarkan uisa memeriksanya dulu hyung..." Kyuhyun segera mengajak leeteuk untuk mundur dari tempatnya duduk.

Uisa nampak memeriksa heechul dengan teliti. Mengukur tensi darahnya, memeriksa denyut nadinya dan sebagainya yang biasa dokter lakukan.

Tiba-tiba wajah sang dokter memucat. Ada apa sebenarnya?. Tentu saja keduanya bertanya-tanya melihat perubahan ekspresi sang dokter yang telah puluhan tahun mengabdi di wilayah organisasi itu bernaung.

"Heechul membutuhkan pertolongan medis segera. Racun yang menyebar ditubuhnya sungguh berbahaya. Saya tak tahu ini racun jenis apa, yang jelas ini dapat mengancam jiwanya. Kita harus segera melakukan berbagai pemeriksaan dan melakukan tindakan yang benar, atau kita bisa saja kehilangannya."

Leeteuk berjengkit demi mendengar pernyataan sang dokter. Racun berbahaya?, tidak tertolong?. Tetesan air mata dari keduanya segera memburu begitu saja, terutama leeteuk. Kyuhyun yang berada disampingnyapun tak bisa mengatakan banyak hal.

"Teukie... tak ada banyak waktu untuk kau menangis!. Menangisnya nanti saja, sekarang segera temui tuan choi dan mintakan izin padanya untuk segera membawa heechul ke rumah sakit. Aku akan menolongnya semampuku. Kau tak punya banyak waktu, tuan choi bukan orang yang mudah memberikan izin, kau tau itu juga kan.?" Pinta sang dokter memberi perintah.

"Nde uisa nim." Kaki jenjang leeteuk segera diarahkannya menuju ruangan dimana aboji berada.

"Apa yang bisa saya bantu uisa seongsaengnim?." Kali ini kyuhyun segera mendapatkan kesadarannya kembali. "Teruslah mengompresnya kyuhyunnie, semoga dengan itu, demamnya akan sedikit turun. Aku melupakan kompres demam yang selalu aku bawa. Sial sekali."

"Gwenchana seongsaengnim. Aku akan terus mengompresnya." Jawab kyuhyun dan segera berada ditempat sang dokter duduk sebelumnya.

"Racun ini menyebar begitu cepat. Aku curiga racun ini adalah racun yang sedang dikembangkan organisasi bloody rose." Ucap sang dokter mulai mengingat-ingat kegiatan penelitian bloody rose akhir-akhir ini.

"Jadi ini semua ada hubungannya dengan bloody rose seongsaengnim?." Sebuah suara dari arah pintu yang justru menginterupsi kegiatan sang dokter.

"Sepertinya begitu sungmin ah..." Masih dengan suara yang rendah sang dokter menjawab pertanyaan dari pendatang itu, lee sungmin.

"Eoh, kau sudah disini juga kibum hyung...?." Kini kyuhyun baru saja menyadari bahwa kibum telah berdiri di sampingnya.

"Hebat sekali agen ini. Dia bisa mengecoh konsentrasi heechul hyung yang luar biasa, hingga bisa meng-inject-kan racun sialan itu kedalam tubuhnya. Benar-benar agen yang hebat." Kibum seakan memuji sang pelaku, akan tetapi pandangan matanya menunjukkan hal lain. Matanya bahkan menunjukkan kebencian yang tak terkira.

"Bagaimana keadaannya uisa nim?." Sungmin kembali menanyakan keadaan heechul yang memang belum diketahuinya itu.

"Sedikit terlambat dalam penanganannya, mungkin kita harus merelekannya untuk istirahat selamanya sungmin ah..." Ucap sang dokter pelan. Terdengar nada sedih disetiap kalimatnya.

Tak ada satupun yang tak menampakkan wajah murung disana. Atensi mereka benar-benar tertuju sepenuhnya pada wajah pucat dihadapan mereka. 'Ini memang resiko kita, tapi akankah kita berpisah secepat ini?', demikianlah kata hati mereka terus berteriak.

#Heechul POV

Semua pandanganku gelap sesaat setelah aku mengatakan pada eunhyuk dan donghae untuk menjaga tuan ling hua. Tubuhku sangat lemas dan aku merasa sangat lelah.

Sebuah cahaya yang datang tiba-tiba benar-benar membuatku memicingkan mata. Cahaya silau apa ini?, tentu itu hal pertama yang ku tanyakan pada diriku sendiri.

Aku mencoba berjalan dibawah bimbingan cahaya yang semakin menyilaukan namun aku semakin mampu untuk melihat dengan jelas. Pasti karena mataku sudah mampu beradaptasi dengan sempurna, demikian pikirku.

Diujung jalan sana, aku dapat melihat sekelompok bocah dalam balutan kaos berwarna putih dan celana abu-abu nampak tersenyum cerah. Sedikit demi sedikit cahaya menyilaukan itu mulai memudar, menyisakan ruangan berwarna emas, masih dengan bocah-bocah kecil yang mungkin berumur 5 atau 6 tahun itu. Sayangnya wajah mereka begitu datar dan tak begitu memiliki ekspresi.

13 anak, ya 13 anak sedang berdiri tegak disana. Eh,? Kenapa ini terasa familiar bagiku. "Kim kibum Imnida. Code name L50112. " Tiba-tiba salah satu dari mereka yang berdiri di bagian paling pojok mulai memperkenalkan diri. Wajahnya begitu dingin, namun dia juga sangat tampan, meski dengan suaranya yang agak cempreng itu.

"Tan hankyung im...nida. Code name Charlie50103" Bocah ini begitu tampan, wajahnya begitu sayu, tubuhnya sedikit lebih tinggi dari yang lain, pengucapannya sedikit aneh, seperti bukan orang korea saja. Sejenak aku menahan tawa mendengar bocah tampan itu berbicara.

"Kim yesung imnida, Code name Delta50104." Kali ini bocah dengan mata sipit nan kecil itu yang berbicara. Ah, kepalanya terlihata sedikit besar. Lagi-lagi aku ingin tertawa, tapi aku tak mau mengganggu mereka tentu saja. ku dudukkan pantatku di tanah berwarna jingga itu di... ini malam, siang atau pagi sih?. Entahlah, memang apa peduliku. Kembali kupandangi satu persatu bocah-bocah yang memperkenalkan dirinya itu.

"Kim ryeowook imnida, Code name K50111." Sekarang bocah dengan tubuh sedikit lebih kecil dari yang lainnya itu yang berbicara. Sebuah kacamata nampak menggantung diatas hidungnya. Dia sebenarnya tampan, hanya saja pipinya terlalu tirus hingga berkesan bocah tak terurus.

"Kim heechul imnida, Code name Beta50102". Ah, bocah ini tampan juga, hanya saja wajahnya terlalu cantik untuk seorang namja. Eh, benarkah dia namja?. Kukulum sebuah senyum, teringat pada diri sendiri yang kerap di olok-olok namja cantik. Mengesalkan juga.

Eh,? Tunggu dulu. Kim heechul.? Itu namaku. Memangnya ada berapa banyak orang dengan nama kim heechul di korea?. Mungkin banyak tapi... Hey, itu memang wajahku. Apa yang terjadi?. Apa aku menemukan kotak pandora, sehingga bisa kembali pada masa kecil,?. Waa... kadang-kadang aku hebat juga. Hahahhahaha...

Aku tertawa,? Tapi apa yang kutertawakan. Diriku sendiri, eoh?, ternyata aku bisa bodoh juga. Kekekekeke...

Tapi tentu saja, kotak pandora itu hanya dongeng yang namja sebesar diriku tak mungkin percaya begitu saja. Memangnya aku namja bodoh.

"Lee sungmin imnida, Code name Gamma50107." Sungmin, itu memang lee sungmin kecil yang aku kenal. Bocah kelinci yang kadang dingin dan kadang sangat hangat itu. Apa yang terjadi sebenarnya,? Aku sungguh pusing gara-gara ini semua.

"Lee donghae imnida, Code name I50109." Kali ini bocah tampan ini yang berkata. Ya, itu juga lee donghae kecil yang ku kenal dulu, "Lee hyukjae imnida, Code name H50108." Itu nama namja kelebihan gusi yang selalu berisik itu. kenapa semua mengecil?. Apa aku salah mendarat?. Memangnya aku sedang naik pesawat ulang alik apa?.

"Choi siwon imnida, Code name J50110." Ini benar-benar aneh. Hey, apa aku salah minum obat?. Obat...?. Mungkinkah ini efeknya?.

"Cho kyuhyun imnida, Code name M50113." Itu suara bocah usil sok tampan itu. iya itu suara kyuhyun. Mungkinkah obat itu membuatku berhalusinasi sampai segila ini?. Argh... aku benar-benar bisa gila kalau begini.

"Park leeteuk imnida, Code name Alpha50101" Mataku nanar memandang pemandangan ini. Bocah itu, leeteuk. Dia saudaraku. Tidak bisa, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus kembali, demi teukie, demi semua. Aku tak bisa seperti ini. Bagaimana caranya kembali...? Siapapun, tolong aku..."

"Shin donghae imnida, Code name F50106." Tak lagi kuperhatikan perkenalan itu, perkenalan yang sudah ku lalui puluhan tahun yang lalu.

"Kim kangin imnida, Code name E50105." Aku mulai menangis. Oh, kim heechul menangis,? Yang benar saja. Tapi air mata ini bagai tak bertuan, aku bahkan tak mampu menghentikannya.

Bukankah ini awal perkenalan di neraka ini. Neraka yang mereka beri nama organisasi black shadow. Mereka mengatakan, kami akan dididik menjadi namja tangguh, namja yang sebenar-benarnya namja, karena kami adalah anaknya. Anak choi minhyuk yang terhormat.

Tapi, bukan hal ini yang aku inginkan ketika aku mengikuti tuan choi waktu itu. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang dari orang tua yang seumur hidup belum pernah sekalipun kurasakan. Aku mengajak teukie, agar kami sama-sama dapat merasakan rasa bahagia yang sama. Tapi inilah yang kami dapatkan, keputusan yang akhirnya kami sesali seumur hidup kami.

Seluruh pemandangan itu mulai berubah. Sebuah ruangan yang luas dengan menggunakan penerangan seadaanya. Bocah-bocah kecil itu –yang ternyata salah satunya adalah aku- sedang makan bersama.

Aku masih sangat ingat tiap detik yang telah kulewati disini. Iya, aku bahkan tak pernah bisa melupakan kejadian waktu makan itu.

"Code name E50105, kau ingat kesalahan apa yang telah kau lakukan?." Sebuah suara besar dari namja yang dulu sering ku sebut ketua itu, masih sangat kukenal.

"Nde, merusakkan fasilitas latihan." Kangin, iya itu suara kim kangin yang kini tubuhnya terlampau kekar layaknya gorila itu.

Dulu dia memang seorang penakut, tidak hanya dia sebenarnya, aku juga takut, bahkan aku yakin semuanya tak ada yang memiliki keberanian. Memoriku sungguh diajak berkelana seperti ini. Apa aku akan mati...? Kenapa aku bisa kembali ke hari mengerikan ini.

Iya, hari itu memang sangat mengerikan. Kangin dihajar oleh ketua sampai sekarat. Beruntung sekali setelah itu dia masih bisa bertahan sampai sekarang. Oh, semoga dia masih hidup sampai detik ini.

Semuanya berganti, keadaan sekarang berubah menjadi tanah lapang. Tanah lapang tempat kami biasa berlatih, tentu saja selain di tempat latihan seharusnya. Kami mulai tumbuh semakin besar. Tentu saja belum bisa dikatakan remaja, karena kami masih sering menangis dan ketakutan.

Itu adalah hari pertamaku menggunakan pedang. Ini pedang sungguhan yang terbuat dari besi pipih yang ringan yang memiliki dua sisi mata pedang. Kau akan terluka cukup lebar meski hanya tergores.

Umurku saat itu 10 tahun. Dan orang pertama yang aku lukai dengan pedang yang kupegang adalah teukie. Iya, dia temanku, sahabatku, saudaraku. Sungguh hari itu aku merasa ingin membunuh diriku sendiri, kalau mereka tak menghentikanku. 11 temanku yang lain. Ah, anni, mereka adalah saudaraku juga, kami senasib. Mereka yang terus menguatkanku dan terus membuatku hidup.

Mereka tak tahu, aku benar-benar merasa sekarat saat itu. Saat teukie begitu kesakitan karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan luka menganga, yang perlu mendapat jahitan, dan tidak diperbolehkan menggunakan obat bius. Bahkan sampai sekarang saat dia terluka, dia masih kerap menangis saat dijahit. Dia berteriak mungkin karena terlalu sakit, sedang aku hanya mampu menangis dan menutup telingaku rapat-rapat. Aku bahkan merasa lebih sakit setiap kali dia terluka. Lagi-lagi ini adalah dosaku membawa dia ke neraka jahanam ini. Ini semua kesalahanku.

Semuanya berganti lagi, aku tahu tempat ini. Tempat dimana kami resmi menjadi anggota organisasi. Tempat paling menyakitkan yang pernah aku rasakan.

Satu persatu dada kami di bedah. Sebuah benda asing –yang sekarang aku tahu itu alat pelacak- dimasukkan kedalam luka kami. Tepatnya sebelah kanan jantung. Sakit,? Tentu saja. bahkan setelah itu kami semua demam tinggi selama satu minggu. Benda itu benar-benar terasa asing ditubuh kami.

Betapapun sakitnya kami berada di organisasi ini, kami tak pernah keluar atau sebagainya. Bukan karena kami tak mau, kami bahkan mencobanya berkali-kali untuk kabur dari penjara ini. Tapi tak sekalipun kami berhasil. Terlalu sulit benteng organisasi ini untuk ditembus.

Jika sekarang, ketika kami kabur, nyawa kami menjadi taruhannya. Bagaimana tidak,? alat pelacak itu ternyata berfungsi ganda. Ketika kami memilih untuk pergi, alat pelacak itu akan berubah menjadi racun yang paling mematikan. Jikapun kami bisa mengeluarkan benda itu, tetap saja satu tetesnya mampu membuat kami mati meski mungkin butuh beberapa hari. Tapi benda itu tidak akan mungkin untuk diambil dalam keadaan baik-baik saja, pembungkusnya sangat rentan dengan tarikan.

Suasana berubah lagi. Kali ini, kami bertiga belas dalam sebuah ruangan yang sangat terang. Ruangan atau mungkin juga bukan. Tempat ini terlalu luas seakan tak memiliki batas.

Kedua tanganku kini tengah memegang samurai milikku yang biasa kugunakan ketika melakukan misi jarak dekat. Aku memang sangat jarang menggunakan pistol atau sejenisnya. Bukan karena aku tak bisa, hanya aku memang tak begitu nyaman.

Kami saling mengarahkan senjata, hey, ada yang salah. Untuk apa kami melakukannya,?.

Teukie, saudaraku bahkan mengarahkan moncong pistolnya kearahku. Kibum mengarahkan pistolnya kearah teukie. Kyuhyun juga mengarahkan busur panahnya kearah sungmin, dan begitupun sebaliknya.

Siwon siaga dengan senjatanya yang kadang tak terlihat nampak mengawasi siapapun yang mengancamnya. Ryeowook yang memang memiliki mata paling jeli itupun tak mau lengah. Senjata api laras panjang yang tak jarang dia lupakan itu diarahkannya ke segala arah, seakan dia akan membunuh siapapun.

Begitu juga dengan yang lain. Ada apa sebenarnya?. Apa yang tengah terjadi. Dan entah apa yang terjadi. Dalam sekejap mata, darah tercecer dimana-mana. Tak ada satupun dari kami dalam posisi berdiri seperti sebelumnya.

Aku melihatnya dalam pandangan yang tak begitu jelas. Aku kembali menangis. Hah... ahri ini aku benar-benar terlalu banyak tertawa dan menangis.

"Teukie..." ucapku terus berusaha mempertahankan kesadaranku yang mulai tak seberapa. Teukie menyambut panggilanku. Kepalanya yang terkulai sedikit mendongak kearahku. Bisa kulihat pandangannya yang sayu.

"Mianhae..." Ucapku. Batinku terus berteriak untuk bertahan, meski sisa kekuatanku terasa tak pernah cukup untuk menanggungnya.

Pandanganku semakin redup, sialnya aku hampir tak bisa lagi menatap tubuh-tubuh saudaraku yang tergolek itu. Demi apapun, aku rela menukarkan apapun untuk mendapatkan mataku kembali. Aku membutuhkannya, setidaknya untuk mengawasi saudaraku yang mencapai ajalnya.

Sebuah cahaya putih kembali membutakan pandanganku, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Mimpi ini sungguh mengerikan, aku berharap tubuhku bersedia untuk menampung jiwaku yang masih memiliki mimpi ini. Mimpi untuk bebas, dan mimpi untuk membebaskan saudara-saudaraku. Jebal... Tuhan, beri aku kesempatan.

#Heechul POV end

_o0o_

#Leeteuk POV

"Ada apa teukie?." Suara ini, suara yang dulu sempat membuat hatiku menghangat tapi membeku setelahnya.

"Aboji, kim heechul terkena racun. Tindakan medis sungguh diperlukan."

"Racun?. Racun jenis apa?." Tanyanya dingin.

"Naneun molla aboji, yang jelas racun itu sangat berbahaya. Begitu kata uisa nim."

"Uisa yang kita miliki adalah uisa terbaik teukie. Dia pasti bisa mengatasinya."

"Uisa nim mengatakan kita membutuhkan tindakan medis segera aboji, atau kita bisa saja kehilangan chullie. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit"

"Tidak bisa teukie, jika karena racun itu heechul tak bisa bertahan, dia tak akan menjadi lebih baik jika dibawa ke rumah sakit. Kau melupakan alat pelacak kita teukie. Hasilnya akan sama saja. Rumah sakit tidak akan membiarkan alat itu tetap berada ditubuhnya. Dan jika alat itu dilepas, kau juga tahu apa yang akan terjadi bukan?.

Masuk akal. "Tapi jika tidak dilakukan apa-apa, semua bisa terlambat aboji. Dan chullie..."

"Andwe teukie ah... tidak ada yang bisa kita lakukan. Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri."

"Tapi aboji, saya tahu anda bisa menonaktifkan alat itu." Aku benar-benar ingin marah pada aboji. Padahal masih ada cara untuk menyelamatkannya.

"Tapi aku tidak akan melakukannya teukie. Jangan mengharapkannya dariku,"

Dia tidak mau, yang benar saja. "Aboji, anda ingin membunuh chullie,?. Kesalahan apa yang diperbuat chullie hingga anda tak mau menyelamatkannya." Kini aku mulai berteriak. Aku bisa gila menghadapi ini semua. Chullie itu saudaraku, bagaimana aku mampu melihat dirinya yang sekarat.

"Sudah aku usahakan untuk membunuhnya berkali-kali teukie. Tapi dia tetap hidup. Jika ini cara yang tepat untuk membuatnya mati, kenapa tidak. Kesalahannya, dia selalu membangkang terhadapku teukie."

Apa dia bilang?. Membangkang,? Bahkan sekalipun chullie tak pernah protes dengan misinya yang semakin mengerikan. "Membangkang,? Hah, ini bukan saatnya anda bercanda aboji. Chullie tak pernah menuntut apapun dari anda, bahkan jika berkali-kali anda berniat membunuhnya. Chullie tak pernah menolak misi apapun dari anda."

"Dia menginginkan kebebasan. Pembangkangan yang sebenarnya tak pernah bisa ku maafkan teukie. Meski aku tetap saja menyetujuinya. Jadi, maafkan aku, aku tak akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya selain tetap membiarkan uisa nim mencoba untuk menolongnya." Aku seketika itu juga merasa tubuhku tak lagi bertulang. Lembek bagai lilin terbakar api.

Heechul memang type orang yang akan mengatakan keinginannya begitu saja. Namun tak pernah ku sangka dia akan seberani itu meminta kebebasan pada aboji. Tapi dia tak pernah menceritakannya padaku. benarkah dia ingin bebas,? Apa dia akan meninggalkanku setelah kebebasannya yang sudah disetujui aboji itu. Mungkinkah kebebasan itu bersyarat?. Apa dia bertambah kuat setiap harinya karena hal itu?.

Mataku mulai memanas. Apa yang harus ku lakukan?. Kenapa hati egois ku memintaku untuk membiarkan saja chullie sekarat seperti itu namun dia tetap disampingku, daripada melihatnya meninggalkanku pergi dengan kebebasannya?.

"Tapi mungkin aku bisa melakukannya teukie. Demi dirimu, anak yang begitu aku sayangi." Sepertinya aboji mulai luluh, tapi benarkah dia bersedia.

"Permisi aboji," Ucapku akhirnya sesaat setelah air mata ini turun begitu saja. Inilah aku dan keputusanku yang egois.

Aku berjalan pelan kembali menuju kamarku. Kembali hatiku berperang. Benarkah keputusanku untuk membiarkannya saja seperti itu dan tidak mendapatkan pertolongan medis. Benarkah,?.

Tentu saja aku salah, itu jawabannya. Entah bagaimanapun juga, hidup chullie adalah hal yang terpenting di dunia ini.

Tapi bagiku yang egois, lebih baik melihat heechul mati disampingku, daripada membiarkannya hidup tapi tak berada disisiku. Aku terlalu tak bisa tanpanya. Aku berjanji, jika dia tidak selamat kali ini. Aku akan menemaninya di alam baka. Aku janji. Tapi tak sekalipun akan kubiarkan dia meninggalkanku.

"Mianhae chullie ah... mianhae... mianhae untuk mengambil keputusan egois ini."

#Leeteuk POV end

_o0o_ _TBC_ _o0o_

Sa... saatnya fuyu membalas satu-satunya review yang bersedia nangkring di jendela fuyu... #ngenes

Emon204, hahaha... fuyu juga bakal sambit kedatangan heechul... sambut maksudnya, #plakk

Heechul biasnya fuyu soalnya, :P

makanya ff fuyu isinya heenim mulu... siapa suruh dia ganteng gitu...?

Hahaha... iyakah, fuyu khawatir chapter selanjutnya gg bakal muasin emon... tapi fuyu tetep tunggu reviewnya, Gamsahaeyo, udah jawab pertanyaan fuyu di chapter 1... #bow

buat reader lainnya, mind to review...? pluish...