Love In Drama
.
Author:
Kim Hyunfha
Genre:
Read, then you will find
Rated:
PG-15
Main Cast:
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Kim Jong Hoon
Kim Ryeowook
Kim Jungmo
Lee Hyuk Jae
Find by your self
Disclaimer:
Fanfict ini terinspirasi oleh drama Korea yang judulnya Heartstrings. Tapi aku kurang puas sama ceritanya. Jadilah aku buat Heartstrings versiku sendiri dengan konsep cerita yang sama, namun alur cerita yang berbeda.
Mungkin ada yang berteman sama akun fb-ku dan menemukan cerita dengan judul yang sama karena memang awalnya cerita ini aku post di fb. Namun semenjak aku mulai menulis ff KyuMin, ff ini jadi gak terurus. Jadilah aku mengubah seluruh cast ditambah pengubahan alur sedikit. Dan juga aku sudah menyelesaikan sampai chapter 11. Itu sebabnya ff ku yang Journey For Remembrance masih separuh perjalanan. Aku lebih mengutamakan apa yang lebih dulu aku kerjakan ^^ tapi tenang aja... Kadang aku ngelanjutin keduanya kok.
P.S: FF yang udah aku publish di FB udah aku hapus demi kenyamanan.
Don't Plagiat ! Don't Bash ! RCL sangat dibutuhkan So,
Happy Reading ^^
.
.
.
Sungmin dan Ryeowook berjalan memasuki ruangan kelas. Mereka di buat heran dengan seorang lelaki yang berjalan keluar kelas dengan tatapan marah. Jelas ada yang tidak beres terjadi di dalam kelas ini.
"Bukankah itu Yesung? Ada apa dengannya?" tanya Ryeowook bingung. Sungmin menggelengkan kepalanya tak mengerti.
"Ahh! Aku harus kembali ke kelasku, Sungmin. Sebentar lagi mata kuliah favoritku akan dimulai. Annyeong!" Ryeowook sempat melambaikan tangannya sebelum pergi dari sana yang dibalas dengan lambaian tangan juga oleh Sungmin.
Setelah itu, fokus gadis tersebut kembali pada apa yang ada di dalam kelas. Namun ada sesuatu yang membuatnya harus melebarkan kedua matanya. Di sana, tepat di belakang tempat duduknya...
"Kyuhyun.." gumam Sungmin kala melihat seorang lelaki tampan yang duduk santai sembari menatap ke arah smartphone-nya.
Gadis imut itu berjalan mendekati lelaki yang juga tengah mendengar lagu lewat headphone itu. Ia terlihat begitu asyik dengan dunianya sendiri yang mungkin lebih menyenangkan baginya. Jika kalian bertanya itu apa, maka jawabannya adalah game! Lelaki itu sibuk bermain game di smartphone miliknya diiringi dengan alunan musik yang didengarnya melalui headphone.
"Cho Kyuhyun? Sedang apa kau di sini?" tanya Sungmin dengan wajah polosnya. Sementara lelaki itu hanya meliriknya sebentar lalu dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya pada benda kotak tipis di tangannya itu.
"Hei!" Karena tak mendapat perhatian darinya, Sungmin sontak melepaskan headphone yang tengah dipakai Kyuhyun.
"Aissh! Apa yang kau lakukan?" tanya Kyuhyun kesal.
"Sedang apa kau di sini, huh?"
"Tentu saja aku sedang kuliah, bodoh! Aissh.." Dahi Sungmin mengernyit heran.
"Kuliah? Hey, Tuan! Apakah kau tidak salah memasuki kelas? Setahuku tidak ada mahasiswa sepertimu di kelas ini. Atau kau memang baru di sini?" tanya Sungmin curiga.
.
Kyuhyun POV
.
"Kuliah? Hey, tuan! Apakah kau tidak salah memasuki kelas? Setahuku tidak ada mahasiswa sepertimu di kelas ini, atau kau memang baru di sini?" tanya gadis ini curiga. Aiissh! Dia benar-benar...
"Hey, Nona... kalau kau tidak percaya, kau boleh bertanya pada salah satu profesor yang mengajar di kelas ini apakah ada yang bernama Cho Kyuhyun atau tidak," ujarku kesal. Akupun langsung meraih headphone yang ada di tangannya dan berlalu dari sini. Kulihat ia hanya terdiam sambil menatapku bingung. Tapi, bukankah aku sudah mengatkan padanya kemarin jika aku akan kuliah di sini? Hahh.. sepertinya dia memiliki ingatan yang buruk.
Aku berjalan santai di sepanjang koridor universitas. Tepat di ujung terdapat sebuah ruangan khusus tempat berlatih dance dan bernyanyi. Hmm... haruskah aku kesana?
**KM137**
Author POV
Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki ruang latihan dance dan bernyanyi. Ia melihat seorang lelaki yang tengah berlatih sebuah gerakan dance di sana. Gerakannya sangat hebat. Sesuai dengan ritme lagu. Sesaat ia tersadar, dia adalah orang yang selama ini dicarinya.
Lama Kyuhyun menunggu hingga lelaki ini menyelesaikan gerakannya. Ia mulai bosan dan berpikir untuk meninggalkan ruangan ini.
"Tak sabar menunggu, Tuan Cho?" Langkah Kyuhyun terhenti saat mendengar seseorang yang bertanya padanya. Ia pun berbalik dan melihat namja yang tengah menghentikan lagu yang mengiringi gerakan dance-nya tadi.
"Menurutmu?" tanya Kyuhyun sebal.
"Oh ayolah... bukankah kita jarang bertegur sapa sejak kejadian itu?"
"Hey, Kim Jungmo! Siapa yang menyuruhmu mengungkit sesuatu yang memalukan itu, huh?" Lelaki yang bernama Jungmo itu terkekeh pelan. Mereka berdua pun memilih duduk daripada berbicara sambil berdiri. Bukankah itu membuang tenaga? Padahal di ruangan latihan ini begitu luas untuk dijadikan sebagai tempat duduk.
"Oh ayolah... Bukankah aku sudah menjelaskan padamu yang sebenarnya terjadi, huh?"
"Entahlah. Tapi aku masih tidak percaya padamu. Kau bahkan sepertinya menikmati sekai waktu itu."
"Eh? Bodoh! Bahkan aku merasa ingin mati saja waktu itu tahu!" Jungmo mendengus melihat Kyuhyun yang merespon dengan hanya mengedikkan bahunya. "Ngomong-ngomong, kau yakin tidak ingin mengikuti audisi itu?" tanya lelaki itu setelah ia meneguk separuh isi botol minumnya.
"Aku tidak tertarik dengan kisah kolosal," jawab Kyuhyun malas.
"Bukankah itu kesempatanmu untuk membalasnya? Kudengar mereka mencari tiga orang peran utama pria dan dua pemeran utama wanita."
"Perlukah aku mengatakannya sekali lagi? Aku. Tidak. Tertarik."
"Kau sangat keras kepala, Cho Kyuhyun. Ckck!" Jungmo hanya bisa berdecak saat mengetahui betapa keras kepalanya lelaki yang ada di sampingnya ini. "Mungkin kau harus bertemu dan berbicara dengan seseorang terlebih dulu."
Kyuhyun hanya memberi respon dengan mengangkat satu alisnya. Tapi memang itulah Kyuhyun, tidak tertarik, cuek, lalu pergi begitu saja.
**KM137**
Seorang lelaki dengan tampilan yang cukup trendy baru keluar dari dalam mobil pribadinya. Ia berjalan dengan seulas senyumyang menghias di bibirnya. Lelaki itu melangkah menuju ruang profesor yang terlihat sepi itu. Wajar saja, sejak dibukanya ruang profesor yang baru dan lebih luas, para profesor dari berbagai jurusan lebih suka berada di sini. Yeah, sistem pembagian ruang profesor itu mungkin akan segera dihapus.
"Direktur Shin!" sapa seorang wanita yang baru keluar dari ruangan lain. Dia memang seorang profesor, namun jika dilihat dari usia, ia tentu masih sangat muda, sekitar 26 tahun.
"Ah, Profesor Oh! Lama tidak bertemu. Kelihatannya kau semakin cantik saja. Bagaimana kabarmu?" tanya Direktur Shin ramah.
"Hei! Jangan menggodaku! Aku baik-baik saja. Ayo kita keruanganmu. Kau pasti sangat merindukannya bukan?" Direktur Shin tersenyum dan menerima ajakan Profesor Oh. Mereka pun berjalan menuju lantai lima yang merupakan lantai tertinggi di universitas ini.
Direktur Shin, seorang lelaki berusia tiga puluh tahun yang telah lama berkarir di dalam dunia drama musikal. Dia bahkan pernah tampil di sebuah acara dengan level internasional di luar negeri. Dan saatnya ia kembali untuk mengajar mahasiswa yang memang berminat dalam aspek ini.
"Jadi, apa yang perlu aku lakukan untuk drama musikal kali ini?" tanya Direktur Shin pada lelaki paruh baya di depannya setelah mereka duduk dalam sebuah ruangan minimalis namun tampak mewah dan itulah ruangan Direktur Shin.
"Kau sama seperti dulu, tak banyak basa-basi," ucap Profesor Oh sambil terkekeh. "Baiklah. Ada beberapa mahasiswa di sini yang kurasa membutuhkan bimbinganmu."
"Bimbinganku?" tanya Direktur Shin dengan dahi mengernyit.
"Ya, dan ini sangat perlu."
Direktur Shin terdiam sejenak. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Setelah itu Direktur Shin menghela napas ringan. "Memangnya siapa saja yang butuh bimbinganku itu?"
"Baiklah. Pertama, Kim Jungmo, seorang lelaki yang cukup tampan dan manis. Dia memang sangat berbakat dalam hal-hal seperti ini bahkan dia bisa saja menyaingimu. Namun sayangnya dia kurang bersosialisasi. Lalu, Kim Jong Woon, entah kenapa orang-orang memanggilnya Yesung."
"Yesung, Art of Voice. Apakah dia memiliki suara yang sangat bagus?"
"Ya, kau sangat benar, namun kelebihan itu membuatnya angkuh. Ada juga Lee Sungmin. Seorang gadis yang berambisi untuk menjadi seorang aktris dalam sebuah drama kolosal, seperti dalam tema kita kali ini. Kurasa dia akan berlatih keras untuk ini. Namun kepercayaan diri dan bakatnya sama sekali tidak berjalan seimbang. Dengan kata lain, bakatnya sangat kurang. Tapi kita tidak bisa meremehkan kemampuan setiap orang, bukan? Selanjutnya... Ahh, Cho Kyuhyun. Tak banyak yang aku ketahui tentang dia. Dia terlalu misterius." Direktur Shin berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Apa ada lagi?"
"Ada... dan ini sangat susah. Mungkin kau harus sedikit berkeringat ketika menghadapinya. Aku sendiri juga kaget ketika melihat namanya yang tertulis dalam daftar audisi untuk drama musikal kali ini."
Direktur Shin terlihat berpikir. Ia jadi penasaran dengan lelaki ini. "Siapa?" tanyanya.
"Dia..."
**KM137**
Jungmo menatap lelaki di depannya dengan mata yang memicing seolah-olah tengah berhadapan dengan tersangka yang tengah ia interogasi. Lelaki itu tersenyum ketika melihatnya dengan raut wajah seperti itu.
"Kau siapa?" tanya Jungmo penuh selidik.
"Kau tidak mengenalku? Ternyata benar apa yang dikatakan Profesor Oh tentang dirimu yang tidak pernah bersosialisasi," gumam lelaki yang ternyata Direktur Shin itu. Asal kalian tahu saja, direktur yang satu ini juga dapat dikategorikan sebagai lelaki diusia 30-an yang narsis.
"Tsk! Tidak sopan," decak Jungmo.
"Apa?" tanya Direktur Shin heran.
"Membicarakan orang lain saat ia tidak ada, bukankah itu tidak sopan?" Direktur Shin kembali tersenyum.
"Dari pada melihatmu terus tersenyum seperti itu, lebih baik aku pergi." Jungmo meraih tasnya dan barjalan menjauhi bangku Cafeteria yang ia duduki tadi. Sementara Direktur Shin menatap punggung lelaki itu dengan pandangan yang sulit si artikan.
"Aissh.. apa-apaan dia? Aku tidak pernah bersosialisasi? Yang benar saja," kesal lelaki tampan itu. "Tsk! Kurasa pilihan untuk mengikuti audisi itu benar-benar merepotkan. Tapi..."
.
Flashback
.
"Apa bisa aku bekerja part-time di sini?" tanya Sungmin pada pemilik Cafeteria beberapa menit setelah tempat itu tutup.
"Tentu saja bisa. Kebetulan, Lee Hyuk Jae, yeah... teman-temannya memanggil dengan sebutan Eunhyuk, telah mengundurkan diri beberapa waktu lalu. Akibatnya aku harus kehilangan suara emas yang dimiliki gadis bergusi cantik itu," ujar sang pemilik Cafeteria yang tampaknya sangat senang jika ada yang mau bekerja part-time di tempatnya.
"Benarkah? Ah, Kamsahamnida, Ahjumma!" ucap Sungmin girang karena tahu jika dirinya telah diterima. Sementara Ahjumma itu hanya tersenyum ketika melihat tingkah Sungmin yang childish, menurutnya.
"Dan kau bisa mulai bekerja besok," ujar Ahjumma itu sebelum berlalu dari hadapan Sungmin.
"Gomawo, Ahjumma!" teriak Sungmin sambil tersenyum girang.
"Hey!" Sungmin mengernyitkan dahinya saat mendengar seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki yang tampak cool berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
"Kau terlihat sangat senang sekali bekerja di sini," ujar lelaki itu dingin.
"Kau siapa?" tanya Sungmin heran.
"Aku? Ahh... Aku Kim Jungmo. Aku juga salah satu orang yang bekerja part-time di sini."
"Omo! Kau Kim Jungmo yang selalu menjadi perbincangan anak-anak itu kan?"
"Begitulah. Entah kenapa mereka bisa menganggapku seperti itu. Tertutup, pendiam, membosankan, tidak pernah bersosialisasi, namun memiliki segudang talenta." Jungmo berjalan mendekati Sungmin dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya.
"Dan jawabannya adalah... karena mereka belum mengenalku.
Sungmin hanya bisa melongo. Ia memang tahu kalau mahasiswa lain lain sering memperbincangkannya, namun gadis itu tidak tahu apa yang diperbincangkan.
Jungmo menepuk pelan bahu Sungmin. "Bekerjalah dengan baik, annyeong!"
.
Flashback END
.
"Ck! Apa karena wajah manisnya atau aku yang sadar, ya? Sampai-sampai saat ia mengatakan keinginannya untuk menjadi seorang aktris, aku agak sedikit tersentuh. Padahal bakatnya bisa dikatakan jauh dari kata baik." Jungmo tersenyum kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Sungmin tempo hari.
"Entahlah..." Jungmo pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.
**KM137**
Satu minggu kemudian,...
"Minhwa, kau bagaikan mentari yang me-..."
"Cut! Aktingmu jelek! Kau sama sekali tidak berekspresi. Ulangi!"
"Jung Gil Sang, sang Putra Mahkota. Berbanggalah kau dengan statusmu itu. Berbanggalah kau karena telah menodai gadis sepertiku. Berbang-..."
"Berhenti! Kau tidak bisa berakting. Jika aku yang menjadi kameramen, maka yang akan aku rekam adalah kakimu. Ulangi!"
"Joonshik! Jangan pernah temui aku lagi! Aku muak pada pangeran bejat sepertimu! Kau-..."
"Cut! Kau seharusnya menunjukkan ekspresi marahmu? Bukan hanya melebarkan kedua matamu. Kau kira sedang beradegan di drama horor, huh? Ulangi!"
"Oh pangeranku, tidak ada yang lebih baik darimu. Di antara jutaan bintang yang bersinar, hanya kaulah yang memiliki sinar paling terang. Kau selalu..."
"Stop!"
Sungmin yang tadinya sibuk untuk memperagakan salah satu adegan percintaan dari drama kolosal favoritnya, sekarang harus terpaksa diam karena sebuah teriakan dari mulut lelaki tak sopan itu, Kyuhyun. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya gadis imut itu harus mendengus kesal.
"Apa lagi, huh? Ini sudah ke lima belas kalinya dan sekarang apalagi?" tanya Sungmin kesal.
"Aktingmu terlalu berlebihan. Cobalah untuk sedikit lebih natural," ucap Kyuhyun memberikan komentar yang sama sekali tidak halus. Sementara Sungmin hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Menyebalkan!" umpatnya pelan namun dalam hati ingin sekali ia mengatakan itu sekeras mungkin. "Okay, aku akan mencoba adegan yang lain," ujar Sungmin yang lalu menghembuskan nafas beratnya. Matanya terpejam, pikirannya mencari-cari adegan dalam film atau drama kolosal yang pernah ia tonton. Mungkin ada salah satu yang dapat ia perankan.
Tak lama kemudian, sebuah adegan yang mampu membuatnya terenyuh, sepintas lewat dalam pikirannya. Itu adalah adegan yang paling ia favoritkan. Tentang kisah percintaan seorang Gisaeng dengan Putra Mahkota yang terlarang. Ia menangkan perasaannya dan mencoba untuk melakukan penghayatan yang tepat sehingga memunculkan feel yang dapat menyentuh hati penonton dan bahkan dirinya sendiri.
"Pangeran Hwang Kyung Hoon, mungkin ini sudah saatnya. Aku sudah tidak bisa lagi bersamamu. Kau adalah seorang pangeran. Dan aku? Aku hanyalah seseorang yang berada jauh di bawah kakimu, seorang gisaeng yang tak pantas untuk mendapatkan cinta tulus darimu. Aku terlalu hina, bahkan lebih hina dari seonggok kotoran. Demi kebaikanmu, berhentilah untuk mencintaiku, tolong..." ujar Sungmin lirih. Bahkan sangat lirih.
"Aku memang telah ditakdirkan untuk tidak pernah bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Bahkan dari keluargaku sendiri. Aku dianiaya dan tubuhku dijual bagaikan benda yang tak memiliki arti. Aku diinjak-injak oleh mereka, para putri bangsawan. Ya, aku memang seorang wanita rendahan yang sungguh tak pantas bersanding denganmu, pangeran."
Ia tertunduk seakan-akan gadis itu benar-benar mengalami kesedihan gisaeng tadi. Bahkan Kyuhyun hanya bisa terdiam seribu kata dibuatnya. Entah mendapat dorongan dari mana, sampai-sampai lelaki itu berani melanjutkan dialog tersebut. Intonasi yang pas, logat jaman dulu yang tepat, serta perasaan yang Sungmin keluarkan bukanlah hal yang main-main.
"Hwaejin, berhentilah menyuruhku untuk berhenti mencintaimu. Berhentilah untuk merendahkan dirimu sendiri. Aku tahu bagaimana dirimu. Hati dan perasaanmu melebihi seorang Putri Mahkota. Kau tahu? Bahkan sekalipun aku harus mati, aku tidak bisa menurutinya. Sekarang, aku sebagai seorang pangeran, aku ingin meminta sesuatu darimu..." Sungmin mendongak. Ia sedikit terkejut saat tahu Kyuhyun dengan tiba-tiba melanjutkan dialog tersebut. Namun ia tahu bagaimana harus bertindak selanjutnya.
"Apa? Katakanlah, pangeran..."
"Jadikan aku orang yang hina juga jika memang hanya cara yang itu bisa membuatmu menerima cinta kita ini. Aku rela, Hwaejin. Aku mencintaimu... Aku benar-benar mencintaimu, sayangku, permataku, permaisuriku, Jang Hwae Jin." Sungmin terdiam. Dialog itu... dialog itu sama persis dengan adegan Hwaejin dan Kyunghoon saat mereka akan berpisah. Dalam adegan itu... Oh tidak...
"Pangeran..." Sungmin tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Ia terkejut saat mereka berdua benar-benar melakukan adegan itu. Adegan berciuman... Entah kenapa Sungmin semakin terhanyut dalam setiap lumatan lembut yang dilakukan lelaki ini terhadap bibirnya.
"OMO!" Kedua orang yang tengah tenggelam dalam dunia merekapun, dengan terpaksa harus menghentikan semuanya saat sebuah suara yang menginterupsi kegiatan mereka. Sungmin dan Kyuhyun membulatkan mata dengan sempurna saat mengetahui siapa pemilik suara yang keras itu.
"Eomma... Appa!?"/"Ahjussi... Ahjumma!?"
Keduanya terlihat salah tingkah sekarang. "I.. itu.. Anda jangan salah paham, Ahjumma, Ahjussi... ka.. kami hanya latihan untuk audisi minggu depan," ujar Kyuhyun dengan nada gugup yang terlihat sangat jelas. Sementara kedua orang paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Padahal kami hanya pergi dua jam, sudah ada adegan seperti ini. Bagaimana jika nanti kami pergi selama satu hari?" ujar ayah Sungmin dengan maksud menggoda.
"Aissh, Appa! Hentikan itu!" teriak Sungmin yang kesal karena digoda seperti itu.
"Sudahlah, Yeobo. Ayo, kita ke kamar. Biarkan saja mereka berdua," kata ibu Sungmin sambil menarik tangan suaminya ke lantai atas, kamar mereka. Sementara Sungmin dan Kyuhyun sendiri hanya bisa terdiam. Parahnya lagi mereka harus berhapadan dengan suasana hening. 'Huh.. menyebalkan!' umpat Sungmin dalam hati.
**KM137**
Direktur Shin melangkah memasuki sebuah ruangan yang biasa di pakai untuk latihan menyanyi. Ia melihat seorang lelaki tampan yang tengah berdiri di sudut ruang sambil menyanyikan sebuah lagu ballad.
.
Niga animyeon andwae
Neo eobsi nan andwae
Nae ireohke haru handareul tto ilyoneul.
Na apado joha
Naemam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka
Neo hanaman sarang... hanikka... uuuuhhh... uuuuuhh
.
Bagus dan penuh pengkhayatan. Itulah komentar dalam hati yang di berikan oleh Direktur Shin saat lelaki itu telah selesai menyanyikan bait akhir dari lagunya. Lelaki yang menjadi objek pengamatan Direktur Shin itupun menoleh ke arah pintu setelah ia meneguk habis air yang ada di dalam botol minumnya.
"Anda siapa?" tanyanya dengan dahi yang mengernyit.
"Kau Yesung, bukan?" Lelaki yang ternyata Yesung itu mengangguk.
"Bagaimana menurutmu tentang kualitas suara yang kau miliki" tanya Direktur Shin lagi.
"Untuk apa bertanya lagi? Kau sudah mendengarnya, bukan? Seluruh warga universitas pun tahu bagaimana kualitas suara yang kumiliki dan tidak ada yang bisa menandinginya," ujar Yesung dengan bangga. Direktur Shin hanya tersenyum ketika mendengarnya.
"Kau tidak tahu? Ada seseorang di universitas ini ada yang bisa melebihi dirimu.* Kata Direktur Shin. Sontak Yesung memicingkan matanya.
"Kau bercanda? Hanya aku yang terbaik di sini."
"Kalau begitu, buktikan saat audisi nanti,* ujar Direktur Shin sambil berlalu dari sana, meninggalkan seorang lelaki yang hanya bisa terpaku menatap punggungnya.
"Apa maksudnya? Apa dia ingin menantangku?" gumam Yesung pelan. "Ck!"
**KM137**
Ryeowook terus menatap sahabatnya yang sedari tadi hanya duduk sambil menopang kedua kepalanya dengan tatapan kosong. Ia merasa kesal karena seperti dianggap patung olehnya. Aissh... menyebalkan! Rutuknya dalam hati.
"Hey! Lee Sungmin!" Sontak Sungmin tersadar dari dunia yang dibuatnya sendiri saat Ryeowook menyebut namanya terlalu keras.
"Oh, kenapa?" tanya Sungmin dengan tampang polosnya.
"Aissh.. sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kau tahu? Aku benci ketika kau acuhkan seperti itu," kesal Ryeowook.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud..." ucap Sungmin yang merasa menyesal. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh kejadian malam itu. Sial! Wajah lelaki itu tak bisa dihilangkan.
"Sudahlah... cepat ceritakan padaku!"
"Cerita apa?"
"Tidak biasanya kau diam seharian ini. Kenapa? Ada yang mengganggumu?" tanya Ryeowook dengan suara pelan. Takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.
"Tidak ada. Aku hanya merasa gugup saat mengingat audisi yang tinggal tiga hari ini," jawab Sungmin. Sejujurnya itu bukanlah sebuah kebohongan. Ia memang gugup karena tanggal audisi sudah semakin dekat. Namun yang membuatnya jadi pendiam akhir-akhir ini adalah fakta bahwa ciuman pertamanya telah dicuri oleh seseorang yang tak pernah diduganya. Aissh... bahkan pipinya terus bersemu merah ketika melihat seseorang itu. Oh ayolah... apa yang sebenarnya terjadi padanya, huh?
Beberapa saat kemudian, pandangan Sungmin menangkap seorang pria yang tersenyum ke arahnya. Ia terlihat seperti seorang profesor di sini. Tapi, kenapa tidak pernah terlihat. Sungmin mengernyitkan dahinya saat profesor itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Permisi, bisakah kita bicara empat mata?" katanya pada Sungmin yang sibuk memperhatikannya saat ini.
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu," pamit Ryeowook.
"Kau siapa?" tanya Sungmin saat mereka tengah berdua setelah Ryeowook memilih pergi.
"Hmm... apa kau mau menjadi aktris utama dalam drama musikal ini?"
"Eh? Tentu saja aku sangat mau. Menjadi pemeran utama adalah impianku," ujar Sungmin dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, kau bisa memanggilku Direktur Shin. Begini, kau jangan sedih dulu, ya. Tapi kenyataannya beberapa profesor di sini mengatakan jika bakat aktingmu tidak terlalu bagus. Apa kau bisa jamin dengan itu?" Sungmin menundukkan kepala ketika mendengar penuturan yang dilontarkan Direktur Shin itu.
"Aku tahu. Tapi, bisakah kau mengijinkanku berlatih sekali lagi?" ucap Sungmin lirih. Ia sungguh ingin menggapai impiannya, yaitu menjadi seorang aktris. Meski dengan kemampuan yang pas-pasan. Namun Sungmin bisa berlatih dengan keras, kan?
"Kau...-" Perkataan Direktur Shin harus terhenti karena seenaknya dipotong oleh seseorang.
"Meskipun bakatnya tidak bagus, tapi tidak dapat dibantah jika ia mampu menciptakan suasana dalam berakting," ujar seorang lelaki yang langsung duduk di bangku taman universitas iti, tepatnya di samping Sungmin.
"Kyuhyun..." lirih Sungmin.
"Maksudmu?" tanya Direktur Shin bingung.
"Ketika kau beradu peran dengannya, maka seakan-akan kau bukan sedang bermain drama, namun kau benar-benar tengah mengalami itu semua," jelas Kyuhyun dengan menatap seirus mata Direktur Shin.
"Benarkah? Apa kau pernah beradu peran dengannya?"
"Hanya latihan untuk audisi." Direktur Shin tersenyum penuh arti. Ia menatap kedua orang di hadapannya itu, seolah-olah tengah mendapat sebuah jawaban yang...
"Sempurna..." ujarnya dalam hati.
.
.
.
To Be Continue
Annyeoonggg!
Chapter 2 update, Reader-deulll!
Yeah... Sebelum bales review kalian, makasih karena udah meninggalkan jejak membaca dengan mengisi kotak review, like, dan follow cerita ini ^^ #titikduatutupkurung
Yoshh!
Park RinHyun-Uchiha: awalnya sih gitu... Tapi terlalu dramatis dan pasaran, jadi aku buat beda. Tunggu chapter selanjutnya yah!
FitriYani137: yeyyy! Mumpung masih belum ada yang buat remake-nya, jadi dibuatlah cerita ini :D... Ditunggu kehadirannya di next chapter yak!
Orange girls: Iyaa... Persaingan mereka bakal ketat nantinya. Jangan khawatir, Jungmo bukan orang ke-3 kok. Hehe... Aku tunggu kehadirannya di next chapter, okay!
ratihsusi31: sebenarnya ini bukan ff baru sih, tapi ff yang di re-upload di ffn. Tapi, Yeah... Anggap saja ini baru karena ada beberapa bagian yang aku ubah. Untuk ff Journey for a Remembrance itu masih dalam proses (jawaban pasaran, sebenernya lagi gak ada ide sih xD). Ditunggu aja yah! Ditunggu next chap yah!
chjiechjie: ini udah publish ch 2 :D... Ditunggu next chapter yak!
ovallea: Sekali-kali bikin Yesung jadi antagonis. Kkkk~ #plakk. Ditunggu kehadirannya di necpxt chapter yak!
Dan untuk semuanya, reader-deul! Jika berkenan, silahkan berikan jejak membaca kalian di kotak review! Kritik, saran, atau apapun aku terima dengan senang hati...
Kamsahamnida! See you next chapter! #bow
