Dairy 14 by NUEZCHAN

Disclaimer kamichama karin (chu) koge donbo

Warning ooc, typo, gaje, tidak menggunakan EYD, alur kecepatan juga aburadul, bahasa rada-rada ngelantur, ide pasaran, hancur, dll.

Don't like, don't read.

Happy reading!

T_T


Normal pov:

'TENG TENG TENG TENG'

Bell sakura gaoka high school berbunyi pertanda bahwa saatnya untuk pulang, semua muridpun berhamburan keluar sekolah. Ada yang langsung pulang ada juga yang sengaja mampir ketempat lain bersama teman atau kekasihnya. Namun sebagian murid juga masih ada juga yang betah untuk tinggal disana seperti melaksanakan kegiatan ekskul, pelajaran tambahan dan masih banyak alasan untuk masih menetap disana. Seperti halnya disalah satu ruangan kelas tepatnya dikelas XII-A masih ada seorang pemuda berumur sekitar 17 tahun-an beririskan seperti batu shappire yang seindah langit membentang luas dan surai blondenya yang agak kepanjangan namun terlihat keren, kazune atau lebih tepatnya kujiyou kazune pemuda jenius sekaligus dingin dan irit kata.

Pemuda yang mendapatkan peringkat pertama juga dijuluki pangeran es di sekolahnya ini masih betah dan setia duduk dikursinya tanpa bergerak sedikitpun dari sana, tatapannya kosong memandang gumpalan kapas putih melanyang dilangit yang membentang luas ditemani oleh sebuah buku dairy. tidak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkan sang pangeran sekolah saat ini, setiap hari sifat dinginnya makin parah dan semakin cuek dengan keadaan sekitarnya serta sering bolos pelajaran.

(Zii: ckckck, jangan ditiru ya.

Kazune: Oi! Jangan buat image orang terlihat buruk donk.

Zii: bweek! Terserah zii-chan dong, lagian bukannya image kazu-chin udah buruk dari sono nya ya!?

Kazune: enak saja!

Zii: ah! Iya, zii-chan ingat. waktu kecil kazu-chin itu cengengkan.

Kazune: cigau! Sia–

'JEDUAK, JEDUAK'

Kazusa: jangan berdebat! author cepat lanjutin ceritanya.

Zii: ha-ha'i. T_T)

Kazune masih duduk di kursinya sedari tadi tanpa bergerak sedikitpun teman-temannya sebenarnya ingin menegurnya karena khawatir dengan keadaannya yang seperti itu terus namun apa daya mereka tidak bisa. Jangankan menegur mendekatinya saja kau akan merinding hanya karena melihat deahtlarge dari manik shappire prince ice ini dengan latar belakang yang selaku adik juga kembarannya juga sudah angkat tangan dengan sikap sang kakak.

Dia tahu kazune seperti ini bukan tanpa alasan, dia tahu kakaknya masih tidak bisa menerima kepergian karin juga kenyataan bahwa karin adalah kakak mereka dan itu juga membuatnya merasa sakit yang dirasakan kazune. Kazune yang masih terduduk disana menatap dairy yang sedari tadi tergeletak mengenaskan diatas mejanya dengan datar tanpa eksperesi sedikitpun.

'Happy anive kazune-kun'

Sebuah suara yang sangat ia kenal telintas di indara pendengarannya. Seulas senyumpun dia tunjukkan pada dairy itu, miris memang mengingat orang yang kau sukai sudah tiada disisimu lagi dan lebih parahnya dia adalah saudara kandungmu sendiri.

"Bagaimana mungkin aku akan bahagia dan melupakanmu jika kau terus datang menghantuiku seperti ini" serunya lirih dengan volume suara yang rendah ia tersenyum miris melihat keadaannya yang sekarang tak berdaya dan setetes butiran bening itu jatuh dari iris shappirenya yang meredup tanpa terus meratapi nasibnya sampai.

"KUJYOU-KUN—"

Seru seseorang yang pasti para readers sudah pada tahu siapa itu. yap! Siapa lagi kalau bukan nishikiroi michiru cowok dengan surai caramel dan iris yang berbeda warna itu dengan semangatnya menghancurkan moment dan menyoraki namanya dengan semangat empat lima tanpa bisa membaca suasana itu.

kazune yang terkejutpun segera menghapus air matanya dan men-deahtlarge michi yang berjalan kearahnya dengan senyum yang mengembang indah di bibirnya, kalau bisa dibilang memang hanya michi satu-satunya manusia selain ayah kazune yang tidak terpengaruh dengan deahtlarge kazune.

"Kujyou, ayo kita pulang bersama" seru michi dengan senyumnya.

"Mati saja kau nishikiroi" ucap kazune dingin sedingin-dinginnya setelah itu langsung meninggalkan michi dikelas.

Mau tau respon michi seperti apa atas perkataan kasar kazune tadi, mari kita lihat michi yang ada dikelas masih berdiri menatap kursi kazune yang sudah kosong tanpa pemiliknya yang tadinya duduk dengan manis disana dengan masih mempertahankan senyumnya namun terlihat sedih dan melirik kekursi sebelah kursi kazune.

"Kalau kujyou tetap seperti ini hanazono-san tidak akan bisa tenang disana" serunya entah bicara dengan siapa."Hanazono-san, kau pasti sedih melihatnya yang sekarangkan?" lanjutnya bertanya pada kursi kosong di sebelah kursi kazune yang dulunya diisi oleh kursi orang yang sangat kazune sukai yaitu gadis periang dengan surai burnette dan iris emerlad indahnya gadis yang mampu meluluhkan hati es sang pangeran sekolah dengan mudahnya, dia hanazono karin seseorang yang telah pergi dari mereka para mengatakan itu michi-pun meninggalkan kelas tersebut namun tanpa ia sadari kursi kosong yang baru saja ia ajak bicara tadi terdapat sosok gadis transparan sedang tersenyum lembut disana.

'Aku akan menjemputnya..., michi-kun'

Tiba-tiba michi menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kelas saat dia mendengar suara gadis menyapa indra pendengarannya, matanya tebelalak mendengar suara yang sangat ia kenali itu suara hanazono karin.

Segera ia memutar tubuhnya kembali kedalam kelas saat mendengar suara sahabat baiknya itu, namun tak ada apapun atau seorang pun disana gadis tadi juga sudah menghilang entah kemana, michi terdiam di ambang pintu mencerna perkataan dari suara misterius tersebut dan saat tersadar dengan perkataan yang dimaksud "ja-jangan-jangan" katanya menggantungkan kalimatnya dengan wajah pucat kemudian melihat kearah lorong sekolah yang terlihat sepi namun sekilas ia melihat sebuah siulet gadis yang sangat ia kenal sedang berjalan di belakang kazune dan berbelok di persimpangan tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua dan michi terkejut saat gadis itu tersenyum sekilas padanya lalu menghilang.

"Hanazono...–san"

Kazune keluar kelas dengan wajah yang benar-benar menyeramkan antara kesal dan marah dia berjalan cepat menuju gerbang sekolah namun lagi-lagi michi memanggilnya dan mengatakan bahwa michi juga akan berkunjung kerumah kazune dengan alasan bahwa orangtua kazune mengundangnya kerumah.

Merekapun berjalan beriringan dengan ocehan-ocehan michi yang tidak pernah tinggal dia terus mengoceh tentang guru biologi mereka yang memberikan mereka seabrek tugas lapangan yang menggunung membuat para siswa/siswi pusing tujuh keliling sang, pendengar —kazune malah tidak mengacuhkannya dan terus berjalan di samping michi yang sedang mengoceh panjang lebar seperti ibu-ibu yang tengah ngerumpi. Mereka terus berjalan pulang sampai saat tiba-tiba michi mengganti topik bicaranya dengan wajah serius, sepertinya dia masih kepikiran tentang kejadian disekolah tadi.

"Kujyou-kun" panggilnya namun tak ada respon, michi menunggu kazune memberi respon beberapa detik tapi tetap tidak ada jawaban.

"Apa kau masih memikirkannya dan tidak bisa melupakannya" kazune tetap diam seperti orang tuli, tapi michi tahu kazune mendengarkan semua apa yang dia katakan dari tadi dia tahu sekarang kazune juga tahu kemana arah bicaranya.

"Kujyou-kun, kalau kau terus seperti ini dia akan merasa sedih dan tidak tenang disana" ucapnya lagi.

"Apa maksudmu bicara seperti itu?!" ujar kazune dingin.

"Jangan pura-pura tidak tahu kujyou-kun. kau pasti tahu siapa yang kubicarakan saat ini" ucap michi lagi.

"Apa hubungannya dia dengan sikapku sekarang" ujar kazune lagi dengan dingin.

"Tentu saja ada! Apa kau tahu dia selalu melihatmu dari dunia sana yang semakin hari semakin buruk kau tahu itu!" ujar michi sedikit membentak kazune, seakan sudah kebal kazune malah menatapnya datar dan terkesan tanpa ekspresi.

"Apa urusanmu? Sebaiknya jangan campuri urusanku, urus saja dirimu sendiri" ujarnya datar dan berlalu meninggalkan michi yang terdiam ditempatnya.

'Aku akan menjemputnya...'

Kalimat itu kembali terngiang di kepala michi saat melihat kazune yang berjalan meninggalkannya "kau tahu" serunya lirih dan menggantungkan kalimatnya dan melihat kazune kembali berhenti dan menatapnya tajam.

"Kalau kau terus seperti ini hanazono-san akan menjemputmu...,"

"Dan aku..."

"Aku tidak mau kehilangan lagi" seru michi lirih dengan suara yang pelan.

Kazune yang lagi-lagi meninggalkan michi yang masih terdiam disana dia hanya bisa mendengus kesal karena michi kembali membahas hal yang sama setiap harinya dan berjalan menuju jalan raya tapi dia sedikit kepikiran dengan perkataan michi tadi. Apa maksudnya dengan karin menjemputnya bukankah itu tidak ada hubunganya dengan topik percakapan mereka tadi.

'Kazune-kun'

"Eh!?" serunya sedikit terkejut mendengar suara itu lagi seperti mengedarkan pandangan kesekitar mencari sosok yang sangat ia rindukan itu, dia terus mencarinya sampai pandangannya menangkap seorang gadis yang sangat ia kenal dan sangat ia rindukan tengah menyeberang jalan.

"Karin" serunya dan tanpa aba-aba tubuhnya bergerak tanpa ia sadari segera berlari menghampiri gadis yang bernama karin itu tanpa melihat traffic light masih hijau dan kazune tanpa pikir dua kali lagi menerobosnya hanya untuk bertemu dengan sang gadis pujaannya. Beberapa yang ada disana juga jadi panik karena aksi gila kazune mereka berteriak panik memanggil dan menyuruhnya kembali saat kazune menerobos jalan raya dengan seenak jidatnya saat kendaraan masih ramai berlalu lalang.

"Hei nak apa yang kau lakukan!"

"Cepat kembali kesini!"

"Cepat kembali itu sangat berbahaya!"

Kira-kira seperti itulah teriakan orang-orang yang ada disana beberapa kendaraan juga berhenti mendadak karena hampir saja menabraknya, namun seakan tuli kazune tidak menghiraukan semua itu dan terus mengejar sosok gadis itu dan saat ia hampir menggapainya tiba-tiba dia menghilang dan.

'TIIIIIIIINNnnn'

BRAK

BRUGHH

"Kyaaaaa..."

Di sebuah rumah sakit terdapat sebuah keluarga yang baru saja mendapat musibah terlihat seorang wanita paruh baya tengah menangis terseduh-seduh dipelukan suaminya yang tengah berusaha menenangkannya sedangkan dua anak perempuan bersurai blonde dan dark blue itu hanya diam terpaku melihat hal yang tidak pernah dipikirkan akan terjadi pada saudara mereka dan dua anak laki-laki lainnya hanya bisa terdiam lesu melihat kejadian yang menimpa sahabat dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah menyesal.

"Maaf tapi sudah terlambat, nyawanya sudah tak tertolong lagi" tutur sang dokter yang diketahui bernama karasuma kirihito tersebut dengan berat hati dan menyesal kemudian berlalu meninggalkan keluarga yang terkena musibah tersebut, tubuh orang yang ada disana dan mendengarnya melemas dan tangisan wanita parubaya yang diketahui adalah ibu dari pasien yang tak lain dan tak bukan adalah kujyou kazune itu pecah dan kedua gadis tadi (kazusa dan himeka) juga menangis mendengar berita duka tersebut bahkan jin yang kita tahu adalah rival kazune juga menagis mendengarnya sedangkan michi hanya terdiam ditempat.

"Sebenarnya aku sudah meduga ini" seru michi yang tidak pada waktunya.

Dengan senang hatinya michi kembali tidak bisa membaca suasana dan pendengar yang lain langsung menoleh padanya dengan tatapan bingung yang terlihat jelas diwajah masing-masing mereka.

"Apa maksudmu michi" ujar kazusa.

"Aa.. ba-bagaimana ya menjelaskannya?" seru michi bingung sekaligus canggung "se-sebenarnya hanazono karin-san sendirilah yang melakukan semua ini" lanjutnya sedikit langsung melotot terkejut mendengar penuturan michi tak terkecuali ibu dan ayah kazune yang notabenenya juga orang tua karin.

"A-ap-apa maksudmu michi-kun?!, bukankah karin sudah meninggal setahun yang lalu dan terlebih lagi bagaimana karin melakukan itu?! bagaimana mungkin dia melakukan itu pada kazune adiknya sendiri!?" ucap kujyou suzuka ibu kazune dengan suara bergetar terkejut menahan tangis dan sedikit berteriak diakhir perkataannya. Sedangkan kazuto suami dari suzuka tersebut hanya bisa memeluk menenangkan istrinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar perkataan michi mengeluarkan suaranya pun dia sudah tidak mampu lagi.

"Maafkan aku bibi, tapi karin sendiri yang mengatakannya padaku" ucapnya kemudian membuka tasnya dan mencari sesuatu disana "dia mengatakan bahwa dia akan menjemput kazune" lanjutnya masih sibuk mengaduk-aduk tasnya dan "ini" serunya lagi memberikan sebuah dairy berwarna ungu susu dan cover sepasang kekasih membelakangi yang melihatnya pada ibu kazune lalu permisi pergi tempat itu.

Sekarang sudah tiga hari setelah kepergian sang pangeran sekolah sakura gaoka senior high school semua masih tampak bersedih atas kepergiaannya, sampai-sampai mereka juga mengadakan upacara untuk mengenang sang pangeran kujiyou kazune.

Di salah satu ruangan yang terlihat minimalis dengan rak buku, meja dan kursi juga beberapa dokumen di atas sebuah meja dan papan nama kekuasan dengan nama terlihat jelas. Kujyou kazuto itulah yang tertulis disana pria parubaya itu sedang duduk dikursi kekuasaannya dengan sebuah dairy ditangannya dan tatapan senduh terpancar dengan jelas ia melihat foto anaknya yang baru saja pergi untuk selamanya tengah mencium pipi seorang gadis bersurai burnette yang tampak terkejut dan merona merah tengah memegang sepotong kue tar. Setelah itu membalik halaman berikutnya.

14 Desember 20XX

Hai! Karin.

Selamat anive.

Maaf hanya ini yang bisa aku ucapkan padamu tidak bagus dalam menyusun kata-kata sepertimu, aku juga tidak bisa berbuat sesuka yang ku mau sepertimu, aku selalu terkekang seperti burung didalam sangkar yang harus patuh dengan perkataan ayah dan harus jaga image didepan orang sekitarku.

Setiap saat aku harus menjaga sikap dan emosiku didepan mereka dan aku mulai lelah sekarang, dulu saat kau masih disampingku duniaku terasa lebih berwarna dan sangat terang namun sekarang setelah kau pergi semua kembali seperti dulu sebelum aku belum bertemu denganmu, suram tanpa warna dan aku mulai berpikir untuk apa aku punya hati? Ah, bukan lebih tepatnya untuk apa aku hidup? Kalau terus melakukan hal bodoh seperti boneka berjalan didepan orang lain. Untuk apa aku harus mematuhi perkataan mereka? Kalau yang dapat adalah suatu yang tidak berguna dan tidak membuatku bahagia juga perkataan tidak mengenakan tidak langsung dari mereka.

Aku hanya diam, diam menutup telinga rapat-rapat dan tidak memperdulikan mereka menganggap itu hanya lelucon sehari-hari, aku benci sikap mereka yang seolah-olah mengagumiku didepan mataku namun didalam busuk. Aku mungkin tertawa, aku juga menyesuaikan diri dengan mereka, orang kalangan atas yang ayah banggakan itu semua munafik dan bermuka dua namun aku tetap memasang wajah tidak tahu.

Apa mungkin lebih baik kalau aku mati saja ya? Ya! Mungkin lebih baik begitu. Untuk apa aku hidup kalau hanya melakukan hal-hal bodoh seperti ini, ini sangat menyakitkan, karin bawa aku bersamamu aku tidak ingin hidup di dunia ini, aku sakit aku tidak tahan lagi menahan ini. Semua sampah aku sangat benci dengan semuanya, benci karena telah memisahkan kita dan benci karena paling terakhir mengetahui kenyataan pahit ini. kenyataan bahwa kau adalah kakak ku dan aku memacarimu bahkan mengencanimu.

Adik macam apa aku ini. Dan selain itu bagiku aku sudah cukup diam, tapi bukan sabar. Saat kalian sok manis didepanku dalam hati aku mengumpat dan mengutuk hidupku yang menyedihkan ini.

Dan karin apa kau tahu dulu mungkin aku tidak akan bisa mengatakan ini tapi sekarang aku akan mengatakannya.

'Hontouni aishiteru desu karin. Ayo kita mati bersama!'

Kazune.

"Kazune.., karin maafkan ayah kalian yang payah ini karena tidak tahu bagaimana perasaan kalian selama ini".

.

.

.

.

Owari?


A/N: BONUS desu! Akh, akhirnya selesai juga maaf kalau berantakan zii-chan masih baru disini dan sebenarnya gak punya bakat dalam bidang seperti ini jadi mohon kritik, saran atau apa saja dari senpai dan readers sekalian. Sebenarnya sih Cuma iseng iseng buat cerita kayak gini tapi malah ketagihan, ya walaupun cuma cerita abal-abal sih. Oh, iya ini makin gaje ya? makin bingung? hehehe... tenang nanti zii-chan akan jelasin setelah cerita ini jadi.


OMAKE


Sebuah pemandangan yang indah disiang hari di sebuah padang rumput yang hijau dan indah dan langit membentang luas angin sepoi-sepoi menjadi pelengkap suasana nyaman dan tenang disana. Ditengah padang rumput tersebut terdapat seorang pemuda yang sedang tidur terlentang, perlahan-lahan matanya terbuka menampakkan iris shappire-nya yang indah itu dengan perlahan juga dia mendudukkan dirinya diatas rumput yang ditidurinya tadi.

"Dimana aku?" tanyanya lirih entah pada saat dia melihat kesekitar yang dia lihat hanyalah hijaunya rerumputan dan langit biru yang indah. Dia mulai berpikir dan kilas balik suatu kejadian membuat dia tersadar.

'TIIIINNnnn!'

BRAKK

BRUAGH

BRUK

"Ah, iya aku ditabrak bus dan tak sadarkan diri" serunya menjawab kebingungannya sendiri.

'Kenapa aku ada disini, apa aku sudah mati?' pikirnya lagi.

Dia terus berpikir mencari jawabannya sampai sebuah suara yang sangat ia kenal menyapa indra pendengarannya.

"Ka...zune-kun" seru suara itu memanggil! Pemuda tersebut adalah kazune, pemuda dengan surai blonde dan iris shappire itu tengah terdiam dan membatu ditempat mendengar suara itu.

Secara perlahan tapi pasti ia memutar tubuhnya untuk memastikan bahwa pendengarannya kali ini tidak salah dan itu bukanlah imajinasi belaka seperti biasanya, dan saat tubuhnya menghadap keasal suara dengan sempurna tubuhnya membeku seketika melihat seorang gadis yang juga membeku di tempat menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Dia, gadis itu adalah gadisnya, seseorang yang sangat dia rindukan, gadis yang mampu merubah hatinya yang beku dan selalu mewarnai hidupnya, dia adalah gadis yang sangat dicintai kazune, hanazono karin.

"Karin" serunya namun karin tidak merespon dan itu membuat kazune hanya bisa tertunduk, tubuhnya terasa hampa melihat tak ada respon apapun yang karin perlihatkan. Dia hanya diam disana dan menatapnya dengan datar, apakah karin marah padanya? Karena tidak bisa melakukan apa yang karin inginkan.

"Ma-maaf, kau pasti marah karena aku tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan" ucapnya masih tertunduk dan karin belum memberi respon apapun.

"Kau boleh marah padaku tapi aku tidak akan tenang kalau kau bersikap seperti ini, aku mohon maafkan aku. aku akan melakukan apapun tapi aku mohon jangan aba––"

Bruk

HUG

Mata kazune membulat sempurna saat merasakan karin menubruk dan memeluknya dengan erat, kazune kaget dan tidak menyangka karin akan melakukannya.

"Aitakatta" seru karin lirih "hantouni aitakatta kazune-kun" lanjutnya yang mempererat pelukannya pada kazune.

Mendengar itu akhirnya kazune membalas pelukan karin dengan erat seakan tidak mau melepaskan karin agar gadis itu tidak pergi kemana-mana lagi dan juga melepas semua beban dan keriduan mereka berdua. Di padang rumput yang luas dan indah itu ditemani oleh langit biru cerah yang indah dan semilir angin menemani mereka melepas kerinduaan mereka masing-masing yang sudah lama terpisah.

"Sekarang aku akan tenang jika berada disampingmu karin, dan kini aku bisa mengatakannya bahwa...

.

.

.

.

Perjalanan kita akan berlangsung abadi...

.

.

.

.

Selamanya..."

.

.

.

.

Owari beneran


A/N: hai minna-san! Zii-chan masih banyak kekurangan jadi mohon bantuannya dan silahkan tinggalkan kesan, pesan, kritik, saran, komentar dikotak review bahkan flame dan bash juga boleh.

Oh, iya! disini zii-chan akan sedikit memperjelas cerita zii-chan yang satu ini soalnya masih ada juga yang bingung. Ok, jadi begini...

Karin itu anak pertama dari pasangan kujyou kazuto dan kujyou suzuka yang hilang 3 bulan sebelum kekelahiran kazune dan kazusa (karin beda 1 tahun dari mereka). namun karena suatu permainan takdir kazune dan karin bertemu dan berujung pada mereka yang pacaran tanpa mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.

Dilain pihak karin yang terus mencari keberadaan orang tua kandungnya tanpa kenal lelah, sampai ia menyadari ada yang tidak beres pada tubuhnya yang ternyata terkena 2 penyakit kanker sekaligus yang menyerang tubuhnya dan disaat yang bersamaan pula kazune study diluar negri.

Karin pun sempat putus asa untuk mencari orang tuanya juga bersalah karena harus membohongi kazune, tapi sekali lagi sebuah permainan takdir mempermainkannya. Sebuah kenyataan pahit harus ia terima, kenyataan bahwa kazune adalah adiknya.

Karin sempat terguncang dan itu membuat tubuhnya down juga memperparah penyakitnya, tapi di saat-saat terakhirnya dia mulai menerima kenyataan dan menyampaikan isi hatinya kepada kazune saat dia meninggal melalui dairy yang pernah diberikan kazune kepadanya.

Yosh, mungkin penjelasan yang zii-chan berikan ini bisa mengurangi volume kebingungan para readers sekalian.

Sepecial thanks untuk semua readers yang sudah mau meluangkan waktunya untuk baca cerita zii-chan.

Dan untuk salah satu readers yang udah ngasih saran untuk zii-chan hontouni arigatou ide ceritanya lumayan bagus tapi kalo zii-chan masukin dalam fic ini ceritanya akan melenceng juga nanti harus nambah genre lagi, tapi mau bagaimana pun juga zii-chan hargai ideide dan sarannya.

Dan satu lgi, gomen kalo zii-chan ambil genre sedih soalnya waktu mau buat fic happy malah zii-chan lebih feel ke cerita yang sad gomen.

cukup sekian dan akhir kata...


REVIEW PLEASE?