Title : Home, Wind and Rain
Author : DeushiiKyungie
Rated : T (M)
Sehun Kai fanfiction
Cast belong them self
Genre : fantasy, drama, romance, lilt action
Warning : Yaoi, typo, occ and don't like don't read…. no plagiarism, please…
a/n: maaf baru bisa update sekarang u_u
Enjoy!
.
.
.
Minus tambah minus menghasilkan suatu kebaikkan. Apakah itu benar?
Jika tidak, apakah salah jika baik bersatu dengan buruk membuahkan kebahagiaan?
Tolong jawab aku.
.
.
.
-HunKai-
Aku terbangun. Dan melihat ke sekeliling ruangan, tempat ku berbaring sekarang. Kasur yang sangat empuk, kurasa. Ugh… sudah pagi ya?
Putih. Ruangan- ah, kamar ini begitu putih dan dingin. Aku merasakan selimut putih tebal menyelimuti tubuhku. Hangat… kain yang sangat lembut.
Sejenak, aku kembali teringat sesaat kesadaranku akan menghilang malam itu. Seorang laki-laki tinggi berjalan menghampiriku. Ia memakai pakaian yang… boleh aku asumsikan, pakaian zaman eropa dulu. Era Victoria? Heh, entahlah. Aku lupa pelajaran sejarah.
Hitam. Pakaian yang serba gelap. Melangkah kearah ku yang tengah meringkuk di tepian jembatan. Berdiri tepat di depanku, menatapku dalam dengan mata gelap tajamnya. Dan yang kurasa pertama kali saat tubuh tegap itu di depanku adalah- hembusan angin panas di sekitar tubuhnya yang yang terasa sangat asing.
Padahal malam begitu dingin.
Ia merendahkan tubuhnya dan berucap aku harus ikut dengannya dan tinggal bersamanya. Menjadi tempat tinggalku yang baru.
Aku sulit berpaling dari kedua nerta aku dapat merasakan sebelah tanganya terangkat dan jemari itu mengelus pipiku lembut. Aku hanya diam.
Dingin langsung menusuk kulit wajahku. Namun aku tak melakuakan pergerakan. Masih terpaku pada tatapannya. Dan usapan itu seakan menidurkanku. Sepasang mataku berat dan setelahnya aku tak tau apa yang terjadi.
.
.
.
Haaah… rasanya aneh. Aku membangunkan tubuhku, menyandarkan punggungku pada sandaran tempat tidur, memejamkan kedua mataku. Meresapi ketenangan pagi yang akhirnya dapat aku rasakan, lagi.
Tempat ini begitu asing bagiku. Khe, tentu saja. Ini bukanlah kamarku, bukan rumahku.
"Ini adalah rumah baru mu, Kai. Dan kau harus terbiasa untuk itu."
Deg!
Aku langsung saja membuka kedua mataku dan tepat dihadapanku, seorang laki-laki yang baru beberapa saat lalu aku pikirkan. Berdiri dengan santainya menyandar pada tiang penyangga tempat tidur. Menatapku… hangat?
Whuuss…
Kurasakan angin yang terasa hangat membelai tubuhku. Membuatku nyaman. Tapi… dari mana datangnya angin hangat itu? Tidak mungkin dari jen-
"Dari tubuhku. Dan kau hanya perlu merasakannya, Kai."
Ap-apa? Ke- kenapa dia bisa tau apa yang tengah aku pikirkan? Bagaimana? Si- siapa laki-laki ini?
Deg!
Ah, jantungku kembali berdetak tak beraturan saat wajah rupawan itu menampilkan senyum tipisnya. Aku terpesona. Ia… terlihat tampan.
"Aku memang tampan. Terima kasih."
Ok. Dia memang bisa membaca pikiranku. Tapi bagaimana bisa? Ini bukan dunia sihir kan? Dan lagi, aku melihatnya tersenyum. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya.
"Heumm, ternyata kau lucu juga. Aku jadi semakin menyukaimu, Kai."
Aku hanya terdiam. Dan dengan cepat menundukkan kepalaku saat ia menatapku dalam dan penuh arti. Ap- apa.. mungkinkah dengan dia melihat mataku, dia bisa membaca pikiranku? Mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?
Dia tidak berbicara lagi. Tidak ada pergerakan dari laki-laki yang hanya berjarak satu meter di depanku. Tapi aku masih dapat merasa, ia menatapku dalam. Suasana hening menyelimuti kami. Aku tak tahu. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku tidak mengenalnya. Siapa dia? Dan- dan kenapa dia memanggilku, Kai? Siapa Kai?
Lumayan lama kurasa keterdiaman ini. Aku ingin mengangkat wajahku, namun pergerakan darinya membuatku tersentak keras. Kembali jantungku berdetak cepat setelah beberapa saat diriku merasa tenang. Dia semakin mendekat dan mendudukkan tubuhnya tepat dihadapanku. Dan rasa hangat itu… semakin terasa hingga aku terbuai akan hawanya yang hangat dan nyaman.
Seolah menenangkan ku.
Aku tau dia masih menatapku. Tapi aku masih tetap menunduk, tak ingin melihat wajahnya. Mengepalkan kedua tanganku di balik selimut putih lembut ini. Dan saat itu juga, aku merasakan jemari yang dingin yang pernah ku rasakan malam itu, menyentuh daguku dan perlahan mengangkat wajahku lembut. Hingga dengan tepat dan jelas, aku dapat menangkap maniks gelap nya. menatap sepasang netra yang kembali seakan menghipnotisku.
Terbata, aku tak tau apa yang ingin aku ucapkan. Kenapa, kenapa tubuhku tiba-tiba lemas? Aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Seakan pasrah pada apa yang di lakukan laki-laki di hadapanku ini. Kedua netraku tak bisa berpaling dari iris gelapnya. Aku ingin mengalihkan pandanganku, kalau bisa menggerakkan kepalaku- agar, tidak lagi menatap mata gelap itu. Mata yang sangat gelap. Bahkan bayanganku pun, tak Nampak.
Tapi aku tak merasakan takut.
Kami saling menatap. Aku ingin mencari apa yang terlukis dimata gelap itu. Namun tak satupun yang kudapat. Gelap. Benar-benar gelap.
Jemari panjangnya menyusuri rahangku, merambat ke atas, mengelus lembut pipiku. Sungguh, aku tak bisa menggerakkan kepalaku! Kenapa?
"Jangan terlalu banyak berfikir, Kai. Jangan berpaling dari ku, sayang…"
Aku merasakan tubuhku sedikit bergetar saat suara dalam dan terkesan dingin itu terdengar oleh pendengaranku. Berbicara tenang, seakan semua akan baik-baik saja. Tapi aku tidak baik-baik saja!
Wajahnya semakin dekat. Dan hawa hangat itu berubah panas. Semakin dekat wajahnya pada wajahku, semakin panas hawa yang kurasakan. Kenapa?
"Kau ingin tau kenapa? Karena aku-"
"Vam- vampire?" aku tak tau dari mana datangnya pikiran itu. Aku berkata begitu saja. Vampire, ah entahlah. Bibirku berucap begitu saja. Dan ia kembali tersenyum. Bahkan tertawa? Ap –apa yang lucu?
"Khehehee… aahh, kenapa kau begitu lucu eoh? Kau juga polos dan masih begitu putih… kenapa kau bisa berkata kalau aku ini vampire?"
"Tidak tau. Kau begitu putih dan dingin."
"Kalau begitu, menurutmu aku ini vampire seperti apa?"
Sejenak aku terdiam. Kenapa aku terlihat biasa saja saat menjawab semua pertanyaannya? Kenapa aku seperti… ah, entahlah. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Aku merasa aneh.
"Kau… putih, dingin, tinggi dan… tampan. Tapi kau- kau tidak menakutkan?" tanpa sadar aku memiringkan kepalaku.
Ughh! Aku tidak tau apa yang aku katakan! Kenapa bibirku berucap demikian?
"Tampan, ya? Heumm tak semua vampire itu tampan, sayang. Dan juga, tak semua dari kaum 'itu' dingin dan putih. Mereka kebanyakan menyeramkan dan menakutkan. Tak punya hati dan perasaan. Namun, akan menjadi sangat peduli jika menyangkut sesuatu yang dapat menarik hati dan perhatian mereka."
"Seperti aku yang dapat menarik perhatian mu?"
Diam
Ia terdiam. Senyumnya menghilang saat aku begitu cepat membalas ucapannya. Aku juga tak mengerti kenapa aku bisa berkata seperti itu. Aku semakin yakin, ada yang aneh pada diriku.
Dan kulihat ia tersenyum lagi. Senyum tipis yang terlihat sangat lembut dan membuat wajahnya terlihat semakin tampan dan manusiawi.
"Ya. Kau dapat menarik perhatianku saat takdir memperlihatkan-nya padaku pertama kali. Kau yang begitu putih dan polos. Begitu bebas dan tak terikat. Membuatku langsung terjerat akan parasmu, Kai." "Dan aku bukanlah seperti yang apa kau ucapkan dan pikirkan."
Bukan seperti yang aku pikirkan? Lalu kau makhluk apa?
Aku tak mengerti. Aku tak mengerti apa yang ia katakan. Takdir? Takdir apa maksudnya? Dan satu kata yang membuatku penasaran, kenapa dia memanggilku Kai?
"Kenapa kau memanggilku, Kai?" akhirnya aku dapat menyuarakan satu kata yang membuatku penasaran. Nama ku Jongin, kenapa dia memanggilku begitu?
"Karena Jongin bukanlah nama mu lagi. Kau adalah Kai. Samudra-ku. Takdir dan mate-ku. Dan aku, Oh Sehun, menjadi takdirmu dan rumahmu. Untuk selamanya. Kita tak akan terpisah. Aku tau semua tentang dirimu dan kau, perlahan akan tau semuanya tentangku. Kita akan menjadi satu. Dalam pusaran angin yang hangat, kau milikku."
Kenapa… aku merasa dia tengah mengikrarkan sesuatu? Seperti ia tengah meng-klaim ku? Ucapannya membuatku tak berkutik. Tetap terlarut pada orbs gelapnya. Pikiranku seakan dipenuhi setiap ucapannya.
Milikku? Tidak. Aku milik diriku sendiri. Aku tak ingin terikat. Aku tak percaya takdir. Tapi, aku dengan jelas merasakan sesuatu yang membuatku harus menerima semua perkataannya. Dan dapat kurasakan kepalaku mengangguk begitu saja tanpa kusadari.
Meng-iyakan semua ucapannya. Balas tersenyum saat ia kembali tersenyum lebar. Aku tidak tau. Aku seperti tersihir oleh semua yang ia lakukan. Oh Sehun, sebenarnya kau siapa? Ah, tidak. Sebenarnya kau, apa?
"Berhentilah berpikir, Kai. Aku adalah rumahmu yang baru. Tempat mu berpulang. Kau tak akan sendirian lagi. Kita akan selalu bersama. Dan tak akan terpisahkan."
Setelah ia berucap, dapat ku rasakan wajahnya semakin mendekat. Bahkan tak satupun jarak yang membatasi wajahku dengan wajah rupawannya. Merasakan hidung mancungnya menyentuh lembut hidungku. Merasakan nafasnya yang teratur dan hangat. Tatapan lembut yang membuat ku terhanyut dan sama sekali tak bisa lepas darinya. Hawa yang kurasakan, kembali hangat. Sangat hangat, menyelimuti diriku dan dirinya.
Cup
Kurasakan kecupan lembut di bibirku. Amat lembut, menyapu belahan bibirku. Aku tak sanggup lagi, bahkan menolak ciuman yang baru pertama kali ku rasakan. Ciuman manis yang membuatku terlena. Perlahan aku menutup kedua mataku. Seakan meresapi 'rasa' yang asing bagiku.
Perasaan hangat dan menggelitik hatiku, membuatku melayang. Aku pasrah. Pikiranku menyerah… entah apa yang terjadi setelahnya. Yang aku rasa, pelukan lembut pada tubuhku dan bisikan manis di pendengaranku, hingga kesadaran kupun, lenyap.
Satu yang aku sadari.
Aku tak akan bisa lepas darinya.
.
.
.
-Home, Wind, and Rain-
.
.
.
Di ruangan redup itu, terlihat sosok laki-laki tinggi dengan kulit sedikit gelap, tengah memainkan tongkat nya. Dengan lihai, ia menghunus dan memutar-mutar tongkat itu. Seakan menari, gerakan yang ia buat membuat seseorang di seberangnya menatapnya sedikit kagum.
"Gerakanmu semakin luwes dan tepat. Tapi kau masih lemah, Taozi." Ucap seorang laki-laki dengan eyeliner tebal di kedua mata tajamnya, membuat tatapannya semakin tajam dan dingin.
Laki-laki yang ia panggil Taozi, menghentikan gerakkannya. Memegang erat tongkatnya dan menatap tajam laki-laki yang tersenyum miring padanya.
"Khe, Bee. Seharunya kau lihat dirimu sendiri. Tubuhmu bahkan lebih kecil dari ku," balasnya. Tersenyum sinis. "Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah kau sedang bersenang-senang dengan si burung hantu?" tanyanya. Berjalan mendekati laki-laki yang ia panggil Bee.
"Ckh, kenapa kau selalu memanggil orang dengan nama hewan, eoh? Nama ku Baekhyun, vampa* jelek. Dan si owl itu, dia sedang sibuk dengan 'bahan-bahan' masakkannya." Uacp Bee alias Baekhyun. Berekspresi jijik saat mengingat apa yang di lakukan si burung hantu yang di maksud. "Dan aku juga tidak mau ke tempat bau ini jika tidak di suruh Yang Mulia. Beliau ingin kau pergi ke tempat Pangeran dan membawanya ke Istana. Yang Mulia Ratu ingin bertemu dengan Pangeran." Jelas Baekhyun.
Taozi terdiam setelah mendengar alasan kenapa laki-laki bertubuh lebih mungil darinya itu mengatakan maksud kedatangannya. Pergi ke tempat 'Pangeran Es' itu? Dan membawanya ke Istana? Ckh.
"Membawa Pangeran ke kastil? Kau ingin aku cepat mati, eoh? Kenapa harus aku? Tidak mau. Cari yang lain saja. Ah, atau tidak, kau saja yang pergi."
"Jangan cerewet! Ratu yang menunjukmu langsung untuk menjemput Pangeran. Jadi itu tugasmu."
"Ckh, aku tidak percaya. Ratu tidak mungkin menyuruhku untuk pergi menjemput Pangeran. Kau tau sendiri bagaimana Pangeran saat melihat ku? Atau kau… takut pergi ke Crouth** dan bertemu dengan si 'Yoda'?"
Deg!
Whuuuss!
Traang!
Seketika sebuah pisau perak dilapisi cayaha terang langsung menghantam keras tongkat pemuda dengan lingkar mata seperti panda itu. Sedikit membuat tubuhnya tergeser ke belakang. Ah, untung saja refleksnya cepat. Kalau tidak, kepalanya yang akan lepas dari tubuh kekarnya ini.
"Cih! Segitu saja kau sudah emosi." Sindir Taozi yang hanya dibalas tatapan datar dan dingin dari Baekhyun.
Beberapa saat tak ada pergerakkan diantara mereka. Baekhyun sejenak menutup matanya, kemudian membukanya. Menampilkan orbs terang yang terlihat sangat cantik jika saja laki-laki itu sedang tidak dalam suasana hati yang buruk.
"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas, Ratu Xiu sendiri yang menunjukmu untuk pergi ke Courth dan membawa Pangeran ke hadapan Ratu. Dan, yah. Kau benar, aku juga ditunjuk pergi bersama mu. Tapi hanya sekedar 'mengawasi' tak lebih." Ucap Baekhyun tegas. Kemudian berbalik pergi tanpa mendengar jawaban pemuda tinggi disana. "Ku tunggu kau di gerbang Hyungji***." Ucapnya dan setelahnya laki-laki itupun menghilang ditelan cahaya.
Meninggalkan Taozi yang hanya bisa terdiam. Haaah… sepertinya aku memang harus pergi. Ckh, menyusahkan saja. Batinnya kesal. Semogaja dia masih bisa bernafas saat pulang nanti.
.
.
.
-Home, Wind and Rain-
.
.
.
Wanita yang di balut gaun berwarna krem itu, masih menyandarkan tubuhnya pada besi penyangga balkon luas disana. Menutup kedua matanya dan merasakan sinar matahari pagi yang langsung menerpa seluruh tubuhnya. Merasakan semilir angin yang berhembus lembut membelai wajah cantiknya.
Ketenangan yang ia rasakan tak berapa lama. Seorang pria tampan dengan sepasang netra bulat dengan iris ungu gelap, berjalan perlahan menghampirinya dan memeluk tubuh yang lebih mungil dari si pria. Menyusupkan wajahnya ke perpotongan leher si wanita.
Memeluk tubuh yang lumayan berisi itu lembut dan perlahan semakin erat. Nafas hangatnya mengelitik si wanita. "Kenapa meminta bocah itu pulang, heum?" gumamnya pelan.
Sesaat tak ada jawaban dari si wanita. Malah semakin menyamankan tubuhnya dalam pelukan si pria. Menimbulkan suara lirih dari bibir tipis lembutnya. "Urmmh… aku merindukannya. Dan aku ingin bertemu dengan 'sang takdir' Pangeran ku," balasnya.
Si pria lantas berdecak kesal mendengar jawaban si wanita. "Cih, takdir itu palsu. Hanya akulah yang akan menang di akhir, sayang… hanya akulah sang Raja yang memiliki segalanya."
"Tapi kau tak akan mungkin hidup selamanya. Kau akan mati dan semua yang kau perbuat akan kembali seperti semula,"
"Begitu kah? Hahahaa!" si pria tertawa keras. "Mati? Tidak sayang, aku tak akan mati. Karena diriku abadi. Abadi bersama darahmu yang manis, mengalir disetiap pembuluh darahku. Kita abadi, istriku sayang,"
Si wanita tak membalas ucapan agoran dan sombong dari pria yang menjadi suaminya itu. Membiarkan wajah itu semakin menekan leher putihnya. Semakin memeluknya erat dan iapun sesaat merinding merasakan bibir tipis si pria perlahan terbuka. Mengecup dalam kulit lehernya dan dapat dirasakannya gigi-gigi tajam nan dingin menekan kulitnya.
Si wanita hanya diam menerima semua perlakuan sang suami. Namun mata bulat dengan iris hijau zambrud terang itu, terlihat semakin gelap. Gelap karena rasa yang mendesak dan menekan hatinya, tak bisa ia utarakan. Rasa benci, marah, dendam, geram dan segala rasa buruk pada si pria yang terlihat nikmat menyantap lehernya. Sedikit melengguh karena gigi-gigi tajam itu menusuk kulit lehernya dan menyesap lapar darahnya.
Dengan penuh benci ia berucap. "Suatu hari nanti, kau akan merasakan sakit yang amat perih dan tak ada satupun yang bisa kau lakukan. Memohon dan meminta belas kasihan hingga kau lenyap dengan segala sifat jahatmu, suamiku…"
.
.
.
Tbc….
.
.
.
Haii!
Pertama, maaf baru bisa update. Mau di update kemaren tapi banyak halangan. Jadinya baru bisa sekarang.
Kedua, gak nyangka banyak respon untuk ff ini. Awalnya saya kira bakalan gak ada yang mau baca, beneran. tapi lihat respon readers nim saya jadi seneng! Terima kasihhh… ^^ dan maaf kalau mengecewakan u_u
Ketiga, mungkin untuk chapter 2 bakalan lama updatenya karena sampai bulan besok saya sibuk. Dan kemungkinan tak akan meng-update ff yang lain. Tapi untuk ff 'Just Like Now' hari kamis bisa saya update. Maaaff lama *bow. Tapi tetep di buat kok, walaupun nyicil.
Dan pasti pada taukan siapa si 'Pangeran'? Hunkai masih adem ayem ye?*smirk
Ada kata-kata asing yang saya pakai untuk ff ini, dan hampir semua alas- eh, asal-asalan otak saya… di caripun gk bakal dapat artinya. Dan ff ini juga terinspirasi dari Harry Potter. Maaf kalau banyak kata-kata asing yang saya buat tapi saya akan berusaha menjelaskannya kok.
Kosakata yang hanya ada dalam ff ini:
* Vampa : sejenis atau sama dengan vampire
** Crouth : Rumah atau mansion sehun di dunia manusia
***Gerbang Hyungji : gerbang pembatas dua dunia dalam ff ini
Aneh ya? Namanya juga fanfiction, ehehe ._.v
Maap tak bisa balas review satu-satu u_u but, thanks for read, review, fav and folw... ^^
Big Thanks to; Kamong Jjong/asmayae/novisaputri09/dhantiee/hurufve/geash/babyjunma/KaiNieris/Wiwitdyas1/Jongin48/cute/Guest/Jongin's /kimm /k1mut/jonginisa/jungdongah/kamong jae/AprilianyArdeta/Red Rose9488/BabyWolf JonginnieKim/Mizukami Sakura-chan/DwiKkamjong… gomawooo ^^
Review reader bikin saya semangat untuk melanjutkan cerita, so?
Okok. Sekian….
Silahkan reviewnya….
