Kata orang seharusnya gue nggak punya hati.
Hati untuk merasa bersalah.
Hati untuk memaafkan kesalahan orang.
Hati untuk mengaku kalo gue salah.
Hati untuk merasa iba.
Hati untuk tegaan sama orang lain.
Hati untuk membuat orang lain seneng.
Hati untuk mencintai seseorang.
Tapi dia ngubah semua kata orang itu.
Dia ngasih tau gue kalo gue juga punya hati.
Dia bikin gue sadar kalo gue bisa mencintai seseorang.
Sialnya seperti siapa gue sebenernya, cinta gue juga terlarang.
Gue harus milih keputusan yang terbaik buat gue dan dia.
Dan elo mau tau kenapa cinta gue terlarang?
Karena gue bisa mencintai dia dan membunuhnya dalam waktu bersamaan.
Disclaimer: Nama-nama pemain Penguins of Madagascar yang saya pakai adalah punya Nickelodeon. Saya hanya meminjam nama itu saja. Ide cerita, sebagian sifat tokoh, dan lain-lain seperti kata-kata yang ada di atas, itu murni milik saya sendiri dan terinspirasi dari banyak buku-buku dan film.
Info: Rated 'T', Out Of Character, Romance-Suspense-Friendship (?), humanized chara, Alternate Universe kebangetan, gaje, perubahan nama, karakter ga cocok, too much dialogue, typos, Read and Review please, and the last but not the least, DON'T LIKE DON'T READ!
First fic from Angela Blue for PoMI
Chapter 2
Pemilihan umum untuk memilih gubernur baru Ottawa, Kanada, berjalan dengan sangat lancar. Semuanya terlihat normal. Mort Moriarty yang tegas itu berhasil mengalahkan oposisinya, David Candace dengan persentase yang cukup tipis. Moriarty dengan 50,89% dan Candace dengan 49,11% bukanlah jarak yang terlalu jauh dan masih dapat dibilang normal.
Kini Mort – maksudnya, Gubernur Moriarty, sudah bekerja di kantor gubernur. Segalanya tampak baik-baik saja sampai akhirnya ada amplop kecil di atas mejanya. Di dekatnya ada sebuah kertas yang telah diketikkan sebuah surat pendek.
Untuk Mort tersayang,
Ah, maksud saya, Gubernur Moriarty yang saya hormati,
Saya harap surat kecil sederhana ini tidak mengganggu Anda. Saya ingin mengucapkan selamat atas kemenangan Anda dalam pemilihan umum kemarin.
Namun Anda perlu mengingat juga bagaimana cara Anda memenangkan pemilu itu. Saya memiliki bukti yang masih tersimpan rapat di tempat yang saya rahasiakan. Saya dapat memperkarakan Anda di pengadilan dan membuat lawan Anda memenangkan pemilusaat ini juga.
Saya sudah menyewa malaikat maut untuk Anda. Dialah yang menyampaikan surat peringatan ini kepada Anda. Sekarang semua tergantung pada Anda, mau mengakhiri hidup Anda sekarang atau menghabiskan waktu Anda dengan kekalahan pahit dan hukuman penjara seumur hidup Anda?
Selamat memutuskan,
Dari rakyat yang tidak menyukai Anda
Di sebelah kanan surat, ada secarik kertas kecil yang ditulis dengan tulisan tangan sang gubernur. Isinya pendek saja, namun berarti sangan dalam.
DEAD
Di atas amplop suratnya, ada benda kecil yang dapat membuat orang bersin-bersin, namun kali ini menjadi petunjuk penting.
Sebuah bulu angsa putih bersih yang hangus di ujungnya.
Dan di kursi gubernur, terbaring kaku sebuah mayat manusia. Kemejanya berlumuran darah di dekat jantung. Mukanya pucat pasi. Matanya terbelalak menyeramkan. Mulutnya menganga, seakan setlah membaca surat itu, dia terkena serangan jantung terlebih dahulu sebelum dilukai. Mayat itu sendiri baru ditemukan 20 menit kemudian setelah salah satu OB yang ingin mengantar kopi merasa pintu ruangan gubernur nggak dibuka juga. Padahal dia sampai berteriak memanggil sang pemimpin dan akhirnya mendobrak pintu dibantu teman-temannya.
Di bulu itu hanya ditemukan sidik jari sang mayat. Di jantungnya, bersarang sebuah peluru yang – menurut polisi – ditembakkan dari pistol yang menggunakan peredam suara. Di surat itu apalagi, semua sidik jari yang ditemukan hanya sidik jari pembuat kertas dan sang gubernur.
Yang berhasil ditemukan polisi hanya kenyataan bahwa Mort Moriarty sempat menyogok dan memaksa beberapa orang untuk memilih dia dan menyebarkannya ke orang lain. Beberapa, yang seharusnya memilih Candace.
Jadi sekarang gubernur Ottawa adalah wakil Moriarty, si cantik Alexa Smith. Wakil barunya tentunya Candace.
"Kalian telah membuat saya kecewa."
Suara Pak Parno yang perlahan itu mengguncang kelas 3IPA2. Ya iyalah, di setiap kelas yang diajar oleh guru buas itu, pasti hening kalau dia udah masuk, auranya juga nggak enak. Apalagi kalo kata-katanya udah kayak gini, pasti hasil ulangannya banyak yang diremedial. Dan Pak Parno itu terkenal dengan soal remedialnya yang diduga menggunakan soal olimpiade fisika nasional.
Intinya, soal remedial beberapa kali lipat lebih susah dari soal ulangan biasa. Ulangan biasa aja pada nggak lulus, apalagi remedial?
"Hampir seluruh murid di kelas ini tidak memenuhi NKM. Saya benar-benar kecewa dengan kalian."
A/N: NKM itu Nilai Kelulusan Minimal. Di PB, Persada Bangsa, NKMnya dari SD sampai SMA itu 70.
Eh, tunggu deh. dia bilang hampir? Nggak semuanya? Kalau gitu masih ada yang nggak remed dong? Gile, hebat banget!
"Setelah pelajaran ini saya akan membagikan hasil ulangannya. Tapi sekarang, kalian semua harus di remedial kecuali..." Pak Parno memeriksa daftar nilai, "Gabriel Nicholas. Ya, Gabriel, bisa maju ke depan untuk mengambil hasil ulanganmu?"
Skipper dengan muka datar maju ke depan untuk mengambil hasil ulangannya, lalu tersenyum sedikit. Yang lain melongo. Marlene, sebagai teman sebangku, memiliki kesempatan untuk mencuri lihat nilai ulangan yang mencengangkan itu.
Di situ, dengan tinta merah, ada angka 100.
Skipper hanya menjawab Marlene seakan dia bisa membaca pikiran cewek itu. "Kalo elo mau pelajarin soalnya, silahkan."
"Hah? Buat apa?"
"Latian. Elo mau remed kan?"
"Halah, remednya juga di sini kok. Palingan gue tinggal nyari contekan yang bener aja."
Mendadak Marlene baru nyadar. "Skippa, elo kan pinter fisika?"
"Lumayan, terus?"
Marlene menatap Skipper dalam. "Bantuin gue. Kita kerja kelompok nyelesain soal-soalnya ya."
"Eh? Kerja kelompok atau nyontek?"
"Kerja kelompok!"
"Alesan."
Marlene terus mendesak Skipper. Kalo sebelah elo pinter begini, kenapa nggak dimanfaatin aja?
"Please..."
Skipper akhirnya toh nyerah juga. Tapi pas soalnya udah dibagiin. Marlene yang udah putus asa stress siap masuk rumah sakit jiwa akhirnya mendengar suara lirih Skipper.
"Itu gampang."
Marlene cuma natap Skipper. Dalam waktu singkat cowok kulkas itu udah menyodorkan memo kecil yang sudah berisi cara lengkap mengerjakan soal. Setiap satu soal selesai dia kerjakan, langsung disodorkan pada Marlene. Untungnya, mereka duduk di barisan yang aman untuk urusan 'kerja kelompok' ini.
Bener aja, kali ini Marlene menjadi peraih nilai tertinggi untuk remedial.
"Besok-besok gue nggak bakal mau ngelakuin ini lagi," kata Skipper kesal.
"Tapi Skippa, emangnya gue nggak butuh nilai bagus apa buat fisika?"
"Lagian kalo elo lemah di fisika, kenapa masuk IPA?"
"Karena gue pengen jadi dokter tau! Kalo bukan karena itu, gue udah di IPS kali! makanya, bantuin gue ya tiap kali ada ulangan..."
Skipper mendengus. "Iya."
Marlene tersenyum lebar. Skipper menambahkan, "Tapi tetep aja elo harus belajar!"
"Hah? Belajar gimana?"
"Gue yang ngelesin elo."
"Eh? Nggak mau ah!"
"Ya udah kalo nggak mau. Silahkan. Gue nggak bakalan ngasih bantuan lagi buat elo."
"Eehhh... jangan!"
Setelah itu mereka terdiam. Baru Marlene memecah keheningan itu.
"Elo tuh pinternya nyaingin Kowalski ya?"
"Eh? Mungkin. Tapi dia lebih suka kimia, gue fisika."
"Hah? Dari mana elo tau dia suka kimia? Ulangan aja kita belom."
Skipper seperti tersentak. Tapi kayaknya dia emang tukang boong sejati, dia udah mikirin kata-kata yang tepat buat ngeles.
"Eh? Emang gue ngomong apaan?"
"Kok elo malah balik nanya?"
"Gue juga nggak tau apa yang gue bilang. Udahlah, elo bersyukur aja elo bisa menjalani remedial kali ini dengan baik."
Setelah itu hening lagi sampai istirahat.
A/N: RnR now! TBC ya!
