Heartbreaker
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Sweden x femFinland
AU, OOC, adult situations :) don't like don't read.
From my old fic, Eternal Flower.
.
.
.
Berwald pulang ke Stockholm dengan perasaan galau. Sudah cukup banyak kejadian menyebalkan di Helsinki karena perbuatannya. Dia masih ingat, Tiina menyuruhnya kembali ke Stockholm dan memakinya dengan sebutan orang yang tidak berperasaan. Suatu kebodohan bagi Berwald karena dia menurut saja.
Sudah cukup membuat Tiina merasa tersakiti, Berwald bisa melihat air mata yang menetes di wajah Tiina yang polos. Bahkan memahami perasaan gadis itu. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Berwald ketika berada di sana.
Sesampainya di Stockholm, Halldora langsung memarahi Berwald habis-habisan. Tentu saja Tiina menelpon Halldora untuk menceritakan semuanya yang terjadi selama Berwald berada di Helsinki. Berwald memberikan death glare pada adik kesayangannya tetapi tidak mempan sama sekali.
"Kakak pikir apa yang kakak lakukan!" bentak Halldora sambil membawakan barang-barang kakaknya. "Kakak menyakiti Tiina lagi kan?"
"Aku tidak seperti itu," kata Berwald lemah. "Aku hanya.."
"Hanya apa?" tanya Halldora ketus. "Mempermainkan gadis sepolos dia!"
"Sudahlah," Mathias menengahi kekasihnya. "Biar Beary yang mengurusi masalahnya sendiri."
Dalam hati Berwald berterima kasih pada Mathias. Selama di Stockholm dia akan merenungi perbuatannya pada Tiina dan berusaha memperbaiki semuanya yang ada. Jika dia mampu karena Tiina sudah terlampau sakit hati terhadapnya. Tidak mungkin tersisa rasa cinta yang dimiliki Tiina terhadapnya.
Biar saja jika Tiina mau bersama pria kekanakan itu. Aku tidak peduli.
Nyaris setiap hari Berwald memikirkan Tiina dan bahkan memimpikan gadis itu hingga tanpa sadar Berwald menjadi suka minum di malam hari. Halldora yang mengetahui hal itu menjadi cemas. Kakaknya bukan tipe orang yang suka minum-minum dan Tiina membuatnya seperti itu. Tentu Halldora tidak menyalahkan Tiina ataupun Berwald karena kedua-duanya sama sekali tidak salah, yang salah adalah kesalahpahaman di antara mereka. Halldora yakin Berwald mencintai Tiina sejak dulu, terlihat dari sifatnya yang sangat protektif terhadap Tiina dibandingkan dengan adiknya sendiri.
"Kak!" seru Halldora sambil mengangkat tubuh Berwald yang jauh lebih tinggi darinya. "Ayo masuk!"
Berwald tidak menjawab. Kepalanya sangat pening dan alkohol menguasai tubuhnya. Pikirannya selalu tertuju pada Tiina, Tiina dan Tiina. Hingga tidak bisa memikirkan hal yang lainnya. Pekerjaannya yang berat di kantor detektif tidak mampu mengalihkan pikirannya akan Tiina. Kerinduannya terhadap Tiina semakin membesar di sela-sela kesibukannya. Berwald membayangkan setiap bangun pagi ada Tiina di sebelah tempat tidurnya memberikan kecupan selamat pagi. Memasakkan makanan untuknya yang dibuat dengan penuh cinta, walau masakan Tiina lebih mirip masakan Arthur yang sama sekali tidak enak. Apapun akan Berwald lakukan asal dia bisa merebut hati Tiina kembali.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tidak ada harapan lagi untuk kembali, tetapi mungkin masih bisa apabila diupayakan.
Tiina mengelus-elus perutnya dengan lembut sambil bernafas panjang. Dia baru saja membeli test pack dan hasilnya positif. Kuliahnya akan terhambat selama setahun dan ini bukan hal yang diinginkan oleh Tiina. Mereka baru sekali melakukannya, jadi itu tidak mungkin bagi Tiina.
Tetapi itu adalah kenyataan yang sesungguhnya. Masa depannya sudah hancur. Hari-hari berikutnya Tiina membeli test pack dengan merek yang berbeda dan hasil yang didapatkan mengganggu hati Tiina karena hasil yang ada selalu positif. Tangisannya pecah dan Tiina merasa cemas, bagaimana jika Berwald tahu dan memaksa Tiina untuk menggugurkan kandungannya. Itu memang sesuatu yang tidak diinginkan Tiina tetapi Tiina tidak akan menggugurkan kandungannya. Apapun yang terjadi.
Telepon rumah berdering dan Tiina mengangkatnya. "Halo!"
"Aku Halldora," kata Halldora di telepon. "Bagaimana kabarmu?"
Tiina bernafas lega, rupanya bukan Berwald yang menelpon. "Aku baik-baik saja," katanya. "Cuma sedikit mual."
"Mual?" tanya Halldora bingung. "Apa maksudmu?"
Tiina buru-buru menutup mulutnya dan berkata dengan nada gugup. "A.. aku hanya kecapekan, itu saja. Terlalu banyak pikiran sehingga aku sedikit mual."
"Hmm, sepertinya aku mencium sesuatu yang mencurigakan," Halldora berkata dengan nada menyelidik. "Jangan bilang kau.."
Perkataan Halldora dipotong oleh Tiina. "Kumohon jangan bilang padanya, aku tidak ingin dia tahu."
"Kakakku melakukan sesuatu padamu?" tanya Halldora.
"Bukan seperti itu, hanya kesalahpahaman semata. Aku tidak ingin merepotkannya, kumohon."
Setelah beberapa lama, telepon ditutup. Halldora mulai menyusun kejadian yang sebenarnya di dalam otaknya. Berwald sudah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan terhadap Tiina dan Tiina harus menanggung akibatnya. Dia harus memberitahu Berwald secepatnya, tidak peduli apakah Tiina akan marah kepadanya tetapi ini demi kebaikan mereka berdua, pikir Halldora.
Sementara itu, Tiina ingin mencari udara segar di luar dan merenungi apa yang terjadi selama Berwald di sini. Walaupun kedatangan Berwald di Helsinki menyakitkan hatinya tetapi Tiina merindukannya teramat dalam. Seandainya Tiina tidak pernah menyatakan cintanya terhadap Berwald pasti kejadian buruk yang dialaminya tidak akan terjadi.
Tetapi dengan itu Tiina memang mengenal Berwald lebih dari sebelumnya. Sisi lain Berwald yang akhirnya muncul belakangan. Sisi lain yang membuat Tiina merasa benci sekaligus mencintainya.
Tiina terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya dan mobil di arah kiri melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sempat menghindar lagi, dan mobil itu menabrak Tiina tepat mengenai bagian perutnya.
Darah berceceran di jalan yang dikendarai mobil tersebut. Gadis itu tergeletak pingsan. Sementara pengendara yang menabraknya kabur entah kemana. Tetangga yang berada di sekitar jalan tersebut langsung membawa Tiina ke rumah sakit terdekat dan menghubungi Halldora yang berada di Stockholm.
"Tiina kecelakaan," kata Halldora dingin pada kakaknya yang sedang sibuk menyelidiki suatu kasus. Dia baru saja mendengar hal itu dari tetangganya ketika mereka masih anak-anak. "Dan kau mau tahu sesuatu."
Nafas Berwald tercekat. Ini tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin terjadi.
"Ada apa?" tanya Berwald datar. "Dia tidak apa-apa."
Halldora sudah geram melihat kebodohan kakaknya sendiri yang tidak mengerti perasaan Tiina dan menampar Berwald dengan sekuat tenaga. "Dasar bodoh! Dia bisa saja keguguran."
Berwald terkejut. Tiina sudah pernah menamparnya sekitar empat kali karena kesalahannya sendiri dan sekarang adiknya tercinta menamparnya dengan keras.
"Keguguran?" kata Berwald heran. "Bagaimana bisa?"
"Dia mengandung anakmu, bodoh!" raung Halldora.
Wajah Berwald membeku dan terlihat lebih seram dari sebelumnya. Kini hati Berwald didera perasaan yang bersalah yang amat sangat. Dia tidak ingin kejadian semacam ini terjadi pada Tiina. Mengapa Tiina tidak menelponnya jika dia mengandung anaknya. Apa Tiina takut jika Berwald memaksanya untuk mengugurkan kandungannya.
Berwald tidak akan melakukan hal seperti itu padanya karena itu akan membahayakan keduanya. Demi Tuhan, apa yang dilakukannya terhadap gadis manis seperti Tiina. Jika sampai Tiina meninggal, Berwald akan menanggungnya seumur hidupnya.
"Masih adakah tiket untuk ke Helsinki pada hari ini?" tanya Berwald pada Halldora.
Halldora mengangguk pelan. "Sepertinya masih," jawabnya. "Tetapi aku tidak akan mengijinkanmu pergi ke Helsinki jika kakak masih ingin menyakiti gadis itu."
"Aku tidak akan melakukannya lagi," gumam Berwald pelan. "Aku hanya ingin dia bahagia. Itu saja."
.
.
.
Lagi-lagi Berwald kembali ke Helsinki padahal Tiina sama sekali tidak menginginkannya kembali. Sesampainya di Helsinki, Berwald segera menaiki taksi menuju ke rumah sakit tempat Tiina dirawat. Seharusnya Berwald tidak perlu kembali lagi, tetapi Berwald lebih mencemaskan keadaan Tiina dibandingkan menuruti permintaan Tiina. Dia tidak peduli jika Tiina membencinya, asalkan Tiina selamat dan juga bayinya, yang hadir tanpa disangkanya.
Untuk terakhir kalinya, Berwald berjanji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan bersikap jahat atau melukai Tiina. Tiina sudah begitu sabar terhadap Berwald dan wajar saja jika Tiina marah kepadanya atas perlakuannya selama ini.
Sesampainya di rumah sakit, Berwald menyambar pintu rumah sakit dengan kasar dan menatap tajam pada orang-orang yang lalu lalang secara seenaknya. Orang-orang yang lewat menatap Berwald dengan tatapan ngeri dan berpikir bahwa Berwald berbahaya. Berwald tidak peduli dan menuju ke meja resepsionis dengan kasar sambil menggebrak meja resepsionis. Resepsionis yang mengantuk itu terkejut. "Dimana Tiina Vainamoinen," sambar Berwald. Wajahnya tampak memucat dan sikapnya sekarang tidak terkontrol. Pikirannya masih dipenuhi oleh Tiina.
Resepsionis yang berada di sana merasa ngeri terhadap Berwald. "Di ruang 587."
"Dia kenapa?" desak Berwald. "Apa dia tidak apa-apa?"
"Nanti bisa tanyakan pada dokter yang bersangkutan," kata resepsionis tersebut pada Berwald. "Mari saya antar."
Berwald tidak membalas perkataan resepsionis tersebut dan berlari ke arah tempat dimana Tiina di rawat. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilangannya. Ampuni aku, Tiina.
Berwald memasuki ruangan dimana Tiina dirawat dan betapa terkejutnya mendapati Tiina tidak sadarkan diri dan koma. Kaki kirinya patah dan dahinya diberi perban cukup banyak, tubuhnya diberi selang infus agar Tiina terus bertahan hidup.
"Dokter," kata Berwald. "Apa yang terjadi dengan gadis ini?"
Dokter itu menjawab. "Dua hari lalu dia tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi."
"Bagaimana dengan anakku?" tanya Berwald ragu-ragu. "Dia tidak apa-apa?"
Dokter itu terkejut. "Anda suaminya?" tanyanya curiga. "Kukira dia tidak punya suami, begitu yang kudengar."
"Ya, aku suaminya" jawab Berwald berbohong. "Aku mencemaskan keduanya. Bagaimana dengan anakku?"
"Maafkan aku," dokter berkata sambil menepuk bahu Berwald pelan. "Istri Anda keguguran, anaknya tidak tertolong. Usia kandungannya sudah tujuh minggu. Aku berusaha menyelamatkannya tetapi tidak bisa tetapi istri Anda selamat."
Dokter meninggalkan Berwald di ruangan dan mata Berwald terus tertuju pada Tiina. Tiina tampak damai dalam pembaringannya. Perlahan-lahan Berwald melangkah maju dan mendekati Tiina. Seandainya Tiina tahu bahwa sekarang ini Berwald berada di sisinya, apa mungkin Tiina bahagia atau semakin membencinya.
"Ini aku," kata Berwald dan tangan Berwald menyentuh tangan Tiina dan mentautkan tangannya dengan tangan Tiina. "Aku disini."
Tiina masih tidak menjawab dan tidak sadarkan diri. Tetapi air mata Tiina tumpah dan membasahi wajahnya yang lembut. Itu melukai hati Berwald dari dalam. Seolah-olah diingatkan akan sesuatu, betapa terlukanya Tiina.
"Ma.. afkan aku," ujar Berwald lirih dan mengecup tangan Tiina dengan lembut. "A.. aku tidak tahu jika seperti ini kejadiannya."
Selama beberapa jam, Berwald terus memegangi tangan Tiina dan berdoa agar Tiina cepat sadar. Dia berpikir apakah Tiina tahu bahwa dia kehilangan bayinya. Apa mungkin anak itu gugur karena dia mengira Berwald tidak menginginkan kehadirannya.
Hari sudah larut malam dan akhirnya Berwald tertidur di sisi Tiina, tangannya masih terus menggengam Tiina dengan lembut.
"Ber!" panggil Tiina ceria sambil membawa satu nampan besar berisi salmiakki. "Aku membuatkanmu salmiakki untukmu."
Berwald yang saat itu baru berusia dua puluh satu tahun menatap satu nampan salmiakki tersebut dengan tatapan jijik. "Sudah kau berikan pada Halldora?"
Tiina menggeleng. "Ini makanan Finlandia, cobalah."
"Tidak mau," kata Berwald ketus. "Makan saja sendiri."
Tiina tampak kecewa. "Ayolah, rasanya sangat enak sekali. Cobalah satu saja."
Berwald tidak tega menolak permintaan Tiina dan memakannya sedikit. "Lumayan juga."
Tiina tersenyum lebar layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan banyak permen. "Aku senang kamu menyukainya."
Dulu Berwald mengganggap hal itu biasa-biasa saja tetapi mendadak Berwald merindukan kebersamaan mereka seperti pada waktu Tiina masih anak-anak. Tiina jauh lebih hidup dan polos, tidak seperti beberapa tahun belakangan ini. Penuh perlakuan kasar dan penolakan yang dilakukan oleh Berwald hanya karena usia semata.
"Jag alskar dig," kata Berwald pelan sambil mengecup dahi Tiina dengan lembut. "Aku pergi dulu sebentar."
Mata harinya, Tiina mulai sadar dan menatap sekelilingnya. Lampu sudah dimatikan dan semuanya terasa gelap bagi Tiina. Tiina bertanya-tanya mengapa dia berada di ruangan ini tetapi segera tersadar bahwa beberapa hari yang lalu Tiina mengalami kecelakaan lalu lintas.
"Aku dimana?" tanya Tiina lirih. "Apa aku di rumah sakit?"
Beberapa jam lalu, Tiina merasa ada seseorang yang membisikinya dan mengatakan bahwa orang itu mencintainya. Dahi Tiina terasa hangat, seseorang mengecup dahinya dengan lembut. Bisikan itu seperti dikenal Tiina.
Tak berapa lama seseorang masuk ke dalam ruangannya dan menyalakan lampunya. Raut wajah Tiina berubah setelah tahu siapa yang masuk ke dalam ruangannya. Orang terakhir yang ingin di temui Tiina,Berwald.
"Sudah sadar?" tanya Berwald pelan. "Syukurlah tidak apa-apa."
Tiina menggeram. "Aku tidak memintamu kembali! Dan kau adalah orang terakhir yang ingin aku temui."
Berwald menghela nafas."Sudah kuduga kau akan seperti itu."
"Aku benci padamu, laki-laki tidak berperasaan. Gara-gara kau," isak Tiina sedih dan menutupi wajahnya dengan selimutnya. "Kau menjijikan. Aku.."
Kata-kata Tiina terputus, dia tidak mau bilang apapun pada Berwald. Berwald telah menghancurkan cintanya, kewanitaannya dan masa depannya. Tiina benci mengakui hal ini dihatinya, bahwa diam-diam Tiina masih mencintai Berwald. Itu ironis, sangat ironis.
"Tenanglah," Berwald berkata dan memeluk Tiina perlahan. "Aku turut menyesal telah kehilangan bayi kita. Sangat menyesal."
Tiina tercekat, dadanya terasa sesak. Dia kehilangan anaknya, memang anak itu tidak direncanakan olehnya tetapi Tiina tidak menginginkan anak itu gugur. Dia tidak sekejam itu. "Itu.. benar? Itu bohong kan," isaknya tanpa berani menatap Berwald. "Kau senang kan?"
"Tiina, aku.."
Tiina berguling ke arah lain dengan selimut putih menutupi tubuhnya dan menangis tersedu-sedu. Tiina benar-benar benci pada Berwald, sangat benci dan Tiina yakin pria itu senang dan menertawakannya.
.
.
.
Seumur hidupnya, Tiina hanya mencintai satu pria dan membenci satu pria. Ironis bahwa ia mencintai sekaligus membenci pria yang sama. Pria yang pertama kali menjadi pelabuhan hatinya tetapi seiring berjalannya waktu, pria itulah yang menghancurkan hatinya sedemikian rupa dan melukai jiwanya.
Itulah yang dirasakan Tiina. Ia ingin melupakan Berwald dalam benaknya dan ketika ia tersadar malah mendapatkan Berwald ada di sampingnya. Berwald yang berada dekat di sisinya seperti pada masa kecil Tiina.
Membangkitkan rasa cinta terhadapnya yang sempat hancur karena perlakuan kasar Berwald terhadapnya.
Tetapi ia tidak mau terlena, takut terluka lagi. Ia seharusnya mengerti pria itu bahkan tidak peduli terhadap anak yang telah gugur. Bahkan pria itu sama sekali tidak tahu—
—ia mengandung anaknya. Baru setelah kecelakaan itu, Berwald mengetahuinya.
"Mengapa kembali lagi ke sini?" tanya Tiina dengan tatapan dingin. Tatapan yang akhirnya ditujukan pada Berwald sebagai konsekuensi dari perlakuannya terhadap Tiina yang sangat buruk pada awalnya. Melemahkan bunga-bunga es yang ada di dalam hati Berwald. "Memang tidak ada kerjaan lainkah sehingga kembali lagi ke sini?" tambahnya tanpa berani menatap Berwald yang duduk di tempat tidurnya.
Berwald terdiam, terus menatap wajah Tiina yang terluka. Wajah Tiina terlihat lebih tua beberapa tahun, yang keluar dari matanya adalah kesedihan mendalam. Luka hasil karyanya.
Menyesal mengapa ia tidak pernah berani mengatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Tiina. Ucapan dan perlakuan kasar yang diterima gadis itu, berhubungan dengan wanita lain selama di Stockholm sebagai pengganti Tiina.
"Mencemaskanmu—," hanya itu yang terucap dari mulut Berwald dan tanpa sadar tangannya menyentuh perut Tiina yang sekarang rata. "Amat sangat."
Tiina menepis tangan Berwald dari perutnya. "Aku tak butuh alasan darimu," jawabnya penuh kemarahan. "Kurasa anakku tidak ingin mempunyai ayah sepertimu. Yang sama sekali tidak tahu kehadirannya dan tidak menginginkannya."
Perkataan dan tepisan Tiina menusuk hatinya yang terdalam. Ia ingat Tiina ingin mempunyai keluarga besar dan anak-anak yang bisa ia manjakan dan ia sayangi. Tiina amat sangat menyukai anak-anak. Setiap hari libur, Tiina selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak tetangga yang masih kecil.
Berwald menghancurkan impian Tiina yang dimiliki Tiina sejak kecil. Tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
"Maafkan aku. Untuk semuanya."
Tiina tidak bisa mempercayai pendengarannya. Pria stoicitu meminta maaf? Dunia pasti sudah gila atau bagaimana. Ia tidak pernah mendengar Berwald meminta maaf kepada orang lain. Apalagi terhadap Tiina.
"Maaf? Kamu mau bilang apa tadi?" tanyanya sambil memukul kepalanya sendiri untuk memastikan bahwa ia sama sekali tidak salah dengar. "Suaramu sama sekali tidak jelas."
Berwald menarik tangan Tiina yang masih memukul kepalanya dengan pelan. "Jangan begitu."
"Lalu?" tanya Tiina. "Apa yang harus kulakukan—?"
Kata-kata Berwald seolah-olah hilang dan memeluk gadis itu dengan erat. Dadanya terasa sesak yang amat sangat, membayangkan seperti apa rupa anaknya jika seandainya Tiina tidak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiina kehilangan bayinya. Apa mungkin anak itu akan mirip dengan dirinya atau Tiina? Ia tidak bisa membayangkannya secara sempurna.
"B.. Ber—!" seru Tiina terkejut. "Kau mau apa?"
Berwald semakin mempererat pelukannya dan meraih wajah Tiina agar berhadapan dengan dirinya. Menyapukan bibirnya yang sedingin es di bibir gadis itu, dengan lembut. Tanpa adanya pemaksaan.
"Aku menginginkanmu," kata Berwald dengan suara serak. "Kau membuatku gila."
Tubuh Tiina seperti tersengat aliran listrik. Setiap Berwald menyentuhnya, tubuhnya menjadi tegang dan lemah. Ia benci mengapa dirinya selalu saja lemah di hadapan Berwald. Bisa-bisa Berwald melakukan hal yang macam-macam terhadapnya seperti pada waktu itu.
Tiina mendorong Berwald pelan dengan wajah merah padam. "Aku tak ingin menjadi objek nafsumu lagi. Tidak mau!"
Senyuman tipis muncul di wajah Berwald tetapi matanya mulai terlihat tegang. "Tinggallah denganku untuk sementara waktu."
Tiina tersedak mendengar perkataan Berwald. "Aku sudah punya rumah sendiri. Yang benar saja!"
"Tidak mungkin tinggal sendiri," jawab Berwald tegas. "Aku akan merawatmu."
Tiina merasa senang di dalam hati karena Berwald perhatian terhadapnya walau cuma sedikit. Membayangkan pria itu akan selalu berada di sisinya untuk menjaganya dengan sepenuh hati atau mungkin akan diperlakukan selayaknya kekasih pada umumnya. Hanya berkhayal sedikit tidak apa-apa. Mungkin masih akan ada kesempatan untuknya.
"Kau tidak keberatan?" tanya Tiina dengan nada gugup. "Bukankah aku beban untukmu?"
Aku yang terbebani akan perbuatanku sendiri. Aku menyesal, tidak menjagamu dengan baik hingga kehilangan anak kita. Aku tidak akan mengatakan hal ini padamu. Aku lakukan ini karena aku mencintaimu teramat dalam dan ingin hidup bersamamu.
-oo-
Beberapa hari kemudian, Tiina sudah bisa keluar dari rumah sakit dengan catatan ia harus banyak beristirahat di rumah. Ia tetap harus memakai tongkat penyangga karena salah satu kakinya patah dan membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Mungkin sekitar tiga bulan.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa?" ujar Tiina sambil berusaha untuk berjalan dengan tongkat penyangga dan Berwald memegangi Tiina. "Ini sangat merepotkan."
"Sampai di rumah, banyak istirahat."
Tiina mendengus. "Mengapa kau seperti itu padaku? Aku bukan milikmu!"
"Karena aku peduli," jawab Berwald pelan. Tanpa sepengetahuan Tiina, Berwald sudah bertanya pada dokter apa yang harus dilakukan Tiina agar cepat sembuh. Ia harus memperlakukan Tiina sebaik mungkin dan tidak menakut-nakutinya lagi. Kata dokter, wanita yang mengalami keguguran pertama kali biasanya tidak stabil emosinya. Berwald tahu bukan itu alasan yang sebenarnya melainkan ada alasan lain, dan ia tidak ingin mengingatnya lagi demi kebaikan bersama.
Tiina tertegun mendengar perkataan Berwald. "Mengapa kamu peduli padaku?"
Berwald memberikan death glare pada Tiina seolah-olah berkata bahwa Tiina lebih baik diam saja demi keselamatannya sendiri. Sekaligus melindungi hati Tiina yang terluka karenanya.
-oo-
Rumah Berwald terletak tepat di sebelah rumah Tiina dan setengah kali lebih besar dari rumah Tiina dan bermotif bebatuan pada jaman dulu. Berwald mengeluarkan Tiina dari mobil Volvo miliknya dan menggendongnya alih-alih membantunya berjalan.
"Kuantar ke kamar," tambah Berwald pelan di telinga Tiina. "Dan istirahat."
Wajah Tiina merah padam ketika beberapa tetangga yang dikenalnya melirik-lirik nakal ke arahnya. Mungkin para tetangga mengira bahwa ia dan Berwald akan berbuat macam-macam berdua, pikir Tiina dengan perasaan malu.
"Akan kuambilkan barang-barangmu dan pakaianmu," lanjut Berwald lagi dan memasuki rumah seraya mencari-cari dimana kamar yang kosong untuk ditempati. "Mana kunci rumahmu?"
"Eh?"
"Kunci rumah," tukas Berwald tidak sabar sambil mendudukkan Tiina di kursi terdekat. "Cepatlah."
Yang begini membuat Tiina tidak suka. Berwald memperlakukannya seolah-olah ia miliknya pribadi dan bukan milik orang lain. Tapi mau tidak mau, Tiina merasa nyaman dan senang karena Berwald mau repot-repot memperhatikannya. Dengan ragu-ragu Tiina merogoh kantung celananya dan menyerahkan kunci rumahnya pada Berwald.
Hidupnya akan dimulai bersama Berwald, mulai saat ini juga.
TBC
