CHERRY BLOSSOM

Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™

2010©

Sasuke berulang kali mengetikkan sesuatu di tuts laptopnya dan menghapusnya lagi. Hal itu terus-menerus dilakukannya selama duapuluh menit terakhir. Wajahnya tampak gusar, keningnya yang putih berkerut samar, seolah ada sesuatu yang dipikirkannya.

Boneka porselen berambut bubble gum itu sudah mengamati aktivitas tuannya selama duapuluh menit lebih. Mata jade-nya bergerak-gerak mengikuti setiap gerakan yang dihasilkan oleh tubuh sang pemuda Uchiha itu, menatap jari-jari Sasuke, dan sesekali memandang kerutan di keningnya.

Dua menit kemudian, pandangan Sasuke beralih dari layar kristal laptopnya ke Sakura yang hanya duduk diam di atas meja kayu. Sebelah sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyuman tipis yang miring.

"Kemarilah..." perintahnya pada Sakura. Dengan menurut, Sakura melompat turun dari meja kayu dengan anggun dan menghampiri Sasuke.

"Ada apa?" tanya Sakura dengan suara beningnya yang melengking. Sekilas ia melirik layar laptop Sasuke. Tampilan e-mail.

"Ini..." Sasuke menarik Sakura ke atas pangkuannya. Dengan jari telunjuk kirinya yang bebas ia menunjuk pada layar kristal yang bercahaya itu. "Ada permintaan untuk menghabisi seorang bangsawan yang merupakan pedagang kayu terbesar se-Eropa. Dan aku ingin menolaknya. Aku sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menolaknya."

Dengan seksama, Sakura mengamati e-mail yang berisi permintaan—yang adalah tugasnya, membunuh orang yang diminta klien. Sang pemohon bernama Danzo, dan bangsawan yang merupakan pedagang kayu terbesar se-Eropa itu bernama Tsunade. Kepala porselennya mengangguk-angguk sehingga rambut pink ikalnya bergoyang-goyang. Setelah beberapa saat, ia menoleh pada Sasuke.

"Bilang saja padanya aku sedang dalam misi membunuh seorang petinggi Mafia Italia," kata boneka mungil itu tanpa memandang Sasuke.

Kerutan di kening Sasuke memudar. "Ide yang sangat bagus!" Ia berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tubuh mungil Sakura dan memutar-mutarnya di udara—persis seperti yang dilakukan Sai sebelum Sakura membunuhnya. Lalu Sasuke menurunkannya dan dengan cepat mengirim e-mail balasan pada sang pemohon, Danzo.

Danzo adalah seorang tua yang picik dan ingin menguasai semua jalur perdagangan di Eropa, baik secara legal maupun ilegal. Tentu saja ia sudah sering sekali meminta bantuan Sakura dan Sasuke untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya sebagai penghambat bagi bisnisnya. Benar-benar manusia yang sangat keji.

Wajah Sasuke bertambah cerah saat ia meng-klik tombol 'send' dengan mouse-nya yang berkedip-kedip.

"Selesai sudah," jawabnya puas. Tampaknya tadi Sasuke merasa tidak enak untuk menolak permintaan Danzo. Bagaimanapun juga, Danzo adalah salah satu pelanggan setianya. Sakura terus menatap Sasuke, perlahan-lahan tampaklah perubahan emosi di wajah manis boneka itu. Bibir mungilnya tersenyum tipis.

"Tuan," kata-kata Sakura membuat Sasuke menoleh.

"Ada apa?" tanya Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya saat menatap Sakura.

"Apakah kau akan memesan lagi penggiling biji kopi yang kaurusak kemarin?" tanya Sakura dengan nada serius. "Aku sama sekali belum mencoba memakainya."

Ia mengendap-endap...

Kurenai terjaga dari mimpinya. Sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin, membuat beberapa helai rambutnya menempel di bagian leher. Wanita berusia tiga puluhan itu bangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke jendela kamarnya. Pelan-pelan, dibukanya kedua daun jendela kayu putih itu dengan kedua tangannya yang setengah berkeringat. Udara dingin malam menerpa dirinya, membuatnya kedinginan. Namun, dinginnya malam pun tak sanggup mencegah Kurenai berkeringat. Kurenai berusaha melihat sekelilingnya dengan matanya yang beriris merah ruby, namun ia tak dapat melihat apa-apa dalam kegelapan. Ia terus mencoba mencari tahu apa ada seseorang di sini selain dirinya, karena nalurinya menjeritkan bahwa ia tidak sendirian!

Orang lain tidak bisa melihatnya, tetapi ia bisa melihat mereka semua dengan mata jade-nya...

Wanita berambut hitam bergelombang itu mundur beberapa langkah dari jendela kamarnya. Entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa sebaiknya ia tidak berdiri di sana. Perasaannya mengatakan bahwa ia harus lari.

Sosok kecil itu amat pandai menyembunyikan dirinya dalam kegelapan. Auranya berbaur dengan alam, membuat keberadaannya sulit terlacak...

Kurenai berhenti melangkah mundur ketika ia menyadari di belakangnya terdapat sesuatu, ehm, seseorang. Dengan wajah pias ia menoleh ke belakang. Di hadapannya kini berdiri sebuah boneka porselen berkulit putih dengan rambut mengikal dengan tinggi sekitar dua setengah kaki. Boneka itu bermata jade, sorot matanya dingin. Ia memakai gaun berwarna merah dengan detil pita di beberapa bagian. Di tangannya tergenggam sebuah belati yang berkilat dalam kegelapan.

Dengan senang ditatapnya sosok tubuh yang gemetaran itu. Entah mengapa, perasaan bahagia meluap-luap dari dirinya bila melihat calon korbannya tampak ketakutan menghadapi sesuatu bernama 'kematian'. Digenggamnya pisau itu kuat-kuat...

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kurenai dengan suara bergetar menahan rasa takut.

Boneka itu tersenyum mendengar kata-kata Kurenai.

Tanpa menjawab pertanyaan calon korbannya, ia bergegas menerjang korbannya yang tak sempat bergerak. Ditancapkannya pisau berkilat itu pada ulu hati korban, membuat nafas wanita itu tersengal-sengal...

Kurenai menatap darah yang merembes melalui gaun tidurnya, mengalir menuruni kedua kakinya dengan mata terbelalak. Ditatapnya Sakura dengan pandangan kosong, seolah-olah sebentar lagi nyawanya akan tercabut.

"Maaf aku harus melakukan ini, Nyonya Kurenai..." kata Sakura sambil membelai pipi Kurenai dengan tangan kirinya yang tidak menggenggam belati. Air muka Kurenai menegang.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Kurenai dengan nafas yang terputus-putus. Melihat Sakura hanya diam dan mengamati nafasnya yang hampir putus, Kurenai melanjutkan kata-katanya, "Kau boleh menghabisiku setelah memberitahukan siapa yang menyuruhmu mencabut nyawaku."

Sakura menyayat kelingking kiri Kurenai hingga putus, membuat wanita cantik itu menjerit tertahan, kesakitan.

"Rasanya akan sama seperti ini," wajah Sakura menunduk, Kurenai tak dapat melihat bagaimana ekspresi Sakura, tetapi ia merasakan sesuatu yang hangat menetes ke atas lengannya, "ketika kau tahu siapa yang menyuruhku untuk membunuhmu..."

Dalam diam, Kurenai menatap wajah Sakura yang masih menunduk. Tangan-tangan kecil itu beralih ke jari manis Kurenai. Terdengar jerit tertahan dari dalam tenggorokan Kurenai saat jari manis itu putus oleh tangan Sakura. Darah mengalir deras dari kedua jarinya yang putus. Kurenai menggigit bibirnya, menahan rasa sakit.

"Katakanlah..." Dengan lirih Kurenai membisikkan permohonannya. "Katakan siapa yang ingin aku mati..."

Sakura menatap wajah Kurenai, ada setitik air mata di setiap sudut matanya, membuat mata jade-nya berpendar-pendar dalam keremangan. Bibir mungil itu sedikit terbuka.

"Yang memintaku membunuhmu adalah... Asuma Sarutobi."

Darah langsung surut dari wajah Kurenai. Wajahnya pucat sekali. Gemetaran, diraihnya kedua tangan Sakura yang bersimbah darah dengan tangannya yang juga bercucuran darah akibat putusnya kedua jari di tangan kanan.

"Bunuh aku, sekarang..." mohon Kurenai dengan suara serak. Tampaknya ia shock karena mendengar suaminya sendiri ingin ia mati.

Untuk beberapa saat Sakura menatap wajah Kurenai yang dipenuhi air mata, kemudian ia menikam jantung wanita itu. Nafasnya berhenti detik itu juga. Dalam keheningan, Sakura memisah-misahkan tubuh wanita itu dengan pisaunya. Sesaat Sakura memandangi jenazah Kurenai, terutama wajahnya. Kedua mata merah itu terpejam, masih dihiasi air mata. Sakura memalingkan wajahnya, ia melemparkan sesuatu dan segera menghilang dengan kecepatan cahaya.

Sehelai kelopak bunga sakura mendarat lembut di atas ulu hati Kurenai yang berdarah-darah.

Ia menghilang bagaikan ditelan kabut malam dan cahaya bulan...

Bunyi deritan engsel pintu membuat Sasuke menoleh dari buku tebal yang sedang dibacanya. Ia tersenyum tipis begitu mendapati Sakura pulang dengan bercak-bercak darah yang menempel pada tubuh porselen dan gaun merahnya.

"Kau sudah pulang, Sakura." Sasuke menutup buku tebal yang sedari tadi berada di pangkuannya, kemudian meletakkan buku tersebut ke dalam rak buku besar yang memenuhi satu bagian dinding ruang tengah.

"Aku mau membersihkan diri dahulu." Sakura berlalu dari hadapan Sasuke, sementara Sasuke menuju dapur dan menyiapkan minuman panas dalam cangkir keramik favoritnya.

Tidak lebih dari tiga puluh menit kemudian, Sakura sudah berdiri di depan sofa yang biasa diduduki Sasuke. Sasuke kembali dari dapur dengan membawa sebaki minuman panas, Sakura tahu itu dari kumpulan uap putih yang mengepul keluar dari pinggiran cangkir dan cerek.

"Kopi?" tanya Sakura saat Sasuke meletakkan baki itu di atas meja. Cairan yang berada di dalam cerek transparan itu berwarna hitam pekat. Sudah jelas itu kopi.

"Begitulah..." Sasuke menuangkan secangkir kopi untuknya, dan secangkir kopi untuk Sakura. Untuk Sakura, tentu saja ia menambahkan sekitar enam bongkah gula batu ke dalamnnya, sedangkan untuknya, hanya sedikit creamer. Malam ini Sasuke sama sekali tidak ingin menambahkan gula ke dalam kopinya, padahal biasanya ia menambahkan gula pasir, walau hanya setengah sendok teh.

Sakura dan Sasuke sama-sama menikmati kopi panas mereka sambil duduk di atas sofa. Kaki Sakura mengayun-ayun dari sisi sofa, sofa itu terlampau besar untuknya. Setelah meminum beberapa teguk kopi, Sakura memegang cangkirnya dalam diam. Matanya tampak kosong.

"Bagaimana tugas hari ini?" tanya Sasuke beberapa saat kemudian, memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka.

"Biasa saja," jawab Sakura datar.

Pria berambut emo biru tua itu menoleh dan menatap boneka pink-nya dengan tatapan bingung. Ternyata matanya berhasil melihat bekas air mata yang mengalir di pipi Sakura.

"Kau menangis lagi?" tanyanya agak prihatin. Sakura terdiam. Tangan mungilnya bergerak-gerak sejenak sebelum ia meletakkan cangkir keramiknya di atas meja. Kopinya tinggal setengah.

"Sangat menyakitkan..." Hanya itu yang keluar dari bibir Sakura. Sasuke diam saja. Ia tidak mau mendesak Sakura untuk menceritakan lebih jauh bila boneka porselen itu tidak mau menceritakannya. Ia akan menunggu sampai Sakura mau menceritakannya.

"Kau mau kopi lagi?" Sasuke sedikit berdiri dari sofa, membungkuk hendak menuangkan secangkir kopi lagi untuknya dan untuk Sakura, namun Sakura menggeleng. Sasuke duduk lagi.

Ia memandangi boneka mungil itu. Sakura adalah boneka yang ajaib. Ia diciptakan bernyawa, memiliki kemampuan untuk membunuh di atas rata-rata, dan memiliki perasaan. Hal terakhir itulah yang membuat Sasuke mau mengambil Sakura menjadi bonekanya.

Menyadari Sasuke menunggu kelanjutan kata-katanya, Sakura berbicara, "Sangat menyakitkan ketika mengetahui orang yang kita cintai menginginkan nyawa kita menghilang..."

Tangan kanan Sasuke menepuk-nepuk rambut bubble gum Sakura. Ia berusaha menenangkan boneka itu. Sakura diam bagaikan patung, emosinya galau. Sebagai boneka, ia bingung bagaimana cara mengatasi emosi semacam itu.

"Aku mempunyai kejutan untukmu." Sasuke mengalihkan topik pembicaraan, berharap topik yang kali ini dilontarkannya dapat membuat Sakura melupakan kesedihannya. Tanpa suara Sakura menatap Sasuke. Pria itu tahu bahwa Sakura ingin tahu apa yang merupakan kejutannya.

"Ikut aku." Sasuke mengangkat telunjuk tangan kanannya, mengisyaratkan agar Sakura mengikutinya dari belakang. Sasuke bangkit dari sofa diikuti Sakura yang melompat turun. Perlahan-lahan Sasuke melangkah ke arah dapur yang gelap-gulita. Tangan Sasuke meraba-raba bagian dinding di dekat pintu, mencari tombol saklar. Setelah menemukan saklar tersebut, dinyalakannya lampu dapur. Suasana dapur seketika menjadi terang benderang.

"Pejamkan matamu..." Sakura memejamkan matanya, mengikuti kata-kata Sasuke, karena bagaimanapun juga, Sasuke adalah majikan yang harus dipatuhinya, suka ataupun tidak suka.

Waktu terasa lama bagi Sakura saat memejamkan mata jade-nya. Boneka itu benci disuruh menunggu, apalagi sambil memejamkan mata. Digunakannya indera pendengarannya untuk menebak-nebak kejutan dari Sasuke. Terdengar bunyi kelotak dan suara plastik dibuka. Sakura menunggu kejutannya. Ia berpikir, paling-paling kejutannya hanya berupa pisau baru. Pisau lamanya sudah agak tumpul sehingga Sakura harus mengeluarkan tenaga ekstra saat membunuh. Masalahnya ia tidak memiliki uang untuk membeli pisau baru. Sedangkan untuk mengasah... ia tidak tahu bagaimana caranya mengasah pisau, meskipun Sasuke selalu menyuruhnya untuk mengasah pisau peraknya. Sakura hanya bisa menggosok-gosokkan pisau itu sembarangan ke atas batu asah, namun pisau itu tak kunjung tajam.

"Kau boleh membuka matamu, bonekaku."

Saat Sakura membuka mata, di atas meja makan yang berada di hadapannya terdapat sebuah penggiling biji kopi yang dihancurkan Sasuke tadi pagi, hanya saja penggiling ini masih benar-benar baru. Kardus pembungkusnya masih tergeletak di sudut dapur, bersebelahan dengan tempat sampah. Sasuke tersenyum ketika melihat ekspresi terperangah Sakura, salah satu ekspresi yang disukainya dari beragam ekspresi yang pernah ditunjukkan Sakura. Tidak sia-sia ia memesan barang yang sama dari katalog barang elektronik bulan ini dengan menggunakan kartu kredit hitamnya.

"Ini..." Sakura tidak meneruskan kata-katanya. Sasuke tersenyum tipis.

"Maaf kemarin pagi aku merusak penggiling yang sama, padahal kau belum sempat mencobanya,"—Sasuke menghela nafas—"Maukah kau membuat kopi memakai penggiling biji kopi ini untuk sarapan besok pagi?"

Sebuah senyum timbul di bibir porselen Sakura. Semburat merah bahagia muncul di kedua pipinya.

"Tentu saja!" Ia melompat dan memeluk kaki Sasuke. Sasuke membelai-belai rambut Sakura.

"Sekarang waktunya kau beristirahat, hari sudah larut." Dengan menggunakan jari telunjuknya, Sasuke menunjuk jam digital yang berada di atas meja dapur yang terbuat dari marmer. Pada jam digital itu tertera angka 00.25. Hari terlah berganti.

Sakura berjalan dengan patuh menuju ruang tengah, tempat tangga yang menuju ke loteng terletak. Ia masuk ke dalam peti bonekanya dan mengunci peti itu, lalu beristirahat.

Yakin Sakura sudah masuk ke dalam petinya, Sasuke kembali memandangi penggiling biji kopi yang baru saja dibelinya. Pria berambut emo itu keluar dari dapur setelah mematikan lampu, kemudian ia menuju ke ruang kerjanya, di mana laptopnya terus menyala dengan koneksi internet satelit berkecepatan tinggi. Ada sebuah lambing amplop di windows-nya, menandakan ada e-mail baru yang masuk.

'Pasti permintaan lagi...' dengus Sasuke setelah mengamati layar kristal dengan mata onyx-nya selama beberapa saat. Ia tidak meng-klik e-mail itu, hanya mendiamkannya begitu saja.

Pada subjek e-mail itu tertulis : Kepada Cherry Blossom...

~To Be Continued~

Aaaaaaaaaaaaaa~

Kenapa sekarang aku malah rajin ngetik fanfic?

Fanfic thriller lagi =w=

Hemmm, sepertinya fanfic ini masih kurang thriller ya?

Mohon saran dan kritiknyaaa xDDD

*bukan flame loh*

Oh ya, curcol nih ~

Kesel banget aku sama FFN , semua pembatas fict-ku ILANG !

Jadi , mohon maaf kalo para readers agak bingung baca fict Cyan ~~

(_ _)m

Special thanks for :

Nakamura Kumiko-chan

Naddkuchiki

Aurellia Uchiha

yuuna hihara

Nita

Haruchi Nigiyama

Ann

Zzz

pick-a-doo

Kiran-Angel-Lost

mamai gaje xD

Ririn Cross

Boleh minta reviewx ?

:)

Thankies ^^

mysticahime™