No Podras Olvidar [Don't Forget Me]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
From my fic Min Karlek, My Love at my old account
Warning: Adult situation, AU, genderbending, don't like don't read :D
.
.
.
Hari itu merupakan hari Sabtu yang cerah, dimana semua kegiatan belajar mengajar diliburkan sehingga semua bisa bersantai dan juga bagi beberapa pekerja kantoran yang terdapat di lingkungan tersebut.
Tiina juga sudah kembali ke rumahnya dan dia cukup beruntung karena mendapati ibunya sudah pergi dinas lagi untuk beberapa bulan ke depan sehingga bisa sedikit tenang walau terbersit rasa khawatir bila suatu saat ibunya kembali secara mendadak.
Tetapi saat itu dia sedang senang karena hari itu, dia akan berkencan dengan Berwald , setelah sekian lama mereka tidak berkencan karena kesibukan Berwald sebagai dosen yang terkadang mengharuskan Berwald masuk setiap hari Sabtu bahkan hari Minggu. Karena itulah, Tiina bangun lebih pagi dan bersiap-siap lalu menghabiskan waktu di kamar mandi hanya untuk berdandan.
Hari ini pasti menjadi hari yang menyenangkan. Mudah-mudahan tidak ada pengganggu.
.
.
"Kau lama sekali sih!" keluh Berwald ketika menunggu Tiina keluar dari rumah. "Apa yang kau lakukan sebenarnya di dalam?"
"Er-aku hanya-" Tiina mencoba mencari kata-kata yang tepat dengan gugup. "Aku habis berdandan di dalam."
"Lama sekali," ujar Berwald pendek.
"Namanya juga perempuan, pasti kalau berdandan lama sekali," bantah Tiina kesal. "Biasanya seorang pria juga mengeluh kalau kekasihnya tidak berdandan."
"Yah, teserah padamu," katanya sambil mengelus-elus kepala Tiina. "Jadi sekarang mau kemana?"
Tiina tampak berpikir sebentar tetapi tiba-tiba mendapat satu ide. "Bagaimana kalau kita pergi ke taman ria. Kudengar ada wahana baru!"
"Dasar anak-anak," gumam Berwald pelan. Tiina hanya mendelik kepadanya sehingga Berwald segera menutup mulutnya.
.
.
"Hei, ayo coba roller coaster itu!" seru Tiina semangat sambil menarik tangan Berwald dengan erat. Berwald hanya menggeleng-gelengkan kepala saja, karena Berwald tidak menyukai permainan-permainan di wahana tersebut.
"Kau saja," kata Berwald. "Aku tak terbiasa."
"Ayolah, coba sekali," bujuk Tiina. "Pasti ketagihan."
"Tetap tidak mau."
"Ayolah."
Lagi-lagi Berwald menuruti permintaan kekasihnya tersayang. Yah selama dia senang, tidak akan apa-apa.
.
.
"Tadi permainannya sangat seru ya. Masih mau coba lagi tidak!" tantang Tiina dengan semangat dan Berwald hanya diam saja mendengarkan tantangan tersebut. Semangat sekali dia.
"Tidak usah," jawab Berwald pelan. "Aku sama sekali tidak terbiasa."
"Main seperti itu akan membuat jiwa muda kita kembali," Tiina mencoba mencari-cari alasan. "Setiap tahun aku selalu bermain ke sini bersama teman-teman kuliah dan juga SMA. Menyenangkan."
Berwald mendengus pelan," Dasar anak-anak yang cerewet."
"Hei!" seru Tiina kesal. "Aku bukan anak-anak cerewet."
Selagi mereka asyik bercengkrama, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil mereka dari kejauhan. Seseorang itu telah memperhatikan mereka sejak tadi.
"Hei kalian!" panggil seseorang. "Tumben kalian berduaan di tempat umum seperti ini, apa tidak apa-apa?"
Berwald dan Tiina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Rupanya Mathias dan seorang wanita yang pernah dilihatnya di foto. Wanita berambut pirang dengan jepit silang berwarna biru. Tiina hanya menatap wanita itu perlahan-lahan. Dan juga seorang anak laki-laki yang berusia kurang dari tiga tahun yang memiliki wajah yang mirip dengan Mathias.
"Hej," sapa Berwald. "Ada di sini juga."
Mathias hanya tersenyum lebar. "Mereka sedang bosan di rumah, jadi aku ajak saja dia kesini."
Oh, jadi wanita itu istri dari Dr. Kohler. Syukurlah.
"Ah, maaf aku belum memperkenalkan istriku ya," kata Mathias tiba-tiba. "Kenalkan,dia istriku. Halldora Rybak Kohler dan putraku Niels."
Niels melompat-lompat ceria sedangkan Halldora tersenyum ke arah Tiina. "Salam kenal, senang bertemu denganmu."
"Sama-sama, Mrs. Kohler," jawab Tiina.
"Apa kamu kekasih baru dari Berwald?" tanya Halldora dengan nada pelan. "Tampaknya kalian seperti sepasang kekasih."
"Memang," jawab Berwald. "Sudah satu tahun lebih berjalan."
"Wah, selamat ya," kata Halldora bersemangat. Tiina hanya tersenyum lemah, merasakan bahwa di dalam nada suara Halldora seolah-olah dipaksakan dan nampak tidak ikhlas. Entah ini hanya perasaannya atau bukan, kecemasan itu datang lagi.
Tiina menarik lengan baju Berwald secara perlahan, memberikan isyarat bahwa Tiina ingin pergi ke kamar kecil untuk sebentar. Berwald hanya mengangguk saja dan Tiina bergegas ke kamar kecil.
Ya ampun, aku ini kenapa sih. Tidak bisa berpikir dengan jernih sedikitpun. Kenapa aku mesti cemburu pada wanita itu. Wanita itu kan sudah mempunyai suami dan anak. Tapi tetap saja aku merasa wanita itu masih mencintai kekasihku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
.
.
"Umur kekasihmu itu berapa tahun?" tanya Halldora tanpa tedeng aling-aling. "Tampaknya dia lebih muda dariku."
"Kurangi saja dua puluh tahun," Mathias menimpali sambil tertawa. "Dia memang suka anak-anak."
Berwald memukul kepala Mathias perlahan. "Jangan dengarkan dia."
"Sakit, kaleng ikan," keluh Mathias sambil mengusap-usapkan kepalanya.
"Eh, apa dia muridmu?" tanya Halldora semakin penasaran. "Gadis itu diajar denganmu."
"Bukan, dia di fakultas yang berbeda," Berwald menjawab. "Berada di fakultas tempat Mathias mengajar."
"Hoo," gumam Halldora. "Kok bisa kalian menjadi sepasang kekasih?"
Percakapan mereka bertiga tampak serius, Tiina yang sudah kembali ke tempatnya hanya diam saja sehingga mereka tidak menyadari kehadiran Tiina di sana.
"Halo, aku sudah kembali," Tiina berkata dengan nada yang ceria, tetapi menjadi dipaksakan setelah mendengar percakapan mereka bertiga. "Maaf lama."
"Papa! Mama! Kapan kita mencoba main di taman ria. Dari tadi kalian mengobrol saja dan tidak mempedulikanku," keluh Niels, memotong pembicaraan.
Mathias memukul kepalanya sendiri. "Ya ampun, aku lupa. Maaf ya, sepertinya kami harus pergi dulu."
"Selamat bersenang-senang," kata Halldora sambil melambai-lambaikan tangan lalu meninggalkan mereka lalu mengikuti suami dan anaknya. Halldora sempat menengok sebentar ke arah Berwald tetapi mengalihkan pandangannya kembali.
"Tampaknya dia gadis yang cantik," kata Tiina pelan. "Pasti banyak pria yang menyukainya."
"Ya," Berwald menyetujui. "Tapi tidak secantik dirimu."
Tiina tersenyum lembut. "Apakah itu kata gombalan semata. Atau sekedar menghibur saja?"
"Tidak," jawab Berwald.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Apa perlu kukatakan saja apa maksudku?" Berwald bertanya dengan nada datar
"Kalau kau mau," kata Tiina penuh harap.
"Tidak akan kukatakan," jawab Berwald. Lagipula dia tahu apa yang dirasakan Tiina saat ini tetapi tidak mau memberitahunya. "Sudah sore, ayo kita cari makanan."
"Ayo!" seru Tiina semangat sambil memeluk lengan Berwald. "Aku sudah lapar sejak tadi."
Untuk sesaat, Tiina mungkin bisa melupakan kecemasannya mengenai Halldora Rybak Kohler. Tidak tahu apa yang akan terjadi besok dan seterusnya. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menikmati apa yang ada.
Walaupun pada akhirnya akan menjadi kecemasan tidak berujung yang akan mencelakakan keduanya.
.
.
.
"Ada sesuatu yang harus kubicarakan padamu. Mengenai hubungan kita," kata seorang gadis muda kepada seorang pria. Gadis muda tersebut menatap pria tersebut dengan tatapan serius sekaligus ada rasa bersalah di hatinya.
"Apa?" tanya seorang pria tersebut dengan wajah datar. "Memangnya ada apa dengan hubungan kita?"
"Hubungan kita sudah tidak bisa diteruskan lagi," ujar gadis muda tersebut pelan. Nafasnya memburu.
"Ya, terus?"
"Aku sudah menemukan pria yang benar-benar cocok untukku. Dan itu sama sekali bukan dirimu. Sebulan lagi aku dan pria yang kumaksud akan melangsungkan pernikahan."
Pria itu terkejut tetapi tidak dapat berkata apa-apa. Pasti kekasihnya sedang bercanda dan mungkin ini adalah lelucon April Mop semata. Tetapi pria itu mencoba mengeluarkan kata-kata, untuk memastikan sesuatu. "Benarkah itu? Kapan terjadinya?"
Gadis itu memerah. "Mathias Kohler, pria yang selalu mengisi hari-hariku walau dia terkadang mengesalkan."
"Oh, aku mengerti," gumam pria tersebut. "Mungkin bagimu aku tidak menarik."
Gadis itu menghela nafas lalu mengelus kepala pria tersebut. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Aku-"
"Tidak apa-apa," ujarnya pelan. "Selamat berbahagia untuk kalian berdua."
"Terima kasih kamu mengerti perasaanku. Pasti di luar sana ada seorang gadis yang mencintaimu apa adanya."
Berwald terbangun dari tidurnya. Beberapa minggu ini, dia sering bermimpi sesuatu yang harusnya tidak boleh diingatnya lagi. Sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh dalam pikirannya. Bermimpi mengenai mantan kekasihnya yang terdahulu.
Mengapa lagi-lagi dia ada di pikiranku. Seharusnya aku membuang pikiranku tentangnya jauh-jauh. Lagipula dia sudah menjadi istri si Kohler itu. Dan aku sudah memiliki kekasih yang menyayangiku apa adanya.
Keberadaan Tiina di sisinya membuat Berwald sama sekali lupa akan Halldora yang lebih dulu memasuki hatinya. Sejujurnya, Berwald sama sekali tidak pernah mengerti mengapa dia bisa jatuh cinta pada gadis semuda Tiina. Ada sesuatu hal yang menarik darinya, yang membuat Berwald jatuh hati terhadapnya. Sesuatu yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata sekalipun dan hanya dijabarkan melalui tindakan semata. Berwald teringat ketika Tiina menemukan foto lamanya bersama Halldora dan hal tersebut menimbulkan kecemburuan terhadapnya. Foto tersebut memang sudah dibuangnya oleh Berwald di perapian rumahnya tetapi Berwald ragu apakah Tiina bisa percaya padanya, percaya bahwa dia benar-benar mencintainya.
TING..TONG..
Berwald berhenti melamun, tersadar dan segera membukakan pintu rumahnya. Tiina berdiri di dekat pintu rumahnya dengan wajah ceria dan bersemangat sambil menggendong seekor anjing putih kecil. "Hei, hari ini hari yang cerah bukan."
"Hm, ada apa ke sini?" tanya Berwald pelan. "Bukankah kamu seharusnya sedang mencari dosen pembimbingmu. Kau kan sedang menyusun skripsi bukan?"
Tiina tertawa kecil sambil mengangkat anjing putih kecil tersebut. "Sifat dinginmu masih saja tidak berubah ya. Ngomong-ngomong, Raivis memberikan satu anjing putih kecil untukku dan aku sama sekali belum mendapatkan namanya."
"Maksudmu aku harus memberikan nama anjing kecil tersebut? Atau apa?" ujar Berwald.
"Sebenarnya aku ingin memberi nama anjing ini Bloddy Hanatamago, tapi terlalu jelek sepertinya," gumam Tiina pelan. "Menurutmu bagaimana seharusnya?"
"Jangan pakai Bloddy, itu mengerikan," gumam Berwald pelan.
"Baiklah, Hanatamago saja. Tampaknya itu lebih bagus," kata Tiina senang. "Dan aku baru sadar akan sesuatu hal."
"Apa?"
"Wajahmu tampak muram," tandas Tiina.
"Sejak dulu wajahku sudah seperti ini," Berwald membantah. "Seharusnya kau sudah tahu."
Tiina menatap wajah Berwald dengan seksama,"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
"Tidak."
"Kau bohong."
"Tidak ada dan itu bukan urusanmu," kata Berwald dingin sambil menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Tiina yang berada di dekat pintu rumahnya. "Maaf, aku sedang ada urusan dan tidak mau diganggu."
Tiina terkejut atas perlakuan Berwald barusan sehingga tanpa sadar Tiina berteriak dari luar. "Hei! Ada apa denganmu. Apa kau marah padaku?"
Di dalam rumahnya, Berwald sama sekali tidak menjawab pertanyaan Tiina sedikitpun. Terlalu banyak pikiran yang menumpuk di kepalanya saat ini. Antara Tiina maupun Halldora, keduanya sama-sama menempati hati Berwald tetapi sejak Berwald bermimpi tentang Halldora, Berwald sendiri juga merasa ragu apakah dia benar-benar mencintai Tiina setulus hatinya. Atau hanya kesepian sesaat, dia sendiri tidak tahu. Sejak mimpi tersebut hadir di dalam mimpinya, Berwald kembali teringat mengenai Halldora.
.
.
Sejak kejadian itulah, Tiina seperti menghindari Berwald. Bahkan menolak menatap mata Berwald. Tiina merasa bahwa Berwald tidak bisa dipercaya. Dan Berwald hanya bisa menahan kekecewaannya akan hal itu.
"Hej!" sapa Mathias dengan nada usil. "Kau apakan dia?"
"Diam kau," bentaknya. "Jangan mencampuri urusanku."
"Hm..kau keras kepala juga. Jangan bilang kalau kalian sedang bertengkar," Mathias berkata pelan sambil terkekeh. "Itulah karma."
"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Berwald pelan. "Dan jangan campuri urusanku."
"Biarkan saja dia mengetahui yang sebenarnya," gumam Mathias. "Kalau tidak kasihan dia."
Sekali lagi, Berwald menarik nafas panjang dan bergegas mencari Tiina ketika jam pulang sudah tiba. Mungkin benar apa yang dikatakan Mathias, pikir Berwald. Aku akan coba menjelaskan sesuatu padanya.
Berwald mencari-cari Tiina di kelasnya tetapi dia sedang tidak ada sehingga dia memutuskan untuk pulang ke rumah tetapi sebelum pulang, Berwald menyempatkan diri untuk pergi ke Perpustakaan Nasional yang berada tak jauh dari kampus dan tanpa disangka Berwald bertemu dengan Tiina yang sedang tertidur di salah satu meja dengan alas buku-buku. Pelan-pelan, Berwald menghampiri Tiina yang tertidur dan membangunkannya perlahan.
"Kalau kau tidur di sini, nanti masuk angin," bisik Berwald di telinga Tiina. Tiina masih tertidur dan perlahan-lahan terbangun, menyadari siapa yang membisikinya.
"Ber, mau apa kau ke sini?" tanya Tiina terkejut. "Bukankah kau membenciku."
"Tidak. Aku akan menjelaskan semuanya padamu," jawab Berwald perlahan. Tetapi Tiina hanya menatap Berwald dengan tatapan kesal.
"Soal apa lagi, mengenai gadis itu bukan?" tanya Tiina dengan nada menantang, sepertinya tahu kemana arah pembicaraan tersebut. "Apa itu yang kamu pikirkan selama ini?"
"Iya-sedikit. Karena itulah akan kujelaskan-"
Tiina membereskan barang-barangnya yang berada di meja tersebut dan meninggalkan Berwald. "Kalau itu yang kau pikirkan, aku pergi saja. Kurasa kau juga tidak bisa melupakannya."
"Tunggu, bukan itu maksudku, " katanya sambil berusaha mencegah Tiina.
Terlambat, Tiina sudah pergi jauh entah kemana. Berwald hanya bisa pulang ke rumah dengan perasaan kecewa di hatinya. Menyadari bahwa Berwald memang benar-benar mencintai Tiina setulus hatinya, bukan karena Tiina pengganti Halldora atau semacamnya. Bahkan sejak dulu, Berwald sudah mencintai Tiina setulus hatinya sebelum mimpi tersebut datang, sesuatu yang sama sekali tidak disadarinya.
.
.
.
Di Sabtu yang cerah, biasanya hari libur tersebut digunakan Tiina untuk berkencan dengan Berwald. Dan biasanya juga merupakan hari yang paling ditunggunya ketika hari-hari biasa karena Berwald sama sekali tidak mempunyai waktu luang untuk berkencan selain hari libur.
Tetapi sekarang sangat berbeda. Tidak sejak Mathias menceritakan sesuatu mengenai hubungan Berwald terdahulu. Awalnya Tiina tidak mau mempercayai perkataan Mathias tetapi Mathias memperlihatkan banyak bukti-bukti yang membuat Tiina mulai mempercayai kata-kata Mathias dan curiga terhadap Berwald. Tiina mulai ragu apakah Berwald benar-benar mencintainya apakah hanya sekedar pengganti Halldora semata. Hal itulah yang membuat Tiina perlahan-lahan mulai tidak bisa mempercayai Berwald karena Berwald sama sekali tidak pernah menceritakan sesuatu mengenai kekasih terdahulunya kepadanya. Disisi lain, Tiina ingin mengakhiri hubungannya dengan Berwald tetapi tidak mau karena Tiina masih mencintainya, tidak mau kehilangannya.
Sabtu inilah dihabiskan oleh Tiina hanya untuk bermain di tempat Baltics bersaudara karena Tiina merasa bosan di rumah. Sekalian juga curhat kepada salah satu dari mereka, yang paling dipercaya oleh Tiina. Hanya untuk menyalurkan kekesalannya sekaligus keraguannya terhadap Berwald.
"Menurutmu apakah Berwald mencintaiku?" tanya Tiina pada Eduard von Bock yang merupakan adik kelasnya. Eduard yang sedang meminum teh langsung tersedak mendengar pertanyaan Tiina.
"Er-kalian kan sudah pacaran selama hampir dua tahun. Seharusnya tentu saja dia mencintaimu. Kenapa? Ada masalah?" Eduard bertanya pelan. Raut wajah Tiina berubah menjadi sedih.
"Apa mungkin karena aku cuma gadis bau kencur. Kudengar Berwald masih mencintai mantannya," gumamnya sedih.
Eduard menghibur kakak kelasnya dengan mengelus rambut Tiina perlahan."Bukan begitu, mungkin hanya salah paham saja."
Tiina hanya diam saja, banyak hal yang sama sekali sulit dicernanya. Mengenai Berwald maupun Halldora, keduanya membingungkan.
.
.
Begitu juga dengan Berwald yang merasa ada sesuatu yang kosong sejak Tiina menghindarinya, seingatnya Berwald tidak pernah memancing kecemburuan gadis itu dan tidak pernah menyebut nama mantan kekasihnya. Tetapi entah mengapa, Berwald mencium gelagat bahwa Tiina mengetahui sesuatu sehingga menghindarinya dan ini sudah berlangsung hampir satu bulan.
"Ya Tuhan," gumamnya pelan sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. "Apa salahku sehingga dia menghindariku."
Sejak saat itu juga, Berwald yang tadinya pemuram berubah menjadi lebih muram. Dalam hati Berwald menyalahkan dirinya sendiri dan juga mimpi yang terus datang yang menyebabkan Tiina merasa terluka karenanya. Tiba-tiba Berwald terpikir akan satu ide bagus. Menyeret Tiina ke sini dan menjelaskan semuanya dan Berwald tahu kemana Tiina pergi.
"Permisi," ujar Berwald pada Eduard. "Bisakah aku berbicara dengan Tiina sebentar."
Eduard bergidik ngeri dan masuk ke dalam sebentar lalu berkata pada Tiina. "Ada yang mencarimu."
"Siapa?" tanya Tiina dengan nada curiga. "Seperti apa orangnya?"
Eduard baru saja akan membuka mulut tetapi Berwald sudah menerobos masuk ke dalam rumah The Baltics dengan seenaknya. Tiina melongo ngeri dan bergegas kabur tetapi Berwald menahannya dan menggendong Tiina dengan cepat.
"Lepaskan aku!" bentaknya sambil memukul-mukul Berwald, berusaha untuk melepaskan diri dari Berwald tetapi tidak berhasil. "Aku benci padamu."
Berwald hanya diam saja lalu membawa Tiina ke mobilnya dan meninggalkan Eduard yang masih shock akan kejadian tadi.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Toris Lorinaitis yang baru saja keluar dari toilet.
Eduard tersenyum licik. "Biasa, pertengkaran suami istri."
.
.
Sesampainya di rumah Berwald, Tiina sudah mulai kesal dan melontarkan kata-kata yang akan menyakiti hati Berwald.
"Kau pikir apa yang kau lakukan!" bentak Tiina pada akhirnya. "Aku benci kamu, sudah berapa kali kukatakan!"
"Lalu?" tanya Berwald pelan. "Mengapa?"
Ditanya seperti itu, Tiina hanya menggigit jarinya. "Aku cemburu, puas."
"Karena itulah aku ingin menceritakan padamu yang sesungguhya," Berwald berkata dengan nada gusar. "Tapi kamu selalu membantahku."
Tiina hanya diam saja, tidak membantah omongannya lagi dan akhirnya Berwald menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Halldora hingga berakhirnya hubungan tersebut karena Halldora memilih pria lain untuk menjadi pendamping hidupnya, tepat pada tahun ke lima hubungan mereka.
"Mengapa tidak berbuat apa-apa?" Tiina bertanya dengan nada terkejut.
"Aku hanya bisa diam saja dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku mengerti jika dia tidak menginginkan pria kaku seperti diriku-"
Perlahan-lahan, Tiina membelai pipi Berwald sebagai tanda sayang sekaligus permintaan maaf dan menciumnya perlahan. "Kurasa kau salah, aku menyukai kekakuanmu dan sinisme yang terkadang keluar dari mulutmu. Aku senang kau bercerita padaku dengan jujur."
"Lalu?"
"Sejak awal kita bertemu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa kujabarkan dengan kata-kata. Jika Halldora tidak menyukaimu, masih ada aku disini yang menemanimu dan mencintaimu apa adanya."
"Mengapa?" desak Berwald.
Wajah Tiina mulai cerah. "Karena kau berbeda dengan pria kebanyakan dan juga kaulah yang membuatku merasa aman walau terkadang aku cemas kau hanya menganggapku anak ingusan."
Mendengar perkataan Tiina, Berwald memeluknya dengan erat sambil mencium kening Tiina dengan lembut. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa," gumamnya tertawa. "Aku yang harus minta maaf karena sudah salah paham."
Mereka cukup lama berpelukan seperti itu, Tiina hanya diam saja tetapi hatinya kini sudah merasa lebih tenang dan Berwald lah yang memecah keheningan di antara mereka berdua. "Bagaimana kalau kita ke kamar."
"Eh!" seru Tiina kaget. "Untuk apa?"
Senyuman mulai muncul di wajah Berwald lalu menggendong Tiina perlahan dan berjalan ke arah kamar. "Masa kau tidak tahu apa maksudku. Kau kan sudah besar."
Sekali lagi, Tiina menyerah terhadap Berwald, terutama untuk hal yang satu ini. Yang dilakukan Tiina adalah memeluk Berwald dengan erat dan menciumnya. "Asal kau jangan macam-macam padaku, aku setuju saja."
TBC
