Disclaimer : Kishimoto Masashi
Genre : Family / Romance
Rate : T
Warning : AU, OOC
oOo
Pein : 35 Tahun
Hinata : 16 Tahun
Conan : 30 Tahun
Itachi : 33 Tahun
Sasori : 30 Tahun
Deidara : 33 Tahun
Sasuke : 16 Tahun
Naruto+Sakura: 17 Tahun
~ CAN ~
"…in, Pein…, Pein," sudah kesekian kalinya Tobi memanggil namanya, namun tak ada sahutan dari Pein. Sepertinya Pein terlihat sibuk dengan handphone-nya, karena hampir setiap saat ia membuka dan menutup handphone flip flop ditangannya , tanpa henti. Hingga tak memperhatikan rapat yang ia hadiri kali ini.
Tobi yang mulai jengkel karena merasa tak dihiraukan Pein, memutuskan untuk menghampiri tempat duduknya, lalu menepuk pundaknya keras tanpa sungkan. Reaksi Pein diluar dugaan Tobi, dan itu membuat Tobi semakin jengkel. Seakan tahu dengan apa yang akan dikatakan Tobi padanya, Pein pun mendahului Tobi bicara sebelum Tobi melayangkan kata-katanya.
"5 menit!" Tanpa basa-basi dan Pein jelaskan pun, Tobi tahu apa yang dimaksud oleh leader Akatsuki itu.
"BLAM!" Suara pintu yang ditutup menandakan Pein tak berada dalam ruangan lagi.
"Selalu saja seperti ini kalau sudah menyangkut bocah itu. Cih!" Gerutu Tobi jengkel.
-Diluar ruang rapat-
Sudah berulang kali Pein berusaha menghubungi Hinata, namun tak ada satupun balasan. Pein mulai khawatir, lebih tepatnya sangat khawatir.
"Kenapa handphone-mu tidak aktif?" Tanya Pein pada dirinya sendiri dengan handphone yang masih setia menempel ditelinga kanannya.
"Cekrek!" Suara pintu ruang rapat dibelakang Pein pun terbuka. Seketika membuat Pein menoleh kebelakang. Memunculkan Tobi dengan wajah marahnya yang semerah kepiting rebus. Tobi menunjuk jam tangan yang ada di pergelangan kiri tanganny,a tepat didepan wajah Pein.
"5 menit kau bilang? Sekarang sudah lebih dari 15 meni,t Pein! Ada apa lagi dengan bocah itu?"
"Handphone-nya tidak aktif."
"Mungkin lowbet? Atau tidak ada sinyal?" Jawab Tobi sekenanya.
"Tidak biasanya dia begini."
"Kau telpon saja Itachi, suruh dia tanya pada Sasuke, kenapa handphone Hinata tidak aktif." Kali ini ide Tobi sangat brilliant. Tanpa buang waktu Pein menghubungi Itachi.
"Ini aku, bisa kau tolong aku, Itachi?"
oOo
"Sasuke, apa kau masih ada disekolah?"
"Hn. Kenapa? Ada urusan apa kau menelponku baka aniki?"
"Hinata. Kau tahu dia kan? Anak baru pindahan dari Amerika. Apa dia masih ada disekolah?"
"Entahlah. Aku tidak yakin dia masih ada dikelas, karena bel pulang sudah berbunyi 15 menit yang apa urusannya denganmu? Kau pengasuhnya? Ledek Sasuke."
"Sudahlah! Bagaimana pun caranya, tolong kau cari dia yah. Kalau kau sudah dapat informasi, kau segera hubungi aku. Mengerti?"
"Merepotkan."
Sasuke berjalan menyusuri koridor Konoha High School dengan santai. Kegiatan ekskul membuatnya tertahan disekolah untuk beberapa jam kedepan. Langkah kaki Sasuke terhenti didepan kelasnya 1E. Didalam kelas masih ada Karin, Ino, dan juga Shikamaru.
"Bukankah murid baru itu piket hari ini? Dimana dia?" Pertanyaan Sasuke membuat ketiga orang yang berada dalam kelas menoleh secara bersamaan, dengan pandangan curiga –tentunya.
"Jangan tatap aku seperti itu! Dia dimana?" Sasuke mulai risih dengan tatapan ketiga temannya itu. Pandangan penuh curiga yang menusuk.
"Dia membuang sampah di belakang taman," sahut Ino kemudian.
Setelah Sasuke pergi meninggalkan kelas, Ino dan Karin saling berpandangan penuh curiga. Mengingat Sasuke yang cuek, tiba-tiba menanyakan keberadaan seorang gadis adalah kejadian langkah.
"Kyaaaa!" Handphone yang tiba-tiba muncul dari kanannya membuat Hinata kaget.
"U-uchiha-san? Ada apa? Kau mengagetkanku." Seru Hinata sambil mengelus pelan dadanya.
"…" Sasuke tak menjawab pertanyaan Hinata, ia hanya mengulurkan handphone-nya pada Hinata. Dengan ragu Hinata mengambil alih handphone itu dari Sasuke, dan menempelkannya ditelinga kanannya dengan hati-hati.
"Ha-hallo," ucap Hinata hati-hati, tanpa mengalihkan pandangannya pada Sasuke.
"KENAPA HANDPONE-MU TIDAK AKTIF? SUDAH BERAPA KALI KUINGATKAN UNTUK TIDAK MEN-NON AKTIFKAN HANDPHONE-MU!" Hinata menjauhkan handphone Sasuke dari telinganya, teriakan dari seberang sana membuat telinga Hinata sakit.
"Go-gomen, Pein-san. Handphone-ku terjatuh dan rusak, jadi aku tidak bisa menghubungimu." Kali ini Hinata benar-benar merasa sangat bersalah. "Maaf sudah membuatmu khawatir," lanjut Hinata.
"Setidaknya kau bisa pinjam handphone temanmu untuk mengabariku, Hinata. Langsung pulang jangan keluar rumah selagi aku tak ada. Aku akan di Ame untuk 1 bulan kedepan."
"Hai."
"Ini," Hinata mengembalikan handphone Sasuke dengan hati-hati. Tak lupa Hinata ucakan terima kasih pada Sasuke.
"Hn." Sasuke berlalu meninggalkan Hinata yang masih terlihat murung. Baru beberapa langkah berjalan, Sasuke menghentikan langahnya, "Lain kali jangan merepotkan orang lain."
oOo
Ring… Ring… Suara telpon diruang tamu Hinata, berdering dengan keras. 'Pagi-pagi begini sudah ada yang telpon,' batin Hinata.
"Halo," jawab Hinata malas.
"Buka pintunya imoutou."
Suara dari seberang sana membuat Hinata membelalakkan matanya senang. "SASO-NII," teriak Hinata kegirangan. Walau masih menggunakan piyama, Hinata berlari kencang menuju pintu dan membukanya dengan tak sabar.
"SASO-NII, DEI-NII, ITA-NII, eh… UCHIHA-SAN?"
"Sasuke, panggil saja Sasuke," balas Itachi membenarkan.
Usai mandi dan mengganti pakaiannya, Hinata langsung menuju ruang tamu. Matanya dibuat takjub dengan semua makanan yang ada diatas meja makan.
"Banyak sekali?" Seru Hinata tak percaya.
"Ini pesta untuk merayakan pernikahanmu dengan Pein. Ayo duduklah." Dengan sopan Sasori mempersilahkan Hinata untuk duduk di kursi paling ujung.
"Arigatou."
Tanpa mengenal lelah Hinata terus menginjak lantai DDR penuh semangat, dengan Sasori sebagai lawannya. Tempat Hinata kali ini benar-benar seperti taman bermain, karena memang tidak mungkin untuk Hinata dan para anggota Akatsuki jalan-jalan keluar tanpa pengawalan, akan sangat berbahaya. Namun itu semua tak membuat Hinata bosan ataupun kesepian. Karena semua orang menyayangi Hinata, lagipula fasilitas hiburan di ruangan bermain Hinata sangat lengkap.
Deidara mengeluarkan rokok yang ada didalam kantong kemejanya, tak lupa ia menawarkannya pada Itachi yang duduk disebelahnya. Sedangkan Sasuke tengah memperhatikan Hinata yang terus menggerakkan kakinya ditengah lantai DDR, dengan raut wajah penuh tanya.
"Jangan jatuh cinta padanya Sasuke. Pein bisa menghajarmu. Hahahahahaha.." Tawa Itachi membuat Sasuke mendecik jengkel.
"Aku hanya penasaran saja."
"Penasaran? Jarang sekali aku melihatmu tertarik dengan urusan orang lain." Seru Itachi semakin antusias.
"Kalau masalah hubungan Pein dan Hinata. Itu sangat panjang," sahut Deidara.
"Bukan itu. Kenapa kalian begitu melindunginya? Seakan dia barang yang mudah pecah." Tak ada respon dari Itachi maupun Deidara. Mereka kembali menghisap rokok di tangannya dengan pelan, hingga akhirnya Itachi memecah keheningan diantara mereka.
"Tolong jaga Hinata disekolah yah, Otouto." Pinta Itachi lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju tempat Sasori dan Hinata bermain.
"Minggir kau Sasori, sekarang giliranku yang melawan Hina-chan." Ucap Itachi usai mematikan putung rokoknya.
"Sudah malam aniki, ayo kita pulang."
"Pulang? Bukankah kalian akan menginap disini? Kalian sudah janjikan?" rengek Hinata.
"Menginap? Disini?" Tanya Sasuke tak percaya, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala mantap Hinata.
"Satu perempuan dan empat laki-laki? Apa preman gila itu tidak marah?"
"Pein-san kok yang menyuruh kalian menemaniku disini," jawab Hinata dengan polosnya dan senyum naifnya. Sasuke hanya bisa tersenyum kecut menanggapi jawaban Hinata.
oOo
"Ino, ada temanmu diruang tamu." Teriakan ibu Ino menggelegar disetiap sudut ruangan rumah. Ino pun, turun dari ranjang empuknya dan berjalan turun dari kasurnya dengan malas. Sesampainya diruang tamu, betapa kagetnya Ino, ketika melihat orang yang tengah bertamu kerumahnya. Yang tidak lain adalah Sakura –sahabat karibnya.
"Kamarmu berantakan sekali Ino-pig," keluh Sakura begitu memasuki kamar Ino.
"Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari sini." Balas Ino ketus.
"Aku bercanda pig."
Sakura berjalan kesana-kemari dalam kamar Ino. Hingga perhatiannya tertuju pada handphone flip flop yang teronggok diatas meja belajar Ino.
"Sejak kapan kau ganti ponselmu?" Tanya Sakura, sambil memperlihatkan ponsel yang sekarang berpindah ditangannya.
"Itu bukan ponselku, tapi punya teman sekelasku, Hinata."
"Oh.. –tunggu," Sakura mulai mendengar sesuatu yang sangat familiar, dan sudah lama ini tidak pernah ia dengar. "Tadi kau bilang siapa?" Tanya Sakura lagi, untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.
"Teman sekelasku. Hinata, Hyuuga Hinata. Dia murid pindahan dari Amerika," jelas Ino. "Kenapa?" Tanya Ino, yang mulai penasaran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh raut wajah Sakura. Namun tak ada balasan dari Sakura. Untuk memastikannya, Sakura membuka handphone ditangannya itu tanpa permisi. Begitu Sakura membuka flip flopnya, terpampang jelas foto Hinata sebagai wallpaper.
"Akhirnya kau muncul juga, Imoutou." Seringai penuh kebencian terpampang jelas diwajah ayu Sakura.
oOo
"Sebelumnya sudah kukatakan untuk tidak membuat konsep panggung yang terlalu berlebihan. Aku paling tidak suka. Cukup minimalis dan bertema, bagiku itu sudah cukup. Jangan lupa sediakan drum lebih dari tiga untuk Dei, satu toko sekalian." Seru Pein jengkel.
"Sediakan untukku satu tiket konser ini untuk –" belum selesai Pein berucap Tobi sudah memotong perkataan Pein.
"Hinata kan? Aku tahu."
"Hn." Pein mulai berjalan menuju ruang rapat dengan Tobi berjalan dibelakang Pein.
oOo
Tet.. Tet.. Bel istirahat berbunyi diseluruh penjuru Konoha High School. Hinata mengambil bento dari dalam tasnya. Terlihat Ino mengulurkan handphone flip flop milik Hinata.
"Gomen ne Hinata-chan. Ini, ponselmu sudah sembuh total," Hinata mengambil ponsel miliknya dari tangan Ino, lalu membukanya untuk memastikan kalau ponsel itu benar-benar sudah sembuh total.
"Sankyu, Ino-chan."
"Boleh aku makan disini denganmu?"
"Tentu saja."
Tet.. Tet.. Tak terasa, bel pulang pun berbunyi. Dan ini, baru 1 minggu Pein di Ame, masih kurang 3 minggu lagi.
Pein-san, handphone-ku sudah sembuh.. hihihihi –Hinata-
Baru saja sms Hinata terkirim. Tiba-tiba handphone Hinata bordering, pertanda ada telpon masuk yang tak lain adalah Pein.
"Halo. Kenapa menelponku? Apa kau tidak sibuk?"
"Langsunglah pulang jangan mampir kesembarang tempat."
"Uhm."
oOo
"Penonton kali ini membeludak. Banyak fans Akatsuki yang iri dengan Konoha. Kenapa hanya konoha yang dijadikan tempat pilihan? Kenapa tidak semua tempat saja?" Seru Tobi, membacakan opini para penggemar Akatsuki yang terpampang di blog.
"Itu juga yang sedang kupikirkan. Dan itu adalah tujuanku datang kemari. Sudah kuputuskan kalau Akatsuki akan mengadakan konser didua tempat. Konoha dan Ame."
"Yang lainnya bagaimana?" Tanya Tobi.
"Mereka setuju! Sekarang tinggal kau saja, bagaimana?"
"4 lawan 1, itu tidak mungkin untukku menang, kan?"
"OK! Konoha dan Ame."
oOo
"Kau rapi sekali aniki, kau mau kemana?"
"Selama 2 minggu kedepan aku dan yang lainnya akan pergi ke Ame. Ada tambahan jadwal konser, dan jumpa pers."
"Ah, titip Hinata-chan yah, tolong kau ikuti dia, kemana pun dia pergi. Ingat, kemana pun!" Lanjut Itachi, lebih terkesan seperti ancaman daripada permintaan ditelinga Sasuke.
"Ck. Dia bukan anak kecil lagi aniki. Lagipula aku bukan pengasuhnya."
"Untuk yang satu ini, kami benar-benar mengandalkanmu Sasuke," sorot mata Itachi kali ini tidak main-main, membuat Sasuke semakin dibuat bingung.
'Siapa kau sebenarnya Hyuuga Hinata? Kenapa semua orang sangat melindungimu?'
oOo
Hinata berjalan menuju gerbang sekolah. Hari ini sangat melelahkan bagi Hinata. Pelajaran olah raga menguras seluruh tenaganya. Rasanya Hinata tak sabar untuk merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Sepertinya rencana Hinata akan sedikit tertunda, karena dari arah belakangnya, Ino dan Karin menghampirinya.
"Hari ini ikut kami ke acara gokon yah? Kita kurang 1 orang Hinata. Onegai!" Melihat Karin dan Ino memohon dan mengatupkan kedua telapak tangannya didepan wajah mereka, membuat Hinata tak dapat berkata 'Tidak'.
Dari jarak beberapa meter, Sasuke terus mengikuti Hinata. Entah kenapa, kakinya seakan berjalan sendiri seperti yang dipesan oleh Itachi untuk terus mengikuti kemana pun Hinata pergi.
oOo
Jumpa pers akan segera dimulai. Para penggemar Akatsuki telah menunggu diluar ruangan dengan sangat antusias. Kedatangan para anggota Akatsuki di Ame disambut dengan sangat meriah oleh para fans mereka. Pein turun lebih dulu, disusul dengan Itachi, Deidara, lalu terakhir Sasori. Mereka memasuki hotel tempat jumpa pers dengan sangat keren. Aura mereka tak dapat disembunyikan lagi. Pein –selaku leader Akatsuki- membuka acara jumpa pers terlebih dahulu.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua diruangan ini. Kami tidak menyangka sambutan kalian akan semeriah ini. Seperti yang kalian harapkan, Akatsuki akan mengadakan konser di dua tempat. Konoha dan Ame." Sorak sorai terdengar di dalam ruangan maupun luar ruangan. Kebahagian para fans mereka tak dapat ditahan lagi. Tak sedikit dari mereka menangis sesenggukan.
"Semoga kembalinya Akatsuki dapat menghibur dan mengobati kerinduan para penggemar kami." Tambah Sasori tak lupa ia ikut sertakan kerlingan mautnya. Sontak membuat semua penggemarnya meneriakkan namanya.
"Aku tidak sabar merusak drum sebanyak-banyaknya diatas panggung." Seru Deidara tak pernah serius, yang langsung menerima deathglare dari Tobi.
"Semoga single terbaru kami dapat mengobati kerinduan kalian." Kali ini Itachi ikut serta, tak mau kalah dari teman-temannya.
"Untuk mendukung berhasilnya konser ini, kami akan bekerja sama dengan pihak agency di Ame. Seorang gadis cantik yang sudah sangat kita kenal tentunya, Konan." Tobi benar-benar tak mau kalah kali ini. Kata-katanya mendapat perhatian dari semua anggota Akatsuki tak terkecuali Pein.
Para anggota Akatsuki saling berpandangan tak percaya, dengan apa yang mereka dengar –tentunya. Namun, Pein dengan santai berdiri dan menyambut kehadiran Konan dengan eksprsi khas Pein yang cool. Sekarang Konan berdiri tepat disamping Pein. Untuk menandakan mereka telah bekerja sama, Pein dan Konan saling menjabat tangan. Untuk kedua kalinya Pein dan Konan dipertemukan oleh takdir dengan situasi dan status yang berbeda.
oOo
-Kamar Hotel Tobi-
"Apa maksudmu?" Tanya Pein tanpa basa-basi.
"Tidak ada. Hanya untuk keberhasilan konser kalian saja."
"Ck! Aku tak yakin." Usai berkata, Pein pergi meninggalkan kamar Tobi.
oOo
Hinata, Ino, dan Karin sampai disebuah maid café yang tak seberapa jauh dari sekolah mereka. Langkah Hinata terhenti didepan pintu masuk, ketika melihat seorang gadis berambut pink duduk membelakanginya di meja paling pojok café. Sebelumnya Hinata tak begitu yakin, namun setelah gadis berambut pink itu membalikkan badannya, dan Ino –teman sekelasnya- menyerukan nama gadis itu, tak ada alasan lagi bagi Hinata untuk berfikir bahwa dia bukanlah –Sakura.
"Sakura-chan!" Teriak Ino, sambil menyeret Hinata mendekati meja Sakura berada.
"Oh iya, aku hampir lupa. Dia Hyuuga Hinata. Dia murid pindahan dari Amerika yang kuceritakan sebelumnya padamu." Jelas Ino panjang lebar, yang hanya ditanggapi dengan seringaian oleh Sakura.
"Hai Hinata, lama tak jumpa, -nee imoutou." Ucap Sakura seraya mengulurkan tangannya pada Hinata.
Hinata masih tak bergeming sama sekali. Padahal sudah 2 tahun, ia persiapkan untuk datangnya hari ini.
'Ada apa denganku?'
'Kenapa aku kembali takut?'
'Pein, apa yang harus kulakukan?'
Dengan tangan yang bergetar hebat, Hinata membalas uluran tangan Sakura.
"Kau tetap saja seperti dulu imoutou, penakut!"
Sasuke yang memperhatikan dari kejauhan dibuat tak percaya dengan apa yang ia lihat kali ini.
"Jadi Hinata punya keluarga. Itu artinya ia tak sebatang kara. Lalu, kenapa selama 2 tahun ini, ia tinggal di Amerika dengan Pein?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri.
Acara gokon telah dimulai. Ino mulai khawatir dengan keadaan Hinata yang tiba-tiba menjadi diam. Begitu juga dengan Karin. Hingga pengundian pun dimulai. Sudah ditetapkan pasangan masing-masing.
"Hai Hinata. Salam kenal namaku Aburame Shino." Sontak Hinata mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. "Kau ternyata sangat cantik, beruntung sekali aku mendapatkanmu hari ini." Lanjut Shino kegirangan.
"Kau tidak apa-apa Hinata?" Tanya Ino dan Karin khawatir, namun tak ada jawaban dari Hinata.
Shino mulai seenaknya dan tak sopan pada Hinata. Ia rengkuh pundak Hinata dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya ia letakkan diatas paha Hinata. Hinata mulai menitikkan air matanya. Takut. Melihat semuannya, membuat Sakura mengeluarkan seringai jahatnya.
'Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh dan penakut? Kenapa?' Ronta Hinata dalam hati.
Sasuke yang mulai jengkel melihat Hinata tanpa perlawanan, mulai berjalan menghampiri tempat Hinata berada. Tanpa aba-aba, Ia tarik paksa pergelangan tangan Hinata yang terkatup rapat di atas pahanya. Hinata benar-benar kaget melihat kehadiran Sasuke secara tiba-tiba. Sasuke menyeret Hinata paksa sampai didepan seberang jalan café.
"Kalau kau tidak suka disentuh olehnya katakan saja. Jangan diam saja. Kalau kau seperti itu, apa bedanya kau dengan boneka? Kau jadi seperti hiasan rumah sa- PLAAAK." Belum sempat Sasuke melengkapi kalimatnya, telapak tangan kanan Hinata terlebih dulu mendarat di pipi kiri Sasuke dengan sukses.
"Ke-kenapa? Ke-kenapa kalau denganmu aku berani? Sedang dengannya aku takut? Kenapa? Tak perlu kau ingatkan aku. Dari dulu ayah juga selalu meremehkanku. Boneka yang sudah usang dan tak berguna sepertiku memang sudah seharusnya dibuang dan diganti dengan yang baru dan lebih layak. Seperti Sakura, itu kan yang kau maksud? –Hiks..Hiks.." Sasuke terperangah tak percaya melihat gadis yang sebelumnya selalu ceria, tiba-tiba menangis didepannya. Kali ini Sasuke sadar, dia keterlaluan. Mengejar Hinata sekarang tak ada gunanya, itu hanya akan membuat Hinata bertambah marah.
oOo
Pukul menunjukkan 00.00, Hinata tetap bertahan dengan posisinya, terduduk bersandar dibelakang pintu kamarnya, dengan kedua kaki ditekuk dan kepala tenggelam di sela-sela pahanya. Menangis. Dengan seragam sekolah yang masih setia melekat ditubuhnya.
"Pein. Pein. Pein." Hinata terus menyebut nama Pein dengan suara yang bergetar hebat. Kali ini, Hinata telah mencapai limit. Ia mulai merangkak meraih handphone yang terletak didalam tasnya. Dengan ragu-ragu, ia tekan tombol 1. Panggilan pertama tak ada jawaban. Panggilan kedua juga tak ada jawaban, hingga 15 kali Hinata mencoba, namun tetap sama.
Pukul 01.34, Pein baru saja memasuki kamar hotelnya di Ame. Usai menyalakan lampu kamarnya, ia buka seluruh kancing kemejanya, tak lupa ia kaitkan jasnya pada penggantung jas di samping lemari. Pein membanting tubuhnya diatas king bed di depannya dengan posisi tengkurap. Dengan malas, Pein meraih handphone-nya yang tergeletak diatas kasur, tepat didepannya. Pein merubah posisi tengkurapnya menjadi duduk setelah melihat ada 15 misscall dari Hinata.
Tetap dengan posisi yang sama, dan keadaan yang sama. Tiba-tiba handphone Hinata berbunyi pertanda ada pangilan masuk. Dengan lembut, Hinata membuka handphone flip flopnya.
"Maaf baru bisa mengubungimu. Tadi handphone-ku kutinggal dikamar." Jelas Pein dari seberang sana.
"Kenapa kau menelponku tengah malam? Tidak biasanya?"
"…" Tak ada jawaban sama sekali dari Hinata.
"Hinata.. Kau marah? Kalau kau tidak bicara, bagaimana aku tau kau baik-baik saja." Ucap Pein penuh kekhawatiran. Samar-samar, Pein mendengar isak tangis Hinata.
"Kau menangis? Apa yang terjadi? Katakan padaku."
"Hiks..Hiks.. Su-sudah 2 ta-tahun a-aku mempersiap-kan da-datangnya hari i-ni, ta-tapi kenapa? Kenapa a-ku te-tap pe-na-kut.. hiks..hiks..
"Tunggu aku! Aku akan pulang malam ini juga!"
"Ja-" belum sempat Hinata melengkapi kata-katanya, Pein sudah menutup telponnya terlebih dulu.
Yang ditakutkan Pein kali ini benar-benar terjadi. Tapi tak pernah terlintas dalam benak Pein, akan datang disaat ia tak ada disamping Hinata. Kali ini, Pein merasa dirinya tak berguna sebagai suami Hinata.
TBC
Dari awal, Presel sudah merencanakan kalau konfliknya adalah keluarga. Udah bosen sama konflik percintaan soalnya *Ketawa garing*
Kenapa umur Pein dan Hinata sangat sangat jauuuuhhh?
Karena aku suka XD #ditendang readers
Tapi emang bener loh itu alasannya :D
Presel mau ucapin makasih buat yang udah nge-fav story Gaje ini ==" hehehe
Karena Presel pecinta Sasuke, jadi jangan harap Sasuke jadi jahat disini, itu sangat tak mungkin kulakukan padanya XD wkwkwkwkwk
Terima kasih juga buat yang udah review :
Mitsuki Ota : 1. Hahahaha.. gomen buat typonya, soalnya habis nulis langsung update g pake edit ==" semoga yang ini tak ada *berdoa
2. Asyikkan? Pein jadi seperti pelindung gitu buat Hime XD
3. Bahasaku gaul? Tidak mungkin, masak?
4. Apa ini masih terlalu pendek? =="
5. Thanx for fav, cin XD
YamanakaemO : Bagaimana alurnya? Masih terlalu cepatkah?
Zoroutecchi : Kamu juga cepat selesaikan fic mu itu.. Aku nunggu sampek lumutan T_T
Aiwha : Nih dah update! Pein emang paling coooooooolll XD
Yoriku : Nanti akan kuceritakan awal mula pertemuan mereka tapi gak sekarang.. hehehe
Thanks For Reading ^^
