Title : When I Feel Lonely

Genre : Romance/Hurt

Rating : Fiction T

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kin Ryeowook, Lee Sungjin, and the other members of Super Junior

Disclaimer : All of them belong to themselves and GOD. I just borrow their name.

Warning : GS, OOC, Typo, Gajelas, Aneh

Summary : Ini pertama kalinya buat bikin FF GS, jadi kalo bener2 OOC maafkanlah._. Dont like dont read

Review Chapter 1

"Bagaimana kalau kita bertaruh?" ajak Heechul bersemangat. Semua pasang mata melirik ke arah Heechul tersenyum, diikuti dengan anggukkan setuju dari temannya yang lain. Sungmin sedikit tertarik namun berusaha untuk tetap tidur, tugas yang menumpuk membuat Sungmin sulit untuk tidur dan memilih untuk mengerjakan tugas-tugasnya."Kita semua memiliki nilai yang buruk dalam pelajaran Sejarah. So, yang memiliki nilai paling rendah harus..." Heechul menggantungkan kalimatnya, sedangkan yang lain semakin penasaran dan mendekatkan telinganya ke arah Heechul. "Menjadikan Lee Sungmin sebagai pacarnya!"

Sungmin tersedak liur sendiri saat Heechul mengatakannya. Apa? Menjadikanku pacar? Apakah rasa cinta itu memang dapat dipermainkan dengan mudahnya?

"Ya! Dia disini! Bagaimana bisa kau mengatakan itu di depannya pabo!" Donghae meninju pelan lengan Heechul sambil melirikkan matanya ke arah Sungmin. Sungmin berusaha mati-matian untuk menahan rasa gatal yang menggelitik tenggorokkannya.

"Dia sedang tidur, dia tidak akan mendengarnya Hae-ya. Lihatlah, dia tidur pulas sekali sampai dia pun tidak terbangun meskipun kita berisik dari tadi."

"Kenapa harus dia? Seorang Lee Sungmin?" Choi Siwon yang sedari tadi hanya diam mulai mengeluarkan suaranya.

"Mengapa? Karena dia aneh, seorang yeoja yang pemalu dan tidak pandai bergaul. Kau lihat bukan, ia tidak punya teman. Daripada dia terus seperti itu, bukankah lebih baik dia menjadi mainan kita? Itu akan lebih membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna." Heechul menjelaskannya dengan semangat.

Kyuhyun tidak menanggapi usulan teman-temannya. Kyuhyun diam dan terus berkutat dengan majalah otomotif yang sedang ia pegang.

"Bagaimana menurutmu Kyu?" tanya Eunhyuk. Kyuhyun mendongak.

"Aku..."

Chapter 2

"Aku tahu bahwa ini akan berujung sebagai sebuah penantian."—Lee Sungmin

"Aku..." Kyuhyun menggantungkan suaranya, sedangkan semua pasang mata mulai memancarkan tatapan penuh harap akan jawaban yang akan diberikan Kyuhyun.

"Cepatlah jawab Kyu. Kami disini menunggu jawabanmu." Lee Donghae mengeluarkan suaranya.

"Aku ikut." Jawab Kyuhyun yang masih terus terfokus pada majalahnya. Semuanya terbelalak kaget dan terus berdiam di tempatnya dengan mulut terbuka.

"Ya! Lee Hyuk Jae! Tampar aku!" teriak Heechul. Masih dengan mulut terbuka dan memaksa Eunhyuk menyentuh pipi lembutnya. Eunhyuk sangat memanfaatkan kesempatan ini.

PLAAKKK! Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi mulus Heechul. Heechul segera menyentuh pipi kirinya yang terasa perih dan memandang Eunhyuk geram. Tatapannya seakan-akan ingin menelan namja anchovy itu hidup-hidup sekarang juga. Jika ini merupakan kartun yang tampil di televisi setiap pagi, wajah Heechul mungkin sudah berwarna merah dan muncul asap diatas kepalanya.

"YAAA! LEE HYUK JAE! APA YANG KAU LAKUKAN PADA WAJAH CANTIK MILIKKU INI!" teriakan Heechul kali ini sungguh keras. Beberapa siswa yang berdiri di depan kelas menoleh kaget ke arah Heechul. Sungmin dan Kibum juga ikut menoleh ke sumber suara. Hanya sekilas, kemudian Sungmin kembali ke menatap struktur meja didepannya, begitu juga dengan Kibum yang kembali asyik dengan buku yang sedang dibacanya.

"Ah, bukannya kau yang ingin aku menamparmu?" Eunhyuk menjawab pertanyaan Heechul dengan wajahnya yang super polos. Heechul berfikir sejenak, kemudian kembali duduk. Merasa bodoh dan dibodohi. Semuanya tertawa terbahak-bahak, kecuali Heechul yang masih merasa pipinya perih dan memikirkan pembalasan yang pantas untuk seorang Lee Hyuk Jae.

"Aku tidak salah dengar Kyu? Kau mau ikut permainan ini?" tanya Siwon. Kyuhyun menoleh, meletakkan majalahnya diatas meja.

"Kalian semua tidak salah dengar. Aku ikut." Jawab Kyuhyun.

"Kau sangat aneh hari ini, Kyu. Appo?" tanya Donghae sambil menyentuh dada Kyuhyun pelan. Kyuhyun langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh dari Donghae, menatap Donghae tajam. Namun Donghae tetap melakukannya.

"Ya! Apa yang kau lakukan! Jangan menyentuhku!" Kyuhyun terusik dengan tangan Donghae yang terus saja ingin menyentuh dadanya itu.

"Aku tidak bercanda Kyu. Appo?"

"Ani." Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada teman-teman yang lain."Jangan bahas itu disini. Dan jangan membahas permainan itu disini." Dagu Kyuhyun menunjuk ke arah Sungmin, memberitahukan teman-temannya bahwa Sungmin sudah terjaga dari tidur siangnya. Kyuhyun melangkah pergi meninggalkan kelas. Donghae kembali duduk ditempatnya semula.

"Sebenarnya apa yang ada difikiran Kyuhyun? Dia tidak pernah mau ikut permainan seperti ini. Mengapa kali ini dia menyetujuinya?" Donghae berfikir keras, begitu pula dengan yang lainnya.

...

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Waktu ujian telah selesai. Sungmin buru-buru menulis apapun yang ada di otaknya dan mengumpulkannya kepada Kim Songsaengnim yang sudah menunggu di depan. Sungmin membereskan buku-bukunya dan segera keluar kelas. Berjalan ke arah sekolah adiknya yang sudah menjadi rutinitas nya sehari-hari. Kalau bukan Sungmin yang menjemputnya? Siapa lagi?

Sungmin memutar mp3 playernya dan bersenandung kecil mengikuti alunan musik, memperdengarkan suara yang merdu dari sana. Pikirannya melayang kembali memutar waktu. Suara Kyuhyun, tatapan pertama Kyuhyun yang ditujukan kepadanya, sikap cueknya. Apa benar ini yang dinamakan cinta? Oh Aku tidak percaya!

Suara deru motor terdengar keras sekalipun Sungmin masih meletakkan headset di telinganya. Sungmin tersenyum senang dan melihat sekitar. Motor itu melaju cepat, melawan hembusan angin yang sama-sama bertiup kencang. Dilihat dari manapun, seorang Cho Kyuhyun tetaplah tampan! Bisakah aku naik motor itu bersamanya suatu saat?

Namja itu Cho Kyuhyun, yang belakangan ini mengisi penuh otak Sungmin. Bayangannya mengikuti Sungmin sepanjang waktu. Tidak bisa hilang sekalipun diacuhkan.

"Sungjin. Kajja kita pulang." Sungmin menepuk pundak Sungjin pelan dan menggandeng tangan adiknya yang sedang berlutut bermain pasir membelakangi. Sungjin meringis pelan. "Sungjin? Apa yang terjadi?" Sungmin berlutut dan melihat kedua lutut Sungjin yang berdarah. Sungjin hanya tersenyum pada Sungmin.

"Tadi aku terjatuh noona." Sungjin tersenyum kecil. Sungmin melepaskan tas punggung dan menggantungnya didepan. Sungmin berjongkok didepan Sungjin, menyuruh Sungjin untuk menaiki punggungnya.

"Ayo naik. Kita pulang. Noona akan membersihkan lukamu dirumah." Ujar Sungmin. Sungjin memeluk leher Sungmin erat kemudian naik ke punggung Sungmin. Sungmin bangkit berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan sekolah.

"Aku terjatuh didorong teman perempuanku noona." Sungjin membuka pembicaraan. Sungmin mengangguk angguk. "Dia tadi ada disebelahku saat noona datang, apa noona melihat wajahnya?" Sungmin menggeleng. "Dia tidak sengaja mendorongku dan melihat lukaku dengan wajah merasa bersalah. Dia menangis. Aku tahu noona tidak akan memarahinya, tapi dia tidak berani melihat wajah noona karena takut dimarahi."

"Hmm.." Sungmin hanya membalasnya dengan sebuah deheman. Sungjin memeluk leher Sungmin lebih erat dan melihat wajah Sungmin.

"Noona, kau sakit?" Sungmin tersadar. Oh Tuhan, bahkan aku sampai mengabaikan keberadaan Sungjin sekarang. Noona macam apa aku ini! Sebegitu berartinya keadaan Kyuhyun di khayalanku?

"Aniya. Noona hanya sedang memikirkan sesuatu. Mianhae Sungjin-ah."

"Gwaenchana noona. Aku tahu noona mendengarkanku meskipun tidak semuanya tercerna dalam otak noona." Sungjin tersenyum, dapat terlihat dari ujung mata Sungmin.

Sungmin mengambil kotak P3K yang ada dikamar dan kembali ke kamar Sungjin. Sungjin duduk manis memandangi noona nya yang asyik mengoleskan antiseptik di lutut Sungjin. Pintu garasi terbuka menimbulkan suara decitan yang agak membuat telinga terasa ngilu. Sungmin mendapati mobil tersebut bertengger di garasi dan kedua orang itu turun. Melihat raut wajah mereka Sungmin sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Sungjin-ah. Dengarkan noona. Tutup telingamu rapat-rapat, jangan mendengar apapun. Tutup matamu, jangan melihat apapun." Sungmin menunduk.

"Waeyo noona? Appa eomma sedang dirumah. Mereka pasti menyambut kita. Appa eomma bogoshipo." Jawab Sungjin tersenyum. Suara pintu di banting terdengar jelas.

"Sungjin-ah. Tutup telingamu, tutup matamu." Sungmin mengambil kedua tangan Sungjin dan memaksa Sungjin untuk menutup telinga. Sungmin melihat headset yang tergeletak di meja kecil sebelah kasur Sungjin. "Sungjin-ah. Dengarkan ini!" Sungmin memakaikan headsetnya di telinga Sungjin.

Sungjin menurut meskipun bingung dengan sikap Sungmin. Sungmin buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Kemudian memeluk Sungjin di kasur dengan dibungkus selimut tebal.

"Noona. Appo..."

Sungmin merenggangkan pelukannya. Sedikit membuat Sungjin lebih merasa leluasa untuk bergerak. Luka kecil di kakimu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan luka di hati noona, Sungjin-ah...

Sungmin terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku ketiduran...

Sungmin melepaskan Sungjin yang masih dipeluk. Melihat wajah Sungjin yang sangat manis ketika tidur mengurungkan niat Sungmin untuk membangunkan adiknya dan menyuruhnya mandi. Suara suara ricuh sudah tidak terdengar. Sungmin merasa keadaan sudah mereda dan berjalan keluar kamar Sungjin. Kedua matanya menangkap kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga dan membicarakan suatu hal.

"Appa..Eomma.." Sungmin berjalan menunduk.

"Sungmin-ah. Mianhae sudah membuatmu merasa sulit mengurus Sungjin." Kata Appa. Sungmin hanya menunduk. Menunjukkan wajahnya yang sedih? Menunjukkan wajahnya yang ingin menangis? Ini hanya akan membuat segalanya bertambah rumit.

"Appa Eomma akan bercerai."

...

Kedua matanya sembab. Rambutnya kusut berantakan. Pakaiannya masih pakaian yang kemarin. Perut kosong. Sungmin duduk di pojok tembok kamar dengan melipat kedua kakinya. Menenggelamkan wajah manisnya dibalik lengannya. Yang pasti, Sungmin sangat terlihat berantakan hari ini.

"Noona. Uljima. Ayo kita sekolah noona." Sungjin menangis memeluk tangan Sungmin. Namun Sungmin membiarkannya, tidak membalas ajakan Sungjin dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Sungjin lapar, dia ingin makan, namun melihat Sungmin seperti ini Sungjin merasa waktunya tidak tepat untuk meminta Sungmin membuat makanan untuknya.

"Aku tahu kau lapar. Ayo noona buatkan makanan untukmu." Sungmin pintar menebak.

"Apa perlu aku telepon ryeowook noona? Aku rasa noona membutuhkannya sekarang?" tanya Sungjin. Langkah Sungmin terhenti.

"Tidak perlu. Wookie juga mempunyai urusannya sendiri. Jangan mengusiknya." Sungmin berjalan kembali ke arah dapur. Sungjin mengikutinya.

"Noona. Apa yang terjadi? Apa yang Appa Eomma lakukan semalam? Saat aku terbangun mereka sudah pergi."

"Tidak ada yang terjadi. Diamlah dan tunggu noona selesai memasak. Hari ini kau tidak perlu bersekolah. Aku sudah mengatakannya ke gurumu kalau kau sedang tidak enak badan. Besok akan noona antar ke sekolah." Sungmin sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas disambut tatapan sendu Sungjin.

...

1 week later...

"Apa yang kau lakukan hah?!" suara Kyuhyun menggema di ruangan kelas 1-E. Murid-murid lain berlarian keluar. Kyuhyun mengamuk dan bisa dipastikan wajah Kyuhyun merah padam dan hendak menelan orang-orang yang berdiri di hadapannya, menertawakan nilai ulangan sejarah Kyuhyun yang mendapat nilai terendah di kelas.

"Ya! Kyu! Terimalah. Kau mendapat nilai yang terkecil. Masih tidak menerimanya?" Siwon merangkul Kyuhyun yang masih dipenuhi luapan emosi.

"Aku sengaja melakukannya." Ujar Kyuhyun.

"Mwo? Sengaja? Ya! Cho Kyuhyun! Kau maniak wanita? Sekalipun iya kau harus mencari wanita yang lebih cantik dari Lee Sungmin. Apa yang bisa kau dapatkan dari seorang Lee Sungmin?" Eunhyuk menatap Kyuhyun bingung.

"Dia tidak cantik. Tubuhnya tidak langsing dan proposional. Rambutnya juga ikal. Aku hanya kasihan! Jika mereka bersama kalian-kalian, apa jadinya dia?! Kalian akan memanfaatkannya untuk hal yang tidak-tidak." Jelas Kyuhyun. "Lagi pula dia tidak terkenal."

"Memang apa hubungannya dengan ketenaran Sungmin? Dia memang tidak terkenal karena cantik, mungkin terkenal dengan keanehannya?"

"Aku ingin mencoba bermain aneh." Jawab Kyuhyun. Mulut Heechul menganga lebar.

"Baiklah baiklah. Aku mengerti. Selamat bersenang senang." Heechul melenggang pergi diikuti teman yang lain. Kyuhyun diam.

"Hanya kasihan. Dia mirip eomma." Ujar Kyuhyun dalam hati.

Kyuhyun duduk sendirian di kelas itu bermain dengan PSP nya. Terdengar suara pintu dibuka lebar, Kyuhyun menoleh dan mendapati Sungmin masuk dengan tampang kusut dan malas.

"Dia masuk saat sudah istirahat?" batin Kyuhyun bingung. Kyuhyun menghampirinya dan duduk disebelahnya. Sungmin terusik dengan kehadian Kyuhyun disampingnya.

"Ada apa?" Sungmin bertanya gugup. Disaat seperti ini kau masih bisa gugup Lee Sungmin?

"Apakah aku mengganggu?" tanya Kyuhyun. Sungmin menggeleng cepat.

"Maukah kau menjadi pacar seorang Cho Kyuhyun?" Sungmin terbatuk dan segera menutup mulutnya tidak percaya. Oh Tuhan...Ini tidak lucu. Mungkinkah Kyuhyun yang mendapatkan nilai terendah di ulangan sejarah kemarin? Meskipun seperti itu, dia benar-benar mengucapkannya? Meskipun dia hanya kalah dalam taruhan itu?

"Ah mungkin kau salah orang..Aku Lee Sungmin.. Atau mungkin kau mabuk? Mau aku antar ke ruang kesehatan?"

"Aku tidak salah orang. Aku mengatakannya untuk Lee Sungmin bukan untuk yang lain." Kyuhyun menatap Sungmin serius.

"Sekalipun aku menjawab iya, aku yakin hubungan ini tidak akan bertahan lama. Apa kau ingin berfikir dulu sebelum kau benar-benar berhubungan dengan seorang Lee Sungmin?"

"Tidak bisakah kau langsung mengatakan 'ya'? Ini terlalu bertele-tele."

"Baiklah. Ya, aku mau menjadi pacarmu Cho Kyuhyun." Sungmin menatap mejanya dengan tatapan sendu. Kyuhyun menatap papan tulis didepan.

"Berarti mulai saat ini kau adalah milikku. Aku berkuasa atas dirimu, dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi pada dirimu. Aku akan menjaga dirimu semampuku. Dan...berbahagialah karena memiliki seorang pacar seperti Cho Kyuhyun. Berbahagialah karena kau yang memilikiku. Bukan wanita lain manapun." Jelas Kyuhyun panjang lebar. Sungmin menganga tidak percaya. Namun Kyuhyun kembali ke kursinya dan melempar senyum manis ke Sungmin.

...

Sungmin berjalan menyusuri trotoar menuju ke sekolah Sungjin. Tersenyum kecil mengingat apa yang terjadi tadi siang. Apa Tuhan menginginkan aku untuk bahagia? Apa Tuhan menginginkan aku untuk bisa mengacuhkan masalah di keluargaku? Apa Tuhan hanya ingin mengecohku? Apa Tuhan mempunyai kehendak yang lain? Mengingat hal ini bukan hal wajar yang bisa terjadi padaku.

Sebuah motor melaju kencang dengan suara khasnya. Lagi-lagi Sungmin berfikiran tahu bahwa itu adalah suara motor Cho Kyuhyun. Oh!Sungmin bahkan sudah mulai tergila hingga ia tidak menyadari sekelilingnya dan hanya mempedulikan Cho Kyuhyun yang berada dalam angannya sekarang.

"Hey!" Sebuah tangan menyentuh pundak Sungmin pelan. Sungmin menoleh dan mendapati Kyuhyun berdiri di belakang dengan senyum evilnya.

"Ada apa Kyuhyun-ssi?" Sungmin mengembalikan lehernya ke tempat semula. Kyuhyun melepas tangannya dari pundak Sungmin dan mensejajarkan kakinya dengan langkah Sungmin.

"Ya! Jangan memanggilku dengan embel-embel –ssi! Aku tidak suka!" bentak Kyuhyun.

"Loh? Memang kenapa?" tanya Sungmin takut.

"Hanya tidak suka. Kita ini sudah berpacaran. Jadi jangan memanggilku dengan embel-embel –ssi!"

"Ba...baik...baiklah Kyu..." cicit Sungmin pelan. Kyuhyun melihat wajah Sungmin dengan jarak yang sangat dekat membuat Sungmin merasa grogi. Ia menggigit bibirnya sambil terus menunduk.

"Mianhae sudah membuat takut. Aku tidak terlalu menyeramkan seperti yang kau kira. Dan jangan gigit bibir pink mu itu. Nanti terluka."

Sungmin mengangkat kepalanya dan Kyuhyun segera mengukir senyum manis semanis-manisnya. Tangan besar Kyuhyun mengacak-ngacak rambut ikal milik Sungmin. Membuat pipi sang yeoja itu tampak merona.

Bahkan, sekalipun ini hanya mimpi, biarkan aku menikmati mimpi ini, Tuhan. Biarkan waktu berjalan lambat saat aku merasakan kebahagiaan ini. Dan biarkan waktu berjalan cepat saat aku merasakan beban berat di dalam hidupku. Batin Sungmin.

"Kau mau kemana? Lain kali beritahu aku kemanapun kau akan pergi." Kata Kyuhyun.

"Untuk apa?" tanya Sungmin bingung.

"Bukankah sudah ku katakan? Kau adalah milikku sekarang. Jadi mulai sekarang beritahu aku kemanapun kau akan pergi."

Sungmin tidak membalas pernyataan Kyuhyun. Sungmin terus melangkahkan kakinya menikmati semilir angin lewat yang membuatnya rambutnya sedikit berkibar. Sebuah benda dikepalanya membuatnya tersentak kaget dan menggerakan tangannya untuk menyentuh benda yang berada di kepalanya sekarang. Sungmin melirik Kyuhyun yang sedang membenarkan posisi beanie hat yang dipakai Sungmin.

"Jangan sampai kau sakit. Jangan sampa kau terluka. Ketika sesuatu terjadi pada dirimu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku." Ujar Kyuhyun.

"Itu semua hanya bualanmu semata Cho Kyuhyun." Ucap Sungmin di dalam hati.

-To Be Continued-

Sungmin tahu dari awal bahwa ini hanya permainan Cho Kyuhyun.

Tetapi Sungmin masih tetap menerima Cho Kyuhyun.

Apa yang akan terjadi dengan Sungmin selanjutnya?

Please RnR ^^

Saya tunggu review dari kalian semua yang membaca FF saya.

Kamsahamnida

Special Thanks :

MinPumpkins ; cho minhyunie ; 18thOfMay ; nonkyu c:

Saya mohon maaf jika ada nama yang tidak tercantum disana._. Saya hanyalah manusia biasa yang bisa salah juga._.

Selanjutnya fanfic ini mungkin akan lama baru bisa update. Saya hanya seorang pelajar biasa yang masih harus menjunjung tinggi nilai-nilai tugas sekolah saya._. *kibas rambut*

Follow twitter saya yaaaaa : sherenig untuk tanya tanya ataupun untuk sekedar berteman juga boleh c: gamsahamnida *bow 90 derajat*