The day we meet!
Sudah tiga minggu sejak aku tiba di Seoul dan sore ini aku ada kegiatan klub taekwondo. Aku memang ingin melanjutkan seni bela diriku yang sempat terpotong karena aku harus pindah kesini, jadi disinilah aku sekarang, di depan salah satu dojang (tempat latihan taekwondo) yang jaraknya cukup dekat dengan apartemenku. Ruang latihan sudah penuh saat aku membuka pintu, kulihat sabeum (instruktur) sudah hendak bersiap. Dengan cepat aku mengganti pakaianku dan bergegas melakukan pemanasan bersama yang lain.
Aku pulang agak malam karena harus membeli beberapa bahan makanan. Malam ini aku dan yang lainnya berencana makan malam bersama di rumah ajumma dan ajusshi. Aku mengetuk pintu rumah ajumma dan Ji Yeon membuka pintu sambil tersenyum. Rupanya semua anak perempuan sudah datang dan membantu ajumma didapur.
"Bisa tolong kau pegangi ini untukku? Aku harus ganti baju." Kataku sambil menyerahkan belanjaanku pada Hyo Sung
"Nado al-a, sudah sana cepat ganti bajumu. Oh ya, kita kedatangan tamu hari ini, mereka bilang salah satu keluarga Lu Han akan berkunjung jadi kami semua sedang bersiap menyambutnya." Kata Hyo Sung bersemangat.
"Jeongmal? Wah, bagus kalau begitu. Sepertinya belakangan ini Lu Han kesepian." Jawabku datar.
"Aish, mengapa responmu seperti itu! Seharusnya kau lebih bersemangat, seperti ini, Benarkah?AAAA! atau ARE YOU KIDDING? Tapi ya sudahlah kau memang seperti itu, susah sekali membuatmu terlihat bersemangat. Marah saja pun kau tidak pernah." Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatku.
Aku segera mengganti pakaian dan mengikat rambutku ke belakang. Aku pergi ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa minuman kaleng. Aku membeli delapan kaleng soda, setelah yakin dengan yang kupilih aku membayarnya. Aku berjalan pelan sambil bersenandung, lalu sebuah mobil hitam datang dari depan dengan kecepatan yang mungkin dapat membuat orang hamil melahirkan saat itu juga. Aku hendak menyebrang, tapi mobil itu tidak berhenti dan hampir menabrakku. Untungnya aku menghindar jadi mobil itu hanya menabrak pembatas jalan. Dengan kesal aku mendekati mobil tersebut, aku memukul bagian depannya dan menyuruh pengemudinya keluar.
"Dasar bodoh! Keluar kau sekarang juga!" kataku sambil menendang mobil tersebut.
Si pengemudi yang ternyata laki-laki keluar dari mobilnya dan mendorongku menjauhi mobilnya. "Apa kau gila? Kau tahu berapa harga mobil ini? seseorang sepertimu takkan bisa membelinya walaupun kau bekerja keras!" pria itu mencengkram tanganku dengan kasar.
Karena perkataannya aku jadi semakin kesal. Aku memutar tubuhku dan melakukan ap chagi ke perutnya. Pria itu terhuyung dan melepas cengkramannya,"Beraninya kau menendangku." Kata pria itu dingin.
"Apa kau tipe orang yang lebih mementingkan mobilmu dari pada nyawa orang lain? Kalau begitu hidupmu seperti sampah dan tidak lebih dibandingkan serangga pengganggu!" makiku keras.
Pria itu mengangkat tangannya hendak menamparku, namun sebuah tangan lain menghentikan tangan pria itu. "Hyeong hentikan! Kau tidak boleh menampar perempuan! Jangan melempar kesalahanmu pada orang lain, itu bukan laki-laki namanya!" aku menoleh ke arah suara itu. Itu Lu Han.
"Lepaskan aku! Jika kau tak tahu apa-apa jangan pernah ikut campur!" pria itu menghentakkan tangannya dari genggaman Lu Han.
"Tapi aku melihatmu mengemudi dengan cepat dan hampir menabraknya. Kau yang salah, hyeong!" Lu Han tak mau kalah.
"Aku tidak salah. Perempuan ini yang salah, dia tidak melihat lampu penyebrangan saat menyebrang!"
Karena aku merasa aku membali membentaknya, "Kalau begitu, ayo kita ke kantor polisi dan buktikan siapa yang salah!" kataku sambil mencengkram kerah bajunya.
Tiba-tiba pria itu mendorongku dengan keras hingga aku tersungkur ke tanah, Lu Han membantuku berdiri. "HENTIKAN HYEONG! Kau tidak apa-apa, nunna?" Lu Han terlihat khawatir, aku mengangguk pelan.
"Baik, aku akan menghentikan pertengkaran ini. Tapi kau harus mengganti kerusakan yang telah kau perbuat pada mobilku!" pria itu tersenyum mengejek.
"Biar aku saja yang membayarnya, hyeong. Biarkan…" Lu Han menjawab tegas, tapi pria itu memotong perkataan Lu Han. "Xi Lu Han, aku tidak berbicara denganmu, jadi diamlah sekarang!"
"Baiklah, akan aku usahakan. Aku akan memperbaiki mobilmu." Jawabku datar, tapi pria itu kembali tersenyum mengejek.
"Aku tidak ingin mobil ini diperbaiki, aku tidak suka mobil yang pernah rusak. Aku ingin yang baru. Bagaimana kau sanggup?" pria itu menyindirku dengan sinis.
"Apa kau gila? Aku tidak merusak seluruh mobilmu, jadi untuk apa aku menggantinya dengan yang baru!"
"Oh, kau takut? Kalau begitu begini saja…" pria itu berpikir sebentar. "Kau akan jadi budakku selama sebulan. Setuju ?" pria itu menyilangkan kedua tangannya. Aku berpikir sebentar, kalau aku membelikannya mobil baru aku tidak akan sanggup, kataku dalam hati. Aku pun mengangguk.
"Baiklah! Aku setuju."
"Kalau begitu kau bisa datang ke rumahku besok, dank au akan bekerja mulai…"
"Tunggu…" aku memotongnya, "aku tidak bisa ke rumahmu pada pagi hari sampai pukul empat sore, selain itu pada hari Senin dan Rabu aku juga tak bisa ke rumahmu!" kataku sambil bertolakpinggang.
"Hei, tunggu dulu! Aku majikannya disini, mengapa kau yang mengatur jadwalmu?" pria itu memandangku sinis.
"Sudahlah, hyeong. Sudah bagus nunna mau kesana dan membantumu, kalau tidak mungkin rumahmu seperti medan perang sekarang."
Aku duduk termenung di kamar, berusaha mencerna kata-kata Lu Han. "Sudahlah, hyeong. Sudah bagus nunna mau kesana dan membantumu, kalau tidak mungkin rumahmu seperti medan perang sekarang."
"Mengapa Lu Han bicara seperti itu ya? Aish, untuk apa aku memikirkan itu peduli apa aku dengan pria sombong dan mengesalkan itu!" aku bangkit dan menyeduh teh untukku.
Akhirnya hal yang kusimpulkan dari kejadian kemarin yaitu, pria sombong itu adalah kakak Lu Han, ternyata tamu yang dimaksud Ji Yeon adalah pria sombong itu. Ahh, mengapa kemarin aku sangat sial. Rasanya aku tidak ingin bangun pagi hari ini, tapi aku harus ke rumah pria itu pagi ini dan Lu Han sudah berjanji akan mengantarku kesana agar sampai tepat pukul delapan. Aku melirik jam dinding, pukul delapan kurang dua puluh menit. "Oh crap!" aku menaruh gelas tehku di meja makan dan melesat ke kamar mandi.
Saat sedang menyisir ponselku berbunyi, tertera nama Park Ji Yeon dilayarnya. "Yeoboseyo, ada apa Hyo Sung?"
"Soo Young-ah, apa kau sudah melihat penampilan Jung Yong Hwa kemarin?" seperti biasa Hyo Sung terlalu bersemangat.
"Jung Yong Hwa? Siapa dia?"
"Aigo, masa kau tidak tahu! Dia itu kakaknya Lu Han, dia penyanyi terkenal saat ini, kau tidak pernah melihatnya?"
"Oh, pria sombong itu." Gerutuku tanpa sadar.
"Apa kau bilang?" oh tidak sepertinya Hyo Sung mendengarku.
"Anio, bukan apa-apa. Sudah dulu ya, aku harus segera pergi." Dengan cepat aku menutup telepon dan menyambar tasku. Sepertinya Lu Han sudah berada dibawah.
Aku turun ke lantai satu, kulihat Lu Han sudah menunggu di motornya. "Nunna, mengapa kau lama sekali? Hyeong sudah meneleponku berkali-kali, tadinya aku akan memanggilmu keatas tapi kau sudah turun." Aku meminta maaf sebentar lalu naik ke motor Lu Han.
Lu Han mengendarai motor dengan cepat, tak lama kemudian kami sudah sampai di sebuah rumah besar berwarna krem. Lu Han membunyikan klakson dua kali dan pintu gerbangnya terbuka dengan sendirinya. Rasanya aku merinding melewati gerbang ini, aku pun berpegangan semakin erat pada Lu Han. "Tak apa, nunna. Tidak ada yang akan memakanmu disini, percayalah!" merasa diledek, aku meninju pelan punggungnya. Lu Han memarkir motornya di garasi lalu menemuiku,"Mau menggandeng tanganku?" Lu Han menyodorkan lengannya tapi aku menepisnya "Keep dreaming, kid!"
Lu Han membuka pintu besar itu dan menyuruhku duduk di ruang tamu sementara dia memanggil kakaknya. Aku memperhatikan sekeliling, sebuah grand piano putih dan sebuah biola terletak dibelakang sofa yang sedang kududuki. Sepertinya baru saja digunakan,ucapku dalam hati. Kemudian terdengan langkah kai dari tangga, aku melihat Lu Han dan pria itu menuruni tangga dan berjalan kearahku.
"Nunna, ini kakakku Jung Yong Hwa. Hyeong, ini nunna yang tinggal disebelahku, Choi Soo Young." Lu Han mengenalkan kami. Kalau dilihat pria ini memiliki wajah yang tampan dan juga manis, tubuhnya tegap, hanya saja sifatnya yang angkuh membuatku jengkel.
"Lu Han, kau boleh pulang sekarang." Pria itu menunjuk Lu Han, "Tapi hyeong…" Lu Han berusaha membantah tapi pria itu memotongnya, "Dan jangan sampai telat dalam pemotretan nanti." Dengan lesu Lu Han berjalan menuju pintu, meninggalkanku dan kakaknya.
"Dan kau…" pria itu menunjukku, benar-benar tidak sopan. "bersihkan rumah ini sekarang. Oh ya, pembantuku sakit dan dia libur selama seminggu jadi kau harus membereskan rumah ini selama seminggu. Selain itu selama kau libur kau harus datang kesini. Kau mengerti?" pria itu bertolak pinggang, aku mengangguk dengan acuh tak acuh.
Aku mulai membereskan rumah besar itu, tapi saat aku masuk ke dapur aku terkejut. Dapurnya seperti telah diserbu topan, bubuk teh dan kopi bertebaran dimana-mana, air tumpah dan membasahi keset dapur, bahkan pecahan gelas juga ada disana. Karena bingung harus berkata apa aku pun hanya menarik napas panjang.
Karena ini hari minggu jadi disinilah aku, di rumah Jung Yong Hwa ssi sambil menyeduh teh. Tadi pagi aku diantar Lu Han kesini namun dia masih ada pekerjaan jadi tidak sempat mampir. Setelah tehnya siap aku membangunkan Jung Yong Hwa ssi, aku berjalan ke kamarnya tapi pintunya sudah terbuka saat aku hendak menaiki tangga. Kali ini semuanya jadi masuk akal, tangan Jung Yong Hwa ssi diperban sepertinya patah. Kemarin perbannya tak terlihat karena dia memakai kemeja lengan panjang.
"Eh, kau sudah bangun? Mau kubuatkan teh atau kopi? Atau kau mau sarapan?" tanyaku sambil berjalan kedapur. "Teh saja cukup." Jawabnya datar. Aku memberikan segelas teh dan sandwich daging padanya. "Walaupun begitu, kau harus tetap sarapan. Bagaimana kau akan sembuh kalau kau tidak makan sama sekali?" aku mendorong piring berisi sandwich padanya.
"Lama-lama kau terdengar seperti ibuku." Kata Jung Yong Hwa sambil mengunyah sandwichnya.
"Ngomong-ngomong kau tidak pernah masak ya di rumah? Kau tidak punya bahan makanan sama sekali, mau kumasakkan sesuatu?" aku bertanya lagi, tapi Jung Yong Hwa hanya menatapku dengan tatapan 'terserah apa maumu'.
Aku berjalan menuju minimarket terdekat untuk mencari bahan makanan. Sesampainya di minimarket aku segera memilih sayuran yang sudah kurencanakan akan kumasak malam ini. Aku juga membeli beberapa jus dan teh untuk Jung Yong Hwa, setelah itu aku membayar dan kembali ke rumah Jung Yong Hwa. Sepertinya Jung Yong Hwa sedang tidur karena aku tidak mendengar suara apapun saat aku kembali.
Aku berjalan ke dapur dan mengeluarkan semua belanjaanku. Aku bersenandung pelan sambil mulai memotong kentang, tiba-tiba suara Jung Yong Hwa mengagetkanku dari belakang. "Sedang apa kau?"
"Astaga! Kau mengagetkanku. Jangan pernah muncul dari belakangku lagi seperti itu!" Jung Yong Hwa hanya mengangkat bahu. "Kau sudah bangun, cepat sekali. Aku kira kau masih tidur."
"Aku terbangun karena mendengar suara jelekmu itu. Aku lapar, buatkan aku sesuatu!" Jung Yong Hwa memerintahku seenaknya, aku menghembuskan nafas panjang.
"Jung Yong Hwa ssi, kau mau jus jeruk atau teh?" dan sekali lagi Jung Yong Hwa muncul dari belakangku.
"Jus ini saja." Aku terkejut karena tangannya yang tiba-tiba terulur mengambil jus.
Kami makan dalam diam sampai suara Jung Yong Hwa memecah keheningan, "Kau bisa naik mobil?" aku mengangguk. "Kalau begitu kau harus menemaniku pergi membeli beberapa pernak-pernik." Aku tersedak saat Jung Yong Hwa mengatakannya, tapi dia bicara lagi "Tentu saja bukan untukku, bodoh. Ini untuk fans, aku tidak memakai perhiasan, mengerti!" aku hanya mengangguk sambil menahan tawa.
Kami sampai di toko yang dimaksud Jung Yong Hwa. Dia menarikku ke lantai dua dan membawaku ke sebuah toko disamping escalator, lalu menyuruhku menunggu diluar. Toko itu memajang sebuah syal kotak-kotak berwarna abu-abu dan hitam, aku memandang syal itu sampai tidak sadar Jung Yong Hwa sudah berada disisiku.
"Kau suka syal itu?" aku hanya mengangguk lalu dengan cepat menambahkan, "Tapi sepertinya syal itu tidak cocok untukku. Ayo kita pergi saja." Aku mengambil belanjaan dari tangan Jung Yong Hwa dan segera berbalik, tapi tangannya menarikku. "Tunggu disini." Jung Yong Hwa masuk kembali ke toko tadi dan keluar dengan memakai syal yang sama dengan yang dipajang, dan harus kuakui syal itu cocok dipakai olehnya.
"Bagaimana menurutmu? Cocok tidak denganku?" Jung Yong Hwa berjalan sambil memamerkan syalnya padaku. "Sudahlah jangan pamer!"
Kami berjalan menuju parkiran dan aku melihat Lu Han, sepertinya Lu Han juga melihatku karena dia sedang berjalan kearahku.
"Nunna! Sedang apa disini? Oh hyeong." Lu Han seperti baru sadar Jung Yong Hwa berdiri disampingku, tapi dia menghiraukannya.
"Nunna mau pulang atau mau ke rumah hyeong? Mau kuantar?" Lu Han hendak menarikku tapi Jung Yong Hwa menahannya.
"Lu Han, dia sedang bersamaku sekarang. Jadi kau tak perlu repot-repot mengantarnya pulang, lagipula aku membawa mobil kesini." Nada suaranya datar tapi tegas.
"Ayolah hyeong, kau bisa membawa mobilmu sendiri seperti waktu itu. Dengar, aku akan mengantar Soo Young nunna jadi hyeong pulang sendiri saja." Lu Han membalas tak mau kalah. Sepertinya mereka akan bertengkar sebentar lagi jadi aku buru-buru menengahi mereka.
"Ehm, Lu Han, sebaiknya aku pulang dengan Jung Yong Hwa ssi saja. Aku takut kalau dia menyetir sendiri dia malah membuat orang lain terluka seperti waktu itu. Lagipula aku masih harus membayar hutangku padanya. Baiklah, sampai jumpa." Aku menarik Jung Yong Hwa menjauhi Lu Han sampai ke mobil.
"Apa-apaan kau? Mengapa kau menarikku dengan seenaknya?" huh, dia memulai mode keras kepalanya,pikirku.
"Listen, you and he almost had a fight back then. And if I don't separate you two, who knows what will happen?" jawabku tidak sabar.
"Oh, damn. Whatever, let's go back now." Jung Yong Hwa masuk ke mobil dan menutup pintu dengan kesal.
Sesampainya di rumah Jung Yong Hwa, aku segera menuju dapur dan menyeduh teh untuk diriku sendiri. Rasanya hari ini melelahkan sekali. Mulai besok pembantu Jung Yong Hwa sudah kembali bekerja jadi aku tidak harus menjadi budak sekaligus pembantu rumah tangga baginya.
Sudah dua minggu aku mengurus Jung Yong Hwa dan sikapnya masih sombong seperti pertama kali kami bertemu. Hari ini dia membuat masalah lagi dan itu membuatku sangat kesal. Huh, siapa yang peduli padanya? Gerutuku dalam hati. Aku menaiki tangga dengan kesal dan lupa kalau tangganya baru dibersihkan jadi belum kering sepenuhnya. Aku melangkahkan kaki ke anak tangga yang ketiga, dan hal itu terjadi.
"Soo Young, awas…" sebelum Jung Yong Hwa sempat menyelesaikan, aku sudah tergelincir. Semua berlalu dengan cepat sampai aku tak ingat apa pun. Satu hal yang ku ingat adalah bunya BUK yang keras. Saat aku membuka mata, wajah Jung Yong Hwa sangat dekat dengan wajahku. Sadar aku berada diatasnya akusegera bangun dan membantunya berdiri.
"Maafkan aku." Aku membungkukkan badan dalam-dalam.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" Jung Yong Hwa bertanya dengan santai. Aku mengangguk. "Syukurlah kalau begitu, lusa temani aku ke rumah sakit. Aku ingin membuka perbannya." Jung Yong Hwa berjalan melewetiku, aku memperhatikannya dan sadarlah aku kalau jalannya sedikit timpang.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir. Jung Yong Hwa berbalik menghadapku, "I'm fine. Mind your own business." Jawabnya datar tapi aku yakin dia tidak baik-baik saja.
Aku baru saja pulang kerja, setelah turun dari bis aku menunggu di halte sebentar sambil mengusap-usap tanganku. Cuaca agak dingin belakangan ini karena musim dingin hampir tiba. Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku menoleh dan Hyo Sung tersenyum lebar padaku.
"Kau masih ingat dengan Jung Yong Hwa?" tanyanya padaku. Kami berjalan bersama sampai apartemen.
"Tentu, memangnya kenapa?" tak heran Hyo Sung masih membicarakannya, dia termasuk salah satu fans Jung Yong Hwa.
"Sepertinya dia punya pacar. Aku membacanya dimajalah, mereka bilang Jung Yong Hwa yang dingin dan misterius dekat dengan seorang gadis. Lihat ini!" Ji Yeon memberikan majalahnya padaku. Kulihat Jung Yong Hwa sedang ditarik seorang gadis diarea parkir, hanya saja mereka memunggungi kamera jadi wajah gadis itu tak terlihat. Foto yang kedua mereka keluar dari sebuah toko pakaian dan fotonya diambil dari samping sehingga wajah gadisnya tertutup badan Jung Yong Hwa. Aku merasa familier dengan foto ini.
"Ah!" tanpa sadar aku berteriak karena mengenali foto ini.
"Ada apa? Kau lihat sesuatu?" Hyo Sung terlihat panik.
"Ah, tidak. Aku rasa aku menginjak batu tadi." Aku berbohong padanya.
"Aish, dengar ya Choi Soo Young, jangan membuatku terkejut seperti itu lagi." Aku minta maaf dan kembali menatap foto itu. Itu fotoku dan Jung Yong Hwa saat dia hampir bertengkar dengan adiknya, foto yang kedua saat aku meninggalkan toko yang menjual syal. Oh tidak, bagaimana ini terjadi? Pikiranku buntu tak bisa memikirkan ide yang lain, dan setelah aku sadar aku sudah berada didepan pintu apartemenku.
Aku menaruh tas dan berjalan ke beranda, aku bingung ingin berbuat apa jadi aku hanya diam. Sebuah lagu mulai terlintas dibenakku, Jar Of Heart.
I learned to live half alive, and now you want me one more time
And who do you think you are? Runnin' 'round leavingscars
Collecting your jar of hearts, and tearing love apart
You're gonna catch a cold, from the ice inside your soul
So don't come back for me…
"Who do you think you are?" sebuah suara menyambung laguku, aku menoleh dan melihat Lu Han sedang memandang lurus kedepan.
"Sudah kutebak itu pasti dirimu. Mengapa kau selalu menyambung lagu yang sedang kunyanyikan?" Lu han memandangku dan bertanya.
"Apa nunna sedang ada masalah?" pertanyaan Lu Han langsung menghantamku, aku tertawa gugup.
"Ap…apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Entahlah, menurutku nunna bernyanyi seperti orang yang kelelahan. Waktu aku dengar nunna bernyanyi pertama kali disini, nunna juga ada masalah kan?
"Tidak, tak ada masalah sama sekali." Aku berusaha tersenyum.
"Apa karena berita itu? Nunna sudah baca beritanya kan?" oh crap!, batinku dalam hati.
To be continued
