Red Daisy
Eru Ryu
Bagian 2
" umma..."
Ibu menggeleng frustasi. Melihat suaminya sedang bermanja-manja pada nenek. Memeluk sambil terisak pelan, sesenggukan. Semacam mereka telah berpisah tahunan lamanya, ya ampun. Drama sekali.
Beberapa blok kemudian, setelah berbelok di pertigaan, kami sampai di rumah nenek. Sebuah rumah dua lantai dengan dinding kayu. Model rumah pantai namun lebih modern dan bagus. Catnya coklat tua, dengan seperangkat kursi kayu di beranda. Ada lahan rumput kosong di kanan-kiri jalan setapak. Meskipun kosong, rumputnya ditata rapi. Potongan yang pendek dan ringkas. Aku yakin nenek membersihkan taman ini minimal seminggu sekali.
Ku tarik koper besar ayah yang baru keluar dari bagasi. Membawa dengan tertatih-tatih, lalu meletakkan di dekat pintu. Belum ada instruksi dari siapapun, tentang dimana sebaiknya ku taruh barang bawaan ayah dan ibu yang sudah mirip manager baru yang pindah rumah. Lagipula tas, koper dan box mika ini berat sekali. Terlalu sering mengangkat dan memindahkan-nya akan membuatku cepat cidera. Berita buruk jika aku harus kembali ke sekolah dan batal mengikuti turnamen baseball musim gugur nanti.
" aigoo… kenapa tidak memberi tahu ibu? Aku akan memasakkan samgyetang untuk kalian jika kau menghubungiku lebih dulu." Protes nenek kesal sambil menepuk punggung ayah sekali. Cukup keras, aku tahu. Pukulan nenek tidak pernah pelan. Well, aku pernah dapat itu sebelumnya. Saat masih kecil, pengalaman pertamaku ketika nenek berkunjung ke Seoul. Entahlah, seingatku ia marah karena aku telat bangun di hari Minggu. Tamparan panas di bokongku, benar-benar sakit hingga efeknya membuatku trauma sampai sekarang.
" ini kejutan,Bu… bahkan aku membawa cucumu kembali. Ibu senang, kan?" ayah melirik padaku sekilas. Menyuruhku mendekat. Ku letakkan sekotak kimchi sembarang, lalu menghampiri mereka.
Sedetik. Dua detik. Hampir sepuluh detik. Aku dan nenek saling berpandangan.
Jujur saja itu sangat-sangat canggung. Jika nenekku adalah Narsha BEG maka aku tidak akan keberatan dipandangi dengan mata berkaca-kaca seperti itu. Tapi ya ampun, ayolah… apa aku benar-benar berubah? Kenapa aku merasa seperti seorang idol yang sedang berjumpa dengan fans fanatiknya? Kenapa aku seperti merasa seseorang yang 'besar' untuk nenekku sendiri? Well, Sehunnie tidak banyak berubah, Nek. Aku hanya tumbuh sedikit lebih tinggi. Dan jauh lebih tampan.
Yah, baiklah. Nenek boleh terkagum-kagum pada cucumu yang keren ini.
" ya ampun Sehunnn…! kenapa kau hanya mondar-mandir saja mengangkut barang-barang itu seperti kurir? Kenapa kau tidak memeluk nenekmu?! Kau tidak merindukan nenek?!"
Benar. Nenekku adalah wanita sejati. Wanita sejati tidak mudah ditebak. Dan dia memenuhi kualifikasi itu dengan nilai seratus. Sempurna dengan lambang bunga-bunga dan hiasan blink-blink cantik. Kupikir ia sedang terpesona padaku layaknya gadis remaja kebanyakan. Ternyata… sigh, tidak semua pria muda menarik dimata wanita berkelebihan umur. Yah, seharusnya aku mensyukuri hal itu.
" tentu saja aku merindukan nenek. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan wanita paling seksi di dunia sepertimu?" kupeluk erat nenekku. Hangat. Menghirup aroma menthol dan lily. Parfum nenek yang tidak pernah berubah sejak pertama aku mengenalnya. Mencoba bersikap imut layaknya seorang cucu kesayangan. Agak-agak konyol kurasa. Tidak apa. Untuk sebelas tahun perpisahan kami, sesuatu yang manis seperti pelukan ini adalah keharusan. Lagipula aku benar-benar merindukan nenek. Sudah selayaknya kutanggalkan sikap keren dan apatis yang sering orang-orang pikirkan tentangku. Bertingkah manja seperti ayah, mengundang tatapan jengah lain dari ibu.
PLAKK!
Punggungku berdenyut. Lama-lama jadi panas, reflek ku lepas rengkuhanku begitu sadar jika nasib punggungku tidak jauh beda dengan punggung ayah. Akhirnya, akhirnya setelah tragedi masa kecilku yang berlalu sekian tahun lamanya terulang kembali. Trauma pada pukulan nenekku sendiri. Meskipun tidak cukup membuatku menangis seperti saat aku masih kecil, tapi betulan ini sakit sekali. Panas sekali. Kugosok-gosok sekitar bahu, tempat dimana nyeri kulit itu bersarang.
" sakit… kenapa nenek memukulku?" aku merengek sebal. Menatapnya penuh tanya.
" kenapa kau menyebut nenek wanita paling seksi? Itu tidak sopan, tahu! Apa yang kau pelajari di Amerika hingga jadi kurang ajar begini?!" nenek mendecak berkali-kali. Heboh menyadari bahwa cucu Oh bukan anak kecil polos dan lucu seperti dulu.
" umma, dia hanya bercanda. Tolong mengertilah. Dia hanya remaja badung biasa." Ibu mencoba menjelaskan hati-hati. Dengan wajah khawatir dan panik, ia mendekati nenek dan mengusap bahu ringkih itu pelan. Tak lupa, melotot sekali padaku agar aku segera minta maaf.
" eh-eh, benar. Maafkan aku, Nek."
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba meringis. Padahal itu tidak lucu. Dan kondisi nenekku tidak sedang ingin melucu juga. Ah, tapi suasana ini benar-benar membuatku senang. Bisa bercanda dengan nenek lagi, bisa melihatnya tetap sehat bugar sekaligus perkasa begini terasa sangat memuaskan. Yah, melihatnya menikmati hidup, hmm… pasti tinggal di desa sebegitu menyenangkan.
" ah… benar juga. Cucuku telah besar. Sehunnie sudah besar, sudah pandai merayu. Kau pasti punya banyak pacar. Benar! Seorang cucu yang tampan sepertimu harus punya banyak pacar. Tidak apa, tapi nanti kau hanya boleh punya satu istri. Mengerti, sayang?"
Uhm… bagaimana mengatakan-nya, ya. Kakekku sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Namun tiba-tiba, entah bagaimana caranya aku merasa mendengar nasehat dari kakek. Kupikir berulang-ulang, bukankah hal macam ini seharusnya dikatakan seorang pria kepada pria? Kenapa harus kudengar dari seorang wanita tua hiperaktif ini? Bahkan ayahku tidak pernah menasehatiku sebegini menjurus . Ya ampun. Wanita macam apa nenekku ini? Aku jadi penasaran bagaimana kakek menjalani hidup dengan-nya.
Wanita ini, seorang wanita yang sudah lewat dari kata 'dewasa', dengan mata sipit dan kulit coklat terpanggang, rambut ikal pendek, dan terlihat sehat untuk usia yang hampir mencapai tujuh puluh. Mengenakan kaos berlengan panjang warna jingga yang hampir lusuh dengan rompi hitam berkantung dua. Satu yang paling imut, topi pantai motif bunga-bunga. Dia selalu memakai topi itu. bahkan sejak aku masih kecil. Namun aku yakin, dia telah mengidetikkan diri lebih lama lagi. Tidak tahu sejak kapan. Mungkin selepas ia menikah, atau malah lebih muda dari itu. Foto keluarga berbingkai coklat yang berderet di meja hias merefleksikan demikian. Wanita paruh baya yang perlahan-lahan mengeriput disana-sini dengan baju santai dan topi bunga-bunga. Bersama sang suami, juga dalam beberapa foto ada ayah dan paman.
Sambil istirahat sejenak, mengamati seisi rumah nenek kurasa tidak buruk. Meskipun, akan lebih menyenangkan jika rumah ini adalah hanok dengan cita rasa Korea asli dimana aku bisa duduk diatas bantal lalu minum teh dan makan kue manis. Begini pun rumah nenek antik juga.
Ruang tamu rumah nenek tidak begitu luas. Sebelah kiri dari pintu masuk, seperangkat sofa biru tua berhadapan dengan almari hias yang bagian tengahnya diletakkan televisi layar datar. Sebuah hal yang modern, namun tampak kontras dengan aneka piring dan cangkir antik yang dipajang di belakangnya. Sementara ruang tersisa di kanan, bupet kayu setinggi satu meter berdiri di sudut dekat pintu ruang makan. Sebuah tempat penyimpanan multi fungsi. Bagian atasnya menjadi meja pajang tempat semua foto diletakkan, seperempat bagian bawahnya adalah rak berisi buku-buku setebal kitab suci, lalu bawahnya berderet memanjang enam buah laci. Jendela lebar disamping bupet itu memberikan pencahayaan yang bagus untuk menerangi seisi ruang tamu. Yah… sebuah gaya sederhana dan wajar untuk seorang janda tua yang tinggal sendiri.
Dengan total tiga koper, dua tas jinjing besar dan dua box mika berisi kimchi dan oleh-oleh dari Seoul, sudah cukup untuk membuat ruangan menjadi penuh. Ibu segera masuk ke dapur untuk membuat minuman untuk kami semua. Sementara ayah duduk di sofa, tidur sebentar.
Nenek? Dia pasti sudah lari ke atas untuk mengurus kamar. Kupikir sedikit membantunya menyapu lantai tidak terlalu berat. Hm, mungkin aku bisa menyusulnya.
Di belakang ruang tamu adalah dapur sekaligus ruang makan. Juga kamar mandi dan tangga ke lantai dua. Ibu sedang sibuk menyeduh air sementara di meja dua stoples kue sudah siap. Yah, kalian tahu betapa lapar perut yang semalaman hanya tidur seperti bayi sakit. Jadi tanpa ragu, ku buka stoples itu dan mencomot dua buah yang rasa coklat. Sambil jalan ke atas, sesekali ku gigit untuk mengganjal lapar.
Hal pertama yang ku lihat dari lantai dua rumah ini adalah koridor panjang yang berderet tiga pintu kayu di sebelah kiri. Dengan jarak konstan, lalu di ujung ada tangga miring menuju loteng dan jendela kaca besar. Pintu yang terletak di ujung terbuka lebar. Dari dalamnya terdengar berisik kain yang dikibas keras, tentu saja nenek ada disana.
Ia sedang membuka seprai warna biru untuk menutup kasur busa yang tampak empuk. Sebuah sapu diletakkan dekat meja, bersebelahan dengan kemoceng warna-warni.
" apa nenek tidak lelah? Aku akan menyapu lantainya."
" apa yang kau lakukan, Sehunnie…! Letakkan sapu itu. Kau harus istirahat!" serta merta nenek mengambil sapu yang sudah siap ku goyang dan menghentakkan ke lantai. Protes pada apa yang sedang kulakukan, malah membuatku bingung. Eh, ini sama sekali tidak melelahkan.
" aku tidak bisa hanya berdiam diri sementara dua wanita di rumah ini bekerja. Lagipula aku bosan hanya duduk di depan. Biarkan Sehun membantu nenek, 'key?" nenek kesal sekali ketika dengan sengaja aku berkedip genit saat menggumam dalam aksen Amerika. Antara jengah dan sebal, aku bisa melihat itu dengan jelas.
" ha… benar Sehunnie ingin membantu nenek? Ambil seprai ini dan pasang di kamar sebelah. Kamar itu yang akan kau tempati selama di sini. Hati-hati dengan semua barangnya. Paman Kyuhyun akan marah jika salah satu kaset game-nya rusak."
" aku mengerti, nek. Sehun akan lakukan."
Menyapu itu sederhana. Hanya menggerakkan sapu ke kanan dan ke kiri untuk mengumpulkan debu. Tentu, itu tidak melelahkan. Tapi hei… memasang seprai? Aku tidak ada niat sedikitpun melakukan hal itu. Kurasa sekedar menyapu atau membersihkan beberapa perabot, bagus juga. Namun apa ini? Kenapa jadi sangat merepotkan. Aku pernah beberapa kali mengganti seprai ranjangku sendiri selama di Amerika. Hanya beberapa kali, selama bertahun kami hidup di sana. Karena sungguh, melakukan pekerjaan itu sangat melelahkan. Apalagi mengganti penutup bed yang tebal dan berat, dengan ranjang dua kali dua meter tanpa kolong. Maaf saja, aku bukan seorang room boy.
Tapi ya, mau petugas kamar hotel ataupun bukan, tetap saja harus ku lakukan. Mana mungkin aku menjaga ruang tamu dengan tidur di sofa semalaman?
Pintu berderit terbuka. Gelap.
CTAK.
Lampu putih terang menyeluruh di tengah-tengah. Membuatku bebas melihat seisi kamar.
Ranjang sempit dari kayu tertutup linen warna putih. Satu almari baju, meja belajar di belakang jendela dan almari khusus terlapis kaca berisi kaset video, manga dan action figure produk Marvel yang mungkin jumlahnya sampai ratusan. Tentu saja. Sebuah almari idaman semua anak laki-laki. Tingginya hampir dua meter. Mencapai atap dalam hitungan tidak lebih dari lima puluh senti. Semuanya… benar. Hanya ada game dan manga. Surga macam apa ini?
Betapa beruntung Paman Kyuhyun memiliki koleksi sebanyak ini. Wow… aku tidak tahu jika pamanku benar-benar anak yang keren. Yah. Tidak ada yang menyangkal kecerdasan dan kelicikan yang ia miliki. Paman memanfaatkan kekayaan orangtuanya dengan begitu baik. Bahkan ayah mengakui itu.
Ini adalah hal bagus. Aku harus berterima kasih pada nenek karena memilihkan kamar bekas pamanku yang sedang kerja di luar negeri itu untuk kutempati. Jadi jika aku mempunyai waktu luang yang teramat luang hingga aku mati bosan di desa kecil ini, setumpuk mainan di depanku akan sanggup membawaku kembali ke peradaban.
.
.
.
Apa yang dibutuhkan sebuah ruang kamar yang sudah tidak berpenghuni selama tiga tahun?
Tidak perlu berbelit-belit. Akan kuberitahu jawaban-nya sekarang.
Benar. Udara segar.
Belum sampai seperempat jam berdiam diri di kamar, aku mulai kesulitan bernafas. Ruangan ini benar-benar pengap dan lembab. Debu beterbangan, sekali ketika kubuka linen penutup ranjang. Sangat sesak, sampai aku tidak sanggup lagi jika harus memasang seprai. Tapi untung saja, ranjangnya tidak sebesar perkiraan-ku. Setidaknya tidak terlalu lebar dan memiliki kolong. Yah, dengan model seperti ini pasti akan lebih mudah dipasang.
Setelah meletakkan seprai yang masih terlipat rapi, jendela kaca yang tertutup tirai putih seperti memanggilku untuk mendekat. Ada sebuah rasa penasaran yang membuatku bergerak begitu saja. Beberapa pertanyaan dan perkiraan kecil, tentang apa yang bisa kulihat dari jendela itu. Jika boleh berangan, mungkin pemandangan ladang kol dan bukit bagus juga. Meskipun, entahlah. Rasanya tidak mungkin. Rumah nenek bukanlah sebuah rumah tunggal yang letaknya menyendiri di pinggir desa, dimana aku bisa melihat pemandangan layaknya resort di Jeju. Seingatku disamping rumah ini ada rumah lain yang juga berlantai dua. Jadi, kemungkinan yang paling mungkin tentu dinding rumah sebelah atau sekedar pohon yang daun-nya sedang lebat di musim panas.
Tirai tersibak kasar, menampakkan jendela berdaun dua. Sesuai perkiraanku, kacanya sudah buram oleh debu yang basah dan mengering silih berganti selama bertahun-tahun. Tidak ada tanda-tanda tentang apa yang terhalang disana, pelan-pelan kubuka jendela itu. Ramai sekaligus cepat, derat pilu engsel tua tidak pernah bisa berbohong.
Gerimis adalah hal pertama yang mengunjungiku. Kemudian cahaya matahari yang silau, memantul dari dinding lansung ke retina. Lalu udara dingin menyergap masuk dengan cepat. Meremangkan kulit dan membuatku menggigil. Setelahnya, satu hal yang tidak bisa terlepas dari jangkauan mata, dinding rumah sebelah yang dicat persik tua.
" wo… ada jendela." Tanpa sadar aku menggumam heran.
Betul-betul mengherankan. Jendela itu terbuka lebar, seolah membiarkan angin dan gerimis masuk dengan sukarela. Apa tidak ada penghuninya atau bagaimana? Ah, tapi mana mungkin rumah kosong? Kamar di seberang tampak berpenghuni. Terlihat dari meja belajar yang sangat berantakan. Menumpuk buku dan alat tulis sembarangan, laptop hitam yang sedang dicharge dan bungkus cemilan dibawah kursi. Terlihat, meskipun hanya sebagian, mengingat lebar jendela memang tidak cukup untuk memperlihatkan seluruh bagian ranjang. Sebuah gundukan memanjang di atas kasur yang seprainya kusut parah, selimut tergulung membungkus tubuh seseorang disana dan guling terlipat dua. Dengan keadaan sedemikian kacau… orang bodoh mana yang tega membiarkan jendelanya terbuka dan kamarnya menjadi basah? Kalau tidak teledor, pasti pemiliknya seorang pemalas.
Saat aku akan berbalik untuk segera memasang sprei, tiba-tiba gundukan memanjang itu bergerak pelan, seperti ulat kepanasan. Geliat yang sangat lambat, diiringi erangan malas. Aku terdiam menunggu, tidak tahu mengapa. Hanya penasaran? Penasaran pada tetangga yang mungkin bodoh dan pemalas itu.
Guling kanan. Guling kiri. Menendang guling yang bergulir ke lantai. Lalu berhenti.
Pas. Ketika selimutnya tersingkap, aku hampir saja memaki.
DAMN IT!
Untung saja makianku tidak sampai bersuara. Gila saja jika orang di seberang sana sampai mendengar. Mau di lempar kemana wajahku?
Sebuah kaki terulur begitu saja. Kaki yang ramping, polos dan panjang. Kutarik garis makin ke atas. Paranoid sekali, semoga saja bukan bagian tubuh yang dimutilasi.
Penelusuran itu berakhir pada punggung bawah seseorang yang sedang terbaring membelakangiku. Sangat ceroboh, hanya memakai singlet warna abu-abu dan boxer. Dilihat dari sudut dimana aku berdiri, yang paling bisa diperhatikan adalah sebagian besar kakinya yang tampak kokoh dan kuat. Jelas saja, siapapun tahu jika itu bukan kaki seorang gadis. Tentulah pemilik kaki jenjang menggoda itu adalah laki-laki.
Ya, jenjang menggoda. Benar. Aku sedang tidak salah tulis atau kau salah membaca. Kakinya memang jenjang. Dan menggoda.
Seorang pria di seberang sana pastilah cukup tinggi. Kaki itu menjelaskan semuanya. Sebuah tungkai yang indah, berwarna tan cerah dibagian paha, dan betisnya putih gempal serta lebih pucat. Pinggangnya kecil, lebih ramping dari wanita. Kaos yang tersingkap memperlihatkan sebagian punggung dan tulang belakangnya. Membelah jadi dua, punggung kanan dan kiri. Kulit punggungnya lebih gelap, lebih coklat dan lebih seksi. Mungkin sering terpapar sinar matahari. Aku jadi penasaran bagaimana keseluruhan bagian tubuh itu. Pasti sangat menggairahkan. Namun lebih daripada itu, ada hal lain yang lebih menyenangkan untuk dilihat lama-lama. Dua bongkahan pantat bulat yang sangat jauh dari kata sopan. Meskipun tertutup boxer army, namun ketatnya celana itu tidak mampu menolong untuk menjaganya tercetak jelas. Bulat penuh, seperti milik para gadis.
Hei, jangan bilang aku mesum. Dengan tubuh seperti itu, siapa saja bisa dengan mudah berfantasi liar. Tidak pria apalagi wanita. Siapa yang tahan dengan pemandangan segar macam ini?
" KIM JONGIN…! SAMPAI KAPAN KAU MAU TIDUR?!"
Sayup-sayup ku dengar teriakan nyaring seorang wanita. Lalu hentakkan kasar pada lantai, berdebam-debam menaiki tangga. Makin lama makin dekat, lalu pintu yang dijeblam keras. Entah mengapa, kututup jendela kamar. Jantungku berpacu, terkejut sesaat. Mendengar pintu yang kuat menabarak kusen-nya, ketika sekilas wanita paruh baya masuk ke kamar sebelah. Huft… aku berbalik, memunggunggi jendela. Merasakan jantung yang masih berdetak keras, sambil menyeka keringat yang tidak tahu bagaimana caranya meluncur dari dahiku.
Well ya, jika di pikir-pikir lagi buat apa aku harus sembunyi? Bukan salahku seandainya ketahuan melihat isi kamar sebelah –bonus pria seksi di dalamnya- yang memang jendelanya sedang terbuka lebar. Di pagi yang sebegini dingin, aneh sekali membiarkan jendela tidak di tutup dengan benar. Dan lagi, aku hanya tidak sengaja melihat, bukan-nya benar- benar ingin mengintip. Kan?
" Sehun… sudah selesai?"
Eh?
.
.
.
*masih berlanjut*
A/N :
Mian ne yorobeun Jongin keliatan kakinya doang,,, chap depan gue janji full body. Well, menjawab pertanyaan Novi,,, daisy itu nama kembang. Kalo sering beli bunga potong pasti tau dah ini kembang bentuknya kayak apa. Btw, sebenarnya kalo reader-nim tau penyimbolan daisy merah… inti ff ini adalah arti red daisy itu sendiri.
Hmm… satu lagi sebelum KAMU kembali ke halaman sebelumnya dan membaca ff-ff di Screenplays yang lain…
Cute, nugu? Lu kenal gue ya?
